کمالوندی

کمالوندی

Minggu, 05 Juni 2022 16:40

Syeikh Ja'far Kashif al-Ghita'

 

Syeikh Ja'far Kashif al-Ghita' termasuk ulama besar dan marja Syiah di abad 13 H dan murid terkenal Allamah Wahid Behbahani dan Allamah Bahrul Ulum. Setelah meninggalnya sang guru (Allamah Bahrul Ulum), Syeikh Kashif al-Ghita' menggantikannya sebagai pemimpin dan marja Syiah.

Ja'far bin Khidr bin Yahya Janani Hilli Najafi, atau yang dikenal dengan Syeikh Ja'far Najafi dengan gelar Kashir al-Ghita', Syeikh Kabir dan Syeikh al-Masyayikh, termasuk ulama dan marja besar Syiah di abad ke-13 H.

Syeikh Ja'far Kashif al-Ghita' dilahirkan tahun 1154 H di kota Najaf, Irak. Nasab dan silsilahnya sampai kepada Malik al-Ashtar, sahabat setiap dan komandan kuat pasukan Imam Ali bin Abi Thalib as. Ayah beliau bernama Khidr dan termasuk ulama serta orang zuhud saat itu. Khidr bin Yahya warga kota Hilla dan pergi ke kota Najaf untuk belajar serta tinggal di kota ini.

Syeikh Ja'far juga dilahirkan di kota Najaf dan memulai pelajaran agamanya di Hauzah Ilmiah Karbala. Selanjutnya ia pergi ke kota Najaf dan belajar dari berbagai guru besar di Hauzah Najaf. Lambat laun, reputasi ilmu dan keutamaan Kashif al-Ghita' menyebar di seminari-seminari (Hauzah), dan para ulama dari berbagai agama dan sesepuh agama mereka mengakuinya sebagai ulama dan cendekiawan Syiah yang tak terbantahkan.

Dia melakukan perjalanan ke negara-negara Islam termasuk Hijaz, Iran dan Palestina dan pengikut Syiah di berbagai bagian negara Islam berkenalan dengan lautan pengetahuan dan kepribadiannya yang saleh dan efektif. Oleh karena itu, Kashif al-Ghita' praktis menjadi marja kaum Syi'ah di dunia. Luasnya pengaruh dan penerimaannya di kalangan masyarakat menyebabkan para penguasa negara-negara Islam memberinya tempat khusus.

Syeikh Ja'far Kashif al-Ghita memiliki banyak karya di bidang ilmu-ilmu agama seperti fikih dan ushul fikih. Karya terkenal beliau adalah "Kashf al-Ghita 'aan Mubhamat al-Syariah al-Gharra' ". Syeikh Ja'far dikenal dengan panggilan Kashif al-Ghita' juga karena karyanya ini.

Kitab Kashf al-Ghita' tercatat sebagai kitab terpenting Syiah di bidang akidah, fikih dan usul fikih, serta memiliki keistimewaan tersendiri. Kitab ini ditulis dalam tiga bidang, akidah, usul fikih dan bab-bab fikih, serta membuktikan kebenaran Syiah Itsna Asyariah. Pentingnya dan kelengkapan buku ini di kalangan ulama dan ahli hukum Syi'ah sedemikian rupa sehingga dikutip bahwa Syeikh Morteza Ansari, seorang ahli hukum terkenal dan tak tertandingi dari abad ketiga belas, mengatakan: "Jika ada yang tahu aturan dan prinsip-prinsip buku ini, menurutku dia adalah seorang mujtahid.”

Menariknya, Kashif al-Ghatta' menulis buku ini saat bepergian ke Iran, sementara dia tidak membawa buku lain selain buku "al-Qawaid" karya Allamah Hilli, dan ini menunjukkan sejauh mana ulama besar Syiah ini menguasai ilmu agama khususnya ilmu fikih. Dia sendiri telah mengklaim bahwa jika semua buku fikih berada di luar jangkauan saya, saya masih akan dapat menulis semua bab dan topik fikih dari awal hingga akhir. Keahlian ilmiah dan yurisprudensinya dikonfirmasi oleh para ahli hukum zaman itu dan setelahnya.

Salah satu aktivitas penting Syeikh Ja'far Kashif al-Ghita' adalah memperluas dan memperkokoh metodologi usuli dan melawan arus Akhbari di bidang fikih. Sebelumnya telah kami jelaskan bahwa di abad 11 H, konfrontasi antara kelompok usuli dan Akhbari sangat serius dan sedikit demi sedikit ideologi Akhbari menang atas ideologi Usuli. Namun sejak awal abad ke-13 dan dengan perjuangan Allamah Wahid Behbahani, ideologi Usuli mulai kuat. Ulama besar ini dengan mendidik murid mumpuni dan menulis karya besar, mampu memperkuat sendi-sendi pemikiran usuli dan salah satu muridnya, yakni Allamah Kashif al-Ghita mampu memainkan peran penting dalam memajukan tujuan gurunya tersebut.

Akhbari dan Usuli, dua arus pemikiran di bidang fikih Syiah, dan masing-masing memiliki metodologi berbeda untuk memahami hukum agama, tapi tidak memiliki perbedaan di bidang teologi dan akhlak. Di antara pendukung setiap pemikiran ini, terdapat nama ulama besar, cendikiawan dan arif besar, yang tanpa fanatisme bersedia mengemukakan pandangannya dan membelanya. Hal ini merupakan sumber penting bagi mazhab Syiah.

Tapi seperti ideologi lainnya, ada sejumlah pengikutnya yang memilih metode radikal dan kurang adil. Salah satu perbedaan terpenting antara kedua aliran ini adalah bahwa kaum Akhbari percaya bahwa sumber utama untuk menemukan perintah-perintah agama hanyalah hadits dan riwayat, dan dalam memahami riwayat, mereka menganggap zahir hadits saja sudah cukup dan menolak campur tangan akal, argumentasi dan kajian riwayat. Mereka menganggap seluruh hadis di empat kitab utama Syiah (Kutub Arbaah) seluruhnya sahih, dan bahkan meyakini untuk memahami al-Quran dibutuhkan adanya hadis di penafsirannya. Dengan demikan mereka mengharamkan ijtihad dan lemah dalam menjawab isu-isu baru.

Namun, kaum Usuli memiliki pandangan yang berbeda, mereka percaya bahwa sumber utama untuk menemukan ajaran agama adalah Al-Qur'an, hadits, akal, dan Ijma. Mereka percaya bahwa akal dengan sendirinya dapat menjadi sumber untuk menemukan ajaran agama, tapi akal yang sehat dan terdidik, asalkan digunakan dengan benar, yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan tertentu. Mereka telah memperkenalkan aturan yang disebut hubungan antara akal dan wahyu, yang menurutnya, apa pun yang ditentukan syariat, akal juga mengaturnya, dan apa pun yang ditentukan oleh akal, itu juga diterima oleh syariat. Selain itu, kaum usuli (fundamentalis) percaya bahwa akal memainkan peran penting dalam memahami hadis dan Al-Qur'an.

"Ijma" adalah salah satu dari empat sumber kaum usuli untuk menemukan ajaran agama, dan itu berarti bahwa jika tidak ada cukup bukti dan narasi Al-Qur'an tentang suatu masalah, ada cara lain untuk menemukan pendapat agama di kasus tersebut dan bahwa semua ulama harus mencapai satu pendapat tentang apa pendapat Imam (as) tentang masalah tertentu. Perbedaan ijma' antara Sunni dan Syi'ah adalah bahwa kaum Sunni dalam ijma' tidak memperhatikan penemuan pendapat Imam Maksum (as) dan percaya bahwa segala sesuatu yang dikatakan semua ulama karena itu adalah kesepakatan para ulama, maka itu benar, tetapi Syi'ah percaya bahwa ijma' (konsensus) para ulama hanya benar ketika didukung oleh pendapat Imam Maksum.

Dengan kata lain, ketika kita tidak memiliki ayat Al-Qur'an atau hadits yang jelas tentang suatu masalah, para ulama, dengan pengetahuan dan keahliannya  mereka yang lengkap tentang Al-Qur'an dan hadits, sampai pada kesimpulan bahwa pendapat para Imam maksum dalam hal ini adalah ini. Ketika semua ulama mencapai satu kesimpulan dalam kasus seperti itu dalam suatu periode, kesimpulan ini wajib sebagai perintah agama. Ulama Akhbari menentang akal dan ijma’ meskipun keduanya merupakan salah satu sumber fikih, tidak membolehkan ijtihad dan taqlid dari non-maksum.

Syeikh Ja'far, yang merupakan salah satu peserta pendidikan sekolah usuli di hadapan Allamah Wahid Behbahani, memiliki kehadiran yang kuat dan efektif dalam proses ini. Pada saat itu, wakil dan sesepuh kelompok Akhbari, Syekh Mohammad bin Abdul Nabi Neyshabouri, yang dikenal sebagai Mirza Mohammad Akhbari, yang sangat menentang kaum fundamentalis, yaitu pendukung akal dan penalaran, dan dalam oposisinya tidak segan-segan menggunakan kesalahan, fitnah atau penghinaan terhadap ulama. Jika Syekh Mohammad berhasil membuat orang pesimis tentang metode usulitidak  dan ijtihad, maka ijtihad, dengan kata lain, menggunakan akal dalam memahami agama dan aturan-aturan agama, akan berkembang untuk waktu yang lama dan membuka jalan bagi pemahaman yang dangkal dan penyimpangan terhadap agama.

Syeikh Ja'far Kashif al-Ghita' melakukan yang terbaik untuk menghadapi arus ini dan Syeikh Muhammad Akhbari. Dia menulis sebuah buku berjudul "Kashf al-Ghita' tentang kekurangan Mirza Muhammad" di mana dia menyerang ide-ide tak berdasar Mirza Mohammad Akhbari dan mengklarifikasi kekurangannya kepada semua orang. Mirza Mohammad merasa terancam tinggal di Irak dan datang ke Iran untuk menggunakan dukungan Fath-Ali Shah, tetapi Kashif al-Ghita' menulis buku yang menolak ideologi Mirza Mohammad Akhbari kepada Fath-Ali Shah agar Mirza Mohammad Akhbari tidak menemukan pangkalahnnya di Iran.

Hal ini menyebabkan Fath-Ali Shah menarik dukungannya. Syekh Ja'far menulis karya-karya lain yang menolak keyakinan Akhbariun dan melakukan banyak upaya dalam ceramah dan diskusi dan secara praktis untuk menginformasikan orang-orang dan ulama tentang metode ijtihad dan berkahnya, serta kekurangan dan aib dari mengabaikan akal dan nalar dalam memahami agama, yang sangat efektif melemahkan aliran Akhbari dan menyebarkan metode ushuli (fundamentalisme).

Syeikh Ja'far Kashif al-Ghita' seorang ulama sosial dan politik yang selain aktif di bidang ilmiah, juga sangat memperhatikan urusan orang muslim. Ia bahkan memakai pakaian perang untuk keselamatan kaum Muslim dan menjaga nyawa serta kehormatan mereka. Beliau juga tidak enggan menjalin hubungan konstruktif dan efektif dengan para penguasa. Oleh karena itu, ia berulang kali berhasil mencegah terjadinya perang dan pertumpahan darah di antara penguasa Islam.

Minggu, 05 Juni 2022 16:39

Allamah Bahrul Ulum

 

Mempelajari sejarah dan kehidupan para wali Allah yang hatinya hidup dan mencari kebenaran tak ubahnya seperti berjalan-jalan di taman surgawi dan membuat jiwa manusia merasa bahagia.

Tokoh-tokoh besar yang sama seperti ini, manusia dengan beragam kecenderungan dan insting serta hidup di muka bumi, dan meraih pengalaman dengan seluruh kesulitan dan penderitaan hidup di dunia. Namun demikian mereka tidak terjebak di hari-hari, jam dan tahun yang terus berulang dan membosankan di bumi. Mereka berhasil membawa dirinya ke tujuan sebenarnya dan menyinari jalan kebahagiaan dan petujung bagi seluruh pencari kebenaran.

Sebelumnya kami telah mambahas kehidupan dan karya Allamah Wahid Behbahani, salah satu ulama besar Syiah di abad ke-12 Hijriah. Kali ini kami akan menyajikan sejarah kehidupan salah satu murid beliau, yakni Allamah Bahrul Ulum yang memegang panji marjaiyah dan ketua Hauzah Ilmiah di kota Najaf setelah gurunya.

Sayid Mohammad Mahdi Taba'tabai Najafi atau yang dikenal dengan Allamah Bahrul Ulum adalah seorang pakar fikih dan hadis, serta arif besar Syiah. Beliau dilahirkan di hari Idul Fitri pada tahun 1155 H di kota Karbala, Irak. Ayah dan kakeknya juga seorang ulama besar saat itu dan termasuk cucu Majlisi Pertama. Sayid Mohammad Mahdi di masa remaja belajar dari guru besar Hauzah Ilmiah Najaf dan menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota tersebut di bawah bimbingan ayahnya, Sayid Murtadha Taba'tabai Boroujerdi dan Sheikh Yusuf Bahrani, salah satu ulama besar saat itu. Setelah mengecap pendidikan yang cukup di bawah bimbingan para guru tersebut, ia kemudian kembali ke Karbala untuk belajar di bawah bimbingan Allamah Wahid Behbahani yang saat itu menjadi marja Syiah.

Sayid Mohammad Mahdi setelah belajar di Hauzah Ilmiah Najaf dan Karbala, tahun 1186 H pergi ke kota Mashad, Iran dan selama tujuh tahun belajar dan melakukan tazkiyah nafs di Haram Imam Ridha as. Selama kurun waktu tersebut, selain mengikuti pelajaran hauzah, Allamah Bahrul Ulum juga belajar filsafat kepada Mirza Mohammad Mahdi Khurasani (Sheikh Rabi').

Suatu hari Mirza Khorasani yang takjub dengan kecerdasan muridnya ini kepada Sayid Mohammad Mahdi berkata, "Sesungguhnya kamu adalah lautan ilmu (Bahrul Ulum)." Sejak saat itu, Sayid Mohammad Mahdi dikenal dengan sebutan Bahrul Ulum. Gelar yang tetap disematkan kepada beliau hingga akhir hayatnya dan setelahnya, keluarga ulama ini juga dikenal dengan gelar ini.

Allamah Bahrul Ulum selama belajar di Mashad mencapai derajat master di bidang ilmu fikih, hadis, filsafat dan seluruh ilmu yang marak di zaman tersebut. Ia mendapat perhatian khusus dari para ulama dan gurunya. Oleh karena itu, Allamah Wahid Behbahani, marja Syiah saat itu yang berada di akhir umurnya, meminta Allamah Bahrul Ulum untuk kembali ke kota Najaf dan mengambil alih tanggung jawab sebagai ketua Hauzah Ilmiah di kota tersebut dan juga marja baru Syiah.

Hal ini karena Allamah Behbahani yang usianya sudah sepuh dan kondisi fisiknya yang terus melemah merasa tanggung jawab besar ini harus diserahkan kepada sosok yang layak dan mampu. Dengan demikian, Allamah Bahrul Ulum yang saat itu usianya belum menginjak 40 tahun memikul tanggung jawab besar sebagai pemimpin Muslimin dan pembimbing mereka. Selain sibuk dengan urusan mengajar dan menulis buku, Allamah Bahrul Ulum juga tak melupakan urusan orang-orang miskin dan yang membutuhkan. Beliau juga menyelesaikan kesulitan dan masalah yang dihadapi masyarakat saat itu.

Allama Bahrul Ulum, untuk dapat mengatasi berbagai tantangan dan masalah sosial umat Islam dan untuk menertibkan hauzah ilmiah (seminari), mengundang ulama dan ahli hukum terkemuka sezamannya, dan dalam inisiatif yang bisa diterapkan, membagi pekerjaan di antara mereka. Pembagian kerja yang sistematis ini tidak umum di antara para ulama sebelumnya. Hal ini membuat menjalankan konstituen dan menanggapi masyarakat lebih cepat dan lebih mudah.

Sayid Mohammad Mahdi Taba'tabai atau Allamah Bahrul Ulum
Ia mengangkat Sheikh Ja'far Kashif al-Ghita sebagai penanggung jawab fatwa, mengangkat Shekh Hussein Najafi sebagai imam salat berjamaah di Najaf, menyerahkan urusan peradilan dan litigasi kepada Sheikh Muhyyiddin, dan mengangkat Sayid Mohammad Javad Ameli untuk menulis dan menyusun fikih (dan karya terbesarnya adalah penyusunan kitab fikih Miftah al-Karamah).

Sementara Allamah sendiri lebih memperhatikan administrasi seminari Najaf dan urusan pendidikan dan ilmiahnya. Oleh karena itu, selama kepemimpinan beliau, hauzah ilmiah Najaf semakin kuat. Banyak ulama dan ilmuwan dilatih dan dididik di hadapan Allamah Bahrul Ulum. Di antara mereka ada nama besar seperti Sheikh Jafar Kashif al-Ghita, Sayid Mohammad Javad Ameli (penulis Miftah al-Karamah) dan Sheikh Mohammad Taqi Isfahani.

Allamah Bahrul Ulum memiliki berbagai karya di bidang ilmu-ilmu keislaman dan di antara karya terpenting beliau adalah Masabih al-Ahkam, buku penting di bidang ilmu fikih khusus bab ibadah dan muamalah, al-Durrah al-Najafiyah dan Mishkah al-Huda. Selain di bidang ilmu fikih dan teologi, Allamah Bahrul Umum juga memiliki karya di bidang ilmu lain seperti sejarah Islam, ilmu rijal, syair dan sastra.

Allamah juga mahir di bidang puisi dan sastra, serta ia juga meninggalkan karya dalam bentuk puisi di fikih, usul fikih dan ilmu rijal. Kecakapannya yang mampu menyusun pembahasan rumit fikih dan usul dalam bentuk puisi, menunjukkan bahwa Allamah selain memiliki ketajaman di bidang puisi, juga menguasai penuh ilmu-ilmu di bidang ini. Karya Allamah ini bukan saja membuat siswa lebih mudah mempelajari pembahasan yang rumit dan berat, bahkan membuat pembahasan ini lebih lama diingat.

Salah satu kisah instruktif tentang kehidupan Sayid Bahrul Ulum adalah perjalanan yang dilakukan ulama berpandangan jauh ini pada tahun 1193 H ke tanah wahyu, Hijaz. Di Hijaz, dia merahasiakan mazhabnya, Syi'ah, sehingga dia bisa berdiskusi dan mengkritik ilmu pengetahuan dari kedengkian dan pikiran sempit. Orang-orang biasa dan tokoh-tokoh ilmiah menyambut kehadiran ulama besar ini, dan ketika Allamah melihat kondisi untuk diskusi dan bimbingan orang-orang, dia tinggal di Hijaz selama dua tahun.

Penguasaannya terhadap yurisprudensi Sunni dan perilaku serta perbuatan Islamnya membuatnya begitu populer di kalangan penduduk negeri itu, terutama para ulama, sehingga sejumlah besar orang dan ulama datang menemuinya setiap hari dan mengambil manfaat darinya. Menarik untuk dicatat bahwa para pengikut masing-masing agama Islam menganggap Bahrul Ulum sebagai pengikut agama mereka, dan kelasnya di bidang teologi didirikan sesuai dengan ideologi empat mazhab (Mazhab Arbaah).

Allamah Bahrul Ulum mengungkapkan mazhabnya di akhir masa tinggalnya di Mekah. Ketika berita Allamah menjadi pengikut Syi'ah menyebar di Hijaz, beberapa fanatik agama lain berdebat dengannya, tetapi Allamah, dengan lautan pengetahuannya, mengatasi semua kontroversi dan mampu menarik banyak orang pencari kebenaran ke Islam yang sebenarnya, bahkan Imam Jum'at Mekah, seorang ulama Sunni masuk Syi'ah pada usia delapan puluh tahun.

Selama tinggal di Mekah, Bahrul Ulum melakukan tindakan berharga lainnya, termasuk menentukan lokasi haji yang tepat, dan mengidentifikasi tempat ihram yang dikenal sebagai miqat, serta tempat-tempat penting lainnya yang penting untuk keabsahan haji. Allamah juga mengambil langkah yang mampu mengubah paving dan lantai Masjidil Haram sedemikian rupa sehingga menurut fikih Syi'ah, sujud pada mereka adalah benar.

Allamah Bahrul Ulum, karena derajat keilmuan dan spiritualnya, ketakwaan, dan derajat irfannya, sangat dihormati oleh para ulama Syi'ah sampai-sampai posisinya dalam kesucian perbuatan dianggap mendekati posisi ismah (terjaga dari dosa). Ketaatannya pada moralitas Islam dan perilaku kenabiannya tidak membuat terpesona hati kaum Syi'ah, tetapi telah memikat pengikut agama lain dan bahkan orang Yahudi dan Kristen yang akrab dengan mereka. Bahrul Ulum telah menggabungkan ilmu dan praktek serta menggambarkan manifestasi dari kehidupan Muhammad yang indah yang selamanya bisa menjadi teladan murni bagi manusia.

Banyak cerita tentang kepedulian Sayid Bahrul Ulum terhadap orang miskin. Seperti leluhurnya Amir al-Mu'minin Ali (as), ia biasa berjalan di kegelapan malam Najaf dengan sekantong makanan di pundaknya dan menaruh sejumlah uang dan makanan di rumah setiap orang miskin. Suatu malam dia memanggil salah satu muridnya yang terkemuka dan menegurnya dengan keras karena tidak tahu bagaimana keadaan tetangganya yang malang. Allamah memberi tahu siswa itu bahwa tetanggamu  yang malang menidurkan anak-anaknya dalam kondisi lapar malam ini dan kamu tidak merawat mereka!

Murid itu meminta maaf dan malu dan berkata bahwa saya tidak mengetahui kondisinya dan Allamah berkata: "Jelas bahwa kamu tidak sadar, karena jika kamu makan malam dengan sepengetahuan orang miskin itu dan tidak memperhatikannya, kamu telah menjadi kafir, tetapi yang membuat saya khawatir dan kesal adalah mengapa kamu tidak tahu tentang saudara Muslimmu? "Anda harus mencari saudara-saudara seagamamu dan menemukannya." Allamah memberikan siswa nampan penuh makanan dan uang dan meminta dia untuk pergi ke rumah saudara yang beriman dan makan malam bersama dan melunasi hutang tetangga.

Allamah yang serius melakukan pembersihan jiwa (tazkiyah nafs) dengan serius, juga mendidik murid-muridnya melakukan hal serupa. Guru besar hauzah ilmiah Najaf ini senantiasa mendorong siswanya untuk mengerjakan shalat malam. Bahkan ada satu cerita, Allamah meliburkan kelasnya karena mendengar para muridnya mengabaikan ibadah shalat malam. Allamah kepada muridnya berkata, mengaka aku tidak mendengar tangisan dan rintihan kalian di tengah malam saat menunaikan shalat malam ? Saat muridnya mendengar ucapan gurunya tersebut, mereka tergerak hatinya dan mulai mengerjakan shalat malam. Ketika Allamah menyaksikan perubahan moral di setiap muridnya, maka ia kemudian melanjutkan kelasnya.

Di akhir usianya, Allamah sempat menderita sakit dan tidak mampu melanjutkan pengajarannya dan ia fokus di rumah dan menulis. Akhirnya pada 24 Dzulhijjah atau Rajab tahun 1212 H, ulama besar dan pejuang ini menghembuskan nafas terakhirnya. Setalah proses tasyi' jenazah dan shalat mayit terhadap ulama besar ini, akhirnya Allamah Bahrul Ulum disemayamkan di sisi makam Sheikh Tusi di kota Najaf.

Minggu, 05 Juni 2022 16:38

Allamah Mohammad Baqir Vahid Behbahani

 

Setelah meninggalnya Allamah Majlesi, pemerintah Safawi mulai menurun dan seiring dengan serangan bangsa Afghanistan ke Iran serta direbutnya ibu kota dinasti ini, yakni Isfahan, era pemerintahan Dinasti Safawi di Iran yang berlangsung hampir 200 tahun berakhir.

Mulai dari tumbangnya Dinasti Safawi hingga naiknya Nader Shah serta munculnya Dinasti Afshariyah, berlangsung selama 13 tahun. Selama tenggat waktu tersebut, Iran mengalami gajolak politik dan sosial karena kehilangan pemerintahan pusat dan invasi asing. Ketenangan yang dialami para ulama di era Safawi akhirnya hancur dan peluang tepat untuk mengajar dan melakukan riset juga musnah. Di kondisi seperti ini, Allamah Vahid Behbahani bangkit di medan ilmu dan fiqih serta meski beragam kesulitan yang ada, beliau mengambil alih bendera Ahlul Bait as dan berjuang dengan gigih.

Allamah Mohammad Baqir Vahid Behbahani adalah cucu dari Allamah Majlesi pertama dan lahir di Isfahan tahun 1117 H. Saat itu, Isfahan secara bertahap kehilangan posisinya sebagai pusat ilmu. Mohammad Baqir bersama keluarganya pindah ke Behbahan. Sebagian meyakini Mohammad Akmal Isfahani, ayah Allamah Behbahani pindah ke Behbahan untuk memerangi aliran Akhbariyah yang saat itu marak di kota Behbahan. Sementara sebagian lainnya meyakini ia pindah ke Behbahan karena kondisi rusuh sosial dan politik di kota Isfahan saat itu, karena saat itu kota Behbahan relatif tenang bagi para ulama.

Mohammad Baqir tumbuh di bawah bimbingan ayahnya dan menyelesaikan pendidikannya di kota Behbahan. Ia dikenal oleh warga dan ulama setempat dengan ketinggian ilmu dan keutamaan akhlaknya. Ia tinggal di kota Behbahan selama 30 tahun dan berusaha keras menyelesaikan pertikaian dan perbedaan di antara warga.

Allamah Behbahani yang mumpuni di sebagain besar ilmu-ilmu keislaman, meninggalkan banyak inovasi baru di bidang fiqih dan usul fiqih serta membangun pijakan dan ufuk baru di bidang ilmu-ilmu Syiah. Inovasi Allamah Vahid Behbahani tidak terbatas di usul fiqih saja, tapi di berbagai ilmu Islam lainnya seperti teologi, rijal (cabang ilmu hadis), hadis.

Mengingat pembahasan fiqih dan usul fiqih banyak penggunaannya oleh para ulama, merupakan kajian lain yang menjadi fokus Allamah Bebahani serta beliau banyak memberi inovasi di cabang ilmu ini serta menciptakan banyak perubahan di dalamnya. Selain itu, Allamah Behbahani juga memiliki banyak inovasi di ilmu rijal dan dirayah hadis.

Di era Allamah Vahid Behbahani, ilmu usul fiqih yang menjadi pijakan di ijtihad mengalami kemunduran dan kurang mendapat perhatian dari ulama serta cendikiawan. Allamah Behbahani bangkit membela dan mendukung cabang ilmu ini dan membangun dari awal ilmu usul fiqih serta menghidupkannya kembali. Usul fiqih adalah ilmu yang membahas kaidah dan prinsip istinbat hukum syar'i yang digunakan para mujtahid.

Oleh karena itu, usul fiqih adalah ilmu alat di mana seorang faqih (ulama fiqih) memanfaatkannya untuk mengistinbat hukum far'i (furu') dari sumber utama yakni al-Quran, sunnah, ijma' dan akal.

Allamah Vahid Behbahani menciptakan kebangkita di mana hasilnya adalah produksi puluhan faqih dan pakar usul di berbagai hauzah ilmiah. Guru Allamah Behbahani, yakni Sayid Sadruddin Razavi Qommi mengatakan, "Di zaman kami tidak ada seorang pun pakar usul fiqih". Namun dalam waktu singkat setelah guru besar ini, dan berkat upaya Allamah Behbahani, terjadi perubahan besar di bidang usul fiqih dan para murid beliau membuat kajian cabang ilmu ini semakin maju.

Allamah Vahid Behbahani dikenal getol melawan aliran Akhbari. Kaum akhbari adalah sekelompok ulama yang meyakini untuk memahami ajaran agama hanya cukup bersandar pada zahir riwayat dan hadis. Mereka meyakini empat kitab utama Syiah seluruhnya sahih dan menganggap siapa saja dapat merujuk pada hadis-hadis di sumber utama empat kitab ini untuk memahami hukum agamanya dan tidak membutuhkan untuk taqlid kepada mujtahid.

Faktanya kelompok Akhbari tidak membolehkan ijtihad dan taqlid kepada seorang mujtahid. Sementara kaum Usuli meyakini bahwa untuk menentukan kebenaran dan keabsahan sebuah hukum agama (syariat), diperlukan keahlian dan spesialiassi ilmiah yang cukup dan seseorang yang menguasai dengan cukup sumber agama dan pemanfaatan metodologi teliti ilimiah dan aqli yang dapat mengistinbatkan hukum agama di berbagai kasus.

Adapun mereka yang tidak memiliki spesialisasi ini harus merujuk kepada pakar dan spesialis. Masalah merujuk orang yang tidak memiliki spesialisasi kepada pakar sebuah kaidah rasional yang diterima di antara orang berakal. Usuli meyakini bahwa kaidah ini juga berlaku di bidang penentuan hukum agama.

Akhbari meyakini seluruh hadis di kutub arbaah (empat kitab rujukan utama Syiah) seluruhnya sahih, yakni apa yang dicantumkan dan diriwayatkan di kitab tersebut benar bersumber dari para maksum, dan siapa saja dapat merujuk secara langsung ke riwayat ini untuk memahami hukum agama. Sementara kaum Usuli meyakini bahwa pertama, seluruh hadis yang sampai kepada kita tidak seluruhnya sahih, tetapi validitas hadis dapat diukur dengan ketelitian khusus, termasuk memeriksa rangkaian perawi hadits tertentu. Selain itu, mereka meyakini kecenderungan terhadap zahir untuk memahami hadis akan menciptakan kekeliruan pada pemahaman agama, dan untuk memahami hadis sahih diperlukan seseorang yang memiliki keahlian ilmiah.

Setelah bertahun-tahun perjuangan ilmiah Allamah Behbahani melawan perkembangan aliran Akhbariyah, akhirnya perkembangan pemikiran ini berhasil dibendung. Allamah pada tahun 1159 H bersama keluarga dan familinya hijrah ke kota Najaf, Irak. Saat itu, beliau tidak menemukan guru yang dapat menambah pengetahuannya di kota Najaf. Akhirnya Allamah pergi ke kota Karbala. Di Karbala, pengaruh pemikiran Akhbariyah juga marak seperti di kota Behbahan.

Allamah menghadiri ceramah dan pelajaran ulama Akhbariyah serta mengkaji dari dekat pemikiran dan argumentasi mereka. Saat itu, Allamah meminta Sheikh Yusuf Bahrani, ulama besar Akbari untuk menyerahkan kelasnya selama tiga hari kepadanya. Sheikh Yusuf, sosok saleh dan berakhlak mulia, menerima permintaan tersebut. Allamah Behbahani selama tiga hari tersebut mengkritik ideologi Akhbari dan membuktikan kebenaran metodologi ijtihad. Pada akhirnya dua pertiga murid Sheikh Yusuf keluar dari Akhbariyah dan condong kepada metodologi usuli.

Salah satu keindahan sejarah ulama Syi'ah terlihat dalam sikap dan tindakan Allamah Vahid Behbahani dan Syekh Yusuf Bahrani, yang mewakili dua pemikiran yang berlawanan pada masanya. Terlepas dari kenyataan bahwa masing-masing ulama besar ini adalah salah satu ulama besar pada masanya dan memiliki banyak murid dan pengikut di antara orang-orang, tetapi karena pendidikan agama yang benar dan kesehatan jiwa, mereka menganggap diri mereka wajib mengikuti kebenaran.

Untuk itu, Sheikh Yusuf dengan mudah memberikan mimbar dan pelajarannya kepada ulama besar yang menjadi lawannya, dan ketika melihat keutamaan dan keilmuan Allamah Behbahani serta mendengar kekuatan argumentasinya, ia membuka jalan bagi orang-orang untuk berpindah ke aliran Usuli. Jika Sheikh Yusuf tidak memiliki jiwa yang sehat dan menghasut para pengikutnya, yang tidak sedikit, melawan pemikiran Usuli, maka konflik antara kaum Usuli dan Akhbari akan memasuki fase berbahaya.

Allamah Behbahani, selain sangat menentang pemikiran Akhbari, juga memiliki kritik yang tepat dan konstruktif terhadap ulama Usuli. Ia juga sangat memahami bidang pemikirannya yang diterima, pemikiran Usuli atau ijtihad dalam agama, dan sadar akan bahaya yang mengancam ijtihad yang benar. Sama seperti dia dengan tajam mengkritik Akhbari, dia juga berurusan dengan kemungkinan penyimpangan di antara kaum Usuli. Hubungannya dengan Saheb al-Madarek (Sayyid Muhammad ibn Ali Mousavi Ameli, 946-1009 H), yang adalah seorang Usuli dan ahli hukum, sangat terkenal. Oleh karena itu, Allamah Behbahani dengan sengaja berusaha mencegah ekstremisme dalam pemikiran Syi'ah dan mencapai kesuksesan besar.

Meskipun pemikiran akhbari, yang merupakan semacam kedangkalan ekstrim tentang hadits dan tidak mampu menjawab dalam masalah agama, namun keberadaan arus ini dan bentrokan intelektual antara mereka dan kaum Usuli, yaitu para pengikut ijtihad, telah menjadi berkah besar untuk Syiah. Kompilasi kumpulan besar narasi seperti "Wasa'il al-Shi'ah" dan "Bihar al-Anwar", kompilasi interpretasi narasi Al-Qur'an seperti interpretasi "Noor al-Thaqalin" dan interpretasi "Al -Burhan fi Tafsir al-Quran" ditulis pada masa dominasi pemikiran Akhbari. Juga, perdebatan dan diskusi antara kedua kelompok ini membantu memperdalam dan memperluas perdebatan yurisprudensi dan Usuli.

Usia Allamah Behbahani mencapai 90 tahun dan di akhir usianya, kelemahan menguasainya dan dia meninggalkan pengajaran dan diskusi dan hanya mengajarkan Syaharah Lum'ah. Dia menyebut Allama Bahr al-Ulum sebagai siswa terkemuka di Najaf Ashraf dan memintanya untuk mengatur pelajaran dan diskusi untuk mengurus urusan Syiah. Ulama besar Syiah ini meninggal di Karbala pada 29 Syawal 205 H setelah perjuangan seumur hidup dan dimakamkan di serambi Imam Husein (AS) di kaki para syuhada. Meski jasadnya disemayamkan seperti jenazah lainnya, tapi nama besarnya bersinar dan sejajar dengan nama tokoh besar. Cahaya yang dia bawa sampai kini masih membimbing para ulama dan pencari kebenaran.

Minggu, 05 Juni 2022 16:34

Surat At-Tur 41-49

 

Surat At-Tur 41-49

أَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ (41) أَمْ يُرِيدُونَ كَيْدًا فَالَّذِينَ كَفَرُوا هُمُ الْمَكِيدُونَ (42) أَمْ لَهُمْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (43)

Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib lalu mereka menuliskannya? (52: 41)

Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu merekalah yang kena tipu daya. (52: 42)

Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allah. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (52: 43)

Di pembahasan sebelumnya, Tuhan mempertanyakan para penentang Rasulullah Saw, apa dasar kalian melontarkan tuduhan seperti ini kepada utusan-Nya. Ayat ini melanjutkan pertanyaan tersebut dan mengatakan, Apakah para penentang mengklaim bahwa diri mereka berhubungan dengan alam ghaib dan secara langsung menerima wahyu ilahi, serta tidak membutuhkan firman Tuhan yang disampaikan oleh Rasulullah kepada mereka ?

Atau mereka tengah melakukan konspirasi dan rencana untuk meneror Rasulullah, sementara mereka harus mengetahui bahwa mereka sendiri tunduk kepada kehendak Tuhan dan rencana mereka akan merugikan mereka sendiri. Mereka jika bersandar pada kekuatan palsu yang mereka anggap sebagai sekutu Tuhan, maka ketahuilah bahwa  bahwa mereka tidak dapat mendukung dan membantu mereka melawan kekuatan Tuhan.

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin berharga yang dapat dipetik:

1. Salah satu metode dakwah dan membimbing para pengingkar adalah melontarkan sejumlah pertanyaan untuk membangunkan mereka dan memaksanya untuk berpikir.

2. Siapa saja selain para nabi dan wali Allah memiliki hubungan dengan hal-hal ghaib, maka klaimnya tidak memiliki landasan logika dan ilmiah, serta kata-katanya batil.

3. Tuhan mendukung orang yang beriman dan konsisten, serta jika diperlukan akan menggagalkan konspirasi musuh melawan mereka.

وَإِنْ يَرَوْا كِسْفًا مِنَ السَّمَاءِ سَاقِطًا يَقُولُوا سَحَابٌ مَرْكُومٌ (44) فَذَرْهُمْ حَتَّى يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي فِيهِ يُصْعَقُونَ (45) يَوْمَ لَا يُغْنِي عَنْهُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ (46)

Jika mereka melihat sebagian dari langit gugur, mereka akan mengatakan: "Itu adalah awan yang bertindih-tindih". (52: 44)

Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan, (52: 45)

(yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka dan mereka tidak ditolong. (52: 46)

Ayat ini menyinggung puncak keras kepala orang kafir dan mengatakan, jika azab Allah turun berupa batu dari langit, mereka akan mengingkarinya dan berkata: Ini adalah awan-awan di langit yang telah mengembun dan kemudian jatuh. Mereka bukan saja mengingkari kebenaran spiritual, bahkan kebenaran fisik dan apa yang mereka saksikan dengan mata juga mendistorsinya sehingga mereka dapat lari dari beriman kepada Tuhan.

Oleh karena itu, ayat ini kepada Rasulullah berkata, tinggalkan orang-orang seperti ini; Mereka bukannya tertidur yang harus kamu bangunkan. Mereka berpura-pura tertidur dan seberapa besar usahamu untuk membangunkan mereka, merekat idak akan terbangun. Hanya kematian dan kehancuran yang akan membangunkan mereka, tapi saat itu tidak ada lagi gunanya bagi mereka. Selain itu, rencana mereka untuk mengalahkan kebenaran dan menghancurkan agama Tuhan gagal dan tidak akan lagi menjadi penyelamat bagi mereka.

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin berharga yang dapat dipetik:

1. Keras kepala juga akan membuat mata manusia buta melihat hakikat materi, apalagi hakikat maknawi yang harus dilihat melalui hati dan diterima. Para prinsipnya keras kepala manusia mendorongnya menganalisa kebenaran secara keliru.

2. Bimbingan dan petunjuk para nabi bagi mereka yang ingin memahami kebenaran, bukan bagi mereka yang menolak kebenaran dan tetap keras kepala.

3. Para penentang tidak memperhitungkan kehancuran dirinya di perhitungan mereka. Mereka menganggap akan abadi dan mampu melancarkan rencana dan konspirasinya. Padahal jika Tuhan berkehendak, kematian dan kehancuran mereka akan tiba serta rencana mereka akan musnah.

وَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا عَذَابًا دُونَ ذَلِكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (47) وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ (48) وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَإِدْبَارَ النُّجُومِ (49)

Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada azab selain daripada itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (52: 47)

Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri, (52: 48)

dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar). (52: 49)

Melanjutkan ayat sebelumnya terkait turunnya murka dan azab ilahi kepada orang kafir dan keras kepala, ayat ini mengatakan,"Azab ilahi tidak terbatas di akhirat, tapi juga akan diturunkan di dunia dan alam Barzah, tapi mereka yang tidak mengetahui wahyu, tidak mengetahui hal ini dan tidak berpikir untuk memperbaiki dan menyelamatkan diri dari azab Tuhan."

Di akhir surat ini, setelah menjelaskan beragam tuduhan dan konspirasi musuh, Allah Swt kepada Rasulullah Saw berkata, "Tetaplah konsisten dan istiqamah menjalankan tanggung jawab menyebarkan risalah yang telah Kami bebankan di pundakmu, dan Kami adalah pembimbing dan pendukungmu serta sedetikpun kamu tidak lepas dari pandangan Kami, sehingga Kami membiarkan kamu sendirian."

Namun begitu perkuat jiwamu dengan senantiasa berhubungan dengan Tuhan dan ucapkan tasbih dan puji-pujian kepada-Nya setiap pagi dan malam. Ini akan membuatmu tidak membutuhkan orang lain dan berhubungan dengan sumber kekuatan dan keagungan.

Dari tiga ayat tadi terdapat empat poin berharga yang dapat dipetik:

1. Orang-orang zalim tidak menyadari nasib buruk akibat perbuatannya di dunia dan akhirat, jika tidak maka mereka tidak akan berbuat demikian dan dengan kata lain ia tidak akan lagi menzalimi dirinya sendiri.

2. Dalam menjaga agama Tuhan, harus melawan para penentang yang keras kapala, dan dengan penuh kesabaran menanggung kesulitan di jalan ini.

3. Jika manusia percaya bahwa Tuhan menyaksikan dan menolong orang-orang yang berjuang di jalan-Nya, maka kesabarannya akan meingkat dan tidak akan meninggalkan perjuangannya tersebut.

4. Doa dan munajat kepada Tuhan, serta melantunkan zikir memiliki dampak besar dalam memperkuat ruh dan mental manusia dalam menunaikan perintah Tuhan.

Minggu, 05 Juni 2022 16:33

Surat At-Tur 32-40

 

Surat At-Tur 32-40

أَمْ تَأْمُرُهُمْ أَحْلَامُهُمْ بِهَذَا أَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ (32) أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ (33) فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ (34)

Apakah mereka diperintah oleh fikiran-fikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas? (52: 32)

Ataukah mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) membuat-buatnya". Sebenarnya mereka tidak beriman. (52: 33)

Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar. (52: 34)

Di pembahasan sebelumnya disinggung tuduhan tak berdasar para penentang Rasulullah terhadap beliau. Ayat ini menyatakan, apakah akal sehat membuat kalian menjadi tidak masuk akal sehingga kalian menuduh Rasulullah, yang berbicara kepada Anda dengan akal dan logika, seorang dukun, penyair, dan orang gila? Kata-kata ini tidak memiliki pembenaran lain selain kesombongan dan melawan kebenaran.

Kalian karena menolak beriman kepada Rasulullah, menuduhnya bahwa ajarannya berasal dari dirinya sendiri dan kemudian menisbatkannya kepada Tuhan. Jika memang benar demikian, maka kalian coba lakukan hal serupa dan keluarkan kata-kata seperti ucapan Rasululullah. Tunjukkan apa yang ia klaim tidak benar, dan orang lain pun dapat mengeluarkan kata-kata seperti ucapan nabi.

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin berharga yang dapat dipetik:

1. Akar utama kekufuran dan pengingkaran adalah pemberontakan melawan kebenaran, bukan akal dan pikiran.

2. Para penentang nabi, untuk membenarkan kekufurannya dan menjauhkan masyarakat dari para nabi, tak segan-segan melontarkan tudingan dan tuduhan tak berdasar kepada para nabi.

3. Al-Quran adalah mukjizat nyata Rasulullah Saw untuk membuktikan risalahnya, para penentang beliau jika berkata benar maka datangkan kitab seperti al-Quran.

َمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَل لَا يُوقِنُونَ (36)

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? (52: 35)

Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). (52: 36)

Ayat ini mengisyaratkan salah satu dalil untuk mengenal Tuhan, yakni argumentasi kausalitas. Argumentasi ini mengatakan, tidak ada akibat yang muncul tanpa ada sebab, dan tidak ada akibat yang menjadi sebab bagi dirinya, oleh karena itu membutuhkan sebab selain dirinya. Mengingat seluruh fenomena di bumi dan langit seperti ini, maka pada akhirnya kita harus mencapai satu sebab yang bukan akibat, jika tidak maka kita akan terjebak pada tasalsul (rangkaian sebab dan akibat yang tidak terbatas dan tidak berujung kepada satu titik) dan ini tertolak menurut akal.

Tidak ada manusia yang dapat mengklaim dirinya muncul tanpa sebab. Begitu juga tidak ada yang dapat mengklaim bahwa dirinya yang mencitakan dirinya sendiri. Dua asumsi ini mustahil menurut akal. Karena manusia sebuah fenomena dan setiap fenomena membutuhkan sebab. Selain itu, manusia yang sebelumnya tidak ada, bagaimana ia dapat menjadi sebab keberadaannya ? Oleh karena itu kebutuhan akan pencipta adalah hal fitri dan logis yang juga diakui oleh musyrik Mekah dan mereka tidak mengingkari adanya sang pencipta.

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin berharga yang dapat dipetik:

1. Al-Quran dengan menggulirkan sejumlah pertanyaan, mengajak manusia untuk berpikir dan merenung, serta membangunkan pemikiran dan perasaan mereka dan juga menyeru mereka untuk meninggalkan penentangan.

2. Jika manusia mencari kebenaran dan menerimanya, maka akal akan membimbingnya.

3. Manusia bukan pencipta dirinya, bukan juga pencipta langit dan bumi.

4. Berpikir mengenai pencipta diri kita dan dunia, akan membawa manusia mengenal Tuhan dan membuatnya yakin.

أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُسَيْطِرُونَ (37) أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (38) أَمْ لَهُ الْبَنَاتُ وَلَكُمُ الْبَنُونَ (39) أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ (40)

Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa? (52: 37)

Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. (52: 38)

Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki? (52: 39)

Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang? (52: 40)

Melanjutkan ayat sebelumnya, ayat ini juga mempertanyakan para penentang Rasulullah. Ayat ini mengatakan, jika kalian menerima bahwa kalian bukan pencipta diri kalian dan dunia, kemudian apakah pengaturan urusan dunia dan manusia serta pembagian rezeki dan nikmat diserahkan kepada kalian ?  Apakah kalian mengharapkan Tuhan memilih seorang yang kalian inginkan sebagai nabi, atau siapa saja yang kalian inginkan diangkat sebagai penanggung jawab masalah ini atau urusan sosial lainnya ?

Apakah mereka memiliki akses ke langit sehingga mereka mengetahui pengaturan urusan dunia atau wahyu ilahi untuk membimbing masyarakat, dan bertindak sesuai dengannya ?

Apakah mereka memiliki dalil dan argumentasi terkait ucapan tak berdasar yang dinisbatkan kepada Tuhan, misalnya mereka mengatakan, para malaikat adalah putri-putri Tuhan ?

Atau misalnya Rasul meminta imbalan atas penyampaian risalahnya, di mana pembayarannya bagi mereka akan sangat sulit dan dengan demikian mereka menolak menerima ajarannya ?

Jelas bahwa jawaban semua pertanyaan ini adalah tidak, dan para penentang tidak memiliki dalil dan logika yang jelas bagi penentangannya, dan mereka hanya mencari-cari alasan untuk lari dari menerima kebenaran.

Dari empat ayat tadi terdapat tiga poin berharga yang dapat dipetik:

1. Jika oposisi memiliki ucapan yang logis, maka kita juga harus bersedia menerimanya dan jangan terjebak pada fanatisme buta.

2. Mereka yang menisbatkan kata-kata tak berdasar kepada Tuhan seperti Tuhan memiliki putri, maka mereka juga tidak segan-segan melontarkan tudingan tak berdasar kepada para utusan Tuhan.

3. Dalam menyebarkan agama dan hidayah serta mengajak manusia kepada kebenaran, kita harus, seperti para nabi, menahan diri dari mengangkat masalah materi atau tuntutan keuangan dari orang-orang. Karena hal ini akan menetralisir efek dakwah dan juga memberi tekanan pada orang. Tentu saja, jika orang itu sendiri membantu secara sukarela atau memberi hadiah, tidak ada masalah untuk menerimanya.

Minggu, 05 Juni 2022 16:32

Surat At-Tur 22-31

 

Surat At-Tur 22-31

وَأَمْدَدْنَاهُمْ بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ (22) يَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْسًا لَا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ (23) وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَكْنُونٌ (24)

Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. (52: 22)

Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada pula perbuatan dosa. (52: 23)

Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan. (52: 24)

Di pembahasan sebelumnya dibahas mengenai nikmat yang diperoleh penghuni surga. Ayat ini melanjutkan nikmat tersebut dan menyinggung sejumlah makanan dan minuman yang dinikmati penghuni surga dan menyatakan, "Berbagai buah-buahan disiapkan di surga dan kapan pun ahli surga menginginkan buah-buahan, mereka langsung diberi. Berbeda dengan di dunia, setiap buah-buahan tumbuh di musim tertentu, kondisi dan geografi tertentu.

Selain beragam buah-buahan, ahli surga juga juga menikmati beragam protein dari daging burung, ikan laut dan hewan lainnya. Nikmat ini tidak ada batasnya bagi penghuni surga.

Wajar jika di samping makanan, mereka juga membutuhkan minuman. Di surga penghuni surga menikmati minuman bergandengan tangan dan mereka meminumnya hingga klimaks tanpa ada bahaya seperti minuman anggur di dunia yang membuat orang mabuk dan mendorong manusia berbuat dosa.

Sementara itu, pelayan senantiasa siap melayani penghuni surga dan apa yang mereka minta langsung diberi, sehingga mereka tidak akan merasa kekurangan.

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin berharga yang dapat dipetik:

1. Makanan dan minuman surgawi sangat beragam dan sesuai dengan selera penghuninya, supaya mereka makan dan minum dengan penuh selera dan tidak bosan.

2. Mereka yang menjaga diri selama di dunia dari perbuatan sia-sia dan buruk, di Hari Kiamat mereka akan dimasukkan ke surga.

3. Minuman keras di surga tidak seperti di dunia yang memiliki bahaya. Minuman keras di surga tidak membuat orang mabuk dan juga tidak mendorong manusia melakukan perbuatan yang tak pantas atau dosa.

وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ (25) قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ (26) فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ (27) إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ (28)

Dan sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain saling tanya-menanya. (52: 25)

Mereka berkata: "Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)". (52: 26)

Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. (52: 27)

Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang. (52: 28)

Ayat ini menyebutkan dialog antara penghuni surga dan menyatakan, "Sejumlah dialog tentang masa lalu mereka, tentang perbuatan baik yang mereka lakukan selama di dunia yang membuat mereka dimasukkan ke surga ."

Jawaban terpenting dari pertanyaan ini adalah belas kasih dan kepedulian mereka terhadap keluarga mereka. Orang-orang ini melakukan tugas mereka baik terhadap orang tua, istri atau suami dan anak-anak mereka, serta mengerahkan segenap upayanya untuk menjaga mereka supaya tidak menyimpang. Mereka bukan saja menjaga dirinya dari perbuatan dosa, tapi juga berusaha keras mendidik anak-anaknya sehingga mereka menjadi anak yang saleh dan mukmin.

Wajar jika perhatian dan kasih sayang ini membuat mereka mendapat rahmat ilahi. Berkat rahmat tersebut, mereka berkumpul bersama keluarganya di surga dan semuanya diselamatkan dari api neraka.

Dari empat ayat tadi terdapat tiga poin berharga yang dapat dipetik:

1. Surga dan neraka berada di tangan kita. Perbuatan dan perilaku kita selama di dunia yang akan menentukan nasib kita di Hari Kiamat, surga atau neraka.

2. Kepedulian, perhatian dan kasih sayang untuk keluarga, yang mengarah pada pengasuhan anak yang tepat, adalah kunci masuk surga. Sifat ini menjadikan manusia dan anak-anaknya sebagai ahli surga.

3. Ahli surga menganggap surga sebagai anugerah dan berkah ilahi bagi mereka, bukan pahala atas perbuatan kecil mereka yang tidak sebanding dengan nikmat ilahi yang tak terhingga.

فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ (29) أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ (30) قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُتَرَبِّصِينَ (31)

Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. (52: 29)

Bahkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya". (52: 30)

Katakanlah: "Tunggulah, maka sesungguhnya akupun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu". (52: 31)

Setelah menyebutkan nikmat para penghuni surga, Allah Swt di ayat ini kepada Rasulullah Saw berfirman, "Sampaikan hal ini kepada manusia dan ingatkan mereka dengan Hari Kiamat, supaya mereka tidak terlena dengan kehidupan dunia dan lalai akan akhirat."

Sementara itu, orang musyrik setelah mendengar peringatan ini malah menyebut Rasulullah Saw serbagai dukun dan penyihir. Mereka mengatakan, ia (Muhammad) adalah dukun yang meramalkan masa depan, berbicara mengenai masa depan dan ingin memberi tahu manusia akan rahasia alam ghaib. Oleh karena itu, ia memiliki komunikasi dengan jin dan mendapat berita tentang masa depan darinya.

Padahal Allah Swt berfirman, pengetahuan Rasulullah akan masa depan karena wahyu ilahi dan tanggung jawab kenabian dan risalahnya, dan ia bukan penyihir. Ia bukan penyair dan kata-katanya adalah firman Tuhan, bukan pemikiran dan hayalan pribadinya di mana akan hilang ketika ia pergi dan digantikan dengan penyair atau penyihir lain.

Dari tiga ayat tadi terdapat dua poin berharga yang dapat dipetik:

1. Para penentang nabi senantiasa berusaha menjauhkan masyarakat darinya dengan melontarkan tudingan tak berdasar seperti penyair atau penyihir.

2. Musuh Islam berharap dengan kematian Rasulullah Saw, Islam akan padam. Tapi kehendak Allah Swt adalah Islam senantiasa bersinar dan abadi. Seperti yang kita saksikan saat ini, meski ada beragam konspirasi, Islam tetap eksis di dunia dan terus berkembang.

Minggu, 05 Juni 2022 16:32

Surat At-Tur 13-21

 

Surat At-Tur 13-21

يَوْمَ يُدَعُّونَ إِلَى نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا (13) هَذِهِ النَّارُ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ (14) أَفَسِحْرٌ هَذَا أَمْ أَنْتُمْ لَا تُبْصِرُونَ (15) اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لَا تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (16)

pada hari mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat-kuatnya. (52: 13)

(Dikatakan kepada mereka): "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya". (52: 14)

Maka apakah ini sihir? Ataukah kamu tidak melihat? (52: 15)

Masukklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (52: 16)

Salah satu taktik penentang para nabi adalah bahwa mereka menyebut mukjizat ilahi para nabi sebagai sihir dan berkata: Seolah-olah mereka mempesona dan menyihir mata kita dan menutupi mata kita supaya kita tidak menyadari hakikat perbuatan yang mereka lakukan.

Al-Quran di ayat ini mengatakan, ketika mereka menyaksikan api neraka jahannam dengan mata kepala mereka sendiri, dan merasakan panasnya api, dikatakan kepada mereka, apakah ini juga sihir dan mata kalian keliru melihat api yang membakar ?

Penentang para nabi dengan keras kepala berkata, " Apakah kamu menasihati kami atau tidak, itu tidak berpengaruh pada kami dan kami tidak memperhatikan saranmu." Ayat-ayat ini mengatakan: Pada Hari Kebangkitan, mereka akan diberitahu: Apakah kalian bersabar atas api atau berteriak dan mengerang, itu tidak ada bedanya dan kalian tidak memiliki jalan untuk lolos dari azab dan siksaan.

Dari empat ayat tadi terdapat tiga poin berharga yang dapat dipetik:

1. Efek dari sikap keras kepala dihadapan kebenaran adalah azab pedih.

2. Azab dan hukuman di hari Kiamat sangat adil, dan itu adalah hasil dari amal dan perbuatan manusia.

3. Penghinaan dan cemoohan terhadap nilai-nilai suci agama berujung pada hinaan dan cemoohan di Hari Pembalasan.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ (17) فَاكِهِينَ بِمَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ (18) كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (19)

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, (52: 17)

mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (52: 18)

(Dikatakan kepada mereka): "Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan", (52: 19)

Salah satu metode pendidikan al-Quran adalah menempatkan rasa takut, harapan, peringatan dan kabar baik bersama-sama agar tidak ada yang kecewa dengan rahmat Allah dan sebaliknya tidak muncul harapan yang tidak pada tempatnya di hati seseorang.

Melanjutkan ayat sebelumnya yang menjelaskan hukuman orang kafir dan pengingkar adalah neraka, ayat ini menyinggung pahala orang baik dan bertakwa adalah surga dan menyatakan, para ahli surga bergembira karena dua sebab, pertama karena mereka mendapat limpahan nikmat yang tak terhitung dari Tuhan, dan kedua, rahmat ilahi yang membuat kesalahan mereka diampuni serta terbebas dari azab neraka.

Para ahli surga seperti ahli neraka juga akan menuai hasil perbuatan mereka di dunia. Sementara besarnya pahala atau kerasnya siksaan tergantung pada seberapa besar pebuatan baik atau perbuatan buruk manusia.

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin berharga yang dapat dipetik:

1. Kunci surga adalah kesucian dan kesalehan. Jika tidak ada ketakwaan, bahkan iman saja tidak efektif.

2. Mereka yang di dunia menjaga dirinya dari perbuatan buruk karena takwa, maka Tuhan di Hari Kiamat akan menjaganya dari api neraka.

2. Surga itu ada harganya, bukan alasan. Menurut Saadi, penyair Persia:

Tanpa penderitaan, harta tidak mungkin ada   Itu dibayar oleh saudara yang bekerja.

مُتَّكِئِينَ عَلَى سُرُرٍ مَصْفُوفَةٍ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ (20) وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (21)

mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. (52: 20)

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (52: 21)

Ayat ini mengisyaratkan rahmat Tuhan lainnya yang diberikan kepada penghuni surga dan menyatakan, para ahli surga dapat berkumpul dan bercengkerama dengan orang suci dan hamba saleh, dan mereka ditempatkan di tempat yang tepat, memiliki pesta yang penuh kegembiraan.

Tuhan memberi mereka pasangan yang indah dan suci. Pria beriman mendapat istri yang cantik dan perempuan beriman mendapat suami yang sempurna. Kesemuanya ini membuat mereka tenang. Mungkin pria dan wanita beriman yang telah hidup bersama selama bertahun-tahun dalam kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akan kembali berpasangan di akhirat nanti.

Anak yang beriman juga akan dikumpulkan dengan orang tuanya, sehingga keluarga surgawi akan sempurna dan mereka semakin berbahagia. Tentu saja, Tuhan dengan rahmat dan belas kasihan-Nya menutupi kekurangan sebagian anak sehingga mereka dapat berada di posisi orang tua mereka dan dapat berkumpul bersama dengan mereka.

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin berharga yang dapat dipetik:

1. Kesucian juga akan dijaga di surga, dan hubungan pria dan wanita dalam bentuk pernikahan, bukan hubungan tanpa hukum dan aturan.

2. Mereka yang menjaga pandangannya terhadap bukan muhrim di dunia, maka di akhirat akan mendapat pasangan yang indah,

3. Tolok ukur pembentukan keluarga di Islam adalah iman, oleh karena itu, pasangan dan anak yang beriman juga berkumpul di surga.

4. Kebutuhan akan pasangan dan anak telah ditetapkan di dalam diri manusia, sementara di surga juga diperhatikan kebutuhan alami dan fitri manusia ini.

Minggu, 05 Juni 2022 16:31

Surat At-Tur 1-12

 

 

Surat At-Tur 1-12

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَالطُّورِ (1) وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ (2) فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ (3) وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ (4)

Demi bukit, (52: 1)

dan Kitab yang ditulis, (52: 2)

pada lembaran yang terbuka, (52: 3)

dan demi Baitul Ma'mur, (52: 4)

Surat At-Tur diturunkan di Mekah dan seperti surat Makkiyah lainnya, membahas isu Ma'ad dan nasib orang baik dan pendosa di Hari Kiamat.

Surat ini seperti surat-surat al-Quran lainnya diawali dengan sejumlah sumpah. Sumpah ayat ini ada dua bentuk, pertama sumpah atas hal-hal suci agama dan yang kedua, sumpah atas nama fenomena alam.

Ayat-ayat ini mengisyaratkan hal-hal suci, salah satunya Gunung Tur, tempat Nabi Musa as menerima Kitab Suci Taurat, dan yang lain kitab samawi yang diturunkan kepadanya dan para nabi lainnya serta disebarkan di antara pengikutnya. Ketiga adalah Ka'bah, pusat tauhid di bumi yang dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim as dan sepanjang sejarah para pengikut monoteisme menggelar ritual akbar haji setiap tahun di tempat suci ini.

Dari empat ayat ini terdapat tiga poin berharga yang dapat dipetik:

1. Sumpah dengan kitab suci di zaman jahiliyah dan buta huruf menunjukkan nilai tinggi buku dan menulis.

2. Menjaga warisan para nabi terdahulu dan mengenang namanya adalah tugas seluruh agama dan tidak terbatas pada pengikut agama tertentu.

3. Kitab Samawi harus ditulis pada bahan terbaik dan disebarluaskan sehingga orang selalu memiliki akses ke pesan dan ajarannya.

وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ (5) وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ (6) إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ (7) مَا لَهُ مِنْ دَافِعٍ (8)

dan atap yang ditinggikan (langit), (52: 5)

dan laut yang di dalam tanahnya ada api, (52: 6)

sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, (52: 7)

tidak seorangpun yang dapat menolaknya, (52: 8)

Melanjutkan sumpah di ayat sebelumnya, ayat ini bersumpah atas nama dua tanda penting penciptaan. Salah satunya langit yang tinggi dan agung di mana ilmu pengetahuan manusia dan teleskop yang sangat canggih belum juga membuat para ilmuwan menyadari dimensinya, dan galaksi serta sistem baru ditemukan setiap hari.

Dan yang lain adalah laut yang membentang dan mengamuk. Beberapa menganggapnya sebagai lautan bahan cair dan mendidih yang terbakar yang terletak jauh di dalam bumi dan meletus pada waktu yang berbeda dari kawah gunung berapi dan mengalir di daerah sekitarnya. Beberapa juga percaya bahwa itu berarti lautan yang sama di bumi yang dinyalakan pada malam kebangkitan dan gempa bumi besar di bumi.

Menyusul peristiwa ini, Hari Kiamat akan terjadi. Hari tersebut akan sangat sulit bagi para pendosa dan orang lalim. Saat itu, mereka tidak memiliki jalan untuk lari dan tidak ada halangan untuk mencegah bahayanya.

Dari empat ayat tadi terdapat dua poin penting yang dapat dipetik:

1. Mempelajari tanda-tanda Tuhan di alam, kita akan memahami kekuatan-Nya menetapkan Hari Kiamat.

2. Azab di dunia bersifat sementara, tapi azab sejati terjadi di Hari Kiamat dan tidak ada jalan keluarnya.

يَوْمَ تَمُورُ السَّمَاءُ مَوْرًا (9) وَتَسِيرُ الْجِبَالُ سَيْرًا (10) فَوَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ (11) الَّذِينَ هُمْ فِي خَوْضٍ يَلْعَبُونَ (12)

pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, (52: 9)

dan gunung benar-benar berjalan. (52: 10)

Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (52: 11)

(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebathilan, (52: 12)

Melanjutkan ayat sebelumnya ayat ini mengisyaratkan kondisi langit dan bumi di Hari Kiamat dan menyatakan, " Sistem galaksi dan langit runtuh, bintang-bintang menyimpang dari orbitnya, dan ketika mereka bertabrakan satu sama lain, langit dipenuhi asap dan debu."

Tanah tempat kita tinggal, terlepas dari gerakan postural dan transisional, sangat tenang sehingga kita tidak merasakan gerakan atau getaran apa pun dan hidup di atasnya dengan tenang. Tetapi pada saat Hari Kiamat, dengan terjadinya gempa bumi besar, gunung-gunung tumbang dan mulai bergerak. Secara umum, ayat-ayat ini merujuk pada fakta bahwa pada Hari Kiamat, dunia baru akan menggantikan dunia ini dengan sistem baru. Saat itulah manusia akan dihadapkan dengan konsekuensi dari tindakannya.

Di hari itu, para pengingkar Kiamat bangun dari kelalaian mereka dan menyadari kesalahannya, tapi apa manfaatnya ? Melihat tanda-tanda Kiamat dan siksaan, pengakuan dan penyesalan atas kata-kata palsu yang mereka katakan tentang Kiamat, itu tidak menguntungkan mereka dan tidak menyelesaikan masalah mereka.

Dari empat ayat tadi terdapat dua poin penting yang dapat dipetik:

1. Kehancuran sistem dunia sebuah awal bagi sistem baru terjadinya Hari Kiamat, sistem yang berbeda dari sistem dunia materi.

2. Para pengingkar Kiamat tidak memiliki alasan dan logika. Ucapan mereka saat mengingkari Hari Kiamat adalah kata-kata tak berdasar dan batil yang sekedar mereka ucapkan untuk menghibur diri sendiri dan orang lain.

 

Idul Fitri adalah hari kemenangan atas dirinya sendiri setelah selama sebulan penuh, umat Islam berlatih untuk mengendalikan diri dalam setiap hal yang dilarang syariat dan menjaga agar diri mereka terhindar dari dosa, serta selalu dalam keadaan taat dan pengabdian kepada Allah Swt.

Salat Idul Fitri adalah ritual hari raya yang paling indah yang melipatgandakan kebesarannya. Suara takbir pada pagi hari berkumandang dari menara-menara masjid dan pusat penyelenggaraan Salat Idul Fitri. Orang-orang beriman bergegas ke pintu ilahi dalam suasana penuh spiritualitas untuk menunaikan salat dan berdoa.

  اللَّهُ أَکْبَرُ اللهُ أَکْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ الْحَمْدُلِلَّهِ عَلَی مَا هَدَانَا وَلَهُ الشُّکْرُ عَلَی مَا أَوْلانَا

Berkat satu bulan ibadah, manusia di bumi merayakan Idul Fitri, dan para malaikat di langit telah ditugaskan untuk memberikan hadiah dan pahala ilahi kepada umat Islam. Rasulullah Saw bersabda bahwa ketika malam Idul Fitri tiba, Allah Swt menghitung pahala orang-orang yang berpuasa dengan jumlah pahala yang tak terhitung.

Bersamaan dimulainya bulan suci Ramadan, mereka yang berharap bisa berpuasa dan memenuhi undangan ilahi, setelah akhir puasa 30 hari, mereka berpartisipasi dalam perayaan harapan dan bersyukur kepada Tuhan atas keberhasilannya itu.


Suara takbir dan pujian telah mengubah suasana setiap kota. Lansia, dewasa dan anak-anak berada dalam saf yang rapi, dan menengadahkan tangan mereka ke langit dan berdoa:

 اللهم اهل الکبریاء و العظمة و اهل الجود و الجبروت...

Salat Idul Fitri adalah kegiatan terpenting pada hari rayat Idul Fitri. Dengan kata lain, ritual hari raya Idul Fitri yang paling indah, yang melipatgandakan kebesarannya, adalah melaksanakan Salat Idul Fitri.

Lantunan takbir berturut-turut dari masjid dan tempat-tempat penyelenggaraan Salat Idul Fitri telah mendorong dan mengubah hati serta melipatgandakan keinginan untuk hadir. Jemaah Salat Idul Fitri berdiri di hadapan Tuhan Yang Maha Pemurah dalam saf yang rapi dan dalam naungan cahaya iman dan bimbingan. Mereka bersyukur atas rahmat dan pengampunan ilahi.

Mereka menunaikan Salat Idul Fitri dan dalam doa Qunut, mereka membaca:

 اَللّهُمَّ اَهْلَ الْکِبْرِیاَّءِ وَالْعَظَمَةِ وَاَهْلَ الْجُودِ وَالْجَبَرُوتِ وَاَهْلَ الْعَفْوِوَالرَّحْمَةِ وَاَهْلَ التَّقْوى وَالْمَغْفِرَةِ اَسْئَلُکَ بحَقِّ هذَا الْیَومِ الَّذى جَعَلْتَهُ لِلْمُسْلِمینَ عیداً وَلِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللّهُ عَلَیْهِ وَ الِهِ ذُخْراً و َشَرَفا ً [ و کرامتا ً ] وَ مَزِیْداً اَنْ تُصَلِّىَ عَلى مُحَمَّدٍ وَ الِ مُحَمَّدٍ وَ اَنْ تُدْخِلَنى فى کُلِّ خَیْرٍاَدْخَلْتَ فیهِ مُحَمَّداً وَ الَ مُحَمَّدٍ وَاَنْ تُخْرِجَنى مِنْ کُلِّ سُوَّءٍ اَخْرَجْتَ مِنْهُ مُحَمَّداً وَ الَ مُحَمَّدٍ صَلَواتُکَ عَلَیْهِ وَعَلَیْهِمْ اَللّهُمَّ اِنّى اَسْئَلُک َخَیْرَ ما سَئَلَکَ مِنْهُ عِبادُکَ الصّالِحُونَ وَ اَعُوذُ بِکَ مِمَّا اسْتَعاذَ مِنْهُ عِبادُکَ الْصّالِحُونَ

"Ya Allah, wahai Pemilik Kebesaran dan Keagungan, wahai Pemilik Kedermawanan dan Keagungan, wahai Pemilik Maaf dan Rahmat, wahai Pemilik Takwa dan Ampunan, aku memohon kepada-Mu demi hak hari ini yang telah Engkau jadikan bagi Muslimin sebagai hari raya dan bagi Muhammad saw sebagai simpanan, (kemuliaan), dan tambahan (kedudukan) agar Engkau curahkan shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad, memasukkanku dalam setiap kebaikan yang telah Engkau masukkan di dalamnya Muhammad dan keluarga Muhammad, dan mengeluarkanku dari setiap keburukan yang darinya telah Engkau keluarkan Muhammad dan keluarga Muhammad—shalawat-Mu atasnya dan atas mereka semua. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan apa yang telah diminta oleh hamba-hamba-Mu yang saleh kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari apa yang hamba-hamba-Mu yang saleh berlindung kepada-Mu darinya."

Di akhir doa qunut ini kita memohon kepada Tuhan untuk dimasukkan ke surga yang menjadi pembersih iman, akhlak dan amal saleh yang juga dimasuki oleh Nabi Muhammad Saw beserta keluarganya. Kita juga memohon kepada Allah untuk dijaga dari perbuatan buruk.


Salat Idul Fitri adalah sebuah perkumpulan agung yang menjadi manifestasi iman dan spiritual umat Islam. Para pemuka agama sangat menekankan untuk menghadiri perkumpulan agung ini. Mengingat bahwa Islam adalah agama sosial, perilaku yang mengarah ke persatuan sangat ditekankan.

Sejumlah amalan wajib seperti haji juga dilaksanakan secara berkelompok. Haji menunjukkan kehormatan dan kebesaran Islam serta peluang bagi muslim untuk mengenal sesamanya dan menyelesaikan isu-isu dunia Islam.

Salat Idul Fitri merupakan perkumpulan penting umat Islam di berbagai negara-negara Islam Muslim. Imam Ridha as bersabda, "Seperti penamaan Idul Fitri dijadikan sebagai hari raya supaya masyarakat di hari tersebut berkumpul dan keluar untuk Tuhan serta memuji-Nya karena nikmat-nikmat yang diberikan kepada mereka, hari tersebut, adalah hari raya dan hari bekumpul serta kembali ke fitrah dan hari zakat (zakat fitrah) dan hari keinginan dan permohonan."

Salat Idul Fitri di setiap kota dan negara biasanya digelar di tempat-tempat suci dan masjid penting, serta terdiri dari dua rakaat dengan total sembilan qunut. Salah satu Salat terindah Idul Fitri adalah Salat Idul Fitri di Tehran yang diimami oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei. Selain itu, di kota seperti Mashad dan Haram Imam Ridha as juga digelar Salat Idul Fitri dengan dihadiri puluhan ribu jemaah salat.

Ayatullah Khamenei mengatakan, umat Islam keluar dari bulan Ramadan dengan penuh cahaya. Bulan Ramadan dengan puasanya, zikir, doa dan pujian terhadap Tuhan, tadarus (bacaan al-Quran), amalan baik di dalamnya yang diamalkan oleh orang mukmin telah membuat hati-hati bersinar, dan karat-karat di hati serta jiwa manusia luntur. Sejatinya sejak malam Lailatul Qadar, orang-orang Mukmin yang berpuasa memulai tahun barunya. Pada malam Lailatul Qadar, takdir manusia ditulis oleh para pencatat Ilahi. Manusia memasuki tahun baru, tahapan baru dan sejatinya sebuah kehidupan dan kelahiran baru. Mereka meniti jalan ini dengan berbekal cadangan takwa....Salat Idul Fitri, sebuah ucapan syukur atas nikmat Ilahi di bulan Ramadhan dan atas kelahiran baru ini."

Idul Fitri berarti kembali ke fitrah, yaitu perbaikan diri pada bulan suci Ramadan yang bisa membawa manusia ke posisi di mana tabir ketidaktahuan (kebodohan, fanatisme, takhayul dan khurafat yang menghalangi petunjuk tersingkirkan dari jalan fitrah, dan umat Islam kembali ke fitrah yang sama, yang merupakan pedoman (petunjuk) manusia yang lengkap dan akurat menuju ke arah kesempurnaan.

Setiap kali manusia mencapai tingkat ini dalam terang berkah Ramadan dan ibadah puasa, ia telah mencapai kebenaran konsep Idul Fitri. Menurut Imam Ali as,  Idul Fitri adalah hari raya bagi orang yang puasanya diterima oleh Allah, dan menempatkan doa dan ibadahnya dalam syukur.

 

Hari ini adalah Idul Fitri, yang menjadi salah satu hari raya terbesar umat Islam. Idul Fitri merupakan hari raya doa-doa yang tulus dan perayaan kemenangan manusia atas dirinya (nafsu) sendiri.

Hari ini adalah hari kebahagiaan bagi mereka yang setelah 30 hari berlatih untuk mengendalikan diri, dan telah mencapai cahaya makrifat (pengetahuan). Kini orang-orang Mukmin akan tetap menjadi "tunas baru" setelah sebulan dirawat, dan keberadaannya di bumi berkembang, dan berbuah (menghasilkan).

Menurut Imam Ali as, pada hari ini, seorang malaikat menyampaikan kabar baik kepada hamba-hamba Allah Swt bahwa Dia telah mengampuni dosa-dosa masa lalu hamba-hamba-Nya, dan tinggal melihat bagaimana mereka akan berperilaku di sisa hari-hari kehidupan lainnya.

Hari Raya Idul Fitri telah tiba sebagai hadiah dari Allah Swt atas ibadah dan penghambaan selama sebulan penuh. Manusia kembali kepada fitrahnya dan menikmati kemenangan besar yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta.

Idul Fitri adalah hari raya kesucian dan kebersihan jiwa manusia. Pada hari ini, Allah Swt memberikan kabar gembira tentang penerimaan ibadah, taubat, dan doa sebagai pelita meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.


Perayaan hari kemenangan ini merupakan sangat penting khusus bagi orang beriman, setelah menjalankan ibadah satu bulan lamanya pada bulan suci Ramadan. Untuk menjadi suci, seluruh egosentrisme dan kesombongan manusia diredam demi menjaga hubungan baik dengan seluruh umat manusia, lingkungan, alam, dan segala sesuatu di luar diri dan pribadinya.

Seiring datangnya bulan Syawal, umat Islam kembali ke fitrah dan menyambut seruan Allah Swt dengan mengangungkan dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh-Nya. Puji dan syukur hanya untuk-Nya dan Dia-lah yang telah membimbing umat manusia menuju kecucian dan kebaikan.

Idul Fitri adalah hari kegembiraan umat Islam dan detik-detik limpahan rahmat Ilahi atas jiwa dan raga manusia. Pada hari ini, satu bulan penuh ujian besar Ilahi telah berakhir dan beruntunglah bagi mereka yang mampu menahan hawa nafsu dalam segala urusan duniawi.

Malam Idul Fitri merupakan sebuah kesempatan untuk menghapus dosa karena malam itu sarat dengan keutamaan. Sungguh beruntung mereka yang memanfaatkan kesempatan ini untuk memperbanyak amal kebaikannya dan mengikat janji untuk memelihara apa yang telah didapatkannya selama bulan puasa.

Pada pagi harinya, umat Islam berbondong-bondong pergi menunaikah shalat seraya melantunkan zikir, takbir, dan tahmid. Hari Raya Idul Fitri adalah hari mengingat Allah, memuji dan mensyukuri karunia-Nya. Salat Idul Fitri merupakan kegiatan utama pada hari itu. Dengan kata lain, hari raya Idul Fitri adalah hari paling indah dan paling agung.

Keagungan takbir yang berkumandang ketika memasuki tempat shalat mengubah hati dan mewujudkan atmosfir spiritual dalam diri manusia. Orang-orang mukmin berdiri dalam barisan yang teratur rapi untuk menghadap Allah Swt.

Imam Ali as menyamakan Idul Fitri dengan hari kiamat dan berkata, "Wahai masyarakat! Hari kalian ini adalah sebuah hari dimana orang-orang baik akan mendapat balasan dan orang-orang jahat akan berputus asa di dalamnya. Dunia adalah arena kompetisi dan akhirat waktu untuk menuai pahala, sementara surga adalah hadiah perlombaan itu dan neraka adalah tempat bagi mereka yang kalah. Idul Fitri adalah hari yang paling mirip dengan hari kiamat. Pada hari kiamat, orang-orang yang merugi akan menyesal dan murka, sementara mereka yang beruntung akan memperoleh kemenangan dan tenggelam dalam nikmat Ilahi."


Idul Fitri adalah hari kepulangan seseorang kepada fitrah yang suci dan hari terwujudnya kembali persatuan umat Islam.

Idul Fitri memiliki sedikit perbedaan dengan hari-hari besar Islam lainnya. Sekalipun Idul Fitri memiliki kesamaan dengan hari-hari besar lainnya sebagai hari kegembiraan, tapi di hari ini dilakukan shalat, munajat, penghambaan, dan jauh dari sekadang bersenang-senang. Ini merupakan ciri khas orang mukmin yang dijelaskan oleh Allah Swt dalam al-Quran, "Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya..." (QS. al-Qashash: 55)

Dalam Islam, semua gerakan dan garis kehidupan orang mukmin selalu mengejar tujuan yang bermanfaat dan konstruktif. Dengan alasa itu, mereka yang beriman akan menjauhi segalah bentuk pekerjaan dan pikiran yang tidak bermanfaat, karena akan membuat manusia lalai akan Allah dan mencegahnya untuk berpikir positif. Mereka di hari raya Idul Fitri berusaha waspada dan berusaha lebih keras lagi.

Mengagungkan syiar-syiar Ilahi termasuk keistimewaan hari raya Idul Fitri. Syiar Takbir, Tahlil, Tahmid, dan bersyukur kepada Allah ketika melihat hilal 1 Syawal, hingga penyelenggaraan salat Idul Fitri termasuk amalan yang menambah nilai dan keistimewaan hari ini.

Rasulullah Saw bersabda, "Hiasi hari-hari raya kalian dengan Takbir." Dalam hadis yang lain disebutkan, "Idul Fitri dan Idul Adha harus dihiasi dengan syiar La Ilaaha Illallaah, Allahu Akbar, Alhamdulillah dan Subhanallah."

Seorang ulama besar, Syeikh Mufid menulis, "Hari pertama bulan Syawal dijadikan hari raya bagi mereka yang beriman, karena mereka bergembira atas penerimaan amal perbuatannya di bulan Ramadan, Allah Swt mengampuni dosa-dosa mereka, menutupi aib dan kekurangan, dan kabar gembira datang dari Allah kepada mereka bahwa mereka akan diberikan pahala yang sangat banyak. Orang-orang mukmin bergembira karena berhasil mencapai beberapa tahapan dari kedekatan dengan Allah akibat usaha siang-malam di bulan Ramadan. Salah satu amalan hari ini adalah mandi yang menjadi simbol kesucian dari dosa, menggunakan wewangian, memakai pakaian yang indah dan bersih serta pergi ke tanah luas untuk melakukan salat. Semua ini menandakan kegembiraan yang berasal dari kebijaksanaan."

Imam Ali as berkata, "Ketika hilal bulan Syawal muncul, terdengar suara para malaikat yang berkata wahai orang-orang beriman datanglah dan terima upah kalian. Ketahuilah bahwa sesuatu yang paling dekat dengan pria dan wanita yang berpuasa adalah pada akhir Ramadan, para malaikat dari sisi Allah berseru, 'Wahai para hamba Allah! Terimalah kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa masa lalu, karenanya berpikirlah tentang masa akan datang dan kehidupan baru kalian..."


Dapat dikatakan bahwa dengan berakhirnya bulan Ramadan dan tibanya Idul Fitri, telah dimulai manusia baru dan kehidupan baru. Manusia ini berbeda dengan yang sebelumnya, ia kini memiliki kemampuan memahami yang lebih luas karena telah sebulan berlatih dan diuji oleh Allah.

Puasa membuat manusia mengenal kesulitan orang lain, sehingga ketegarannya menjadi bertambah, sementara kesabaran dan keadilannya tumbuh dengan baik. Manusia besar ini merasakan perubahan mendalam pada dirinya dan di pagi hari Idul Fitri hal pertama yang dilakukannya adalah membayar zakat fitrah.

Zakat merupakan amal yang dapat mensucikan individu dan menumbuhkan tunas kebajikan pada diri seseorang yang menyebabkan masyarakat semakin maju. Dengan kata lain, zakat dari satu sisi mensucikan kotoran dan dari sisi lain menyempurnakan seseorang.

Idul Fitri pada hakikatnya hari pembebasan dari kegelapan yang mungkin dialami manusia sepanjang hidupnya dengan melakukan perbuatan dosa. Sejatinya, hari Idul Fitri adalah hari untuk kembali pada fitrah Ilahi dan mengambil pelajaran darinya.

Imam Ali as berkata, "Ketika kalian keluar dari rumah untuk melakukan salat Idul Fitri, ingatlah masa ketika akan pergi ke rumah kalian di surga. Ketika kalian berdiri untuk shalat, ingatlah masa ketika kalian berdiri di hadapan Allah dan mulai menghisab kalian. Dan ketika kalian kembali ke rumah setelah melaksanakan shalat, ingatlah masa ketika akan kembali ke rumah kalian di surga."

Hari raya Idul Fitri adalah awal dari sebuah perjalanan. Dengan cara ini, jika seseorang menjaga perilaku dan tindakannya, ia akan mencapai tujuannya dengan selamat.

Idul Fitri adalah hari raya perjanjian dengan Allah Swt untuk tetap di jalan bimbingan dan kemurnian. Maka pada Idul Fitri ini, semua orang akan memasuki pengadilan ilahi sebanyak yang dia pelajari dan ketahui.

Pada hari Idul Fitri, umat Islam, --setelah sebulan beribadah dengan tulus kepada Sang Pencipta dan duduk di jamuan Tuhan yang tak berujung--, melakukan salat syukur dan memenuhi dunia dengan spiritualitas dan cinta dengan suara Takbir dan ucapan syukur.