کمالوندی

کمالوندی

 

Perbandingan kondisi para tahanan Palestina yang baru dibebaskan, dengan tawanan Israel, menunjukkan perilaku manusiawi kelompok perlawanan, dan kemenangan mereka di bagian lain perang Gaza.

Perilaku pasukan Gerakan perlawanan Islam Palestina, Hamas, terhadap para tawanan Israel, dalam proses pertukaran tahanan tahap kedua telah memicu respons luas, dan kembali menarik perhatian terkait bagaimana mereka memperlakukan para tawanan Israel.
 
Salah seorang tawanan Israel, Liat Atzili, dalam wawancara dengan Haaretz menyoroti perilaku baik Hamas, dan mengatakan, “Pasukan Palestina, memperlakukan saya dengan baik, tidak mengancam saya, dan mengizinkan saya mengenakan pakaian, bahkan membantu saya mengambilkan kaca mata.”
 
Liat Atzili ditempatkan di sebuah rumah di Khan Yunis, dan seorang ibu pejuang Palestina, menemaninya. Para pejuang perlawanan menyediakan semua yang dimintanya, dan mengizinkan dirinya mandi, serta mencuci baju.
 
Menurut Liat, ia sepenuhnya bebas di dalam rumah itu, dan tidak ada yang mengontrolnya. Ia bisa leluasa lalu lalang di rumah itu, dan ia diizinkan untuk menyaksikan siaran televisi Al Jazeera. Para penjaga mengetahui makanan kesukaannya, bahkan menyediakan pizza, buah-buahan serta sayuran untuknya.
 
Danielle Aloni, tawanan perempuan Israel, sehari sebelum dibebaskan, dalam suratnya untuk komandan Brigade Al Qassam menulis, “Saya berterimakasih atas kemanusiaan luar biasa yang ditunjukkan kepada putri saya Emilia. Anda bagi Emilia layaknya ayah dan ibu, kapan pun ia mau, Anda membawanya. Ia merasa Anda semua adalah kawannya, bukan sekadar kawan tapi orang dekat dan famili yang sebenarnya. Anak-anak tidak boleh ditawan, tapi karena kebaikan Anda, dan orang-orang baik lainnya, kita bisa saling mengenal lewat cara ini. Putri saya menganggap dirinya sebagai seorang ratu di Gaza. Selamanya saya berhutang kepada Anda semua, karena anak saya tidak keluar dari Gaza dengan gangguan dan kerusakan mental.”
 
Yocheved Lifshitz, tawanan Israel, yang lain setelah dibebaskan, dalam sebuah wawancara mengungkap perilaku manusiawi para pejuang Hamas.
 
Ia menuturkan, “Ketika kami tiba di Gaza, mereka berkata bahwa mereka beriman kepada Al Quran, dan mereka Muslim, dan tidak akan melukai kami. Mereka berkata kepada kami akan memperlakukan kami sebagaimana mereka memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Sangat baik dan penuh kasih sayang. Selalu memastikan bahwa kami memakan makanan yang baik. Makanan kami tidak ada bedanya dengan makanan mereka. Mereka memperlakukan kami dengan sangat baik. Mereka memperhatikan setiap detail masalah.”
 
Agam Goldstein-Almog, tawanan Israel, 48 tahun menjelaskan perilaku baik anggota Brigade Al Qassam dalam wawancara dengan Kanal 12 stasiun televisi Rezim Zionis.
 
Ia mengatakan, “Mereka siap mengorbankan nyawa demi menjaga saya dan tiga anak saya di hadapan pemboman jet-jet tempur Israel. Kami tengah berada di sebuah supermarket saat pemboman dimulai. Kami berlindung di balik sebuah pelindung, dan para penjaga bersenjata Hamas berdiri di depan kami, mereka melindungi kami dengan badan mereka.”
 
Pengakuan para tawanan Israel, atas perilaku terpuji Hamas, terhadap mereka, ramai di media sementara stasiun televisi Israel, KAN mengumumkan tiga tawanan perempuan Israel, yang dibebaskan dalam tahap awal gencatan senjata Gaza, mempelajari dengan baik bahasa Arab, selama 471 hari ditawan, dan mereka berada dalam kondisi sehat.
 
Kantor berita Rusia, Sputnik, menyoroti kondisi jasmani yang baik dari para tawanan Israel, setelah lebih dari 400 hari ditawan, dan menulis, “Kondisi jasmani mereka yang baik menunjukkan bahwa para pejuang Palestina, sangat menghormati prinsip-prinsip moral, dan kemanusiaan.”
 
Selain itu, media-media berbahasa Ibrani, juga melaporkan bahwa anggota Hamas, memberikan sejumlah hadiah kepada para tawanan Israel, saat mereka dibebaskan, di antara hadiah itu adalah peta Jalur Gaza, foto para tawanan, dan piagam penghargaan.

 

Kepala Lembaga Penerangan Islam Iran dalam acara peluncuran buku "Musim Hujan" mengatakan bahwa keterikatan pada Imam Husein, Cucu Nabi Muhammad saw berakar pada lapisan terdalam dari keberadaan pencinta Ahlul Bait.

Tehran, Parstoday-Acara peluncuran buku "Musim Hujan" mengenai narasi kehidupan masyarakat bersama Imam Hossein, Cucu Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Bait, yang diadakan oleh Rumah Puisi dan Sastra Iran di Tehran.

Hujatul Islam Mohammed Qomi, Kepala Lembaga Penerangan Islam Iran dalam sambutannya di acara ini mengatakan, "Dalam buku ini, meskipun narasi internal orang-orang mengenai Imam Hussein sepenuhnya bersifat personal, tapi tidak salah membagikannya karena semuanya terungkap,".

"Keterikatan terhadap cucu Nabi Muhammaad saw ini berakar pada lapisan terdalam keberadaan para pecinta Ahlul bait, dan persamaan yang terbentuk, misalnya dalam ritual seperti pawai Arbain menunjukkan tingkat yang lebih erat lagi," tegas Qomi.

 

Seorang peneliti mengenai Mesiah mengatakan bahwa seseorang dapat bergabung sebagai penanti Juru Selamat, Imam Mahdi harus aktif dan bergerak untuk perbaikan segala aspek kehidupan manusia.

Tehran, Parstoday- Berdasarkan teks sejarah, sejak dahulu kala, kepercayaan akan kemunculan sosok pembaharu dan penyelamat telah menjadi prinsip dasar umat manusia.

Sepanjang sejarah dan referensi teks agama, selalu ada kata-kata tentang janji kemunculan penyelamat terakhir dan juru selamat dunia.

Prinsip penting dalam bidang ini adalah upaya mereka sebagai penanti juru selamat.

HujatulIslam Muhammad Shojaei, seorang peneliti di bidang Mahdisme dan direktur Institut Montazeran Manji mengatakan," Berdasarkan Al Quran surat Saba ayat 46, Al-Qur'an menyebut perjuangan untuk perbaikan menjadi syarat dasar dan mengatakan bahwa bagi Tuhan, ada dua orang dan bahkan satu orang melakukannya,".

Hojatul Islam Shojaei menyatakan bahwa perjuangan untuk perbaikan para penanti harus muncul dalam semua dimensi kehidupan manusia, dan menambahkan, "Pertama, orang yang menunggu adalah orang yang aktif berusaha untuk kebaikan,".

Orang-orang yang berjuang akan merancang tempat tinggalnya berdasarkan struktur perjuangannya, sehingga segala pilihannya didasarkan pada jalan perjuangan ini demi penyelamatan masyarakat dan kemanusiaan.

 

Menurut kesaksian sejarah, Nabi Muhammad Saw senantiasa berbicara jelas dan transparan dengan orang mukmin dan masyarakatnya, tidak berperilaku politis, serta di beberapa hal yang diperlukan, beliau bersikap lunak.

Nabi Muhammad Saw dengan keagungan kedudukannya dan mencapai derajat maksum yang paling tinggi, pada saat yang sama, tidak henti-hentinya berusaha dan berupaya untuk mendekatkan dan bertakwa kepada Allah, hingga saat kematiannya; Dengan demikian beliau  juga berevolusi menuju Tuhan yang tak terbatas hari demi hari. Artinya, Nabi Saw pada tahun pertama kenabian tidaklah sama dengan Nabi Saw di tahun ke-23 kenabian. Selama 23 tahun, beliau telah mengalami kemajuan dalam pendekatan kepada Tuhan (Taqarrub).

Dalam artikel Parstoday ini kita akan membaca ulang sejumlah karakter Rasulullah Saw:

 

Sirah Ibadah

Nabi Saw dengan derajat dan keagungannya, tidak pernah mengabaikan ibadah. Beliau menangis di tengah malam dan berdoa serta memohon ampun. Suatu malam, Ummu Salamah melihat Nabi Saw tidak ada di sana, maka dia pergi dan melihat beliau sedang berdoa, menitikkan air mata, memohon ampun, dan berkata: “Ya Allah, jangan tinggalkan aku sendirian walaupun dalam sekejap mata. Ummu Salamah mulai menangis. Nabi Saw berbalik saat mendengar tangisannya dan berkata: Apa yang kamu lakukan di sini?

Ummu Salamah berkata: Ya Rasulullah! Anda yang sangat dikasihi Allah Swt dan dosa-dosamu telah diampuni, mengapa Anda menanggis dan berkata: Ya Allah ! Jangan tinggalkan kami ?

Nabi menjawab: Jika Aku lalai dari Tuhan, Apa yang akan menjagaku ?

Ini sebuah pelajaran bagi kita. Di hari penuh kehormatan, kehinaan, kesusahan, kenyamanan, hari ketika musuh mengepung manusia, hari ketika musuh memaksakan diri di depan mata dan manusia dengan segala keagungannya, serta mengingat Allah dan tidak melupakannya dalam segala keadaan, selalu bersandar kepada Tuhan dan memohon kepada-Nya; Inilah hikmah besar Nabi Saw yang diberikan kepada kita...

 

Sirah Pribadi dalam berpakaian dan makan

Nabi Saw mengenakan pakaian sederhana dan memakan makanan apa pun yang disediakan di depannya. Beliau tidak meminta makanan tertentu dan tidak menolak makanan karena dianggap tidak diinginkan.

 

Sirah Akhlak

Salah satu istri Rasulullah Saw diminta untuk menggambarkan akhlak beliau untuk kita. Sebagai tanggapannya, dia berkata: Akhlaknya adalah al-Qur'an; Artinya, apapun yang dibaca dalam al-Qur’an tentang cara, perbuatan, tingkah laku dan akhlak seorang manusia yang dianjurkan, baik dan berkenan, telah terwujud dan terkristalisasi dalam keberadaan yang mulia itu.

Artinya akhlak kita hendaknya sesuai dengan apa yang kita ucapkan dan kita seru.

 

Sirah Ilmiah dan Keilmuan

Sebuah hadits Rasulullah Saw selain ayat al-Quran yang telah diulangi di beberapa tempat dalam al-Qur'an, «یُزَکّیهم و یُعَلِّمُهم الکتابَ و الحکمة» yang mengaitkan pendidikan kepadanya. Hadis tersebut berbunyai "Allah mengutusku sebagai pendidik"; Guru yang memudahkan. Faktanya aku telah mempermudah kehidupan bagi anak didikku dan dengan pendidikan yang kuberikan, dan aku telah memudahkan pekerjaan mereka. Mempermudah ini berbeda dengan melalaikan sesuatu.

 

Sirah Budaya

Guru ini melakukan sesuatu dan berperilaku sedemikian rupa sehingga akhlak dan kewajiban Islam menjadi warna yang konstan dalam masyarakat dan melawan kepercayaan dan kesalahan masyarakat. Beliau memerangi dan melawan perasaan-perasaan jahiliah dan sisa-sisa etika non-Islam yang sudah mengendap, dan pada saat yang tepat serta dengan cara yang tepat pula, beliau membuat kondisi masyarakat dan lingkungan hidup masyarakat tercampur sempurna dengan sifat, akhlak dan metode baik tersebut.

 

Sirah Sosial

Perilaku Rasulullah Saw dengan orang-orang adalah baik. Dia selalu ceria jika di tengah masyarakat, dan ketika sendirian, beliau menampakkan kesedihan dan kekhawatian yang dimilikinya. Beliau tidak mengungkapkan kesedihannya di depan orang banyak. Beliau ceria dan menyapa semua orang. Jika seseorang menyinggungnya, kekesalan itu terlihat di wajahnya, tetapi beliau tidak membalasnya dengan kata-kata. Beliau tidak mengizinkan siapa pun mengutuk atau menjelek-jelekkan orang lain dihadapannya. Beliau sendiri tidak menghina siapa pun dan tidak menjelek-jelekkan siapa pun.

 

Beliau sangat sayang terhadap anak-anak dan bertutur kata dengan kasing sayang kepada mereka. Beliau memperlakukan orang-orang lemah dengan baik. Beliau pun kadang bercanda dengan para sahabatnya, dan berlomba pacuan kuda dengan mereka.

 

Sirah Politik

Rasulullah Saw tidak pernah berbicara dengan kata-kata yang bermakna ganda. Tapi beliau akan bersikap teliti ketika menghadapi musuh, dan membuat musuh salah perhitungan. Di banyak kasus, beliau membuat musuh terlena dan lalai, baik dari sisi militer atau pun dari sisi politik, tapi beliau selalu berbicara dengan jelas dan transparan kepada umatnya, dan tidak melakukan politisasi, serta di waktu yang diperlukan, beliau bersikap lunak.

 

Ayatullah Javadi Amoli, Mufasir Besar Al-Qur'an mengatakan, "Siapa pun yang ingin mengetahui keberadaan Imam mahdi, juru selamat yang dijanjikan, harus dengan cermat mengkaji teks ziarah dan doa beliau."

Tehran, Parstoday-Ayatullah Abdullah Javadi Amoli, salah satu mufasir besar Al-Qur'an dalam dalam buku "Imam Mahdi yang Dijanjikan" mengungkapkan bahwa meneliti doa dan ziarah yang datang dari Imam Mahdi sendiri atau Imam lain mengenai beliau meurpakan salah satu cara terbaik untuk mengetahui kedudukan tinggi Imamah dan kepribadian unik penyelamat umat manusia.

Ayatullah Javadi Amoli menegaskan pentinya merenungkan isi Nahjul Balaghah, kata-kata Imam Hussein dari awal hingga akhir peristiwa Karbala dan ajaran panjang Imam Sajjad dalam Sahifah Sajadiyah dan lainnya.

"Mempelajari pernyataan Imam Ali, Imam Hussain dan Imam Sajjad, serta doa dan manajat yang berkaitan dengan Imam Mahdi dapat membawa seseorang memasuki ilmu pengetahuan mengenai sang juru selamat yang dijanjikan," ujar Ayatullah Javadi Amoli.

Menurut Ayatullah Javadi Amoli, pengenalan terhadap Imam Mahdi mempunyai tingkatan-tingkatan yang mencakup perkembangan tertentu pada setiap tahapannya.

 

Terwujudnya cita-cita keadilan telah menjadi salah satu keinginan terpenting semua manusia reformis dan orang-orang merdeka dalam sejarah (termasuk para nabi). Revolusi Islam Iran juga dilakukan dengan slogan keadilan sosial, guna mewujudkan masyarakat yang berlandaskan keadilan Al-Qur’an.

Keadilan merupakan cita-cita kemanusiaan yang telah diketahui umat manusia sejak awal sebagai hasrat batiniah dan menjadikannya sebagai dasar hukum dan penilaian. Diskriminasi, menginjak-injak hak-hak kaum tertindas dan ketidakadilan menimbulkan kebencian di hati. Selain itu, penyebab banyaknya gerakan sosial dan revolusi adalah kurangnya keadilan sosial di masyarakat.

Dalam artikel Pars Today ini, kami akan meninjau isu penting ini dengan pendekatan yang lebih fokus pada Al-Qur’an:

Konsep Keadilan

Imam Ali bin Abi Thalib as, penerus Nabi Muhammad Saw, menganggap keadilan adalah memberikan hak kepada yang berhak. Beliau juga mengartikan keadilan sebagai proporsional, seimbang dan menghindari hal-hal yang ekstrim. Dalam 31 pasalnya, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tidak mengklaim tujuan selain menghilangkan agresi dan diskriminasi dan membangun (apa yang disebut) militer yang bebas dari kekejaman, dan dalam semua klausulnya, kebebasan dan hak-hak individu ditekankan dalam setiap bidang. Meskipun penandatangan terbesarnya adalah pelanggar terbesarnya.

Orang bijak seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Allameh Tabataba’i dan Martir Morteza Motahari, dan yang terpenting, Imam Khomeini, juga pernah mengutarakan gagasan untuk menciptakan pemerintahan yang berdasarkan keadilan. Apa yang membuat perkataan Imam Khomeini lebih menonjol adalah bahwa beliau tidak membatasi diri hanya pada opini dan berusaha membuat gagasan ini diterima secara luas dan dengan bantuan massa yang haus keadilan, dengan mendirikan pemerintahan Islam untuk menegakkan keadilan Al-Qur’an.

Pentingnya Keadilan Sosial dalam Al-Qur’an

Nilai keadilan sosial dalam sudut pandang Al-Qur’an sedemikian rupa sehingga Allah dengan tegas memerintahkannya dan mewajibkannya. Al-Qur'an mengingatkan masyarakat Islam bahwa kejahatan dan permusuhan pihak lawan tidak boleh mengalihkan umat Islam dari jalan keadilan dan mereka bahkan harus memperlakukan musuh dengan adil.

Oleh karena itu, salah satu tujuan utama dan utama para Nabi dalam Al-Qur'an adalah menegakkan keadilan. Prinsip Al-Qur’an ini (penerapan keadilan sepenuhnya dalam masyarakat manusia) juga terlihat dalam praktik Nabi Muhammad Saw.

Imam Baqir as, salah satu keturunan Nabi mengatakan, Nabi menghapuskan adat istiadat jahiliyah dan mulai memperlakukan manusia dengan keadilan.

Mengingat pentingnya keadilan dalam masyarakat, Al-Qur'an telah memperluasnya ke berbagai bidang. Perlunya menegakkan keadilan dalam kesaksian, perkataan, ketika menghakimi dan membela keadilan dalam semua tahap kehidupan, menunjukkan pentingnya hal ini.

Al-Qur'an menyebut segala sesuatu yang menyebabkan kerusakan dan mengganggu semangat keadilan sebagai maksiat dan telah melarangnya. Bahkan berita bohong yang praktis berdampak pada semangat masyarakat. Dalam masyarakat yang seimbang di mana semua orang menikmati kekuasaan, kekayaan dan kedudukan secara setara, empati dan persaudaraan dengan sendirinya akan terjalin di antara anggota masyarakat.

Imam Ali berkata, “Al-Adl Ma’luf” adalah keadilan yang menyenangkan dan penyebab kebahagiaan. Lawan dari keadilan sosial adalah kekejaman dan ketidakadilan, yang menyebabkan kehancuran masyarakat dengan memancing murka Allah, menimbulkan permusuhan dan kehancuran peradaban.

Menciptakan Keadilan dengan Membentuk Pemerintahan

Syarat yang paling diperlukan bagi terwujudnya keadilan sosial, sebagaimana salah satu tujuan dakwah Nabi, adalah terbentuknya pemerintahan. Oleh karena itu, upaya berkelanjutan para nabi dan penerusnya dalam membentuk pemerintahan bertujuan untuk menciptakan keadilan sosial. Mereka tidak mencari kekuasaan, ketamakan, dan kenyamanan duniawi pribadi.

Al-Qur’an menyebutkan, Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS. Al-Hadid: 25)

Jika mereka satu-satunya yang bertugas mengamankan akhirat, tidak ada gunanya mengganggu mereka dalam menjalankan misinya. Penetapan hukum Islam dan penerapannya (khususnya hukum keuangan) memerlukan pembentukan pemerintahan. Atas dasar ini, Nabi Sulaiman as dan Nabi Muhammad Saw berusaha membentuk pemerintahan dan memenuhi hak-hak masyarakat.

Peran Keadilan Sosial dalam Penyempurnaan dan Pembangunan Manusia

Tujuan penciptaan dan kedatangan manusia ke bumi adalah untuk mencapai kesempurnaan. Yang dapat membawa masyarakat manusia mencapai tujuan ini adalah keadilan sosial. Ketika setiap anggota masyarakat melihat bahwa hak-haknya dilindungi dan kemanusiaan serta martabatnya dihormati, maka hubungannya dengan anggota masyarakat lainnya menjadi lebih baik dan ia berusaha memainkan peran yang saling berguna dalam masyarakat. Sementara penindasan merupakan momok bagi masyarakat dan perusak peradaban dan bangsa.

Jelas dari ayat-ayat Al-Qur’an bahwa penegakan keadilan sangat berperan dalam memperbaiki moral dan perilaku individu dan sosial serta membimbing menuju kesempurnaan sehingga dianjurkan bahkan untuk tugas-tugas kecil.

Al-Qur’an mengatakan, Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. (QS. Al-Nahl: 90)

Dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. (QS. Al-Syura: 15)

Katakanlah, “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan. (QS. Al-A’raf: 29)

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah. (QS. Al-Nisaa: 135)

Semua ayat-ayat ini menyiratkan perlunya keadilan di segala bidang.

 

Seorang peneliti di bidang Mahdisme menganggap menghibur dan membantu orang lain sebagai salah satu cara terbaik untuk dekat dengan Imam Mahdi af, sang juru selamat yang dijanjikan berbagai agama.

Hujjatul Islam, Mahmoud Abazari, seorang peneliti di bidang Mahdisme, menganggap Muwasat (solidaritas dan empati) sebagai salah satu cara terbaik dan tercepat untuk dekat dengan Imam Mahdi, penyelamat yang dijanjikan agama, dan berkata: Muwasat berarti mempertimbangkan kesedihan dan rasa sakit orang lain sebagai kesedihan dan rasa sakit kita sendiri, dan kita berusaha untuk membantu orang lain.

Menurut Pars Today, peneliti di bidang Mahdisme ini seraya menekankan bahwa upaya dan landasan orang untuk berempati dan membantu sesamanya sangatlah menentukan, menambahkan: Jika para pecinta Ahlulbait dan mereka yang menunggu penyelamat yang dijanjikan menggunakan apa yang mereka miliki dan kemampuannya, maka mereka akan mendapat pertolongan dan dukungan Tuhan dan Imam Mahdi af akan muncul lebih cepat.

Abazari menukil sebuah kisah dari Imam Baqir as, salah satu keturunan Rasulullah Saw dan Imam kelima Syiah dunia, di mana Imam Baqir berkata: "Ketika Imam Mahdi bangkit, dunia dipenuhi dengan suasana persahabatan dan persaudaraan, di mana siapa pun dapat memenuhi kebutuhannya dari kantong saudara seagamanya."

Seraya mengisyaratkan ayat 165 Surah an-Nisa:

رُسُلًا مُبَشِّرِینَ وَمُنْذِرِینَ لِئَلَّا یَکُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَکَانَ اللَّهُ عَزِیزًا حَکِیمًا

Abazari menambahkan: Sunnatullah terkait pengutusan Nabi Muhammad Saw adalah Tuhan mengutus rasul-Nya, baik itu manusia menginginkannya atau tidak, sehingga dengan pengutusan tersebut, hujjah bagi seluruh manusia akan selesai. Tapi ketentuan Tuhan mengenai kemunculan Imam Mahdi adalah manusia harus bangkit dan menerapkan keadilan. 

 

Menurut ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad dan Ahlul Bait as, akal adalah alat untuk ibadah dan meraih kebahagiaan.

Anda mungkin pernah bertanya pada diri sendiri pertanyaan tentang apa saja parameter orang berakal dan apa saja ciri-cirinya. Dunia modern, pada dasarnya, telah menghadirkan definisi dan contoh rasionalitas baru, termasuk keberhasilan akademis, perolehan kekuasaan, dan perolehan kekayaan yang melimpah.

Semua ciri-ciri ini berharga pada tempatnya, tapi tidak dapat diterima untuk memberi nilai ekstrem pada ciri-ciri ini sejauh itu lebih diutamakan daripada moralitas dan kemanusiaan atau mendahulukan orang yang untuk meraih kesuksesan sepert ini melewati batas-batas moralitas dan mengorbankan orang lain demi keinginan duniawi.

Dalam artikel dari Pars Today ini, kami membahas masalah ini:

Dari sudut pandang agama dan keislaman, akal adalah yang menghindarkan seseorang dari keburukan dan mengajak untuk beramal dan kebaikan.

Dengan demikian, tanda kesempurnaan akal juga dikenal dengan cara ini. Orang yang lebih banyak bergerak ke arah kebaikan dan lebih banyak menjauhi keburukan.

Imam Ridha as, Imam Kedelapan dari keluarga Nabi Muhammad SAW telah menyebutkan 10 tanda kesempurnaan akal.

Imam Ridha as mengatakan:

 

لا یَتِمُّ عَقْلُ امْرِء مُسْلِم حَتّى تَکُونَ فیهِ عَشْرُ خِصال: أَلْخَیْرُ مِنْهُ مَأمُولٌ. وَ الشَّرُّ مِنْهُ مَأْمُونٌ. یَسْتَکْثِرُ قَلیلَ الْخَیْرِ مِنْ غَیْرِهِ، وَ یَسْتَقِلُّ کَثیرَ الْخَیْرِ مِنْ نَفْسِهِ. لا یَسْأَمُ مِنْ طَلَبِ الْحَوائِجِ إِلَیْهِ، وَ لا یَمَلُّ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ طُولَ دَهْرِهِ. أَلْفَقْرُ فِى اللّهِ أَحَبُّ إِلَیْهِ مِنَ الْغِنى. وَ الذُّلُّ فىِ اللّهِ أَحَبُّ إِلَیْهِ مِنَ الْعِزِّ فى عَدُوِّهِ. وَ الْخُمُولُ أَشْهى إِلَیْهِ مِنَ الشُّهْرَةِ. ثُمَّ قالَ(علیه السلام): أَلْعاشِرَةُ وَ مَا الْعاشِرَةُ؟ قیلَ لَهُ: ما هِىَ؟ قالَ(علیه السلام): لا یَرى أَحَدًا إِلاّ قالَ: هُوَ خَیْرٌ مِنّى وَ أَتْقى

Akal seorang muslim belum sempurna, kecuali mempunyai 10 ciri:

1. Ada harapan kebaikan darinya (Orang yang melakukan kebaikan kepada sesama).

2. Orang lain aman dari keburukannya (tidak menyakiti orang lain).

3. Menyebut kebaikan orang lain walau sedikit (menghargai kebaikan orang lain).

4. Menyebut sedikit kebaikannya yang banyak (rendah hati dan tidak sombong).

5. Berusaha memenuhi kebutuhan orang lain (dermawan dan ringan tangan).

6. Tidak lelah dalam mencari ilmu (haus akan ilmu).

7. Kemiskinan di jalan Allah lebih dicintai dari kekayaan dengan kerusakan.

8. Hina di jalan Allah lebih dicintai ketimbang jaya bersama musuh Allah.

9. Lebih menyukai tidak dikenal ketimbang terkenal.

10. Ketika memandang orang lain, ia merasa orang itu lebih baik dan lebih bertakwa dari dirinya.

Dengan demikian, menurut agama, akal merupakan sarana untuk beribadah dan meraih keridhaan Allah, dan orang yang berakal adalah orang yang bertakwa yang bergerak di jalan yang akan membawanya ke surga dan keselamatan.

Allah telah menentukan hak-hak bagi setiap makhluk-Nya. Melanggar hak-hak ini akan mengakibatkan murka ilahi. Oleh karenanya, Allah telah memberikan instruksi dalam Al-Qur'an untuk membela kaum tertindas dan menghadapi penindas dan agresor.

Menurut Al-Qur’an, kezaliman atau penindasan adalah salah satu jenis dosa terburuk. Jika kezaliman disertai dengan pelanggaran terhadap orang lain, maka perbuatan tersebut merupakan dosa yang sangat besar di sisi Allah dan termasuk dosa terbesar yang dapat membuat orang dan masyarakat penindas menderita siksa dunia dan akhirat yang berat dan akhirnya api neraka.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an, “Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 229) Salah satu batasannya adalah tidak melanggar hak orang lain dan kebutuhan untuk mendukung mereka yang tertindas.

Dalam artikel Pars Today ini akan dijelaskan secara singkat tentang masalah ini:

Melawan Penindas

Di mata Islam, menerima penindasan adalah hal yang tercela, dan perilaku pasif saat menghadapi penindasan tidak pernah bisa diterima. Salah satu cara menghadapi penindasan dan tirani adalah dengan membalas. Terutama dalam kasus di mana para penindas menyadari penindasan yang mereka alami dan berniat untuk melanjutkannya.

 

Kadang-kadang penindasan bukan merupakan persoalan individu dan berkaitan dengan masyarakat. Dalam hal ini, penanganannya harus lebih tegas. Pertama, dia tidak membiarkan penindasan, dan kemudian, jika musuh menindas, dia harus dihukum agar dia tidak berani mengulanginya. Menindaknya begitu penting sehingga bahkan jika perlu, seseorang harus mengorbankan nyawanya demi hal itu, sehingga membatasi ruang lingkup penindasan para penindas untuk generasi mendatang. Hikayat besar Asyura Imam Husein as, cucu Nabi Muhammad SAW, merupakan manifestasi dan realisasi visi Al-Qur’an dalam menghadapi para penindas. Epik ini memiliki pesan Al-Qur’an yang jelas untuk orang-orang yang tertindas.

Allah SWT berfirman dalam surah As-Syu’ara ayat 227, “Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”

Begitu juga dalam surah As-Syura ayat 39, “Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.”

Sementara dalam surah Al-Nahl ayat 126 disebutkan, “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.”

Membela Orang Tertindas

Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk segera membantu orang yang tertindas jika ada permintaannya. Terkadang ada kemungkinan seseorang tidak membantu orang yang tertindas karena takut pada penindasnya. Sedangkan dia tidak mempunyai kecenderungan terhadap penindas. Namun pemikiran seperti itu ditolak dalam Islam dan setiap Muslim perlu menanggapi seruan kaum tertindas. Dengan kata lain, seorang muslim sejati bukan saja tidak mempunyai kecenderungan menindas dan menindas, tapi juga bergegas menolong kaum tertindas.

Dalam ayat 38 dan 39 surah As-Syura, Allah menyebut ciri khas seorang Muslim adalah berdiri bersama melawan penindasan.

Ayat 75 surah An-Nisa dengan jelas menyebut bantuan kepada orang-orang tertindas sebagai kewajiban ilahi bagi orang-orang yang beriman, “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, ‘Ya Allah, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”

Dalam ayat 13 sampai 15 surah Ibrahim dan 39 dan 60 surah Hajj, Allah berbicara tentang pembelaan dan dukungannya di garis depan atas kaum tertindas melawan para agresor untuk menunjukkan bahwa membantu kaum tertindas dan berperang melawan para penindas berarti berada di barisan orang beriman. Dalam ayat 42 surat As-Syura, Allah memandang balas dendam kepada penindas sebagai hak yang sah dan pasti dari orang yang tertindas, dan mengingatkan bahwa jika orang yang tertindas melakukan tindakan untuk membalas dendam, maka ia tidak boleh disalahkan. Karena hak untuk membalas merupakan haknya. “Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.”

Al-Qur’an menekankan kemenangan akhir kaum tertindas dalam pertempuran global melawan penindasan dan penindas. Sekalipun dalam perjalanan ini dan sebelum mencapai kemenangan akhir, orang-orang merdeka dan tertindas gugur syahidr, mereka sebenarnya adalah pemenang akhir dan pahala mereka disimpan di tangan Allah.

Allah dalam surah Al-Imran ayat 169 berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”

 

Beberapa orang yang ekstrem menuduh Syiah sesat dalam Islam. Sedangkan Syiah meyakini prinsip-prinsip dasar Islam seperti tauhid, kenabian dan kebangkitan.

Sepanjang sejarah, beberapa perbedaan mazhab antara Syiah dan Sunni telah menyebabkan penyebaran interpretasi yang salah dan rumor palsu tentang keyakinan Syiah di kalangan Sunni. Kesalahpahaman dan kebohongan dalam sejarah ini sebagian besar dimunculkan oleh kelompok ekstrem dan tidak mencerminkan sikap umum kaum Sunni.

Dalam dua abad terakhir, khususnya di era pemberdayaan media, kolonialisme menjadi pemain kunci dalam hal ini dan mampu menyulut rasa kebencian terhadap Syiah di masyarakat Sunni dengan banyak melontarkan rumor. Hal ini meningkat dengan munculnya arus Takfiri.

Dalam kelanjutan artikel dari Pars Today ini, dibahas enam kebohongan dan tuduhan terbesar terhadap kaum Syiah:

1. Tahrif atau Perubahan Al-Qur’an

Salah satu tuduhan paling serius terhadap Syiah adalah kepercayaan terhadap tahrif Al-Qur'an. Klaim ini sepenuhnya salah. Seperti halnya Sunni, mazhab Syiah menganggap Al-Qur’an yang ada sebagai firman dan kalam Allah tanpa ada perubahan dan komitmen dengannya. Ide tahrif Al-Qur’an tidak mendapat tempat di kalangan Syiah, dan kitab-kitab asli Syiah juga menekankan masalah ini.

Di Iran, Al-Qur’an yang ada di tangan semua orang dan di masjid-masjid sama persis dengan yang ada di tangan masyarakat Arab Saudi, Mesir, Indonesia, dan Aljazair. Bahkan kitab-kitab Al-Qur’an banyak yang diimpor dari negara-negara Sunni. Tidak ada satu kata pun yang berbeda, tidak satu huruf pun!

2. Ghuluw atau sikap berlebihan terhadap para Imam

Tuduhan lain yang dapat dilontarkan kepada mazhab Syiah adalah bahwa mereka berlebih-lebihan terkait Ahlul Bait Nabi, khususnya Imam Ali as dan para imam lain dari keturunan Nabi, dan menganggap sebatas ketuhanan atau keilahian. Kesalahpahaman ini disebabkan karena tidak memahami makna “Wilayah” yang sebenarnya dan kedudukan imam dalam keyakinan Syiah.

Imam adalah pembimbing dan penafsir wahyu yang dibawa Nabi. Orang Syiah menyebut Ahlul Bait as sebagai manusia maksum atau yang terjaga dan suci sesuai dengan ayat 33 surah Al-Ahzab, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”, tapi tidak menyembah mereka sebagai Tuhan atau makhluk Ilahi. Kebohongan ini sama sekali tidak dipercaya oleh kaum Syiah. Para Imam mengutip semua hadits dari Nabi Muhammad SAW.

3. Bidah dalam Islam

Beberapa orang ekstrem menuduh Syiah melakukan bidah dalam Islam. Sedangkan Syiah meyakini prinsip-prinsip dasar Islam seperti tauhid, kenabian dan kebangkitan, dan tidak sependapat dengan Sunni hanya dalam beberapa masalah yurisprudensi dan hukum. Perbedaan yurisprudensi tersebut disebabkan oleh ijtihad ulama Syiah dan tidak berarti menambah bidah terhadap agama.

4. Tawasul kepada selain Allah

Mazhab Syiah menjadikan Nabi Muhammad SAW dan para Imam maksum as serta para wali Allah yang saleh sebagai perantara dan wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Pengikut Syiah percaya bahwa tawasul kepada Ahlu Bait as tidak berarti menyembah mereka, tetapi meminta syafaat dan permohonan dari orang-orang yang dekat dengan Tuhan.

Perbuatan ini berakar pada Al-Qur’an, di mana Allah berfirman,  “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maaidah: 35)

Al-Qur’an juga menyebutkan kisah tawasul anak-anak Nabi Yakub kepada ayah mereka, di mana mereka meminta Ya’qub as untuk meminta pengampunan kepada Allah atas dosa-dosa mereka, “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)’. (QS. Yusuf: 97)

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa tawasul mempunyai tempat yang sah tidak hanya dalam tradisi Syiah, tetapi juga dalam kitab suci dan sejarah para nabi, dan merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.

5. Permusuhan dan penghinaan sahabat Nabi

Salah satu tuduhan paling umum terhadap pengikuat Syiah adalah mereka menganggap para sahabat Nabi SAW sebagai musuh dan tidak menghormati mereka. Kebohongan ini juga merupakan tuduhan yang disengaja.

Faktanya, Syiah berpendapat bahwa ada dua kategori umum yang ditemukan di kalangan sahabat setelah Nabi. Satu kelompok dari mereka yang tetap setia sepenuhnya dan kelompok lainnya yang memutuskan sendiri suatu masalah.

Pengikut Syiah mengkritik beberapa perilaku kategori kedua, tapi seperti yang dikatakan oleh ulama Syiah dari lama hingga baru, seperti Imam Khomeini dan Imam Khamenei, penghinaan apa pun terhadap kategori kedua adalah haram.

Tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang ada gerakan sesat atau jahil yang mengatasnamakan Syiah melakukan penghinaan dalam sebuah pertemuan dan musuh-musuh persatuan Syiah-Sunni mengaitkannya dengan semua Syiah dengan menyebarkan satu penghinaan di media.

Dari sudut pandang seluruh marji taklid dan ulama Syiah, tidak boleh menghina para sahabat.

6. Menghina istri Nabi SAW

Tuduhan palsu dan umum lainnya adalah bahwa pengikut Syiah tidak menghormati istri Nabi dan memfitnah mereka. Padahal pengikut Syiah menghormati kedudukan istri-istri Nabi dan tidak pernah memasukkan fitnah seperti itu dalam keyakinan mereka.

Perbedaan penafsiran terhadap beberapa peristiwa sejarah tidak pernah berarti merendahkan pribadi dan kedudukan istri Nabi dalam keyakinan Syiah. Dari sudut pandang semua Syiah dan berdasarkan Al-Qur’an, istri Nabi adalah “Ummul Mukminin”.

Yang terakhir, tuduhan-tuduhan dan rumor-rumor ini sebagian besar dimunculkan oleh kelompok-kelompok penghasut media dan mereka yang ekstrem, sementara banyak warga Sunni yang tidak mempercayai keyakinan tersebut.