کمالوندی
Ramadhan, Ancaman Corona Jadi Kesempatan Ibadah
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar mengatakan, meski ibadah berjamaah di bulan Ramadhan tahun ini tidak dapat diselenggarakan, namun jangan sampai kita lalai dari ibadah, doa dan kekhusyuan dalam kesendirian. Kita bisa menghadirkan makna ini, perhatian ini, kekhusyuan dan doa ini, di dalam kamar kita, dalam kesenyapan kita, di antara keluarga dan anak-anak kita.
Ramadhan, bulan rahmat, bulan berkah, ampunan, maknawiah dan bulan Allah Swt, kembali menghampiri kita. Bulan yang selalu dinanti kedatangannya oleh umat Islam setiap tahun, untuk memanfaatkan kesucian dan spiritualitasnya, supaya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan maha pengasih dan pengampun.
Berkat bulan mulia ini, rahmat Ilahi berhembus menghapus semua dosa, dan memperluas kasih sayang-Nya. Namun tahun ini, kita menyambut datangnya Ramadhan dalam situasi yang berbeda. Virus Corona yang berbahaya menyerang hampir seluruh negara dunia, menulari penduduknya, dan sungguh disayangkan menewaskan puluhan ribu orang. Kondisi darurat global ini menyebabkan negara-negara dunia menerapkan aturan pembatasan luas untuk mengendalikan penyebaran wabah Virus Corona, dan salah satu yang terpenting adalah pelarangan berkumpul.
Dampak dari aturan tersebut, masjid, huseiniyah, tempat ziarah dan pusat keagamaan lainnya ditutup untuk sementara, padahal tempat-tempat ini selama bulan Ramadhan selalu ramai dikunjungi umat Islam yang sedang berpuasa. Mereka membaca Al Quran di masjid-masjid, menyimak ceramah keagamaan dan mengikuti majelis doa serta munajat. Spiritualitas yang tumbuh subur di tengah ibadah-ibadah berjamaah terutama di bulan Ramadhan, merupakan salah satu faktor untuk meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Oleh karena itu dalam Islam sangat dianjurkan untuk melaksanakan ibadah secara berjamaah seperti shalat berjamaah dan haji.
Akan tetapi tahun ini umat Islam tidak bisa mengikuti ibadah-ibadah berjamaah selama bulan Ramadhan, dan dengan petunjuk medis mereka berusaha lebih banyak tinggal di rumah untuk mencegah meluasnya wabah Covid-19. Sekarang pertanyaannya adalah apakah karena tidak bisa melaksanakan ibadah-ibadah secara berjamaah, umat Islam tidak bisa meningkatkan keimanan dan spiritualitas diri ?
Jawaban pertanyaan ini jelas, karena seluruh keberkahan dan keutamaan bulan Ramadhan tidak akan ada tanpa kehendak dan kebijaksanaan Allah Swt. Dia yang berkehendak bahwa Ramadhan menjadi bulan terabaik, dan di bulan ini Dia membuka pintu-pintu rahmat lebih lebar, Dia mengabulkan doa-doa hamba-Nya. Oleh karena itu, pintu-pintu Ramadhan selalu terbuka bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat, ampunan dan perhatian Tuhannya, dan jamuan maknawiah-Nya selalu terbuka dan penuh berkah hingga akhir Ramadhan.
Rahmat Tuhan di bulan Ramadhan dalam setiap kondisi termasuk sekarang di tengah wabah Corona, akan selalu tercurah kepada setiap Mukmin. Sebagaimana juga sebelumnya karena wabah penyakit, perang, bencana alam, dan alasan lainnya, masjid-masjid ditutup untuk sementara, namun Allah Swt selalu berada di hati umat Islam, dan di bulan suci Ramadhan, lebih dari bulan yang lainnya, keberadaan Tuhan lebih terasa di setiap sisi kehidupan manusia.
Saat ini kita semakin merasakan dan menyadari nilai ibadah berjamaah di sebuah tempat suci seperti masjid atau tempat ziarah. Kondisi khusus yang diciptakan Virus Corona ini dapat diubah menjadi sebuah kesempatan untuk memanfaatkan secara optimal bulan Ramadhan. Mengikuti anjuran kesehatan, negara-negara dunia meminta rakyatnya untuk tetap tinggal di rumah, dan mengurangi kehadirannya di luar rumah.
Kondisi ini berarti bahwa bulan Ramadhan tahun ini kita memiliki lebih banyak waktu luang di rumah yang bisa kita gunakan untuk meningkatkan ibadah. Jika di tahun-tahun sebelumnya karena tekanan pekerjaan di luar rumah, dan urusan lainnya, kesempatan kita untuk beribadah di rumah relatif kecil, bahkan tidak sempat untuk menghadiri pertemuan-pertemuan keagamaan, tapi sekarang kesempatan itu terbuka.
bantuan untuk fakir miskin di bulan Ramadhan
Saat kita berada di rumah, dengan perencanaan dan pemanfaatan waktu yang tepat, kita bisa melaksanakan ibadah-ibadah yang tidak bisa kita lakukan sebelumnya karena kesibukan di luar rumah seperti membaca Al Quran, doa, shalat dan munajat dengan cara terbaik. Para prinsipnya penting untuk memperhatikan hal ini bahwa sebagian ibadah seperti shalat sunnah, dan munajat khususnya di bulan Ramadhan, akan lebih khusyu jika dilakukan dalam kesendirian.
Tahun ini kita juga jangan sampai lupa mendoakan agar para pasien Corona segera disembuhkan. Poin penting lain, jika beberapa ibadah dilakukan berjamaah bersama anggota keluarga lain, tentu akan lebih khidmat dan memberi dampak lebih besar seperti pendidikan kepada anak, serta memperkuat ikatan keluarga.
Di sisi lain, selain berfungsi sebagai tempat shalat dan ibadah lain, masjid juga bisa digunakan untuk berbagai kegiatan lain yang bisa mendekatkan kita pada Tuhan. Salah satu yang terpenting adalah memanfaatkan masjid sebagai tempat mengumpulkan bantuan untuk fakir miskin. Khususnya di bulan Ramadhan kegiatan amal semacam ini biasanya banyak dilakukan, dan Islam membuka kesempatan luas di bulan ini pada kita untuk bebuat baik kepada sesama. Tahun ini banyak orang kehilangan pekerjaan karena adanya wabah Covid-19, dan mereka sangat perlu dibantu.
Jika kita perhatikan, dalam Islam, harta kekayaan adalah ujian Tuhan untuk mengukur seberapa besar ketergantungan kita pada materi dan kenikmatan dunia, maka kita akan memahami bahwa salah satu bukti nyata keberhasilan dalam ujian ini adalah pengorbanan dan menyumbangkan harta kepada orang yang membutuhkan. Tapi sebenarnya menyumbangkan harta kepada saudara Mukmin justru sangat membantu penyumbang bukan yang disumbang, karena pahala amal baik di bulan Ramadhan jauh lebih besar dari bulan-bulan lainnya.
Rasulullah Saw bersabda, barangsiapa yang bersedekah di bulan Ramadhan, Allah Swt akan mengampuninya. Selain itu, memberi makanan untuk berbuka puasa di bulan Ramadhan juga sangat dianjurkan, dan pahalanya setara dengan pahala berpuasa. Maka dari itu di tengah wabah Corona ini, infak dan membantu fakir miskin sangat penting dan sangat berharga.
Ayatullah Khamenei berkata, bulan Ramadhan adalah bulan infak, bulan pengorbanan, bulan membantu fakir miskin, alangkah baik jika sebuah manuver nasiona luas digelar untuk menunjukkan kepedulian, solidaritas dan bantuan sesama Mukmin kepada orang yang membutuhkan dan fakir miskin, jika dilakukan maka akan menjadi kenangan yang indah atas tahun ini, yang melekat di benak kita semua.
Sejak saat itu organisasi relawan rakyat Iran, Basij langsung bergerak membantu orang yang membutuhkan, dan diharapkan di bulan suci Ramadhan, orang-orang Mukmin lebih dari tahun-tahun sebelumnya, menunjukkan pengorbanan, kasih sayang dan bantuan mereka kepada saudara-saudaranya yang membutuhkan.
Di bulan Ramadhan tahun ini sejumlah orang menyebarkan rumor bahwa berpuasa dapat membuat seseorang mudah tertular Virus Corona. Dr. Alireza Marandi, Kepala Akademi Ilmu Kedokteran Iran setelah mendengarkan pendapat sejumlah dokter spesialis mengumumkan, berpuasa bagi orang sehat bukan saja tidak akan membuatnya tertular Virus Corona, bahkan dapat memperkuat sistem imun tubuhnya.
Di sisi lain ilmu kedokteran membuktikan orang-orang dengan kondisi psikis lebih baik, sistem imunnya lebih kuat, bahkan orang-orang yang sedang sakit tapi perhatiannya pada aspek spiritualitas lebih besar, akan sembuh lebih cepat. Dengan demikian jelas bahwa spiritualitas dan maknawiah di bulan suci Ramadhan sampai tangkat tertentu dapat meningkatkan sistem imun tubuh manusia.
Filosofi Hukum dalam Islam (4)
Orang yang beriman dengan makrifat dan menghambakan diri dengan tulus, tentu ia lebih memahami tentang kedudukan shalat. Mereka tahu bahwa shalat – di samping sebagai ibadah yang ditunaikan oleh seluruh nabi – juga merupakan perintah langsung Allah ketika mengutus para nabinya.
Allah Swt memerintahkan Rasulullah Saw dengan berfirman, "Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman, "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan." (QS. Ibrahim, ayat 31)
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa para pendiri shalat hakiki memiliki hubungan dengan Tuhan dan sekaligus membangun ikatan dengan masyarakat lemah sehingga bisa merasakan penderitaan, dan kemudian berinfak untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Para pendiri shalat hakiki selain memandang dirinya sebagai hamba Allah Swt, juga menyadari bahwa amal ibadah dan menolong orang lain akan menjadi bekalnya di hari kiamat.
Ketika buku amal manusia telah ditutup dan ikhtiyar mereka dicabut, maka mereka tidak bisa lagi membebaskan dirinya dari setiap perbuatan buruk melalui suap atau nepotisme.
Jadi, shalat akan bernilai ketika disertai dengan iman kepada Allah dan hari akhirat serta mampu menghidupkan rasa empati dalam dirinya sehingga tergerak untuk membantu orang-orang yang lemah.
Allah Swt tentu saja akan memberikan balasan kepada hambanya yang berbuat kebajikan dan membantu orang lain. Dia berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Al-Baqarah, ayat 277)
Suasana Masjidil Haram dan Ka'bah di tengah pandemi Corona. (dok)
Pada dasarnya, shalat akan mendekatkan manusia kepada Tuhan dan memberikan ketenangan kepada jiwanya. Nuansa jiwa seperti ini tentu tidak bisa dipahami oleh orang-orang yang tidak beriman. Allah mewajibkan shalat kepada manusia dengan tujuan mendekatkan mereka kepada-Nya. Imam Ali as berkata, "Shalat merupakan wasilah setiap orang bertakwa untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt." (Bihar al-Anwar, jilid 10, hal 99)
Rasulullah Saw menganggap shalat sebagai penyejuk matanya dan beliau sangat mencintai amal ibadah. Rasulullah bersabda, "Shalat adalah bagian dari hukum Ilahi dan keridhaan-Nya bergantung pada shalat, dan ia merupakan tradisi para nabi. Para malaikat mencintai orang-orang yang shalat. Shalat berarti melangkahkan kaki di jalan hidayah dan iman kepada Allah dan ia mendatangkan berkah dalam rezeki, ketenangan dalam jiwa, kebencian syaitan, dan senjata untuk berperang dengan kaum kafir."
Salah satu kedudukan lain shalat dalam budaya Islam adalah memainkan peran kunci dalam kehidupan di akhirat. Ketika banyak manusia berada dalam kegelisahan, ketakutan, dan tidak tahu bagaimana nasib amalnya, maka amalan pertama yang menjadi penolongnya pada hari itu adalah shalat.
Sebab, shalat merupakan manifestasi sempurna dari keyakinan, akhlak, pendidikan, spiritualitas, serta dimensi individual dan sosial pelakunya. Ini juga menunjukkan tingkat komitmennya kepada landasan keyakinan dan ajaran agama.
Rasulullah Saw menaruh perhatian besar dalam masalah penegakan shalat dan bersabda, "Perbuatan pertama yang akan dihisab adalah shalat. Jika ia diterima, maka seluruh amal manusia akan diterima dan jika ia ditolak, maka semua amalan lain juga akan ditolak."
Shalat Jumat di Tehran, 30 Agustus 2019.
Mungkin karena alasan ini, shalat dianggap sebagai tiang agama yang memainkan peran fundamental dalam menegakkan agama dan nilai-nilai di tengah masyarakat.
Dengan memperhatikan peran konstruktif shalat, maka ia harus didirikan dengan sempurna dan tidak lagi hanya sebagai rutinitas. Dalam berbagai ayat dan riwayat, para hamba saleh tidak hanya diperintahkan untuk mendirikan shalat, tetapi juga diminta untuk menanamkan budaya shalat di tengah masyarakat.
Imam Muhammad al-Baqir as dalam menjelaskan peran sentral shalat, berkata, "Shalat adalah tiang agama atau seperti tiang kemah yaitu jika tiang-tiangnya kokoh, maka seluruh tiang lain (rukun) akan tegak berdiri dan jika ia lemah, maka seluruh tiang lain akan roboh."
Perlu dipahami bahwa shalat bukan sebuah kewajiban yang biasa, tetapi jika ia didirikan dengan tulus dan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah, maka shalat dapat menjadi sarana untuk memperbaiki masyarakat, menciptakan persatuan, dan membangun ukhuwah, dan menanamkan budaya ibadah di masyarakat.
7 Warga Sipil Tewas dan Terluka dalam Serangan Israel di Pinggiran Damaskus
Sebuah serangan roket oleh rezim Zionis di daerah pemukiman penduduk di kota al-Hajira dan al-Adliyah, di pinggiran Damaskus, menewaskan tiga warga sipil dan melukai empat lainnya.
Pertahanan udara militer Suriah pada hari Senin (27/04/2020) melakukan serangan balasan terhadap jet tempur Zionis Israel di sekitar langit Damaskus, yang menargetkan sejumlah rudal yang ditembakkan sebelum mengenai sasaran. Demikian dilaporkan SANA, kantor berita resmi Suriah.
Anti udara Suriah mereaksi serangan udara rezim Zionis
Sesuai dengan yang disampaikan televisi pemerintah Suriah, rudal-rudal yang ditembakkan ke Damaskus oleh jet-jet tempur rezim Zionis dilakukan dari langit Lebanon.
Jet-jet tempur rezim Zionis hari Selasa pekan lalu juga menyerang kota historis Palmyra yang direaksi oleh pertahanan udara Suriah, sehingga terpaksa mundur.
Israel secara rutin menyerang posisi miiter dan infrastruktur Suriah untuk menyelamatkan teroris yang terdesak.
Sinetron Mesir, El-Nehaya Memprediksi Kehancuran Rezim Zionis
Sinetron Mesir berjudul "El-Nehaya" (Akhir) meramalkan kehancuran rezim Zionis dan Amerika Serikat di tahun-tahun mendatang.
Amr Samir Atef, penulis sinetron "El-Nehaya yang ditayangkan di malam-malam bulan Ramadhan di televisi Mesir, hari Senin (27/04/2020) kepada Associated Press mengatakan, "Kehancuran Israel akan terjadi."
Kehancuran yang ditunjukkan sinetron El-Nehaya
Sesuai dengan laporan ini, pada episode pertama sinetron Mesir yang bergenre fiksi ilmiah ini, seorang guru berbicara kepada para muridnya tentang perang dan pembebasan al-Quds yang menurutnya 100 tahun setelah berdirinya rezim palsu Zionis, memrediksi bagaimana orang-orang Yahudi lari dari Israel dan kembali ke Eropa.
Sinetron Mesir ini menunjukan peta holografik AS yang terpecah, dengan guru itu mengatakan bahwa "Amerika adalah pendukung utama negara Zionis."
Sinetron El-Nehaya diproduksi oleh perusahaan Synergy, salah satu perusahaan produksi film terbesar di Mesir yang memiliki hubungan dekat dengan Abdel Fattah El-Sisi, Presiden Mesir.
Serial ini mengudara di jaringan televisi ON, yang dimiliki oleh perusahaan pro-pemerintah.
Reaksi Hamas terhadap Agresi Zionis di Suriah
Seorang juru bicara Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) dalam menanggapi serangan rezim penjajah al-Quds ke Suriah mengatakan bahwa rezim Zionis memusuhi rakyat Suriah.
"Tindakan busuk rezim penjajah Israel dalam menyerang Suriah dilakukan dengan dukungan AS untuk kebijakan rezim ini, serta dengan bantuan beberapa negara di kawasan yang berusaha untuk menormalkan hubungan dengan penjajah," ungkap Hazem Qasem, Juru Bicara Hamas hari Senin (27/04/2020), sebagaimana dilaporkan FNA.
"Perilaku bermusuhan dari penjajah Israel menunjukkan bahwa agresi ini tidak terbatas pada Palestina dan tanah air mereka," jelas Hazem Qasem.
Dalam serangan rudal rezim Zionis hari ini ke kawasan penduduk di kota al-Hajira dan al-Adliyah di pinggiran Damaskus, tiga warga sipil tewas dan empat lainnya cedera.
Pertahanan udara militer Suriah melakukan serangan balasan terhadap jet tempur Zionis Israel di sekitar langit Damaskus, yang menargetkan sejumlah rudal yang ditembakkan sebelum mengenai sasaran.
Tentara Zionis Serbu Rumah Khatib Masjid Al-Aqsa
Tentara rezim Zionis Israel menyerbu rumah khatib Masjid Al-Aqsa dan mengancam ulama Palestina ini.
Media Palestina hari Senin (27/4/2020) melaporkan sepuluh perwira dan lebih dari 50 tentara Zionis mengepung rumah Ekrima Sa'id Sabri, mantan mufti agung Baitul Maqdis.
Sheikh Ekrima Sabri memperingatkan masuknya penghuni distrik Zionis ke kompleks Masjid Al-Aqsa, dengan mengatakan, "Jika salah satu pintu masjid ini dibuka untuk penghuni distrik Zionis, maka semua pintu Masjid Al-Aqsa akan dibuka untuk ribuan orang jamaah shalat Palestina,".
Militer rezim Zionis mengancam akan membunuh Sheikh Ekrima, jika ulama Palestina ini mengundang orang-orang untuk menunaikan shalat di Masjid Al-Aqsa.
Israel berupaya menghancurkan identitas Islam dan Kristen di Baitul Maqdis yang digantikan dengan simbol-simbol Zionis.
Sebelumnya, UNESCO pada Oktober 2017 mengumumkan bahwa Masjid Al-Aqsa milik umat Islam dan tidak ada hubungannya dengan orang-orang Yahudi.
Militer Iran akan Tindak Tegas Provokasi AS
Angkatan Bersenjata Iran menyebut kehadiran militer AS di Teluk Persia, Selat Hormuz dan Laut Oman sebagai gangguan bagi keamanan regional.
"Segala bentuk aksi ilegal dan provokatif musuh terhadap teritorial Iran akan ditindak tegas," kata angkatan bersenjata Republik Islam Iran dalam sebuah pernyataan hari Senin (27/4/2020).
"Pembentukan koalisi palsu yang dipimpin AS dengan dalih mempertahankan keselamatan kapal pelayaran internasional merupakan langkah provokatif yang berbahaya serta mengganggu perdamaian dan keamanan di kawasan," tegasnya.
Angkatan bersenjata Iran kepada AS menekankan bahwa satu-satunya alternatif yang aman dan terjamin untuk menjaga perdamaian dan stabilitas keamanan Teluk Persia, Selat Hormuz dan Laut Oman adalah menarik pasukan AS dan sekutu mereka yang selama ini menjadi entitas pengganggu perdamaian dan keamanan.
"Republik Islam bukan pihak yang memulai konflik maupun friksi di kawasan, tetapi akan selalu mempertahankan integritas teritorialnya dengan kewaspasdaan, ketangguhan dan kekuatan penuh menghadapi setiap manuver dan provokasi musuh, termasuk Amerika Serikat," pungkasnya.
Sebelumnya, Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, Mayjen Hossein Salami Kamis (23/4/2020) mengatakan unit maritim IRGC sudah diperintahkan untuk menyerang kapal perang pasukan Amerika yang mengancam kapal perang atau non-perang Iran.
Sehari sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menginstruksikan kepada pasukan Angkatan Laut (AL) AS untuk menghancurkan kapal Iran yang disebutnya mengganggu kapal-kapal Amerika.
"Saya telah menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk menembak jatuh dan menghancurkan setiap kapal perang Iran jika mereka melecehkan kapal kami di laut," tulis Trump di akun twitternya.(
Presiden Iran: Intervensi AS Ganggu Keamanan Regional
Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani menyebut intervensi AS di Asia Barat mengganggu keamanan, perdamaian, dan stabilitas di kawasan.
Presiden Iran dalam percakapan telepon dengan Presiden Cina Xi Jinping hari Senin (27/4/2020) mengatakan, perilaku berbahaya AS berpotensi menyulut instabilitas di Teluk Persia.
"Keamanan regional dan jalur perairan Teluk Persia sangat penting bagi Iran, tetapi perilaku berisiko AS bisa mengganggu kestabilitas kawasan ini," ujar Rouhani.
"Hari ini, dunia berada dalam situasi yang mengharuskan setiap orang saling membantu, bukan sebaliknya melanjutkan sanksi ilegal dan tidak manusiawi terhadap pihak lain," tegas Presiden Iran menyinggung sanksi AS terhadap negaranya.
Sementara itu, Presiden Cina, Xi Jinping dalam percakapan telpon tersebut mengungkapkan, "Penurunan jumlah pasien dan tingkat kematian akibat Covid-19, serta peningkatan jumlah orang yang sembuh di Iran, menunjukkan bahwa program kesehatan di negara ini positif dan akurat,".
Presiden Cina juga memuji usulan keamanan Iran di kawasan dalam bentuk "Prakarsa Damai Hormuz", dan menilainya sebagai langkah penting bagi perdamaian dan stabilitas dunia.
Presiden Iran dan Cina juga menyebut hubungan antara kedua negara strategis dan khusus. Kedua pemimpin berharap hubungan perdagangan Tehran dan Beijing meningkat dari sebelumnya.
Pejabat PLO Tuntut Pembebasan Tahanan Palestina Pengidap Covid-19
Komite Eksekutif Sekretaris Jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Saeb Erekat, mendesak pembebasan segera Mohammad Majed Hassan, seorang tahanan Palestina di penjara Israel yang telah didiagnosis dengan coronavirus (COVID-19).
Erekat mengatakan dalam sebuah tweet bahwa penahanan atas Hasan oleh otoritas pendudukan Israel adalah pelanggaran terang-terangan Israel di bawah hukum humaniter internasional.
Kami menilai Israel bertanggung jawab penuh atas hidupnya dan menuntut pembebasannya segera. ”
Lebih dari 15.000 kasus coronavirus telah dikonfirmasi di negara pendudukan Israel sejak dimulainya pandemi di negara itu pada bulan Februari.
Para pemimpin Palestina telah menyerukan pembebasan segera tahanan dalam penjara Israel untuk menyelamatkan hidup mereka mengingat pandemi yang menyebar luas.
Aneksasi Tepi Barat, Sekjen PBB Kecam Israel
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, mengkritik Israel atas niatnya untuk mencaplok bagian-bagian Tepi Barat. Wilayah tersebut sedang berada di tengah wabah Covid-19 dan dapat menimbulkan risiko tinggi bagi komunitas Palestina.
Guterres menanggapi surat yang ditulis oleh Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmad Aboul Gheit, yang memperingatkan Israel yang memiliki motif akan mengeksploitasi pandemi Covid-19 untuk mencaplok bagian-bagian wilayah Palestina.
Sekjen PBB mengatakan tindakan Israel yang sepihak itu akan membahayakan negosiasi antara kedua kelompok, serta membunuh upaya lain demi terciptanya perjanjian damai.
Dia menambahkan bahwa semua elemen pemerintah harus bekerja sama untuk memerangi pandemi coronavirus. Pengambilan langkah-langkah sepihak dapat meningkatkan kekhawatiran atas situasi kesehatan di Jalur Gaza dan Yerusalem Timur.
Aboul Gheit sebelumnya mendesak PBB untuk mengambil tindakan serius Israel terhadap stabilitas dan keamanan regional.




























