Print this page

Sayid Bahrul Ulum: Mengapa Engkau Tidak Tahu Kabar Tentang Tetangga?

Rate this item
(0 votes)
Sayid Bahrul Ulum: Mengapa Engkau Tidak Tahu Kabar Tentang Tetangga?

Pada suatu malam, ketika Sayid Jawad [penulis buku Miftahul Karamah] makan malam, ada seseorang mengetuk pintu rumahnya.

Dari cara mengetuk pintu, Sayid jawad tahu kalau itu adalah pembantunya Sayid Bahrul Ulum. Dia segera menuju ke arah pintu dan membukanya. Pembantu Sayid Bahrul Ulum berkata, kepadanya, “Sayid Bahrul Ulum telah menyiapkan makanan dan beliau menunggu Anda.”

Sayid Jawad segera menemui Sayid Bahrul Ulum. Ketika Pandangan Sayid Bahrul Ulum tertuju padanya, berkata, “Tidakkah engkau takut kepada Allah? Tidakkah engkau malu padanya?”

Dengan takjub Sayid Jawad berkata, “Tuan, apa yang terjadi?”

Bahrul Ulum mulai berbicara dan berkata, “Seorang lelaki dari saudaramu hutang kepada tukang sayur untuk keluarganya dan setiap malam hutang kurma kepadanya. Dia tidak makan selain kurma. Hari ini ketika mau hutang kurma, dia tidak diberi dan berkata kepadanya, Hutangmu sudah banyak. Dan tetanggamu ini malu kepada tukang sayur dan tidak mendapatkan apa-apa dan keluarga tidak makan malam. Sementara engkau tenggelam dalam nikmat dan makanan dan orang yang rumahnya menempel dengan rumahmu hidup dalam kelaparan. Engkau kenal siapa orangnya.”

Sayid Jawad menjawab, “Demi Allah! Aku tidak tahu kabar tentang dia.”

Bahrul Ulum berkata, “Bila engkau tahu dan tetap makan malam dan tidak perhatian padanya, kamu adalah Yahudi dan kafir. Karena hal inilah aku marah, mengapa engkau tidak tahu tentang kabar saudaramu dan tidak tanya-tanya tentang kondisinya? Ambillah talam makanan ini dan pembantuku akan membawanya dan akan memberikannya kepadamu di dekat pintu rumahnya. Katakan kepadanya, aku ingin makan malam bersamamu dan letakkan kantong uang ini di bawah kasur atau tikarnya dan berikan talam itu kepadanya dan jangan kembali dulu.”

Di atas talam itu ada makanan lezat dari daging seperti makanan orang kaya dan orang yang suka foya-foya. Sayid Bahrul Ulum menyerahkan talam itu sambil berkata, “Selama engkau belum kembali dan belum melaporkan bahwa dia sudah kenyang, maka aku tidak akan makan malam.”

Sayid Jawad pergi bersama pembantu sampai depan pintu tetangganya. Sayid Jawad mengambil talam makanan dari tangan pembantu. Sang pembantu pulang. Sayid Jawad mengetuk pintu. Pemilik rumah keluar dan Sayid Jawab berkata, “Saya ingin makan malam bersamamu. Baru saja makan beberapa suap, orang itu berkata, “Makan malam ini bukan milikmu dan bukan masakan Arab. Karena makanan ini sangat lezat. Saya tidak akan makan sampai engkau memberitahukan apa yang terjadi.”

Sayid Jawab memaksa agar makan dan orang itu ngotot untuk tidak makan. Akhirnya Sayid Jawad menceritakan apa yang terjadi.

Tetangga itu berkata, “Demi Allah! Tidak ada satu tetanggapun yang tahu kondisiku, apalagi mereka yang jauh. Sayid ini adalah orang yang aneh.” Keduanya merasa takjub atas cerita ini. (Didar Ba Abrar, Sayid Bahrul Ulum, hal 64)

Membantu Tetangga Yang Bangkrut

Salah satu anak Syeikh Rajab Khayyath menceritakan, “Suatu malam ayahku membangunkan aku dan mengajak untuk membawa dua kantong beras dari rumah. Yang satu aku yang bawa dan yang satunya lagi ayahku.. Kami berdua membawa beras itu ke rumah tetangga kami yang paling kaya di daerah kami.”

Sambil memberikan beras itu beliau berkata, “Saudaraku, ingatkah engkau bahwa orang-orang Inggris membawa masyarakat ke kantor kedutaannya dan memberikan beras kepada mereka, tapi mereka mengambil gantinya lebih banyak dari setiap biji beras dan tidak melepaskan mereka?”

Dengan candaan seperti ini kami memberikan beras itu kepadanya dan kembali ke rumah. Paginya ayah memanggil saya dan berkata, “Mahmoud! Belilah seperempat beras menir [patah-patah] dan minyak seharga dua riyal dan berikan kepada ibumu supaya dimasak waktu Zuhur.”

Sikap ayah yang demikian ini berat bagi saya dan tidak bisa dipahami. Mengapa beras yang ada di rumah diberikan kepada orang yang paling kaya di daerah kami? Sementara untuk makan siang kami harus membeli beras menir.

Beberapa waktu berikutnya saya tahu bahwa orang kaya tersebut bangkrut dan pada hari Jumat punya acara jamuan mewah. (Kimiya Mahabbat, hal 46)

Perintah Rasulullah Saw

Seorang lelaki datang menemui Rasulullah Saw dan berkata, “Wahai Rasulullah Saw, hatiku telah menjadi keras dan tidak peka lagi.”

Rasulullah Saw berkata:

1. Berbuat baiklah kepada ayah dan ibumu.

2. Berikan makan pada orang-orang miskin.

3. Belailah kepala anak yatim dan berikan makan padanya.

4. Sambunglah silaturrahim dengan tetanggamu baik yang masih famili maupun orang lain dan berikan hadiah padanya dan jangan sakiti hatinya.

Dia berkata, “Wahai Rasulullah! Apa hak tetangga atas tetangganya?”

Rasulullah Saw berkata:

1. Bila engkau diundang maka datangilah.

2. Bila dia miskin, maka tolonglah.

3. Bila berhutang kepadamu, maka berilah hutangan.

4. Bila dia mendapatkan kebaikan, maka ucapkanlah selamat kepadanya.

5. Bila mendapatkan musibah, maka ikutlah berbelasungkawa.

6. Bila meninggal dunia, maka ikutlah melayat jenazahnya.

7. Jangan membangun tembok yang lebih tinggi dari temboknya supaya tidak menghalangi angin untuknya.

8. Jangan menyakitinya dengan bau masakannya sementara engkau tidak membaginya. (Emi Nur Hayati)

Sumber: Hak Tetangga

Read 44 times