Islam dan Gaya Hidup (35)

Rate this item
(0 votes)
Islam dan Gaya Hidup (35)

 

Setelah kajian tentang prinsip-prinsip umum tata cara bergaul dalam hubungan sosial, sekarang kami akan memaparkan tentang pola interaksi manusia di tengah berbagai komunitas seperti, keluarga, famili, teman, atau lingkungan kerja dan pendidikan. Keluarga dalam pandangan para sosiolog, merupakan institusi pertama dan utama pembentuk masyarakat. Pada dasarnya, pola komunikasi dan hubungan antar sesama anggota keluarga akan membentuk landasan kepribadian dan teladan perilaku manusia.

Meskipun di dunia modern yang terpengaruh oleh nilai-nilai modernitas dan postmodernitas, muncul bermacam model keluarga seperti, keluarga tanpa anak, keluarga single parent, keluarga pasangan sesama jenis, dan bahkan kumpul kebo, namun kehadiran institusi seperti ini jelas bukan bentuk keluarga dalam arti yang sesungguhnya.

Model keluarga seperti ini sebenarnya merupakan pengaruh dari nilai-nilai liberalisme dan sekulerisme Barat serta budaya hedonisme yang mengakar di tengah mereka. Beberapa penulis dan mereka yang silau dengan budaya Barat berusaha menjustifikasi dan menafsirkan bentuk perilaku dan keluarga seperti itu, tapi banyak juga tokoh Barat yang menganggap pembentukan keluarga pincang ini sebagai bahaya besar bagi eksistensi peradaban Barat.

Saat ini krisis identitas keluarga menjadi salah satu tantangan yang dihadapi umat manusia. Meningkatnya kasus pertengkaran keluarga, angka perceraian, jumlah anak-anak tanpa pengasuh, dan angka kriminalitas, semua ini merupakan indikasi dari masalah utama di tengah masyarakat modern.

Mereka menghadapi ancaman serius akibat meninggalkan etika dan nilai-nilai luhur dan di antara itu semua, keluarga merupakan institusi yang paling rentan terhadap berbagai serangan. Dengan memperhatikan ancaman ini, sekarang para ilmuwan, sosiolog, dan pakar hukum mencurahkan perhatian mereka pada problema keluarga sehingga menemukan solusi dan menyelamatkan institusi suci itu.

Semua masalah tersebut menunjukkan bahwa keluarga membutuhkan solusi pendidikan dan psikologis yang tepat untuk menghadapi kompleksitas kehidupan. Sejumlah pakar percaya bahwa selama kehidupan manusia masih bersandar pada ilmu empiris dan mengabaikan iman dan moral serta mengambil jarak dari budaya dan nilai-nilai agama, maka mereka tidak akan mampu mengembalikan kebahagiaan dan kehangatan ke lingkungan keluarga.

Jelas bahwa selama manusia mengabaikan perbedaan alamiah antara pria dan wanita, tentu saja mereka akan tersesat dalam mewujudkan hak-hak golongan yang berbeda itu.

Keluarga tidak akan sampai pada tempat tujuannya jika masyarakat tidak mengerti kebutuhan-kebutuhan fitrah dan hakiki pria-wanita. Kebanyakan kerusakan yang terjadi di dunia modern merupakan dampak dari perubahan yang keliru tentang peran dan pembagian yang tidak rasional tugas-tugas pria dan wanita.

Keluarga – karena memiliki fungsi vital dan penentu dalam kehidupan manusia – senantiasa menjadi perhatian agama dan aliran-aliran pemikiran. Salah satu wadah yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan material dan spiritual manusia adalah keluarga, di mana ia menyediakan kondisi ideal untuk ketenangan jiwa para anggotanya.

Islam menaruh perhatian luar biasa tentang masalah pembentukan rumah tangga. Keluarga meski ia sebuah masyarakat dalam skala yang paling kecil, namun Islam mencurahkan perhatian khusus terhadap masalah keselamatan poros keluarga demi menghadirkan masyarakat teladan dan sehat.

Keluarga merupakan sebuah institusi, di mana di dalamnya kepercayaan, keyakinan agama, nilai-nilai moral, dan norma-norma sosial diwarisakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di tengah lingkungan keluarga, anak-anak belajar cara bergaul dan membangun hubungan sosial dengan orang lain, mereka juga mempelajari pola hidup, moralitas, dan adat-istiadat.

Oleh karena itu, Islam sangat konsen untuk menjaga kelangsungan, kesucian, dan nilai-nilai keluarga. Rasulullah Saw bersabda, “Tak ada bangunan yang lebih dicintai di sisi Allah kecuali bangunan pernikahan.” (Man La Yahduruhu al-Faqih, juz 3, hal 381)

Di antara program Islam untuk menjaga mahligai suci rumah tangga adalah mendorong umatnya untuk menikah dan membentuk keluarga, membersihkan lingkungan keluarga dan masyarakat dari noda-dosa, menjelaskan hubungan sehat dan konstruktif antara suami-istri dan anggota keluarga, dan memberi penekanan khusus pada masalah pendidikan anak.

Kehidupan ideal menemukan arti yang sesungguhnya di bawah payung keluarga. Pria dan wanita – sebagai manifestasi dari penciptaan Tuhan – melangkahkan kaki mereka ke dunia untuk memberi arti bagi kehidupan dalam ikatan rumah tangga. Kedamaian merupakan buah dari ikatan suci ini sehingga mereka bersama-sama menapaki jalan kesempurnaan.

Manusia sejak hari pertama kehadirannya di dunia, mulai memahami dengan baik bahwa kesempurnaan dan keluhurannya dimulai dari sebuah lingkungan yang aman bernama keluarga. Kehadiran Adam dan Hawa di bumi – sebagai keluarga pertama – merupakan bukti yang jelas atas masalah tersebut, di mana manusia selalu membutuhkan teman dalam hidup sehingga berjalan seirama dan penuh cinta untuk menggapai tangga kesempurnaan.

Manusia sejak awal penciptaan dan berdasarkan tuntutan fitrahnya, memahami bahwa pondasi kehidupan, keberlangsungan generasi, kesempurnaan kehidupan spiritual, dan keamanan jiwa dan raganya, terletak pada poros keluarga. Sebuah poros di mana belaian penuh cinta seorang ibu dan dekapan hangat seorang ayah telah menghadirkan kenikmatan bagi manusia.

Komponen dan unsur pembentuk institusi keluarga dalam Islam terdiri dari pria dan wanita, yang hidup satu atap melalui ikatan suci, sementara anak-anak mereka merupakan unsur pelengkap. Jika kita ingin memiliki pengenalan yang mendalam tentang hubungan keluarga, tentu saja kita harus mengenal dengan benar unsur-unsur pembentuk keluarga dan para anggotanya serta pola interaksi mereka dengan sesama.

Pola hubungan keluarga Islami terpengaruh oleh pengenalan tugas dan kewajiban serta peran masing-masing anggotanya. Kita perlu tahu bahwa kinerja setiap anggota keluarga dapat mempengaruhi kinerja seluruh sistem.

Penyimpangan perilaku dari salah satu anggota keluarga dapat mengganggu kinerja seluruh sistem. Efektivitas sebuah keluarga merupakan dampak dari efektivitas masing-masing dari setiap anggotanya. Oleh karena itu, pengenalan tugas-tugas moral setiap anggota keluarga dan kinerja tepat masing-masing dari mereka bisa menempatkan bangunan kokoh ini searah dengan kesempurnaan dan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.

Di dunia modern, umat manusia melalui ilmu dan eksperimen telah mencapai sebuah realitas bahwa landasan kepribadian setiap individu dibentuk oleh lingkungan, pendidikan, dan budaya, dan kebahagiaan setiap masyarakat juga tergantung pada keselamatan lingkungan keluarga.

Sifat kekeluargaan di tengah anggotanya memiliki makna keikutsertaan dalam ikatan emosional, keterikatan dengan sebuah komunitas sosial, dan terbiasa hidup di sebuah lingkungan khusus. Keluarga dianggap penting karena menjadi tempat transfer dan pertukaran tradisi, kepercayaan, dan pengenalan. Mulai dari pola makan sampai pandangan sosial, politik, budaya, semua itu dapat terbentuk di tengah keluarga.

Keluarga merupakan warisan budaya tak ternilai yang diturunkan dari generasi sebelumnya kepada generasi mendatang. Karena itu, keluarga termasuk salah satu institusi yang memiliki pengaruh besar di bidang kehidupan sosial manusia. Di sepanjang sejarah kehidupan umat manusia, konsep keluarga di tengah mereka senantiasa tidak satu bentuk, tapi bersifat dinamis mengikuti dinamika kehidupan sosial.

Menurut para pakar ilmu sosial, keluarga terdiri dari sekelompok individu yang terbentuk melalui pertalian darah, pernikahan atau anak angkat untuk hidup bersama-sama dalam jangka waktu yang tidak tentu.

Keluarga dapat mendorong anggotanya ke jurang penyimpangan dan kerusakan, dan juga dapat memberikan petunjuk dan kebahagiaan untuk mereka. Ada banyak bentuk hubungan dan ikatan di tengah lingkungan keluarga, di mana Islam telah menyiapkan pedoman dan memberi keteladanan untuk semua anggota keluarga. Hubungan antar suami-istri, hubungan orang tua dengan anak-anak, hubungan anak-anak dengan orang tua, hubungan anak-anak antar sesama mereka, merupakan hubungan terpenting yang dapat ditemui di sebuah keluarga.

Read 67 times

Add comment


Security code
Refresh