کمالوندی

کمالوندی

 

Menurut seorang peneliti, dari sudut pandang Imam Khomeini, pemahaman yang sehat dan pertentangan gagasan adalah cara untuk menyebarkan budaya Islam, dan platform yang paling jelas untuk mengeluarkan gagasan bukanlah perang dan kontroversi, melainkan dialog yang berprinsip dan mendasar dengan intelektual.

Bertepatan dengan Hari Filsafat Internasional, digelar Konferensi Nasional Filsafat Kebudayaan; Penekanan pada pandangan Imam Khamenei, di kota Qom dengan dihadiri banyak orang yang tertarik dengan topik filsafat.

Menurut laporan Parstoday mengutip Mehr News Agency (MNA), Sayid Mohsen Sharifi di panel ketiga konferensi ini menjelaskan dimensi teoritis pandangan Imam Khomeini di bidang ini.

Terkait hal ini, ia mengatakan: Dalam pandangan Imam Khomeini, kebudayaan adalah “kepala masyarakat dan otak para pemikir” dan dalam pandangannya, “sumber segala kebahagiaan dan kesengsaraan, pembangun dan pembaharu masyarakat dan kunci kemakmuran dan kemalangan masyarakat.” Namun, terdapat perbedaan jenis kebudayaan dalam pernyataan Imam Khomeini.  Diantaranya: “Budaya Islam, budaya kolonial, budaya ketergantungan, budaya kekaisaran dan budaya kemerdekaan”. Perlu dicatat bahwa budaya Islam dan budaya Barat sama-sama mengklaim misi global berdasarkan landasan teoretisnya. Tentu saja, dalam pandangan Imam Khomeini, kebudayaan Islam yang tidak terdistorsi lebih unggul dari kebudayaan Barat dan kebudayaan serta peradaban Barat karena banyak terjebak dalam banyak kerusakan berada di jalur keruntuhan dan kehancuran.

Sharifi menambahkan, terkait interaksi budaya Islam dengan budaya lain, khususnya budaya Barat, terdapat tiga perbedaan sikap di kalangan elite dunia Islam. Beberapa orang percaya bahwa budaya dan peradaban Barat harus diterima sebagai satu-satunya cara untuk maju; Kelompok lain sepenuhnya menafikan peradaban barat dan pencapaiannya serta meyakini bahwa hubungan antara budaya Islam dan budaya barat menyebabkan pencemaran dan penyimpangan peradaban Islam. Sikap ketiga didasarkan pada terjalinnya hubungan yang benar antar budaya dan mengatakan bahwa jika hubungan antara budaya dan peradaban dilakukan secara bijak dan kritis maka akan membawa pada pertumbuhan dan kemajuan. Dari karya dan perkataan Imam Khomeini terlihat pemikirannya sesuai dengan kelompok ketiga.

Peneliti ini melanjutkan: Unsur dan aksesoris kebudayaan barat meliputi dua lapisan utama. Lapisan pertama mencakup item yang tidak memiliki nilai atau tidak didasarkan pada basis pengetahuan tertentu, dan lapisan kedua mencakup item yang memiliki muatan nilai atau didasarkan pada basis pengetahuan tertentu. Posisi Imam Khomeini terhadap budaya Barat adalah posisi pemisahan; Artinya, mereka percaya bahwa kelemahannya, seperti kolonialisme dan westernisasi, serta manfaatnya, seperti kemajuan ilmu pengetahuan Barat, harus dipisahkan dan tidak dianggap sama. Oleh karena itu, mereka menerima beberapa aspek budaya dan peradaban Barat dan menolak beberapa aspek.

Imam Khomeini adalah salah satu pemikir dan ahli teori yang mampu mengambil jalan tengah dan seimbang di tengah konflik antara tradisi dan inovasi, yang meskipun menerima wujud inovasi dan kemajuan material, tidak mengorbankan unsur spiritualitas dan moralitas. Dari sudut pandang Imam Khomeini, pemahaman yang sehat dan konflik gagasan adalah cara untuk menyebarkan budaya Islam, dan platform yang paling jelas untuk mengeluarkan gagasan bukanlah perang dan kontroversi, tetapi dialog yang berprinsip dan mendasar dengan para pemikir dan intelektual, yang mana bisa disebut lapisan pemahaman kebudayaan. Dan itu dapat disebut sebagai tempat kesepahaman antar kebudayaan dan platform dialog kebudayaan dalam pemikiran Imam Khomeini.

Di akhir pidatonya, Sharifi mengisyaratkan: Pandangan Imam yang kedua adalah menyikapi sisi negatif budaya barat, yang menganggap kembali ke Islam sebagai satu-satunya cara umat Islam menghadapi dominasi Barat. Sikap Imam Khomeini ini dapat dianggap sebagai lapisan konfrontasi budaya, yang bersifat konfrontatif dan bertentangan dengan pemikiran dan budaya dominan Barat di era kontemporer, yang bertumpu pada humanisme, individualisme, dan orisinalitas keuntungan.

 

Seorang analis menilai teroris yang tersisa dari perang di Suriah dan Irak tidak lebih kuat dari Daesh, sehingga tugas pembersihan perlawanan menjadi lebih mudah.

Seiring dimulainya gencatan senjata antara Lebanon dan rezim Israel, banyak media yang berafiliasi dengan Israel dan sekutu Baratnya mencoba menggambarkan citra Tel Aviv sebagai pemenang, yang telah dikritik oleh banyak orang, terutama setelah peristiwa di Suriah.

Parstoday mengutip surat kabar Resalat membahas masalah ini dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Mohammed Kazem Anbarloui.

1- Henry Kissinger, Menteri Luar Negeri AS pada saat Perang Vietnam, sekaligus ahli strategi AS mengatakan,“Kelompok gerilya menang jika tidak bisa dilumpuhkan, tetapi tentara klasik dan resmi kalah, jika tidak bisa memenangkan perang".

Berdasarkan aturan ini, pemerintah Amerika pertama-tama menerima gencatan senjata dan kemudian berdamai dalam Perang Vietnam dan mengakhiri pembantaian berdarah yang termasuk dalam kejahatan perang, genosida, pembunuhan massal, dan pembantaian anak-anak dan perempuan di Vietnam.

Berdasarkan prinsip ini, Netanyahu yang menerima gencatan senjata dengan Hizbullah mau tidak mau harus mengakui kemenangan Hizbullah, dan rezim Zionis mengalami kekalahan telak. 

Peluncuran lebih dari 200 roket dan drone setiap hari oleh Hizbullah di Haifa, Tel Aviv dan wilayah utara wilayah pendudukan menunjukkan bahwa Hizbullah masih hidup dan bernafas serta dapat mengganggu rezim Zionis selama berbulan-bulan dengan kapasitasyang dimilikinya.

Lieberman, Lapid dan Gantz mengakui kekalahan Israel sebagai reaksi pertama terhadap isu gencatan senjata. Surat kabar rezim Zionis juga mengakui hal yang sama. Perasaan kemenangan masyarakat Lebanon dan para komandan Hizbullah adalah sebuah fakta obyektif. Tidak ada yang bisa menyangkalnya.

2- Ada tujuh alasan yang jelas mengapa Netanyahu menerima kekalahan:

A- Hujan rudal dan terbangnya drone dari Lebanon selatan tidak berhenti sedetik pun.

B- Penduduk di utara wilayah pendudukan yang berbatasan dengan daerah selatan Lebanon tidak kembali ke rumah mereka.

C- Dalam perundingan, Israel tidak dapat memanipulasi perjanjian 1701.

D- Rezim Zionis semakin banyak menimbulkan korban jiwa dalam serangan darat di Lebanon selatan.

E-Netanyahu berada di bawah tekanan berat dari oposisi pemerintah rezim Zionis.

F- Perhitungan tentang korban perang pager dan nirkabel serta dampak pembunuhan komandan yang salah tidak mungkin dilakukan. Hizbullah dengan cepat mengkompensasi kerusakan tersebut dengan menggunakan sistem perbaikan mandiri.

Z- Netanyahu tidak mencapai satu pun tujuan yang diumumkan sebelumnya.

3- Satu setengah jam setelah gencatan senjata, perang mendadak terjadi di Suriah utara di Aleppo. Ini bukanlah peristiwa yang terjadi secara acak. Ternyata Amerika dan rezim Zionis sudah memikirkan langkah-langkah untuk mengkompensasi kegagalan tersebut. Kelompok Takfiri yang didukung oleh Türki dan Israel serta beberapa negara Arab muncul dari belakang.

Serangan ini dilancarkan supaya rezim Zionis bisa bernafas segar, sekaligus menghentikan gerak Hizbullah. Mereka ingin memutus hubungan antara Palestina dan Lebanon dengan menyerang Suriah. Tapi teroris yang tersisa dari perang di Suriah dan Irak tidak lebih kuat dari para pengisap darah dan penjahat Daesh. Kepala mereka akan terbentur batu, dan tidak ada bahan bakarnya. Perlawanan telah menunjukkan bahwa mereka bukanlah pihak yang suka berperang, tetapi pejuang. Munculnya kejahatan Takfiri di Suriah utara adalah semacam keisengan militer, dan mereka akan segera dihukum berat.

4- Perkembangan politik dan militer terkini di Asia Barat dengan berita gencatan senjata dan kejahatan teroris di Suriah merupakan titik balik. Di dapur CIA, Mossad, dan Pentagon, para penjahat Amerika dan Zionis memasak makanan agar pemerintahan Amerika yang baru dapat merangsang keinginannya untuk melakukan pelanggaran hak asasi manusia, pembunuhan massal, dan genosida.

Hasil permainan di bidang nuklir sudah diketahui. Kejahatan Dewan Gubernur IAEA mengakibatkan Iran mengambil tindakan tegas terhadap tindakan nuklir baru. Di Lebanon, hasil pertandingan ditentukan. Permainan berlanjut di Suriah. Pada saat yang sama, pejuang perlawanan masih berkobar di Gaza. Para pejuang perlawanan di Irak tidak menutup gudang rudal dan drone mereka, dan di Yaman, hasil pertandingan masih berpihak pada kubu perlawanan.

 

Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman, mengabarkan serangan pasukan negara itu ke sebuah kapal perusak, dan tiga kapal logistik militer Amerika Serikat, di Laut Arab dan Teluk Aden.

Brigjen Yahya Sinwar, Minggu (2/12/2024) mengumumkan, Angkatan Bersenjata Yaman, melancarkan operasi militer gabungan luar biasa dalam menyerang satu kapal perusak, dan tiga kapal logistik pasukan AS.
 
Tiga kapal logistik pasukan Amerika Serikat yang diserang oleh pasukan Yaman, adalah Stena Impeccable, Maersk Saratoga, dan Liberty Grace.
 
Jubir Angkatan Bersenjata Yaman, menuturkan, pasukan negara ini melancarkan operasi gabungan dengan menembakkan 16 rudal balistik, rudal jelajah, dan sebuah drone di Laut Arab, serta Teluk Aden.
 
Brigjen Yahya Saree menambahkan, "Target-target operasi secara akurat dihantam oleh rudal-rudal, dan drone pasukan Yaman."
 
Pada saat yang sama, Saree menekankan bahwa operasi ini dilakukan dalam rangka mendukung rakyat tertindas Palestina, dan membalas serangan-serangan AS dan Inggris, ke Yaman.
 
"Angkatan Bersenjata Yaman, dengan kecepatan yang terus bertambah akan melanjutkan operasi militer di kawasan Asia Barat, terhadap Rezim Zionis, dan AS," ujarnya.
 
Angkatan Bersenjata Yaman, mengumumkan, dalam membalas kejahatan Rezim Zionis di Jalur Gaza, operasi-operasi militer anti-penjajah akan dilanjutkan, dan operasi ini hanya akan dihentikan jika agresi Rezim Israel, berhenti, dan blokade atas Gaza dicabut.
 
Serangan-serangan AS dan Inggris, ke Yaman, yang merupakan respons atas operasi militer Yaman, terhadap kapal-kapal afiliasi Rezim Zionis, di Laut Merah, Bab El Mandeb, dan Laut Mediterania, dilakukan untuk menyelamatkan Israel, dari blokade laut Yaman.
 
Angkatan Bersenjata Yaman, sejak November 2023, dalam rangka mendukung rakyat Palestina, di Jalur Gaza, melancarkan puluhan serangan rudal dan drone, ke posisi dan kapal-kapal dagang afiliasi Israel. 

 

Konsentrasi pasukan Suriah, menyerang infrastruktur teroris, memulihkan ketenangan di kota Hama, dan saling serang kelompok teroris memperebutkan pengelolaan kota Aleppo, termasuk di antara berita pilihan seputar Suriah.

Pasukan Suriah, dalam operasi militernya, memusatkan serangan ke infrastruktur-infrastruktur teroris, dan gudang-gudang senjata, posisi teroris, markas komando, pusat operasi, konvoi penyelamatan dan jalur penghubung di antara mereka.
 
Stasiun televisi Alalam melaporkan, akibat serangan pasukan Suriah, kelompok-kelompok teroris melemah, dan sudah kehilangan sebagian kemampuan serangan serta kekuatan senjatanya, sehingga sudah tidak ada kemungkinan untuk melakukan kontak dengan mereka.
 
 
Pulihnya Ketenangan di Kota Hama
 
Koresponden stasiun televisi Alalam di Suriah, melaporkan dari Bundaran Al Assi, kota Hama, sehari setelah kelompok-kelompok teroris berusaha masuk ke timur laut Rif Hama, dan menduduki sejumlah desa di wilayah itu, saat ini lalu lintas kendaraan dan orang, sudah normal kembali.
 
Menurut laporan wartawan stasiun televisi Alalam, masyarakat sudah kembali ke rumah-rumah mereka di Hama, dan memulai aktivitas mereka bersamaan dengan pembersihan wilayah itu dari teroris.
 
 
Teroris Berebut Wilayah-Wilayah yang Diduduki Aleppo
 
Wartawan stasiun televisi Al Mayadeen, mengumumkan, para teroris dari kelompok Haiat Tahrir Al Sham, dan Jaysh Al Islam, bertikai memperebutkan wilayah-wilayah yang diduduki di kota Aleppo.
 
Wartawan TV Al Mayadeen, mengatakan, perselisihan sangat dalam terjadi di kelompok teroris ini, dan berujung dengan pertempuran yang menewaskan Abuzar Muhambel, salah satu pemimpin kelompok teroris Haiat Tahrir Al Sham. TV Al Mayadeen, juga mengabarkan penangkapan sejumlah teroris dari kelompok Jaysh Al Islam.
 
 
Serangan Udara Jet Tempur Suriah ke Posisi Teroris di Idlib dan Aleppo
 
Angkatan Udara Suriah, melancarkan serangan ke posisi kelompok-kelompok teroris di sejumlah wilayah berbeda di negara ini.
 
Kementerian Pertahanan Suriah, mengumumkan, puluhan milisi bersenjata terbunuh dan terluka dalam pemboman bersama Suriah dan Rusia, di sekitar distrik Al Safirah, di sekitar Aleppo.
 
Berdasarkan kesepakatan Suriah dan Rusia, dalam beberapa hari ke depan, persenjataan tambahan dari Rusia, akan tiba di pangkalan udara Hmeimim, di Suriah, dan akan digunakan untuk melawan teroris di Aleppo dan Idlib.
 
Kementerian Kesehatan Suriah mengumumkan, dengan memperhatikan situasi yang berkembang saat ini di Aleppo, sistem gawat darurat di kota ini lumpuh total.
 
 
Pengiriman Kendaraan Lapis Baja Irak ke Perbatasan Suriah
 
Kementerian Pertahanan Irak mengumumkan, kendaraan-kendaraan lapis baja negara ini dalam rangka menjaga keamanan perbatasan, dikirim ke wilayah Al Qaem, dan dari selatan hingga perbatasan Yordania.
 
Sebuah sumber keamanan Irak mengatakan, kendaraan-kendaraan lapis baja pasukan Irak, sudah dikerahkan ke perbatasan Suriah dan Yordania.
 
 
Teroris Larang Bantuan Kemanusiaan Masuk ke Aleppo
 
Kelompok-kelompok teroris yang berada di Aleppo, menutup jalan-jalan keluar kota ini. Para teroris di wilayah ini melarang masuknya bantuan kemanusiaan, dan sampainya bantuan itu ke warga sipil di wilayah Al Safirah.
 
Kementerian Kesehatan Suriah, mengabarkan infrastruktur-infrastruktur medis, dan pengobatan di kota Aleppo, diserang oleh kelompok-kelompok teroris.
 
 
Teroris Mengklaim Kemajuan di Sekitar Wilayah Utara Aleppo
 
Stasiun televisi Al Jazeera, mengutip anasir-anasir kelompok teroris mengklaim telah mengalami kemajuan di sekitar wilayah utara kota Aleppo. Para teroris mengklaim telah merebut desa Umm Hawsh, Al Wahsheia, Fafeen, dan Sad Al Shahbaa, yang terletak di sekitar wilayah utara Aleppo.
 
Sebelumnya para teroris juga mengaku telah merebut empat desa di pinggiran Aleppo, setelah terlibat pertempuran sengit dengan pasukan Suriah, dan Pasukan Demokratik Kurdi Suriah, SDF.
 
Di sisi lain, dalam operasi-operasi malam lalu, jet-jet tempur Rusia dan Suriah, membunuh puluhan anasir teroris di berbagai wilayah Suriah. Stasiun televisi Suriah, mengabarkan terbunuhnya sekitar 1.000 teroris dalam tiga hari terakhir.

 

Anggota Majelis Rendah Inggris, dalam suratnya untuk Menteri Luar Negeri negara ini menuntut sanksi dan pelarangan penandatanganan segala bentuk kontrak ekonomi atau perdagangan dengan Israel.

60 anggota Majelis Rendah Inggris, Jumat (29/11/2024) yang dipimpin oleh dua anggota independen di Parlemen bernama Richard Burgon, dan Imran Hussain, melayangkan surat kepada Menlu Inggris, David Lammy, menuntut penjatuhan sanksi komprehensif atas Israel, karena terus melanggar hukum internasional.
 
Dalam surat itu juga disinggung soal keputusan Mahkamah Internasional, ICJ, pada Juli lalu bahwa pendudukan Israel, di wilayah Palestina, melanggar hukum, dan anggota Parlemen Inggris, menuntut diakhirinya pendudukan tersebut sesegera mungkin.
 
Sebelumnya pada hari Kamis, pada pendukung Palestina, berunjuk rasa di depan gedung Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perdagangan Inggris. Mereka menuntut boikot segera terhadap ekspor senjata ke Israel.
 
Para demonstran dalam aksinya meminta pemerintah Inggris, tidak terlibat dalam genosida di Gaza, yang telah menyebabkan lebih dari 44.000 orang gugur di tangan Israel sejak 7 Oktober 2023.
 
Beberapa bulan lalu, salah seorang pejabat Kemlu Inggris, Mark Smith, juga mundur dari posisinya sebagai protes atas kerja sama negaranya dengan Rezim Zionis, dalam genosida terhadap rakyat Palestina di Gaza.
 
Diplomat senior Inggris itu menulis, "Sangat jelas bahwa Israel, sedang melakukan kejahatan perang di Gaza, dan saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan saya sebagai sekutu kejahatan mengerikan ini." 

 

Seorang analis Zionis menyoroti situasi kritis rezim Israel di Jalur Gaza dengan menyebut para pejuang Palestina sebagai musuh bebuyutan yang berperang melawan tentaranya.

Fras Oglu, seorang analis dan pakar masalah Turki, juga mengatakan bahwa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon terjadi setelah Tel Aviv menerima pukulan yang menyakitkan dari pasukan perlawanan.

Menurut Pars Today, ketakutan Perdana Menteri rezim Zionis, kekuatan pencegahan Iran di kawasan dan serangan mengerikan Hizbullah terhadap Israel adalah beberapa topik yang akan Anda baca dalam paket berita ini dari sudut pandang para analis

Ketakutan Netanyahu dan ancamannya terhadap Assad

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini mengancam Presiden Suriah Bashar Assad dan mengklaim transfer senjata dilakukan dari Suriah ke perlawanan Hizbullah Lebanon. Netanyahu menyebut pemerintah Suriah sedang bermain api.

Khaled Kakoosh, seorang analis politik dan ketua partai Al-Shabaab al-Watani di Suriah menggambarkanancaman Benyamin Netanyahu terhadap Bashar Assad sebagai bentuk kekhawatirannya. Kakoosh mengatakan, "Ancaman Israel terhadap Suriah dimulai ketika Damaskus mulai bekerja sama dengan kelompok perlawanan".

Analis politik ini menilai ancaman tersebut tidak hanya akan menyebabkan perubahan kebijakan di Suriah, namun justru menunjukkan ketidakmampuan rezim Zionis mencapai tujuannya di Lebanon.

Perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Lebanon dibayangi oleh pukulan menyakitkan Hizbullah terhadap rezim Zionis

Firas Oglu, seorang analis dan pakar masalah Turki, mengatakan, "Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon terjadi setelah Tel Aviv menerima pukulan yang menyakitkan."

Firas Oglu menyatakan bahwa rezim Israel adalah rezim nukliryang didukung oleh Barat, dan menambahkan, "Israel tidak dapat memperoleh keuntungan apa pun dalam perang melawan Lebanon. Itulah sebabnya dia berusaha melarikan diri dari perang karena dia menderita kerugian dan korban jiwa yang besar, terutama di medan perang".

Pejuang Palestina, musuh bebuyutan rezim Israel

Analis Zionis, Mikhail Milistein menyinggung situasi buruk rezim Israel di Jalur Gaza, dan menyebut para pejuang Palestina sebagai musuh bebuyutan yang berperang melawan militer Israel.

Analis Zionis ini mengakui bahwa Israel terlibat dalam perang di Gaza yang tampaknya belum memiliki akhir yang pasti.

Iran mengurangi kekuatan Israel dan Amerika di kawasan

Sayed Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran kepada wartawan selama kunjungannya ke Portugal mengatakan, "Jika Barat terus mengancam untuk menerapkan kembali semua sanksi PBB terhadap Tehran, maka perdebatan nuklir di Iran mungkin akan mengarah pada kepemilikan senjata."

Dewan Hubungan Luar Negeri Amerika menulis dalam sebuah laporan analitis mengenai hal ini dengan mengatakan, "Jika dalam waktu yang tidak lama lagi, Iran dapat menguji senjata nuklirnya dalam waktu semalam. Hal ini akan mengurangi kekuatan Israel dan Amerika Serikat di kawasan. Analisis tersebut menyatakan, "Banyak pakar kebijakan luar negeri memperingatkan bahwa Iran yang memiliki senjata nuklir akan menimbulkan ancaman besar bagi Israel dan menantang kepentingan Amerika Serikat dan berbagai mitranya di Asia Barat."

Dampak ancaman tarif Trump terhadap eksportir Eropa

Analis di Deutsche Bank menyatakan kekhawatirannya bahwa ancaman tarif Trump dapat menyebabkan biaya yang lebih tinggi bagi eksportir Eropa, khususnya di sektor otomotif. Mereka meyakini jika tarif ini diterapkan, maka hal ini dapat mengganggu rantai pasokan dan mengurangi daya saing produsen ekonomi Eropa di pasar AS. Kenaikan tarif yang berkelanjutan juga dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi di Zona Euro.

Kemajuan Rusia di Ukraina

Analis militer di Institute for War Studies yang berbasis di Washington menyatakan bahwa pasukan Rusia baru-baru ini terus maju dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dibandingkan tahun 2023.

Para ahli ini percaya bahwa kemajuan pasukan Rusia di tenggara Ukraina sebagian besar merupakan hasil eksploitasi taktis terhadap kerentanan garis depan Ukraina.

 

Mahkamah Internasional (ICJ) tanpa mengisyaratkan pembagian tak adil, hanya membatasi pemulangan rakyat Palestina yang diusir tahun 1967.

Catatan- Di dunia yang terkesan mengusung slogan keadilan, sistem hukum internasional masih terlibat kontradiksi yang mengingatkan kita pada masa kelam kolonialisme. Keputusan Mahkamah Internasional (ICJ) baru-baru ini mengenai Palestina tidak hanya tidak mendekati keadilan, namun juga jelas menunjukkan keterlibatan sistem ini dengan mekanisme kolonialisme. Keputusan ini sekali lagi membuktikan bahwa hukum internasional, alih-alih menjadi alat kebebasan, malah sering menjadi platform untuk melegitimasi pemerintahan kolonial.

 

Melegitimasi Kolonialisme Zionis

Resolusi PBB no. 181 tahun 1947, dengan pembagian Palestina yang tidak adil, meletakkan dasar bagi dominasi Zionisme. Keputusan yang menyerahkan 56 persen wilayah Palestina kepada imigran Yahudi Eropa ini merupakan titik balik dalam sejarah kolonialisme modern. Pada tahun 1967, setelah peristiwa yang dikenal sebagai Naksa, Israel mengambil kendali atas Tepi Barat dan Jalur Gaza selain wilayah Palestina sebelumnya. Kini, Mahkamah Internasional, tanpa menyebutkan pembagian yang tidak adil ini, telah membatasi pemulangan warga Palestina hanya pada mereka yang diusir pada tahun 1967. Pekerjaan Mahkamah Internasional ini telah membagi sejarah menjadi dua bagian, yaitu “dapat diperdebatkan” dan “dapat diabaikan”.

Pendekatan ini sepertinya telah melupakan bahwa kembalinya warga Palestina adalah hak yang melekat pada mereka, bukan sebuah bantuan yang diberikan oleh sistem internasional. Kembalinya warga Palestina bukan hanya simbol berakhirnya penjajahan, tapi juga awal rekonstruksi tanah yang hilang. Namun pendekatan Mahkamah ini membatasi kembalinya proses hukum yang ditentukan dalam kerangka kolonial.

 

Apartheid atau Keadilan?

Menariknya, dalam putusan Mahkamah Internasional, kata “apartheid” pun tidak digunakan. Sementara itu, kebijakan Israel terhadap Palestina bukan hanya merupakan contoh pelanggaran HAM, namun juga merupakan cerminan nyata dari sistem apartheid. Mengabaikan fakta ini, ICJ telah mereduksi pendudukan Palestina menjadi isu “hak asasi manusia”.

 

PBB: Alat Kolonialisme atau Kekuatan Pembebasan?

Kontradiksi terbesar di sini adalah peran PBB. Institusi yang dimaksudkan sebagai simbol kesetaraan dan kebebasan justru menjadi alat untuk melegitimasi kolonialisme. Mulai dari Mandat Inggris atas Palestina, yang menyebabkan imigrasi orang-orang Yahudi di Eropa, hingga resolusi-resolusi yang tidak pernah dilaksanakan sepenuhnya, PBB secara efektif telah gagal melawan hegemoni Israel.

 

Jalan ke depan: Strategi Tekanan Sipil

Namun situasi ini jangan sampai membuat kita putus asa. Putusan Mahkamah Internasional, meski belum lengkap, dapat menjadi alat untuk memobilisasi opini publik. Gerakan-gerakan sipil dapat menggunakan keputusan ini sebagai dokumen untuk mengutuk hubungan ekonomi dan politik dengan Israel. Gerakan boikot, pencabutan investasi dan sanksi ekonomi gerakan BDS adalah salah satu solusi yang dapat menantang Israel dan memaksa sistem hukum internasional untuk mempertimbangkan kembali pendekatannya.

 

Keadilan: Mimpi atau Kenyataan?

Putusan Mahkamah Internasional baru-baru ini menunjukkan sekali lagi bahwa keadilan, khususnya bagi masyarakat terjajah, bukanlah sebuah proses hukum semata, melainkan sebuah perjuangan politik. Meskipun sistem internasional masih terjebak dalam kesenjangan dan kontradiksi historis, rakyat Palestina dan para pendukungnyalah yang harus membuka jalan menuju keadilan sejati dengan menciptakan tekanan dan persatuan. Seperti kata-kata Ghassan Kanafani, seorang penulis Palestina: "Mereka mencuri roti Anda dan kemudian memberi Anda sepotong. Lalu mereka meminta Anda untuk bersyukur atas kemurahan hati mereka... Sungguh sebuah keberanian!" 

 

Menurut Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, terdapat koordinasi yang matang antara rezim Zionis bahkan pemerintah AS dengan kelompok teroris Takfiri di Suriah.

Kelompok teroris, dengan dukungan beberapa negara dan ketambahan pasukan asing baru, melancarkan serangan besar-besaran terhadap posisi tentara Suriah di wilayah utara dan barat negara itu, setelah gencatan senjata antara Lebanon dan Israel.

Percakapan telepon antara Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang situasi di Suriah, pergerakan teroris di Suriah sesuai dengan rencana luar negeri, kehadiran tentara bayaran Ukraina di antara teroris di Suriah, pembebasan beberapa wilayah di provinsi Aleppo dan Hama di Suriah dan Pembunuhan 100 teroris di Suriah adalah beberapa perkembangan terkini di Suriah.

Dalam laporan ini, Pars Today telah merangkumnya untuk Anda.

Konsultasi antara Putin dan Pezeshkian tentang Suriah

Dalam percakapan telepon pada Senin (2/12) malam, Presiden Iran dan Rusia menganggap pergerakan teroris baru-baru ini di Suriah utara sebagai ancaman serius terhadap stabilitas dan keamanan negara dan kawasan. Dalam panggilan telepon tersebut, kedua pihak menekankan kerja sama bersama untuk membantu pemerintah Suriah dalam menangani kelompok teroris di negaranya.

Araghchi: Ada Koordinasi Penuh antara Israel-AS untuk Aksi Teroris di Suriah

Sayid Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, pada Senin (2/12) malam, mengacu pada perkembangan di Suriah mengatakan, Ada koordinasi penuh antara rezim Zionis, Amerika Serikat, dan kelompok teroris, dan jalannya peristiwa menunjukkan koordinasi dan mobilisasi para teroris.

Menurutnya, Sebagaimana pemerintah Suriah berada bersama Iran di masa serangan rezim Baath Irak ke Iran, Tehran juga akan berada di pihak Damaskus.

Hossein Akbari, Duta Besar Iran di Damaskus, menekankan pada Senin (2/12) malam, Hubungan Iran-Suriah berada pada tingkat yang sangat tinggi dan menyatakan bahwa kedua negara saling melindungi dan melindungi dalam situasi sulit.

Atwan: Rencana segitiga Amerika-Zionis-Turki untuk Suriah pasti akan gagal

Sehubungan dengan hal tersebut, Abdel Bari Atwan, seorang analis terkenal dunia Arab, dalam sebuah artikel di Rai Al-Youm, mengacu pada perkembangan di Suriah dan jejak segitiga Amerika, rezim Zionis dan Turki dalam perkembangan tersebut, menulis, Apa yang terjadi di Suriah saat ini adalah pengulangan skenario yang dilakukan Amerika sejak awal tahun 1991, yaitu pengepungan dan kelaparan parah sebelum menyerang dan pendudukan militer di Irak setelah 12 tahun untuk menggulingkan rezim sebelumnya. Namun skenario ini tidak sejalan dan pasti akan gagal karena Suriah memiliki tentara yang kuat, basis massa, dan sekutu strategis Rusia dan Presiden Putin serta poros perlawanan yang dipimpin Iran, yang kuat secara militer.

Mohananad Al-Aqabi, Direktur Media Organisasi Al-Hashd Al-Shaabi Irak mengatakan pada Selasa (3/12) pagi, Teroris di Suriah beroperasi sesuai dengan rencana asing, dan tujuan mereka adalah mengganggu stabilitas kawasan.

Dalam pernyataannya, Partai Popular Front Tunisia menilai aksi teroris di Suriah sebagai langkah menuju implementasi rencana rezim Zionis yang dikenal sebagai Timur Tengah Baru dengan dukungan Amerika Serikat.

Dalam pernyataannya tersebut, Partai Popular Front Tunisia menegaskan, Kelompok teroris hanyalah kelompok fungsional dan alat musuh Zionis dan pemerintah Amerika.

Menurut laporan Al-Alam, Tehran, ibu kota Iran menyaksikan unjuk rasa protes di depan kedutaan Turki pada hari Senin (2/12), yang mengutuk dukungan rezim Zionis, Amerika dan Turki terhadap Takfiri dan kelompok teroris di Suriah.

Salah satu warga Suriah yang tinggal di Tehran mengatakan kepada wartawan Al-Alam dalam demonstrasi ini, Turki baru-baru ini memainkan peran yang meragukan di kawasan dan telah membuktikan punya beberapa wajah dan salah satunya mendukung kelompok bersenjata yang melakukan kejahatan di Suriah saat ini dan mendapat berbagai dukungan.

Sementara itu, televisi Al-Mayadeen melaporkan pada Selasa (3/12) pagi, mengutip sumber-sumber Suriah bahwa tentara Ukraina hadir di Suriah bekerja sama dengan kelompok teroris Front Tahrir Al-Sham.

Situs Kyiv Post mengumumkan beberapa waktu lalu, Para anggota kelompok teroris Tahrir al-Sham, yang aktif di Suriah utara, telah menerima pelatihan khusus dari kelompok Khimik, pasukan yang terkait dengan dinas intelijen Ukraina. Para teroris ini telah mengalami periode khusus penggunaan drone di Ukraina.

Menurut laporan Al-Alam pada hari Senin (2/12) malam, Bersamaan dengan meningkatnya aktivitas teroris di Suriah, tim penasihat militer Iran tiba di Damaskus, ibu kota Suriah, sebagai bagian dari perjanjian kerja sama keamanan dan politik militer Iran-Suriah, untuk membantu negara ini menangani serangan teroris.

Sebuah sumber yang berafiliasi dengan kelompok perlawanan juga mengkonfirmasi dalam percakapan dengan Al-Mayadeen bahwa peralatan militer dan bantuan telah dikirim ke garis depan di utara dan timur Hama dan selatan Aleppo.

Dalam perbincangannya dengan Al-Mayadeen, sumber tersebut mengatakan bahwa bantuan itu meliputi kekuatan dan perlengkapan militer yang dikirimkan dengan tujuan untuk memperkuat tentara Suriah dalam melawan serangan kelompok teroris.

100 teroris tewas di Suriah

Sementara itu, Pusat Rekonsiliasi Rusia di Suriah mengumumkan pada Senin (2/12) malam bahwa setidaknya 100 teroris tewas di Suriah dalam 24 jam terakhir.

Menurut laporan wartawan Al-Alam pada hari Senin (2/12), setelah beberapa hari serangan yang dilakukan oleh kelompok teroris, jumlah korban tewas kelompok tersebut telah mencapai 1.400 orang di berbagai wilayah di Suriah.

Sumber berita juga melaporkan bahwa tentara Suriah telah merebut kembali desa Al-Rahjan dan Al-San di pinggiran timur laut Hama (Suriah barat) setelah bentrokan sengit dengan kelompok teroris dan Takfiri.

Menurut sumber tersebut, tentara Suriah membebaskan daerah Umm Amud di pinggiran kota Al-Safira di timur Aleppo (Suriah utara) dari pendudukan teroris.

Televisi Al-Mayadeen juga mengumumkan kemajuan tentara Suriah menuju Al-Safira pada Selasa (3/12) pagi dan mencatat bahwa kemajuan ini berarti kembalinya pasukan Suriah dengan cepat ke desa-desa di provinsi Aleppo.

 

Duta Besar Iran untuk Rusia mengatakan, peningkatan kerja sama dengan organisasi-organisasi regional dan internasional seperti Organisasi Kerja Sama Shanghai, SCO, dan BRICS merupakan bagian dari kebijakan umum Republik Islam Iran.

Euronews melaporkan, Presiden terpilih Amerika Serikat, mengancam negara-negara BRICS jika berusaha menghapus dolar dari transaksi perdagangan mereka, maka harus mengucapkan selamat tinggal dengan pasar AS.
 
Trump dalam pesannya di media sosial Truth Social, menyebut ide negara-negara BRCIS untuk menghapus dolar Amerika, dari perdagangan di antara mereka, adalah ide gagal.
 
Ia menulis, "Era ketika negara-negara BRICS berusaha menjauh dari dolar, dan kami hanya diam serta menonton, sudah habis."
 
Presiden AS menambahkan, "Kami menuntut komitmen negara-negara ini untuk tidak menciptakan mata uang baru BRICS, dan tidak mendukung mata uang lain untuk menggantikan dolar perkasa milik AS, jika tidak, mereka akan menghadapi tarif 100 persen, dan harus mengucapkan selamat tinggal atas penjualan produk-produk di ekonomi AS yang luar biasa."
 
 
Respons Rusia atas Ancaman Trump
 
Kantor berita Sputnik melaporkan, Juru bicara pemerintah Rusia, Dmitry Peskov, merespons ancaman Presiden terpilih AS, Donald Trump, terhadap negara-negara BRICS. Ia mengatakan, penggunaan kekerasan dan sanksi yang dilakukan AS, untuk memaksa negara-negara dunia menggunakan dolar, akan memberikan hasil yang kontraproduktif.
 
Peskov menuturkan, "Masalahnya bukan hanya negara-negara BRICS saja. Secara umum, jumlah negara yang mulai mengganti dolar dengan mata uang nasional dalam perdagangan dan aktivitas-aktivitas ekonomi luar negerinya terus bertambah banyak."
 
Ia melanjutkan, "Di sisi lain, jika AS seperti yang dikatakan negara itu, memaksa negara-negara dunia menggunakan dolar dengan menggunakan pengaruhnya, maka kemungkinan proses penggunaan mata uang nasional akan semakin kuat dan intens."
 
Para Pelajar Rusia Mengenal Aktivitas-Aktivitas BRICS
 
Stasiun televisi BRICS mengabarkan, lebih dari 500 pelajar dari berbagai wilayah Rusia, menghadiri festival BRICS yang diselenggarakan di kota Moskow. Para peserta festival tersebut mengenal budaya, bahasa, dan tradisi negara-negara anggota BRICS, serta aktivitas-aktivitas negara-negara itu.
 
Igor Putintsev, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Wakil Dekan Fakultas Pendidikan Pra-Universitas, MGIMO School of International Relations, mengatakan, mendidik profesional yang menguasai bahasa negara-negara BRICS, dapat memainkan peran kuci dalam penguatan hubungan internasional.
 
Editor portal berita TV BRICS juga menjadi tamu istimewa dalam festival tersebut. Ia menjelaskan kekhususan pekerjaan editor berita, tim blogger BRICS, dan proyek-proyek jaringan media internasional BRCIS View, kepada para pelajar, dan menerangkan prinsip pertukaran informasi TV BRICS dengan mitra-mitra asing, kepada para peserta festival.
 
Alexander Khanarov, Ketua Asosiasi Mahasiswa Rusia, berbicara tentang platform internasional mahasiswa pertama di dunia untuk memproduksi ide-ide negara anggota BRICS, dalam format BRICS Project Lab.
 
Selain itu, dosen senior Bahasa Indo-Iran, dan Afrika, menjelaskan karakteristik mengajar Bahasa India, yang dipakai oleh sekitar 500 juta orang. Untuk diketahui, festival ini diselenggarakan oleh MGIMO University, bekerja sama dengan TV BRICS.
 
 
Kebijakan Iran Meningkatkan Kerja Sama dengan Rusia, BRICS dan SCO
 
Duta Besar Iran untuk Rusia, mengatakan, peningkatan kerja sama dengan organisasi-organisasi regional dan internasional seperti Organisasi Kerja Sama Shanghai, SCO, dan BRICS, merupakan kebijakan umum Iran.
 
Kedubes Iran, di Moskow, mengabarkan penyelenggaraan dialog, dan pengambilan kesimpulan dari pertemuan-pertemuan perwakilan negara BRICS, dengan kepala-kepala jawatan kereta api negara-negara anggota SCO, di Kedubes Iran.
 
Pertemuan yang dihadiri oleh Dubes Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, Jabbar Ali Zakeri, Deputi Menteri Jalan dan Pembangunan Kota Iran, dan Majid Samadzadeh Saber, Pejabat urusan BRICS, di Kementerian Luar Negeri Iran, itu, menekankan berlanjutnya kerja sama Iran dan Rusia, di tingkat bilateral, regional, dan internasional. 

 

Operasi Wa'd Sadiq 1 bagi Republik Islam Iran, merupakan sebuah evaluasi militer makro. Dalam operasi ini, Iran, secara bersamaan mengoperasikan drone, rudal jejalah, dan rudal balistik.

Pada operasi Wa'd Sadiq 1, Iran, berusaha menguji sistem-sistem canggih pertahanan Israel, termasuk sistem pertahanan udara buatan Amerika Serikat dan Eropa, di medan tempur yang sebenarnya.
 
Hasilnya pada operasi Wa'd Sadiq 2, berdasarkan evaluasi sebelumnya, sekitar 90 persen dari rudal-rudal yang ditembakkan Iran, tepat mengenai sasaran. Tapi Operasi Wa'd Sadiq 3 nampaknya memiliki skenario lain.
 
Beberapa waktu lalu, Menteri Luar Negeri Iran Sayid Abbas Araghchi, kepada stasiun televisi Al Mayadeen, mengatakan, "Kami mengamati perkembangan kawasan secara seksama dalam beberapa bulan terakhir, dan dalam rentang waktu ini Rezim Zionis berusaha menyeret Iran, ke dalam perang di kawasan, lalu menyeret pihak-pihak lain ke dalam perang untuk menciptakan perang luas, tapi kami bertindak cerdas sehingga tidak masuk ke dalam perangkap Rezim Zionis, tapi kami kembali ke serangan dan kejahatan-kejahatan Rezim Zionis, dan terakhir rezim ini menyerang Iran. Maka dari itu Republik Islam Iran, berhak membalas, dan pembalasan ini adalah langkah legal serta sesuai dengan hukum internasional, dan serangan ini pasti dilakukan."
 
Ia menambahkan, "Pembalasan atas agresi Rezim Zionis, pasti, tapi pada kondisi apa, kapan, dan seperti apa bentuknya, semua ini tergantung pada kondisi yang tepat dan terbuka untuk melaksanakannya. Tapi kami akan bertindak cerdas, karena dalam melaksanakan operasi ini kami tidak akan menunda dan juga tidak akan tergesa-gesa, dan operasi Wa'd Sadiq 3 akan dilakukan sesuai janji Republik Islam Iran."
 
Pengamat masalah militer dan pertahanan Iran, Mahdi Bakhtiari, dalam artikelnya yang dimuat surat kabar Hamshahri, menganalisa operasi Wa'd Sadiq 1 dan 2, serta menjelaskan perbedaannya dengan operasi Wa'd Sadiq 3.
 
Ia menulis, "Operasi militer Wa'd Sadiq 1 dan 2, sekalipun keduanya dirancang dan dilakukan untuk menyerang posisi Rezim Zionis, dari sisi peralatan dan metode-metode taktis, memiliki perbedaan yang signifikan, sehingga layak dikaji secara lebih mendalam. Dalam hal ini sejumlah selentingan terkait operasi Wa'd Sadiq 3 menyebutkan area serangan dan skenario-skenario yang akan terjadi.
 
Operasi Wa'd Sadiq 1, merupakan sebuah evaluasi militer makro bagi Republik Islam Iran. Dalam operasi ini, Iran, secara bersamaan mengoperasikan drone, rudal jejalah, dan rudal balistik.
 
Pada operasi Wa'd Sadiq 1, Iran, berusaha menguji sistem-sistem canggih pertahanan Israel, termasuk sistem pertahanan udara buatan Amerika Serikat dan Eropa, di medan tempur yang sebenarnya.
 
Tujuannya, mengukur ketahanan sistem-sistem pertahanan udara yang telah dimodernisasi oleh Rezim Zionis, setelah Perang 33 Hari Lebanon, tahun 2006, dengan biaya raksasa. Dalam operasi Wa'd Sadiq 1, kita menyaksikan sebuah skenario militer berlapis yang di dalamnya bantuan-bantuan AS, Inggris, dan bahkan Prancis, tidak berhasil menghalangi pertunjukan kemampuan Iran, menembus garis merah pertahanan Rezim Zionis.
 
Pada operasi kedua, Iran, mengubah strategi dan hanya menggunakan rudal-rudal balistik canggih. Kali ini, rudal-rudal hipersonik Fattah, digunakan, dan membuahkan hasil yang mengejutkan. Data menunjukkan dari 200 rudal yang ditembakkan ke Wilayah pendudukan, 180 rudal mengenai target yang ditetapkan.
 
Tingkat akurasi dan keberhasilan dalam operasi ini telah membuat sistem-sisterm pertahanan udara Israel, seperti Arrow 1 sangat kesulitan, dan ketidakefesienan sistem ini terungkap jelas. Akibat kekalahan ini, Israel, terpaksa menggunakan sistem pertahanan THAAD buatan AS untuk menutupi kekurangannya, dan langkah ini menunjukkan rezim itu sangat khawatir dan cemas dengan kekuatan militer Iran.
 
Sekarang, menjelang operasi Wa'd Sadiq 3, analisa-analisa yang ada memusatkan perhatian pada dua perubahan asasi. Pada operasi-operasi sebelumnya, konsentrasi Iran, dipusatkan lebih banyak pada markas-markas militer Rezim Zionis, dan menghindari serangan ke infrastruktur kota serta ekonomi Israel.
 
Akan tetapi, dalam operasi berikutnya, kemungkinan target serangan adalah fasilitas-fasilitas sensitif seperti ladang gas, sumber minyak dan infrastruktur-infrastruktur air Israel. Langkah semacam ini dapat memberikan kerugian besar dan tidak bisa diperbaiki oleh Rezim Zionis.
 
Meskipun Iran, sampai sekarang telah menggunakan rudal-rudal balistik Ghadr, Emad dan Fattah, namun masih belum menggunakan rudal-rudal strategis Khorramshahr dan Sejjil. Rudal-rudal ini memiliki jangkauan dan daya rusak yang tinggi, serta merupakan kunci kemenangan Iran, di hadapan segala bentuk petualangan perang Israel. Bahkan jika diulang, peralatan operasi Wa'd Sadiq 2, kembali digunakan dan hanya target-targetnya yang berbeda, maka akan memberikan dampak berkali-kali lipat.
 
Pada akhirnya operasi-operasi Wa'd Sadiq, adalah simbol kekuatan Republik Islam Iran, di hadapan sebuah rezim yang selalu mengancam dan menyerang, serta membahayakan keamanan kawasan. Meski detail akurat Wa'd Sadiq 3 masih tersembunyi, namun ada satu hal yang pasti, dan itu adalah operasi ini akan dilakukan dengan strategi dan instrumen baru, dan akan menjadi pembalasan tegas atas ambisi kosong Rezim Zionis.