کمالوندی

کمالوندی

Kamis, 12 Desember 2019 15:50

Mengenal Perempuan dalam Al-Quran (4)

 

Perempuan adalah bagian dari masyarakat manusia yang tidak berbeda dari laki-laki dalam bidang iman dan kesempurnaan, bahkan terkadang mereka mencapai status yang orang lain harus mengambil pelajaran kesalehan, keberanian, keagamaan dan kerendahan hati dihadapan Tuhan.

Al-Quran dalam ajakan umum menyebutkan, "Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya ..." (QS. al-Nisa: 136). Al-Quran telah menggambarkan jalan menuju kesempurnaan sebagai kelanjutan perjalanan di jalur keimanan untuk setiap laki-laki dan perempuan dan membuat perumpamaan dari pribadi-pribadi ini agar menjadi pelajaran bagi masyarakat, sehingga menjadi jelas jalan untuk mendaki puncak keimanan bagi laki-laki dan perempuan. Hajar, istri Nabi Ibrahim as merupakan salah satu dari perempuan hebat ini.

Hajar bersama bayinya melakukan perjalan dengan Ibrahim as. Ia tenggelam dalam pikirannya membayangkan masa depan anaknya. Ketika tunggangan Ibrahim berhenti, ia mendekatinya dan bertanya, "Mengapa engkau berhenti di tengah gurun pasir ini?" Ibrahim menjawab, "Saya berkewajiban membawa engkau ke daerah ini." Hajar berkata, "Tapi di sini tidak tanda-tanda kehidupan. Bagaimana kami dapat berlindung dari cahaya matahari yang panas menyengat dan serangan binatang?"

Selintas Ibrahim as menangis akan nasib istrinya. Hajar melihat cahaya kecemasan di mata suaminya dan memeluk bayinya. Setelah itu, dengan suara bergetar yang menyakitkan hati Ibrahim, Hajar berkata, "Saat ini kami memiliki sedikit makanan, tapi hati kami penuh dengan harapan akan pertolongan Allah."

Ketika Nabi Ibrahim as meninggalkan istri dan anaknya di tempat itu, beliau mengangkat tangan ke arah langit dan berkata, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37)

Lukisan Hajar dan Ismail dalam karya François-Joseph Navez
Suara tangisan anak kecil memecah keheningan gurun pasir. Hajar tidak kuat mendengar tangisan anaknya. Dengan segera ia mendekapnya dan dengan cemas menatap ke bukit di depanya. Ia seakan melihat air jernih di rentang bukit itu. Hajar pun meletakkan anaknya di atas tanah dan bergerak cepat mencari air. Tetapi ketika ia sampai ke bukit itu, air tidak juga ditemukan. Hajar terduduk di atas batu di bukit itu dengan frustasi dan kecewa. Kali ini Hajar melihat di depan bukit itu ada air jernih. Tanpa mempedulikan dirinya, Hajar berlari ke arah air, tapi yang terjadi hanyalah fatamorgana. Tapi dari tempat pertama ia kembali melihat air, Hajar kembali berlari ke sana dan ke mari sehingga 7 kali untuk mencari air di bukit itu, tapi ia tidak kehilangan harapan akan pertolongan Allah.

Setelah berkali-kali berusaha tapi tidak membuahkanhasil, Hajar kembali menuju anaknya dengan keletihan dan lemah. Anaknya sudah tidak punya kekuatan lagi untuk menangis. Anaknya menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Tiba-tiba Hajar melihat tanah di bawah kaki anaknya lembab. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Hajar menutup kelopak matanya dengan kuat. Di benaknya, Hajar berpikir bahwa ini pasti fatamorgana lagi. Tapi tidak, yang terjadi adalah mukjizat.

Hajar kemudian menggali tanah lembab itu dengan jari-jarinya. Waktu itu kehidupan seperti muncul kembali. Air jernih dan sejuk keluar dari tanah. Segera saja Hajar mengambil air itu dan meminumkannya kepada anaknya. Badan Ismail menunjukkan kembali tanda-tanda kehidupan dan memunculkan kembali harapan di hati sang ibu. Hajar yang menyaksikan hasil dari kesabaran dan tawakl kepada Allah, segera bersujud dan bersyukur kepada Allah Swt. Setelah itu, ia sendiri meminum air tersebut. Hajar menatap Ismail dan berkata, "Betapa baiknya Allah menganugerahkan anak ini kepadaku."

Lukisan Hajar memberi minum Ismail air karya Charles Paul Landon
Hajar adalah perempuan teladan kesabaran dan harapan Bila hubungan Hajar terputus dengan Tuhan, ia tidak akan mampu menampilkan ketegarannya. Sudah pasti keputusasaan dan keletihan telah mengalahkannya. Benar, iman kepada Allah, yakin akan rahmat Allah dan harapan penuh kepada Allah menyebabkan semangat, ketegaran dan keteguhan ditiupkan ke dalam jiwa manusia. Tawakal Hajar yang tinggi kepada Allah sangat hebat! Karena setelah Ibrahim as meninggalkan dirinya dan anaknya, Hajar menerima untuk hidup di lembah itu bersama anaknya.

Harapan Hajar akan rahmat Allah juga luar biasa. Karena ia tidak pernah putus asa dalam berusaha, sehingga ia melihat di didekat rumah Allah, air keluar dari tanah yang berada di bawah kaki Ismail! Kekuatan ini, resistensi, ketegaran dan keteguhan hanya akan diraih manusia ketika memiliki iman kepada Allah Swt. Di dunia ini, tidak ada faktor selain iman kepada allah yang mampu memberikan manusia kekuatan, ketegaran dan resistensi.

Tak diragukan lagi bahwa kesabaran Hajar dan kemampuannya menanggung kesulitan di lembah di dekat gunung Abu Qubais berasal dari kejujuran dan keyakinan agama yang mendalam. Tawakal yang hakiki dan murni dari Hajar kepada Allah Swt menciptakan mukjizat dan rahmat ilahi baginya dan anaknya serta memberikannya kemampuan untuk menghadapi masalah lingkungan alam yang dikemudianhari menjadi pusat agung bagi tauhid di gurun pasir kering dan tanpa air itu. Hari ini, Ka'bah menjadi kerindungan jutaan umat Islam di atas bumi dan bergabung dengan nama Gajar dan Ismail. Makam Hajar berada di dekat Ka'bah dan menjadi tempat peziarah pecinta ilahi.

Gambar Hijir Ismail dan tempat pemakan Hajar di dekat Ka'bah
Banyak manusia yang berusaha dalam hidupnya, tapi Allah Swt memilih usaha perempuan saleh di lembah kering ini dan menjadikannya bagian dari manasik haji. Di sini Allah menunjukkan kepada manusia seberapa bernimainya usaha seseorang, sehingga Allah membesarkannya lalu menjadikannya bagian dari manasik haji. Sekalipun kita tidak mengetahui nilai usaha ini, tapi kita tahu bahwa pilihan ilahi selalu berdasarkan Sunnah Ilahi, aturan dan perhitungan. Kita tidak mengetahui Sunnah ini kecuali sangat sendikit.

Hajar sebelumnya adalah budak bermartabat, loyal, taat dan dipercaya yang diberikan raja Mesir kepada Sarah, istri Nabi Ibrahim as. Dalam sistem penilaian yang biasa dipakai, perempuan seperti ini tentu tidak punya tempat. Usahanya juga tidak akan diletakkan dalam prioritas, tapi Allah Swt memberikan penilaian lain. Penilaian Allah berbeda dengan cara manusia menilai. Itulah mengapat Allah memberi penghormatan kepada budak ini dan usahanya dijadikan bagian manasik haji.

Allah memberi perintah kepada para nabi dan wali-Nya untuk pergi menapaktilasi jalan yang dilakukan perempuan saleh dan layak ini. Mereka harus meletakkan kakinya di antara bukit Shafa dan Marwah seperti yang dilakukan Hajar. Semuan penghormatan dikarenakan seorang perempuan yang diuji Allah di sebuah lembah kering ribuan tahun lalu. Perempuan ini dalam usahanya selalu rela kepada Allah dan selalu berdoa meminta pertolongan-Nya. Sekalipun tidak ada yang menyaksikan usahanya, tapi Allah melihatnya dan mengijabahi doanya. Allah Swt memuliakan perempuan saleh ini dan membuat usahanya abadi agar manusia belajar bagaimana Allah memberikan nilai dan parameter kepada manusia. Parameter Allah adalah ketakwaan dan kehormatan sementara orang yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.

(Video Sai di antara Shafa dan Marwah)


Sifat mulia lain Hajar adalah berserah diri dihadapan Allah. Ia bukan hanya taat kepada Nabi Allah untuk hidup jauh dari rumah, tapi benar-benar menaati kehendak Allah. Ketika Ibrahim as diperintah untuk mengorbankan anaknya, Ismail, setan pertama kali mendatangi ayah dan anak, tapi kemudian ia putus asa. Setelah itu ia mendatangi Hajar danberkata, "Ibrahim ingin mengorbankan anaknya." Hajar menjawabnya, "Pergilah! Jangan bicara yang tidak ada artinya. Ia mencintai anaknya dan mengasihinya." Setan berkata, "Ibrahim membayangkan itu merupakan perintah Allah." Hajar berkata, "Bila itu merupakan perintah Allah, maka harus berserah diri dihadapan perintah-Nya."

Kamis, 12 Desember 2019 15:49

Mengenal Perempuan dalam Al-Quran (3)

 

Dalam kebangkitan para nabi ilahi, perempuan hadir dengan aktif dan konstruktif. Fakta ini dapat disaksikan di masa para nabi seperti Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad Saw sebagai pamungkas para nabi ilahi.

Dalam sejarah panjang kenabian hingga nabi terakhir, kehadiran perempuan sangat aktif dan konstruktif. Mereka memainkan peran dan menentukan rute perkembangan sejarah manusia. Kehadiran perempuan mulia bernama Hajar yang mendampingi Nabi Ibrahim as atau bergabungnya Asiah, istri Firaun dengan agama yang dibawa oleh Nabi Musa as atau ketika Maryam bersama Nabi Isa as, termasuk catatan emas kehadiran perempuan dalam agama ilahi. Terutama ketika kehadiran ini tidak untuk menunjukkan diri, tapi wajah-wajah ini hadir secara luas dan aktif demi memajukan dan mensosialisasikan agama ilahi. Mencermati kehidupan mereka selain menjelaskan bahwa di bawah bayang agama ilahi, perempuan memiliki kepribadian transendental dan membuktikan posisi kehadiran mereka yang menentukan.

Nabi Ibrahim as, salah satu nabi Ulul Azmi. Nabi yang dikenal dan hadir di seluruh dunia serta penggagas agama monoteisme dan tauhid. Agama yang akan berlanjut hingga berakhirnya dunia dan banyak manusia pemeluknya yang akan selamat. Di sisi nabi ilahi ini ada dua wajah perempuan. Sarah sebagai contoh perempuan yang terhormat dan hati yang suci, dimana selalu bersama suaminya. Kedua, Hajar simbol keimanan, kesabaran dan tawakl kepada Allah.

Sarah merupakan seorang perempuan penuh kebajikan dan bila mengkaji sejarah para nabi, dapat diketahui betapa beliau memiliki peran dan posisi khusus dalam penyebaran tauhid. Selain berparas luar biasa cantik, Sarah tergolong perempuan paling kaya di masanya. Ia memiliki tanah persawahan yang luas dan hewan peliharaan yang banyak. Namun sekalipun memiliki semua ini, ternyata Sarah justru menginginkan seorang pemuda pemberani seperti Ibrahim as.

Ibrahim seorang anak yatim yang tidak memiliki harta dan kekayaan. Tapi kebajikan dan nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam dirinya mampu menarik seorang Sarah. Sikap ksatria Ibrahim telah dikenal oleh semua orang. Itulah mengapa Sarah menyerahkan semua kekayaannya kepada suaminya Ibrahim as dan beliau yang mengurusinya semua kekayaan dan hewan peliharaan, sehingga kondisi kehidupannya tidak seperti dahulu lagi, bahkan di daerah tempat tinggalnya tidak ada yang memiliki kekayaan sebanyak itu.

Dalam riwayat dari Imam Shadiq as disebutkan, "Sarah memiliki banyak kambing dan tanah yang luas serta kehidupan yang baik. Semua kekayaannya diserahkan kepada Ibrahim as. Kemudian Ibrahim mengelola harta itu, sehingga memiliki sangat banyak kambing dan tanah pertanian yang luas, sehingga di kawasan itu tidak ada seseorang yang lebih kaya darinya."

Sebelum menikah dengan Ibrahim as, Sarah adalah seorang yang berkecukupan, namun setelah berkeluarga, ia harus menanggung segala masalah dan bencana. Sekalipun demikian, Sarah menghadapinya dengan penuh kesabaran dan kerelaan. Karena semua itu merupakaan ujian sulit Allah Swt demi memunculkan keikhlasan hamba-Nya yang terpilih.


Nabi Ibrahim as lahir di dalam goa dan di sana juga beliau diangkat sebagai utusan Allah. Beliau memiliki perbedaan dengan para nabi sebelum dan sesudahnya. Karena rencana Allah, beliau akan mencapai derajat tertinggi dari kenabian yaitu keimamahan. Demi mencapai posisi agung ini, Nabi Ibrahim as berhasil melewati segala ujian ilahi. Selama bertahun-tahun, Ibrahim tidak memiliki anak. Selama itu pula, beliau berdoa, bermunajat dan beribadah kepada Allah dan tidak pernah mengadukan keadaannya kepada Allah. Nabi Ibrahim as hanya berkata, "Ya Allah! Bila engkau melihat maslahat, maka anugerahkan anak kepadaku."

Bertahun-tahun lewat, Sarah memahami bahwa ia tidak akan dikaruniai anak. Oleh karenanya, ia mengusulkan Hajar, budaknya, seorang perempuan yang sangat layak dan bertakwa sebagai istri Ibrahim as, sehingga mungkin darinya Ibrahim as bisa mendapatkan anak dan dapat melanjutkan risalah ayahnya. Nabi Ibrahim as menerima usulan istrinya dan Hajar akhirnya menjadi istrinya. Sejak saat itu, ia bukan lagi seorang budak, tetapi mendapat kehormatan sebagai istri nabi dan membuat Ibrahim semakin tenang di usianya yang sudah tua.

Tidak berapa lagi setelah pernikahan itu, Hajar hamil dan bersamaan dengan periode kehidupan yang sulit, ia melahirkan anak Ibrahim yang diberi nama Ismail. Itulah bayi yang dahinya memancarkan cahaya terang kenabian. Kini Ibrahim begitu gembira telah melewati usia tanpa anak. Karena telah diwahyukan kepadanya bahwa akan lahir nabi dari keluarganya dari generasi Ismail. Pamungkas para nabi dan dua belas bintang bercahaya akan muncul dari bayi ini dan memenuhi dunia dengan cahaya dan kebahagiaan.

Bayi yang baru lahir ini tidak hanya seorang anak, tapi akhir dari usia penantian. Sebuah balasan dari satu abad menanggung kesulitan. Anak yang meniupkan kegembiraan setelah hilangnya pengharapan yang pahit. Tapi di bagian lain, Sarah semakin sedih karena tidak punya anak. Dalam kondisi yang demikian, ia tidak ingin muncul perilaku atau perbuatan dari dirinya yang tanpa disadari. Oleh karenanya, Sarah meminta kepada Ibrahim as agar Hajar dan Ismail tinggal di tempat lain. Ibrahim as menyetujui permintaan istrinya.


Sarah selalu berharap pertolongan Allah. Suatu hari ia berkata kepada Ibrahim, "Sekalipun aku sudah tua dan tidak mampu lagi, tapi pelita harapan dalam batinku selalu menyala. Saya sampai pada keyakinan bahwa sangat mungkin saya akan memiliki anak. Kekuasaan Allah akan menghilangkan kekurangan saya ini. Saya meminta kepdamu agar mendoakan aku."

Nabi Ibrahim as menyanggupi permintaan istrinya dan bermunajat kepada Allah agar hajat dan keinginan Sarah terkabulkan. Doa Ibrhaim terkabulkan dan akhirnya Allah Swt menganugerahkan seorng anak kepadanya lewat Sarah di usia tua. Kisah ini disebutkan dalam al-Quran surat Hud ayat 69-73.

"Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, "Selamat". Ibrahim menjawab, "Selamatlah,"maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth". Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya'qub. Isterinya berkata, "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh". Para malaikat itu berkata, "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah."

Selama bertahun-tahun Sarah menghadapi ujian sulit ilahi di sisi Ibrahim as menjadikannya seorang yang bertakwa dan suci. Sedemikian besar potensi yang dimiliki Sarah, sehingga ia dapat bertemu dengan para malaikat dan berbicara dengan mereka. Derajat ini hanya diraih oleh manusia-manusia khusus dan wali Allah. Fakta ini menjelaskan bahwa dalam budaya monoteisme dan tauhi, seorang perempuan juga memiliki keagungan dan nilai yang tinggi seperti pria. Dengan keimanan yang kuat dan ketakwaan yang ikhlas, mereka dapat berbicara dengan malaikat dan menerima kabar gembira dari Allah lewat para malaikat menunjukkan rahmat dan pertolongan Allah.


Peran perempuan dalam mengelola urusan rumah tangga sangat penting dan sekalipun secara hukum perempuan tidak memiliki kewajiban yang demikian, tapi atmosfer cinta, keakraban dan kasih sayang keluarga membuat perempuan berusaha bersama suaminya untuk menciptakan kesejahteraan dan ketenangan. Dengan keindahan rasa yang bersumber dari semangat kasih sayangnya, perempuan mempersiapkan tempat yang telah dihiasi demi mendidik generasi akan datang. Dalam teladan yang disampaikan al-Quran untuk perempuan mengelola rumah tangga secara spesifik telah ditekankan tentang bagaimana mereka menerima tamu dan menjelaskan kisah masuknya para malaikat ke rumah Nabi Ibrahim as. Sebuah contoh yang jelas mempertontonkan model perilaku seorang perempuan yang mengurus rumah tangga.

Menurut Allamah Majlisi, faktor dan tanda kepribadian serta kesempurnaan Sarah, istri Nabi Ibrahim as adalah pekerjaan mengurus rumah tangga dan menerima tamu Ibrahim as. Dia senantiasa melayani tamu-tamu Nabi Ibrahim as dan Allah Swt dalam al-Quran mengingatkan akan kebaikan Sarah ini, "Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, ..." (QS. Hud: 71). Sarah dalam menjamu tamu-tamu suaiminya menunjukkan ketrampilannya, bahkan ketika ada tamu yang tidak diundang mendatangi rumah mereka. Tidak menunggu lama, dia melayani mereka dengan cara terbaik, sebagaimana dalam al-Quran disebutkan, "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: "Selamat". Ibrahim menjawab: "Selamatlah," maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang."

Sarah adalah perempuan pertama yang beriman kepada Ibrahim as. Dalam peristiwa Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api, Sarah meminta kepada Allah Swt untuk menyelamatkan Ibrahim dan setelah peristiwa ini, masyarakat mengusir Ibrahim, Sarah dan Luth, sehingga mereka pergi ke daerah Syam. Sarah mempersiapkan diri menanggung segala kesulitan dalam perjalanan dan keterasingan agar seruan dan ajakan Ibrahim dapat diterima luas. Akhirnya, setelah menjalani kehidupan bercahaya dan melewati jalan yang lurus ilahi serta mendukung Nabi Ibrahim, Sarah meninggal dunia dalam usia 120 tahun.

Kamis, 12 Desember 2019 15:43

Mengenal Perempuan dalam Al-Quran (2)

 

Al-Quran dan semua agama ilahi menyebut kehadiran manusia di muka bumi dalam bentuk perempuan dan laiki-laki. Artinya, kehidupan manusia di atas bumi dimulai dengan kehadiran perempuan dan laki-laki dengan nama Adam dan Hawa dan keduanya sepanjang hidupnya sangat akrab dan senantiasa bersama.


Hawa sebagai ibu dari manusia dan sebagai perempuan pertama yang diciptakan memiliki derajat yang tinggi, sehingga diajak bicara Allah sederajat dengan nabi di masanya dan memiliki hak ibu bagi semua manusia. Dengan alasan ini, beliau disebut Hawa yang berarti ibu manusia. Allah Swt menciptakanHawa sebagai perempuan pertama yang suci dan menjaga kesuciannya. Berbeda dengan perubahan yang dimuat oleh dua kitab samawi (Taurat dan Injil) yang memperkenalkan kisah bahwa Hawa dimasuki setan atau faktor yang menipu Nabi Adam as. Al-Quran meletakkan Hawa dalam posisi yang tinggi. Sebagaimana disebutkan dalam ayat 189 surat al-Araf Allah Swt berfirman, "Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya."


Menurut al-Quran, Hawa memiliki derajat yang tinggi, sehingga Allah berbicara kepadanya. Perlu diketahui bahwa al-Quran tidak pernah mengajak berbicara seorang nabi bersama istrinya, selalu yang diajak bicara adalah nabi dan kaumnya. Mungkin rahasia dari penyebutan khusus terkait Hawa adalah perhatian pada markas pasangan yang menyebabkan bertahannya kehidupan manusia. Harus diperhatikan bahwa Allah Swt memiliki perhatian khusus kepada Hawa. Karena begitu penciptaan Adam sempurna, Hawa diciptakan demi ketenangannya. Kisah penciptaan Adam dan Hawa dalam al-Quran sebagai ayah dan ibu kita manusia sangat menarik perhatian.

Ketika Allah Swt menciptakan Adam dan meniupkan ruh-Nya kepada dalam bentuk Adam, ada daya tarik ke sumber penciptaan dalam dirinya dan Allah mengajarkan seluruh ilmu. Allah meminta dari para malaikat untuk bersujud kepadanya. Semua melakukannya kecuali Iblis. Iblis tidak melakukannya karena melihat dirinya lebih baik dan tidak menerima perintah ilahi. Oleh karenanya Allah menghukumnya dan mencegahnya dari nikmat serta mengusirnya.

Setelah diciptakan, Adam dan Hawa memasuki surga dan Allah mewahyukan kepada Adam bahwa Aku akan memberikanmu nikmat dan harus mengingatnya. Karena Aku menciptakanmu dengan fitrah yang suci dan sesuai kehendak-Ku engkau Aku ciptakan sebagai makhluk terbaik dan layak. Aku meniupkan ruh-Ku kepadamu dan memerintahkan malaikat agar bersujud kepadamu serta memberikan ilmu kepadamu.

Wahai Adam, Aku mencegah Iblis dari rahmat-Ku karenamu dan Aku melaknatnya karena menolak perintah-Ku. Rumah abadi adalah surga dan Aku menjadikan rumah abadi ini sebagai tempatmu. "Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (QS. Thaha 20:118-119) Bila menaati perintah-Ku, engkau akan tinggal di surga ini selama-lamanya, tapi bila melanggar perintah-Ku, engkau akan dikeluarkan dari tempat ini dan mendapat azab. Ingatlah ini! Iblis adalah musuhmu dan istrimu. Waspadai tipu dayanya agar tidak dikeluarkan dari surga.


Allah yang Maha Esa mengizinkan Adam dan Hawa memanfaatkan segala nikmat-Nya dengan penuh ketenangan dan membebaskan mereka untuk memetik segala buah yang diinginkan. Satu-satunya permintaan kepada mereka dari segala nikmat yang ada adalah agar menjauhi satu buah dari sebuah pohon. Allah menyebut pohon terlarang dan menentukannya agar jangan sampai ada kerancuan dan dengan demikian, segala pertanyaan di benak Adam dan Hawa mengenai masalah ini sudah terjawab. Allah kembali memperingatkan mereka agar tidak mendekati pohon tersebut dan berfirman, "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim."

Adam dan Hawa memasuki sebuah kebun yang luas dan indah. Apa saja yang merekainginkan dapat memanfaatkannya. Mereka berputar-putar di kebun tersebut dan beristirahat di bawah pohon yang rindang. Mereka memakan buah-buahan yang ada di kebun dan minum dari air yang ada di sana. Karena air kebahagiaan mengalir di sana, mereka benar-benar merasa bahagia. Tapi setan sebagai musuh bebuyutan dan telah terusir dari surga mulai mendekati mereka dan mulai mempengaruhi Adam dan Hawa, sehingga mereka tergelincir yang berakibat mereka dikeluarkan dari kebun yang indah itu.

Allah Swt berkata kepada mereka, "... Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (QS. al-Araf 7: 22) Mendengar itu, Adam dan Hawa langsung memahami kesalahan mereka dan berusaha agar kesalahan mereka dapat dimaafkan dan berkata, "Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS. al-Araf 7: 23) "Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (QS. Thaha 20: 123)


Apa yang dijadikan pelajaran dari kehidupan Adam dan Hawa adalah kebersamaan keduanya baik dalam kegembiraan, kesulitan selau bersama. Semua peristiwa yang terjadi bagi keduanya. Ini contoh cara pandang yang adil dan benar terkait laki-laki dan perempuan dalam al-Quran. Al-Quran dalam pelbagai ayat menyebut perempuan dan laki-laki sama dalam meraih keutamaan dan bergerak menuju kesempurnaan. Di sebagian ayat disebutkan, "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya ..."

Laki-laki dan perempuan dalam pandangan al-Quran memiliki akal, perasaan dan pemahaman. Dengan beribadah mereka dapat mencapai kesempurnaan ilahi. Berbeda dengan kebanyakan aliran filsafat dan sebagian agama yang menyebut sifat perempuan berbeda dengan sifat pria, al-Quran menyebut substansi laki-laki dan pria adalah satu. Di ayat pertama surat al-Nisa, Allah berfirman, "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak ..."


Hawa adalah sumber ketenangan bagi Adam. Sesuai dengan sebagian riwayat, ketika Allah meletakkan Adam di surga, di sana Adam belum memiliki teman bicara, sehingga ia begitu sedih dan galau. Kemudian Allah menciptakan isteri untuknya agar bisa tenang di sisinya. Dalam buku Zan dar Ayene-ye Jalal va Jamal karya Ayatullah Javadi Amoli disebutkan:

"Imam Shadiq as berkata kepada Zurarah, 'Setelah Allah menciptakan Adam, Hawa kemudian juga ciciptakan... setelah mengetahui penciptaan Hawa, Adam bertanya kepada Allah, 'Siapa ini yang kedekatan dan melihatnya membuatku mereka akrab?' Allah berfirman, 'Ini Hawa. Apakah engkau ingin ia tetap bersamamu, menjadi sumber ketenangan, berbicara kepadamu dan mengikutimu?' Adam menjawab, "Iya! Ya Ilahi! Selama aku hidup aku wajib mensyukuri-Mu.' Allah Swt kemudian berfirman, 'Minta kepada-Ku agar ia menjadi isterimu karena ia layak menjadi isterimu demi menjamin kebutuhan biologismu.' Allah kemudian menganugerahkan keinginan biologis kepadanya... Setelah itu Adam berkata, 'Saya mengusulkan untuk bisa menikahinya. Bagaimana dengan keridaan-Mu?' Allah berfirman, "Keridaan-Ku ada pada engkau harus mengajarinya ajaran agama-Ku...' Sumber kecenderungan laki-laki kepada perempuan dan begitu juga sebaliknya serta keakraban keduanya adalah kasih sayang dan rahmat yang diberikan Allah kepada keduanya..."

Pada hakikatnya, poin penting yang patut direnungkan dari kisah penciptaan Adam dan Hasa adalah faktor pembentuk keluarga. Kedekatan dan pandangan Adam kepada Hawa sumber kedekatan dan keakrabannya dan Allah Swt menjadi prinsip ini sebagai landasan terciptanya hubungan di antara keduanya. Keakraban manusiawi ini telah ada sebelum munculnya keinginan biologis. Itulah mengapa pernikahan dan pembentukan "keluarga" memiliki kesucian dan pusat keakraban dan kedekatan.

Patut disayangkan bahwa substansi dan kepribadian perempuan yang ditampilkan Barat hanya dimensi lahiriah dan materinya yang diakui. Sementara Islam mengakui perempuan dengan semua identitas manusiawinya dan meletakkannya di tengah keluarga yang hangat dan penuh keceriaan. Itulah mengapa Islam melihat keluarga sebagai dasar kesadaran dan ketenangan laki-laki dan perempuan. Allah Swt dalam surat al-Rum ayat 21 berfirman, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."

 

Deputi menteri luar negeri Cina mengecam intervensi Amerika Serikat di urusan internal Hong Kong dengan tujuan mengubah pemerintahan di kawasan tersebut.

IRNA mengutip Koran South China dari Hong Kong, menulis, Maa Jao Shi Kamis (12/12) di pidatonya mengatakan, AS dengan dalih melindungi HAM mengintervensi urusan internal Hong Kong dan Cina serta berencana mengobarkan revolusi berwarna.

Deputi menlu Cina menyebut AS sebagai sumber kekacauan yang berusaha menjamin kepentingan pribadinya dengan alasan HAM serta merusak Cina.

Presiden AS Donald Trump baru-baru ini dalam langkah intervesifnya di urusan internal Cina menandatangani dua keputusan DPR negara dalam mendukung para demonstran Hong Kong.

Instabilitas di Hong Kong lebih dari lima bulan lalu dan dipicu protes atas draf ekstradisi kriminal dari kawasan ini ke Cina. Namun negara-negara seperti AS dan Inggris mengobarkan api protes di Hong Kong.

DPR Amerika baru-baru ini juga menjatuhkan sanksi kepada petinggi Cina dengan dalih melanggar HAM terhadap warga Uighur di Xinjian Cina. 

Kamis, 12 Desember 2019 15:42

DPR AS Dukung Kerusuhan terbaru di Iran

 

Sebagai kelanjutan pendekatan intervensif dan dukungan terhadap kerusuhan terbaru di Republik Islam Iran, kali ini DPR Amerika menyusun draf mendukung para perusuh di Iran.

Koran Washington Times Kamis (12/12) menulis, Joe Wilson, wakil Republik dari negara bagian Carolina Selatan dan penulis draf ini, terkait langkah DPR tersebut mengklaim, melalui resolusi ini, pesan Partai Republik dan Demokrat terkait dukungan terhadap nilai-nilai demoratis disampaikan kepada rakyat Iran.

Di sisi lain, Ted Deutch, wakil Demokrat dari negara bagian Florida serta penyusun lain drtaf anti Iran ini saat mendukung kerusuhan terbaru di Iran mengklaim, sikap pemerintah terhadap perusuh yang merusak fasilitas publik melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

Amerika ketika mengambil sikap mendukung HAM, negara ini selama bertahun-tahun dengan sanksi kerasnya telah mencegah rakyat Iran mengakses kebutuhan mendasarnya seperti obat-obatan dan kebutuhan primer lainnya.

Implementasi reformasi harga bensin di Iran sejak 15 November lalu diwarnai dengan aksi demo warga di Tehran dan sejumalh kota lainnya, namun sejumlah perusuh terlatih menyusup di tengah warga dan merusak fasilitas publik dan pribadi, bahkan bank, UGD, ambulan dan transportasi publik.

 

Komandan pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan, seluruh kendala ekonomi Iran akibat sanksi dan ancaman zalim musuh, serta rakyat tidak akan mengemis kepada para pemberi sanksi untuk terbebas dari kendala ini.

IRNA melaporkan, Mayjen Hossein Salami Kamis (12/12) di sebuah acara di Tehran menambahkan, musuh berusaha menciptakan beragam kesulitan bagi Iran termasuk fitnah dan kerusuhan, tapi mereka harus menyadari bangsa besar Iran dengan kewaspadaan penuh akan mematahkan skema kotor mereka.

Komandan IRGC ini menjelaskan, rakyat memiliki kesadaran penuh bahwa musuh hanya ingin bangsa ini menyerah, melihat kebelakang, kemiskinan massal, dan instabilitas di Iran.

Untuk mensukseskan ambisinya tersebut, musuh menurut Salami mengerahkan segenap upayanya.

"Represi maksimum musuh memicu resistensi, dan semakin kokohnya iman dan tekad bangsa Iran. Oleh karena itu, Amerika dan anasir regionalnya harus meninjau ulang kebijakannya," ungkap Salami.

 

Kepala staf gabungan militer Amerika Serikat mengatakan, di kondisi istimewa saat ini, menahan diri dalam menghadapi Iran merupakan balasan paling tepat dan harus dipertahankan.

Military Times menulis, Mark Milley Kamis (12/12) saat hadir di DPR seraya mengisyaratkan serangan roket beberapa pekan lalu ke pangkalan militer AS di Irak mengatakan, Washington berada dalam fase sangat berbahaya di hadapan Tehran. Dan harus sangat hati-hati menyikapi Iran.

Saat menjawab pertanyaan anggota Republik, Don Bacon terkait sampai kapan AS akan menunjukkan kelemahan dihadapan Iran, Mark Milley menyatakan, bola saat ini berada di wilayah Iran dan metode balasan AS tergantung pada langkah Iran.

Pangkalan udara Balad yang menjadi pusat penempatan pasukan AS dan sekutunya Kamis (5/12) menjadi target serangan roket. Mengutip pejabat militer Irak, dua roket Katyusya meledak di dalam pangkalan ini.

Petinggi Deplu Amerika mengklaim, Iran berpotensi terlibat dalam sernagan ke pangkalan udara Balad di Irak.

Serangan ini tidak menimbulkan korban jiwa atau kerugian lainnya, dan sampai saat ini tidaka da kelompok yang mengaku bertanggung jawab.

Dua hari sebelum serangan ke pangkalan udara Balad, pangkalan udara Ain al-Asad, lokasi pasukan AS di Provinsi al-Anbar pada Selasa (3/12) menjadi terget serangan. Lima roket menyerang pangkalan ini yang menurut petinggi Irak tidak menimbulkan korban dan kerusakan.

Selasa, 03 Desember 2019 19:40

Surat al-Zumar ayat 71-75

 

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آَيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ (71) قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ (72)

Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab, “Benar (telah datang).” Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. (39: 71)

Dikatakan (kepada mereka), “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.” Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri. (39: 72)

Sebelumnya telah disebutkan bagaimana di Hari Kiamat diselenggarakan pengadilan ilahi dengan menghadirkan para saksi dan laporan perbautan setiap manusia. Di pengadilan ini dilakukan dengan benar dan adil, sehingga nasib setiap orang jelas, apakah ia termasuk ahli surga atau neraka.

Dua ayat ini mengatakan, “Setelah keluar putusan bagi mereka yang masuk neraka, mereka diseret berkelompok menuju neraka. Karena mereka tidak mau berjalan menuju neraka dengan kakinya sendiri.” Sesuai dengan ungkapan al-Quran, para malaikat yang bertugas di neraka menyeret mereka ke depan pintu neraka dan ketika itu pintu-pintu neraka terbuka.

Para penjaga neraka menyalahkan mereka akibat pilihan yang tidak benar selama di dunia. Apakah para nabi tidak datang dan membacakan firman Allah kepada kalian? Bukankah mereka sudah memberikan peringatan berulang kali akan pertemuan hari ini? Mengapa kalian mendustakan ucapan para nabi dan melupakan peringatan mereka? Kalian beranggapan dengan mendustakan atau melupakan kiamat, kalian bebas melakukan apa saja? Mengapa kalian mengalami nasib yang demikian hari ini?

Jelas, pada saat ini ahli neraka hanya bisa mengakui kesalahannya dalam memilih jalan dan kini perintah Allah telah keluar untuk mengazab mereka. Perintah yang tidak dapat ditarik kembali.

Dialog ini berakhir menjelang penduduk neraka akan memasuki neraka Jahannam. Kepada mereka dikatakan bahwa masuklah dengan melewati pintu-pintu neraka dan kalian akan abadi di sana. Sungguh tempat yang buruk, tempat orang yang sombong.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Mereka yang sombong selama di dunia dan mendustakan ucapan para nabi, maka di Hari Kiamat akan terhina. Sebagai contoh bagaimana para malaikat menyeret mereka menuju neraka.

2. Sebelum menyempurnakan hujjah, tidak seorangpun memasuki neraka. Di Hari Kiamat, pendosa akan mengakui kejahatannya dan menerima bahwa ia mendegar kebenaran, tapi ia tidak mau menerimanya.

3. Manusia akan diazab karena kekufurannya dan sumbernya adalah kesombongan dihadapan kebenaran.

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ (73) وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (74)

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.” (39: 73)

Dan mereka mengucapkan, “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki; maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.” (39: 74)

Sebaliknya dengan orang-orang kafir dan sombong yang akan abadi di neraka, orang-orang mukmin juga akan abadi di surga. Sekalipun manusia yang baik, seperti manusia lainnya, tidak hidup lama di dunia, namun dengan usia yang pendek itu menunjukkan bila mereka hidup ribuan tahun lagi, mereka tetap berserah diri dihadapan perintah Allah. Kekhususan ini telah berakar dalam dirinya dan telah menjadi sesuatu yang tidak akan berubah.

Dari tiga ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Iman saja tidak cukup. Untuk mencapai surga memerlukan takwa.

2. Ahli surga ketika hendak memasuki surga memuji dan mensyukuri Allah. Karena mencapai nikmat apa saja harus dibarengi syukur, apalagi nikmat besar surga yang diberikan Allah kepada mereka.

وَتَرَى الْمَلَائِكَةَ حَافِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَقِيلَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (75)

Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-mmlaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan, “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (39: 75)

Ayat ini merupakan ayat terakhir dari surat al-Zumar dan berbicara kepada Nabi Muhammad Saw. Ayat ini mengatakan, “Hari itu engkau akanmelihat para malaikat yang mengelilingi ‘Arsy untuk melaksanakan perintah Allah terkait para hamba-Nya. Pada hari itu, semua manusia diadili sesuai dengan kebenaran dan keadilan disertai pujian dan syukur kepada Allah yang diucapkan oleh para malaikat dan mereka yang masuk surga.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Malaikat penjaga surga dan neraka bertugas melaksanakan perintah Allah dan tidak melakukan pekerjaan yang lain.

2. Pujian dan tasbih ilahi selalu bersama-sama. Pujian dan syukur hanya layak Zat yang mencipta dan mengelola dunia, tidak ada kekurangan dalam pekerjaannya.

Selasa, 03 Desember 2019 19:39

Surat al-Zumar ayat 64-70

 

قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ (64) وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (66)

Katakanlah, “Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?” (39: 64)

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (39: 65)

Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur. (39: 66)

Sebelumnya telah dijelaskan tentang Tauhid dan Syirik. Tiga ayat ini melanjutkan pembahasan ini, “Musyrikin dan penyembah berhala berusaha mencari berbagai alasan agar Nabi Muhammad Saw menerima dan menghormati sesembahan mereka bahkan juga menyembahnya. Mereka mengatakan, ‘Kami siap melaksanakan shalat kepada Tuhanmu dan sujud kepada-Nya dengan syarat engkau juga bersujud dihadapan sesembahan kami.”

Allah dalam ayat-ayat ini dengan keras berfirman, “Ucapan seperti ini dan permintaan yang tidak pada tempatnya berasal dari kebodohan mereka. Karena bagaimana bisa nabi yang diutus untuk mengajak mereka untuk menyembah Allah yang Esa dan menjauhi kesyirikan justru harus mengikuti keinginan mereka dihadapan sesembahannya.”

Kelanjutannya Allah berfirman, “Wahai Nabi! Katakan kepada mereka bahwa saya hanya menyembah Allah yang Esa dan tidak akan mengagungkan sesembahan kalian. Karena Tauhid dan Syirik bukan masalah yang dapat dinegosiasikan. Barangsiapa yang condong pada kesyirikan, maka perbuatan baiknya menjadi batal. Karena bila orang tersebut adalah Nabi Allah, maka sudah pasti siksaannya akan lebih sulit dan berat. Karena menyebabkan orang lain tersesat.”

Tidak diragukan lagi bahwa diterimanya amal perbuatatn adalah meyakini prinsip Tauhid dan tanpa Tauhid tidak ada perbuatan yang akan diterima. Akibat syirik semua perbuatan baik manusia akan musnah. Karena syirik seperti api yang membakar dan ia membakar semua perbuatan manusia.

Dari tiga ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Menyembah selain Allah tanda kebodohan manusia, sekalipun secara lahiriah ia berilmu.

2. Tauhid adalah garis merah orang beriman dan tidak menegosiasikannya dalam kondisi bagaimanapun.

3. Musuh berusaha menyesatkan nabi, apalagi orang biasa.

4. Ibadah kepada Allah termasuk mensyukuri nikmat Allah Maha Pengasih.

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (67)

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (39: 67)

Melanjutkan ayat-ayat sebelumnya, ayat ini mengatakan, “Musyrikin memberikan usulan tidak tepat kepada Nabi Allah dan memintanya untuk menghormati sesembahan mereka itu artinya mereka tidak mengetahui posisi Allah dan menurunkan posisi Allah, sehingga setara arca dan sesembahan.”

Intinya, sumber kesyirikan adalah tidak memiliki pengetahuan yang benar akan Allah yang menciptakan semua alam dan mengelola semuanya, bahkan untuk tetap ada, semua makhluk membutuhkan-Nya.

Di Hari Kiamat, semuanya berada di tangan Allah adalah ungkapan untuk menunjukkan kekuatan, keagungan dan kekuasaan mutlak Allah atas seluruh alam agar semua mengetahui bahwa di Hari Kiamat hanya Allah yang memiliki kekuasaan dan wewenang, sementara keselamatan berada di telapak kekuasaan-Nya.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Syirik tanda tidak mengenal Allah dan tidak memperhatikan ilmu dan kekuasaan-Nya.

2. Langit dengan segala keagungannya adalah kecil dan tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuasaan Allah dan penciptanya, seakan-akan berada di tangan Allah.

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ (68) وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ (69) وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَا يَفْعَلُونَ (70)

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). (39: 68)

Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. (39: 69)

Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan. (39: 70)

Setelah menyebutkan kekuasaan Allah di Hari Kiamat di ayat-ayat sebelumnya, tiga ayat ini menyinggung akhir dunia dan dimulainya Hari Kiamat. Ayat-ayat ini mengatakan, “Dengan tiupan sangkakala, semua yang hidup akan mati dan setelah beberapa waktu dengan tiupan yang lain semua kembali hidup dan bangkit sembari menanti perhitungan amal.”

Dengan kata lain, dengan satu perintah dan kehendak Allah, tidak ada sesuatu di bumi dan langit yang hidup dan semua mati. Sebagaimana dengan satu kehendak yang lain, semua yang mati kembali hidup dan hadir dalam pengadilan Hari Kiamat. Tentu saja terserah Allah ketika berkehendak untuk mengecualikan sesuatu dari kematian, sebagaimana sebagian malaikat seperti Jibril, Israfil dan Mikail tetap hidup.

Pada waktu itu, semua manusia kembali dihidupkan, dunia terang kembali dengan cahaya Allah dan cahaya hakikat sedemikian kuat, sehingga tidak ada yang bisa mengingkari. Tabir kebenaran disisihkan dan hakikat perbuatan manusia semua terungkap; baik maupun buruk, sehingga tidak ada yang menutupi mata manusia. Lewat cahaya ilahi ini semua menjadi transparan dan terang benderang.

Pada hari itu, buku amal diletakkan dan diperiksa. Semua laporan tentang perbuatan manusia baik yang kecil dan besar tertulis semua di sana. Para nabi dan saksi semua hadir di hari itu dan menjadi juri bagi manusia. Tidak ada yang terzalimi, karena semuanya transparan.

Jelas, dalam pengadilan ini yang menjadi hakim adalah Allah swt, bumi terang benderang dengan cahaya keadilan Allah dan para nabi dan saksi hadir dengan keadilan dan pengadilan ini hanya berlangsung dengan keadilan. Pengadilan yang seperti ini tidak mungkin ada kezaliman, karena semua menyaksikan apa yang dilakukannya selama ini tanpa ada yang dilebihkan atau dikurangi.

Dari tiga ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Hidup dan matinya makhluk termasuk manusia sesuai kehendak Allah.

2. Akhir dunia dan tibanya Hari Kiamat terjadi secara tiba-tiba, bukan bertahap.

3. Pengadilan Hari Kiamat dengan menghadirkan catatan amal dan saksi. Di sana, amal perbuatan manusia akan diadili berdasarkan keadilan.

4. Di dunia ini, sebagian saksi akan mengawasi perbuatan kita. Perbuatan kita juga dicatat oleh para malaikat, begitu juga para nabi dan saksi khusus juga mengetahui perbuatan kita.

Selasa, 03 Desember 2019 19:38

Surat al-Zumar ayat 59-63

 

بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آَيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ (59) وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِينَ (60)

(Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir. (39: 59)

Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri? (39: 60)

Sebelumnya telah disampaikan tentang mereka yang ketika menyaksikan api neraka, baru menyadari umurnya selama ini telah dilewati dengan sia-sia. Mereka berharap dapat kembali lagi ke dunia untuk memperbaiki jalannya dan menutupi dosa-dosanya dengan perbuatan baik.

Dua ayat ini mengatakan, “Tidak demikian bahwa Allah telah melanggar hak kalian dan tidak mengirimkan semua sebab untuk kalian mendapat hidayah. Selama di dunia, para habi dan kitab-kitab samawi ada untuk menghidayahi kalian. Bila kalian menggunakan akal, maka dengan mudah kalian dapat memahami kebenarannya dan memanfaatkan tuntunannya. Tapi sikap sombong menyebabkan kalian mengingkari kebenaran dan tidak mau menerima ajakan para nabi. Akhirnya, kalian mendapat azab api neraka. Balasan yang membuat wajah kalian buruk dan hitam serta membuat penduduk neraka lainnya tersiksa.”

Tidak diragukan lagi bahwa wajah orang kafir dan pengingkar kebenaran di Hari Kiamat berwarna hitam gambaran akan keterhinaan dan terbongkar wajah aslinya. Hari Kiamat sejatinya tempat personifikasi perbuatan dan pikiran manusia serta ditampakkan semua rahasia mereka. Orang-orang yang selama di dunia memiliki hati yang kelam dan hitam dan perbuatan mereka juga sama dengan pikirannya kelam, maka di Hari Kiamat wajah batin mereka akan ditampakkan, sehingga wajah mereka akan terlihat hitam.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Allah tidak akan mengazab hamba-Nya tanpa menyempurnakan hujjah-Nya lewat akal dan wahyu.

2. Sumber hakiki akan kekufuran dan pengingkaran akan kebenaran adalah kesombongan.

3. Di Hari Kiamat, bentuk lahiriah dan batin manusia akan menjadi satu dan wajah akan sama dengan warna hati. Mereka yang memiliki hati kelam dan hitam, maka wajahnya juga berwarna hitam.

وَيُنَجِّي اللَّهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (61)

Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita. (39: 61)

Tentang kelompok sebelumnya yang wajahnya menjadi hitam dan dibawa ke neraka karena kesombongannya, ayat ini menyebut jalan untuk menyelamatkan manusia dari azab Allah di Hari Kiamat adalah takwa. Ayat ini mengatakan, “Allah menyelamatkan orang bertakwa dan mengantarkan mereka kepada kebahagiaan dan keberuntungan.”

Kebahagiaan adalah kelezatan berkelanjutan dan abadi. Sekalipun memakan makanan yang enak dan minuman yang segar memberikan kelezatan bagi manusia, tapi bukan tanda kebahagiaan manusia. Karena kelezatan yang seperti ini tidak berkelanjutan dan setelah beberapa waktu akan musnah. Tapi kelezatan seperti mencari ilmu dan pengetahuan dapat menjadi modal bagi kebahagiaan manusia. Karena kenikmatan mengungkap hakikat dan memahami pengetahuan merupakan kelezatan yang berkelanjutan dan abadi.

Sekalipun kebaikan duniawi juga berlanjut selama beberapa waktu, tapi karena umur yang pendek bagi penduduk dunia membuatnya tidak berarti bila dibandingkan dengan kelezatan dan kenikmatan ukhrawi. Dengan demikian, kebahagiaan hakiki bergatung pada hal-hal yang dapat mengantarkan manusia pada kebaikan berkelanjutan dan abadi di akhirat. Itu dapat membebaskan manusia dari segala kesedihan dan tidak ada bahaya yang dapat mengancamnya.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Dalam kehidupan dunia, takwa faktor kebahagiaan dan keberuntungan manusia di akhirat.

2. Takwa adalah perisai yang melindungi manusia dari keburukan. Di akhirat, orang bertakwa dijauhkan dari keburukan dan tidak akan sedih, apalagi menyesal.

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ (62) لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (63)

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (39: 62)

Kepunyaan-Nya-lah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi. (39: 63)

Surat al-Zumar fokus membahas tentang Tauhid dan Syirik. Karenanya, dua ayat ini kembali membahas masalah Tauhid dan menyinggung hakikat ini bahwa pengelolaan urusan dunia dan menjaganya ada di tangan Zat yang menciptakannya. Tidak seperti yang kalian anggap bahwa Allah menciptakan dunia dan kemudian membiarkannya begitu saja atau menyerahkan pengelolaannya kepada yang lain.

Ayat-ayat ini sesungguhnya merupakan sentilan akan pandangan orang-orang Musyrik dan penyembah berhal bahwa kebanyakan dari mereka menerima Allah sebagai pencipta manusia dan dunia, tapi menganggap apa yang mereka sembah itu mempengaruhi kehidupan mereka. Seakan-akan mereka ingin mengatakan bahwa pengolaan urusan dunia ada di tangan sesembahan mereka dan itu menjadi pelindung dan pengelola pekerjaan mereka.

Dari sudut pandang al-Quran, mereka yang menyekutukan Allah dan menganggap sekutu itu dapat mempengaruhi kehidupannya sejatinya sangat merugi. Karena mereka berpaling dari  Allah pemilik segala sesuatu dan kunci langit dan bumi berada di tangan-Nya, lalu mencari sesuatu yang lemah dan tidak bisa menguntungkan atau merugikan mereka. Sesembahan itu tidak dapat melakukan apa-apa, karenanya tidak dapat merugikan manusia sedikitpun.

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Semua di alam ini membutuhkan Allah baik dalam penciptaan atau untuk tetap ada. Dengan kata lain, Allah pencipta dunia sekaligus penjaga dan pengelolanya. Karenanya, jangan membedakan antara Allah sebagai pencipta dan pengelola. Itu termasuk syirik.

2. Tauhid merupakan pandangan yang menjadi dasar dan dimensi kehidupan manusia. Jangan membatasinya dalam satu dimensi atau beberapa saja.