کمالوندی

کمالوندی

Jumat, 15 Mei 2020 14:04

Filosofi Hukum dalam Islam (13)

 

Salah satu tujuan politik Islam adalah menciptakan ikatan dan hubungan di antara hati dan pemikiran berlandaskan akidah dan iman sehingga umat Islam dengan cara ini dapat menjadi sebuah komunitas kokoh dan kuat di hadapan musuh.

Umat Islam akan berdiri melawan semua konspirasi luas musuh, dan dengan menggagalkan semua skenario mereka, ia membuka paluang terwujudnya cita-cita luhur Ilahi dan kemanusiaan. 
 
Dengan visi semacam inilah shalat Jumat sebagai simbol agung masyarakat Islami dalam budaya politiknya, menempati kedudukan khusus di dalam Al Quran dan ajaran Nabi Muhammad Saw, serta keluarga sucinya. Terkait hal ini Al Quran mengatakan, 
 
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Surat Al Jumu’ah ayat 9)
 
Poin pertama ayat ini menjelaskan keterkaitan shalat Jumat dan iman kepada Allah Swt, dan orang-orang yang memiliki keimanan secara sadar, setelah mendengar seruan untuk melaksanakan shalat Jumat, atas perintah Allah Swt bukan saja bergerak menyambut seruan tersebut, bahkan bersegera untuk menunjunkkan penghambaannya dalam aksi nyata. 
 
Pasalnya mereka menganggap shalat sebagai manifestasi mengingat Tuhan, dan ketika seseorang bersiap bermunajat kepada Allah Swt mereka akan meninggalkan semua aktivitas perdagangan agar tidak sampai lalai mengingat Tuhannya.
 
Poin penting lainnya yang menarik adalah di akhir ayat disebutkan, Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Karena aktivitas perdagangan yang diwarnai spiritualitas Ilahi dan lebih kekal, tidak diragukan nilainya tidak bisa dibandingkan dengan aktivitas perdagangan yang murni materi. 
 
Saat manusia tidak memiliki kekhawatiran yang dangkal bahwa dunia lebih utama dari akhirat, ia akan bersikap dengan kesadaran dan pemikiran yang tajam. Al Quran memuji orang-orang berpikiran jauh ini dan mengatakan, 
 
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (Surat An Nur ayat 37)
 
Di akhir ayat ini dijelaskan bahwa shalat Jum'at menentukan nasib abadi manusia di Hari Kiamat.
 
shalat Jum'at
 
Imam Jafar Shadiq as mengutip Rasulullah Saw bersabda, dan hari Jumat bertepatan dengan hari penghitungan dimana Allah Swt mengumpulkan semua manusia yang sudah dibangkitkan, dan tidak ada seorang berimanpun yang berangkat shalat Jum'at dengan berjalan kaki kecuali setelah berakhir shalat Jum'at, Allah Swt mempermudah rasa takut akan hari kiamat, dan hari Jum'at adalah hari besar di mana laki-laki dan perempuan beriman mendapatkan rahmat Ilahi. (Mustadrak jilid 6, hlmn 41)
  
Dalam riwayat lain Nabi Muhammad Saw bersabda, kedekatan manusia kepada Tuhan pada hari kiamat setara dengan tingkat keikutsertaannya dalam shalat Jumat. (Kanzul Umal, 21047)
 
Shalat Jumat sedemikian penting sampai Allah Swt mewajibkannya atas orang-orang yang tidak memiliki halangan serius, dan Rasulullah Saw bersabda, barangsiapa selama hidupnya, dan setelah kematianku hingga hari kiamat, meninggalkan shalat Jumat atas dasar pengingkaran dan meremehkannya, Allah Swt tidak akan pernah membereskan urusan kehidupannya, dan tidak memberkahinya, selain itu waspadalah shalat dan haji serta sedekahnya tidak akan terlalu bernilai. Kecuali ia bertobat, sampai Allah Swt menerimanya dan memandangnya dengan pandangan rahmat. (Mustadrak jilid 6, hlmn 11)
 
Salah satu adab penting shalat Jumat, adalah pelaksanaannya oleh seorang Imam Jum'at yang adil, artinya ia menjadi teladan nilai-nilai Ilahi, akhlak dan kemanusiaan. Seorang Imam Jum'at harus bersih dari segala dosa dan keburukan, ia sama sekali tidak boleh memiliki kecenderungan pada kekuasaan dan kekayaan.
 
Imam Jafar Shadiq as bersabda, shalat Jum'at harus dilakukan oleh seorang imam yang adil dan bertakwa. (Mustadrak jilid 6, hlm 14)
 
Salah satu kewajiban Imam Jum'at adalah menyampaikan dua khutbah yang pada keduanya setelah memuji Allah Swt, dan menyampaikan salam kepada Nabi Muhammad Saw beserta keluarga sucinya, ia harus mengajak masyarakat kepada ketakwaan dan menjalankan aturan Ilahi, serta berhias diri dengan keutamaan akhlak dan kemuliaan manusia. 
 
Setelah itu ia menjelaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia Islam, dan mengungkap kebusukan penguasa lalim, serta menjadi penyampai suara bangsa-bangsa tertindas yang karena kejahatan, ketidakadilan dan perang, serta perampokan terhadap mereka, tidak mampu menyuarakan protes dan menuntut keadilan.
 
Poin penting lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa dalam shalat Jum'at, di khutbah pertama, Imam Jum'at harus membacakan Surat Jumuah yang diawali dengan tasbih dan penjelasan risalah Nabi Muhammad Saw, kemudian menjelaskan persekongkolan sebagian kaum Yahudi yang tidak pernah menjalankan satupun kewajibannya, lalu menafikan klaim-klaim tak berdasar orang-orang yang mengira dirinya wali Allah namun dalam amal tidak mampu membuktikan klaimnya, dan sangat takut mati, pada akhirnya Al Quran menjelaskan ada dua kelompok Muslim. 
 
Kelompok pertama menyambut seruan Ilahi, dan melaksanakan shalat Jum'at, dan kelompok lainnya dikarenakan ketergantungan pada dunia, dan sifat oportunisnya, saat menyaksikan rombongan pedagang, langsung meninggalkan shalat Jum'at ketika Nabi Muhammad Saw masih menyampaikan khutbah, dan mereka dikecam oleh Allah Swt.
 
Imam Jum'at pada khutbah kedua harus membaca Surat Al Munafiqun yang menjelaskan orang-orang yang secara lahir tampak Muslim, dan Allah Swt membantah keimanan mereka, karena mereka merupakan musuh Islam yang paling berbahaya, mereka mengulurkan tangan persahabatan kepada kaum penjajah, dan dengan nafsu kekuasaannya hanya berpikir untuk melindungi kepentingan pribadi yang kotor dan anti-kemanusiaan. 

Jumat, 15 Mei 2020 14:04

Filosofi Hukum dalam Islam (12)

 

Salah satu tujuan dan kebijakan strategis Islam adalah memperkuat dan memperdalam hubungan, mendekatkan hati dan menerapkan kesatuan pemikiaran serta tindakan dan menciptakan kovergensi di antara seluruh umat manusia, khususnya komunitas Islam.

Untuk merealisasikan nilai dan cita-cita besar yang menentukan ini, Islam memanfaatkan berbagai mekanisme dan di antaranya adalah menggelar shalat berjamaah di masjid di mana melalui ritual ini, umat muslim setiap hari berkumpul dan bersatu dalam sebuah saf shalat (barisan) dan selain menunaikan shalat berjamaah, mereka juga membahas berbagai kebutuhan primer dan vital di seluruh bidang baik ideologi, akhlak, budaya, politik, ekonomi dan militer.

Salah satu metode efektif untuk menanam dan membudayakan shalat berjamaah adalah memanfaatkan sarana persuasif dan menumbuhkan harapan. Rasulullah Saw melalui sarana wahyu sekuat tenaga berusaha menjaga persatuan umat Muslim dan di salah satu sabdanya berkata, "Sadarlah siapa saja yang berbondong-bondong ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah maka setiap langkahnya akan dihitung dengan 70 ribu kebaikan dan pahalahnya di catat di amal perbuatannya. Selain itu, 70 ribu dosanya akan dihapus. Oleh karena itu, tingkat spritualitasnya akan ditingkatkan. Tak hanya itu, 70 ribu malaikat ditugaskan untuk menemuinya di alam kubur dan menemaninya serta meminta ampunan baginya kepada Tuhan hingga hari kiamat ."

Meskipun riwayat ini menunjukkan betapa pentingnya shalat jamaah, namun angka dan nominal yang digunakan di dalamnya memiliki beberapa keterbatasan. Tapi riwayat lain dari Rasulullah Saw menunjukkan tidak adanya batasan pahala shalat berjamaah. Rasul bersabda, "Setelah shalat Dhuhur, malaikat Jibril bersama 70 ribu malaikat lainnya datang kepadaku dan berkata, Wahai Muhammad! Allah Swt mengirim salam kepadamu dan berfirman, Aku memberimu dua hadiah yang tidak kuberikan kepada nabi sebelummu. Rasul bertanya, Wahai Jibril, ada dua hadiah tersebut? Jibril menjawab: shalat lima waktu dan shalat berjamaah..."

"...Kemudian Rasul bertanya, apa pahala bagi shalat berjamaah? Jibril menjawab, Wahai Muhammad! Jika makmum satu orang, maka pahalanya sama seperti 150 shalat dan jika dua orang pahalanya 600 shalat. Semakin banyak jumlahnya maka pahalanya juga semakin besar. Jika jumlahnya lebih dari sepuluh orang jika laut langit dan bumi digabungkan dan seluruh pohon menjadi pensil serta seluruh jin, manusia dan malaikat menjadi penulisnya, maka mereka tetap tidak mampu menulis pahala shalat berjamaah."

Shalat berjamaah selain mendekatkan hati dan memperkuat hubungan manusia serta akhlak serta menumbuhkan spirit saling membantu di tengah masyarakat, juga memiliki dampak besar di hari Kiamat. Di hari ketika barisan manusia saleh dan baik dipisahkan dari barisan pendosa serta kriminal, mereka dapat dikenali melalui wajah-wajah mereka.

Rasul bersabda, "Sekelompok orang dibangkitkan di hari Kiamat di mana wajah mereka bersinar terang seperti bintang. Saat itu, malaikat bertanya, apa yang kalian lakukan di dunia sehingga wajah kalian bersinar terang? Mereka menjawah, "Ketika suara azan terdengar, kami langsung berbodong-bondong menunaikan shalat berjamaah dan kami mengedepankan shalat berjamaah dari hal-hal yang lain." Saat itu, sekelompok orang lainnya memasuki padang Mahsyar dan wajah mereka bersinar seperti bulan. Malaikat kembali bertanya kepada mereka alasan wajah bereka bersinar terang. Mereka menjawab bahwa kami mempersiapkan diri jauh sebelum shalat berjamaah digelar dan menuju masjid. Kemudian datang kelompok ketiga di hari Kiamat dengan wajah terang benderang seperti matahari. Malaikat bertanya kepada mereka alasan wajah mereka yang bersinar terang. Mereka menjawab, kami sebelum azan dikumandangkan telah berada di masjid untuk menunaikan shalat berjamaah."

Seluruh para nabi untuk memberi hidayah dan menarik manusia, terkadang memicu motivasi dengan memberi kabar gembira sehingga mereka terbebas dari kegelapan dan penyimpangan. Ketika putus asa dari memberi petunjuk mereka, maka para nabi memberi peringatan kepada manusia. Rasul yang menjadi manifestasi dari rahmat bagi dunia, juga mengikuti metode para nabi sebelumnya supaya membuat masjid menjadi pusat persatuan dan solidaritas umat Muslim, mendorong umat muslim aktif di shalat berjamaah dan ketika menyadari sejumlah muslim malas dan lalai, Rasul memperingatkan mereka dengan bersabda, "Ucapkan salam kepada umat Yahudi dan Nasrani, dan jangan ucapkan salam kepada Yahudi umatku. Sahabat bertanya, Wahai Rasulullah! Siapa Yahudi umatmu? Rasul menjawab, mereka yang mendengar suara azan, namun tidak menghadiri shalat berjamaah."

Pertanyaannya, mengapa Rasul menggunakan retorika seperti ini bagi mereka yang tidak menghadiri shalat berjamaah, padahal ia adalah manifestasi kesopanan dan akhlak mulia di setiap perilaku dan ucapan? Mungkin dapat dikatakan bahwa mengingat shalat berjamaah adalah simbol persatuan dan konvergensi umat Islam. Alasan lainnya adalah shalat berjamaah sebuah ritual ibadah dan spiritual bagi umat Muslim. Dan akhirnya, pelanggaran nyata terhadap perintah ilahi dan instruksi Nabi (SAW) dan para pemimpin yang dipilih ada di hadapan Allah, yang sangat menekankan pada sholat berjamaah.

Mari kita memohon kepada Allah Swt supaya kita diberi taufik dan hidayah untuk menunaikan shalat berjamaah dan menunjukkan lebih besar persatuan kita dihadapan musuh internal dan asing dunia Islam.

Untuk merealisasikan nilai dan cita-cita besar yang menentukan ini, Islam memanfaatkan berbagai mekanisme dan di antaranya adalah menggelar shalat berjamaah di masjid di mana melalui ritual ini, umat muslim setiap hari berkumpul dan bersatu dalam sebuah saf shalat (barisan) dan selain menunaikan shalat berjamaah, mereka juga membahas berbagai kebutuhan primer dan vital di seluruh bidang baik ideologi, akhlak, budaya, politik, ekonomi dan militer.

Salah satu metode efektif untuk menanam dan membudayakan shalat berjamaah adalah memanfaatkan sarana persuasif dan menumbuhkan harapan. Rasulullah Saw melalui sarana wahyu sekuat tenaga berusaha menjaga persatuan umat Muslim dan di salah satu sabdanya berkata, "Sadarlah siapa saja yang berbondong-bondong ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah maka setiap langkahnya akan dihitung dengan 70 ribu kebaikan dan pahalahnya di catat di amal perbuatannya. Selain itu, 70 ribu dosanya akan dihapus. Oleh karena itu, tingkat spritualitasnya akan ditingkatkan. Tak hanya itu, 70 ribu malaikat ditugaskan untuk menemuinya di alam kubur dan menemaninya serta meminta ampunan baginya kepada Tuhan hingga hari kiamat ."

Meskipun riwayat ini menunjukkan betapa pentingnya shalat jamaah, namun angka dan nominal yang digunakan di dalamnya memiliki beberapa keterbatasan. Tapi riwayat lain dari Rasulullah Saw menunjukkan tidak adanya batasan pahala shalat berjamaah. Rasul bersabda, "Setelah shalat Dhuhur, malaikat Jibril bersama 70 ribu malaikat lainnya datang kepadaku dan berkata, Wahai Muhammad! Allah Swt mengirim salam kepadamu dan berfirman, Aku memberimu dua hadiah yang tidak kuberikan kepada nabi sebelummu. Rasul bertanya, Wahai Jibril, ada dua hadiah tersebut? Jibril menjawab: shalat lima waktu dan shalat berjamaah..."

"...Kemudian Rasul bertanya, apa pahala bagi shalat berjamaah? Jibril menjawab, Wahai Muhammad! Jika makmum satu orang, maka pahalanya sama seperti 150 shalat dan jika dua orang pahalanya 600 shalat. Semakin banyak jumlahnya maka pahalanya juga semakin besar. Jika jumlahnya lebih dari sepuluh orang jika laut langit dan bumi digabungkan dan seluruh pohon menjadi pensil serta seluruh jin, manusia dan malaikat menjadi penulisnya, maka mereka tetap tidak mampu menulis pahala shalat berjamaah."

Shalat berjamaah selain mendekatkan hati dan memperkuat hubungan manusia serta akhlak serta menumbuhkan spirit saling membantu di tengah masyarakat, juga memiliki dampak besar di hari Kiamat. Di hari ketika barisan manusia saleh dan baik dipisahkan dari barisan pendosa serta kriminal, mereka dapat dikenali melalui wajah-wajah mereka.

Rasul bersabda, "Sekelompok orang dibangkitkan di hari Kiamat di mana wajah mereka bersinar terang seperti bintang. Saat itu, malaikat bertanya, apa yang kalian lakukan di dunia sehingga wajah kalian bersinar terang? Mereka menjawah, "Ketika suara azan terdengar, kami langsung berbodong-bondong menunaikan shalat berjamaah dan kami mengedepankan shalat berjamaah dari hal-hal yang lain." Saat itu, sekelompok orang lainnya memasuki padang Mahsyar dan wajah mereka bersinar seperti bulan. Malaikat kembali bertanya kepada mereka alasan wajah bereka bersinar terang. Mereka menjawab bahwa kami mempersiapkan diri jauh sebelum shalat berjamaah digelar dan menuju masjid. Kemudian datang kelompok ketiga di hari Kiamat dengan wajah terang benderang seperti matahari. Malaikat bertanya kepada mereka alasan wajah mereka yang bersinar terang. Mereka menjawab, kami sebelum azan dikumandangkan telah berada di masjid untuk menunaikan shalat berjamaah."

Seluruh para nabi untuk memberi hidayah dan menarik manusia, terkadang memicu motivasi dengan memberi kabar gembira sehingga mereka terbebas dari kegelapan dan penyimpangan. Ketika putus asa dari memberi petunjuk mereka, maka para nabi memberi peringatan kepada manusia. Rasul yang menjadi manifestasi dari rahmat bagi dunia, juga mengikuti metode para nabi sebelumnya supaya membuat masjid menjadi pusat persatuan dan solidaritas umat Muslim, mendorong umat muslim aktif di shalat berjamaah dan ketika menyadari sejumlah muslim malas dan lalai, Rasul memperingatkan mereka dengan bersabda, "Ucapkan salam kepada umat Yahudi dan Nasrani, dan jangan ucapkan salam kepada Yahudi umatku. Sahabat bertanya, Wahai Rasulullah! Siapa Yahudi umatmu? Rasul menjawab, mereka yang mendengar suara azan, namun tidak menghadiri shalat berjamaah."

Pertanyaannya, mengapa Rasul menggunakan retorika seperti ini bagi mereka yang tidak menghadiri shalat berjamaah, padahal ia adalah manifestasi kesopanan dan akhlak mulia di setiap perilaku dan ucapan? Mungkin dapat dikatakan bahwa mengingat shalat berjamaah adalah simbol persatuan dan konvergensi umat Islam. Alasan lainnya adalah shalat berjamaah sebuah ritual ibadah dan spiritual bagi umat Muslim. Dan akhirnya, pelanggaran nyata terhadap perintah ilahi dan instruksi Nabi (SAW) dan para pemimpin yang dipilih ada di hadapan Allah, yang sangat menekankan pada sholat berjamaah.

Mari kita memohon kepada Allah Swt supaya kita diberi taufik dan hidayah untuk menunaikan shalat berjamaah dan menunjukkan lebih besar persatuan kita dihadapan musuh internal dan asing dunia Islam.

Jumat, 15 Mei 2020 14:03

Filosofi Hukum dalam Islam (11)

 

Salah satu kajian penting di semua aspek kehidupan adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang bisa merusak nilai sebuah perbuatan. Dalam masalah ibadah, ia perlu mendapat perhatian serius khususnya perkara shalat yang punya peran sentral dalam Islam, sehingga amalan ini tidak rusak oleh faktor-faktor lain.

Allah Swt menyebutkan beberapa faktor yang bisa merusak ibadah melalui surat al-Ma’un yaitu:

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.”

Menurut ayat ini, ketidakpedulian terhadap fakir-miskin dan orang yang membutuhkan, tidak memiliki kasih sayang, tidak punya pengetahuan tentang esensi shalat, dan bersikap riya’ – yang semuanya bersumber dari pengingkaran terhadap agama – adalah faktor-faktor yang merusak martabat orang yang shalat sehingga Allah Swt menghardiknya.

Kita harus tahu bahwa Islam tidak mengabulkan setiap shalat. Ayat tersebut mengandung pesan bahwa perilaku individual dan sosial orang-orang yang shalat harus kita jadikan sebagai parameter sehingga kita tahu mana ahli shalat sejati dan orang yang berpura-pura shalat, yang menjadikan shalat sebagai alat pencitraan.

Imam Jakfar Shadiq as dalam sebuah ucapannya menyingkap esensi dari orang-orang tersebut dengan berkata, “Janganlah kalian tertipu dengan shalat dan puasa sebagian orang, karena bagi mereka, shalat dan puasa hanya sebuah kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Jadi untuk (mengetahui hakikat mereka), mereka perlu diuji dengan tingkat komitmennya pada kejujuran dan amanah.”

Ahli shalat yang masih memelihara sifat-sifat tercela, biasanya tidak peduli dengan shalat dan dengan pandangan yang dangkal, mereka meremehkan shalatnya, yang tentu saja mengundang kemarahan Tuhan.


Imam Muhammad al-Baqir as berkata, “Janganlah meremehkan shalat kalian, karena Rasulullah Saw saat akan menjemput maut bersabda, ‘Barang siapa yang meremehkan shalatnya, maka ia bukanlah dari aku.’”

Poin yang sangat penting dari sabda ini bahwa sirah dan keteladanan yang diberikan Rasulullah Saw adalah jangan pernah meremehkan shalat, dan orang-orang semacam itu mungkin tidak layak disebut Muslim, karena shalat adalah kewajiban agama dan jalur komunikasi yang paling penting antara seorang hamba dan Tuhannya. Untuk itu, shalat harus mendapat perhatian khusus dari manusia. Orang yang shalat pada dasarnya sedang membangun hubungan dan bercengkrama dengan Tuhan.

Imam Shadiq as dalam sebuah wasiat menjelang kesyahidannya, menganggap bukan sebagai pengikutnya orang-orang yang meremehkan shalat. Di detik-detik terakhir ini, imam memanggil seluruh anggota keluarga dan orang-orang dekatnya, kemudian berkata kepada mereka, “Syafaat kami tidak akan sampai kepada orang yang meremehkan shalatnya.”

Jadi, salah satu faktor perusak pahala shalat adalah meremehkan shalat itu sendiri. Sebagian orang mungkin bertanya, apa tujuan dari ibadah yang dikerjakan secara riya’ dan penuh kemunafikan? Yaitu mereka yang berpura-pura shalat dan tidak memegang teguh nilai-nilai moral seperti, kejujuran dan amanah.

Al-Quran menjawab pertanyaan tersebut dengan berkata, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa, ayat 142)

Perlu dipahami bahwa salah satu peran konstruktif shalat adalah menjauhkan manusia dari perbuatan dosa dan memberikannya keterjagaan dari dosa.

Allah Swt memerintahkan Rasulullah dengan berfirman, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut, ayat 45)


Namun, syaitan telah membangkang dari perintah Ilahi sejak awal penciptaan manusia, ia bersikap takabbur dan akhirnya diusir dari sisi Allah Swt. Syaitan telah menjadi musuh besar bagi orang-orang yang shalat dan selalu berusaha menggoda mereka serta memperlemah tekad, dan menjerumuskan mereka ke dalam dosa.

Jika ini terjadi, maka shalat telah kehilangan fungsinya sebagai pencegah manusia dari perbuatan dosa. Dosa merupakan sebuah penyakit kronis bagi ahli shalat, yang akan menjauhkan mereka dari Allah.

Rasulullah Saw bersabda, “Shalat menghitamkan wajah syaitan.” Mengenai dampak buruk dosa, beliau berkata, “Barang siapa yang shalatnya tidak mencegah ia dari dosa dan keburukan, maka ia telah jauh dari (rahmat) Ilahi.”

Di samping meremehkan shalat dan berbuat dosa, ada faktor lain yang bisa membuat shalat tidak sempurna yaitu tanggungan kewajiban mal (harta) yang belum ditunaikan seperti khumus dan zakat atau haqqullah.

Faktor lain yang merusak shalat adalah hak-hak orang lain yang belum dipenuhi. Ahli shalat harus berkomitmen untuk menunaikan kewajiban tersebut, terutama hak-hak yang menyangkut dengan orang lain atau haqqunnas.

Rasulullah Saw bersabda, “Allah berfirman kepadaku, ‘Wahai penyambung silsilah para nabi dan pemberi peringatan, berilah peringatan kepada manusia bahwa selama mereka masih terlilit hak kepada hamba-Ku yang lain, maka jangan pernah mendatangi rumah-Ku. Karena meskipun ia sedang shalat di hadapan-Ku, Aku akan menjauhkannya dari rahmat-Ku, kecuali ia mengembalikan hak itu kepada pemiliknya.” 

Jumat, 15 Mei 2020 14:01

Filosofi Hukum dalam Islam (10)

 

Pada kesempatan ini akan dibahas seputar pengaruh dan manfaat shalat bagi yang melaksanakannya.

Salah satu tanda terperting dari pengaruh shalat pada manusia adalah penolakan atas seluruh sesembahan palsu dan fiktif, dan semua bentuk pemaksaan, penindasan serta kemunafikan yang masing-masing dengan cara tertentu menjauhkan manusia dari jalan yang lurus yaitu penghambaan kepada Allah Swt, dan menyanderanya. 
 
Imam Ridha as mengatakan, falsafah shalat yaitu hanya Allah Swt sajalah yang kita sembah, dan kita terhindar dari semua bentuk kesyirikan dan penyembahan berhala, hanya di hadapan Pencipta Semesta sajalah kita menunjukkan kelemahan dan memohon, jangan sampai kita melupakan Pencipta kita, dan kebisingan dunia beserta semua daya tarik dan gemerlapnya membuat kita lalai serta membangkang. 
 
Oleh karena itu para pelaksana shalat yang sebenarnya hidup dengan memegang teguh keyakinan kepada Tuhan, dan berporos pada-Nya, mereka selalu mengingat Tuhan dan menjalankan semua yang diperintahkan-Nya.
 
Sehubungan dengan hal ini Al Quran mengatakan, dirikanlah shalat agar kita selalu ingat. Maksudnya adalah ingat dalam ucapan, hati dan amal di seluruh segi kehidupan. 
 
Dengan pandangan semacam ini, para pelaksana shalat hakiki dalam makna yang sebenarnya, terbebas dari belenggu semua kekuatan rapuh kekayaan materi, popularitas, hawa nafsu, dan bisikan setan, serta keluar sebagai pemenang. 
 
Sebagaimana dikatakan oleh Iqbal Lahore, siapapun yang telah mengikat janji dengan Tuhan dan hanya menjadi hamba-Nya semata, tidak akan pernah tunduk pada sesembahan lain selain Tuhan Maha Esa, dan meraih kebebasannya. 
 
Oleh karena itu manusia-manusia yang melaksanakan shalat dengan pandangan Tauhid akan sampai pada puncaknya di mana tidak ada tujuan lain selain Tuhan. Sebagaimana dalam ayat 6 Surat Al Inshiqaq, Allah Swt berfirman,  
 
يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ
 
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” 

Imam Ali bin Abi Thalib as yang berhasil mencerap puncak maknawi ini dengan seluruh wujudnya, terkait orang-orang mukmin pelaksana shalat yang sebenarnya mengatakan, para malaikat mengajak mereka berbicara. Melimpahkan ketenangan Ilahi kepada mereka. Membukakan pintu-pintu alam malakut untuk mereka. Kedudukan kasih sayang tak terhingga Tuhan terhampar untuk mereka, Tuhan memperhatikan kedudukan dan derajat mereka yang dicapai berkat penghambaannya, dan menerima amal serta memuji kedudukan mereka. Saat mereka melantunkan nama Tuhan, mereka mencium semerbak magfirah dan ampunan-Nya. (Khutbah 220, Nahj Al Balaghah)
 
Orang-orang yang dekat dengan Allah Swt yakin bahwa mereka sedang berusaha menuju pada keabadian, mereka selalu berusaha mendekat ke pusaran keagungan Ilahi sehingga tidak ada lagi batas antara dimensi maknawi dan malakuti antara dirinya dengan Tuhan.
 
Dalam Munajat Syabaniah, lantunan para mukmin arif yang hakiki digambarkan sebagai berikut, Ya Allah, berikanlah kepada kami kesempurnaan terpisah dari seluruh ketergantungan untuk meraih kedekatan pada-Mu, dan arahkanlah pandangan hati kami kepada-Mu, sehingga semua tirai penghalang tersingkap, dan kami mencapai mata air keagungan-Mu, dan jiwa kami terbang mendekati pusara kemegahan kesucian-Mu. 
 
Ya Allah jadikanlah aku bagian dari orang-orang yang Engkau panggil dan langsung menjawab, dan jadikanlah aku bagian dari orang-orang yang saat mendapat perhatian khusus dari-Mu, ia menjadi gila karena keagungan dan kebesaran-Mu.
 
Perlu diperhatikan bahwa para pecinta alam malakut yang mendekati Tuhan melalui shalat, dan munajat irfani, cara pandang, orientasi dan tujuan mereka berbeda dari berbagai sisi dengan orang-orang yang asing dengan alam malakut. 
 
Imam Ali as di kitab Nahj Balaghah berkata, ahli dunia menganggap penting fisiknya, dan kematian jasmani sungguh besar di mata mereka, namun mereka sama sekali tidak memperhatikan kematian jiwa, dan tidak menghargainya. 
 
Imam Ali menambahkan, jika kematian sudah ditakdirkan, dan atas kehendak Ilahi tidak diketahui kapan datangnya, ruh mereka dikarenakan kecintaan yang dalam pada keagungan Ilahi dan takut atas balasan-Nya, dalam satu kedipan mata akan sirna dari tubuh. (Khutbah 191, Nahj Al Balaghah) 
 
Perbedaan lain antara para pesuluk jalan Ilahi dengan yang lainnya adalah cita-cita dan harapannya lebih kental warna Ilahi, dan semua upaya mereka dikerahkan supaya tidak tertinggal dalam hal nilai-nilai maknawi dan kemanusiaan.
 
Amirul Mukminin as dalam Doa Kumail mengatakan, Tuhanku tambahlah kekuatan dan kemampuanku, kokohkanlah hatiku dengan tekad dan kehendak baja, dan berikanlah kemampuan kepadaku untuk memahami keagungan-Mu, dan taufik yang tak pernah habis sehingga aku termasuk orang-orang yang terdepan dalam mengejar-Mu. 
 
Dan termasuk orang-orang yang paling cepat mendekat ke haribaan-Mu, dan bergerak ke arah-Mu dengan segenap kebahagiaan sebagaimana para pecinta-Mu, dan seperti orang-orang ikhlas yang mendekat kepada-Mu, takut kepada-Mu seperti orang-orang yang yakin, masukkan aku ke dalam golongan orang-orang Mukmin di dekat-Mu.
 
Shalat dan permohonan manusia pelaksana shalat yang hakiki, akan membentuk pribadi unik yang dapat menjadi teladan bagi orang lain di semua bidang, dan memainkan peran efektif dalam membangun budaya shalat. 

 

 

Peringatan Hari Nakba ke-72 digelar di kondisi pemerintah Amerika Serikat mengumumkan secara resmi rencana rasis Kesepakatan Abad dan nilai Palestina di kebijalan luar negeri sejumlah negara Arab mulai menurun.

Mei 1948 adalah salah satu bulan paling pahit dalam sejarah Palestina. 14 Mei 1948 Rezim Zionis palsu secara resmi didirikan di tanah Palestina. 15 Mei 1948, satu hari setelah pembentukan Israel, terjadi salah satu kejahatan terbesar rezim Zionis terhadap Palestina. Pada hari ini, lebih dari 800.000 dari 1,4 juta warga Palestina diusir secara paksa dari tanah dan rumah mereka.

Image Caption
Dengan kata lain, di hari ini sekitar 60 persen populasi Palestina secara paksa diusir dari tanah air mereka. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Nakba mengingatkan dua memori sangat buruk di benak bangsa Palestina dan opini publik. Pertama adalah pembentukan rezim Zionis pada 14 Mei 1948 dan kedua pengusiran lebih dari 800 ribu warga Palestina dari tanah air mereka pada 15 Mei 1948. Kini jumlah pengungsi Palestina mencapai enam juta orang.

Orang-orang Palestina menyebut peringatan pengusiran ratusan ribu warga Palestina dari tanah air mereka "hari Nakba" atau "hari kesengsaraan atau bencana." Warga Palestina merayakan 15 Mei setiap tahun sebagai hari simbolis pengusiran paksa, penghancuran tatanan sosial dan budaya mereka oleh Israel, dan setiap tahun pada 15 Mei, mereka menggelar aksi demo untuk menunjukkan sifat pendudukan dan kriminalitas Israel. "Nakba" adalah kata Arab yang berarti "musibah" dan rezim Israel adalah musibah yang menimpa tanah bersejarah Palestina, dan kedalaman malapetaka ini meningkat dari hari ke hari.

Sama seperti pembentukan Amerika Serikat dimulai dengan imigrasi Eropa dan pembantaian warga pribumi, rezim Zionis Israel juga dibentuk dengan pembantaian terhadap umat Muslim dan penduduk asli yakni warga Palestina. Ketika warga Palestina memperingati 14 Mei sebagai hari Nakba, Israel memperingatinya sebagai hari ulang tahunnya (HUT).

Pertanyaan terpentinh di sini adalah selama 72 tahun lalu, apa musibah lain yang diberikan Israel kepada warga Palestina? Realitanya adalah meski 14 Mei atau 15 Mei ditetapkan sebagai hari Nakba, namun ada hari dan tahun-tahun beragam di sejarah kejahatan Israel terhadap bangsa Palestina. Tahun 1948 dapat disebut sebagai tahun terburuk bagi bangsa Palestina.

Selama pendudukan Palestina pada tahun 1948, rezim Zionis juga menghancurkan sekitar 531 kota dan desa Palestina, melakukan pembantaian dan membantai lebih dari 15.000 warga Palestina. Hari-hari intifada pertama dan kedua, meskipun hari-hari perlawanan rakyat Palestina terhadap kejahatan rezim Zionis, ribuan orang Palestina mati syahid, terluka atau terlantar selama hari-hari ini.

Meski demikian sepertinya selama empat tahun terakhir, tercatat empat hari Nakba bagi rakyat Palestina. Hari pertama adalah 21 Januari 2017, hari resmi kedatangan Donald Trump di Gedung Putih. Meskipun semua presiden AS telah berjanji untuk membela rezim Zionis, Donald Trump tanpa ragu adalah presiden Amerika Serikat yang paling rasis, yang secara terbuka dan terang-terangan menekankan dukungannya untuk Israel dan kepentingan rezim palsu ini.

Hari kedua adalah 6 Desember 2017, hari ketika Donald Trump mengumumkan tindakan ilegal bahwa ia menganggap Yerusalem sebagai ibukota Israel dan akan memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Hari ketiga adalah 14 Mei 2018. Pemerintah AS, atas perintah Donald Trump dan di hadapan Ivanka Trump, putri presiden, secara resmi memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem pada 14 Mei 2018, untuk menjadikan 14 Mei sebagai hari paling pahit dalam sejarah Palestina.

Image Caption
Faktanya, orang-orang Palestina menggelar demonstrasi besar pada 15 Mei 2018, pada hari tragedi itu, ketika Amerika Serikat secara ilegal memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem hanya sehari sebelumnya, pada 14 Mei. Karena itu, Hanan Ashrawi, anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), menyebut pembukaan Kedutaan Besar AS di Yerusalem sebagai hari kesengsaraan baru bagi Palestina, yang terjadi dalam bayang-bayang kesunyian internasional.

Hari keempat adalah 28 Januari 2020, hari Presiden AS Donald Trump secara resmi meluncurkan rencana rasis Kesepakatan Abad di hadapan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan duta besar dari tiga negara Arab yaitu Bahrain, Uni Emirat Arab dan Oman.

Jika pada 15 Mei 1948, rezim Zionis secara paksa mengusir sekitar 800.000 warga Palestina, maka Donald Trump pada 28 Januari 2020 melalui kesepakatan abad dan secara tidak langsung mengusir sekitar 6 juta warga Palestina, mencabut hak kepulangan enam juta pengungsi Palestina, karena melalui rencana ini, ia telah mencabut hak kepulangan enam juta pengungsi Palestina ke tanah air mereka serta pengungsi ini tidak diberi hak untuk kembali.

Peringatan ke-72 Hari Nakba datang ketika tiga acara besar menarik perhatian. Peristiwa pertama adalah rencana kesepakatan abad ini, banyak bagian yang telah dilaksanakan, dan dijadwalkan mulai 1 Juli, kabinet Israel di bawah dukungan langsung pemerintah AS akan menerapkan aneksasi bagian-bagian Tepi Barat ke wilayah-wilayah pendudukan supaya geografi Paletina semakin kecil dari sebelumnya.

Insiden kedua adalah pecahnya kabinet yang belum pernah terjadi sebelumnya di Palestina pendudukan (Israel). Setelah setahun mengalami kebuntuan politik, Netanyahu dan Benny Gantz, pemimpin Partai Biru dan Putih, akhirnya setuju untuk membentuk kabinet yang komprehensif untuk mengatasi krisis politik. Situasi ini menunjukkan terutama bahwa meskipun dukungan komprehensif Barat, terutama Amerika Serikat, untuk rezim Zionis, perpecahan internal rezim ini dan tantangannya meningkat dari hari ke hari.

Peristiwa ketiga adalah penurunan nilai Palestina dan kekacauan dalam kebijakan luar negeri beberapa negara Arab, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Tidak diragukan lagi, Donald Trump dan Benjamin Netanyahu tidak mungkin mampu meresmikan rencana rasis kesepakatan abad ini tanpa dukungan dari negara-negara Arab.

Negara-negara Arab tidak hanya mengurangi pertahanan Palestina dalam kebijakan luar negerinya, tetapi juga secara resmi bergerak ke arah normalisasi hubungan dengan rezim kriminal ini untuk mendukung kejahatan rezim terhadap Palestina.

"Tentu saja dukungan dari beberapa negara anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (PGCC) yakni Bahrain, Uni Emirat Arab dan Oman, untuk pengungkapan rencana perdamaian yang disebut 'Perjanjian Abad'," yang diresmika Presiden AS Donald Trump 28 Januari sebuah langkah lain dalam deklarasi normalisasi formal atau semi formal mengenai hubungan dengan Israel," tulis Professor Dr. Jassim Younis Al-Hariri, seorang analis Teluk Persia.

Mengingat perstiwa ini, sepertinya kejahatan rezim Zionis Israel terhadap bangsa Palestina hingga Hari Nakba 2021 akan meningkat dan akan terbantuk babak baru konfrontasi Muqawama Palestina dan Israel.

 

Sayidina Ali bin Abi Thalib KW manusia mulia yang istimewa sejak kelahiran hingga akhir hayatnya. Beliau dilahirkan di Kabah dan syahid pada tanggal 21 Ramadhan ketika sedang menunaikan shalat Shubuh.

Beberapa ayat turun mengenai sejumlah orang terpilih termasuk Sayidina Ali seperti surat Ali Imran ayat 61 tentang Mubahalah. Tidak heran jika para ulama terkemuka di Nusantara seperti KH Wahid Hasyim memberikan ijazah wirid Li Khamsatun yang biasa di Jawa disebut sebagai aji-aji limo, atau lima pusaka.

 Wirid tersebut hingga kini masih dikumandangkan di surau dan masjid untuk bertawasul kepada lima manusia mulia, yaitu: Al-Mustafa (Nabi Muhammad Saw), Al-Murtadha (Sayidina Ali bin Abi Thalib) wa abnahuma (Sayidina Hassan dan Sayidina Husein) wa Fatimah (Siti Fatimah)

Dari kelima orang ini, Sayidina Ali menempati posisi penting sebagai menantu dari Rasulullah Saw, dan suami Siti Fatimah, juga ayah dari Sayidina Hassan dan Husein. Beliau memiliki ikatan yang begitu kuat dengan pembawa risalah Islam, Nabi Muhammad Saw.

Sayidina Ali syahid dibunuh oleh seorang Khawarij bernama Ibnu Muljam, tapi nama besarnya tetap lestari hingga kini. Wirid tolak bala, Li khamsatun mengabadikannya dalam tradisi Islam Nusantara.

 

 

Umat Islam dan masyarakat penuntut kebebasan dunia akan menyuarakan penentangan terhadap Kesepakatan Abad dengan berpartisipasi dalam aksi dan Pawai al-Quds yang diselenggarakan setiap akhir Jumat pada bulan suci Ramadhan.

Bapak Pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini ra menetapkan hari Jumat terakhir setiap bulan Ramadhan sebagai Hari Quds Sedunia. Peringatan Hari Quds tahun ini akan jatuh pada 22 Mei 2020 bertepatan dengan 28 Ramadhan 1441 H.

Namun karena penyebaran virus Corona, COVID-19, Pawai Akbar Hari Quds Sedunia kemungkinan tidak akan digelar dan aksi itu akan digantikan dengan aksi-aksi lain yang menyuarakan kemerdekaan Palestina dan al-Quds.

Aksi memperingati Hari Quds Sedunia akan terfokus pada penentangan dan penolakan Kesepakatan Abad yang diprakarsai oleh Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan prakarsa Kesepakatan Abad pada 28 Januari 2020. Prakarsa ini mendapat reaksi keras dari dalam negeri Amerika dan dunia internasional. Prakarsa ini diklaim untuk memajukan proses perdamaian antara Palestina dan Israel.

Kesepakatan Abad dianggap tidak sejalan dengan perdamaian. Butir-butir dan waktu pengumuman prakarsa tersebut juga telah memicu kekhawatiran. Kesepakatan Abad bukanlah upaya serius dan itikad baik untuk membawa perdamaian dan rencana ini justru akan membuka jalan permanen bagi Israel untuk menduduki Tepi Barat.

Sejak berkuasa, Trump mengambil langkah-langkah kontroversial untuk kepentingan rezim Zionis, di mana tidak satu pun dari pendahulunya berani membuat keputusan seperti itu.

Trump dalam sebuah keputusan kontroversial mengakui Quds sebagai ibukota rezim Zionis, mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan Suriah, menghentikan bantuan keuangan untuk UNRWA, mengusir dubes Palestina dari Washington, keluar dari UNESCO dan Dewan HAM PBB, dan pada akhirnya merestui rencana Netanyahu mencaplok Tepi Barat.

Puncak dukungan penuh Trump kepada Israel ditandai dengan pengumuman prakarsa Kesepakatan Abad. Prakarsa ini bertujuan untuk menjamin kepentingan Israel, memberikan pelayanan istimewa kepada rezim Zionis, dan memaksa Palestina menerima sebuah negara kecil dengan imbalan mendapatkan bantuan dana 50 miliar dolar.

Dengan langkah ini, Trump ingin meraih dukungan warga Yahudi Amerika dalam pilpres mendatang dan membuka jalan bagi normalisasi hubungan Israel dan negara-negara Arab sekutu Amerika, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman. Dia juga berniat menghancurkan kelompok perlawanan di Asia Barat dengan cara menghapus isu Palestina.

Berdasarkan Kesepakatan Abad, al-Quds akan diserahkan kepada rezim Zionis, pengungsi Palestina di luar negeri tidak berhak kembali ke tanah airnya, dan Palestina hanya terdiri dari wilayah yang tersisa di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Kesepakatan Abad merupakan prakarsa pemerintah AS untuk menghapus hak-hak rakyat Palestina. Prakarsa ini dibuat melalui kerja sama dengan sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi, Bahrain dan Uni Emirat Arab.

Dalam kerangka Kesepakatan Abad, Trump pada 6 Desember 2017 mengumumkan al-Quds pendudukan sebagai ibu kota rezim Zionis. AS kemudian memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke al-Quds pada Senin, 14 Mei 2018. Al-Quds diduduki rezim Zionis sejak tahun 1967.

Kesepakatan Abad ini ditentang keras oleh seluruh faksi Palestina termasuk pemerintah Otorita Ramallah, kelompok-kelompok pejuang, dan rakyat Palestina, serta banyak negara-negara Arab dan Muslim, dan juga anggota Kelompok Kuartet Perdamaian Timur Tengah.

Paul Larudee, tokoh utama Gerakan Solidaritas Internasional Anti Zionis, menilai Kesepakatan Abad sebagai ancaman berbahaya bagi eksistensi Palestina dan mengatakan AS di masa depan akan merampas wilayah Muslim lainnya untuk diserahkan kepada rezim Zionis. 

 

Kata Nakba mengingatkan dua kenangan yang sangat getir dalam memori publik Palestina. Pertama, pembentukan rezim Zionis Israel pada tahun 1948 dan kedua, pengusiran lebih dari 800.000 orang Palestina dari tanah airnya, dan saat ini jumlah pengungsi Palestina telah mencapai sekitar enam juta orang.

Hari Nakba tidak hanya merupakan simbol malapetaka yang terjadi tahun 1948 di Palestina, tetapi juga mencerminkan penderitaan yang dipikul oleh bangsa ini selama beberapa dekade terakhir.

Pada dasarnya, Hari Nakba adalah narasi dari sebuah tragedi kemanusiaan yang telah menghancurkan sebagian besar pondasi politik, ekonomi, budaya, dan hak-hak rakyat Palestina demi membuka jalan bagi munculnya sebuah rezim ilegal.

Di antara tindakan Israel sejak 1948 adalah penghancuran lebih dari 675 kota dan desa, perampasan tanah Palestina, pembangunan distrik-distrik Zionis, pengusiran penduduk Palestina, penghancuran warisan dan identitas nasional Palestina, dan penggantian nama-nama Arab dengan Ibrani.

Hari Nakba juga menyimpan kisah tentang puluhan kasus pembantaian massal dan kejahatan brutal rezim Zionis terhadap ribuan wanita, pria, dan anak-anak Palestina, seperti pembantaian yang dilakukan Israel di Kafr Qasim dan Deir Yassin.

Pada 29 April 1956, sebanyak 48 warga Palestina, termasuk enam wanita dan 23 anak-anak di desa Kafr Qasim, Tepi Barat, gugur syahid karena tanpa sebab diberondong oleh tentara Zionis.

Sebelum ini pada 9 April 1948, dua organisasi teroris Zionis (Irgun dan Lehi) menyerang desa Deir Yassin di barat Quds dan membunuh 360 warga sipil Palestina.

Tentu saja, kejahatan Israel dan perampasan tanah Palestina tidak pernah berhenti sejak pembentukan rezim ilegal ini sampai sekarang, dan contoh terbaru dari kejahatan dan penjajahan ini adalah pembantaian warga Palestina di Gaza dengan lampu hijau AS.

Surat kabar al-Quds al-Arabi cetakan London menyebut pembukaan Kedutaan AS di Quds sebagai malapetaka baru bagi bangsa Palestina, keadilan, dan legitimasi internasional. Israel – sebagai kekuatan pendudukan dan dengan dukungan AS – terus menindas orang-orang Palestina.

Di sini, kebijakan provokatif Amerika, terutama keputusan Donald Trump memindahkan Kedutaan AS ke Quds, memuat pesan bahwa rakyat Palestina akan terus merasakan petaka akibat dari kebijakan imperialis AS dan Israel. Dampak dari kebijakan dan konspirasi seperti ini adalah pembantaian lebih lanjut orang-orang Palestina.

Transformasi Palestina pada peringatan Hari Malapetaka menunjukkan bahwa penindasan rakyat Palestina oleh Israel dan pendukung Baratnya, bukannya tidak berakhir, tapi malah semakin mengganas dari waktu ke waktu. Kesepakatan Abad yang diumumkan Presiden AS Donald Trump juga telah membuka peluang bagi Israel untuk meningkatkan kejahatannya di Palestina.

Trump mengumumkan prakarsa Kesepakatan Abad pada 28 Januari 2020. Prakarsa ini mendapat reaksi keras dari dalam negeri Amerika dan dunia internasional. Prakarsa ini diklaim untuk memajukan proses perdamaian antara Palestina dan Israel.

Kesepakatan Abad dianggap tidak sejalan dengan perdamaian. Butir-butir dan waktu pengumuman prakarsa tersebut juga telah memicu kekhawatiran. Kesepakatan Abad bukanlah upaya serius dan itikad baik untuk membawa perdamaian dan rencana ini justru akan membuka jalan permanen bagi Israel untuk menduduki Tepi Barat.

Sejak berkuasa, Trump mengambil langkah-langkah kontroversial untuk kepentingan rezim Zionis, di mana tidak satu pun dari pendahulunya berani membuat keputusan seperti itu.

Trump dalam sebuah keputusan kontroversial mengakui Quds sebagai ibukota rezim Zionis, mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan Suriah, menghentikan bantuan keuangan untuk UNRWA, mengusir dubes Palestina dari Washington, keluar dari UNESCO dan Dewan HAM PBB, dan pada akhirnya merestui rencana Netanyahu mencaplok Tepi Barat.

Puncak dukungan penuh Trump kepada Israel ditandai dengan pengumuman prakarsa Kesepakatan Abad. Prakarsa ini bertujuan untuk menjamin kepentingan Israel, memberikan pelayanan istimewa kepada rezim Zionis, dan memaksa Palestina menerima sebuah negara kecil dengan imbalan mendapatkan bantuan dana 50 miliar dolar.

Dengan langkah ini, Trump ingin meraih dukungan warga Yahudi Amerika dalam pilpres mendatang dan membuka jalan bagi normalisasi hubungan Israel dan negara-negara Arab sekutu Amerika, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman. Dia juga berniat menghancurkan kelompok perlawanan di Asia Barat dengan cara menghapus isu Palestina.

Berdasarkan Kesepakatan Abad, al-Quds akan diserahkan kepada rezim Zionis, pengungsi Palestina di luar negeri tidak berhak kembali ke tanah airnya, dan Palestina hanya terdiri dari wilayah yang tersisa di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Kesepakatan Abad merupakan prakarsa pemerintah AS untuk menghapus hak-hak rakyat Palestina. Prakarsa ini dibuat melalui kerja sama dengan sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi, Bahrain dan Uni Emirat Arab.

Dalam kerangka Kesepakatan Abad, Trump pada 6 Desember 2017 mengumumkan al-Quds pendudukan sebagai ibu kota rezim Zionis. AS kemudian memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke al-Quds pada Senin, 14 Mei 2018. Al-Quds diduduki rezim Zionis sejak tahun 1967.

Kesepakatan Abad ini ditentang keras oleh seluruh faksi Palestina termasuk pemerintah Otorita Ramallah, kelompok-kelompok pejuang, dan rakyat Palestina, serta banyak negara-negara Arab dan Muslim, dan juga anggota Kelompok Kuartet Perdamaian Timur Tengah.

Paul Larudee, tokoh utama Gerakan Solidaritas Internasional Anti Zionis, menilai Kesepakatan Abad sebagai ancaman berbahaya bagi eksistensi Palestina dan mengatakan AS di masa depan akan merampas wilayah Muslim lainnya untuk diserahkan kepada rezim Zionis.

 

Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh mengatakan kelompok perlawanan harus dibiarkan beroperasi untuk melawan rencana rezim Zionis menganeksasi sebagian besar wilayah Tepi Barat, Palestina.

Haniyeh dalam sebuah pernyataan Rabu (13/5/2020) malam, menekankan pentingnya persatuan untuk melawan rencana aneksasi daerah-daerah di Palestina dan imperialisme rezim Zionis.

"Bangsa Palestina tidak dapat menyerahkan tanah dan cita-cita mereka," tegasnya.

Hamas, lanjutnya, mendukung setiap langkah serius dan nyata oleh rakyat Palestina untuk melawan prakarsa rezim Zionis.

Pada kesempatan itu, Haniyeh menjelaskan alasan Hamas membatalkan kehadirannya dalam seminar para pemimpin Palestina yang akan digelar Sabtu depan di kota Ramallah.

"Pertemuan-pertemuan yang dipimpin oleh Otorita Ramallah tidak akan berguna, karena tidak memiliki rencana nyata untuk mendukung isu Palestina," ujarnya.

Haniyeh mengingatkan bahwa pertemuan apapun tidak akan bermanfaat di bawah bayang-bayang penjajahan. "Kami mendesak Otorita Ramallah mengakhiri kerja sama keamanan dengan rezim Zionis dan membiarkan kelompok perlawanan beroperasi di Tepi Barat," tandasnya.

Para pejabat Israel sepakat bahwa rencana aneksasi daerah-daerah di Tepi Barat ke dalam wilayah pendudukan akan dilaksanakan pada Juli mendatang. 

 

Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrallah mengatakan rezim Zionis Israel telah mengobarkan perang ilusi untuk melawan Iran di Suriah.

Hal itu disampaikan dalam pidato untuk memperingati empat tahun gugurnya komandan senior Hizbullah, Mustafa Bedreddine di Suriah. Demikian dikutip IRNA, Rabu (13/5/2020).

"Suriah telah muncul sebagai pemenang dalam perang global ini dan sebagai hasilnya, kekuatan hegemonik terus melakukan tekanan politik, perang psikologis, dan menjatuhkan sanksi pada Suriah setelah kemenangan militer," ujar Nasrallah.

Dia menolak klaim yang menyebut Rusia dan Iran mulai terlibat konflik di Suriah, dan menandaskan ini adalah bagian dari perang psikologis melawan Suriah dan sekutunya. "Apa yang diinginkan Iran adalah mendukung dan mempertahankan Suriah, tidak ingin berbenturan dengan pihak mana pun," tambahnya.


Iran, lanjutnya, ingin mempertahankan identitas Suriah dan menjaga kemerdekaan negara itu agar tidak jatuh ke tangan Amerika dan Israel. Oleh karena itu, Iran sama sekali tidak mencampuri urusan Suriah.

Menurut sekjen Hizbullah, Israel mengkhawatirkan perkembangan di Suriah, karena para pejabat Tel Aviv percaya bahwa Suriah merupakan ancaman bagi rezim Zionis. Oleh sebab itu, Israel memulai petualangan yang gegabah di Suriah.

"Suriah telah menjadi hambatan besar untuk melaksanakan prakarsa Amerika-Israel-Saudi, yang bertujuan menguasai kawasan," tandasnya.

Nasrallah menjelaskan bahwa Suriah telah terbebas dari pemecahan dan konspirasi yang menelan biaya besar serta melibatkan peralatan militer dan puluhan ribu petempur.

"Suriah mencapai kemenangan berkat perlawanan dan keteguhan pemimpin, militer, dan rakyat serta dukungan sekutunya," pungkasnya.