کمالوندی
Perkembangan Situasi di Timur Tengah
Pekan lalu, tiga peristiwa penting meramaikan panggung politik di Timur Tengah yaitu KTT Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC) di Riyadh, pemilu parlemen Israel, dan perayaan ulang tahun kemenangan Irak atas Daesh.
Para pemimpin Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC) melakukan pertemuan di Riyadh, Ibukota Arab Saudi pada Selasa, 10 Desember 2019. Namun, pemimpin Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Oman memilih absen, padahal tujuan utama pertemuan ini adalah untuk mengakhiri konflik internal di tubuh P-GCC.
Berbeda dengan tahun lalu, kali ini Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz turun langsung untuk mengundang Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani ke Riyadh.
Level kehadiran Qatar di KTT P-GCC telah meningkat dari tahun 2018 dengan keikutsertaan perdana menteri negara itu di Riyadh, tapi Sheikh Tamim Al Thani lebih memilih menghadiri sebuah pertemuan yang tidak terlalu penting di Rwanda. Dengan demikian, konflik internal di P-GCC tetap belum terpecahkan.
Pemerintah Doha menuntut penghapusan semua sanksi sebagai syarat partisipasinya di KTT Riyadh. Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar sejak 2017 dan kemudian menerapkan berbagai sanksi dengan tujuan menekan Doha.
Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC).
Kegagalan KTT Riyadh untuk mengakhiri perseteruan Qatar dan tiga negara Arab lainnya, telah mendorong beberapa pihak menyebut dewan kerja sama tersebut sebagai "dewan anti-kerja sama."
Meskipun para pemimpin Qatar, UEA, dan Oman memilih absen, Arab Saudi kembali memanfaatkan pertemuan itu untuk menyerang kebijakan regional Republik Islam Iran. Raja Salman menyerukan persatuan negara-negara Arab untuk melawan Iran dan mengatakan, komunitas internasional harus menunjukkan reaksi terhadap program rudal dan nuklir Tehran.
Menanggapi klaim tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Sayid Abbas Mousavi mengatakan segelintir negara pendukung berlanjutnya kebijakan tidak rasional saat ini di kawasan, harus mendengar tuntutan publik dan mereka tidak berbuat apapun untuk mengurangi ketegangan di kawasan selain membentuk dan memperkuat kelompok-kelompok teroris dan takfiri di Irak, Suriah, dan Yaman, serta mengundang pihak asing ke Teluk Persia.
"Iran telah menunjukkan perilaku yang bertanggung jawab selama bertahun-tahun. Di antara upaya Iran untuk mewujudkan kerja sama regional adalah mengusulkan pakta non-agresi, forum dialog regional, dan yang terbaru proposal perdamaian Hormuz," jelasnya.
Para anggota parlemen Israel pada hari Rabu (11/12/2019) kembali membubarkan lembaga legislatif itu untuk kedua kalinya dalam tujuh bulan terakhir. Pemilu ketiga dalam satu tahun terakhir akan dilaksanakan pada Maret 2020 untuk mencari jalan keluar dari kebuntuan politik saat ini.
Pemilu parlemen Zionis (Knesset) pertama diadakan pada 9 April 2019. Usia parlemen ini hanya bertahan kurang dari satu bulan, karena Benjamin Netanyahu gagal membentuk kabinet. Sekutunya di Knesset kemudian memilih membubarkan parlemen sehingga presiden rezim Zionis tidak bisa menunjuk orang baru untuk membentuk kabinet. Pemilu Knesset ke-22 juga diadakan pada 17 September 2019, tetapi periode ini hanya bertahan kurang dari tiga bulan.
Netanyahu dan Benny Gantz gagal membentuk kabinet. Parlemen Israel juga tidak berhasil memanfaatkan tempo 21 hari untuk mengajukan tokoh baru untuk membentuk kabinet. Dengan demikian, para anggota Knesset untuk kedua kalinya dalam 7 bulan terakhir memilih membubarkan diri.
Pemilu Knesset ketiga dalam satu tahun terakhir kemungkinan akan diadakan pada 2 Maret 2020. Pemilu ini diharapkan akan berhasil menyusun kabinet baru dan mengakhiri kebuntuan politik, yang dihadapi rezim Zionis.
Situs The Times of Israel dalam sebuah laporan menulis, "Benny Gantz dalam satu pernyataan di Knesset pada hari Rabu (11/12/2019) mengatakan, Netanyahu sengaja membawa Israel melakukan pemilu untuk ketiga kalinya dalam satu tahun dengan harapan menguasai mayoritas parlemen dan memperoleh impunitas hukum."
Menurut Gantz, keinginan Netanyahu untuk memperoleh impunitas hukum dari Knesset adalah sesuatu yang tidak tepat. "Kami menentang cara itu… sama sekali tidak ada tempat untuk impunitas dan undang-undang impunitas di Israel harus direvisi dan harus digunakan dalam kasus-kasus yang diperlukan," tegasnya.
Kantor berita Reuters menyatakan bahwa sebuah pemilihan internal partai kemungkinan akan dilakukan untuk memilih ketua baru Partai Likud. Televisi berbahasa Ibrani, KAN juga melaporkan bahwa pemilihan internal Partai Likud akan diselenggarakan pada 26 Desember mendatang.
Gideon Sa'ar akan menjadi rival utama Netanyahu untuk memimpin Partai Likud. Jika Netanyahu gagal mempertahankan posisinya, ia akan disingkirkan dari kekuasaan oleh sekutunya di dalam partai.
Surat kabar Israel HaYom pada hari Jumat (13/12/2019) menyatakan jika pemilu Knesset ketiga digelar, maka aliansi politik Blue and White akan kembali menang untuk kedua kalinya, tetapi tidak ada koalisi yang barhasil meraih 61 kursi untuk bisa membentuk kabinet. Jika ini terjadi, maka kebuntutan politik di tanah pendudukan tidak akan berakhir.
Irak merayakan ulang tahun kedua kemenangan atas kelompok teroris Daesh pada 10 Desember 2019. Perdana Menteri Irak waktu itu, Haidar al-Abadi mengumumkan kemenangan atas Daesh pada 10 Desember 2017.
Hari itu ditetapkan sebagai Yaum al-Nasr dalam kalender Irak dan hari libur resmi. Bertepatan dengan hari penting itu, keluar seruan untuk menggelar demonstrasi di berbagai wilayah Irak.
Kubu penentang (internal dan negara asing) pemerintah Irak, berusaha mengubah demonstrasi menjadi konfrontasi warga dengan pasukan keamanan. Ahmad Mulla Talal, seorang presenter di televisi Alsharqiya, dalam sebuah tweet menyebut demonstrasi 10 Desember sebagai hari konfrontasi antara rakyat dan Najaf dengan kelompok milisi Hashd al-Shaabi.
Demonstrasi 10 Desember berlangsung damai dan rakyat Irak merayakan kemenangan mereka atas Daesh. Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Irak memanggil duta besar Inggris, Prancis, Jerman, dan Kanada untuk memprotes campur tangan mereka dalam urusan internal Irak. Mereka meminta pemerintah Baghdad untuk membiarkan demonstrasi rakyat, namun yang terjadi justru bukan demonstrasi, tetapi kekerasan yang terorganisir dan terarah.
Kamis lalu, seorang pemuda Irak, Haitham Ali Ismail (16t tahun) terlibat keributan dengan beberapa perusuh bersenjata di sekitar rumahnya. Keributan ini terjadi setelah perusuh membakar ban di sekitar rumah pemuda tersebut.
Beberapa media melaporkan bahwa Haitham Ali Ismail telah membunuh empat demonstran, sumber-sumber lain mengatakan pemuda itu hanya melepaskan beberapa tembakan ke udara.
Pernyataan resmi Komando Angkatan Bersenjata Irak menegaskan bahwa Haitham Ali Ismail tidak membunuh siapa pun dan hanya melepaskan tembakan ke udara.
Kejahatan terhadap pemuda tersebut mengundang berbagai reaksi. Marja' Syiah Irak, Ayatullah Sayid Ali Sistani menyerukan proses hukum terhadap para pelaku kejahatan itu. Dalam sebuah pernyataan, Ayatullah Sistani mengatakan, "Pembunuhan, penculikan, penyiksaan, dan mutilasi adalah sebuah kejahatan di mana pelakunya harus dihukum."
Krisis Politik Rezim Zionis dan Pemilu Knesset Ketiga
Anggota parlemen rezim Zionis pada 12 Desember 2019 untuk kedua kalinya selama tujuh bulan terakhir melakukan voting pembubaran Knesset. Dijadwalkan, pemilu legislatif ketiga rezim Zionis akan diselenggarakan pada 2 Maret 2020.
Sebelumnya, rezim Zionis Israel mengadakan dua pemilu parlemen, yang pertama April 2019, dan yang kedua September 2019. Pada pemilu April, partai Likud yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu dan koalisi biru dan putih yang dipimpin oleh Benny Gantz pada September, tidak ada satupun yang berhasil memenangkan mayoritas kursi, 50 persen plus satu (61 kursi). Oleh karena itu, mereka harus membentuk aliansi dengan partai-partai politik lain di parlemen, tetapi tidak pernah berhasil. Salah satunya penyebabnya, penentangan kubu list bersama Arab dan Yisrael Beiteinu terhadap pembentukan koalisi yang dipimpin Netanyahu.
List bersama Arab menolak berpartisipasi dalam kabinet Netanyahu, dan Netanyahu enggan membentuk kabinet menggandeng mereka. Selain itu, Avigdor Lieberman, pemimpin Yisrael Beiteinu, yang merupakan penyebab utama runtuhnya kabinet Netanyahu pada November 2018, gagal bersekutu dengan Netanyahu setelah pemilihan bulan April dan September, sehingga ia benar-benar kehilangan kesempatan untuk membentuk kabinet baru.
Kondisi senada juga menimpa Benny Gantz yang didukung list bersama Arab, tapi tawarannya untuk membentuk kabinet koalisi ditolak oleh Avigdor Lieberman. Dengan kegagalan Netanyahu dan Gantz membentuk kabinet baru, presiden rezim Zionis menugaskan parlemen untuk mencalonkan seorang perdana menteri baru. Namun, Knesset gagal mencalonkan seorang perdana menteri baru dalam waktu 21 hari, sehingga akhirnya membubarkan parlemen dan mengadakan pemilu ketiga.
Seiring kegagalan segitiga; Netanyahu, Gantz dan Knesset untuk membentuk kabinet baru dan keputusan untuk mengadakan pemilihan parlemen ketiga, muncul pertanyaan sekarang mengenai: apa konsekuensi dari kegagalan tersebut?
Pertama, dampak besarnya menimpa Netanyahu sendiri. Tampaknya kekuasaan Netanyahu akan berakhir. Netanyahu telah setuju untuk mengadakan pemilihan di internal partai Likud untuk memilih pemimpin baru yang akan diadakan sebelum akhir 2019.
Saingan Netanyahu dalam pemilihan intra-partai Likud adalah Gideon Sa'ar. Pasca merebaknya isu korupsi dan kegagalan Netanyahu membentuk kabinet, Gideon Sa'ar menyerukan pemilihan internal partai Likud untuk memilih pemimpin yang lebih tepat.
Kekalahan Netanyahu dalam pemilu internal partai Likud akan menandai akhir kehidupan politiknya. Jika partai Likud memenangkan pemilu Maret 2020, maka akan meningkatkan kemungkinan terbentuknya kabinet baru mendatang. Salah satu alasan mengapa Lieberman tidak bergabung dengan koalisi yang dipimpin partai Likud lebih banyak dipicu masalah pribadinya dengan Lieberman.
Apabila Netanyahu kembali menang dalam pemilu intra-partai Likud juga dapat menyebabkan kebuntuan dalam pembentukan kabinet baru Israel, seandainya partai Likud menang. Oleh karena itu, Netanyahu kemungkinan tidak akan maju dalam pemilu mendatang dan suaranya akan diserahkan kepada Gideon Sa'ar.
Selain itu, jika Netanyahu memenangkan pemilihan intra-partai Likud, maka empat kasus korupsi dapat diajukan sebelum pemilu parlemen Israel ketiga. Oleh karena itu, Moshe Yaalon, anggota Zionis Knesset dari Koalisi Biru dan Putih, bersikeras bahwa Benjamin Netanyahu, pemimpin partai Likud dan perdana menteri sementara, hanya berusaha melarikan diri dari tuduhan korupsi dengan memenangkan jabatan perdana menteri.
Para politikus utama Israel seperti Avigdor Lieberman dan Benny Gantz berencana memberikan amnesti kepada Netanyahu dengan syarat ia menarik diri keluar dari aktivitas politiknya. Berbicara kepada surat kabar berbahasa Ibrani Yedioth Ahronot, Avigdor Lieberman mengatakan kehadiran Netanyahu di Knesset adalah sumber kebencian dan rasa malu. Ia mengatakan, "Sayangnya, Netanyahu telah menjadi beban bagi kami. Tidak ada yang mau melihatnya berada di balik jeruji besi, tapi tidak ada juga yang ingin melihatnya berada di dunia politik dan semua orang siap memberinya kesempatan untuk mengakhiri kehidupan politiknya dengan baik."
Sikap senada juga disampaikan Ketua Koalisi Putih Biru yang dipimpin Benny Gantz. Ia mengatakan, "Kami tidak ingin melihat seorang perdana menteri dipenjara dan ini adalah adegan yang tidak diinginkan siapa pun." tegasnya.
Namun, tampaknya amnesti untuk Netanyahu tidak mungkin diberikan kepadanya. Pasalnya, peradilan rezim Zionis menyatakan bahwa skenario pengampunan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak akan ada gunanya dalam kasus korupsi 1000, 2000 dan 4000.
Secara umum, Netanyahu berpotensi menjadi pecundang terbesar dalam pemilihan parlemen ketiga rezim Zionis. Sebab rivalnya kemungkinan besar mengalahkan Netanyahu dalam pemilu internal partai Likud, serta potensi pemenjaraannya dalam kasus korupsi tidak bisa ditutupi lagi.
Lalu apakah pemilu parlemen rezim Zionis ketiga dapat mengakhiri kebuntuan politik di wilayah pendudukan? Jawaban atas pertanyaan ini sebagian besar terkait dengan nasib Netanyahu dalam pemilihan intra-partai Likud dan kasus korupsi yang melilitnya. Jika Netanyahu mencalonkan diri dalam pemilu ketiga dan ditugaskan untuk membentuk kabinet lagi, maka peluang kegagalan dan kebuntuan politik sangat tinggi.
Tanpa Netanyahu, kabinet baru rezim Zionis mendatang masih akan terbentuk melalui koalisi. Partai-partai kiri dan tengah bersama dengan list bersama Arab yang terdiri atas 59 kursi, sayap kanan 53 kursi, dan partai Israel yang dipimpin Lieberman, masih akan memenangkan delapan kursi dalam pemilu mendatang. Oleh karena itu, Lieberman akan terus memainkan peran yang menentukan dalam pembentukan kabinet mendatang, dan kemungkinan jika Gideon Sa'ar memenangkan kompetisi internal partai Likud melawan Netanyahu, maka besar kemungkinan Lieberman bergandengan dengan Saar untuk membentuk kabinet baru.
Kegagalan untuk membentuk kabinet baru dan keputusan untuk mengadakan pemilu parlemen ketiga akan memiliki konsekuensi lain, termasuk dampak ekonomi. Sumber-sumber Israel mengatakan bahwa penyelenggaraan pemilu Knesset ketiga dalam waktu kurang dari setahun akan menelan biaya dari 3 miliar dolar.
Efek lainnya, kelemahan struktur politik Israel semakin terlihat nyata, sebagaimana dikatakan Juru Bicara Hamas Abdul Latif Qannou, "Partai dan arus politik Israel berada di puncak perpecahan politik, pemikiran dan strategisnya".
Di Malaysia, Presiden Iran; Pemikiran Takfiri Lahirkan Kebodohan
Presiden Iran mengatakan, pemimpin negara-negara Muslim harus memikirkan kedudukan yang tepat dan layak bagi umat Islam. Menurutnya, dalam hal ini Iran siap bekerjasama dengan negara Muslim lainnya.
Hassan Rouhani, Kamis (19/12/2019) dalam diskusi membahas prioritas-prioritas kemajuan dan tantangan Dunia Islam pada pertemuan "Kuala Lumpur Summit 2019" menuturkan, hasil pemikiran Takfiri tidak ada yang lain kecuali memperluas kebodohan, fanatisme, pembunuhan dan kerusakan masyarakat Muslim.
Presiden Iran menambahkan, Islam tidak menginginkan konflik dan perang peradaban, peradaban Islam adalah peradaban yang bertoleransi kepada pihak lain, mengajak orang lain dan hidup rukun dengan sesama.
Rouhani menjelaskan, aliran-aliran ekstrem telah membawa kerugian yang sangat besar bagi masyarakat Muslim, dan sungguh disesalkan kepatuhan total pada standar Barat, dan ketidakpedulian pada tradisi nasional serta keyakinan agama, menghambat kemajuan dan perkembangan sebagian masyarakat Muslim.
Ia juga menekankan kerja sama di bidang finansial dan perbankan, teknologi terbarukan, perdagangan, pariwisata, kebudayaan dan sosial, termasuk kerja sama ekonomi dan sinergitas negara-negara Muslim.
Sekjen OKi: Pertemuan Malaysia Sulut Perpecahan Umat Islam
Sekjen Organisasi Kerjasama Islam, OKI, Yousef Al Othaimeen percaya pertemuan-pertemuan semacam pertemuan petinggi negara Muslim di Malaysia, "Kuala Lumpur Summit 2019" dapat memicu perpecahan di antara umat Islam.
Fars News (17/12/2019) mengutip kantor berita Perancis melaporkan, OKI mengklaim pertemuan petinggi negara-negara Muslim di Malaysia dapat melemahkan Islam. Pertemuan Kuala Lumpur juga diprotes Arab Saudi.
Pemimpin 56 negara Muslim termasuk Iran, Turki dan Qatar menghadiri pertemuan Kuala Lumpur Summit 2019, namun pemerintah Saudi menolak undangan PM Malaysia untuk hadir di acara ini, dan menganggapnya sebagai upaya membentuk blok baru di Dunia Islam.
Sekjen OKI percaya pertemuan petinggi negara Muslim di luar kerangka OKI semacam ini dapat menciptakan perpecahan di antara umat Islam.
Tanpa menyebut langsung pertemuan Malaysia, Yousef Al Ohtaimeen menganggap pertemuan-pertemuan semacam itu di luar kerangka OKI dan tidak menguntungkan Islam dan Muslim, menurutnya melemahkan OKI berarti melemahkan Islam dan Muslim.
Asaib Ahl Al Haq: Pemilu Dini Irak akan Picu Perang Saudara
Sekjen Asaib Ahl Al Haq Irak memperingatkan, penyelenggaraan pemilu dini di Irak saat pemerintah berkuasa mundur, mungkin saja akan menciptakan perang saudara.
Fars News (19/12/2019) melaporkan, Syeikh Qais Al Khazali, Rabu (18/12) mengatakan, pemilu dini di Irak berpotensi menciptakan perang di antara rakyat negara ini.
Ia menambahkan, di antara demonstran Irak terdapat anasir bersenjata yang melakukan penembakan, dan merekalah yang bertugas mengeksekusi para pengunjuk rasa.
Sehubungan dengan dicapainya kesepakatan dan konsensus politik di Irak terkait nama-nama calon perdana menteri baru, menurut Syeikh Qais Al Khazali ini merupakan masalah yang sulit.
"Satu orang yang disepakati semua harus dipilih dan diberikan tanggung jawab untuk membentuk kabinet," imbuhnya.
Sekjen Asaib Ahl Al Haq menegaskan, pengunduran diri PM Irak tidak benar, karena ini yang diinginkan Amerika Serikat.
Mengenal Perempuan Dalam Al-Quran (11)
Nabi Isa as adalah anak Sayidah Maryam dan menjadi utusan Allah Swt. Nabi Isa as dipilih oleh Allah untuk menyampaikan manusia pada keberuntungan dan kebahagiaan. Al-Quran menyebut Nabi Isa as dengan kesucian dan keagungan serta memuji Maryam sebagai ibunya lalu menjelaskan kehidupannya yang luar biasa dalam bentuk kisah indah.
Pada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan bagaimana Sayidah Maryam melewati hari-harinya dengan berdoa, bermunajat dan beribadah kepada Allah Swt. Maryam tidak lagi memperhatikan lahiriah dunia dan hanya memandang Allah, sehingga ini menjadi pengantar munculnya tanda-tanda ilahi agung dari rahmat Allah seperti lahirnya Nabi Isa as.
Film Sayidah Maryam as
Kelanjutan kisah indah dan penuh pelajaran ini diambil dari al-Quran surat Maryam dari ayat 16 hingga 21:
"Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitul Maqdis), maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata, "Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa." Ia (Jibril) berkata, "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." Maryam berkata, "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!" Jibril berkata, "Demikianlah." Tuhanmu berfirman, "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan."
Maryam mengetahui bahwa untuk terwujudnya perintah Allah, ia harus mempersiapkan dirinya menghadapi rangkaian tuduhan tidak berdasar. Karenanya, Maryam mempersiapkan dirinya untuk lebih tegar dan sabar, sehingga hatinya menjadi kokoh dan tekad yang tak terkalahkan untuk menanggung segala bentuk tekanan para penuduh dan pembohong. Ketika Maryam melihat dirinya layak untuk menerima wahyu dari Allah Swt, ia pun senang dipilih untuk membesarkan seorang nabi agung. Karena Maryam mengetahui dengan baik pemikiran masyarakat dan cara pandang negatif mereka, ia memilih untuk menyendiri di tempat yang jauh.
Maryam tengah melewati bulan-bulan terakhir dari masa kehamilannya. Ia merasa kesakitan dan membawa dirinya di bawah pohon kurma demi melindungi dirinya dari hawa panas gurun yang menyengat. Dalam kondisi demikian, bibir Maryam melantunkan, "Ya Allah! Rahmati aku. Keluargaku suci dan bertakwa. Bantulah aku agar dapat sabar menghadapi segala tuduhan yang dialamatkan kepadaku."
Dalam kondisi yang demikian dan merasakan sakit yang luar biasa, terdengar suara malaikat yang memberinya semangat, "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini." (QS. Maryam: 23-26)
Pada awalnya, Maryam terkejut, tapi ketika menguruti ingatan sebelumnya, bagaimana Allah memerintahkan kehamilannya dalam bentuk yang tidak seperti manusia lainnya, perlahan-lahan hatinya mulai tenang. Ia kemudian mengambil beberapa kurma dan mulai memakannya dan minum dari air yang ada lalu kemudian istirahat sebentar. Setelah itu, Maryam memeluk anaknya dan pergi menemui masyarakat.
Maryam dengan hati yang tenang melangkah untuk menghadapi kaumnya. Ayat 28 hingga 34 surat Maryam mengisahkan, "Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina", maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?" Berkata Isa, "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali." Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya."
Setelah Maryam berhasil mencerahkan masyarakat terkait kehendak Allah dan kesucian dirinya, ia bersama Isa, anaknya pergi ke tempat yang jauh untuk mendidik anaknya untuk masa berdakwa dan menyampaikan risalah. Pada ayat kelima puluh surat Mukminun disebutkan, "Dan telah Kami jadikan (Isa) putera Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir."
Sayidah Maryam sebagai perempuan suci dan bertakwa sangat mempengaruhi kepribadian Nabi Isa as. Dengan demikian, Nabi Isa as lahir dari seorang perempuan yang seluruh usianya diperuntukkan kepada Allah Swt dengan beribadah. Allah meniupkan rohnya kepada Maryam dan dengan demikian Isa as lahir dari seorang perempuan yang suci. Maryam seorang perempuan yang bertakwa dan tabah. Ia menunjukkan bahwa bagi seorang perempuan harus berani menerima tanggung jawab dengan partisipasi efektif dan konstruktif di tengah masyarakat.
Hanya menyampaikan slogan bahwa perempuan harus bebas dan berpartisipasi di tengah masyarakat tidak dapat menyelesaikan masalah mereka, begitu juga tidak akan memberi ketenangan, keamanan dan penyempurnaan bagi kepribadian mereka, Saat ini, kita banyak menyaksikan banyak perempuan di balik slogan kebebasan dan hak asasi manusia ternyata menjadi mainan pihak lain dan justru semakin menjauh dari jalur kemanusiaan dan kepribadiannya yang hakiki. Teladan al-Quran menjelaskan satu hakikat bahwa setiap manusia, baik itu perempuan atau laki-laki harus tumbuh dan dinamis, serta pada saat yang sama memiliki keimanan, kesucian, kemanusiaan sebagai sarana yang sesuai untuk berada di jalur ini.
Maryam dengan rasa tanggung jawab dan tegar berhasil melaksanakan tugas agama yaang sangat penting dan menyelamatkan masyarakat dari kezaliman dan kesesatan. Mungkin karena hal ini, ayat-ayat al-Quran menggambarkan kepribadiannya tumbuh dalam lingkungan penuh aroma zuhud, kesucian, kesabaran dan keberserahan diri dihadapan kehendak ilahi.
Bila perempuan mampu memunculkan keutamaan yang ada pada diri Maryam, selain mampu mengantar dirinya pada kesempurnaan, ia juga dapat memberikan sumbangsih anaknya yang hebat dan cakap kepada dunia. Karenanya, perempuan harus berusaha menciptakan nilai-nilai spiritual dan menjalin hubungan dengan Sang Pencipta, sehingga dapat meraih dan memanifestasikan sifat-sifat ilahi dalam dirinya, sebagaimana mereka mampu mendidik para nabi dan kemudian mengikuti mereka, melanjutkan pendidikan dengan serius untuk menciptakan manusia hebat dan berpengaruh dalam sejarah.
Mengenal Perempuan Dalam Al-Quran (10)
Sayidah Maryam adalah ibu Nabi Isa as termasuk wajah yang menonjol dalam al-Quran, dimana namanya disebutkan sebanyak 34 kali di sejumlah ayat dan surat. Sementara kisahnya yang memberi pelajaran disebutkan sebagai 30 ayat dalam surat yang sesuai dengan namanya.
Tentu saja semua mengenal nama Maryam as. Seorang perempuan terpilih dan pencari kebenaran yang bukan saja populer dan memiliki kemuliaan khusus di kalangan umat Islam, tetapi menjadi teladan suci di antara agama-agama ilahi lainnya.
Hari ini, manusia berusaha untuk mencari teladan yang jujur dan benar, berbeda dengan contoh yang ada, mereka berharap teladan ini memiliki pesan bagi kehidupan, kemuliaan dan kejujuran. Para sosiolog percaya bahwa kekacauan masyarakat disebabkan prinsip pendidikan dan budaya yang salah, yang diketengahkan mayoritas media mainstream dan penting dunia sebagai teladan palsu dan untuk menanganinya diperlukan pendekatan dengan nilai-nilai moral, kemanusiaan dan menampilkan teladan yang kokoh dan bijak bagi masyarakat manusia. Kehidupan Sayidah Maryam as dijelaskan dalam al-Quran sedemikian rupa menjadi simbol komprehensif dan dinamis bagi manusia, khususnya perempuan hari ini dan menjadi solusi untuk melangkah di jalur yang suci dan masyarakat yang sehat.
Patung Sayidah Maryam
Sayidah Maryam adalah ibu Nabi Isa as termasuk wajah yang menonjol dalam al-Quran, dimana namanya disebutkan sebanyak 34 kali di sejumlah ayat dan surat. Sementara kisahnya yang memberi pelajaran disebutkan sebagai 30 ayat dalam surat yang sesuai dengan namanya. Sayidah Maryam lebih sering disebutkan sebagai ibu Nabi Isa as dan dikenal sebagai satu dari empat perempuan besar dan mulia dalam agama-agama Ibrahim.
Mengenai bagaimana al-Quran memuji Sayidah Maryam termaktub dalam ayat 12 surat Maryam, ketika Allah berfirman, "Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat."
Begitu juga pada ayat 42 surat Ali Imran disebutkan, "Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)."
Al-Quran menceritakan petualangan perempuan agung dengan dengan penjelasan yang indah dan menarik, sehingga pembaca kisahnya seakan tersihir akan keagungan dan kekuasaan Allah. Kini tiba saatnya kita menikmati petulangan ini lewat bahasa al-Quran. Kita akan memulai kisahnya dari ayat 34 surat Ali Imran.
Hannah adalah istri Imran, perempuan bertakwa. Ketika hamil, ia berdoa dan bermunajat kepada Allah dan di waktu itu juga ia bernazar agar anaknya menjadi pelayan rumah Allah, sehingga hanya Allah yang disembahnya dan berada di bawah pemeliharaan-Nya. Ketika anaknya lahi, Hannah terlihat pucat dan dengan menyesal ia menampilkan kesedihannya lewat bibirnya dan berkata, "Ya Allah! Saya telah bernazar agar anakku akan melayanimu, tapi yang lahir perempuan. Sekarang saya memberinya nama Maryam dan jaga dia dan anaknya dari kejahatan setan."
Istri Imran belum selesai menuturkan doanya, ketika Nabi Allah, Zakariya yang masih termasuk keluarganya dengan gembira memasuki rumah mereka dan berkata, "Kabar gembira buatmu Hannah. Allah Swt menerima anak perempuanmu untuk melayani rumah Allah dan mengabarkan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang diberikan." Pada waktu itu, mata Hannah bersinar-sinar karena gembira.
Gambaran Maryam yang maksum dan suci membuat para pelayan Baitul Maqdis saling berebut untuk memeliharanya. Seseorang berkata, "Saya akan memeliharanya seperti anakku sendiri." Yang lain berkata, "Engkau tidak selalu berada di tempat beribadah, tapi saya selalu berada di sini siang dan malam. Saya akan menjaganya." Zakariah bergabung dengan mereka dan berkata, "Maryam masih termasuk keluargaku dan saya adalah seorang nabi. Saya pribadi akan memelihara anak perempuan ini."
Ada seseorang yang maju di depan mereka dan berkata, "Jangan membahas masalah ini lebih dari yang ada. Lemparkan kayu untuk mengundi ke dalam air. Kayu siapa yang yang muncul ke permukaan air, maka kita akan menyerahkan pemeliharaan anak ini kepadanya."
Para pelayan rumah Allah dengan satu suara berkata, "Usulan yang sangat baik." Mereka semua menanti di dekat air dengan wajah cemas berharap dirinya yang menang. Semua merasa takjub karena kayu yang naik ke permukaan air milik Zakariya. Seakan-akan Allah berkehendak agar anak ini mengawali hidupnya di lingkungan nabi Allah. Zakariya yang tidak punya anak dengan senang berkata, "Saya akan membuat kamar untuknya di tempat tinggi dari tempat ibadah dan saya akan menjaganya seperti jiwaku sendiri."
Setelah itu, Sayidah Maryam dibawa ke Baitul Maqdis untuk ibadah dan selama di sana beliau beribadah di bawah pengawasan Nabi Zakariya as. Makanan di sana sangat sederhana dan sedikit. Tapi setiap kali Nabi Zakariya mengunjungi Maryam di mihrab, tempatnya beribadah, ia menyaksikan buah-buahan surga dan rezeki maknawi di sisi Maryam. Nabi Zakariya bertanya, "Wahai Maryam! Dari mana semua rezeki yang diperuntukkan kepadamu ini?" Cara pandang mendalam dan hati nurani Maryam sedemikian jauhnya, sehingga beliau menjawab kepada Nabi Zakariya, "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab." (Ali Imran ayat 37) Pada intinya Sayidah Maryam menilai segalanya berasal dari Allah dan melihatnya pada Allah. Inilah puncak penghambaan dan kesempurnaan manusia.
Ketika Maryam semakin tumbuh besar semakin bertambah pula nilai-nilai spiritual dalam dirinya. Kehormatan dan keseriusannya menjaga dirinya benar-benar terkenal di seluruh daerah. Suatu hari, ketika Maryam sedang beribadah, ia mendengar suara panggilan yang mengatakan, "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'." (Ali Imran: 42-43)
Ayat-ayat al-Quran dalam kelanjutan kisah Sayidah Maryam berbicara dengan penuh kelembutan samawi dan kesucian pribadi zuhud dan penuh keramatnya dan bagaimana beliau hamil padahal begitu menjaga dirinya. Al-Quran mengingatkan peran perempuan yang memberi kehidupan dan derajatnya yang tinggi dalam menghadirkan dan mendidik manusia yang akhirnya mengubah sejarah. Maryam pribadi yang mendapat pesan dari Allah dan memberinya kehormatan akan wahyu-Nya. Dengan bersandar pada ayat 42-44 surah Ali Imran, para malaikat berbicara dengannya. Mereka memberi kabar gembira dari Allah Swt akan kelahiran Isa as. Ayat 45 surah Ali Imran menyebutkan, "(Ingatlah), ketika Malaikat berkata, "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)."
Sejak saat itu, kehidupan Sayidah Maryam memasuki tahapan baru dari kehidupannya. Kondisi ketika perempuan suci ini mendapat tuduhan dan upaya mengosongkan dirinya dari nilai-nilai yang selama ini dimilikinya. Tapi ia tetap dengan ibadanya yang menjadi jembatan kokoh antara dirinya dengan Allah yang Maha Pengasih. Dengan cara ini, beliau meraih lingkaran hubungan antara kesehatan jiwa dan ketenangan hakiki. Karenanya, di balik rahmat dan hidayat Allah dan juga ketegarannya membuatnya menjadi pribadi yang layak dipuji, sementara kesuciannya sebagai modal berharga bagi seorang perempuan.
Pada makalah selanjutnya akan dijelaskan mengenai bagaimana Maryam melahirkan anaknya.
Mengenal Perempuan Dalam Al-Quran (9)
Setelah menyimak tentang kisah istri Nabi Luth as, kini giliran memahami istri Nabi Nuh as dari al-Quran.
Di masa kehidupan Nabi Nuh as, korupsi menyebar di bumi sehingga orang-orang berpaling dari agama tauhid dan keadilan dan kembali menyembah berhala. Kesenjangan kelas secara bertahap meningkat. Mereka yang kuat menginjak-injak hak-hak mereka yang lebih lemah dan penguasa semakin melemahkan mereka yang berada di bawahnya. Dalam kondisi yang seperti ini, Allah mengutus Nuh sebagai nabi-Nya dan mengirimnya ke tengah masyarakat bersama sebuah kitab samawi dan syariat untuk mengajak mereka ke agama tauhid dan meninggalkan para berhala serta menegakkan persamaan di antara mereka.
Nabi Nuh as menemui kaumnya, "(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui."
Nuh adalah nabi Ulul Azmi pertama yang bangkit untuk tauhid dan melawan penyembahan berhala. Nuh berasal dari keluarga yang tinggal di kota dan nama istrinya adalah Waghilah. Sekalipun menjaga kehormatan dirinya, tapi Waghilah memiliki perilaku yang tidak baik, yang membuat al-Quran menyalahkannya. Istri Nabi Nuh membawa rahasia di rumah ke luar lalu mengadukan suaminya kepada siapa saja.
Waghilah adalah seorang kafir dan tidak beriman kepada Allah Yang Esa serta berada di bawah penyimpangan pemikiran masyarakat yang berada di sekelilingnya. Ia menolak Allah yang Maha Kuasa sebagai pencipta alam dan menolak nasihat dan peringatan Nabi Nuh as.
Kisah istri Nabi Nuh menggambarkan lingkungan sosial ternyata tidak seratus persen mempengaruhi pendidikan agama seseorang dan manusia memiliki hak memilih dan kehendak sebagai faktor paling menentukan dan bergerak berbeda dari lingkungan dan kondisi sosial. Dengan ungkapan lain, perilaku setiap manusia yang memilih sesuatu dengan sadar dan kehendaknya itulah yang menentukan kebahagiaan dan kesengsaraannya. Sekalipun istri Nabi Nuh as berada di pusat hidayah, tapi dengan pilihan yang tidak benar, ia telah meletakkan dirinya di jalur kebinasaan.
Pada zaman Nuh as, orang-orang berada dalam kelalaian dan ketidaktahuan, mereka tidak berpikir tentang filosofi penciptaan dan penciptaan mereka, juga tidak merasa malu dengan kepercayaan takhayul dan perbuatan buruk mereka. Bertahun-tahun lewat. Selama tahun-tahun ini, jumlah mereka yang menjadi pengikut Nuh dan menerima dakwahnya tidak mencapai ratusan! Istri Nuh bersama masyarakat tetap pada kekufuran dan ketidaktaatan. Bahkan ketika mendatangi masyarakat, ia justru memperingatkan mereka agar tidak menerima dakwah Nuh, suaminya. Ia mengatakan, "Nuh sudah tua dan kekuatan berpikirnya sudah hilang!"
Dengan demikian, Nuh bukan saja tersiksa dengan kaumnya yang menyimpang, tapi ucapan istrinya lebih menyakitkan dirinya. Padahal bila dibanginkan orang lain, istrinya lebih banyak berada di bawah sinar mentari risalah Nuh as dan setiap harinya mendapat siraman rohani, tapi patut disayangkan bahwa ia risalah suaminya tidak menciptakan penerangan di dalam jiwanya yang tidak suci. Bila seseorang mempertahankan kesucian fitrahnya dan selalu berusaha mencari kesempurnaan, ia dapat melangkah di jalur kebenaran dan kebahagiaan dan menjadi pendukung terbaik bagi suaminya. Tapi ia selalu melemahkan suaminya, seorang hamba yang dipilih Allah dan memilih untuk menjauh dari jalur hidayah.
Salah satu tujuan penting pernikahan adalah terciptanya ketenangan di antara suami dan istri. Adanya keasikan dan keakraban dalam keluarga petanda keberhasilan pernikahan dalam meraih tujuan utamanya dan efeknya adalah suami dan istri keduanya melaksanakan kewajibannya terhadap satu sama lain.
Sementara itu, mengingat adanya emosi yang sangat kuat pada perempuan, peran mereka dalam memberikan kesehatan mental keluarga lebih mencolok. Seorang perempuan dapat mengubah kejiwaan suaminya yang lelah dan frustrasi dalam menghadapi masalah, atau setidaknya menjadi tempat bersandar atas ketidaknyamanan dengan kesabarannya. Begitu juga istri dapat berperan efektif dalam melemahkan semangat suaminya dan menyebabkan melemahnya sistem keluarga.
Ketika kegelapan kufur mendominasi tingkat eksistensial manusia dan merendahkan kemanusiaan bawaannya dan senantiasa mencari Tuhan, dikhawatirkan bahwa faktor eksternal yang terkuat tidak akan mampu menghilangkan kegelapan material dari jiwa manusia. Kisah istri Nabi Nuh menjelaskan kebenaran yang pahit ini. Dalam surat al-Tahrim ayat 10, dijelaskan tentang istri Luth, selain istri Nabi Nuh. "Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)."
Ayat ini menerangi karakter orang-orang kafir dalam kebrutalan dan kehancuran, dengan mengatakan, "Jika kondisi istri Nuh atau Luth demikian, karena pengkhianatan mereka kepada Allah dan utusan-Nya dan akhir pengkhianatan terhadap Tuhan dan Rasul sperti ini." Siapa pun yang melakukan pengkhianatan semacam itu akan berakhir menyedihkan, sekalipun ia berafiliasi dengan para nabi.
Keteladanan dan karakternya juga ada yang positif dan ada yang negatif. Ciri khas terbesar yang disebutkan untuk perempauan jahat dalam al-Quran adalah pengkhianatan. Istri Nuh adalah seorang perempuan yang berada di inti dari wahyu dan di sebelah nabi yang sabar. Tetapi pada saat yang sama, sangat asing dengan ajaran ilahi sehingga ia disebut sebagai pengkhianat.
Dia mengacaukan posisi dirinya sebagai istri dan menuduh pria hebat itu gila kepada orang lain. Al-Quran menunjukkan bahwa perempuan ini adalah istri nabi, tapi berkhianat, sehingga berusaha menutup jalan kejabian dan berusaha membungkam cahaya yang benar. Dia bendera ketidakkonsistenan dan keras kepala dan karenanya berada di neraka.
Akhirnya, seorang perempuan yang tumbuh dengan bibit keimanan dapat menjadi pendukung Nabi Allah yang terbaik, menjadi musuh Nabi Nuh karena telah terbenam dalam pelbagai faktor seperti ketidaktahuan dan takhayul dan menderita hukuman abadi. Kapanpun seseorang - bahkan dalam posisi seorang istri hamba yang saleh dari Tuhan, tidak menghiraukan dirinya sendiri, dan rutinitas sehari-hari dan upaya materi menjadi tujuannya, maka dimensi maknawi dan spiritualnya akan dilupakan, hubungan dengan Allah akan sepenuhnya terputus, atau hubungan akan berada dalam bentuk yang murni formal dan tanpa semangat dan isi.
Istri Nuh layak menerima azab ilahi sebagai salah satu dari orang-orang kafir, yang kekufuran dan kekotoran syirik telah mengakar dalam dirinya. Setelah bertahun-tahun berjuang dan mengajak masyarakat kepada Allah serta menyempurnakan hujjah kepada mereka, Nabi Nuh akhirnya putus asa untuk membimbing mereka. Beliau kemudian mengutuk umatnya dan kemudian Allah memerintahkannya untuk membangun kapal.
Istri Nuh telah dicontohkan kepada manusia yang jahat baik laki-laki maupun perempuan agar menjadi jelas bahwa kehadiran fisik di pusat para nabi ilahi tanpa kepercayaan pada mereka bukanlah tali yang dapat dipegang untuk menyelamatkan diri dari azab ilahi, tetapi apa pun yang terjadi kembali pada pilihan seseorang yang dapat membuatnya diazab atau justru membebaskannya. Jadi, setiap orang harus dengan berhati-hati dan teliti dalam mempertimbangkan kepercayaan dan pemikiran mereka, dan merefleksikan kedalaman dan kebijaksanaan dari apa yang mereka rasakan.
Mengenal Perempuan Dalam Al-Quran (8)
Beberapa percaya bahwa manusia produk masyarakat dan kondisi serta hubungan yang mengaturnya, sehingga ia tidak dapat keluar dari hubungan ini. Dengan kata lain, mereka menyamakan lingkungan kehidupan seseorang dengan pohon dan menganggap manusia sebagai buah, yang nasibnya telah ditetapkan sebelumnya dan tidak ada cara untuk melarikan diri.
Sementara dalam perspektif al-Quran, manusia dipengaruhi oleh lingkungan, tapi kondisi apa pun mereka dapat menentang hubungan yang kejam terhadapnya dan tidak tergantung pada kondisi lingkungan.
Oleh karenanya, al-Quran hanya mengenal setiap orang sebagai penanggung jawab perbutannya sendiri. Manusia tidak dapat membuat alasan bahwa lingkungan khusus telah membuatnya tidak mendapat hidayah dan pencerahan. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal ini dan setiap orang bertanggung jawab atas perilaku dan perbuatannya dan ia mendapat balasan dan imbalan sesuai dengan perbuatannya.
Sebagaimana yang difirmankan Allah Swt dalam ayat 32 surat al-Nisaa, "(Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan..." Sebagaimana dalam sejarah banyak juga pribadi yang hidup bersama tokoh-tokoh besar, tapi tidak ada pengaruhnya sedikitpun baginya. Sebagai contoh, sebagian dari istri para nabi.
Dalam surah al-Tahrim, empat perempuan dijadikan perumpaan dan menjadi contoh orang baik dan jahat. Seperti yang kami sebutkan dalam artikel sebelumnya, gambaran dua sampel perempuan disampaikan sedemikian rupa sehingga lingkungan kekafiran dan penindasan tidak dapat merusak kepercayaan mereka. Termasuk fakta bahwa istri Firaun, di lingkungan di mana suaminya mengaku sebagai tuhan, ia percaya pada Tuhan yang Esa dan menerima roh kebenaran dan cahaya iman.
Karena tujuan dari artikel ini adalah untuk mengungkapkan kisah perempuan yang kafir kami mempertimbangkan ayat 10 dari surat al-Tahrim, "Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)".
Istri-istri dari dua nabi besar Allah, Lutt dan Nuh, adalah perwujudan dari kekafiran dan pengkhianatan bagi semua manusia. Al-Quran menekankan nasib buruk kedua perempuan ini karena mereka berada di pusat keimanan dan pengetahuan para nabi Allah, tapi memilih jalan kekafiran dan pengkhiatan. Hasil dari kekafiran dan pengkhianatan terhadap Allah dan utusan-Nya adalah kebinasaan dan kehancuran. Tidak ada perbedaan siapa saja yang melakukannya. Dalam sistem penghakiman ilahi, koneksi dan hubungan individu dengan tokoh besar atau para nabi tidak memiliki efek pada keselamatan mereka dari hukuman Allah kecuali mereka berusaha dan melewati jalan hidayah.
Istri nabi Nuh dan Luth yang sebelumnya bersama para nabi ternyata kedekatan itu tidak berpengaruh pada nasib mereka. Karena masalah ini merupakan Sunnah Ilahi yang telah disebutkan dalam ayat 51 surat Ibrahim as, "Agar Allah memberikan pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha Cepat hisab-Nya."
Allah Maha Cepat hisab-Nya
Al-Quran menyebut Nabi Luth as 27 kali dan menyebut beliau sebagai seorang nabi yang rasul dan saleh yang menghadapi ketidaktaatan dan mengikuti nafsu. Beliau mengajak mereka untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim as, tapi mereka membangkang dari perintahnya. Luth adalah salah satu nabi ilahi yang dipilih untuk memberi hidayah kaumnya di salah satu kota Palestina. Kaum Nabi Luth as berada di puncak kerusakan dan kemaksiatan.
Mereka begitu tenggelam dalam kerusakan, sehingga setiap kali melakukan pekerjaan, selalu memilih keburukannya. Masyarakat yang tidak beriman, tidak mengenal Tuhan, zalim, berani melanggar dan kasar. Kaum Nabi Luth tidak tahu malu dan skandal kaum ini sampai pada batas, dimana mereka melakukan hubungan sesama jenis. Para pria justru menjauhi perempuan dan tidak mau menikahi mereka. Ketika kaum perempuan melihat perilaku pria mereka, sebagai bentuk protes dan membalasnya, mereka juga melakukan hal yang sama, sehingga hubungan sesama jenis menjadi pemandangan biasa di kaum ini.
Sebagaimana kalian ketahui bahwa perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan untuk mempertahankan spesies manusia tetap berlangsung, sehingga satu sama lain saling membutuhkan. Selama kecenderungan ini berada di jalur yang benar dan fitrahnya, dan dipenuhi lewat jalur yang benar dan logis menjadi satu hal yang suci. Namun, ketika keluar dari jalur asilinya dan bukan wasilah bati tujuan yang memiliki nilai, tapi menjadi alat untuk merusak ruh dan jiwa pribadi dan masyarakat.
Kaum Luth, untuk memuaskan naluri seksnya bersikeras untuk melakukan perbuatan tidak layaknya dan melakukan hubungan buruk dan tidak sah dengan laki-laki dengan cara mereka sendiri. Selain beberapa ayat dikhususkan untuk membahas kaum Luth, agar perbuatan buruk yang dilakukan kaum tersebut membuat mereka diazab, al-Quran membahasnya agar menjadi pelajaran bagi manusia. Tetapi sayangnya, kita sekarang melihat bahwa cara yang tidak masuk akal dan tidak wajar yang dilakukan oleh kaum Luth, karena ketidaktahuan dan kesesatan mereka, telah menjadi populer di beberapa masyarakat, terutama negara-negara Barat, dan anehnya dibuat acara resmi dan legal untuknya. Ini adalah hal yang sangat memalukan bagi masyarakat yang mengklaim sains dan peradaban.
Apa yang paling menyiksa Nabi Luth as dari perilaku kaumnya adalah penyimpangan pemikiran dan kesesatan istrinya. Karena istri beliau dipengaruhi masyarakat dan lingkungannya yang tidak beragama dan tidak mengenal Tuhan. Istri Nabi Luth as tetap menjaga kesuciannya, tapi tidak sesuai dengan keinginan Nabi Luth as. Ia punya perangai yang kasar dan buruk. Selalu berusaha mengotori astmosfer rumah dengan riya dan kelicikan. Kesalahan istri Luth bukan karena ada penyimpangan seksual atau berbuat di luar dari kehormatan seorang wanita.
Kebanyakan ahli tafsir mengatakan bahwa pengkhianatan istri Luth dan Nuh karena mereka berkolaborasi dengan musuh para nabi menyampaikan rahasia di rumah kepada musuh. Karena ucapan dari istri Nabi Nuh dan Luth telah disebutkan dalam surat yang menyebutkan ucapan dua istri Nabi Muhammad Saw, dimana mereka mencampuri urusan Nabi Saw dalam peristiwa pengungkapan rahasia dan mengganggu beliau, serta kesesuaian kisah ini dengan kisah pengungkapan rahasia rumah Nabi Muhammad Saw yang membuat makna dari pengkhianatan adalah mengungkap rahasia.
Ketika malaikat datang untuk mengunjungi Luth sebagai tamu dengan wajah muda dan tanpan. Istri Nabi Luth as mengabarkan kedatangan para tamu suaminya kepada masyarakat, padahal telah dilarang oleh suaminya. Kaum Luth pelaku hubungan sesama jenis langsung mendatanginya. Kekhawatiran Luth adalah jangan sampai mereka melakukan hal yang tidak-tidak kepada para tamunya, sehingga meminta mereka untuk tidak mengganggu tamunya. Untuk itu Nabi Luth as bersedia untuk menyerahkan putrinya menjadi suami mereka. Oleh karenanya beliau berkata kepada mereka, "Ini adalah putriku, nikahi mereka. Mereka bersih dan suci untuk kalian dan jangan permalukan aku di depan para tamuku."
Kisah ini disebutkan dlam surat al-A'raf ayat 80-84 seperti dikisahkan dalam video berikut:
"Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?" Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, "Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri". Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu."
Istri Luth telah melakukan pengkhianatan dan kemunafikan terhadap apa yang diperjuangkan Nabi Luth. Perilakunya ini bukan saja telah membuatnya jauh dari rahmat ilahi, tapi menderita azab ilahi bersama kelompok yang menyimpang.
Mengenal Perempuan dalam Al-Quran (7)
Disebutkan ada beberapa nama yang dikutip untuk ibu Nabi Musa as, dimana yang paling terkenal adalah Yukabid. Seorang perempuan yang keabadian epiknya dalam mewujudkan tujuan Allah dan melindungi manusia pilihan ilahi, Musa as. Kehidupan Musa as adalah manifestasi yang jelas dari perjuangan antara yang benar dan yang salah, dimana setiap perempuan memiliki kehadiran yang signifikan.
Nabi Musa berasal dari para nabi Israil dan sezaman dengan Firaun, Raja Mesir. Firaun adalah penguasa paling kejam di masanya, yang akan membuat klaim bahwa dirinya adalah tuhan. Al-Quran dalam surat al-Qashash ayat 4 memperkenalkan Firaun seperti demikian, "Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan."
Dari ayat tersebut jelas bahwa ketika berkuasa di Mesir, Firaun memerintahkan agar dalam rentang waktu tertentu, setiap anak laki-laki dari Bani Israil yang lahir harus dipenggal lehernya. Perintah ini berdasarkan mimpi yang dilihat Firaun dalam tidurnya.
Firaun, Raja Mesir yang sangat sombong berjalan di teras istananya. Tiba-tiba ia berteriak, "Beri tahu dan panggil para ilmuwan dan pentakbir mimpi!" Sejumlah orang dengan cepat mendatanginya. Mereka berlutut di hadapannya dan bersujud. Firaun berkata, "Ketika aku bermimpi, api membakar dari Baitul Maqdis dan menjalar ke seluruh Mesir dan di antara nyala api itu, semua etnis kita turut terbakar, tapi api tidak sampai membakar Bani Israil. Apa takbir dari mimpi ini?" Para pentakbir mimpi saling memandang dan tergagap karena panik.
Firaun bertanya, "Apa yang terjadi dengan kalian? Mengapa kalian terdiam?" Mereka menjawab, "Mimpi ini berarti bahwa seorang putra akan segera lahir di antara Bani Israil yang akan menghancurkan tahta dan mahkota Anda." Firaun melilit seperti ular yang terluka dan berkata, "Aku tidak akan membiarkan anak laki-laki hidup. Awasi perempuan Bani Israil. Bunuh setiap putra yang lahir. Hanya anak perempuan yang dibiarkan hidup." Bani Israil merasakan sedih. Karena setiap anak lak-laki dibunuh tanpa belas kasih dan kezaliman meraja lela.
Namun, sekalipun semua cara telah ditempuh dan pengawasan semakin intensif, tapi sesuai dengan kehendak Allah Swt, seorang anak laki-laki yaitu Musa terlahir ke dunia.
Sejumlah nama dikutip untuk menyebut nama ibu Nabi Musa as, dimana yang paling terkenal adalah Yukaibd atau Jochebed. Yukabid adalah istri Imran. Setelah ia merasakan sakit untuk melahirkan, dan dengan mencermati perintah kerajaan untuk membunuh setiap bayi laki-laki dan demi mencegah bahaya di masa depan, Yukabid menyerahkan segalanya kepada Allah dan mengundang bidan ke rumah agar mempersiapkan kelahiran bayinya. Ketika Musa terlahir ke dunia, bidan melihat cahaya di dahi bayi yang baru lahir dan merasakan cinta dan keakraban Musa dalam hatinya. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk tidak memberitahukan peristiwa ini kepada siapapun dan menutupi rahasia kelahiran bayi tersebut.
Tetapi insiden itu belum berakhir dan setiap saat ada bahaya membunuh bayi yang baru lahir. Pencarian para petugas terus berlanjut yang membuat hati ibu Musa terus-menerus khawatir tentang nasib yang dia harapkan untuk anaknya. Di sinilah pesan ketenangan diilhamkan kedalam hatinya, "Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul." (QS. Al-Qashash: 7)
Yukabid kemudian mencari seorang tukang kayu dan memintanya untuk membuatkan kotak. Setelah selesai membuat kotak, dengan berhati-hati ia membawanya ke rumah lalu meletakkan bayinya ke kotak tersebut dengan hati penuh kepercayaan kepada Allah Swt. Ia kemudian menutup pintu kotak dengan kuat dan melepaskannya di sungai Nil. Gelombang sungai mengantarkan Musa yang berada dalam kotak tersebut sampai ke istana Firaun.
Lukisan proses ibu Musa as melepaskan bayinya ke sungai
Firaun dan istrinya tengah duduk-duduk di pinggir sungai Nil, ketika tiba-tiba mata mereka menyaksikan sebuah kotak. Firaun memerintahkan agar para pengawalnya mengambil kotak tersebut dan membawa kepadanya. Ketika ia membuka kotak tersebut, ia meyaksikan seorang bayi tampan. Allah meletakkan kecintaan kepada bayi tersebut ke dalam hati Asiah, sehingga ia berkata kepada Firaun, "Bayi ini akan menjadi sumber kebahagiaan aku dan engkau. Jangan membunuhnya dan mungkin ia bermanfaat bagi kita atau kita mengangkatnya sebagai anak."
Ketika Yukabid melepaskan Musa di sungai Nil, ia memerintahkan putrinya untuk melangkah mengikuti kotak tersebut dan melihat sampai di mana nasibnya. Saudara perempuan Musa mengikuti saudaranya dalam kondisi yang sulit dan tanpa diketahui ia sampai di istana Firaun. Di sanalah ia kemudian mengetahui bahwa orang-orang Firaun sedang mencari seseorang yang dapat menyusui Musa. Karena Musa tidak mau menyusui dari yang ditawarkan kepadanya. Pada waktu itu, saudari Musa tanpa memberitahukan identitasnya, berkata, "Apakah kalian mau aku beri informasi seorang perempuan yang tidak pernah menolak untuk menyusui seorang bayi?"
Istri Firaun yang sangat ingin mendapatkan seorang perempuan seperti ini memintanya agar menunjukkan perempuan yang menyusui itu agar ke istana. Yukabid tiba di istana. Di tengah jalan ia berpikir bagaimana Allah Swt dengan hikmah-Nya melakukan semua ini. Ketika ia masuk dan melihat bayinya, dimana semula ia sangat takut akan Firaun, matanya langsung berbinar-binar gembira dan bersyukur kepada Allah. Bayi itu juga seakan-akan membaui ibunya langsung tenang dalam pelukannya dan mulai menyusu. Ayat 13 dari surat al-Qashash menceritakan masalah ini, "Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya."
Dengan demikian, lewat kebijakan ilahi dan semua telah diatur-Nya, Yukabid justru bisa bertemu dan bersama anaknya dan dirinya menyaksikan janji ilahi yang telah diilhamkan ke dalam hatinya. Setelah itu, keyakinan Yukabid akan kebenaran ilahi menjadi berlipat ganda.
Salah satu poin yang patut mendapat perhatian dalam cerita ini adalah pentingnya membesarkan anak di pangkuan ibu. Keluarga adalah pusat pertama pertumbuhan dan pendidikan manusia, serta kebutuhan paling mendasar bagi manusia. Di sini kita melihat bahwa ibu Musa adalah seorang wanita yang kekuatan iman dan kepercayaannya kepada Allah memberinya kemampuan untuk menghadapi masalah-masalah serius dan keras seperti meninggalkan seorang anak di sungai. Ya, ibu Musa memiliki posisi dan kapasitas sedemikian rupa sehingga wahyu ilahi turun kepadanya dan kehendak Allah diletakkan kepadanya sehingga Musa akan tumbuh dari entitas bernilai dan penyembah tauhid bernama Yukabid serta besar dalam kecintaan ibunya.
Tidak diragukan lagi, setiap pusat keluarga, dengan adanya ayah dan ibu yang kompeten dan beriman, dapat menjadi titik fokus yang cocok untuk pertumbuhan yang tepat bagi anak-anak dan yang paling penting, keluarga adalah tempat yang berharga untuk ketenangan mental anak-anak. Ketika Musa menemukan kedamaian bersamanya, maka dari itu perlu memperhatikan setiap kerusakan yang terjadi pada institusi keluarga ini, pada kenyataannya, bahwa rumah kehilangan nilai dan pendidikannya.
Sebenarnya, kehendak Allah adalah bahwa Musa as harus dididik dan dibesarkan bersama ibu kandungnya. Para Nabi as dan para lelaki ilahi agung harus tumbuh bersama para ibu yang layak untuk mencapai posisi yang diinginkan. Ketika ibu Musa as diminta untuk memberikan Musa ASI dengan rencana yang tepat, itu dikarenakan karakteristik ibu ditransfer ke kehidupan anak melalui air susu ibu.
Masalah pengaruh ASI dan pemindahan sifat-sifat kepribadian dengan cara ini kepada anak yang akan memiliki citra transendental di masa depan adalah pemunculan nilai-nilai seorang perempuan dihadapan keberadaan seorang nabi. Ibu yang ahli dalam mendidik anaknya sangat berhasil. Ia bukan saja mendidik Musa untuk menjadi seorang nabi tetapi juga berhasil mendidik Harun, anaknya yang lain sehingga berlaku sebagai teman dan pembela saudaranya dan selalu mendukung saudaranya dalam semua tahap kehidupannya.
Sementara itu, Yukabid juga mendidik putrinya sedemikian rupa, sehingga dengan penuh keberanian membela adiknya. Demi menyelamatkan agama Allah, Yukabid siap mengobarkan nyawanya dan dalam kondisi yang mencekam dan di bawah pemerintahan zalim dan taghut, ia dapat mendidik anaknya sebagai pejuang, tahu tujuan, monoteis, dan anti taghut.
Ibu Musa as dengan semua ciri khas perilaku di masanya bahkan untuk masa depan tetap menjadi contoh yang kompeten bagi perempuan lain. Ia mengajarkan kepada kita bahwa seorang perempuan yang mensucikan dirinya, beriman, bertawakal, percaya diri, independen dalam berpikir, cerdas dan berani dapat mencapai derajat kedekatan dengan Allah Swt dan mendapat pertolongan ilahi agar sampai pada tujuannya. Ia telah menunjukkan bahwa perempuan juga sama seperti para nabi dapat menjadi utusan Allah di muka bumi untuk melayani makhluk-Nya.




























