کمالوندی
Posisi Undang-Undang dalam Al-Quran dan Sunnah
Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa undang-undang, baik itu dalam bentuk adat, tradisi atau undang-undang tertulis, senantiasa mengatur kehidupan manusia. Tanpa adanya aturan sosial, manusia tidak akan pernah bisa hidup. Terlebih lagi setelah hubungan sosial manusia menjadi semakin kompleks, kebutuhan adanya aturan dalam kehidupannya menjadi hal yang penting.
Undang-undang merupakan kumpulan perintah dan larangan yang menentukan cara berperilaku manusia dalam kehidupan sosial.Tanpa adanya aturan, kehidupan manusia akan bermasalah dan muncul kekacauan.
Ketika masyarakat menginginkan hidup sosial, bekerjasama dengan yang lain dan membagi kerjasama ini di antara mereka, maka muncul benturan antara kepentingan dan keinginan mereka. Siapa yang menginginkan saham yang lebih dari lain atau menentukan cara menyikapi orang lain sesuai dengan keinginannya yang tidak disukai orang lain, maka yang muncul adalah ketegangan di antara mereka. Untuk mencegah terjadinya perselisihan ini, harus ditentukan batasan-batasan dan menyusun undang-undang. Bila hal ini tidak dilakukan, maka kehidupan sosial manusia akan goyah dan fondasinya akan hancur. Pertanyaannya, sejak kapan dan di mana undang-undang ini disusun dan ditampilkan, sekalipun sederhana
Tampaknya undang-undang yang paling tua dan komprehensif untuk pertama kalinya di kerajaan Babel yang disusun oleh Hamurabi. Ia berkuasa sejak tahun 2123 hingga 2080 SM di Babel (sekarang Irak). Piagam dunia yang dibuatnya lebih banyak terkait dengan urusan seperti menuduh orang lain, bersumpah bohong, menyuap hakim, tidak adil dalam menghukumi, hubungan antara pemilik dan budak, hukum perdagangan dan hak-hak keluarga. Tapi latar belakang undang-undang ilahi sudah ada pada masa Nabi Nuh as yang lebih tua dari piagam Hamurabi.
Nabi Nuh as sendiri merupakan satu dari Nabi Ulul Azmi yang memiliki syariat dan hidup sebelum Nabi Musa dan Isa as. Berkembang luasnya masyarakat dan munculnya perselisihan terkait kepentingan materietnis dan lain-lain menyebabkan para nabi membawa undang-undang yang sesuai untuk masyarakatnya demi menyelesaikan perselisihan dan menunjukkan jalan kebahagiaan. Undang-undang ini dibawa mereka kepada manusia dalam bentuk agama yang secara bertahap semakin menyempurna, sehingga Nabi Muhammad Saw pamungkas para nabi membawa undang-undang Islam secara sempurna.
Undang-undang Islam dalam bentuk kitab langit yang disebut al-Quran dibawa oleh Rasulullah Saw untuk manusia. Dengan demikian, al-Quran itu sendiri menjadi buku undang-undang Islam. Dalam buku undang-undang ini termuat program untuk membimbing manusia, bagaimana hubungan sosial, perintah dan larangan baik yang bersifat hukum maupun moral dan lain-lain. Al-Quran menjadi penjelas undang-undang ilahi. Di sini, undang-undang ilahi memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan undang-undang lain yang disusun oleh manusia.
Undang-undang yang tepat dan komprehensif semestinya dapat menjawab kebutuhan materi dan spiritual manusia. Pelaksanaan undang-undang ini dengan sendirinya menjadi sarana bagi kesempurnaan dan pertumbuhan semua potensi manusia baik di bidang materi maupun spiritual, sekaligus menciptakan ketenangan bagi manusia. Mencermati ayat-ayat al-Quran dengan mudah menemukan hakikat ini bahwa pembuat undang-undang ini adalah Allah Swt yang Maha Kuasa dan Bijaksana. Undang-undang yang sesuai untuk manusia memiliki parameter dan bila penyusunnya tidak mengetahuinya, maka ia tidak akan dapat menyusun undang-undang seperti ini.
Satu dari parameter yang harus ada dalam sebuah undang-undang adalah kebenaran sebagai porosnya. Yakni, para penyusun undang-undang harus memperhatikan keseimbangan antara hak dan kewajiban bagi setiap individu dan kelompok-kelompok masyarakat. Undang-undang yang dihasilkan jangan sampai menekan sebagian orang atau kelompok masyarakat dan tidak juga memberikan kelebihan yang tidak rasional kepada sejumlah orang atau kelompok. Undang-undang harus menguntungkan semua orang dan kelompok. Dengan kata lain, menjamin maslahat setiap pribadi atau kelompok dan menyesuaikannya dengan maslahat orang atau kelompok lain. Undang-undang yang harus menyoroti maslahat dan mafsadah individu dan masyarakat, ada jaminan pelaksanaan dan mendukung kesempurnaan spiritual dan tujuan penciptaan manusia.
Apakah manusia yang menyusun undang-undang memiliki parameter yang diinginkan? Tak syak bahwa pengetahuan manusia terbatas. Manusia tidak dapat membangun Madinah Fadhilah atau utopia yang sempurna berdasarkan aturan dan undang-undang yang sudah ada sebelumnya. Kekurangan paling utama dari undang-undang buatan manusia bersumber dari kebodohannya. Pengetahuan biasa manusia yang didapat lewat panca indera dan akal berperan besar dalam menjamin kebutuhan hidupnya.Tapi untuk mengenal jalan kesempurnaan dan kebahagiaan hakiki baik dari sisi individu dan sosial, materi dan spiritual serta duniawi dan ukhrawi, panca indera dan akal saja tidak cukup. Bila tidak ada jalan lain untuk menutupi kekurangan ini, maka tujuan Allah dalam menciptakan manusia tidak pernah terealisasi. Jalan itu adalah wahyu yang diberikan kepada para nabi.
Menguasai segala dimensi kehidupan manusia dan menentukan arah bagi manusia bukan saja sulit bagi satu ada beberapa orang, tapi ribuan pakar di pelbagai disiplin ilmu humaniora juga tidak dapat mengungkap formula yang kompleks ini dan membuat undang-undang yang detil dan lengkap. Undang-undang yang menjamin semua maslahat individu dan sosial serta materi dan spiritual manusia. Proses perubahan undang-undang yang terjadi berkali-kali sepanjang sejarah manusia menunjukkan bahwa sekalipun telah ada upaya serius dari para pakar, tapi tetap saja mereka masih belum mampu membuat sebuah sistem hukum yang benar dan sempurna. Tentu saja untuk menyusun undang-undang ini telah ada upaya untuk memanfaatkan semaksimal mungkin sistem hukum ilahi dan syariat ilahi.
Undang-undang ilahi memiliki banyak pembagian dan telah disinggung dalam al-Quran. Satu bagiannya disebut "undang-undang takwini". Yakni sistem yang mengatur alam ini dan ciri khasnya telah ditanamkan pada semua makhluk. Dalam surat Thaha ayat 50 telah dijelaskan mengenai undang-undang takwini ini yang dikenal dengan hidayah umum. Allah Swt berfirman, "Musa berkata, 'Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." Setiap jenis makhluk memiliki jalur khusus untuk mencapai kesempurnaannya dan tidak ada kesalahan dalam menjalani jalur ciptaan yang telah ditentukan bagi masing-masing jenis makhluk.
Bentuk lain dari undang-undang ilahi adalah "undang-undang tasyri'i" yang hanya khusus bagi manusia. Undang-undang ini mengatur hubungan antara makhluk dan khalik dan begitu juga hubungan antara individu masyarakat secara adil. Allah Swt menyampaikan undang-undang ini lewat orang-orang pilihan yang diutus kepada manusia. Hidayah ini juga biasa disebut hidayah tasyri'i. Dalam surat al-Baqarah pada ayat 213 disebutkan, "..., Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan ..."
Ayat 213 surat al-Baqarah ini mengisyaratkan satu kenyataan bahwa satu dari alasan pengutusan para nabi adalah menyelesaikan perselisihan di antara manusia dengan undang-undang ilahi. Dengan demikian, Allah Swt tidak membiarkan begitu saja kebutuhan manusia akan hidayah dan undang-undang. Dalam banyak ayat al-Quran, Allah Swt telah menyinggung hakikat ini bahwa Kami telah menunjukkan jalan hidayah kepada manusia. Al-Quran sendiri merupakan kitab undang-undang langit terakhir dan wahyu ilahi yang menjadi metode terbaik dalam mendapatkan hidayah. Allah Swt dalam al-Quran surat al-Isra ayat 9 berfirman, "Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar."
Undang-undang ilahi dari sisi substansi dan bingkai amal memiliki perbedaan mendasar dengan undang-undang buatan manusia. Tujuan dari seluruh undang-undang manusia adalah membimbing individu untuk memanfaatkan kelebihan materi dan duniawi yang ada dengan lebih baik dan banyak. Sementara kebahagiaan dan kesempurnaan manusia tidak terbatas hanya pada hal-hal yang bersifat materi. Kesempurnaan ruh dan dimensi batin manusia lebih dalam dan penting, sementara pada saat yang sama undang-undang manusia tidak mampu menyentuhnya. Dapat dikatakan bahwa kebahagiaan manusia ada pada pemahaman dan pelaksanaan undang-undang ilahi yang tidak ada kekurangan di dalamnya.
Kelebihan undang-undang ilahi adalah hubungannya yang erat dengan moral. Apa yang membuat undang-undang berpengaruh di tingkat individu dan sosial kembali pada adanya kekuatan moral dan komitmen individu dan masyarakat untuk mengamalkan undang-undang. Karakter moral agama menyebabkan ajaran-ajaran agama dapat menyebar ke seluruh dunia dan orang-orang mukmin dengan tenang dapat mengamalkan undang-undangnya. Dalam keyakinan mereka, ajaran ilahi terbentuk berdasarkan maslahat hakiki dan nilai-nilai moral manusia. Dengan dasar ini, seorang muslim komitmen dengan kewajibannya. Kewajiban ibadah pada dasarnya merupakan bentuk ujian penghambaan dan dengan mengamalkannya, seorang mukmin akan semakindekat dengan Allah Swt.
Sesuai dengan ajaran agama, nilai hakiki manusia sesuai dengan seberapa dekatnya dengan Allah. Dari sini, kita melihat banyak hukum dan undang-undang dalam al-Quran yang dijelaskan disertai dengan peringatan yang pada gilirannya merupakan peringatan moral. Sebagai contoh, berpuasa dengan takwa, jihad dengan mengingat Allah, perceraian dengan menjauhi bersikap zalim, menaati Allah dan Nabi disertai dengan sikap hormat dan mengeluarkan hukum disertai keadilan. Hubungan erat ini menyebabkan manusia dengan mudah dan senang melaksanakan undang-undang ilahi. Karena beramal disertai takwa dan menuruti nasihat akhlak membuat manusia semakin dekat kepada Allah Swt.
Khutbah Jumat Rahbar Setelah Serangan Balasan terhadap AS
Shalat Jumat di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran pada pekan lalu berlangsung di Mushalla Besar Imam Khomeini ra yang mampu menampung 1,2 juta jemaah shalat.
Imam dan Khatib Shalat Jumat pada 17 Januari 2020 adalah Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.
Jemaah Shalat Jumat di Tehran membludak hingga ke jalan-jalan sekitar Mushalla Besar Imam Khomeini ra.
Meskipun suhu berada di bawah 4 derajat celsius karena musim dingin telah masuk hari ke-27, namun tidak menghalangi warga Tehran untuk menunaikan Shalat Jumat.
Ayatullah Khamenei dalam khutbah pertama menekankan pentingnya untuk menjaga ketakwaan. Menurutnya, pertolongan dan taufik Ilahi serta terpecahkannya beragam persoalan individu dan sosial bergantung pada takwa.
Ayatullah Khamenei memulai pembahasannya dengan membaca sebuah ayat dalam Surat Ibrahim as tentang "Ayyamullah" dan rasa syukur kepada Allah Swt atas segala nikmat yang diberikan.
Menurutnya, perintah Allah Swt kepada Nabi Musa as untuk mengingatkan masyarakat tentang "Ayyamullah" menunjukkan pentingnya hal ini guna memberikan petunjuk kepada orang-orang yang sabar dan bersyukur, yaitu mereka yang ahli bersabar, bertahan, istiqamah dan bersyukur.
Rahbar mengatakan, orang-orang yang sabar adalah mereka yang terintegrasi dalam kesabaran dan istiqamah serta tidak mudah keluar dari medan (medan kebenaran) disebabkan oleh satu hal. Dan orang-orang yang bersyukur adalah mereka yang memahami nikmat dan mengenali dimensi yang terlihat maupun yang tersembunyi dari nikmat itu serta merasa bertanggung jawab atas nikmat-nikmat yang diberikan oleh Allah Swt.
Ayatullah Khamenei menjelaskan, ayat ini turun di Mekah, yaitu ketika memuncaknya perjuangan umat Islam dan perlawanan mereka dalam menghadapi orang-orang kafir. Ayat itu memberikan kabar baik (gembira) kepada umat Islam yang di masa itu dalam kondisi sulit bahwa mereka akan diberi "Ayamullah" dan karena rasa syukur mereka, mereka akan meraih kemenangan-kemenangan lebih.
Rahbar menyebut dua pekan lalu sebagai dua pekan yang luar biasa, penuh peristiwa pahit dan manis yang mengandung pelajaran bagi bangsa Iran. Menurutnya, kebangkitan dan partisipasi luar biasa dalam tasyi' jenazah di Iran dan Irak untuk menghormati para Mujahidin yang gugur syahid merupakan wujud dari "Ayyamullah".
Ayatullah Khamenei menuturkan, "Yaumullah" adalah hari ketika melihat kekuatan Tuhan dalam sebuah peristiwa. Oleh karena itu, hadirnya puluhan juta orang di Iran dan ratusan ribu orang di Irak dan sejumlah negara lainnya dalam tasyi' jenazah Komandan Pasukan al-Quds yang membentuk karavan terbesar dunia, adalah wujud dari "Ayyamullah", sebab, tidak ada faktor lain yang menyebabkan terwujudnya keagungan dan kebesaran ini selain kekuatan Tuhan.
Pemimpin Besar Revolusi Islam juga menyebut hari penghancuran pangkalan militer AS di Irak oleh rudal-rudal Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC/Pasdaran) sebagai salah satu dari "Ayyamullah". Rahbar mengatakan, sebuah bangsa dengan kemampuan dan kekuatan spiritual seperti ini telah menampar sebuah kekuatan arogan dan pengganggu dunia, di mana ini menunjukkan kekuatan Ilahi, oleh karena itu, hari yang besar ini juga merupakan bagian dari "Ayyamullah".
Rahbar menyebut "Ayyamullah" sebagai hari-hari tonggak sejarah dan titik balik sejarah dengan efek dan dampak yang abadi dalam kehidupan, moral dan karakter bangsa-bangsa. Ayatullah Khamenei mengatakan, masyarakat Iran adalah masyarakat yang sabar dan bersyukur, di mana selama bertahun-tahun, mereka selalu bersyukur atas karunia Allah Swt dengan istiqamah yang luar biasa.
Rahbar menekankan pentingnya untuk memahami dimensi materi dan spiritual dari fenomena tasyi' jenazah Shahid Qassem Soleimani. Beliau melontarkan pertanyaan, 41 tahun pasca Kemenangan Revolusi, faktor dan kekuatan apa yang mampu menciptakan mukjizat ini dan membawa masyarakat sebanyak ini untuk datang ke tasyi' jenazah dengan penuh cinta, selain kekuatan ilahi?
Menurut Pemimpin Besar Revolusi Islam, orang-orang yang bersandar pada analisis materi tidak akan mampu menyaksikan kekuatan Tuhan dalam peristiwa tersebut. Ayatullah Khamenei menjelaskan, tasyi' jenazah yang luar biasa dan gerakan Ilahi bangsa ini menunjukkan spiritualitas mengagumkan rakyat serta menunjukkan fakta bahwa kehendak Ilahi adalah untuk kemenangan rakyat Iran.
Menurut Rahbar, pesan lain dari kehadiran puluhan juta orang dalam tasyi’ jenazah Syahid Soleimani adalah baiat kepada jalur Imam Khomeini ra dan menghidupkan kembali beliau di kalangan masyarakat Iran. Ayatullah Khamenei menandaskan, imperium media Zionis dan para pejabat teroris Amerika telah mengerahkan semua upaya mereka untuk menggambarkan komandan tercinta kita, Syahid Soleimani sebagai teroris, namun Allah Swt telah menjadikannya sebaliknya, rakyat di Iran dan bahkan di negara-negara lain memberi hormat kepada Syahid Soleimani dan membakar bendera Amerika dan Zionis.
Menurut Ayatullah Khamenei, kenyataan ini menunjukkan kekuatan dan petunjuk Allah Swt. Selain dalam hal tasyi’ jenazah para Mujahidin, kesyahidan mereka merupakan tanda-tanda kekuatan Ilahi. Sebab, teror terhadap Letnan Jenderal Qassem Soleimani yang merupakan komandan terkuat dan terkenal dalam menumpas terorisme di seluruh kawasan, telah mengungkap skandal pemerintah tak tahu malu Amerika.
Rahbar memberikan salah satu contoh keberanian Syahid Soleimani di medan tempur, di mana dia masuk ke sebuah wilayah yang dikepung penuh oleh musuh dengan helikopter. Kedatangan Letjen Soleimani membangkitkan semangat para pemuda di wilayah yang dikepung penuh oleh musuh itu. Mereka kemudian bangkit dan melawan sehingga berhasil mematahkan pengepungan, dan bahkan mengusir musuh.
"Dalam peristiwa pembunuhan terhadap Syahid Pemberani ini, Amerika tidak berhadapan dengannya di medan perang, tetapi mereka secara pengecut melakukan kejahatan ini, di mana ini menyebabkan skandal mereka semakin terungkap," tuturnya.
Ayatullah Khamenei menjelaskan, model kejahatan ini, yaitu meneror para pemimpin Muqawama (perlawanan) adalah khusus bagi rezim Zionis (Israel), namun sekarang juga untuk Amerika. Tapi sebenarnya, Amerika telah melakukan banyak kejahatan dan pembunuhan di Irak dan Afghanistan, namun tidak mengakuinya. Kali ini, Presiden AS (Donald Trump) sendiri yang mengakui kejahatannya bahwa mereka adalah teroris dan telah melakukan teror, di mana tidak ada skandal yang lebih tinggi dari ini.
Terkait dengan serangan balasan rudal-rudal Iran terhadap pangkalan militer AS di Irak, Rahbar mengatakan, respon kuat ini merupakan pukulan efektif militer, namun yang lebih penting dari pukulan militer adalah pukulan terhadap kehormatan Amerika dan pukulan terhadap wibawa Amerika.
Ayatullah Khamenei menyebut pukulan pasukan Pasdaran (IRGC) tersebut telah memalukan Amerika, dan mengatakan, pukulan kuat ini tidak akan terkompensasi oleh apapun, dan penambahan sanksi terhadap Iran yang dikatakan oleh para pejabat Amerika akhir-akhir ini, tidak akan mampu mengembalikan wibawa mereka yang telah hilang.
Menurut Rahbar, manifestasi dari kekuatan Ilahi dalam respon tegas Pasdaran adalah buah dari usaha yang dilakukan dengan ikhlas. Ayatullah Khamenei menuturkan, di manapun dan dalam pekerjaan apapun, jika dilakukan dengan ikhlas, maka Allah Swt akan memberikan berkahnya, dan bahkan memberikan berkah itu kepada semua, dan abadi.
Ayatullah Khamenei menyebut kehadiran penuh cinta masyarakat dalam tasyi' jenazah Syahid Soleimani dan para pejuang yang gugur syahid bersamanya dan kebangkitan baru semangat revolusioner rakyat sebagai dampak nyata dari keikhlasan Syahid Letjen Soleimani dan para Syuhada yang menyertainya.
Rahbar menekankan untuk memahami secara mendalam atas "Ayyamullah" pada pekan-pekan ini dan menegaskan untuk tidak melihat Syahid Soleimani dan Syahid Abu Mahdi al-Muhandis sebagai individu-individu, tetapi melihatnya sebagai sebuah madrasah, yaitu sebagai sebuah jalan dan madrasah untuk mengambil pelajaran.
Di bagian lain khutbahnya, Ayatullah Khamenei mengatakan, Pasdaran (IRGC) adalah sebuah lembaga kemanusiaan dan memiliki motivasi besar untuk penyelamatan, di mana pandangan ini dapat dilihat dari penghormatan besar masyarakat kepada Syahid Soleimani.
Rahbar menambahkan, semua Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Pasdaran, Militer dan Basij memiliki dasar-dasar pemikiran yang bertumpu pada tujuan-tujuan Ilahi. Namun Pasdaran berada dalam posisi sebagai pejuang tanpa batas, di mana mereka akan hadir untuk membantu bangsa-bangsa di kawasan dan melindungi martabat orang-orang yang tertindas.
Menurut Ayatullah Khamenei, menjauhkan Iran dari bayangan perang, teror dan kerusakan adalah salah satu dari pekerjaan penting Pasdaran. Rahbar menuturkan, bagian penting dari keamanan Iran adalah hasil dari kerja keras para pemuda Mukmin yang dikomandoi oleh Letjen Soleimani, di mana mereka selama bertahun-tahun berjihad dan berkorban. Mereka juga membantu Palestina dan berbagai wilayah lainnya, namun sebenarnya, mereka itu juga sedang menciptakan keamanan untuk Iran.
Menurut Pemimpin Besar Revolusi Islam, tujuan akhir Amerika menciptakan dan mendukung Daesh (ISIS) adalah menyerang dan menciptakan ketidakamanan di perbatasan dan kota-kota di Iran, namun bantuan para pemuda Mukmin Iran kepada Irak dan Suriah telah menggagalkan konspirasi tersebut.
Terkait klaim para pejabat AS bahwa mereka mendukung rakyat Iran, Ayatullah Khamenei menuturkan, para pejabat Amerika tidak pernah bersama rakyat Iran, dan mereka telah berbohong. Jika iya, mereka hanya ingin menghunjamkan belati beracun ke dada rakyat Iran, meskipun hingga sekarang mereka tidak mampu dan tidak akan pernah mampu untuk melakukannya.
Ayatullah Khamenei lebih lanjut mengungkapkan penyesalan mendalam atas jatuhnya pesawat Ukraina di Tehran, dan mengatakan, kejadian ini sangat pahit dan telah membakar hati kita, namun segelintir pihak yang mengikuti media Amerika dan Inggris berusaha agar peristiwa menyedihkan ini menjadi topik supaya peristiwa tasyi' jenazah Syahid Soleimani dan serangan balasan Pasdaran terhadap Amerika terlupakan.
Rahbar menuturkan, dalam peristiwa tersebut, kegembiraan musuh sama besarnya dengan duka dan kesedihan kita atas kejadian ini. Sebab, mereka memiliki dalih agar Pasdaran, Angkatan Bersenjata dan Republik Islam dipertanyakan, namun makar mereka di hadapan kekuatan Tuhan tidak akan berhasil. "Yaumullah" dalam tasyi' jenazah Syahid Soleimani dan penghancuran pangkalan militer AS tidak akan bisa terlupakan, dan atas karunia Allah Swt, peristiwa ini akan terus hidup.
Ayatullah Khamenei mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga korban jatuhnya pesawat Ukraina, dan mengatakan, saya berterimakasih dan memberi hormat kepada mereka yang berduka, ayah dan ibu para korban, di mana mereka dalam kondisi hati yang penuh duka dan kesedihan, namun tetap berdiri melawan bisikan dan konspirasi musuh, dan berbicara berlawanan dengan keinginan musuh.
Mengingat kejadian tersebut masih menyimpan tanda tanya, Rahbar menegaskan agar dilakukan tindak lanjut serius supaya peristiwa serupa tidak akan terjadi lagi. Menurutnya, pencegahan adalah lebih penting daripada tindak lanjut agar kejadian serupa tidak akan terjadi di masa mendatang.
Republik Islam Iran dan Demokrasi Religius
Kemenangan Revolusi Islam pada 1979 adalah peristiwa politik terpenting abad 20 di kawasan dan dunia. Peristiwa besar ini menopang prestasi besar di arena politik Iran.
Seiring kemenangan Revolusi Islam dan penyusunan konstitusi, bangsa Iran mengambil langkah pertama dalam konteks budaya, sosial dan politik untuk menyiapkan partipasii rakyat dalam pemilihan umum. Imam Khomeini, pendiri Revolusi Islam dalam sebuah pernyataan terkenal mengatakan, "Pemungutan suara adalah rakyat, dan semua hal harus dimulai dengan rakyat dan bangsa di puncak."
Sejak awal, Revolusi Islam memulai sistem demokrasi berdasarkan nilai-nilai agama dan kedaulatan serta hak pilih rakyat. Rakyat Iran, dengan hak mereka untuk memilih,menjaga dan menjunjung nilai-nilai revolusi dan agama serta kebangsaannya melalui pemilihan umum.
Setelah kemenangan Revolusi Islam, Iran menggelar lima putaran pemilihan untuk Dewan Ahli Kepemimpinan yang diadakan untuk memilih wakil mereka di lembaga penting ini. Melalui mekanisme ini rakyat secara tidak langsung telah memilih Pemimpin Besar Revolusi Islam atau Rahbar.
Selama empat dekade ini, Iran telah menggelar lebih dari 10 putaran pemilihan langsung ke parlemen dan 11 putaran pemilu presiden. Selain itu, rakyat Iran juga telah berpartisipasi dalam pemilihan dewan kota dan desa selama lima putaran, dan dua kali telah menyetujui konstitusi.
Kini setelah memasuki langkah kedua revolusi, kelanjutan dan penguatan karakteristik ini sangat penting. Pemilu terus menjadi salah satu elemen penting dalam langkah kedua revolusi, yang menandai kelanjutan dari proses demokrasi di Republik Islam.
Komponen-komponen ini merupakan dasar yang kuat untuk bergerak maju dalam konteks stabilitas dan legitimasi politik. Di satu sisi, pemilu memberikan dasar bagi kekuatan politik, dan di sisi lain, sebagai kriteria untuk mengevaluasi legitimasi sistem politik dalam masyarakat.
Dari perspektif ini, pernyataan "Langkah kedua Revolusi Islam" memiliki tujuan-tujuan penting yang menjanjikan keberhasilan untuk bergerak maju menuju cakrawala peradaban Islam yang luhur. Dengan demikian, memajukan tujuan dari pernyataan langkah kedua secara langsung terkait dengan kehadiran rakyat di panggung pemilu dan kelanjutan dari proses demokrasi.
Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam mengeluarkan pernyataan "Langkah Kedua Revolusi" dan menekankan kelanjutan dari jalan ini, dengan menjelaskan pencapaian luar biasa selama empat dekade terakhir dan membuat rekomendasi kunci. Ayatullah Ali Khamenei, telah menggambarkan sistem "demokrasi religius" sebagai metode pemerintahan yang terbaik, paling tepat dan efisien dan telah menekankan bahwa sistem demokrasi agama adalah model dan metode terbaik bagi pejabat negara Islam untuk menjalankan tujuan dan tugasnya.
Selama empat puluh tahun terakhir, partisipasi rakyat dalam isu-isu politik seperti pemilihan umum telah meningkatkan ketajaman visi politik rakyat dan pandangan mereka tentang masalah tersebut. Dalam prosesnya, analisis politik dan pemahaman tentang isu-isu internasional seperti kejahatan Barat, khususnya AS, dan penindasan historis terhadap bangsa Iran dan kejahatan serta gangguan kekuatan arogan dalam urusan negara-negara dunia menjadi lebih jelas.
Mengacu pada pencapaian masa lalu, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menunjukkan, "Untuk mengambil langkah tegas di masa depan, kita harus mengenali masa lalu dengan benar dan belajar dari pengalaman. Jika strategi ini diabaikan, maka kebohongan akan berada di tempat kebenaran, dan masa depan berada di bawah ancaman yang tidak diketahui. "
Berkaca dari masa lalu, Revolusi Islam telah mengubah rezim boneka dari monarki otoriter menjadi pemerintahan rakyat yang demokratis. Dalam hal ini, indikator seperti menjaga kemerdekaan dan martabat nasional, keamanan bertumpu pada kekuatan dalam negeri, dan penekanan kuat terhadap partisipasi dalam pemilu sebagai pilar penting legitimasi dan stabilitas Republik Islam.
Bagaimanapun, pemilihan umum sebagai bagian utama dari proses realisasi demokrasi, sekaligus sarana bagi pemenuhan partisipasi warga negara dalam pembentukan lembaga-lembaga politik dan perannya dalam menjalankan otoritas politik. Hal ini dinyatakan dalam bagian pernyataan Langkah Kedua Revolusi, "Setelah revolusi menjadi sistem negara, revolusi Islam tidak mengalami stagnasi dan tidak padam. Tidak melihat adanya kontradiksi antara gejolak revolusioner dan tatanan sosial maupun politik, namun tetap mempertahankan teori sistem revolusioner untuk selamanya,".
Pemerintahan Republik Islam Iran menjadikan partisipasi politik rakyat sebagai bagian penting dalam dinamika politik negara ini yang sejalan doktrin politik dan agama yang mereka yakini, sehingga partisipasi rakyat dalam pengambilan keputusan politik sejalan dengan ketaatan mereka terhadap prinsip konstitusi negara ini.
Pengalaman politik empat dasawarsa Republik Islam menunjukkan bahwa, kekuatan internal melalui penguatan infrastruktur legitimasi rakyat telah menjadikan Iran sebagai pusat kekuatan demokratis yang mengusung nilai agama di dalamnya.
Pemilu sejatinya merupakan sarana bagi warga negara untuk berpartisipasi dalam pembentukan lembaga-lembaga politik dan peran aktifnya dala, penentuan para pejabat pelaksana otoritas politik. Ini adalah kesempatan untuk melakukan modernisasi masyarakat yang demokratis. Sejak Revolusi Islam berdiri, telah digelar rata-rata satu pemilu setiap tahun yang jarang terjadi sebelumnya di dunia demokrasi biasa. Sosiolog dan pemikir Prancis Maurice Duverger mengatakan bahwa pemilu adalah buah yang dinikmati bersama dari hak pilih.
Dari perspektif ini, pernyataan "Langkah Kedua Revolusi" memiliki implikasi politik internal dan eksternal yang penting untuk meninjau masa lalu dan langkah menuju masa depan.
Dalam "Pernyataan Langkah Kedua Revolusi", pemimpin Revolusi Islam, menekankan pentingnya masalah-masalah ini, untuk membuat rekomendasi kunci "jihad besar bagi pembangunan Iran Islami yang besar." Bagian dari pernyataan ini mengeksplorasi karakteristik dan komponen politik dari langkah kedua revolusi, termasuk peradaban politik.
Nabi Muhammad Saw Dalam Pandangan Orientalis (2)
Kaum orientalis melakukan riset untuk mencari tahu tentang Nabi Islam yang agung dan agamanya, dimana penelitian ini jauh dari kebenaran dan realita.
Para nabi diutus satu persatu di setiap hari dan masa, sehingga datang pamungkas mereka, Nabi Muhammad Saw di dunia yang penuh kebodohan di Jazirah Arab bak bintang yang bersinar. Nabi terakhir telah mengisi dunia dengan cahaya tauhid sampai sekarang dan setelah 14 abad dari kemunculan agama langit Muhammad Saw, suara global agama ini terdengar dari timur hingga barat dunia.
Ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah teks agama?"
Rasulullah Saw menjawab, "Agama adalah akhlak."
Nabi Muhammad Saw berhasil mengumpulkan para kabilah Arab di bawah satu bendera agama, al-Quran dan kiblat yang satu dengan akhlaknya. Nabi Saw menjadikan parameter kebajikan dengan takwa dan sabar. Dengan jelas dan tegas beliau membatalkan diskriminasi, rasis, etnik dan kabilah.
Al-Quran dalam memperkenalkan Rasulullah Saw mengatakan, "Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi." (QS. Al-Ahzab: 45-46)
Sampai abad kedelapan belas, para orientalis melakukan penelitian untuk mengidentifikasi Nabi Muhammad Saw dan agama yang dibawanya, dimana penelitian ini jauh dari kebenaran dan realita. Pada abad kedelapan belas, serangan terhadap Islam dan Nabi Muhammad terus berlanjut, dengan satu-satunya perbedaan dengan sebelumnya adalah bahwa para kritikus memusatkan semua perhatian mereka pada Nabi, bukan pada agama Islam. Pada saat yang sama, periode ini juga memiliki efek yang berbeda, karena terkadang mengulangi penghinaan di masa lalu.
Zaman Pencerahan (Renaissance) pada abad kedelapan belas didasarkan pada keyakinan bahwa alam dan dunia keduanya harus dirasionalkan. Immanuel Kant mengatakan, "Masa Rennaissance adalah manusia beranjak dan melewati ikatan etnis yang telah ia ciptakan untuk dirinya sendiri," Faktanya, para peneliti periode ini mencoba melakukan pekerjaan mereka berdasarkan rasio.
Oleh karenanya, di era ini, meskipun Islam masih dianggap sebagai analogi yang tidak benar di Eropa, tetapi sering dipuji sebagai fenomena yang menarik dan sensasional. Islam, yang pernah dianggap sebagai ancaman serius, kurang menarik perhatian orang Eropa dan Barat selama periode ini. Di Eropa, Islam dan Muhammad telah menjadi dasar dan sumber inspirasi sastra dan seni.
Tentu saja, tidak dapat dibayangkan di masa ini penggambaran tentang Nabi dan Islam dilakukan dengan keinginan baik atau tidak memihak, tetapi kali ini fokusnya adalah pada Nabi sendiri.
Dua karya besar Simon Ockley dan George Sale, dua orientalis Inggris termasuk dua langkah penting dalam pengkajian tentang Islam. Keduanya mengaku telah berusaha sepenuhnya tidak memihak dan tidak punya motif tertentu dalam perlakuan mereka terhadap Islam dan metode penilaian mereka tentang Muhammad. Bahkan, mereka dapat dikenal sebagai pembela pertama Nabi Muhammad Saw yang menulis tentangnya sesuai dengan semangat Rennaissance, tetapi bahkan mereka tidak sepenuhnya mampu menjauhkan diri dari prasangka asli mereka.
Simon Ockley dalam bukunya berjudul The History of the Saracen sangat memuji umat Islam yang berhasil menaklukkan daerah lain dan perilaku mereka dengan masyarakat. Ia menyinggung satu poin ini bahwa Arab memperlakukan masyarakat yang ditaklukkan dengan adil, obyektif dan menghormati, berbeda dengan para penakluk lainnya. Ia pada tahun 1717 M mempublikaskan ungkapan-ungkapan ringkas Imam Ali as dengan judul Sentences of Ali dan memuji keilmuan dan kebijakan Imam Ali as.
"Sedikit pengetahuan yang dimiliki oleh kita orang Eropa, semuanya berasal dari Timur. Mereka yang mentransfer pengetahuan ini pertama kali ke Yunani dan Romawi mengambil sahamnya dari mereka. Setelah barbarisme dan kekejaman menyebar ke seluruh dunia Barat, umat Islam dengan melakukan penaklukan kembali menyebarkan pengetahuan itu ke Eropa dan kami berutang semuanya kepada Muhammad," tulis Ockley.
George Sale dalam karyanya yang merupakan terjemah al-Quran menulis pengantar tentang kehidupan Nabi Muhammad Saw dan keyakinan Islam. Karyanya memicu protes terhadapnya sampai ia dituduh sebagai setengah Muslim dan menjadi target pidato kebencian. Namun Sale dengan pernyataan yang lugas dan efektif dalam membela dirinya dalam pendahuluan itu menulis:
"Berbicara tentang Muhammad dan al-Quran, saya tidak membiarkan diri saya menggunakan ungkapan menghina, memalukan dan terlepas dari etika... Sebailknya, saya mengharuskan diri saya untuk memperlakukan Nabi Muhammad dan al-Quran dengan etika dan kesopanan yang sama." Ia percaya bahwa Nabi Muhammad Saw mengajak orang-orang Arab dari penyembahan berhala untuk menyembah Tuhan Yang Esa dan berusaha untuk menghapus distorsi yang dilakukan oleh orang lain dalam Tauhid. Ia menulis, "Rencana dan gambaran pertamanya (Nabi) yang mengajak orang-orang Arab yang menyembah berhala menuju pengetahuan tentang Allah yang hakiki, jelas merupakan rencana yang mulia dan sangat dipuji. Di sinilah saya tidak dapat mengkonfirmasi klaim almarhum penulis (Prido) bahwa Muhamad telah melakukan kesalahan ketika ia memaksa orang-orang dari penyembahan berhala menjadi monoteisme."
Pada abad ke-18, gagasan tentang kepahlawanan sangat berpengaruh, dan Nabi Muhammad menjadi pahlawan dari penyair Jerman yang terkenal, Goethe. Johann Wolfgang von Goethe, seorang penyair berbahasa Jerman adalah salah satu penyair dan genius abad ke-18 yang paling tertarik pada Islam dan Nabi Muhammad. Terlepas dari keterbatasan sumber-sumber rujukan Islam yang tersedia, ia menyajikan gambaran yang indah dan abadi dari berkah spiritual Nabi Muhammad Saw dalam karya dramanya Faust.
Dalam bagian dari puisi Mahomets Gesang (Dendang Nabi Muhammad), Goethe menyamakan Nabi Muhammad dengan sungai yang tak terbatas yang telah membawa banyak aliran sungai bersamanya dan selalu menambah keagungannya dan membawa manusia ke rumah abadi bersamanya. Sepotong puisi ini diucapkan dalam bahasa kerabat terdekat Nabi, Imam Ali as dan Sayidah Fathimah as, di mana Goethe menggambarkan dan membandingkan semua tahap dari dakwah Nabi Saw dan bimbingannya di antara orang-orang. Ia dengan penuh semangat memilih Nabi Muhammad Saw sebagai sumber inspirasi untuk pembebasan dan melihat Nabi Muhammad datang dari sungai yang menyirami dataran.
Ghoethe di sebagian puisinya menulis:
Pandangi mata air
yang bersumber dari gunung
Betapa segar dan menyenangkan
Seperti mata bintang-bintang,
Saat mereka bersinar.
Benar-benar pemimpin dan penuntun
Semua mata air itu adalah saudaranya
Dia membawa bersamanya.
Dan di sana, jauh di bawah lembah
Di garis depan sungai ini ada bunga tumbuh
Dan sayuran menjadi hidup dari napasnya.
Sekarang sungai ini semakin besar setiap saat
Ke depan, aliran air
Silsilahnya akan membuatnya
Dan air telah mengangkat pemimpin itu di pundak mereka
Dan itu mengalahkan semua kerajaan
Dan memberikan namanya ke tanah
Dan di garis depan dia membangun kota.
... dan begitu pula saudara-saudara, harta karun, anak-anaknya.
Dia bergerak menuju Sang Pencipta.
Dan dalam banjir sukacita dan kebahagiaan
Menuju jantung sarangnya.
Goethe memuji Nabi Muhammad sebagai manusia yang luar biasa dan bukunya menyajikan al-Quran sebagai warisan abadi.
Nabi Muhammad Saw Dalam Pandangan Orientalis (1)
Ketika orang Barat memasuki berbagai negeri, sekelompok cendekiawan berusaha memahami budaya Timur. Hasil dari usaha ini adalah disiplin ilmu yang disebut "Orientalisme". Salah satu topik yang awalnya dipertimbangkan oleh para sarjana Timur adalah pengetahuan tentang Nabi Muhammad Saw. Pengakuan ini, meskipun kadang-kadang disertai dengan pandangan bias, termasuk, dalam banyak kasus, pengakuan tentang kebenaran Nabi Muhammad Saw dan agama Islam yang akan kita bahas dalam rangkaian program ini.
Nabi Muhammad Saw adalah mata rantai terakhir dalam rangkain para nabi ilahi yang dipilih untuk memimpin umat manusia dan dengan kemunculannya dan agama transendennya telah mengubah dunia. Ia adalah seorang nabi dari Timur yang menonjolkan kemanusiaan dan kesalehan serta mengajarkan kesetaraan, persaudaraan, kedamaian, dan persahabatan. Suara pertamanya kepada umat manusia adalah untuk mengatakan, "Qulu La Ilaha Illallah Tuflihu", Katakan tidak ada tuhan selain Allah, kalian selamat.
Dan ini menandai awal dari perubahan di dunia dan pencarian yang benar atau salah akan nabi pamungkas.
Ketika orang Barat memasuki berbagai negeri, termasuk Timur, sekelompok cendekiawan berusaha memahami budaya Timur. Hasil dari upaya ini adalah disiplin ilmu yang disebut "Orientalisme". Orientalisme adalah ilmu yang berhubungan dengan penelitian dan pengetahuan dari semua pengetahuan dan adat istiadat masyarakat Timur. Dengan kata lain, siapa pun yang mempelajari atau mengajar tentang Timur, apakah antropolog, sosiolog, ahli bahasa, atau sejenisnya, dianggap sebagai orientalis.
Oleh karena itu, orientalis adalah mereka yang menulis atau memberi kuliah tentang Timur dan isu-isu serta budaya dan sejarahnya, dengan motif atau niat apa pun, baik secara ilmiah atau karena keingintahuan atau kesadaran atau untuk tujuan politik dan untuk tujuan dominasi militer, ekonomi, budaya dan kristenisasi. Mereka semua memiliki satu kesamaan, klaim telah mengetahui Timur atau sebagiannya. Salah satu tema umum yang dipelajari adalah Nabi Muhammad Saw.
Di program baru ini, kami akan mengetengahkan pandangan para oriantelis tentang Nabi Muhammad Saw dan mencoba untuk meninjau perubahan pandangan mereka.
Realitas Timur dalam arti terdalamnya melampaui Asia dan bahkan sampai ke sebagian besar Afrika. Ajaran budaya Timur menekankan keunggulan spiritual atas materi, kebermaknaan hidup dan telah memperjelas status tinggi manusia dalam sistem eksistensi. Pandangan singkat tentang sejarah kuno peradaban Timur yang besar mengungkapkan bahwa agama dan spiritualitas adalah unsur pemersatu budaya Timur yang paling penting dan bahwa kebenaran abadi yang dibawa para nabi ilahi kepada umat manusia sepanjang sejarah adalah pusat peradaban Timur.
Pemikiran kaum orientalis, dalam perhatian khususnya pada dunia Islam, telah menantang Islam di segala bidang sambil mencoba memahami agama, sumber dan akarnya. Barat pernah mengalami otoritas Islam bahkan di Maroko, di Andalusia, dan kemunculan Islam sejak awal dianggap oleh orang-orang Kristen yang setia sebagai peristiwa yang luar biasa. Dari sini, beberapa sejarawan peradaban Eropa, dengan rasa bahaya dari kekuatan Islam, berusaha sekuat tenaga untuk mempublikasikan apa saja melawan Islam dan Nabi Muhammad Saw serta membuat fitnah yang paling menjijikkan dan penghinaan tentang Rasulullah Saw. Bahkan orang yang menonjol, seperti Voltaire, yang kemudian merevisi pandangannya tentang Islam, menulis drama menentang Nabi dan ditampilkan di Perancis.
Sedemikan luasnya cara pandang negatif dan fanatik ini, sehingga sejauh penulis buku Muhammad di Eropa di pendahuluan teks Inggrisnya menulis, "Dalam karya-karya mayoritas penulis Eropa, Muhammad digambarkan sebagai seorang pria dengan ketidaksempurnaan moral yang besar..."
Barat berusaha menghancurkan, memutarbalikkan, salah mengartikan dan salah menggambarkan tokoh-tokoh terkemuka untuk merongrong Islam dari ketinggian martabatnya, serta untuk menumbangkan intelektual masyarakat Islam. Dalam hal ini, berbagai kelompok peneliti Islam di Eropa masing-masing berurusan dengan kepribadian Nabi.
Dalam pengertian yang paling optimistis, sebagian besar orientalis entah tidak memiliki akses ke ajaran-ajaran Timur yang asli atau tidak dapat menangkapnya dalam ruang mental mereka sendiri. Oleh karena itu, budaya dan peradaban Timur telah dideskripsikan sebagai sangat rusak dan tidak memadai bagi orang Barat sehingga telah membuat citra yang sia-sia dari tradisi Timur. Dengan demikian, dalam penelitian mereka, kami menemukan bahwa orientalis pertama, dengan asumsi spesifik, memberikan laporan yang tidak akurat dan hampir kosong. Sekelompok pemikir, terutama di abad ke-5, membuat studi yang lebih tulus, dan para peneliti telah memperoleh hasil luar biasa dalam beberapa dekade terakhir.
Sayangnya, orientalisme ilmiah secara diam-diam terikat pada tujuan-tujuan politik, dan bahkan beberapa orientalis telah mendapat kritik serius. Annemarie Schimmel, dalam esainya tentang kualitas komunikasi dan praktik Orientalisme, dan khususnya penguasa gereja tentang Islam menulis:
"Dari semua agama yang ditemui oleh agama Kristen, agama Islam adalah yang paling disalahpahami dan merupakan hasil dari serangannya yang parah. Gambaran yang ada dalam pikiran para narator di abad pertengahan tentang Islam dan Nabi Muhammad benar-benar telah terdistorsi. Perubahan ini terkadang mengambil dimensi sedemikian rupa sehingga Muhammad, yang umumnya ditulis dan diucapkan sebagai Mahomet di Barat, dianggap semacam dewa yang mahakuasa dan ia berbicara tentang penyembahan patung emas!"
Tingkat distorsi dan kesalahpahaman terhadap agama yang bahkan melarang tanda-tanda terkecil dari penyembahan berhala dan nabinya menyebut dirinya sebagai hamba Allah, dapat disebabkan oleh kesalahpahaman bahasa agama Islam. Selama tahun-tahun (1143 - 1616 M) beberapa sarjana ditemukan yang secara bertahap mempelajari al-Quran dan bahasa Arab. Annemarie Schimmel menulis tentang karya kelompok orientalis ini pada abad keenambelas dan ketujuhbelas:
"Saya yakin bahwa (di antara mereka yang menuduh Islam memiliki kekurangan) hanya ada beberapa yang telah melakukan studi terhadap al-Quran, dan ada jauh lebih sedikit dari mereka yang benar-benar membacanya, dimana telah mencoba memberikan kata dan frasa di dalamnya makna yang tepat sesuai kata tersebut..."
Pada tahun 1842 M, Gustav Weil berusaha mengomentari kehidupan Muhammad Saw berdasarkan pemisahan sesuai peristiwa sejarah. Di dekade-dekade setelahnya, William Muir, Aloys Sprenger dan Margoliouth ingin membuat wajah negatif dari Muhammad Saw dengan mendistorsi citra Muhammad yang merupakan kumpulan sempurna semua kebajikan sepanjang sejarah para nabi dan menyebut beliau dalam kondisi terbaik hanyalah seorang pembaharu masyarakat.
Karl Heinrich Emil Becker pernah menulis, "Kita tahu banyak tentang memberikan aspek ilusi pada pribadi Muhammad, tetapi kita tidak tahu banyak tentang cara adil berurusan dengannya."
Salah seorang orientalis yang banyak melakukan penelitian tentang sejarah Islam dan benar-benar dikritik oleh bahkan non-Muslim adalah Henri Lammens. Ilmuwan Kristen George Jordac telah mengkritik dengan bijak seraya menyesalkan atas kritik pendeta Belgia ini dan menganggap karya-karya seperti itu bertentangan dengan semangat sains dan metode ilmiah.
Seiring waktu, meskipun sikap menjadi agak adil dan mulai dilakukan penelitian, tidak ada upaya yang dilakukan untuk memahami pesan Nabi dan ajarannya di Barat. Kemunculan dan kebangkitan Eropa modern selama Renaisans, yang ditentukan oleh kemajuan ilmiah dan teknologinya, tidak dapat menghentikan konflik dengan kepribadian agung dan spiritual Nabi dan menghilangkan ketakutannya akan penyebaran Islam. Sekalipun demikian, Muhammad bagaikan cahaya yang bersinar dalam kegelapan dunia ini, membawa pesan terbesar tentang martabat, hak asasi dan kebebasan manusia, dan ia telah menjadi mentor bagi seluruh umat manusia sepanjang sejarah.
Muhammad Saw memikat hati setiap manusia. Kenyataan ini memaksa para orientalis untuk mengakui kepribadiannya yang luar biasa dan ajarannya yang berpengaruh. Annemarie Schimmel dalam hal ini menulis, "Muhammad Saw adalah pelita Islam. Cahaya yang menerangi kegelapan dunia di mana para hadirin berkumpul. Ia adalah lilin yang menyala, sehingga hati manusia seperti laron yang terbang mengitarinya."
Mengenal Para Ulama Besar Syiah
Setelah Imam Mahdi as memasuki periode keghaiban panjang, muncul ribuan faqih dan ulama besar di kalangan Syiah untuk memberikan pencerahan dan membimbing masyarakat ke jalan Allah Swt.
Sejarah kehidupan dan perjuangan ilmiah mereka cukup menarik untuk disimak. Pada seri acara ini, kita akan menelusuri sejarah para ulama besar, kegiatan ilmiah mereka, karya-karyanya, dan kiprah mereka dalam menyebarkan ajaran agama. Selain itu, kita juga akan mempelajari tentang kepribadian dan kehidupan irfani mereka.
Dalam budaya Islam, para ilmuwan dan ulama memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia. Rasulullah Saw – utusan terakhir dan penghulu para nabi – menyebut ulama sebagai pelita bumi dan pewaris para nabi.
Islam adalah agama langit yang terakhir dan setelah Muhammad Saw, tidak ada lagi nabi baru yang diutus oleh Allah Swt, karena manusia telah mencapai sebuah fase dari perkembangan dan kesempurnaan. Mereka menerima ajaran agama untuk kebahagiaan abadi dari Rasulullah Saw dan menjaganya sebagai sebuah warisan yang berharga.
Rasulullah Saw – sebagai hamba Allah Swt – telah menjalani kehidupan untuk beberapa saat di dunia ini dan kemudian dipanggil menghadap Sang Kuasa, tapi ajaran Islam harus tetap hidup sampai hari terakhir kehidupan umat manusia di bumi ini.
Keberadaan para imam maksum dari keturunan Rasulullah Saw – lebih dari dua abad setelah kemunculan Islam – telah menyebabkan pertumbuhan dan penyebaran ajaran Islam. Mereka menjaga Islam dari berbagai terjangan badai fitnah, nifak, dan penyimpangan. Para imam maksum mempersembahkan jiwa dan raganya untuk menjaga agama terakhir Ilahi ini.
Atas kehendak Allah, imam keduabelas (Imam Mahdi as) disembunyikan dari orang-orang sehingga tidak hanya manusia, tetapi alam penciptaan juga bisa tetap eksis dan jiwanya terselamatkan dari kejahatan para durjana.
Menurut sejumlah riwayat, alasan keghaiban Imam Mahdi as adalah bagian dari rahasia Allah yang akan diketahui setelah kemunculannya. Namun, ada beberapa alasan rasional yang disebutkan oleh riwayat seperti, untuk menguji masyarakat, memperlihatkan ketidakmampuan pemerintahan tiran dalam membahagiakan manusia, mendidik manusia, menjaga Imam sebagai perantaraan rahmat Ilahi, dan mempersiapkan dunia untuk mendirikan sebuah pemerintahan Ilahi yang adil.
Selama Imam Mahdi as menjalani fase keghaiban, para ulama yang bertakwa bertugas untuk menyebarluaskan Islam, menjelaskan persoalan agama, dan membimbing masyarakat. Berdasarkan banyak riwayat, kedudukan ulama di sisi Allah lebih tinggi daripada para nabi Bani Israil.
Ulama memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Allah. Tuhan memperkenalkan orang-orang yang berilmu – setelah Dirinya dan para malaikat – sebagai pemberi kesaksian atas keesaan-Nya.
"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali-Imran, ayat 18)
Di ayat tersebut, para pemilik ilmu yang bertauhid dan hatinya diterangi dengan cahaya iman, berada di urutan berikutnya setelah Tuhan dan para malaikat. Para imam maksum juga mengisyaratkan mengenai peran penting ulama di masa kegaiban panjang.
Imam Ali al-Hadi as berkata, "Andaikan tidak terdapat seorang ulama setelah kegaiban pemimpin kalian yang menyeru kepada-Nya, membimbing ke arah-Nya, dan lebur pada agamanya dengan hujjah-hujjah Allah serta membela orang-orang yang lemah di antara manusia dari cengkraman iblis dan tipu dayanya, maka tidak tersisa seorang pun kecuali murtad dari agama Allah."
Ada banyak ayat dan riwayat yang menyeru manusia untuk mengenali dan mengikuti ulama. Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as berkata, "Allah Swt berfirman kepada Nabi Daniyal bahwa hamba-Ku yang paling dibenci di sisi-Ku adalah orang bodoh yang meremehkan hak orang alim dan tidak mengikutinya, dan hamba-Ku yang paling dicintai di sisi-Ku adalah orang bertakwa yang mengejar banyak pahala, bersama orang-orang alim, mengikuti orang-orang yang sabar, dan menerima orang-orang yang bijak."
Posisi istimewa yang diberikan Islam kepada ulama, bukan tanpa alasan. Berdasarkan kehendak Allah, Islam adalah agama terakhir yang membawa aturan yang paling sempurna untuk kebahagiaan manusia. Sepeninggal Nabi Muhammad Saw, agama ini melalui masa-masanya tanpa kehadiran seorang nabi pun dan untuk itu, ia membutuhkan kehadiran para ulama yang bisa menjawab tantangan dan tuntutan baru umat manusia.
Allah Swt melalui al-Quran, telah menjelaskan panduan umum dan kaidah yang tetap untuk kebahagiaan abadi manusia. Dengan merujuk ke sumber-sumber hukum agama, manusia diharapkan dapat menemukan landasan hukum untuk masalah-masalah parsial yang dihadapinya di berbagai bidang.
Upaya menyingkap landasan hukum ini disebut ijtihad yaitu usaha sungguh-sungguh yang dilakukan para ulama untuk mencapai suatu putusan (simpulan) hukum syar'i mengenai kasus yang penyelesaiannya belum tertera dalam al-Quran dan hadis.
Para ulama perlu menguasai sumber-sumber agama secara penuh untuk dapat melakukan ijtihad dan mengeluarkan sebuah hukum fikih. Mereka berjuang siang-malam untuk menjaga agama dan memberikan pencerahan kepada manusia.
Anda bisa mengikuti sejarah kehidupan para ulama besar Syiah dan kontribusi mereka di masyarakat di seri-seri berikutnya.
Pemimpin Hamas Bertemu Menhan Malaysia di Qatar
Kepala Biro Politik Hamas, Palestina, Ismail Haniyeh, Minggu (19/1/2020) bertemu dengan Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamad Sabu di Doha, Qatar.
ISNA (19/1) melaporkan, Ismail Haniyeh dan Mohamad Sabu dalam pertemuan itu membicarakan sejumlah masalah penting seputar hubungan bilateral kedua negara.
Dalam pertemuan itu Kepala Biro Politik Hamas juga mengapresiasi sikap pemerintah Malaysia terkait perjuangan bangsa Palestina.
Menurut Haniyeh, peran rakyat Malaysia cukup besar dalam mengurangi blokade Jalur Gaza melalui banyak delegasi yang mengunjungi wilayah ini.
Petinggi Hamas Bertemu PM Malaysia di Kuala Lumpur
Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh bertemu Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dalam kunjungannya ke Kuala Lumpur.
Dalam lawatannya pada hari Selasa (21/1/2020), Haniyeh dan Mahathir bertukar pandangan seputar perkembangan di Palestina, dukungan untuk bangsa Palestina, dan cara-cara menghadapi tantantang yang dihadapi Palestina.
Haniyeh memulai tur ke luar negeri sejak pekan lalu. Ia telah berkunjung ke Mesir, Turki, dan kemudian Qatar. Dia juga datang ke Tehran untuk menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Komandan Pasukan Quds Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani.
MUI Kecam Keras Serangan AS terhadap Qasem Solaemani
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk keras serangan militer AS yang menewaskan Komandan Pasukan Quds Korp Garda Revolusi Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani bersama wakil komandan Al-Hashd al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis dan sejumlah orang lainnya.
Sekjen MUI, Anwar Abbas mengatakan, MUI mengutuk dengan keras pembunuhan terhadap Jenderal Iran, Qasem Soleimani yang tewas bersama pemimpin milisi Hashed al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, di Bandara Internasional Baghdad Irak yang diserang dengan rudal dari drone AS.
Menurut Anwar, serangan AS terhadap Soleimani akan memicu ketegangan dan ancaman baru, karena Iran tidak akan tinggal diam dan akan melancarkan pembalasan yang menimbulkan petaka besar.
"Pembunuhan yang dilakukan secara terencana oleh pemerintah AS ini tentu jelas akan memantik ketegangan dan ancaman baru karena jelas pemerintah Iran sebagai negara yang berdaulat tidak akan tinggal diam dan akan melakukan pembalasan terhadap apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah AS tersebut dengan caranya sendiri," ujar Anwar, dilansir situs Detik Sabtu (4/1/2020).
Bendahara Umum PP Muhamadiyah ini menyerukan supaya Amerika tidak menggunakan cara-cara kekerasan dan tidak beradab dalam menyelesaikan masalah, karena bisa menimbulkan masalah baru yang lebih rumit.
Langkah kekerasan yang dilakukan AS, tutur Anwar, selain tidak mudah untuk menyelesaikannya, juga berpotensi menyeret dan merusak kehidupan rakyat dan masyarakat di negara lain karena naiknya harga minyak dunia dan terganggunya perdagangan internasional.
PBNU Kecam Pembunuhan Jenderal Soleimani
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Helmy Faishal Zaini menanggapi terbunuhnya Komandan Quds Force Iran, Jenderal Qassem Soleimani oleh serangan roket yang ditembakkan secara sengaja oleh militer AS.
Bagi PBNU, tindakan AS dengan melakukan pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani adalah tindakan yang bertentangan dengan kemanusiaan, dan melanggar prinsip-prinsip perdamaian dunia.
"(Kami) mengecam keras tindakan Pemerintah AS bersama militernya yang dengan sengaja menembakkan roket yang menyebabkan gugurnya Jenderal Qassem Soleimani," kata dia dalam keterangannya kepada Republika.co.id, Selasa (7/1).
Helmy meminta kapada komunitas internasional dan PBB untuk menyeru kepada AS agar bertindak secara rasional demi kepentingan perdamaian dunia. Termasuk segera tarik pasukan-pasukan AS di Timur Tengah dan berhenti membunuhi rakyat di wilayah tersebut," tuturnya.
Selain itu, Helmy juga mendorong pemerintah Indonesia untuk melakukan upaya-upaya bantuan penyelesaian konflik melalui PBB. Prinsip yang harus dipegang Indonesia harus objektif melihat persoalan ini.
"Dan juga kepada segenap masyarakat untuk bersikap tenang dan tidak terprovokasi sehingga terpancing melakukan tindakan yang semakin memperkeruh suasana," tutur dia.
Sebelumnya, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta agar pemerintah Indonesia tetap mengambil sikap non-blok terkait konflik Amerika Serikat dan Iran yang kembali mencuat pasca serangan tersebut.
"Kita harus tegas mengambil politik bebas aktif non- blok. Tidak boleh kita berpihak kepada siapapun. Itu urusan mereka. Menurut saya begitu," ujar Kiai Said.
Nahdlatul Ulama (NU).
Menurut dia, Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) sebenarnya telah mengupayakan agar Amerika Serikat dan Iran bisa damai. Namun, menurut dia, pada kenyataannya negara-negara di Timur Tengah tetap bergejolak sampai saat ini.
"Itu sebenarnya sudah diusahakan. Tapi ya itulah kenyataannya di Timur Tengah ini selalu bergejolak. Tapi kita prinsipnya Indonesia harus tetap objektif, non-blok, bebas aktif," ucap Kiai Said.
Menlu RI Temui Dubes AS dan Iran, Minta Semua Pihak Menahan Diri
Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia Retno LP Marsudi bertemu dengan Duta Besar Amerika Serikat dan Iran. Pertemuan digelar secara terpisah.
Retno mengatakan pertemuan digelar untuk menyampaikan sikap Indonesia terkait hubungan Iran dan AS usai pembunuhan Mayor Jenderal Qasem Soleimani.
"Tadi saya memanggil Duta Besar Iran (Mohammad Azad) dan Amerika Serikat (Joseph R Donovan Jr). Saya menyampaikan pesan persahabatan," kata Retno di Jakarta, Senin 6 Januari 2020 seperti dikutip media Detiknews.
Retno meminta AS dan Iran menahan diri. Dia menyebut eskalasi dalam hubungan antara Iran dan AS tidak akan bermanfaat bagi siapapun malahan bakal memberi dampak pada ekonomi dunia.
Menurutnya, ini pesan yang disampaikan Indonesia dalam politik luar negeri Indonesia.




























