کمالوندی

کمالوندی

 

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, kembali memprotes perihal penarikan ilegal Amerika Serikat dari perjanjian nuklir JCPOA, penerapan sanksi sepihak atas Iran, dan pelanggaran rutin terhadap Piagam PBB.

Hal itu disampaikan dalam sepucuk surat kepada Sekjen PBB Antonio Guterres pada 8 Mei 2020 atau bertepatan dengan tanggal keluarnya AS secara sepihak dari JCPOA pada 2018 lalu.

Ini adalah surat kedua Zarif yang dikirim kepada Guterres dalam dua bulan terakhir. Menlu Iran dalam surat pertama kepada sekjen PBB pada 12 Maret lalu, menekankan urgensitas penghapusan sanksi sepihak AS terhadap Iran di tengah upaya memerangi wabah virus Corona.

JCPOA adalah bukan korban pertama dan tidak akan menjadi yang terakhir dari kebijakan unilateralisme Donald Trump. Hampir tidak ada perjanjian internasional yang tidak ditinggalkan oleh Trump.

Pemerintah AS dengan aksi sepihaknya telah menarik diri dari Perjanjian Iklim Paris, Perjanjian Perdagangan Trans-Atlantik, Pakta Perdagangan Bebas Amerika Utara, UNESCO, Dewan HAM PBB, dan perjanjian nuklir JCPOA.

Menurut para analis, tindakan yang melanggar norma-norma ini tidak memiliki tujuan lain kecuali memeras dan memaksakan agenda AS kepada komunitas internasional.

Pakar masalah internasional asal Iran, Doktor Mani Mehrabi mengatakan, “Sejak dekade 1940-an, kebijakan luar negeri AS didasarkan pada prinsip kekuasaan, dan Gedung Putih membangun hubungannya dengan negara lain dalam konteks memperoleh konsesi dari mereka.”

Trump sekarang berusaha untuk memperpanjang embargo senjata terhadap Iran, yang akan berakhir pada Oktober 2020 sesuai dengan ketentuan JCPOA.

Republik Islam Iran pasti akan bereaksi terhadap setiap langkah AS yang bertentangan dengan keamanannya dan kawasan serta akan menghadapi tekanan Washington.

Presiden Donald Trump.
Dalam menanggapi upaya AS untuk memperpanjang embargo senjata terhadap Iran, Presiden Hassan Rouhani menekankan, "Jika embargo senjata diperpanjang, kami akan membalasnya sesuai dengan isi paragraf terakhir surat saya kepada para pemimpin negara Kelompok 4+1, yang akan memiliki konsekuensi buruk bagi mereka.”

“Iran tidak akan menerima pelanggaran resolusi 2231 Dewan Keamanan. Apakah kita membeli senjata atau menjualnya, ini semua untuk perdamaian, dan bukan menuangkan bensin ke atas api,” tegasnya.

Di tengah kegagalannya menangani wabah virus Corona di AS, Trump sekarang membutuhkan sebuah skenario baru dengan tujuan mengalahkan atau membuat Iran takluk Padahal, satu-satunya cara bagi Washington untuk kembali ke jalan yang benar dan rasional adalah menghormati multilateralisme.

Sekarang bahkan rakyat Amerika – menurut beberapa jajak pendapat – tidak mendukung langkah Trump keluar dari perjanjian nuklir Iran.

Saat ini, multilateralisme menjadi lebih penting dari sebelumnya bagi komunitas internasional dan ia telah muncul sebagai sebuah realitas di kancah internasional.

Oleh karena itu, Duta Besar Iran untuk PBB, Majid Takht-Ravanchi menekankan pentingnya memperkuat multilateralisme dan mengatakan, AS telah melecehkan hukum internasional dengan melanggar resolusi 2231 Dewan Keamanan dan mengintimidasi negara lain.

"Multilateralisme telah menghadapi beragam tantangan. Dunia harus menegakkan supremasi hukum sebagai pengganti kebijakan arogan dan kerja sama sebagai pengganti konfrontasi," tandasnya.

 

Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, Mayjen. Mohammad Bagheri menyebut demonstrasi satelit Noor produksi dalam negeri motor penggerak perubahan konstelasi kekuatan yang menguntungkan bangsa Iran.

Lebih lanjut ia menjelaskan, unjuk kekuatan ini  akan membuat musuh mengalami kekalahan intelijen yang jelas.

Bagheri Sabtu (09/05/2020) di Tehran menilai peluncuran sukses satelit Noor oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai bukti desain dan program cerdas serta dengan dukungan jelas sains, teknologi dan ilmiah. Ia menambahkan, peluncuran satelit Noor ke orbit sebuah indikasi rasa tanggung jawab angkatan bersenjata Iran untuk memainkan peran bersamaan dengan upaya penanggulangan wabah Corona serta peningkatan kekuatan negara dengan keterlibatan di sektor luar angkasa.

Seraya menjelaskan bahwa prestasi besar bersejarah ini disertai dengan kekalahan nyata intelijen musuh revolusi dan negara khuussnya AS, Bagheri menekankan, bangsa Iran meski mendapat sanksi total dan menghadapi perang ekonomi oleh AS, berhasil membuat musuh mundur.

Satelit Noor, satelit militer Iran pertama, sukses diluncurkan ke orbit pada 22 April lalu. Satelit ini ditempatkan di orbit 425 km dari permukaan bumi. 

 

Badan Nasional Penanganan Virus Corona Republik Islam Iran menggelar pertemuan menyeluruh yang dihadiri oleh semua anggota badan ini pada hari Minggu, 10 Mei 2020.


Rapat tersebut menjadi istimewa karena Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei berpartisipasi dalam rapat ini melalui konferensi video.


Para gubernur dan anggota Badan Nasional Penanganan Virus Corona di tingkat provinsi di Republik Islam Iran juga berpartisipasi dalam rapat itu melalu konferensi video.


Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani dan para menteri kabinet hadir dalam rapat yang membicarakan tentang penangan virus Corona, COVID-19 di negara ini.


Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran Kianoush Jahanpour mengatakan, pasien COVID-19 yang sembuh meningkat dan hingga sekarang 86.143 pasien virus ini telah sembuh dan diizinkan pulang dari rumah sakit.


"Sejak Sabtu siang hingga siang hari ini (Minggu siang), berdasarkan hasil tes laboratorium, ada 1.383 pasien baru yang terinfeksi virus Corona, sehingga jumlah total pasien yang terinfeksi virus ini menjadi  107.603 orang," kata Jahanpour, Minggu, (10/5/2020) siang.


Dia menambahkan, sayangnya selama 24 jam lalu, 51 pasien yang terinfeksi Covid-19 di Iran meningal dunia, sehingga jumlah total yang meninggal dunia hingga sekarang mencapai 6.640 orang. Sementara 2.675 pasien dalam kondisi kritis.


Virus Corona telah menyebar ke berbagai negara dan jumlah korban jiwa akibat virus ini di seluruh dunia hingga Minggu pagi, 10 Mei 2020 telah mencapai 279.398 orang.


Lebih dari 4.037.182 orang terinfeksi COVID-19 dan 1.354.458 dari mereka telah sembuh. Covid-19 ditemukan pertama kali pada Desember 2019 di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina.


AS berada di urutan pertama yang memiliki kasus terbanyak terkait dengan virus Corona. 1.309.541 warga Amerika terinfeksi COVID-19, dan 78.794 dari mereka meninggal dunia.


Spanyol berada di urutan kedua. 223.578 warga negara ini tertular COVID-19, dan 26.478 dari mereka meninggal dunia. Negara berikutnya adalah Italia. 218.268 warga negara ini terinfeksi virus Corona dan 30.395 dari mereka meninggal dunia.


Negara-negara berikutnya yang memiliki kasus terbanyak COVID-19 adalah Inggris, Rusia, Prancis, Jerman, Brazil, Turki, Iran dan Cina. 

 

Sidang markas nasional untuk memerangi virus Corona digelar melalui konferensi video dan diikuti oleh Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.

Presiden Iran Hassan Rouhani, para menteri, gubernur dan anggota markas ini juga mengikuti sidang tersebut.

Menurut keterangan Depkes Iran, sampai saat ini sekitar 106 ribu orang dinyatakan positif Corona dan di antara jumlah tersebut lebih dari 85 ribu dinyatakan sembuh serta diijinkan meninggalkan rumah sakit. Semantara kasus kematian akibat virus ini di Iran mencapai 6.589 orang.

 

Sebuah video klip yang menunjukkan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar meninjau pameran prestasi antariksa Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC memperlihatkan foto-foto jet tempur Sukhoi, Su-22 yang sudah dilengkapi rudal udara ke darat baru.

Fars News (9/5/2020) melaporkan, dalam video kunjungan Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei ke pameran prestasi pasukan antariksa IRGC pada bulan Mei 2014 itu, tampak sejumlah foto yang memperlihatkan jet tempur Su-22 dengan rudal-rudal baru.

Fajr-4
Sampai berita ini diturunkan, informasi detail terkait rudal tersebut belum dipublikasikan, namun sepertinya ia adalah modifikasi rudal Fajr-4 yang bisa diluncurkan dari udara.

Rudal Fajr-4 termasuk rudal kaliber 333 milimeter yang sebelumnya sudah dimodifikasi dalam beragam bentuk peluru kendali dengan penambahan ujung sayap kendali pada dua model Fajr-4 dan Fajr CL4. 

 

Komandan Divisi Luar Angkasa, Pasukan Antariksa, Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC mengabarkan penambahan ketinggian orbit satelit Iran menjadi 36.000 kilometer di atas permukaan bumi.

Brigjen Ali Jafarabadi, Minggu (10/5/2020) mengatakan, penambahan ketinggian orbit atau geostationary orbit, GEO dianggap penting karena hal ini dapat membedakan sebuah satelit dengan satelit komunikasi atau televisi, dan sebuah orbit sangat penting karena satelit-satelit yang ada di dalamnya berperan sebagai pemantau bumi yang stabil dan tetap.

Brigjen Ali Jafarabadi menambahkan, para pakar Iran tidak lama lagi akan menambah ketinggian orbit satelit negara ini menjadi 36.000 kilometer.

"Meluncurkan satelit ke orbit dengan ketinggian ini dari sisi ekonomi akan membawa sejumlah keuntungan bagi Iran, juga menjadi instrumen untuk melindungi aset luar angkasa negara seperti titik-titik orbit GEO," imbuhnya.

Komandan Divisi Luar Angkasa, Pasukan Antariksa IRGC sehubungan dengan pembuatan dan peluncuran satelit Noor, dengan peluncur satelit Qased menerangkan, 90 persen pembuat satelit ini berusia di bawah 30 tahun, dan semua ahli yang memainkan peran langsung dalam proyek ini adalah lulusan universitas dalam negeri Iran.

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Minggu pagi menghadiri komunikasi video dengan Pusat Penanganan Nasional Covid-19 di Iran, yang diikuti oleh para anggota dan gubernur dari 31 provinsi, untuk membahas kinerja negara dalam mengatasi penyebaran virus corona.

Ayatullah Khamenei dalam pertemuan ini menyebut kinerja bangsa dan pejabat dalam berbagai dimensi dari sosial dan budaya, medis dan kesehatan, akademis, manajerial dan layanan sebagai gerakan jihad yang agung dan membanggakan.

"Di bidang pengobatan dan semua jenis layanan medis, pencegahan, penyaringan data, serta kesehatan lingkungan dan pusat-pusat publik merupakan pekerjaan besar yang layak diapresiasi," ujar Rahbar Minggu pagi.

Paket bantuan sosial untuk masyarakat terdampak Covid-19 di Iran

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei juga mencatat "kegagalan kemampuan manajerial Barat" dalam penanganan Covid-19, dengan mengatakan, "Corona menyebar lebih lambat di Amerika Serikat dan Eropa daripada negara kawasan lain, yang berarti negara-negara ini memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri lebih baik menghadapi virus ini. Tetapi mereka tidak berhasil melakukan sebagaimana mestinya. Tingginya jumlah kasus yang positif dan kematian di Amerika Serikat juga beberapa negara Eropa disertai berbagai masalah yang menimpa rakyat di negara-negara ini, termasuk pengangguran telah membuktikan ketidakmampuan mereka,".

Beliau juga mencatat bahwa aksi kepanikan warga dengan menyerbu toko-toko  sebagai tantangan lain yang terjadi di negara-negara Barat.

"Barat dengan semua klaimnya selama ini ternyata gagal. Fakta-fakta ini harus dijelaskan kepada publik dunia," papar Ayatullah Khamenei.

Pidato Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran juga menyinggung realitas pahit dan manis dari krisis global ini, yang mengekspresikan kemampuan internal bangsa Iran dalam kondisi yang sulit dan kritis.

Virus corona, yang diidentifikasi kemunculannya akhir tahun 2019 di Wuhan, Cina, kini telah menjadi pandemi global. Ada fakta menarik di tingkat dunia yang menunjukkan kelemahan sistem kesehatan dan medis, serta aksi pencurian masker dan peralatan medis dan farmasi terjadi di negara-negara yang selama ini acapkali mengklaim memiliki kemampuan, kekayaan, dan kemajuan yang tinggi. 

Peristiwa-peristiwa pahit ini memiliki pesan yang jelas sebagaimana ditunjukkan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran yang menyebut kegagalan "filsafat sosial Barat"  dalam menangani virus corona.

"Spirit dan isi filsafat sosial di Barat didasarkan pada materialisme dan uang. Itulah sebabnya mereka tidak menghormati orang tua, orang sakit, tunawisma, dan orang yang kurang mampu, karena ketidakmampuan mereka menghasilkan uang dan menciptakan materi. Akibatnya begitu banyak orang meninggal di panti jompo, yang mengungkapkan kegagalan filsafat sosial Barat," tegas Ayatullah Khamenei.

Kini, Republik Islam Iran dengan bangga menyatakan siap berbagi pengalaman kesuksesannya dalam pengendalian virus corona dengan negara lain. Semua ini merupakan hasil usaha berbuah manis dan langgeng dari berbagai kesulitan dan kepahitan perjuangan besar selama ini. Itulah sebabnya Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menekankan kembali urgensi dokumentasi pengorbanan nasional ini dengan mengatakan, "Orang-orang Iran yang terhormat telah menunjukkan kecemerlangan dengan perilakunya yang tegar dan sabar, sekaligus menampakkan budaya Islam-Iran,"

 

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov Jumat (08/05/2020) di kontak telepon dengan sejawatnya dari Kuba, Bruno Rodriguez Parrilla memprotes pendekatan sanksi dan represi AS terhadap negara-negara anti hegemoni Washington.

FNA melaporkan, Sergei Lavrov di kontak telepon ini menilai sanksi AS terhadap sejumlah negara sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan ancaman global serta menuntut penentangan atas sikap tersebut.

Lavrov juga menuntut peningkatan hubungan strategis kedua negara.

Sementara itu, menlu Kuba di kontak ini menekankan dilanjutkannya persahabatan, solidaritas, penghormatan timbal balik dan pengokohan kerja sama kedua negara.

Menlu Kuba pekan lalu di akun Twitternya menuntut diakhirinya sanksi ekonomi, perdagangan dan finansial Washington terhadap negaranya.

Rodriguez di cuitan Twitternya seraya menekankan sanksi seperti ini sebuah kejahatan dan tak manusiawi menulis, dampak dari sanksi ini sangat keras ketika berbagai negara menghadapi wabah Corona.

Pemerintah AS selama beberapa hari terakhir dlam sebuah aksi tak manusiawinya mencegah pengiriman masker dan peralatan medis lainnya ke Kuba untuk memerangi wabah Corona. (

 

Deputi Menteri Luar Negeri Rusia mengumumkan, kerja sama militer Rusia dan Venezuela legal, namun beberapa pihak berusaha menutupinya.

IRNA (10/5/2020) melaporkan, Sergei Ryabkov, Minggu (10/5) terkait kerja sama Moskow-Caracas untuk menghadapi upaya kudeta menuturkan, Rusia dan Venezuela menjalin kerja sama yang baik di sejumlah bidang, semuanya dalam kerangka kesepakatan yang sudah ditandatangani pemerintah dua negara, dan sepenuhnya legal.

Ryabkov menambahkan, kerja sama dengan Caracas tidak mengancam pihak ketiga, tapi kami tahu para penentang Presiden Venezuela Nicolas Maduro berusaha menyebarkan propaganda untuk menyingkirkan Rusia.

Sebelumnya media Venezuela mengabarkan keterlibatan 8 tentara elit Rusia dalam operasi penggagalan kudeta Maduro.

Pemerintah Vanezuela minggu lalu mengumumkan operasi sejumlah tentara bayaran untuk melancarkan teror di negara itu dan mereka masuk dari Kolombia

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar mengatakan, negara-negara Barat dalam menangani pandemi global Virus Corona mengalami kegagalan di bidang manajemen, falsafah sosial dan akhlak.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Minggu (10/5/2020) dalam video conference dengan Badan Nasional Penangan Virus Corona Iran di 31 provinsi negara ini menggarisbawahi kegagalan Barat dalam ujian global perang melawan Corona dan menuturkan, Barat dan orang yang kebarat-baratan tidak bersedia menyaksikan kegagalan ini, tapi berbagai dimensi kelamahan Barat harus dipelajari dan dijelaskan, karena pemilihan opsi-opsi penting bagi bangsa-bangsa dunia tergantung pada kesadaran ini.

Sehubungan dengan kegagalan sistem manajemen negara Barat, Rahbar menjelaskan, penyebaran Virus Corona di Amerika dan Eropa terjadi belakangan setelah negara lain, artinya negara-negara ini punya kesempatan untuk bersiap menghadapi virus ini, tapi mereka tidak mampu membuktikan kehebatan sistem manajemennya, tampak pada tingginya angka warga yang tertular dan meninggal di Amerika dan beberapa negara Eropa karena Corona, dan berbagai permasalahan yang menimpa masyarakat di negara-negara itu seperti pengangguran.

Menurut Ayatullah Khamenei, falsafah sosial Barat juga gagal dalam menghadapi Virus Corona. Semangat dan kandungan falsafah sosial di Barat berlandaskan materialisme dan uang, oleh karena itu mereka di Barat tidak memperhatikan orang lanjut usia, orang sakit, orang yang tak punya uang, dan orang terbelakang. Karena lapisan masyarakat ini tidak punya kemampuan menghasilkan uang, dan materi, maka dari itu banyak orang meninggal di panti jompo, dan realitas ini menjadi bukti nyata kegagalan falsafah sosial Barat.

Rahbar juga menyinggung kegagalan di bidang moral publik Barat, yang tampak dalam sejumlah kasus seperti orang-orang yang menggeruduk toko-toko. Warga Barat, katanya, dengan semua klaimnya dalam hal ini, juga gagal, dan kenyataan ini harus dijelaskan pada masyarakat dunia.

Di sisi lain, Ayatullah Khamenei menyebut kinerja rakyat dan pemerintah Iran dalam memerangi penyebaran Covid-19 di berbagai dimensi sosial, budaya, medis, kesehatan, sains, manajemen, dan pelayanan, sebagai gerakan jihad, agung dan membanggakan.

"Rakyat mulia Iran dengan sikap kokoh dan sabarnya berhasil melalui ujian ini, dan menunjukkan budaya Islam dan Iran kepada dunia," pungkasnya.