کمالوندی
Kehidupan Qur’ani Imam Musa al-Kazhim
Pada suatu hari, Imam Musa al-Kazhim as melintasi gang tempat kediaman Bishr bin Harits al-Hafi. Saat itu seorang pembantu wanita keluar dari rumah tersebut untuk membuang sampah dari sisa acara pesta.
Imam Kazhim kemudian bertanya kepada pembantu itu, "Apakah pemilik rumah ini orang bebas (merdeka) atau budak?" Dia menjawab, "Tentu saja dia orang bebas!" Imam lalu berkata, "Engkau benar, karena jika dia adalah seorang hamba, dia akan takut kepada Tuannya dan beramal sesuai tuntutan penghambaan."
Pembantu itu kembali ke rumah ketika Bishr sedang di meja anggur. Bishr bertanya mengapa ia tidak segera balik ke rumah setelah membuang sampah. Pembantu itu kemudian bercerita kepada Bishr tentang apa yang dikatakan Imam Kazhim as, "Bagaimana Bishr bisa menjadi hamba, sementara ia tidak patuh kepada Tuannya yaitu Allah (Maha Perkasa dan Maha Tinggi)."
Bishr terguncang dengan kata-kata itu. Dia bergegas keluar rumah untuk mengejar Imam Musa al-Kazhim sampai lupa memakai sandal. Dia berkata, "Wahai tuanku! Ulangilah padaku apa yang kau katakan kepada perempuan ini."
Imam Kazhim as kemudian mengulangi ucapannya. Seketika secercah cahaya bersinar dalam hati Bishr dan ia menyesali perilakunya. Dia mencium tangan Imam dan mengusapkan tanah pada pipinya. Diiringi isak tangis ia berkata, “Iya, aku adalah hamba... iya aku adalah hamba.”
Sejak saat itu, Bishr tidak memakai sandal lagi selama sisa hidupnya karena dia ingin mengingat keadaan yang ia alami ketika memutuskan untuk bertaubat. Dia kemudian dikenal sebagai al-Hafi yang berarti Bertelanjang Kaki.
Bishr bin Harits al-Hafi adalah salah satu contoh dari sosok yang memperoleh cahaya hidayah di tangan Imam Musa as dan mengubah jalan hidupnya ke arah yang diridhai Allah Swt.
Imam Musa al-Kazhim lahir pada bulan Dzulhijjah 127 Hijriyah di sebuah desa bernama Abwa di pinggiran kota Madinah. Ia adalah putra Imam Jakfar as-Shadiq as dan ibunya bernama Hamidah. Ketika putranya itu lahir, Imam Shadiq berkata, "Allah telah menganugerahkan kepadaku manusia terbaik."
Mengamalkan al-Quran di seluruh hidupnya merupakan salah satu dari kriteria orang-orang shaleh, terutama para imam maksum. Imam Musa bin Jakfar as juga menularkan nilai-nilai al-Quran kepada kaum Muslim dan mengajak mereka untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan. Kehadiran al-Quran harus benar-benar terasa dalam kehidupan kita, karena ia adalah kitab pedoman kehidupan manusia.
Imam Kazhim as di masa kepemimpinannya selama 35 tahun, memainkan peran besar dalam menghidupkan makrifat al-Quran. Ia menaruh perhatian besar pada wahyu Ilahi ini dan tidak hanya mengajak masyarakat untuk membaca dan mengamalkan ayat-ayatnya, tetapi ia sendiri menjadi teladan dalam mempraktekkan ajaran al-Quran.
Sheikh Mufid dalam bukunya, al-Irshad menulis, "Imam Kazhim as adalah orang yang paling mengenal al-Quran di zamannya. Ia adalah pelindungnya dan penyebar ajarannya kepada orang-orang. Ia orang yang paling mengenal al-Quran dari segi nada bacaan dan suara. Setiap kali membaca al-Quran, para pendengarnya sangat tersentuh dan menangis."
Imam Kazhim tidak hanya memperhatikan kedudukan al-Quran dan dimensi personalnya, tetapi salah satu aktivitas utamanya adalah menafsirkan ayat-ayat al-Quran. Imam melalui berbagai metode berusaha menambah derajat makrifat dan pemahaman masyarakat Muslim.
Imam juga menafsirkan ayat-ayat yang berhubungan dengan kedudukan khusus Ahlul Bait Nabi as. Ia mendorong para pengikutnya dan masyarakat agar selalu berinteraksi dengan al-Quran dan meningkatkan kedekatan dengannya.
Ia menjelaskan tentang al-Quran, rahasia-rahasianya, dan makrifat yang dikandungnya. Ia juga mengutip riwayat dari para imam sebelumnya tentang keagungan al-Quran.
Hussein ibn Ahmad al-Minqari berkata, "Aku mendengar dari Imam Musa ibn Jakfar as yang berkata, 'barang siapa yang merasa cukup dengan satu ayat al-Quran dan menganggap itu cukup untuk menjaga dirinya, maka satu ayat itu sudah cukup baginya dari Timur sampai Barat dengan syarat ia beriman dan yakin kepadanya."
Imam Kazhim mengajarkan pelajaran penting tentang kandungan al-Quran kepada salah satu muridnya, Hisham ibn Hakam di mana sebagian dari pelajaran itu dimuat dalam kitab Tuhaf al-Uqul. Ia mengajarkan muridnya itu mengenai teologi dan kedudukan akal dengan menggunakan 20 ayat dari al-Quran.
Imam Kazhim berkata kepada Hisham, “Sesungguhnya Allah Swt memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang menggunakan akalnya dalam kitabnya dan berfirman, ‘… sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.’” (QS: Az-Zumar, ayat 17-18)
Jelas bahwa keteguhan dan sikap konsisten di jalan kebenaran memerlukan sebuah pijakan yang kuat. Berdasarkan ajaran al-Quran, sandaran terbaik para pencari kebenaran adalah Allah Swt. Dia meminta manusia untuk meminta pertolongan dengan sabar dan shalat.
Makam Imam Musa al-Kazhim as dan Makam Imam Muhammad al-Jawad as di kota Kazhimain, Irak.
Dengan pedoman al-Quran, Imam Kazhim as bangkit melawan pemikiran-pemikiran menyimpang dan batil di tengah masyarakat, dan ia tidak pernah merasa takut terhadap orang-orang yang zalim. Ia menghabiskan malamnya dengan bertaubat dan beristighfar serta bersimpuh untuk waktu yang lama di hadapan Tuhan.
Suatu hari Harun al-Rasyid bertanya kepada Imam Kazhim, “Wahai putra Rasulullah, kami telah menghabiskan banyak uang, mengeluarkan tenaga, dan melakukan propaganda, tetapi masyarakat tetap mencintai dirimu yang merupakan anak-cucu Rasulullah. Semakin kami meningkatkan propaganda, hasil yang kami peroleh justru sebaliknya dan masyarakat tidak menyukai kami Bani Abbas.”
Imam menjawab, “Apakah engkau tahu penyebabnya? Perbedaan engkau dan aku adalah bahwa aku memerintah atas hati masyarakat (merebut hati masyarakat), tetapi engkau dan orang-orang sepertimu merampas kekuasaan dengan zalim dan memerintah atas raga mereka, sementara kami para auliya Allah memerintah atas hati masyarakat. Allah membalikkan semua pikiran orang ke arah kami dan inilah perbedaan antara aku dan engkau.”
Imam Kazhim memiliki hubungan yang sangat erat dengan al-Quran di sepanjang hidupnya. Dia terus menyebarluaskan ajaran al-Quran seperti yang biasa dilakukan ayahnya, Imam Jakfar al-Shadiq, melalui sekolah-sekolah Islam yang dibuka di Madinah sejak masa Imam Muhammad al-Baqir as.
Imam Kazhim dikenal sebagai ‘Abdu al-Saleh’ karena kezuhudan yang besar dan ibadah yang banyak, ia disebut Kazhim karena mampu meredam amarah dan memiliki kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi cobaan. Di malam hari, ia mendatangi gang-gang di Madinah untuk membagikan makanan kepada fakir-miskin. Di ruang shalat Imam Kazhim hanya terdapat sepotong baju dari kain yang kasar, al-Quran, dan pedang.
Karakteristik utama Imam Musa al-Kazhim as adalah menyebarkan kebenaran dan memerangi kebatilan. Menuntut kebenaran dan memerangi kezaliman telah menjadi sebuah tujuan luhur dalam kehidupan pribadi dan sosialnya. Ia membela kebenaran dan nilai-nilai kemanusiaan dengan menanggung banyak kesulitan, termasuk dipenjara dalam waktu yang lama.
Keagungan Ahlul Bait Dalam Mubahalah
Ada banyak momen penting yang terjadi dalam kalender Islam selama bulan Dzulhijjah dan salah satunya adalah peristiwa mubahalah yang jatuh pada tanggal 24 Dzulhijjah.
Mubahalah adalah saling melaknat atau saling mendoakan agar laknat Allah Swt ditimpakan kepada kaum zalim dan berdusta tentang kebenaran. Ketika orang-orang terlibat dalam sebuah dialog penting dan gagal mencapai sebuah kesimpulan, maka sebagai jalan terakhir adalah mereka sepakat berkumpul di suatu tempat dan kemudian berdoa kepada Allah agar ditimpakan azab kepada para pendusta.
Para pemeluk agama lain dan pemimpin politik dan tokoh aliran kepercayaan menaruh perhatian khusus kepada Islam dan kaum Muslim pasca penaklukan kota Mekkah pada tahun kedelapan Hijriah dan setelah Islam menyebar luas di Jazirah Arab. Mereka juga mulai memfokuskan perhatiannya ke kota Madinah sebagai pusat pemerintahan Islam.
Penaklukan Mekkah membuka ruang untuk penyebaran agama Islam ke berbagai penjuru wilayah Hijaz dan bahkan ke negara-negara lain. Rasulullah Saw memanfaatkan kesempatan itu dengan baik dan melayangkan beberapa pucuk surat serta mengutus para wakilnya untuk menemui pemimpin negara-negara lain.
Rasulullah Saw menyeru mereka untuk memeluk Islam atau secara resmi mengakui pemerintahan Islam dan mematuhi aturan-aturannya. Banyak tokoh tertarik untuk berangkat ke Madinah guna melihat dari dekat pusat pemerintahan Islam dan bertemu dengan pemimpin kaum Muslim.
Sejak tahun kesembilan Hijriah, para delegasi dan suku-suku Arab dari berbagai daerah berbondong-bondong datang ke Madinah untuk menemui Rasulullah Saw. Delegasi kaum Nasrani Najran juga bertolak ke Madinah setelah menerima sepucuk surat dari Nabi Muhammad Saw. Uskup Agung Najran kemudian membentuk sebuah dewan untuk membicarakan perkara tersebut.
Dalam pertemuan itu, salah satu pembesar Nasrani yang terkenal pintar dan bijak berkata,“Kita berkali-kali mendengar dari para ulama kita bahwa suatu hari posisi kenabian akan berpindah dari garis keturunan Ishak kepada anak-anak Ismail dan ada kemungkinan kalau Muhammad adalah salah satu dari keturunan Ismail, yaitu nabi yang dijanjikan.”
Setelah berdiskusi panjang lebar, Dewan Ulama Nasrani kemudian memutuskan untuk mengirim sebuah delegasi ke Madinah guna berdiskusi dari dekat dengan Muhammad Saw dan menyelidiki argumen-argumen kenabian akhir zaman.
Masjid Mubahalah atau disebut Masjid Ijabah di Madinah.
Nasrani Najran memiliki dua pertanyaan penting dari Rasulullah. Pertama, Muhammad akan mengajak mereka untuk memeluk ajaran apa? Dan kedua, bagaimana pendapat Muhammad tentang Isa al-Masih? Menjawab pertanyaan pertama, Rasulullah Saw menyeru mereka untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan mengenai pertanyaan kedua, beliau berkata, “Isa adalah hamba yang terpilih dan beriman kepada Allah. Ia adalah seorang manusia dan tidak boleh dianggap sebagai anak Tuhan.” Akan tetapi, delegasi Nasrani tetap mempertahankan konsep Trinitas dan menyebut Isa al-Masih sebagai anak Tuhan. Menurut mereka, Isa adalah anak Tuhan karena ia lahir tanpa perantaraan seorang ayah.
Ulama Nasrani kemudian bertanya kepada Rasulullah Saw, “Jika Isa adalah hamba dan makhluk Tuhan, lalu siapa ayahnya? Manusia adalah makhluk dan ia wajib punya ayah.” Pada saat itu, turunlah Malaikat Jibril as untuk menyampaikan ayat 59 surat Ali Imran kepada Rasul. “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, Jadilah (seorang manusia), maka jadilah dia."
Rasul Saw lalu menjelaskan isi ayat tersebut kepada para pembesar Nasrani. Tetapi, mereka tidak peduli dengan ucapan Nabi Saw dan tetap berpegang pada keyakinannya. Mereka menyatakan tidak puas dengan penjelasan Nabi dan mengaku belum menemukan jawaban atas pertanyaannya.
Setelah itu, turun lagi dua ayat sebagai lanjutan dari ayat sebelumnya kepada Rasulullah Saw. "… Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya), ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta."
Istilah mubahalah sudah dikenal luas oleh masyarakat Arab dan para penganut agama langit sebagai sarana untuk membuktikan kebenaran. Rasulullah Saw menyampaikan perkara ini kepada delegasi Nasrani dan mereka menerima tantangan mubahalah.
Pada hari berikutnya, Rasulullah Saw datang ke rumah Ali bin Abi Thalib. Rasul memegang tangan Sayidina Hasan sambil memangku Husein dan berjalan ke luar kota bersama Ali dan Fatimah as. Ketika menyaksikan mereka, salah satu tokoh Nasrani, Abu Haritsah bertanya kepada kaumnya, “Siapa mereka yang bersama Nabi Saw?” Kaumnya menjawab, "Yang di depan itu anak paman dan suami putrinya serta orang yang paling dicintai olehnya. Dua anak itu adalah putra-putranya dari putrinya dan wanita itu adalah Fatimah, putrinya yang paling dicintai."
Rasul Saw duduk di atas dua tumitnya ketika memasuki arena mubahalah. Abu Haritsah berkata, "Demi Tuhan, ia duduk sebagaimana para nabi duduk untuk bermubahalah." Kemudian ia kembali berkata, "Jika Muhammad tidak dalam kebenaran, dia tak akan berani bermubahalah, dan jika ia bermubahalah dengan kita, kurang dari satu tahun, tidak akan ada lagi seorang Nasrani pun yang tersisa di bumi ini.”
Menurut riwayat lain, Abu Haritsah berkata, "Aku menyaksikan wajah-wajah yang jika mereka memohon kepada Tuhan untuk mengangkat sebuah gunung dari tempatnya, maka gunung tersebut akan terangkat. Jadi janganlah bermubahalah. Jika kalian lakukan itu, kalian akan binasa dan tidak ada seorang Nasrani pun yang tersisa di bumi ini."
Setelah delegasi Nasrani membatalkan mubahalah, Rasul Saw bersabda kepada mereka, "Bila kalian bersedia melakukan mubahalah denganku dan Ahlul Bait-ku, maka wajah kalian akan diubah menjadi kera dan babi. Lembah ini kemudian akan menjadi api yang membakar kalian. Setelah itu, tidak lebih dari setahun seluruh pengikut Nasrani akan lenyap dari muka bumi."
Pada dasarnya, peristiwa mubahalah bukan hanya menunjukkan kebenaran dakwah Nabi Muhammad Saw, tapi juga menjelaskan keutamaan khusus orang-orang yang bersama beliau di hadapan semua sahabat dan keluarga besarnya. Peristiwa ini juga menjelaskan kebenaran dan keagungan Ahlul Bait as.
Setelah kejadian itu, Abu Haritsah menemui Rasulullah Saw dan kemudian mengucapkan syahadat dan memeluk Islam. Sementara bagi kaum Nasrani yang tetap berpegang pada agamanya, mereka harus membayar jizyah (pajak) dan menandatangani sebuah perjanjian sesuai dengan ketentuan Islam. Nabi Saw lalu memanggil Ali as dan berkata, "Sampaikan kepada mereka syarat-syarat Ahli Dzimmah dan jumlah yang harus mereka bayar."
Para ahli tafsir dan hadis Syiah dan Sunni menyatakan bahwa ayat mubahalah juga bukti atas kebenaran Ahlul Bait Nabi as. Ketika mendatangi arena mubahalah, Rasul Saw hanya membawa putrinya Fatimah az-Zahra as, kedua cucunya Sayidina Hasan dan Husein as, serta menantunya Sayidina Ali as. Oleh karena itu, maksud kata "Abnaana" dalam ayat mubahalah hanya terbatas pada Hasan dan Husein as, sementara "Nisaana" hanya tertuju pada Fatimah as, dan kata "Anfusana" hanya terfokus pada Ali.
Singkat kata, peristiwa mubahalah telah memperjelas kebenaran Islam dan keagungan Ahlul Bait as kepada semua orang, terutama kaum Nasrani.
Dalam buku doa Mafatih al-Jinan, ada sejumlah amalan khusus yang dilakukan tepat di hari ini antara lain; Mandi, amalan ini menunjukkan usaha untuk membersihkan badan lahiriah dari kotoran dan menandakan kesiapan jiwa untuk berhias dengan doa-doa yang akan dibaca. Berpuasa, amalan ini membuat batin manusia menjadi lebih segar. Dan membaca doa khusus hari Mubahalah yang disebut doa Mubahalah yang agak mirip dengan doa Sahar di bulan Ramadhan.
Informasi Intelijen: Mossad Dalangi Kerusuhan Irak
Surat kabar Lebanon mengutip sumber yang dekat dengan perdana menteri Irak mengabarkan, berdasarkan informasi keamanan akurat yang dikumpulkan dalam beberapa hari terakhir, dinas intelijen rezim Zionis Israel dan kedutaan besar Amerika Serikat di Baghdad, menyelewengkan demonstrasi damai rakyat di Irak.
Fars News (8/10/2019) melaporkan, kini situasi di ibukota Irak relatif aman setelah dalam beberapa terakhir dilanda demonstrasi berdarah.
Surat kabar Lebanon, Al Akhbar, Selasa (8/10) memberitakan, kontak telepon di antara perwakilan demonstran di satu sisi, dan pemerintah serta partai politik di sisi lain, berhasil meredakan aksi unjuk rasa berdarah di Baghad menjelang peringatan Arbain Imam Hussein as yang semakin dekat.
Menurut Al Akhbar, sumber yang dekat dengan PM Irak mengatakan, berdasarkan informasi intelijen yang dikumpulkan beberapa hari terakhir, dinas intelijen Israel, Mossad bersama sejumlah orang yang disewa Kedubes Amerika, menunggangi demonstrasi warga Irak dan mengubah aksi damai menjadi kerusuhan.
Dubes Inggris: Kerusuhan Irak Bukan Konspirasi Asing
Duta besar Inggris untuk Irak mengabaikan kemungkinan keterlibatan pihak asing dalam demonstrasi yang berujung kerusuhan di Irak baru-baru ini dan menuturkan, dalam menganalisa peristiwa ini pandangan bahwa kerusuhan adalah hasil konspirasi asing, harus dikesampingkan.
Fars News (8/10/2019) melaporkan, John Wilks di laman Twitternya terkait kerusuhan Irak menulis, pendapat bahwa demonstrasi ini adalah konspirasi, tidak diperlukan.
Berbeda dengan Wilks, Penasihat Keamanan Nasional Irak, Falih Al Fayyadh, Senin (7/10) mengatakan bahwa upaya musuh untuk mengacaukan Irak, gagal. Menurutnya, kami katakan kepada musuh dan para aktor di balik konspirasi ini, upaya mereka akan gagal, tidak ada tempat untuk kudeta di Irak.
Dubes Inggris untuk Irak menutup mata atas keterlibatan pihak asing dalam kerusuhan Irak dan menuturkan, demonstran sudah ada sejak lama di Irak, selain itu tuntutan mereka juga konstitusional.
Ia kemudian mengeluarkan statemen provokatif dan mengatakan, Irak harus mendukung rakyatnya menghadapi pasukan keamanan nasional.
IRGC: Kami Adalah Satu dari 5 Negara Terkuat di Bidang Drone
Amir Ali Hajizadeh, Komandan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dalam sebuah jumpa pers pada Sabtu (21/9) mengklaim bahwa kekuatan pertahanan Iran khususnya di bidang pesawat tanpa awak dan rudal merupakan salah satu yang terkuat di dunia saat ini.
Ia mengingatkan kepada para musuh untuk berhati-hati dalam mengambil langkah. Pasalnya, bila mereka gegabah, Hajizadeh mengancam, Iran tanpa ragu akan memberikan balasan yang telak.
“Kami hari ini, setelah 40 tahun pasca kemenangan Revolusi Islam, yang mana telah mendapatkan pengakuan dari para musuh, telah melihat banyak kemajuan di berabagai aspek, khususnya di bidang pesawat tanpa awak,” buka Hajizadeh.
“Kami merupakan salah satu dari lima negara terkuat di bidang drone. Saat ini, kami telah mencapai pencapaian yang sempurna dalam pembuatan radar dan sistem pertahanan udara. Kami mampu menghadapi segala macam seragan pesawat-pesawat canggih musuh.
“Di bidang rudal, hari ini kami adalah yang terbaik di kawasan dan juga termasuk beberapa negara terkuat di dunia.
“Para musuh kami harus mengambil pelajaran dari apa yang telah mereka saksikan di masa lalu dan sejarah Iran. Dan mereka harus mengganti perilaku mereka saat berhadapan dengan Iran.
“Kami masih tetap berdiri menentang sebagaimana 40 tahun yang lalu. Bila musuh melakukan sedikit kesalahan, maka pasti kami akan memberikan jawaban yang telak untuk mereka,” tutup Komandan Dirgantara IRGC.
Rudal Hizbullah yang Superio
Tweet salah satu pendukung gerakan resistensi Lebanon, Hizbullah, mampu menarik perhatian sosok-sosok penting Zionis. Bahkan salah satu surat kabar rezim Zionis dalam laporannya menjabarkan keunggulan rudal Mukawamah Lebanon.
Salah satu akun twiter Hizbullah pada hari Minggu kemaren, 15/9, mengunggah foto rudal baru. Di bawahnya tertulis bahwa rudal ini mampu melenyapkan semua kapal perang lawan. Demikian The Jerusalem Post melaporkan.
“Rudal baru kami ini mampu menghanguskan semua kapal perang dan perlengkapan yang ditanam di dalamnya”, tulis salah satu pendukung Hizbullah.
Kapal perang INS Hanit.
Uzi Rubin, Engineer Israel yang dikenal sebagai bapak rudal rezim Zionis, mengungkapkan kekhawatirannya atas superioritas rudal resistensi Lebanon, Hizbullah, dan menjelaskan, “Dalam perang, diutamakan mempertahankan tempat-tempat strategis”.
Rubin mengingatkan perang 33 hari tahun 2006. “Waktu itu, Hizbullah menembakkan ratusan roket ke wilayah pendudukan Palestina setiap hari. Secara keseluruhan roket yang ditembakkan berjumlah sekitar 4000”, jelasnya.
Menurut Bapak rudal Israel, saat ini kemampuan roket Hizbullah sudah meningkat dan mereka mampu menembakkan 1000 atau 1500 roket per hari. “Jumlah yang gila”, lugasnya.
Dalam laporan, The Jerusalem Post menjelaskan bahwa di bulan Agustus Hizbullah menyebarkan video rudal anti-kapal perang yang berhasil menenggelamkan kapal INS Hanit milik AL Israel pada perang 2006. Serangan tersebut juga membunuh 4 tentara Israel.
Sumber-sumber di Beirut juga menjelaskan satu bagian dari operasi Mukawamah Lebanon, yaitu menghancurkan drone Zionis dalam taktik balasan terakhir kemaren.
Surat kabar Al Joumhouria, cetakan Lebanon, menukil sumber dekat dengan Hizbullah dan melaporkan, “Pokok arti dan pesan dari jatuhnya drone Israel adalah Hizbullah telah mengendalikan kaedah perang. Hizbullah yang menentukan perang untuk pertama kalinya”.
Surat kabar lintas kawasan, Raialyoum cetakan London, juga menanggapi pengakuan Israel tentang jatuhnya drone Zionis dan menjelaskan, “Ini adalah perhitungan baru yang berhasil diciptakan oleh pemimpin Hizbullah”.
Khawatir Hadapi Iran, Pentagon Mundur Alon-alon
Washington Post melansir sebuah makalah mengenai kebijakan Kementerian Pertahanan AS dengan tema; Pasca Serangan ke Kilang Minyak Saudi, Pentagon Tekankan Mawas Diri.
Washington Post membahas tiga masalah dalam makalahnya kali ini. Pertama membahas tuduhan tak relevan Mike Pompeo terhadap Iran mengenai serangan ke Aramco. Kedua menjelaskan strategi Trump mengenai serangan merugikan Yaman, dan ketiga Washington Post membahas kekhawatiran Kemenhan AS tentang konflik dengan Iran.
Jubir Militer serta Komite Kerakyatan Yaman, Yahya Saree’, pada hari sabtu menegaskan bahwa 10 unit drone telah menembak dua kilang minyak Aramco, Buqayq dan Khurais. Tetapi Menteri Luar Negeri AS menuduh Iran sebagai dalang tanpa bukti jelas.
Menukil sumber dari Kemenhan AS, Washington Post menjelaskan, “Petinggi Pentagon menyarankan semua pihak agar menahan diri dalam mereaksi serangan terakhir. Dan mereka mengingatkan perang penuh biaya dengan Iran”.
“Petinggi militer AS menegaskan agar mawas diri dalam melangkah. Mereka mundur untuk menurunkan tensi panas. Satu situasi, yang menurut analisa petinggi militer AS, akan berubah menjadi perang berdarah dengan Iran. Karena Pentagon berupaya menghindari perang di Timteng dan merubah arah ke perseteruan versus China”, tulis Washington Post.
Salah satu petinggi Pentagon, yang tidak ingin disebutkan namanya, kepada Washington Post menjelaskan bahwa tidak ada satupun pangkalan, maupun pasukan AS yang menjadi sasaran dalam serangan Yaman. “Dengan demikian, maka tidaklah layak bagi AS untuk bertindak. Jika pemerintahan Trump memutuskan langkah militer, mereka harus mencari dasar hukum kebijakan tersebut”, jelasnya.
Pejabat Kemenhan AS menambahkan, “Ketika konflik versus Iran di luar kendali, maka ini akan membahayakan paling sedikitnya 70 ribu tentara di bawah Centcom di Kawasan, dari Mesir hingga Pakistan”.
“Perundingan terus berjalan di AS, kemungkinan besar petinggi Pentagon akan mengambil langkah yang lebih hati-hati, seperti menambah pasukan AS di Timteng dan menambah kekuatan pertahanan AS”, tulis Washington Post melanjutkan.
James Stavridis, Jenderal purnawirawan bintang 4 AS, yakin bahwa Washington mencari pendukung untuk mengecam Iran di DK PBB.
Menurut mantan Komandan AS di NATO tersebut, pemerintahan Trump akan terus berupaya menekan Iran dengan boikot atau serangan rudal atau menyerang daerah-daerah energi Iran dengan diam-diam.
Selanjutnya Washington Post melaporkan suara kontra dan penolakan Kongres AS atas langkah militer versus Iran apapun bentuknya.
“Pemerintahan Trump terus menganalisa pilihan-pilihan yang ada di atas meja, namun mereka jangan melupakan suara Kongres. Karena sebagian Legislatif saat ini berupaya untuk memotong tangan militeris pemerintahan Trump”, tambah Washington Post.
Terakhir Washington Post menerangkan, meskipun para petinggi yakin bahwa tidak akan ada langkah militer, namun ada kemungkinan Gedung Putih memerintahkan Pentagon untuk menganalisa situasi serangan terakhir secara mendadak.
Kepolisian Prancis Tahan 106 Aktivis Rompi Kuning
Pihak kepolisian Prancis telah menangkap lebih dari 106 demonstran Rompi Kuning. Demonstrasi terjadi pada Sabtu, 21 September 2019, setelah sebelumnya pihak kepolisian menembakkan gas air mata kepada demonstran.
Otoritas Prancis menyebutkan 7.500 polisi telah dikerahkan di Paris untuk mengamankan demonstrasi Yellow Vest.
Demonstrasi Rompi Kuning terjadi yang bersamaan dengan digelarnya aksi unjuk rasa melawan perubahan iklim.
“Kami diperlakukan seperti penjahat,” kata Brigitte, seorang wanita yang ditangkap saat demonstrasi.
Baca Juga: Hubungan Telpon Bin Salman dan Emmanuel Macron
Pihak berwenang telah melarang demonstrasi di beberapa kota seperti Champs-Elysees yang merupakan salah satu pusat pariwisata.
Beberapa pengunjuk rasa tidak mengindahkan larangan itu. Hal tersebut menyebabkan ketegangan dengan polisi yang memaksa mereka menggunakan gas air mata untuk membubarkannya.
Macron menyerukan agar tetap tenang dan mengatakan bahwa tidak mengapa jika orang ingin mengekspresikan diri.
Gerakan Rompi Kuning berdiri sekitar 10 bulan yang lalu. Gerakan ini muncul sebagai reaksi atas kebijakan pajak dan fiskal yang sangat bertentangan dengan kebutuhan rakyat Prancis.
Dua Jurnalis Tertembak Tentara Israel dalam Demo Gaza
Dua orang jurnalis Palestina, Ahmed Shawer dan Abdul Rahman al-Kahlout menderita luka-luka akibat terkena tembakan tentara Israel dalam aksi March or Returns ke-75 di Nablus dan perbatasan Jalur Gaza. Masing-masing dari jurnalis tersebut merupakan koresponden dan juru kamera Palestine TV.
Shawer dilaporkan terkena tembakan tersebut saat sedang menjalankan tugasnya di distrik Kafr Qaddoum, Nablus, Tepi Barat. Saat ini Shawer sedang mendapat perawatan medis dari tim Palang Merah Palestina yang berjaga di lokasi kejadian. Tim medis menyatakan bahwa keadaanya stabil.
Sementara itu, Al-Kahlout terkena tembakan di kaki kanan saat sedang bertugas meliput demo March of Returns di garis batas Jalur Gaza.
Dampak Keputusan Saqifah bagi Umat Islam
Langkah-langkah yang diambil oleh sekelompok sahabat di kota Madinah dan Saqifah Bani Sa'idah, telah melenceng dari ketetapan yang sudah diumumkan oleh Rasulullah Saw di Ghadir Khum.
Isu krusial yang disampaikan Rasulullah dalam khutbahnya di Ghadir Khum adalah masalah kepemimpinan (imamah) Sayidina Ali as. Menurut kitab al-Ghadir, khutbah Rasulullah di Ghadir Khum dinukil oleh lebih dari 110 sahabat, 84 tabi'in, serta 360 ulama dan perawi dari Syiah dan Sunni.
Di salah satu bagian khutbahnya, Rasulullah berkata, "Sesungguhnya Malaikat Jibril as sudah tiga kali turun kepadaku dan menyampaikan salam Tuhanku serta memerintahkan agar berdiri di tempat perkumpulan ini untuk menyampaikan pada kalian baik yang berkulit putih maupun berkulit hitam, bahwa sesungguhnya Ali bin Abi Thalib adalah saudaraku, washiku, khalifahku bagi umatku, dan imam setelahku.
Kedudukan dia di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku. Dia sebagai pemimpin kalian setelah Allah dan Rasul-Nya…
Ketahuilah wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah menetapkan Ali sebagai wali dan imam kalian, dan telah mewajibkan kepada setiap orang dari kalian untuk mentaatinya. Sah keputusan hukum yang diambilnya, dan berlaku kata-katanya. Terlaknat orang yang menentangnya, dan memperoleh rahmat orang yang mempercayainya.
Namun apa yang terjadi di Saqifah bertentangan dengan perintah Allah. Di saat Imam Ali as dan beberapa sahabat sedang mempersiapkan pemakaman Nabi Saw, sebagian pemuka Anshar yang dipimpin Sa'd bin 'Ubadah berkumpul di Saqifah untuk memilih pemimpin setelah Nabi.
Saqifah adalah sebutan untuk bangunan yang memiliki teras dan wadah berkumpul bagi sebuah kabilah. Hampir semua kabilah di Arab memiliki tempat seperti ini untuk dipakai sebagai balai musyawarah untuk memutuskan berbagai kepentingan umum.
Tempat yang dipakai oleh tokoh Muhajirin dan Anshar untuk memilih khalifah waktu itu adalah milik Bani Sa'idah dari Khazraj, sehingga ia dikenal sebagai Saqifah Bani Sa'idah.
Sebelum Islam datang, Bani Sa'idah secara rutin menggelar pertemuan di tempat itu dan setelah Nabi Saw hijrah ke Madinah, Saqifah mereka kehilangan fungsinya. Saqifah ini baru dihidupkan kembali ketika para tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul di sana untuk menentukan khalifah pengganti Nabi Saw.
Sebagian sejarawan meyakini bahwa musyawarah kaum Anshar di Saqifah – setelah wafatnya Nabi Saw – hanya untuk memilih pemimpin untuk kota Madinah. Namun, kedatangan orang-orang Muhajirin telah menggeser egenda musyawarah ke arah pemilihan khalifah untuk umat Islam.
Para tokoh Saqifah bergerak menyimpang dari jalur yang ditetapkan oleh Nabi Saw mengenai sosok pemimpin umat setelah wafatnya. Mereka telah menambah daftar panjang pembangkangannya terhadap perintah Rasul. Keputusan mereka telah menjauhkan Imam Ali as dari haknya sebagai pemimpin umat selama 25 tahun.
Semua aktor yang membentuk gerakan agama-politik – sejak awal periode kenabian Muhammad Saw di Mekkah sampai berakhirnya masa kekhalifahan Usman bin Affan – selalu hadir dalam berbagai peristiwa dan memainkan peran dalam urusan pemerintahan dan kekhalifahan.
Lebih tragis lagi bahwa beberapa alumni Saqifah Bani Sa'idah membunuh karakter Imam Ali as dan membangun opini di masyarakat bahwa Ali mengincar kekuasaan, tetapi kalah dari rivalnya dan tidak punya pilihan lain kecuali menjauh dari poros kekuasaan. Padahal, Imam Ali as telah memilih bersabar dan menutup mata dari hak sahnya demi menjaga keutuhan kaum Muslim dan wilayah teritorial Islam.
Seseorang yang sinis datang menemui Imam Ali as dan berkata, "Wahai putra Abu Thalib, engkau sangat menginginkan posisi khalifah dan lebih rakus dari orang lain."
Imam Ali membantah fitnah dan tuduhan miring itu dan berkata, "Demi Allah, engkau malah lebih serakah, walaupun lebih jauh, sementara aku lebih layak dan lebih dekat (dengan Rasulullah Saw). Aku menuntutnya sebagai hakku, sedang engkau menghalangi antara aku dan hak itu, dan sekarang engkau hendak memalingkan wajahku darinya. Apakah orang yang menginginkan haknya dianggap lebih rakus atau mereka yang mengincar hak orang lain?" (Kitab Nahjul Balaghah, khutbah 171).
Mungkin sebagian bertanya, jika Ali as menganggap posisi imamah sebagai haknya, mengapa ia memilih diam dalam menghadapi situasi saat itu? Mengapa ia tidak bangkit untuk membela hak yang diberikan Tuhan kepadanya?
Beginilah jawaban Imam Ali as atas pertanyaan penting itu, "Aku melihat kesabaran lebih baik daripada memecah barisan kaum Muslim dan pertumpahan darah mereka, sebab masyarakat baru memeluk Islam…(Nahjul Balaghah, khutbah 119)
Makam Imam Ali as di kota Najaf, Irak.
Imam Ali as memilih bersabar dan memprioritaskan maslahat Islam dan kaum Muslim, meski ia mengetahui bahwa dirinya – atas perintah Allah Swt – telah diangkat sebagai khalifah pada hari Ghadir Khum, dan dirinya lebih layak untuk memimpin umat daripada orang lain.
Ketika periode kekuasaan khalifah kedua berakhir, Imam Ali as diundang untuk menghadiri musyawarah sebuah dewan yang beranggotakan enam orang dan Usman bin Affan terpilih sebagai khalifah berkat suara Abdurrahman bin Auf. Ketika itu Imam Ali as berkata, "Kalian tahu bahwa aku lebih layak dari semua untuk posisi khalifah. Demi Allah, selama urusan kaum Muslim berjalan dan hanya aku yang tersakiti, maka aku tidak akan menentang kalian." (Nahjul Balaghah, khutbah 72)
Setelah wafatnya Nabi Saw, seluruh perhatian Imam Ali as tercurahkan pada dua isu utama yaitu: pertama menjaga agama Islam sebagai hasil kerja keras dan perjuangan Rasulullah Saw selama 23 tahun, dan kedua mempertahankan persatuan dan kesolidan kaum Muslim.
Imam Ali as mengetahui dengan baik bahwa musuh dari dalam dan luar, sedang berusaha untuk merusak persatuan dan kekuatan masyarakat Muslim sehingga bisa mencapai tujuan mereka yaitu, menghancurkan Islam dan kaum Muslim.
Menurut satu riwayat, Sayidah Fatimah Az-Zahra as suatu hari berkata kepada suaminya Imam Ali, "Mengapa engkau tidak membela hakmu?" Mendengar itu, Imam Ali langsung memakai baju perang untuk melawan orang-orang yang merampas haknya. Suara adzan terdengar dari masjid dan pekikan kalimat La Ilaha illallah Muhammadur Rasulullah membahana. Ali menolehkan wajahnya ke Fatimah sambil berkata, "Apakah engkau ingin seruan tauhid dan kenabian ini tetap terdengar? Jika engkau sependapat denganku, maka kita harus bersabar, jika tidak aku akan keluar dan menumpas semua penentangku."
Sayidah Fatimah memilih diam sebagai tanda setuju dengan keputusan suaminya itu. Sebab bagi mereka, menjaga agama Islam lebih penting dari apapun dan mereka terlibat aktif di berbagai kesempatan untuk menjaga semua pencapaian yang diraih kaum Muslim.




























