Investigasi Al Jazeera mengungkap tentara Israel menggunakan bom termobarik buatan Amerika yang membuat 2.842 warga Palestina di Gaza menguap tanpa sisa.
Jaringan televisi Al Jazeera dalam laporan investigasi berjudul "Mereka yang Menguap", Jumat, 13 Februari 2026, mendokumentasikan penggunaan senjata termobarik, yang dilarang secara internasional, secara sistematis oleh militer Israel selama perang genosida di Jalur Gaza. Berdasarkan data tim Pertahanan Sipil Gaza, sedikitnya 2.842 warga Palestina tercatat "menguap" sejak perang meletus Oktober 2023. Korban tak meninggalkan sisa jenazah selain percikan darah atau fragmen jaringan kecil di lokasi kejadian.
Dimensi Bencana Kemanusiaan di Gaza
Menurut data yang dipublikasikan, sejak 7 Oktober 2023 rezim Zionis dengan dukungan Amerika Serikat melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Gaza yang berlangsung lebih dari dua tahun. Akibat genosida ini, lebih dari 72 ribu warga Palestina gugur dan lebih dari 171 ribu lainnya terluka, sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil hancur dan PBB memperkirakan biaya rekonstruksi mendekati 70 miliar dolar AS.
Ledakan Termobarik
Dalam bagian teknis investigasi ini disebutkan bahwa sejumlah serangan dilakukan menggunakan bahan peledak termobarik dan amunisi yang diperkuat dengan sebaran luas. Senjata ini mampu menciptakan suhu hingga sekitar 3.500 derajat Celsius dan dengan menghasilkan gelombang tekanan dahsyat, menguapkan cairan dalam tubuh manusia serta mengubah jaringan menjadi abu.
Rafiq Badran, salah satu saksi, menuturkan keempat anaknya lenyap dalam pemboman yang menghancurkan puluhan rumah. Dari mereka hanya tersisa zat berwarna hitam dan sisa-sisa yang berserakan.
Kesaksian Petugas Penyelamat dan Saksi Mata
Mahmoud Basal, Juru Bicara Pertahanan Sipil Gaza, dalam laporan ini menegaskan bahwa dalam banyak kasus jumlah penghuni suatu bangunan diketahui pasti, Tapi jumlah jenazah yang ditemukan lebih sedikit dari data tercatat. Menurutnya, sejumlah jenazah menguap sepenuhnya, fenomena yang belum pernah terjadi dalam operasi lapangan sebelum perang ini.
Yasmin, saksi lainnya, menceritakan pencarian sia-sia untuk menemukan jenazah putranya Saad setelah pemboman sekolah Al-Tabin pada 10 Agustus 2024. Dalam serangan yang menewaskan lebih dari 100 orang itu, tiga keluarga lenyap tanpa jejak.
Pandangan Pakar: Penghancuran Total Sel Manusia
Yusri Abushadi, mantan inspektur senior Badan Tenaga Atom Internasional, menjelaskan kombinasi suhu sangat tinggi dan tekanan dahsyat dapat menghancurkan sel-sel manusia sepenuhnya. Menurutnya, fenomena penguapan jenazah sebelumnya juga tercatat dalam sejumlah perang, termasuk invasi Amerika ke Irak, khususnya dalam pertempuran Fallujah tahun 2004 dan 2005.
Munir Al-Bursh, Dirjen Kementerian Kesehatan Gaza, merujuk pada fakta bahwa sekitar 80 persen tubuh manusia terdiri atas air. Ia menjelaskan paparan panas ekstrem, tekanan tinggi, dan oksidasi masif dapat menyebabkan penguapan total tubuh manusia.
Amunisi Buatan Amerika dalam Daftar Tuduhan
Investigasi ini menelusuri jenis amunisi yang diduga digunakan dalam serangan-serangan tersebut, termasuk bom buatan Amerika seperti MK-84 dan BLU-109, bom berpandu presisi GBU-39, serta rudal Hellfire. Amunisi ini mampu menciptakan ledakan bersuhu tinggi di ruang tertutup.
Berdasarkan studi ilmiah, bahan peledak termobarik hingga lima kali lebih kuat daripada bom konvensional dan bekerja melalui gelombang termal sangat intens, gelombang tekanan dahsyat, serta bola api.
Konsekuensi Hukum dan Upaya Internasional
Laporan ini menekankan bahwa penggunaan senjata semacam itu di kawasan padat penduduk memunculkan pertanyaan serius tentang pelanggaran prinsip dasar hukum humaniter internasional. Mahkamah Pidana Internasional pada November 2024 mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu dan Yoav Gallant, mantan Menteri Perang rezim Zionis, atas tuduhan kejahatan perang.
Raed Al-Dahshan, direktur Pertahanan Sipil Gaza, menyatakan sekitar 10 ribu jenazah masih tertimbun reruntuhan. Keterbatasan masuknya alat berat menjadi kendala serius dalam proses evakuasi.
Laporan "Mereka yang Menguap" pada akhirnya mengajukan pertanyaan: jika senjata terlarang tidak digunakan, faktor apa yang dapat menjelaskan pola berulang dari lenyapnya jenazah secara total ini?