کمالوندی
Jangan Jadi Hamba Orang Lain, Karena Allah Menciptakanmu Bebas. Tujuh Hadis dari Keluarga Nabi tentang Kebebasan
“Kebebasan” merupakan salah satu bentuk keterlepasan manusia dari belenggu dan ikatan yang merendahkan martabat manusia. Keluarga Nabi Muhammad Saw sangat menekankan hal ini.
Ada hadits yang diriwayatkan dari Ahlul Bait Nabi Muhammad Saw tentang kebebasan, delapan di antaranya akan Anda baca dalam paket ini dari Pars Today.
1. Imam Shadiq as berkata, “خَمْسُ خِصَالٍ مَنْ لَمْ تَكُنْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهَا فَلَيْسَ فِيهِ كَثِيرُ مُسْتَمْتَعٍ أَوَّلُهَا الْوَفَاءُ وَ الثَّانِيَةُ التَّدْبِيرُ وَ الثَّالِثَةُ الْحَيَاءُ وَ الرَّابِعَةُ حُسْنُ الْخُلُقِ وَ الْخَامِسَةُ وَ هِيَ تَجْمَعُ هَذِهِ الْخِصَالَ الْحُرِّيَّةُ.” (Al-Khishal, hal 284, hadis 33)
“Ada lima sifat yang apabila salah satunya tidak dimiliki seseorang, maka ia tidak akan menjadi orang yang baik dan berguna, yaitu: pertama, kesetiaan, kedua, kehati-hatian, ketiga, kesederhanaan, keempat, adat istiadat, dan kelima, yang juga meliputi empat sifat lainnya, yaitu kebebasan.”
2. Imam Ali as berkata, “لا تَكُن عَبدَ غَيرِكَ و َقَد جَعَلَكَ اللّهُ حُرّا”. (Tufah Al-‘Uqul, hal 77)
“Jangan jadi hamba orang lain, karena Allah telah menciptakanmu bebas.”
3. Imam Shadiq as berkata, “إِنَّ الْحُرَّ حُرٌّ عَلَى جَمِيعِ أَحْوَالِهِ إِنْ نَابَتْهُ نَائِبَةٌ صَبَرَ لَهَا وَ إِنْ تَدَاكَّتْ عَلَيْهِ الْمَصَائِبُ لَمْ تَكْسِرْهُ وَ إِنْ أُسِرَ وَ قُهِرَ وَ اسْتُبْدِلَ بِالْيُسْرِ عُسْراً كَمَا كَانَ يُوسُفُ الصِّدِّيقُ الْأَمِينُ ص لَمْ يَضْرُرْ حُرِّيَّتَهُ أَنِ اسْتُعْبِدَ وَ قُهِرَ وَ أُسِر”. (Al-Kafi, Cet, Al-Islamiyah, jilid 2, hal 89, hadis 6)
“Orang yang bebas itu bebas dalam segala keadaan. Jika ditimpa musibah dan kesulitan, ia tetap sabar, dan jika ditimpa musibah, ia tidak patah, sekalipun ia tertawan, ditindas, kehilangan kenyamanan, serta terjerumus dalam kesusahan dan kemiskinan. Sebagaimana Yusuf Shiddiq Amin as, pernah diperbudak, ditindas, dan ditawan, tapi semua itu tidak mengganggu kebebasannya.”
4. Imam Ali as berkata, “ الْحُرِّيَّةُ مُنَزَّهَةٌ مِنَ الْغِلِّ وَ الْمَكْر”. (Tashnif Ghurar Al-Hikam Wa Durar Al-Kalim, hal 291, hadis 6484)
“Orang yang bebas tidak menyimpan dendam dan tipu daya.”
5. Imam Ali as berkata, “مِن تَوفيقِ الحُرِّ اكتِسابُهُ المالَ مِن حِلِّهِ”. (Ghurar Al-Hikam Wa Durar Al-Kalim)
“Bagian dari keberhasilan orang bebas adalah bahwa ia memperoleh kekayaan melalui cara yang halal.”
6. Imam Ali as berkata, “مَن قامَ بِشَرائِطِ العُبوديَّةِ أَهلٌ لِلعِتقِ، مَن قَصَّرَ عَن أَحكامِ الحُرِّيَّةِ اُعيدَ اِلىَ الرِّقِّ”. (‘Uyun Al-Hikam Wa Al-Mawa’izh, hal 450, hadis 8004-8005)
“Barangsiapa yang memenuhi syarat-syarat pengabdian kepada Allah, niscaya ia berhak memperoleh kebebasan, dan barangsiapa yang tidak memenuhi syarat-syarat kebebasan itu dalam praktik, maka ia terjerumus dalam pengabdian (kepada selain Tuhan).”
7. Imam Husein as berkata, “إن لَم يَكُن لَكُم دينٌ وَ كُنتُم لا تَخافونَ المَعادَ فَكونوا أَحرارا فى دُنياكُم”. (Bihar Al-Anwar, jilid 45, hal 51)
“Kalau kamu tidak beragama dan tidak takut dengan Hari Kiamat, setidaknya jadilah orang yang bebas di duniamu.”
Sekretaris Pusat Dewan Persatuan Muslim Pakistan: Revolusi Islam Iran adalah Fondasi Revolusi Global Imam Mahdi yang Dijanjikan
Hujjatul Islam Mohammad Sadeq Kafeel, pakar masalah agama mengatakan, “Saat ini, perhatian Barat dan Amerika adalah menghilangkan budaya Mahdisme.”
Hujjatul Islam Mohammad Sadeq Kafeel, dosen hauzah dan universitas mengatakan, Adalah tugas kita untuk memiliki pandangan yang mendalam dan akurat tentang revolusi ini dan berusaha memperkenalkan Imam Mahdi as kepada dunia dan mengatakan bahwa orang yang dijanjikan akan datang untuk menciptakan keadilan dan menyelamatkan kaum tertindas.
Menurut laporan Pars Today, Hujjatul Islam Mohammad Sadeq Kafeel menyatakan harus mempersiapkan fondasi bagi kemunculannya dan menambahkan, Imam Khomeini ra mengatakan, Negara-negara Islam harus bangun dan mengambil hak-hak mereka. Imam Khomeini telah memprediksi kebangkitan Islam saat itu dan meletakkan dasar-dasarnya, hingga bertahun-tahun kemudian, gerakan-gerakan ke arah ini terjadi di dunia Islam. Untuk kemunculannya, hal itu tidak akan terwujud sampai landasannya diletakkan.
Revolusi Islam Iran adalah fondasi revolusi global Mahdi as
Hujjatul Islam Maqsood Ali Domaki, Sekretaris Jenderal Komite Penyelenggara Pusat Dewan Persatuan Muslim Pakistan mengatakan, Imam Khomeini ra mendirikan revolusi ilahi Islam berdasarkan Al-Quran dan Sunnah dengan mengungkap niat anti-manusia dari kaum kafir dan kekuatan penindas global. Revolusi ini akan meletakkan dasar bagi revolusi Islam global Imam Mahdi as.
Dia menambahkan, Amerika dan Presiden Trump yang tidak kompeten bermimpi menduduki Gaza dan Palestina, tapi umat Islam Palestina yang membanggakan dan Umat Islam akan melindungi setiap inci Gaza.
Cendekiawan Pakistan terkemuka ini menyatakan, Amerika dan Israel akan sekali lagi menderita kekalahan yang memalukan. Umat Muslim revolusioner di seluruh dunia, baik Syiah maupun Sunni, maju di bawah kepemimpinan Pemimpin Besar dalam gerakan untuk membebaskan Quds.
Mahdiisme parameter utama kebenaran dan kepalsuan di era sekarang
Hujjatul Islam Ali Saeedi, kepala Kantor Bidang Ideologi dan Politik Panglima Tertinggi Jajarang Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran mengatakan, Mahdisme dan pemerintahan Islam adalah poros utama konfrontasi antara yang benar dan yang salah di era saat ini.
Beliau menyebut keinginan untuk menyiapkan landasan bagi kemunculan Imam Mahdi as dan keinginan untuk menghadapi Mahdisme sebagai tahap ketiga sejarah dalam konfrontasi antara kebenaran dan kepalsuan.
Menurutnya, Adalah kehendak Tuhan untuk menyiapkan landasan bagi kemunculannya dan kehendak Amerika dan kaum Zionis untuk menghadapi fenomena ini.
Baghaei: Iran akan Berpartisipasi di tingkat tertinggi dalam Upacara Pemakaman Sekjen Hizbullah
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menekankan bahwa Iran akan berpartisipasi dalam pemakaman Syahid Sayid Hasan Nasrullah, mantan sekjen Hizbullah Lebanon dalam level tertinggi.
Acara pemakaman Syahid Sayid Hasan Nasrullah dan Syahid Sayid Hashem Safieddine, mantan ketua Dewan Politik Hizbullah Lebanon akan digelar 23 Februari 2025 di Beirut dengan dihadiri perwakilan dari 79 negara di tingkat resmi dan sipil.
Menurut laporan Parstoday, Esmail Baghaei, jubir Kemlu Iran Senin (17/2/2025) saat menjawab pertanyaan mengenai apakah petinggi Iran akan berpartisipasi dalam acara pemakaman sekjen Hizbullah, mengatakan: "Kami akan berpartisipasi dalam level tertinggi dalam acara pemakaman ini, acara ini sangat penting."
Rezim Zionis Israel setelah satu tahun melakukan kejahatan dan perang di Gaza, sejak 23 September 2024 memperluas kejahatannya ke Lebanon, dan pada 27 September, menyusul pemboman di kawasan Dahieh, di selatan Beirut, Sekjen Hizbullah, Sayid Hasan Nasrullah gugur syahid. Sementara itu, Sayid Hashem Safieddine juga menjadi targer serangan udara rezim Zionis pada 3 Oktober 2024 dan gugur syahid.
Perlawanan Iran dan Lebanon terhadap kejahatan pihak ketiga
Terkait topik yang diangkat dalam percakapan telepon antara menteri luar negeri Iran dan Lebanon mengenai kesulitan pesawat Iran yang memasuki bandara Beirut, Baghaei mengatakan: "Kami menyatakan dengan jelas posisi kami dan diskusi konstruktif terjadi antara Sayidd Abbas Araghchi dan mitranya dari Lebanon. Selama negosiasi ini, ditegaskan bahwa Iran dan Lebanon, mengingat sejarah hubungan dan kepentingan bersama mereka, harus membuat keputusan terbaik dan tidak membiarkan pihak ketiga yang tidak mencari kebaikan kedua negara dan kawasan untuk memengaruhi proses ini."
Terkait Hubungan dengan Suriah, Tolok Ukurnya adalah Kinerja Pihak Seberang
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan: "Posisi kami terhadap Suriah tegas dan tidak dapat diubah. Nasib rakyat Suriah harus ditentukan oleh mereka sendiri dan harus dilanjutkan tanpa campur tangan asing yang merusak. Kami memantau dengan seksama perkembangan di Suriah, tetapi pada saat yang sama kami tidak terburu-buru. Pengambilan keputusan kami akan didasarkan pada kinerja pihak seberang."
Israel Tidak dapat Berbuat Apa-apa
Menanggapi pernyataan permusuhan Perdana Menteri rezim Zionis Benjamin Netanyahu tentang apa yang disebutnya "menghabisi Iran dengan bantuan Amerika," Baghaei berkata: "Dalam dunia yang ideal, ancaman semacam itu akan menjadi pelanggaran berat terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan orang yang membuat ancaman semacam itu harus dimintai pertanggungjawaban di tingkat internasional. Terkait negara seperti Republik Islam Iran, jawabannya adalah mereka tidak dapat melakukan apa-apa."
Ucapan dan Tindakan Pejabat Amerika tidak Selaras
Menanggapi pertanyaan tentang pernyataan utusan Presiden AS Donald Trump untuk Asia Barat bahwa Amerika Serikat siap berunding dengan Iran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan: "Kata-kata dan tindakan harus sama; Anda tidak dapat mengancam kehancuran di satu sisi dan mengklaim mendukung negosiasi di sisi yang sama. Pernyataan-pernyataan ini tidak konsisten dengan tindakan dan penuh dengan kontradiksi."
Imam Khamenei: Statemen Menindas Pejabat AS Bukti Batin Busuk Kubu Arogan
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, menilai statemen menindas para pejabat Amerika Serikat, dan tuntutan menduduki wilayah sebagian negara, sebagai manifestasi batin yang buruk, kejam, perampok, dan penjajah, dari kubu arogan serta jaringan Zionisme.
Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Sabtu (17/2/2025) bertemu dengan ribuan warga Tabriz, untuk memperingati Kebangkitan Warga Tabriz, 18 Februari 1978 dalam melawan Rezim Shah.
Dalam pertemuan ini Ayatullah Khamenei menuturkan, “Musuh tidak mau menerima kenyataan bahwa rakyat Iran, dengan berdiri di atas kaki sendiri, dan memprotes kezaliman serta agresi mereka, telah mendirikan sebuah pemerintahan yang kian kuat meski telah berlalu 46 tahun.”
Imam Khamenei menyebut sebagian analisa yang mengatakan bahwa Iran, menciptakan musuh untuk dirinya sendiri, sebagai analisa yang keliru.
Ia menuturkan, “Permusuhan badan-badan pengambil keputusan AS yang tiran, bukan karena kata-kata ‘Mampus Amerika’. Akar dari realitas ini adalah bahwa Iran dengan tekad dan pengorbanan rakyatnya, berhasil melepaskan diri dari belenggu para penjajah, dan tidak tunduk pada kehendak mereka.”
Pada saat yang sama, Pemimpin Revolusi Islam Iran, menilai level kemampuan pertahanan Iran, di hadapan ancaman-ancaman fisik, sangat baik.
“Kawan dan lawan kita menyadari kenyataan ini, dan rakyat Iran, merasakan keamanan dalam hal ini, maka dari itu masalah kita hari ini bukanlah ancaman fisik musuh, tapi ancaman lunak,” ujarnya.
Menurut Ayatullah Khamenei, ancaman lunak yaitu merekayasa opini publik, menciptakan perpecahan, dan keraguan dalam prinsip-prinsip Revolusi Islam, serta urgensitas perlawanan menghadapi musuh.
Ia menjelaskan, “Musuh berkesimpulan bahwa jalan untuk menundukkan rakyat Iran, dan memukul mundur Revolusi Islam, dari posisinya yang kuat, adalah menggunakan ancaman lunak, namun sampai hari tidak berhasil, dan mereka gagal menghentikan tekad serta gerakan bangsa dan pemuda Iran, lewat bujuk rayunya.”
Ayatullah Khamenei, menganggap pawai agung 22 Bahman (HUT Revolusi Islam Iran) sebagai bukti nyata dari ketidakefektifan ancaman-ancaman lunak musuh.
“Kehadiran luas dan meriah masyarakat Iran, setelah berlalu 46 tahun dari kemenangan Revolusi Islam, adalah sesuatu yang luar biasa di dunia, dan rakyat Iran, membuktikan bahwa permasalahan hidup dan tuntutan sah mereka tidak menghambat pembelaan atas Revolusi Islam,” paparnya.
Imam Khamenei juga menekankan berlanjutnya perlawanan atas tipu daya musuh, dan menuturkan, “Para pejabat lembaga penyiaran, pendidikan, dan media, juga penceramah dan penulis, ilmuwan, seniman, dan setiap pemuda aktif di media sosial, harus mengidentifikasi titik-titik yang menjadi perhatian musuh untuk mempengaruhi opini publik, dan menutupnya dengan memproduksi konten-konten, dan pemikiran.”
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, mengatakan bahwa pertahanan lunak, saat ini lebih penting dari pertahanan fisik.
“Cacat dalam pertahanan fisik dapat ditutupi dengan pertahanan lunak, sebagaimana sampai saat ini sudah dilakukan berulangkali, tapi masalah-masalah lunak tidak bisa diatasi dengan perangkat keras,” imbuhnya.
Untuk memperkuat pertahanan lunak, Ayatullah Khamenei, menyarankan supaya para pemuda akrab dengan pemahaman dan karakteristik-karakteristik revolusi, serta penjelasan Imam Khomeini.
Ia menerangkan, “Revolusi kita dalam makna yang sebenarnya adalah pertempuran antara cahaya dan kegelapan, hak dan batil, dalam rangka menaikkan derajat rakyat Iran, demi kesuksesan masa depannya, dan membuktikan identitas nasional.”
Imam Khamenei juga menyinggung kemajuan di jalan mewujudkan tujuan-tujuan Revolusi dan menjelaskan, “Tentu saja kita belum mencapai tujuan-tujuan Revolusi secara utuh, dan dalam masalah keadilan, pengentasan kesenjangan sosial, dan beberapa masalah lain, kita menghadapi kesulitan, dan ketertinggalan-ketertinggalan ini harus ditutupi dengan upaya lebih besar, namun Revolusi berhasil mempertahankan identitas independennya sebagai pangkalan besar, dan memberikan harapan bagi bangsa-bangsa kawasan, bahkan transregional, dan alasan kemarahan kubu imperialis serta kolonialis global, dan anasir-anasir busuk yang sedang berbuat kejahatan atas nama kebaikan, adalah kemampuan Revolusi Islam Iran, bertahan, dan menunjukkan pukulan kerasnya kepada mereka.”
Ditemui Jihad Islam, Imam Khamenei: Proyek Bodoh AS untuk Gaza Tak akan Berhasil
Sekjen Jihad Islam Palestina, dan delegasi, menemui Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei di Tehran.
Dalam pertemuan hari Selasa (18/2/2025) petang itu, Ayatullah Khamenei, mengucapkan selamat atas kemenangan kelompok-kelompok perlawanan di Gaza, atas Rezim Zionis.
Ia mengatakan, “Pekerjaan besar para pemimpin dan pejuang perlawanan Palestina, dalam persatuan, solidaritas, dan perlawanan di hadapan musuh, serta dalam upaya memajukan proses kompleks perundingan, juga kesabaran dan istikamah rakyat, telah membuat perlawanan di kawasan, unggul.
Ayatullah Khamenei, menyebut kemenangan perlawanan Islam dan rakyat Gaza, di hadapan Rezim Zionis, dan Amerika Serikat, sangat agung, dan menuturkan, “Kemenangan ini telah menciptakan sebuah modal baru dalam perjuangan kelompok perlawanan.”
Imam Khamenei menyinggung beberapa proyek bodoh AS dan proyek lain terkait Gaza dan Palestina, dan mengatakan, “Proyek-proyek ini tidak akan pernah berhasil, dan sebagaimana satu tahun setengah lalu mereka mengklaim akan melenyapkan perlawanan dalam waktu yang tidak lama, saat ini mereka menerima para tawanannya dalam kelompok-kelompok kecil dari para pejuang perlawanan, sebaliknya sejumlah banyak tahanan Palestina, dibebaskan.”
Menurut Ayatullah Khamenei, metode Perlawanan Palestina, dalam menyerahkan tawanan Zionis, menunjukkan keagungan perlawanan di hadapan mata dunia.
“Sekarang opini publik dunia berubah menguntungkan Palestina, dan dalam kondisi ini tidak ada proyek apa pun yang bisa dilaksanakan tanpa persetujuan kelompok perlawanan dan rakyat Gaza,” ujarnya.
Dalam pertemuan ini Sekjen Jihad Islam Palestina, Ziyad Nakhalah, mengucapkan selamat atas kemenangan besar perlawanan di Gaza, kepada Imam Khamenei, dan menyebut kemenangan ini berkat dukungan kontinu Republik Islam Iran, dan bimbingan Syahid Sayid Hassan Nasrullah.
Ia menjelaskan, “Perlawanan Palestina, dalam satu setengah tahun terakhir pada kenyataannya berperang melawan AS dan Barat, dan meskipun perimbangan kekuatan tidak adil, namun Perlawanan Palestina, berhasil meraih kemenangan besar ini.”
Sekjen Jihad Islam, menilai persatuan dan solidaritas di medan tempur, dan di arena politik di antara kelompok-kelompok perlawanan Palestina dan Lebanon, merupakan salah satu faktor berpengaruh dalam kemenangan Gaza.
Ia juga menyampaikan laporan terbaru terkait Gaza dan Tepi Barat, serta proses perundingan dan kesepakatan yang dicapai.
“Kami tidak akan pernah melupakan jalan perlawanan, dan sebagai prajurit perlawanan, kami akan terus melanjutkan jalan ini,” pungkasnya.
79 Perwakilan Negara Dunia akan Hadiri Pemakaman Sayid Hassan Nasrullah
Komite tinggi acara pemakaman Syahid Sayid Hassan Nasrullah, mantan Sekjen Hizbullah Lebanon, mengabarkan acara ini akan dihadiri oleh delegasi perwakilan dari puluhan negara dunia.
Syeikh Ali Daher, Ketua Komite tinggi acara pemakaman Sayid Hassan Nasrullah dan Sayid Hashem Safieddine, mengumumkan, “Pada tanggal 23 Februari 2025, sejarah baru di jalan kemenangan darah atas pedang akan terbentuk, dan hari perpisahan dengan Sayid Al Syuhada Sayid Hassan Nasrullah, dan saudara serta sahabatnya Sayid Hashem Safieddine, akan menjadi inspirasi bagi para penuntut kebebasan dunia pada dekade-dekade selanjutnya.”
Ia menambahkan, “Hari pemakman adalah hari mengenang Pemimpin kaum tertindas dalam menghadapi para penjajah, dan mengenang Syahid kemanusiaan dalam menghadapi imperialisme.”
Sheikh Ali Daher melanjutkan, “Pimpinan Hizbullah, telah memutuskan untuk membentuk Komite tinggi acara pemakaman syuhada yang terdiri dari 10 komite khusus, dan slogan yang dipilih adalah ‘saya akan menepati janji’ artinya sampai hembusan nafas terakhir kami akan menunaikan amanat Sayid Hassan Nasrullah.”
Ia menerangkan, “Lokasi berkumpul utama yang akan digunakan adalah gedung olahraga besar Camille Chamoun, di Beirut, karena dianggap tempat yang paling tepat untuk menjamu para tamu, dan acara pemakaman diperkirakan akan berlangsung sekitar satu jam, dan akan diisi dengan pidato Syeikh Naim Qassem, Sekjen Hizbullah.”
Menurut Sheikh Ali Daher, tim pengirim undangan dan upacara pemakaman memperkirakan kehadiran perwakilan dari sekitar 79 negara dunia termasuk delegasi masyarakat dan pemerintah di acara ini.
Rezim Zionis setelah setahun melakukan kejahatan dan perang di Gaza, pada 23 September 2024 memperluas kejahatannya di Lebanon, dan pada tanggal 27 September 2024, dalam sebuah pemboman ke wilayah Dahiya di selatan Beirut, membunuh Sayid Hassan Nasrullah.
Setelah itu, Sayid Hashem Safieddine, yang saat itu menjabat Ketua Dewan Eksekutif Hizbullah Lebanon, dan merupakan salah satu kandidat Sekjen Hizbullah, menggantikan Sayid Hassan Nasrullah, pada 3 Oktober 2024, menjadi sasaran serangan udara Rezim Israel, di Beirut, dan gugur syahid.
Apakah Pulihnya Hubungan Iran dan Saudi Bersifat Sementara?
Hubungan diplomatik Iran dan Arab Saudi, yang terputus sejak 2016, setelah lebih dua tahun perundingan dan dialog di Irak dan Oman, akhirnya pada 10 Maret 2023, kembali pulih.
Setelah dilakukan beberapa kali pertemuan, dan negosiasi oleh para pejabat keamanan nasional Iran dan Saudi, di Beijing, sebuah pernyataan bersama dirilis terkait kesepakatan Tehran dan Riyadh, untuk memulihkan hubungan.
Hubungan Iran dan Saudi, sejak Maret 2023 telah memasuki fase baru, dan kedua negara kembali ke jalur perluasan hubungan bilateral setelah tujuh tahun terlibat dalam ketegangan.
Salah satu indikasi dari tekad Tehran dan Riyadh, untuk memperluas hubungan bilateral, adalah kunjungan-kunjungan diplomatik pejabat kedua negara. Para pejabat Iran dan Saudi, berkunjung ke Riyah dan Tehran, bertemu dan membicarakan perkembangan kawasan, serta hubungan bilateral.
Sehubungan dengan ini, Observer Research Foundation (ORF), menilai peristiwa terpenting yang menyedot perhatian di kawasan Asia Barat, adalah perluasan hubungan Iran dan Saudi. Menurut ORF, hubungan Iran dan Arab Saudi, jauh lebih kompleks dari sekadar sebuah taktik yang bersifat sementara.
Abdulaziz Alghasian, Direktur Departemen Timur Tengah ORF, menulis, “Bersamaan dengan masuknya tahun 2025, kawasan Timur Tengah (Asia Barat) berhadapan dengan banyak tantangan. Dampak perang Gaza terasa di seluruh kawasan, dan Lebanon, mengalami kerusakan luas akibat serangan militer Israel.”
Suriah memasuki fase baru setelah Bashar Assad, yang disertai dengan harapan-harapan dan kepastian, selain itu naiknya pemerintahan Trump, perubahan internasional dan regional, lebih dari sebelumnya akan mempengaruhi konstelasi global.
Dukungan Republik Islam Iran, terhadap perlawanan rakyat Palestina, telah menunjukkan bahwa Iran, adalah sebuah ancaman bagi AS dan Israel, sementara pemerintahan Trump, mengakui bahwa kampanye tekanan maksimum terhadap Iran, tidak bisa memberikan hasil yang diharapkan.
Dalam kerangka ini, sikap anti-Iran, Perdana Menteri Rezim Zionis Benjamin Netanyahu, dan Presiden AS Donald Trump, telah membangkitkan kekhawatiran-kekhawatiran bagi pemerintah Arab Saudi, yang akan memaksa Riyadh, mempertimbangkan kekhawatiran-kekhawatiran ini.
Pada saat yang sama, Arab Saudi, tidak mengingingkan dirinya terlibat dalam ketegangan hebat dengan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Ketegangan segitiga ini bukan hanya akan mempengaruhi hubungan Saudi dengan Iran, tapi juga dengan Dewan Kerja Sama Teluk Persia (PGCC), dan akan memberikan tekanan besar terhadap struktur hubungan tersebut.
Tidak diragukan bahwa kebijakan regional Presiden AS Donald Trump, pada tahun 2025, berbeda dengan kebijakan-kebijakannya pada tahun 2017.
Pada kenyataannya, Trump, berkuasa, dan ia memilih menggunakan cara lain untuk menghadapi Iran, daripada langkah militer, dan Dewan Kerja Sama Teluk Persia, serta Iran, harus lolos dari ujian menghadapi opini publik yang memusatkan perhatian pada kemungkinan kesepakatan dua pihak.
Perang Arab Saudi, dan Yaman, pada tahun 2022 masih tetap rapuh. Di tengah banyak harapan kedekatan hubungan Iran dan Saudi, akan berujung dengan perundingan Saudi dan Yaman, ternyata sejumlah indikasi menunjukkan bahwa perang akan berlanjut.
Namun berlanjutnya perang Saudi dan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk Persia, PGCC, dengan Yaman, dapat membuka kesempatan untuk memperumit upaya integrasi regional.
Secara umum, perluasan kerja sama Saudi dengan Republik Islam Iran, di tengah tekanan-tekanan AS dan sekutu-sekutunya, terhadap Riyadh, dan dengan memperhatikan perkembangan kawasan Asia Barat, akan menguntungkan Saudi, dan keamanan negara-negara kawasan.
Apa Tujuan Israel Melanggar Perjanjian Gencatan Senjata di Lebanon?
Rezim Israel dengan menyerang Lebanon selatan, dan mengklaim telah membunuh salah satu komandan angkatan udara Hizbullah.
Meskipun ada pengumuman perjanjian gencatan senjata antara Lebanon dan rezim Zionis, tapi Israel terus mencampuri urusan dalam negeri Lebanon, melanggar kedaulatan nasional Lebanon, dan membombardir wilayah negara tersebut.
Menurut Pars Today, TV Al-Mayadeen Sabtu malam mengumumkan bahwa dua orang tewas dan tiga lainnya terluka dalam serangan rezim Zionis terhadap sebuah mobil di kota Jarjouaa, Lebanon.
Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz mengklaim bahwa seorang komandan angkatan udara Hizbullah menjadi sasaran serangan itu. Sejauh ini, Hizbullah Lebanon belum menanggapi klaim tersebut.
Lebanon bukanlah tanah agresi
Anggota parlemen Lebanon Ebrahim Mousavi hari Sabtu menanggapi ancaman rezim Israel yang akan menargetkan penerbangan Iran yang membawa warga negara Lebanon, dengan mengatakan,"Agresi rezim Israel terhadap kedaulatan Lebanon dan keterlibatan masyarakat internasional, terutama Amerika Serikat, telah menyebabkan rezim tersebut semakin arogan".
"Setiap orang di Lebanon harus mengutuk keras hal itu dan memaksa lembaga internasional yang bertanggung jawab untuk mengambil tindakan. Rezim Zionis tidak boleh dibiarkan membayangkan bahwa ia dapat menyerang kedaulatan Lebanon kapan saja ia mau" tegasnya.
Terkait hal ini, dan atas seruan Hizbullah di Lebanon, rakyat negeri ini menggelar unjuk rasa.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran juga menyebut ancaman Israel untuk menembak jatuh pesawat penumpang yang membawa warga negara Lebanon sebagai pelanggaran kedaulatan nasional Lebanon dan ancaman terhadap keselamatan penerbangan negara itu.
Amerika dan Israel berusaha mendominasi Lebanon
Menurut TV Al-Manar, Mahmoud Qamati, wakil ketua dewan politik Hizbullah kepada orang-orang yang berkumpul di jalan menuju bandara Beirut atas undangan Hizbullah, mengatakan,"Kami tidak menerima Lebanon berada di bawah dominasi Amerika dan Israel. Mencegah pesawat Iran mendarat di bandara Beirut merupakan penghinaan terhadap pemerintah Lebanon dan menegaskan penerapan perintah Amerika pada pemerintahan ini. Kami tidak pernah menerima perintah asing, Iran adalah negara yang bersahabat. Orang-orang yang mendukung perlawanan menentang kebijakan Amerika dan Israel yang memalukan, serta tidak akan pernah menerimanya".
Protes publik terhadap larangan pesawat Iran mendarat di bandara Beirut terus berlanjut.
Penduduk yang marah di berbagai daerah di Beirut turun ke jalan pada Kamis malam, secara spontan memprotes campur tangan Amerika dan Israel, dan memblokir jalan menuju Bandara Internasional Beirut.
Jenderal Israel Sebut Hamas Pulih, tapi Netanyahu masih Berkhayal
Jumlah syuhada perang Rezim Zionis, di Jalur Gaza, sejak 7 Oktober 2023, sampai sekarang terus bertambah meski sudah dicapai kesepakatan gencatan senjata.
Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza mengumumkan, jumlah syuhada perang Israel, di Gaza, sejak 7 Oktober 2023 sampai sekarang mencapai 48.271 orang, dan jumlah korban luka mencapai 111.693 orang.
Kemenkes Palestina menambahkan, “Sampai sekarang jenazah sebagian korban masih berada di bawah reruntuhan, dan jalan-jalan, dan tenaga kesehatan serta pertahanan sipil tidak bisa masuk ke wilayah tersebut.”
Israel Lari dari Komitmen Gencatan Senjata
Departemen Media, pemerintah Gaza, mengumumkan, aksi Rezim Zionis, yang melarang masuknya kontainer dan alat berat ke Jalur Gaza, menunjukkan bahwa Israel, lari dari komitmen gencatan senjata, dan kewajibannya berdasarkan kesepakatan itu.
Juru bicara Kepolisian Gaza, dalam wawancara dengan TV Al Jazeera, mengatakan, sejak diumumkannya gencatan senjata, lebih dari 10 personel polisi di Gaza, gugur.
Sementara Departemen Media pemerintah Palestina di Gaza mengumumkan, jumlah truk bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza, sejak dua hari lalu tidak lebih dari 30 persen jumlah yang disepakati.
Padahal berdasarkan kesepakatan yang dicapai Hamas, dan Israel, setiap hari 500 truk bantuan harus masuk ke Gaza, dan 50 unit di antaranya harus membawa bahan bakar.
Inisiatif Ada di Tangan Rakyat Palestina
Abdul Latif Al Qanou, Juru bicara Gerakan perlawanan Islam Palestina, Hamas, menegaskan bahwa proses perundingan juga seperti medan tempur, yaitu inisiatif ada di tangan rakyat Palestina, dan kelompok perlawanan. Penjajah gagal mencapai semua tujuannya dalam perang Gaza, dan mereka tidak sampai pada satu pun tujuannya.
Jenderal Israel Akui Kekuatan Hamas
Mantan jenderal Rezim Zionis, Itzhak Brik, mengatakan, “Kita selama setahun empat bulan tidak berhasil melenyapkan Hamas, lalu bagaimana mungkin Netanyahu masih berkhayal bisa melakukan hal ini? Kita gagal dalam perang, tapi Hamas, kembali ke kekuatan yang selalu dimilikinya di jarak ratusan kilometer dari terowongan-terowongan.”
Jenderal Itzhak Brik menambahkan, “Mereka (Hamas) saat ini sudah kembali ke kekuatan alami mereka, dan berhasil merekrut sejumlah banyak pemuda.”
Sekjen PBB: Dukungan Kami atas Gencatan Senjata Gaza, Berlanjut
Di sisi lain, Sekjen PBB Antonio Guterres, mengabarkan keberlanjutan dukungan PBB atas gencatan senjata di Jalur Gaza.
Ia menuturkan, “PBB secara penuh terus mendukung pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata termasuk mendukung pengiriman bantuan vital kemanusiaan untuk warga Palestina, di wilayah ini, dan berperan di dalamnya.”
Serangan Pasukan Israel, ke Tepi Barat Berlanjut
Dari Tepi Barat diberitakan bahwa pasukan Rezim Zionis, terus melancarkan serangan ke wilayah-wilayah Tepi Barat. Pada saat yang sama, pasukan penjajah juga merusak infrastruktur di kota Jenin, dan kamp pengungsi Palestina di sana.
Bagaimana Ilmuwan Iran, Khawaja Nasiruddin Mengubah Bangsa Mongol?
Lembaran sejarah menunjukkan bahwa Khawaja Nasiruddin memperoleh bagian penting dalam pendidikannya di era kekaisaran Mughal, bahkan mendirikan Sekolah Maragheh dan mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan melalui para siswa yang dilatihnya.
Tehran, Parstoday- Evolusi bangsa Mongol setelah memasuki Iran merupakan salah satu peristiwa sejarah terpenting yang secara jelas menunjukkan pengaruh budaya dan ilmu pengetahuan Iran terhadap bangsa ini.
Transformasi ini terjadi terutama melalui tokoh-tokoh seperti menteri dan orang bijak Iran yang kompeten seperti Khwaja Nasiruddin Tusi (579-672 H) (1201-1274 M) dan dengan penekanan pada penciptaan keseimbangan dan moderasi dalam pemikiran dan perilaku bangsa Mongol.
Dalam artikel Parstoday ini, kita akan menelisik beberapa tindakan penting yang dilakukan oleh Khawaja Nasiruddin Tousi yang mengubah sikap dan intelektual bangsa Mongol
1. Mengenali bangsa Mongol dengan pandangan ilmiah dan pemikiran bangsa
Khwaja Nasir al-Din Tusi memainkan peran penting dalam kemajuan ilmu pengetahuan dengan memasuki istana Hulagu Khan. Dengan menulis, mengajar dan menerjemahkan karya-karya yang berorientasi pada sains, ia meletakkan dasar bagi kebangkitan pemikiran yang berbeda dan ilmiah di antara sebagian bangsa Mongol.
Hossein Masoumi Hamdani, seorang peneliti peradaban Iran mengungkapkan,"Pada masa ketika situasi di Kastil Alamut sedang kacau, Khawaja Nasir mendapatkan status di kalangan kaum Ismaili, yang berdasarkan itu ia dapat terlibat dalam kegiatan ilmiahnya dan menulis. buku. Penerjemahan yang dilakukan di bawah pengawasan Khwaja Nasiruddin juga membuat bangsa Mongol mengenali budaya bangsa lain. Salah satu tindakan terpenting Khawaja Nasiruddin Tusi adalah pendirian Observatorium Maragheh pada tahun 657 H. Observatorium ini menjadi pusat ilmiah besar pada masanya dengan dukungan Hulagu Khan. Dengan memanfaatkan situasi ini, Khawaja Nasir mempertemukan banyak ilmuwan dari seluruh dunia Islam dan mendirikan landasan ilmiah baru yang membawa pada transformasi pemikiran bangsa Mongol dan mengubah pandangan mereka terhadap dunia.
2. Memberikan peta jalur moderasi
Salah satu poin penting dalam pemikiran Khawaja Nasir adalah keterhubungan antara agama dan politik serta berusaha menciptakan keseimbangan di antara keduanya. Ia menilai kebahagiaan bergantung pada upaya menemukan garis moderasi dan jalan tengah antara sikap ekstrem, terutama di bidang politik. Pandangannya ini menyebabkan sebagian orang Mongol, seperti Hulagu Khan, yang sampai batas tertentu dipengaruhi olehnya, menjauhkan diri dari kekerasan dan kekejaman ekstrem yang disebabkan oleh takhayul yang dikaitkan dengan agama dan beralih menjalankan pemerintahan dengan pendekatan yang lebih moderat.
3. Mengenal rasionalitas dan sikap Iran
Khawaja Nasir juga berperan penting dalam evolusi intelektual bangsa Mongol dengan menghidupkan kembali karya-karya filosofis Ibnu Sina dan mengedepankan pemikiran rasional.
Menurut Hasan Ansari, seorang peneliti sejarah, “Khawaja Nasir memulai menghidupkan kembali tradisi kuno filsafat Ibnu Sina dengan menulis penjelasannya Hal ini menyebabkan bangsa Mongol mempelajari jenis pandangan dunia lain, yang ironisnya bersifat religius dan duniawi, dan lebih mementingkan pemikiran daripada hanya mengandalkan kekerasan.
4. Pendirian sekolah Maragheh dan pendidikan anak-anak Mongol
Dengan mendirikan Sekolah Maragheh dan mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan melalui murid-murid yang dilatihnya, Khawaja Nasir memperoleh bagian penting dalam pendidikan generasi Mughal berikutnya. Sekolah ini tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga menunjukkan bahwa bangsa Mongol juga bisa menjadi pencipta pemikiran dan seni dengan memanfaatkan budaya dan pengetahuan Iran.
5. Berencana untuk melestarikan dan memperkuat identitas Iran dengan tujuan mengubah gaya hidup bangsa Mongol
Khawaja Nasir juga berusaha mempertahankan dan memperkuat identitas Iran melawan bangsa Mongol dengan merancang dan melaksanakan proyek nasional. Dengan memberikan keaslian pada budaya Iran-Islam dan dengan menonjolkan berbagai dimensi dan orientasi hidup dalam pikiran orang-orang Mongol, ia berhasil membuat mereka terkesan dengan budaya ini dan menciptakan transformasi mendalam dalam gaya hidup mereka. Ansari mengatakan dalam hal ini, "Saya pikir Khawaja Nasir telah memikirkan isu-isu ini selama bertahun-tahun."
6. Pengaturan prinsip-prinsip moral dan pemajuannya
Khawaja Nasir tidak melupakan pendidikan dasar etika, dan dengan menulis Etika Naseri. Ia memadukan konsep moral dan politik sedemikian rupa sehingga berdampak mendalam bagi bangsa Mongol. Buku ini menunjukkan moderasi intelektual Khawaja Nasir dan upayanya menghubungkan etika dengan politik.
Mohammed Javad Anvari, salah satu peneliti di bidang ini mengatakan: "Akhlaq Naseri adalah tulisan filosofis dalam bahasa Persia, dan dalam buku ini, Khawaja telah menghubungkan etika dengan agama dan politik."
Yang terakhir, poin-poin singkat ini menunjukkan bagaimana bangsa Iran, khususnya melalui Khawaja Nasiruddin Tusi meletakkan dasar untuk mengubah sikap bangsa Mongol, mengubah mereka dari masyarakat yang biadab dan kejam menjadi peminat budaya dan ilmu pengetahuan serta politisi beretika. Perkembangan ini tidak hanya membawa bangsa Mongol menuju moderasi dan keseimbangan dalam politik dan etika, namun juga meletakkan dasar bagi kebangkitan budaya dan identitas transenden di dalamnya berdasarkan konteks Iran-Islam.




























