Seorang senator Amerika menegaskan bahwa Pete Hegseth, Menteri Perang Amerika menyembunyikan biaya perang terhadap Iran.
Melansir Pars Today, Chris Murphy, Senator Demokrat dari negara bagian Connecticut Amerika, menuduh Pentagon berupaya mencegah Kongres menyaksikan secara langsung biaya perang dan mengatakan bahwa Pete Hegseth, Menteri Perang "bertekad menyembunyikan biaya dan konsekuensi perang ini dari rakyat Amerika".
Penyembunyian Pentagon tentang dimensi sebenarnya perang melawan Iran tidak dapat dianggap semata-mata perselisihan birokratis antara Kongres Amerika dan Kementerian Perang negara ini. Karena persoalan ini secara bertahap telah berubah menjadi salah satu tantangan pengawasan dan pembangunan kepercayaan paling serius dalam politik keamanan Amerika pasca-Perang Vietnam. Tuduhan terbaru Senator Chris Murphy, anggota Demokrat Komisi Hubungan Luar Negeri Senat, telah menyingkap celah mendalam di mana narasi resmi Pentagon tentang "kerusakan terbatas dan dapat dikelola" sangat bertentangan dengan gambaran yang dilihat para legislator dari medan.
Murphy setelah perjalanannya ke Qatar dan Arab Saudi, tidak hanya dilarang masuk ke Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, tetapi juga menggambarkan Kedutaan Amerika di Riyadh dengan "kehancuran luas dan jauh lebih parah dari yang diberitahukan kepada publik". Menurutnya, serangan drone ke kedutaan ini pada bulan Maret membuat beberapa lantai bangunan tidak dapat digunakan dan jika serangan ini terjadi pada siang hari, "sejumlah besar warga Amerika akan tewas."
Klaim ini sejalan dengan laporan Inspektur Jenderal Pentagon yang memperkirakan kerusakan pada fasilitas diplomatik Amerika di Asia Barat sekitar 184 juta dolar dan mengonfirmasi bahwa Kedutaan Amerika di Kuwait setelah mengalami kerusakan total, menghentikan operasinya sepenuhnya. Tentu saja kedutaan ini setelah diserang dan rusak pada bulan Maret, menghentikan aktivitasnya sepenuhnya dan pada akhir Juni memulai kembali aktivitas daruratnya.
Namun bagian terpenting dari pengungkapan ini terkait dengan kerusakan peralatan udara. Laporan Layanan Riset Kongres yang diperbarui pada Oktober 2026, menunjukkan bahwa setidaknya 81 unit pesawat militer Amerika sejak akhir Februari dalam perang melawan Iran telah rusak atau hancur.
Di puncak daftar ini, 45 unit drone MQ-9 Reaper yang merupakan tulang punggung operasi pengintaian dan penargetan Amerika di kawasan. Selain itu, 12 unit jet tempur F-15E Strike Eagle, 7 unit pesawat pengisian bahan bakar KC-135, satu unit pesawat AWACS E-3 Sentry, satu unit F-35A dan puluhan pesawat lain termasuk helikopter Apache dan Black Hawk terlihat dalam daftar ini. Estimasi biaya kerusakan ini diperkirakan sekitar tiga miliar tiga ratus juta dolar.
Statistik ini diterbitkan di tengah kondisi di mana Pentagon tidak hanya menolak menerbitkan rincian, tetapi menurut sumber-sumber Kongres, juga membatasi akses legislator ke pangkalan-pangkalan kunci. Berbagai laporan menunjukkan bahwa Komando Pusat Amerika (CENTCOM) secara sistematis menolak memperbarui data korban dan kerusakannya dan bahkan nama beberapa personel militer yang tewas telah dihapus dari basis data resmi Kementerian Perang Amerika.
Sementara itu, penilaian independen, termasuk analisis citra satelit harian Washington Post, menunjukkan bahwa setidaknya 228 "struktur" atau peralatan militer Amerika di pangkalan-pangkalan kawasan mengalami kerusakan; angka yang jauh melampaui statistik apa pun yang secara resmi dikonfirmasi Pentagon.
Pete Hegseth, Menteri Perang, dalam sidang-sidang Kongres tidak hanya menolak tuduhan ini, tetapi juga menuduh para pengkritiknya mempromosikan semangat defeatisme dan melemahkan moral pasukan Amerika. Namun pendekatan defensif ini sendiri merupakan tanda tekanan politik yang meningkat. Demokrat di ambang pemilihan paruh waktu November 2026, menggunakan penyembunyian Pentagon sebagai senjata untuk menyerang pemerintahan Trump dan bahkan mengancam akan mengondisikan anggaran perang pada penghentian segera konflik jika menang.
Yang membawa perkara ini melampaui perselisihan politik biasa adalah sifat struktural dari penyembunyian ini. Penyensoran citra satelit oleh perusahaan-perusahaan swasta atas permintaan pemerintah Amerika, pencegahan legislator mengunjungi pangkalan, dan penghentian konferensi pers Pentagon tentang kerugian tempur pasukan Amerika, semuanya menunjukkan bahwa persoalannya melampaui manajemen informasi dan telah berubah menjadi kebijakan sistematis untuk mengendalikan narasi perang.
Ketika Amerika yang memperkenalkan dirinya sebagai pembela transparansi dan akuntabilitas, menyembunyikan dari legislatornya sendiri persoalan seberapa besar biaya perang melawan Iran dan kerusakan apa yang ditimbulkan pada peralatannya, maka muncul pertanyaan yang lebih fundamental: Jika statistik resmi Pentagon tidak dapat dipercaya, atas dasar apa keputusan tentang kelanjutan atau penghentian perang melawan Iran dapat diambil?