کمالوندی

کمالوندی

#beritadunia.net Suara Sayyid Ali Rabbani tiba-tiba tercekat. Sejenak dia terdiam setelah sebelumnya menceritakan bagaimana Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib, tetap mendirikan Shalat secara berjamaah pada malam 10 Asyura. Shalat diikuti oleh anak-anaknya, para ponakannya (anak-anak saudaranya, Imam Hasan) serta beberapa sahabat dan pengikut setianya.

Setelah mengambil nafas yang panjang, Sayyid Ali melanjutkan kisahnya. Malam itu, Imam Husain mengumpulkan seluruh sahabat serta anggota keluarganya di dalam tenda utama. Kala itu, mereka sudah dalam kondisi terkepung oleh puluhan ribu pasukan Yazid bin Muawiyah, dan dalam kondisi kehausan karena akses mereka ke sungai terdekat diboikot.

Imam Husain lalu menyampaikan bahwa besok, peperangan akan terjadi dan akan banyak yang menjemput kematian. Qasim, salah satu putra Imam Hasan yang masih belasan tahun lalu berkata, “Apakah besok aku juga akan syahid?”, Imam Husain menanggapi pertanyaan keponakannya, “Puteraku, bagaimana kematian itu dalam pandanganmu?”. Ia menjawab, “Kematian bagiku, lebih manis dari madu.” Imam Husain lalu menjawab, “Iya, puteraku, besok, kamu juga akan meraih kesyahidanmu.”

Kisah yang disampaikan Sayyid Ali Rabbani ini spontan membuat jemaah yang menghadiri majelis Asyura, menangis tersedu-sedu. Tangis mereka semakin menjadi-jadi ketika narasi dilanjutkan, saat bagaimana ribuan prajurit tanpa perasaan membantai Qasim bin Hasan yang maju ke medan laga seorang diri. Seorang remaja berwajah tampan yang mirip dengan ayahnya, Imam Hasan, cucu Nabi Muhammad Saw, kini tak bernyawa, tergeletak bersimbah darah di Padang Karbala.

Selama hampir satu jam, Sayyid Ali Rabbani membawakan narasi tragedi Karbala. Meski dia berkebangsaan Iran, namun bahasa Indonesianya sangat fasih.

Usai menyelesaikan narasi tragedi Karbala, Sayyid Ali yang merupakan salah satu Qari dari Iran ini, memimpin Doa Ziarah Imam Husain, semacam doa untuk menyatakan kesetiaan terhadap perjuangan Imam Husain, dan menyatakan berpaling dari orang-orang yang memerangi Sang Imam di Karbala, pada 10 Muharram 60 Hijriyah lalu.

Ziarah ini ditutup dengan sujud bersama, sembari memohon kepada Allah Swt, agar bisa mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad Saw dan para keluarganya, termasuk Imam Husain. Muslim Syiah meyakini, para Ahlulbait Nabi Saw yang berjumlah 12 orang, termasuk Imam Husain, kelak akan menemui para peziarahnya dan memberikan mereka syafaat di hari akhir kelak.
Jurnalis Berita Kota Kendari, diperkenankan mengikuti ritual yang digelar di Hotel Qubra, Kendari, Selasa (11/10), yang bertepatan dengan 10 Muharram itu. Acara yang dihadiri sekitar seratusan muslim Syiah dari seluruh Sulawesi Tenggara ini, dibuka sekitar pukul 13.00 dan berakhir tiga jam kemudian.

Meski demikian, ritual ini sempat mendapatkan protes dari puluhan orang yang merupakan aktivis Anti-Syiah. Namun protes mereka tak membuat ritual Asyura di dalam hotel sampai terganggu. Seluruh ritual berjalan dengan lancar dan khidmat dari awal sampai selesai.

Ratusan aparat gabungan Polri dan TNI pun terus melakukan pengamanan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi, jumlah jamaah Syiah yang ikut dalam acara itu terbilang sedikit. Itu pun masih terdiri dari perempuan dan anak-anak.

Ketua DPW Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia (Ijabi) Sultra, Ustad Nunung Piagi menyesalkan adanya gerakan yang ingin menggagalkan ritual Asyura. “Anda bisa lihat sendiri, bahwa peringatan Asyura ini hanya membacakan narasi tragedi di Karbala dan doa bersama. Apanya yang dipersoalkan? Apa salah jika kami memperingati kesyahidan Imam Husain?” kata Ustad Nunung.
Dia juga mengatakan, sudah seringkali mengundang tokoh atau warga di luar Syiah untuk melihat langsung ritual Asyura, agar mereka bisa langsung tahu dan memahami esensi dari tradisi ini. “Beda kan kalau kita ikut langsung, daripada hanya mendengar-dengar,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Ketua DPW Ahlul Bait Indonesia (ABI) Sultra, Ir Tachrir mengatakan setiap tahun peringatan Asyura yang digelar komunitas Syiah memang selalu mendapat penentangan dari ormas-ormas tertentu. Itu terjadi karena adanya perbedaan pemahaman antara Syiah dan golongan tersebut dalam beberapa hal, termasuk ritual Asyura.

Ketua Formasi Sultra, Muhammad Ridwan Zainal juga menambahkan bahwa pemerintah sebaiknya memfasilitasi dialog antarmazhab untuk mendorong toleransi antarsesama. Yang jelas, kata Ridwan, antara Syiah dan Sunni, persamaannya masih jauh lebih banyak dibandingkan perbedaannya.

Sementara di luar hotel, pihak MUI Sultra dan Muhammadiyah juga ikut memberikan penjelasan. Mereka mengatakan, Syiah itu ada yang sesat, dan ada juga yang tidak. IJABI dan ABI, yang merupakan Ormas penggagas Asyura di Kota Kendari, tidak termasuk dalam golongan yang disesatkan. Mereka adalah pengikut Syiah Imamiyah yang diakui sebagai salah satu mazhab resmi dalam Islam.

Juga disebutkan, bahwa ritual Ahlulbait sebenarnya sangat kental dengan tradisi orang Sultra sendiri. Tiang keraton Buton yang berjumlah 12, sebenarnya merujuk pada keyakinan Syiah Imamiyah yang memiliki 12 orang Imam atau pemimpin umat.

Berdasarkan pantauan jurnalis Berita Kota Kendari, pengamanan itu dihadiri Komandan Kodim (Dandim), Letnan Kolonel (Letkol) Kafleri Eko Hermawan serta Kapolres Kendari, AKBP Sigit Hariadi.
Dari penelusuran di internet, tradisi Asyura memang menjadi salah satu ritual besar dalam tradisi Muslim Syiah. Populasi jumlah Muslim Syiah di seluruh dunia diperkirakan mencapai 150 juta sampai 200 juta orang, termasuk 2,5 juta orang di Indonesia. Setiap tahunnya, diperkirakan 20 juta muslim Syiah dari seluruh dunia melakukan ziarah ke makam Imam Husain yang terletak di Karbala, Irak.
Dalam Risalah Amman yang dihadiri ratusan ulama dan para pemimpin negara, disepakati bahwa Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah merupakan bagian dari keanekaragaman mazhab dalam Islam. Dari total pemeluk Syiah, kebanyakan merupakan Syiah Imamiyah dan sisanya adalah Syiah Zaidiyah, yang ajarannya lebih mirip dengan Sunni.

Menurut Prof Dr KH Quraish Shihab, perbedaan mendasar Sunni dan Syiah hanya terletak pada imamah atau kepemimpinan. Syiah hanya mengakui kepemimpinan Ali bin Abi Thalib sepeninggal Rasulullah Saw, dan dilanjutkan oleh sebelas keturunannya, termasuk Imam Husain. Karena itu, mereka disebut Syiah Ali atau pengikut Imam Ali. 

#beritadunia.net Menurut Kantor Berita ABNA, Kementerian Luar Negeri bekerjasama dengan Kementerian Agama menyelenggarakan Dialog Lintas Agama dan Budaya (DLAB) negara-negara MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia) di Yogyakarta, 18 – 19 Oktober 2016, diikuti oleh tokoh agama, budaya, akademisi, pejabat dan masyarakat madani dari negara-negara tersebut. Dialog dibuka oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Dr. AM. Fachir, sementara welcoming remarks disampaikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Dalam sambutan pembukaannya, Dr. A.M. Fachir antara lain menyampaikan bahwa Indonesia dan negara-negara MIKTA memiliki hubungan bilateral yang erat dan hubungan itu tentu saja semakin kuat melalui kerjasama MIKTA. Sejak terbentuk pada tahun 2013, MIKTA aktif membicarakan beberapa isu seperti perdamaian, keamanan, pengungsi, pemberdayan jender, perdagangan dan ekonomi global. MIKTA juga telah menjalankan berbagai program outreach di bidang kepemudaan dan media.

Ditambahkan, bahwa kerja sama dalam MIKTA sejalan dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Pelaksanaan Dialog Lintas Agama dan Budaya ini merupakan inisiatif Indonesia dalam upaya mengatasi situasi keamanan global, yaitu terorisme, radikalisme, dan ekstrimisme.

Lebih lanjut Dr. A.M. Fachir mengharapkan kedepannya kerja sama MIKTA dapat menjadi bridge builder dan consensus makingterhadap beberapa permasalahan yang menjadi perhatian bersama negara MIKTA. MIKTA juga diharapkan menjadi kerja sama yang inklusif yang melibatkan semua pihak tidak hanya Kementerian Luar Negeri.

Sementara itu Sri Sultan Hamengkubuwono X menggaris bawahi bahwa dialog bukanlah kompromi iman, namun untuk mewujudkan empati antarumat agama, dimana benteng perbedaan diubah menjadi jembatan saling pemahaman dan penghormatan.

DLAB negara-negara MIKTA dengan tema "Strengthening solidarity, friendship, and cooperation through interfaith and intercultural dialogue", bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman diantara negara-negara MIKTA dalam meningkatkan pemahaman dan mempromosikan toleransi, perdamaian, moderasi, serta penghormatan di antara masyarakat multi agama dan budaya.

Indonesia sebagai tuan rumah menyampaikan Host Statement/Yogyakarta Message dalam kegiatan ini. Yogyakarta Message berisi pesan perdamaian yang mendorong pelaksanaan berbagai kegiatan yang memupuk rasa solidaritas dan penghargaan terhadap keragaman, keterbukaan dan tranparansi, baik pada level pemerintah maupun non-pemerintah.

Yogyakarta Message juga mendorong peran aktif pemuda dalam memupuk solidaritas antar umat beragama, mengembangkan jaringan diskusi tentang toleransi, dan melangkah dari berbagai perbedaan guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan.   

Indonesia juga menyampaikan komitmennya untuk memberikan Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia kepada pemuda dari negara-negara MIKTA mulai tahun 2017.

MIKTA merupakan Cross Regional Consultative Platform tingkat Menteri Luar Negeri yang dibentuk pada saat pertemuan ke-68 Majelis Umum PBB tanggal 17 September 2013 berdasarkan berbagai persamaan, diantaranya kemampuan ekonomi dan peran di kawasan. MIKTA diharapkan dapat bekerjasama untuk meningkatkan berkontribusi dalam pembangunan komunitas internasional.

#beritadunia.net Menurut Kantor Berita ABNA, Komisi Informasi Pusat (KIP) meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) membuka laporan keuangannya ke publik. Ketua KIP Abdulhamid Diporamono mengatakan MUI perlu membuka laporan keuangannya karena lembaga itu mendapatkan dana dari pemerintah dan masyarakat. 


“Dana dari pemerintah tidak saja didapat langsung dari APBN tapi juga program-program dari beberapa kementerian,” kata Abdulhamid dalam siaran pers yang diterima Tempo, di Jakarta, Ahad 27 Maret 2016.

Abdulhamid menjelaskan dana masyarakat yang masuk ke rekening MUI berasal dari biaya sertifikasi halal. Sertifikasi halal bukan saja untuk produk makanan, minuman, dan kosmetik, tetapi juga semua barang dan jasa. Menurut dia, masyarakat harus mulai kritis terhadap kondisi keuangan nonpemerintah seperti MUI.

Menurut UU Nomor 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP), Abdulhamid menilai bahwa MUI adalah badan publik. Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud sebagai badan publik ini bukan saja lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif, tetapi juga badan lain atau organisasi nonpemerintah yang sumber dananya berasal daru APBN, APBD, dan sumbangan masyarakat.

Karena itu, MUI, kata dia, wajib menginformasikan program dan laporan keuangannya ke publik dengan mengelola lembaga secara transparan, efektif, efisien, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan. “Badan publik juga tidak boleh menunggu diminta informasinya tapi harus proaktif mengumumkannya ke masyarakat,” ujar Abdulhamid.


Atas dasar itulah, kata dia, KIP mempertanyakan kondisi keuangan MUI saat ini. Abdulhamid menilai tidak ada keterbukaan program dan laporan keuangan di lembaga tersebut secara periodik. Menurut dia, wajar apabila masyarakat mempertanyakan keterbukaan informasi MUI yang ingin mensertifikasi banyak jenis barang. “Jika makin banyak obyek yang disertifikasi maka akan semakin banyak pula uang masuk ke MUI,” tutur dia.

Abdulhamid menilai masyarakat harus kritis mempertanyakan laporan keuangan MIU. Sebab, kata dia, biaya yang dikeluarkan oleh pihak yang disertifikasi, pasti pada akhirnya akan dibebankan kepada masyarakat sebagai konsumen.

Selasa, 18 Oktober 2016 22:04

Antara Facebook, Israel dan Shimon Peres

Facebook adalah layanan media sosial yang saat ini paling diminati di dunia. Pertama kali didirikan oleh Mark Zuckerberg dan mitranya pada Februari 2004. Berbagai kalangan, termasuk Julian Assange, pendiri situs pembocor kawat intelejen Wikileaks, mengungkapkan bahwa Facebook adalah alat spionase paling dibenci yang dibuat sekarang.

Dewasa ini Facebook memiliki harta karun informasi yang sangat melimpah dari para penggunanya yang memberikan informasi pribadi secara sukarela. Padahal informasi tersebut dipergunakan oleh dinas keamanan dan intelejen AS untuk kepentingan tertentu.

Meskipun jejaring sosial semacam Facebook dipergunakan untuk menjalin hubungan sosial antarindividu dengan yang lain. Tapi, tidak luput dari ancaman bahaya yang mengintai setiap saat. Salah satu alasannya adalah besarnya konten rahasia yang bercampur dengan konten umum di dalamnya. Semua bercampur menjadi satu, dan tidak ada pemisahan antara keduanya.

Berdasarkan data yang dirilis pusat statistik internet global, masyarakat dunia menggunakan 500 miliar menit setiap bulan dari waktunya Facebook. Di kawasan Timur Tengah, Uni Emirat Arab dan Israel merupakan pengguna tertinggi Facebook.

Kini, pendiri Facebook, Mark Zuckerberg dinobatkan sebagai pemuda terkaya di dunia, dan orang terkaya ke-35 di dunia. Situs Jew or Not Jew memberikan parameter untuk menentukan seorang tokoh dunia, apakah dia Yahudi atau bukan. Situs ini memberikan nilai 13 dari 15 kepada  Mark Zuckerberg, yang menunjukkan bahwa pendiri Facebook ini adalah seorang Yahudi. Koran Zionis, Jerusalem Post menempatkan Mark Zuckerberg dalam deretan ranking keempat dari 50 orang Yahudi paling berpengaruh di dunia.

Presiden rezim Zionis ke-9 yang belum lama ini meninggal pernah menyampaikan pujian besar terhadap Facebook. Shimon Peres dalam kunjungannya ke kantor Facebook di California tahun lalu menyebut jejaring sosial ini sebagai media untuk melakukan perubahan sosial. Menurut pengakuan Peres sendiri sebelum meninggal, tujuan kunjungannya ke kantor Facebook untuk menemui pemuda Yahudi yang baik, yaitu Mark Zuckerberg.

Dalam sebuah wawancara langsung dengan Facebook, Peres menjawab berbagai pertanyaan. Salah satunya, apa yang bisa dilakukan Facebook untuk meningkatkan perdamaian di Timur Tengah ? “Kalian bisa meyakinkan masyarakat supaya percaya tidak ada alasan untuk membenci !”, jawabnya.

Titik penting ini menunjukkan posisi Facebook sebagai alat untuk memperluas gerakan perdamaian ala Zionis. Tapi ironisnya, Facebook menutup laman yang berkaitan dengan Palestina, Lebanon, Iran dan gerakan anti-Zionis di dunia. Misalnya, Facebook menutup laman Intifadha Ketiga Palestina yang telah memiliki anggota hampir setengah juta.

Pada September lalu, rezim Zionis meminta Facebook mengirimkan delegasinya ke Israel supaya Tel Aviv bisa mewujudkan tujuannya melalui jejaring sosial itu. Rai Alyoum memberitakan sejak delegasi Facebook tiba di wilayah Palestina pendudukan langsung bertemu dengan menteri intelejen dalam negeri dan urusan peradilan rezim Zionis.

Dalam pertemuan tersebut hadir dua orang perwakilan dari pengadilan dan kepolisian Israel. Facebook menerima seluruh syarat yang diajukan rezim Zionis dan diakhir penandatangan kesepakatan bersama mengenai penguatan kerjasama antara dinas keamanan Israel dan Facebook.

Di akhir pertemuan, menteri kehakiman rezim Zionis yang memimpin delegasi Israel menyatakan, dua jejaring sosial, Facebook dan Twitter menerima permintaan rezim Zionis supaya menghapus konten anti-Israel yang telah dilakukan selama beberapa bulan belakangan ini.

Sebelumnya, Israel membentuk sebuah komite untuk menentukan “Aturan Facebook”. Tujuannya, untuk mengarahkan jejaring sosial ini demi kepentingan rezim Zionis. Dengan aturan ini, Tel Aviv bisa mendikte Facebook untuk menghapus konten yang tidak sesuai dengan kepentingan Israel.

Sebelum penandatangan kesepakatan antara Israel dan Facebook, sudah diprediksi akan ada penutupan secara besar-besaran akun-akun yang dinilai mengancam rezim Zionis. Benar saja, tidak lama setelah penandatangan tersebut, ribuan akun yang berkaitan dengan Palestina ditutup.

Belum lama ini, akun resmi Hamas dan sejumlah tokoh Palestina juga ditutup dari laman Facebook. Hingga kini penutupan akun pribadi dan fan page mengenai Palestina terus berlanjut. Bahkan fan page universitas Palestina seperti Universitas al-Khalil, universitas Al-Najah dan lainnya ditutup.

Tidak hanya itu, Aljazeera baru-baru ini melaporkan empat orang editor kantor berita Shehab dan akun tiga manajer kantor berita Quds dinonaktifkan. Dua kantor berita tersebut selama ini meliput perkembangan terbaru di Palestina pendudukan, dan laman Facebooknya diikuti oleh sekitar lima hingga enam juta orang.

Menyikapi sepak terjang Facebook tersebut, jutaan orang di dunia maya melancarkan kampanye boikot Facebook sebagai bentuk perlawanan terhadap tindakan perusahaan milik Mark Zuckerberg terhadap penutupan akun pro-Palestina.

Salah satu hashtag kampanye boikot Facebook adalah #FBcensorspalestine menjadi hit dalam waktu yang relatif singkat. Hanya dalam waktu dua jam, lebih dari 266 juta orang dari seluruh dunia mengikuti tagar boikot Facebook, dan lebih dari 40.000 orang memberikan komentar di tagar tersebut. Tagar Facebook menyensor Palestina menempati posisi tertinggi kelima di Twitter.

Keberpihakan jejaring sosial semacam Facebook terhadap rezim Zionis tidak bisa lagi ditutup-tutupi. Lebih dari 10.000 laman milik Israel di dalam Facebook. Sejumlah kalimat seperti “Bunuh orang-orang Palestina” mendekati 3.000 kali terulang di akun milik Israel. Sedangkan kalimat “Usir orang-orang Palestina” terulang sekitar 12.000 kali.

Terkait hal ini, menteri kehakiman rezim Zionis, Ayelet Shaked di laman pribadinya menyerukan pembunuhan massal warga Gaza. Ironisnya, statemen bersifat intimidatif ini tidak disensor oleh Facebook. Pada saat yang sama, jika itu dilakukan oleh orang-orang Palestina, maupun bangsa lainnya terhadap Israel maka Facebook pasti akan memblokirnya.

Contoh lainnya, sebuah akun memposting foto perempuan tua disertai tulisan singkat, “Usia nenek ini lebih tua dari Usia Israel”. Tidak berapa lama setelah diposting, Facebook segera menghapusnya. Foto perempuan tua itu adalah gambar Fatimah Ali salim Abu Husyiah, yang dilahirkan pada tahun 1910 di wilayah Qathana Palestina. Situs Al-Alam melaporkan, manajemen Facebook menjustifikasi keputusan tidak profesionalnya dengan menyebut “konten ini rasis !” yang ditujukan kepada siapa saja yang memposting sesuatu yang tidak sejalan dengan kepentingan rezim Zionis.

Mark Zuckerberg terkadang mengenakan pakaian dengan penutup kepala khas Yahudi di hadapan khalayak ramai. Kostum tersebut menimbulkan pertanyaan banyak orang mengenai sosok Mark Zuckerberg. Tidak bisa dipungkiri bagaimana ia mengarahkan Facebook untuk kepentingan rezim Zionis.

Jika sedikit menelisik simbol bintang Dawud yang ada di tengah bendera Israel dan slogan “membangun dunia” dalam bendera dan slogan rezim Zionis Israel, kita bisa menilai bagaimana ambisi Zionisme internasional menguasai dunia, dan memfungsikan potensi-potensi besar seperti Facebook yang didirikan oleh anak muda berbakat seperti Mark Zuckerberg.

Pada Februari 2008, Mark Zuckerberg diundang datang ke Jerusalem untuk menghadiri konferensi internasional hari berdirinya rezim Zionis. Tema yang diusung dalam konferensi tersebut adalah “Masa Depan Teknologi di dunia”, termasuk membahas masyarakat Yahudi global dan Israel, serta pengaruhnya di dunia. Pada konferensi tersebut Shimon Peres menyebut Mark Zuckerberg sebagai teknokrat yang mengubah kehidupan dunia yang kita tempati saat ini.

Selasa, 18 Oktober 2016 22:04

Dalam Bimbingan Imam Husain as (10)

Konsistensi Imam Husain as dan sahabatnya di saat-saat paling sulit dan keridhoan mereka terhadap musibah muncul dari pemahaman mereka terhadap hakikat kehidupan dan kematian. Imam Husain senantiasa berdiri kokoh dan tidak pernah kalah, sehingga menjadi teladan bagi keuletan dan konsistensi dalam menghadapi beragam kesulitan dan perang melawan otoritarianisme.

Istiqomah di jalan Tuhan merupakan kesempurnaan tertinggi manusia. Melalui istiqomah, manusia mampu menegakkan kebenaran dan tidak akan pernah mundur melawan kebatilan. Imam Husain di kebangkitan bersejarahnya menyadarkan sahabat dan keluarganya akan rahasia istiqomah, sehingga mereka mampu memahami dengan benar hakikat istiqomah, menerapkannya dan menjadi manusia sempurna.

 

Di antara sahabat Imam Husain as adalah Nafi’ bin Hilal. Di hari Asyura dengan membawa busur dan anak panah, ia menyongsong musuh. Ketika anak panahnya habis ia berperang menggunakan pedang dan membantai musuh-musuh Allah. Sambil mengacungkan pedangnya ia bersyair, Agamaku adalah agama Husain bin Ali. Jika hari ini aku terbunuh, maka ini adalah harapanku. Konsisten dan istiqomahnya Nafi’ bin Hilal di peperangan membuat musuh ketakutan dan memaksa komandan pasukan musuh memaki bawahannya. Komandan musuh berteriak,  Wahai orang-orang bodah! Apakah kalian tahu tengah berperang dengan siapa. Kalian tengah berperang melawan orang yang haus akan kematian dan pemberani. Oleh karena itu, jangan berperang langsung melawannya.

 

Kinerja sahabat Imam Husain as tak ubahnya seperti bendera yang berkibar, konsisten dan istiqomah. Habib bin Madhahir, salah satu sahabat Imam Ali as dan saat berperang di Karbala telah berusia 75 tahun. Saat bertempur ia melantunkan syair, Namaku Habib dan ayahku Madhahir. Aku adalah pahlawan di medan perang. Meski jumlah kalian lebih banyak dari kami, namun loyalitas kami lebih besar dari kalian. Kami adalah hujjah lebih ungul dan kebenaran yang nyata dan lebih bertakwa dari kalian.

 

Habib di medan pertempuran telah membuktikan istiqomah dan konsistennya di jalan kebenaran serta mempersembahkan nyawanya. Ia bertempur dengan gigih hingga mereguk cawan syahadah. Konsistensi Imam Husain as dan sahabatnya di saat paling sulit dan ketika mereka mengadapi musibah besar bersumber dari upaya mereka memperjuangkan kebenaran dan pamahamannya atas realita kehidupan dan kematian.

 

Air mata manusia yang menangisi Imam Husain as sejatinya termasuk salah satu pilar yang mempertahankan misi beliau dan menyampaikan pesannya kepada seluruh umat manusia. Dengan demikian, air mata bagi Husain adalah teriakan protes kepada kubu arogan dan zalim. Sebuah kilat dan guntur yang menembak para pendurjana di mana pun dan kapan pun.

 

Tentang keberadaan Imam Husain as di Karbala diriwayatkan bahwa ketika beliau tiba di padang ini kuda yang beliau tunggangi tiba-tiba berhenti. Kuda itu tetap bergeming dan memaku kendati beliau sudah menarik tali kekangnya kuat-kuat agar beranjak dari tempatnya berdiri. Beliau lalu mencoba menunggangi kuda lain, namun hasilnya tetap sama, kuda kedua itu juga tak menggerakkan kakinya. Karena itu, Imam Husain as nampak mulai curiga sehingga bertanya: “Apakah nama daerah ini?” Orang-orang menjawab: “Qadisiah.”“Adakah nama lain?”, tanya Imam lagi. “Shati' Al-Furat.” “Selain itu ada nama lain lagi?” “Karbala...”

 

Mendengar jawaban terakhir ini Imam Husain as segera berucap: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan malapetaka.” Imam lalu berseru kepada para pengikutnya: “Kita berhenti disini, karena di sinilah akhir perjalanan kita, di sinilah tempat tumpahnya darah kita, dan di sinilah tempat kita dikebumikan.”

 

Di tanah itu, Ummu Kaltsum as adik Imam Husain as berkeluh kesah kepada beliau. “Padang sahara terlihat menyeramkan, aku tiba-tiba dicekam ketakutan yang amat besar.” Imam menjawab: “Adikku, dalam perjalanan untuk Perang Siffin, bersama ayahanda kami pernah berhenti di sini. Di sini ayah merebahkan kepalanya ke pangkuan kakakku, Hasan, kemudian tertidur. Aku juga kebetulan ada di sisinya. Begitu terjaga, ayah tiba-tiba menangis sehingga kakakku bertanya mengapa ayah menangis.

 

“Ayah menjawab: 'Aku bermimpi sahara ini berubah menjadi lautan darah dan Husain tenggelam ke dalamnya sambil berteriak-teriak meminta pertolongan tetapi tak seorangpun mengindahkan teriakannya.' Ayah kemudian bertanya kepadaku: 'Bagaimanakah kalian jika seandainya ini terjadi.' Aku menjawab: 'Tidak ada jalan lain, aku akan sabar.'”

 

Imam Husain as kemudian berkata: “Sesungguhnya Bani Umayyah telah mencemarkan nama baikku, tetapi aku bersabar. Mereka merampas harta bendaku, aku juga bersabar. Mereka kemudian menuntut darahku, tetapi juga tetap sabar. Demi Allah, mereka akan membunuhku sehingga Allah akan menimpakan kepada mereka kehinaan yang amat sangat dan akan menghunjam kepada mereka pedang yang amat tajam.”

 

Sementara itu, Ubaidillah bin Ziyad sudah mendapat laporan bahwa Imam Husain as berada di Karbala. Dia mengirim surat kepada beliau berisikan desakan agar beliau membaiat Yazid. Ubaidillah mengancam Imam Husain as pasti akan mati jika tetap menolak memberikan baiat. Imam Husain as membaca surat itu kemudian melemparkannya jauh-jauh sambil berkata kepada kurir Ubaidillah bahwa surat itu tidak akan dibalas oleh beliau. Ubaidillah murka setelah mendengar laporan sang kurir tentang sikap Imam Husain ini. Dipanggilnya Umar bin Sa'ad, orang yang sangat mendambakan jabatan sebagai gubernur di kota Rey. “Cepat pergi!” Seru Ubaidillah kepada Umar. “Habisi Husain, setelah itu datanglah kemari lalu pergilah ke Rey untuk menjabat di sana selama 10 tahun.”

 

Umar bin Sa'ad meminta waktu satu hari untuk berpikir, dan Ubaidillah pun memberinya kesempatan itu. Umar kemudian berunding dengan teman-temannya. Dia disarankan supaya tidak menerima tugas untuk membunuh cucu Rasul itu. Namun, saran itu tidak meluluhkan hatinya yang sudah dilumuri ambisi untuk bertahta. Maka, dengan memimpin 4.000 pasukan dia bergerak menuju Karbala. Begitu tiba di Karbala, mulai adegan-agedan penganiayaan terjadi terhadap Imam Husain beserta rombongannya. Umar bin Sa'ad bahkan tak segansegan mencegah mereka untuk mendapatkan seteguk air minum.

 

Hur dan pasukannya bergabung di bawah pasukan pimpinan Umar bin Sa'ad. Umar memerintahkan seseorang bernama Azrah bin Qais. “Cepat datangi Husain, dan tanyakan kepadanya untuk apa datang kemari.” Kata Umar. Azrah kebingungan dan malu karena dia termasuk orang yang mengirim surat kepada Imam Husain as supaya beliau datang ke Kufah. Umar bin Sa'ad kemudian menyuruh beberapa orang lain untuk bertanya seperti itu, tetapi tak ada satupun diantara mereka yang bersedia. Mereka keberatan karena mereka juga seperti Azrah bin Qais; ikut mengundang Imam Husain as tetapi malah berada di barisan pasukan yang memusuhi beliau.

 

Diriwayatkan bahwa Barir bin Khudair meminta izin Imam Husain as untuk berbicara dengan Umar bin Sa'ad mengenai penggunaan air sungai Furat. Beliau mengizinkannya dan Barir pun pergi mendatangi Umar bin Sa'ad. Di depan Bin Sa'ad Barir langsung duduk tanpa mengucapkan salam. Karena itu Umar bin Sa'ad langsung naik pitam.

 

“Kenapa kamu tidak mengucapkan salam kepadaku? Bukankah aku ini seorang muslim yang mengenal Allah dan rasul-Nya?”, tegur Ibnu Sa'ad geram. “Kalau kamu memang seorang Muslim,” jawab Barir, “kamu tentu tidak akan keluar untuk memerangi keluarga nabimu, Muhammad bin Abdullah, untuk membunuh mereka, untuk menawan para anggota keluarga mereka. Di saat orang-orang Yahudi dan Nasrani bisa menikmati air sungai Furat, Husain putera Fatimah beserta keluarga dan sahabatnya justru terancam maut akibat kehausan karena kamu mencegah mereka meneguk air sungai tersebut, tetapi di saat yang sama kamu mengaku mengenal Allah dan rasul-Nya.”

 

Ibnu Sa'ad sejenak menunjukkan kepada kemudian mendongak lagi sambil berkata: “Hai Barir, saya yakin siapapun akan masuk neraka jika memerangi dan membunuh Husain dan kaum kerabatnya. Namun, apa yang bisa aku lakukan nanti untuk ambisiku di Ray? Apakah aku akan membiarkannya jatuh ke tangan orang lain? Demi Allah, hatiku tidak berkenan untuk yang demikian.” Barir kemudian kembali menghadap Imam Husain as dan melaporkan apa yang dikatakan Umar bin Sa'ad. Imam pun berkomentar: “Dia tidak bisa mencapai kekuasaan di Ray. Dia akan terbunuh di tempat tidurnya sendiri.”

Selasa, 18 Oktober 2016 22:03

Dalam Bimbingan Imam Husein (9)

Dalam al-Quran, izzah atau kemuliaan merupakan sifat terpuji yang menjadi ciri para Nabi, Rasul dan orang-orang yang beriman. Di Karbala, Imam Husein dan pengikutnya memberikan pelajaran penting mengenai martabat dan kehormatan yang dijelaskan dalam al-Quran.  Beliau bukan hanya menolak kehinaan yang menjadi slogan utama dalam gerakan Asyura, “Haihat Minna al-dzillah”, lebih dari itu, Imam Husein memberikan contoh mengenai kemuliaan hidup berdasarkan prinsip al-Quran.

Salah satu pelajaran penting dari gerakan Imam Husein adalah kehormatan dan kemerdekaan. Ketika kehinaan rezim fasik melingkar di leher umat Islam saat itu, Imam Husein tidak hanya menyuarakan penolakan terhadap kehinaan, tapi beliau bangkit menyuarakan kemuliaan. Kebangkitan Imam Husein bukan untuk kepentingan dirinya, tapi demi membela ajaran Islam yang telah dihina dan direndahkan oleh orang lalim dan fasik semacam Yazid.

Imam Husein berkata, “…bagaimana Tuhan menjauhkan kami dari kehinaan! Tuhan memerintahkan kami [Ahlul bait] supaya menolak kehinaan. Rasulullah Saw menentang kehinaan, dan orang-orang Mukmin pun mengikutinya. Pakaian bersih dan suci yang kami kenakan tidak akan pernah membiarkan nafas kami berada dalam kelaliman. Lebih baik kami mati mulia, dari pada harus taat kepada orang-orang tercela,”.

Bahkan, ketika titik darah penghabisan, Imam Husein tetap memegang prinsip hidupnya yang menjunjung tinggi kemuliaan. Pada saat puluhan anak panah beracun menancap di dada Imam Husein di hari Asyura, dan beliau sudah tidak bisa duduk di kuda serta melanjutkan pertahanan dirinya, kemuliaan dan kehormatannya tetap terjaga. Imam Husein tidak menyerah menghadapi musuh yang menghadang di depan mata.

Salah satu manifestasi besar revolusi Asyura yang dipimpin oleh Imam Husein di padang Karbala adalah kemuliaan dan martabat kemanusiaan. Kemuliaan adalah sebuah kondisi di mana manusia memiliki kebesaran jiwa, keluhuran budi, dan tangguh. Mereka bukan hanya tidak merasa terhina dan rendah diri di hadapan musuh, tapi kemuliaannya justru semakin bertambah. Sedangkan martabat adalah sebuah kondisi yang menolak segala bentuk kehinaan dan kerendahan.

Martabat kemanusiaan sebagai salah satu dari nilai-nilai Islam yang senantiasa mendapat perhatian. Manusia bermartabat adalah mereka yang sudah menemukan keluhuran jiwa sehingga membuatnya menjauhi kehinaan dan kerendahan. Mereka juga menjaga kehormatan dan harga dirinya di setiap kondisi. Dengan bekal kemuliaan dan martabat yang dimilikinya, orang-orang Mukmin sangat tangguh dalam menghadapi berbagai masalah, dan mereka tahan banting meskipun diterjang badai kesulitan dan musibah besar.

Imam Husein telah menampilkan keteladanan kemuliaan dan martabat kemanusiaan. Ia tidak mengenal kata kompromi dengan kehinaan dan kerendahan. Jiwanya tetap tangguh meskipun anak-anak dan para sahabatnya terbunuh, keluarganya ditawan, dan jasadnya tercabik-cabik oleh pedang musuh. Meskipun Husein bin Ali telah tiada lebih dari seribu tahun lalu, tapi martabat kemanusiaan dan kemuliaan imannya tetap kekal abadi.

Pada dasarnya, Imam Husein mengajarkan kepada umat manusia tentang pelajaran menjaga kemuliaan hidup. Dalam ideologi Imam Husein, sebuah kekalahan untuk memperoleh kemuliaan bukan kegagalan, tapi ia kemenangan sejati.

Imam Husein gugur syahid dalam membela agama dan berjuang melawan kezaliman. Ia tidak bersedia menerima kehinaan dan mengajarkan kepada kaum Muslim kemuliaan dan pengorbanan demi menjaga agama. Imam Husein telah menghidupkan sifat-sifat mulia kemanusiaan, dan mengajarkan kepada masyarakat tentang kepahlawanan dan pengorbanan.

Kemuliaan dan martabat kemanusiaan ini tidak mengizinkan putra Ali as ini menyerah pada kehinaan seperti Ibnu Ziyad. Mereka tidak hanya melecehkan agama, tapi juga nilai-nilai kemanusiaan dan menistakan putra Rasulullah Saw. Oleh karena itu, Imam Husein as bangkit menentang mereka.

Dalam sebuah jawaban kepada orang-orang yang mengusulkan baiat dengan Yazid, Imam Husein berkata,“Ketahuilah, sesungguhnya pejuang putra pejuang telah dihadapkan kepada dua pilihan antara mengangkat pedang atau memilih kehinaan. Enyahlah kehinaan dari kami. Allah Swt dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman pasti menolaknya.”

Imam Husein mustahil memilih kehinaan, karena Allah Swt menginginkan kemuliaan umat manusia. Keputusan Imam Husein menolak baiat sangat penting, karena hal itu sama saja dengan mengakui dan memberi legitimasi kepada pemerintahan Yazid dan Bani Umayyah yang lalim. Penolakan tersebut memberikan pelajaran tentang kehormatan dan kemuliaan kepada generasi mendatang.

Imam Husein berkata, "Demi Allah! Aku tidak akan menyerah kepada kalian dengan kehinaan dan aku tidak akan lari seperti para budak. Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku, dan Tuhan kalian dari serangan kalian."

Ia menolak baiat yang hina, dan memperkenalkan Allah Swt hanya sebagai tempat berlindung. Menurut Imam Husein, seluruh kemuliaan dan kekuatan adalah milik Allah Swt, dan ini adalah puncak martabat kemanusiaan. Imam Husein selalu menghadirkan kemuliaan dan martabat kepada masyarakat, dan ia tidak membiarkan seseorang bertekuk lutut pada kehinaan dan kerendahan.

Akhlak mulia dan perhatian terhadap martabat kemanusiaan dalam mendidik dan memperkuat kemuliaan diri dapat ditemukan di seluruh fase kehidupan Imam Husein. Puncak kemuliaan ini dapat disaksikan bagaimana ia memperlakukan pasukan musuh.

Sikap Imam Husein saat menghadapi pasukan Hurr bin Yazid al-Riyahi adalah bukti keluhuran jiwanya. Dalam perjalanan dari Mekkah menuju Kufah, Imam Husein dan rombongan dihadang oleh pasukan musuh pimpinan Hurr di sekitar Qasr Muqatil, tidak jauh dari Kufah. Cuaca panas dan minimnya persediaan air memaksa semua orang untuk berhemat. Dalam situasi seperti ini, pasukan Hurr bertemu kafilah Imam Husein dengan terengah-engah kehausan.

Sebagian orang di kafilah menyarankan kepada Imam Husein as agar memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang pasukan Hurr. Akan tetapi, ia tidak hanya menolak usulan tersebut, tapi juga memerintahkan keluarga dan para sahabatnya untuk memberi air minum kepada pasukan musuh, dan ia bahkan meminta mereka untuk memberi minum kepada hewan-hewan tunggangan. Bahkan, Imam Husein dengan tangannya sendiri memberi air minum kepada tentara musuh yang kehausan.

Salah seorang tentara Hurr berkisah, “Aku adalah orang terakhir dari pasukan Hurr yang bertemu Husein bin Ali. Aku dicekik rasa haus, bahkan aku tidak sangguh memegang girbah air untuk meminumnya, Husein menyaksikan kondisiku yang lemah, dan ia kemudian dengan tangannya sendiri memberiku minum hingga dahagaku hilang.”

Kebesaran jiwa dan kemuliaan Imam Husein akan tampak jelas ketika kita membandingkannya dengan tindakan pasukan Umar bin Sa'ad di kemudian hari. Mereka tidak hanya menutup aliran air kepada sahabat dan pasukan Imam Husein, tapi juga membungkam tangisan anak-anak yang kehausan.

Salah satu keutamaan kepribadian Imam Husein adalah perhatiannya akan keselamatan seluruh umat manusia. Beliau juga melakukan banyak upaya untuk menyelamatkan musuh-musuhnya. Pada hari Asyura, ketika Imam Husein sudah dikepung dan genderang perang sudah ditabuh, ia bergegas menuju ke arah pasukan musuh dan memperkenalkan dirinya sebagai jalan terakhir untuk menyelamatkan orang-orang yang lalai dan menyadarkan mereka.

Dalam kondisi tersulit sekalipun, Husein bin Ali masih tetap memikirkan keselamatan orang-orang yang memusuhinya dari kesesatan. Apakah mereka tidak tahu siapa Husein? Apakah sebagian dari ribuan tentara itu tidak temasuk orang yang pernah menulis surat kepada Husein bin Ali?

Bukankah sebagian dari mereka pernah bertemu dengan Nabi Muhammad Saw dan mendengar langsung dari Rasulullah yang bersabda, “Husein adalah pemuda penghulu surga.” Tapi, harta, tahta dan kebodohan telah menjadikan mereka buta dan tuli untuk menerima kebenaran.

Sikap Imam Husein membuktikan betapa tinggi pemikirannya. Ia masih mencari cara untuk menyelamatkan orang-orang dari kehancuran dan menolong mereka. Di detik-detik akhir hayatnya, ksatria Karbala tetap berjuang demi membela agama dan kemanusiaan, kebenaran dan keadilan, kebebasan dan kemerdekaan sejati. Inna lillahi wa Inna ilahi rajiun.

Selasa, 18 Oktober 2016 22:03

Dalam Bimbingan Imam Husain as (8)

Derajat keridhoan dari Allah merupakan salah satu derajat tertinggi yang dapat diraih manusia melalui pengenalan sempurna akan pencipta, hikmah dan rahamat-Nya. Tak hanya itu, derajat ini juga membutuhkan pengenalan sempurna akan dunia dan hakikatnya. Adapun Karbala adalah manifestasi dari kerdihoan manusia akan ketentuan (qadha) Tuhan.

Imam Sadiq as bersabda, “Bacalah surat al-Fajr di shalat wajib dan sunnah, karena surat ini berkenaan dengan Husain bin Ali as. Kalian juga harus memiliki kecintaan lebih terhadap surat ini.” Salah satu sahabat Imam bertanya, Bagaimana surat ini khusus berkenaan dengan Imam Husain? Imam Sadiq berkata, Apakah kamu tidak tahu bahwa di akhir surat al-Fajr Allah berfirman “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku”. Husain adalah pemilik jiwa yang tenang, ia ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepadanya. Sementara para sahabatnya dan keluarga Nabi lainnya juga ridho kepada Allah.

 

Imam Husain sejak awal perjalanannya ketika keluar dari Madinah, terlebih dahulu berziarah ke makam kakeknya, Rasulullah Saw dan setelah shalat beliau berdoa, “Ya Allah! Atas nama orang yang dimakamkan di kuburan ini, tentukan jalan bagiku yang Kamu ridhoi dan Rasulullah pun ridho jalan tersebut. Selama perjalananya tersebut Imam Husain hanya memikirkan jalan yang dirihoi Tuhan. Ketika menuju Karbala dari Mekkah, Imam Husain di depan sahabatnya menyampaikan pidato dan mengisyaratkan akhir dari perjalannya ini, bahwa ia dan para sahabatnya akan gugur. Imam berkata, keridhoan Tuhan adalah keridhoan kami Ahlul Bait.

 

Sesorang mengirim surat kepada Imam Husain dan bertanya, “Kebaikan dunia dan akhirat terletak di mana? Imam menjawab, “Mereka yang mengharap keridhoan Tuhan meski manusia membenci mereka. Allah akan menganggap cukup hubungan orang tersebut dengan manusia lain dan siapa saja yang berani melanggar ketentuan Allah demi meraih keridhoan manusia, maka Allah akan membiarkannya di tengah masyarakat.”

 

Farazdaq, penyair ulung Arab berkata, Aku bertemu dengan Imam Husain di dekat Mekkah, Imam kemudian bertanya tentang kondisi warga Kufah. Aku berkata, Wahai tuanku! Hati-hari mereka bersamamu, namun pedang mereka melawanmu. Imam Husain berkata, benar apa katamu, segala sesuatu ada di tangan Allah. Jika qadha dan ketentuan Allah sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka kita akan bersyukur atas nikmat tersebut dan kami akan meminta pertolongan-Nya untuk menunaikan rasa syukur tersebut. Adapun jika ketentuan Allah tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, mereka yang niatnya benar dan benar-benar bertakwa tidak akan jauh dari keridhoan Allah dan tidak pula akan rugi.

 

Di detik-detik akhir usianya dan ketika sendirian serta kehausan dan badannya penuh dengan luka, Imam Husain as jatuh dari kudanya dan berkata, “Ya Allah! Kerelaanku sesuai dengan keridhoanku dan Aku berserah diri terhadap perintah-Mu.

 

Karbala manifestasi keridhoan manusia terhadap ketentuan Allah. Oleh karena itu, Sayidah Zainab setelah mengalami berbagai penderitaan dan kesedihan berpisah dengan orang yang dicintainya, berkata kepada kriminal terbesar dunia yang berencana menghina dan melecehkannya. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak menyaksikan sesuatu di Karbala kecuali keindahan dan apa yang saksiksan seluruhnya indah.

 

Dalam dialog antara Sayyidah Zainab dan Ibn Ziyad disebutkan bahwa saat itu Ibn Ziyad bertanya kepada putri Imam Ali as ini, ”Bagaimana pendapatmu tentang apa yang telah Allah lakukan terhadap saudara dan keluargamu?” Sayyidah Zainab berkata, “Aku tidak melihat ketentuan Allah kecuali Indah. Mereka adalah sekelompok orang yang telah di taqdirkan oleh Allah untuk mati terbunuh. Mereka pun bergegas menuju kematian itu. Allah kelak akan mempertemukanmu dengan mereka. Kelak kau akan dihujani pertannyaan dan disudutkan. Lihatlah, siapa pemenang hari itu! Semoga ibumu memakimu, hai anak Marjanah!”

 

Musibah datang menimpa hamba-hamba pilihan Allah. Ada riwayat mengatakan “Musibah diperuntukkan bagi para kekasih Allah." Sehingga dapat dikatakan, tiada musibah yang menimpa kaum pria seperti musibah yang menimpa Imam Husain as. Dan tiada musibah yang menimpa kaum wanita seperti musibah yang menimpa Sayyidah Zainab. Rasulullah saw. bersabda, ”Siapa saja yang menangisi musibah yang menimpa anak gadis ini (Zainab), maka ia seperti orang yang menangisi musibah yang menimpa dua orang saudaranya (Hasan dan Husain).

 

Perawi berkata: Demi Allah, aku masih ingat bagaimana Zainab bin Ali meratapi Al-Husain as dan menjerit dengan suara parau dan hati yang hancur. “Oh Muhammad! Salam sejahtera dari Tuhan penguasa langit untukmu. Lihatlah!  Ini Husainmu tengah terbujur kaku di alam terbuka dengan tubuh bersimbah darah. Badannya terpotong-potong. Oh sungguh malang! kini putri-putrimu menjadi tawanan musuh Allah. Hanya kepada Allah dan RasulNya, Muhammad Mustafa, Ali Murthada, Fatimah Zahra, dan Hamzah Sayyidusy Syuhada, kuadukan penderitaan ini.

 

Wahai Muhammad! Ini Husainmu, terbaring di alam terbuka, menjadi sasaran terpaan angin timur. Inilah korban kebiadaban anak-anak sundal. Oh malangnya! Betapa beratnya penderitaan yang kau alami, Wahai Abu Abdillah. Hari ini adalah hari kematian kakekku Rasullulah saw.

 

Dua Putra Sayyidah Zainab syahid di karbala, sehingga ia dapat merasakan kepedihan yang dirasakan para syuhada karbala dan saudra tercintanya Husain as. Diriwayatkan bahwa di hari Asyura, Sayyidah Zainab mempersiapkan dua putranya, Aoun dan Mohammad ke medan perang. Beliau dengan tangannya mengenakan pakaian baru dan bersih kepada anak-anaknya, mempersiapkan pedang dan tameng. Kemudian Sayyidah Zainab membawa anak-anaknya ke hadapan Imam Husain dan meminta ijin bagi mereka untuk turun ke medan laga membela cucu Rasulullah.

 

Awalnya Imam Husain tidak bersedia memberi ijin, namun Sayyidah Zainab bersikeras dan akhirnya imam pun memeri ijin kepada keponakannya tersebut. Dengan tangannya sendiri Sayyidah Zainab melepas buah hatinya ke medan perang. Dua bersaudara ini bahu membahu berperang dengan musuh. Keduanya tampil gagah berani membantai musuh Allah dan Rasul-Nya, hingga Mohammad meneguk cawan syahadah. Menyaksikan saudaranya gugur, Aoun berdiri di sampingnya dan berkata, “Sabar sedikit saudaraku, aku akan menyusulmu.”

 

Aoun pun melanjutkan pertempuran hingga menyusul saudaranya bergabung dengan kakek dan keluarganya di surga. Imam Husain dengan penuh kesedihan merangkul jenazah dua remaja dan keponakannya tersebut serta membawanya ke kemah. Para wanita Ahlul Bait keluar menyambut dua jenazah syuhada Karbala, namun anehnya Sayyidah Zainab tetap berada di dalam kemah dan tidak keluar menyambut jenazah anaknya. Hal ini karena beliau takut, Imam Husain malu melihat kondisi dirinya dan tidak mampu memberi jawaban.

 

Dalam rombongan tawanan, Zainab bertindak sebagai penanggung jawab rombongan. Dia berusaha sedapat mungkin menyediakan segala kebutuhan kaum wanita dan anak-anak. Sayyidah Zainab menghibur mereka dalam setiap kesulitan, seperti kelaparan, kehausan dan mengalami tindakan pemukulan.

 

Sayyidah Zainab mulai dari awal hingga akhir memandang peristiwa Asyura sebagai keindahan. Khutbah Imam Husain, ungkapan loyalitasn para pengikut cucu Rasulullah ini, malam yang penuh dengan untaian doa dan bacaan al-Quran semuanya menunjukkan penghambaan tinggi dan derajat keridhoan (maqom ridho).

 

Darah suci tertumpah di Karbala dan sendi-sendi kelaliman hancur. Mereka yang menciptakan tragedi Karbala berpikir bahwa dengan membantai Ahlul Bait Nabi dan para penyeru kebenaran, akan dapat mencapai ambisinya. Namun dalam pandangan Sayyidah Zainab justru mereka telah mengungkap esensinya sendiri dan membuat citra Ahlul Bait semakin gemilang serta namanya menjadi abadi.

 

Kendati beliau harus kehilangan kakak yang amat dicintainya, anggota keluarga, sanak famili dan sahabat-sahabat setianya namun pada tragedi Karbala yang sangat memilukan hati itu, Sayyidah Zainab sa berkata: “Ya Allah, hamba bersabar atas segala ketentuan-Mu”. Setelah kesyahidan Imam Husain as beserta pasukannya yang berjumlah sangat sedikit itu dan rombongan tawanan akan diarak ke Kufah, beliau sempat berkata kepada Sang Kekasih sejatinya dengan ungkapan: “Ya Allah, terimalah persembahan ini dari kami”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa Sayyidah Zainab berada di maqom ridho dan menerima segala takdir dan qadha Allah Swt.

Selasa, 18 Oktober 2016 22:02

Dalam Bimbingan Imam Husein as (7)

Imam Husein as di Zuhur Asyura melaksanakan salat terakhirnya. Salat ini memberikan pesan penting kepada manusia hingga Hari Kiamat, bahwa perang, jihad dan pengorbanan beliau demi mempertahankan Islam. Karena salat merupakan tiang agama. Tanpa salat, agama tidak bermakna. Sebagaimana kemah tidak akan tegak tanpa tiang. Begitu juga seluruh perbuatan manusia akan diterima di sisi Allah dengan syarat salatnya diterima.

Imam Husein as mengajarkan manusia cinta kepada salat dan berdoa kepada Allah yang didapatkannya dari ayahnya. Ibnu Abbas di tengah-tengah perang Shiffin melihat Imam Ali as mengangkat kepalanya ke langit seakan-akan menanti sesuatu. Ibnu Abbas bertanya, “Wahai Amirul Mukminin! Apakah engkau mengkhawatirkan sesuatu?” Beliau menjawab, “Iya, saya menanti waktu salat.” Ibnu Abbas berkata, “Dalam kondisi genting seperti ini kita tidak bisa berhenti berperang dan menunaikan salat.” Imam  Ali melihatnya dan berkata, “Kita berperang untuk menegakkan salat.”

 

Imam Husein as menyampaikan slogan Haihata Minnadz Dzillah atau Pantang Hina di sore hari Tasua. Waktu itu pasukan musuh telah siap untuk berperang. Beliau berkata kepada saudara pemberaninya Abbas agar menemui musuh dan menyampaikan pesannya. Beliau berkata, “Carikan jalan bagaimana caranya perang diundur hingga besok. Malam ini saya ingin melakukan salat dan menyembah Allah Swt. Hanya Allah yang tahu betapa saya sangat menyukai salat, membaca al-Quran, banyak berdoa dan mengucapkan istighfar.”

 

Ucapan Imam Husein sangat bermakna. Salat dan berdoa kepada Allah Swt memberikan kemuliaan yang sangat besar kepada manusia. Itulah mengapa beliau meminta kalau bisa perang diundur hingga keesokan hari agar dapat melakukan salat dan berdoa.

 

Falsafah salat adalah merasa hadir di sisi Allah, menyatakan penghambaan, dan mengakui keesaan Allah dan keabadian-Nya. Hasil dari salat yang disertai makrifat seperti ini adalah perubahan, kebahagiaan dan mencapai kesempurnaan. Ketika seseorang melakukan salat dan merasa di hadapan Allah dan mengingat-Nya, maka hal ini dengan sendirinya akan mencegahnya dari berbuat maksiat.

 

Salat memiliki posisi yang sangat urgen bila dibandingkan dengan ibadah yang lain. Kewajiban semua ibadah agama seperti haji, puasa, zakat, khumus dan lain-lain memiliki syarat dan bila syarat itu tidak terpenuhi, maka kewajiban itu menjadi gugur dengan sendirinya. Tapi berbeda dengan kewajiban salat, dimana dalam kondisi apapun tidak dapat gugur. Kewajiban salat tetap harus dilakukan baik dalam bepergian atau tidak, sehat atau sakit, kaya atau miskin, perang atau damai dan dalam kondisi apapun.

 

Dalam ibadah salat yang berubah hanya kualitasnya. Sebagai contoh, ketika orang yang melakukan salat dalam kondisi lemah, Allah membolehkannya untuk melakukan salat dengan duduk atau berbaring. Atau dalam kondisi sedang bepergian, ia dapat melakukan salat dengan qashar. Bahkan ketika seseorang dalam kondisi tenggelam dan tahu waktu salat telah tiba, maka ia tetap wajib salat dengan hanya niat dan mengucapkan takbir.

 

Salat Zuhur di hari Asyura merupakan sebuah riwayat yang mampu mengguncang hati setiap orang. Salat yang dilakukan Imam Husein as sejatinya merupakan pengamalan terhadap ibadah paling penting ini. Udara yang demikian panas, rasa haus yang mencekik, anak panah yang menyerang dan kesedihan mereka yang kehilangan orang yang dikasihinya tidak dapat merusak kewajiban mulia ini. Apa yang dilakukan Imam Husein as telah menutup alasan orang-prang yang meninggalkan salat, sekaligus menekankan penting dan agungnya ibadah ini.

 

Di sisi lain, Imam Husein as dengan salat Zuhur di hari Asyura berhasil membuktikan kepada hati semua manusia yang sadar bahwa tujuan sebenarnya dari kebangkitan ini berlandaskan agama. Kepergian beliau dari Mekah ke Karbala merupakan upaya beliau dalam melaksanakan kewajiban agamanya. Imam Husein as bangkit bukan untuk urusan duniawi, tapi untuk menghidupkan kembali agama yang dibawa oleh kakeknya Rasulullah Saw.

 

Akhir salat Imam Husein as merupakan salat khusus yang dimulai dengan Takbiratul Ihram, qiraah, berdiri, ruku, sujud, tasyahhud dan salam. Salat yang takbirnya bersamaan dengan turun dari kuda. Berdirinya dilakukan setelah terjatuh. Ruku yang dilakukan akibat luka parah dan darah yang menetes di atas tanah. Sekalipun demikian, beliau tetap bangkit dari ruku dan melakukan qunut dengan doa terakhir.

 

Dalam doanya beliau mengucapkan, “Ya Ilahi! Wahai Zat yang derajatnya sangat tinggi! Kemurkaan-Mu kepada orang zalim sangat besar dan kekuatan-Mu lebih dari segala kekuatan. Tuhan yang tidak membutuhkan selain-Nya. Zat yang kuasa dalam keagungan-Nya. Ya Ilahi! Kami keluarga Nabi yang dicintai dan Engkau pilih. Mereka datang dengan jalan licik dan tipuan. Mereka tidak mau membantu kami. Mereka menggugursyahidkan kami demi kebenaran dan keadilan yang kami tuntut.”

 

Akhir sujud Imam Husein as dilakukan dengan wajah sucinya menyentuh tanah Karbala. Beliau kemudian membaca tasyahhud dan salam disertai ruh beliau yang keluar dari badan sucinya. Pada akhirnya kepala yang baru diangkat dari sujud menyempurna dengan terpisah dari badan dan ditancapkan ke tombak. Amalan setelah salat dilakukan beliau dengan membaca doa, zikir dan surat al-Kahfi. Semua yang ada di padang Karbala menyaksikan dan mendengarkan apa yang dibacakan Imam Husein as.

 

Umar bin Abdullah yang dikenal dengan Abu Tsumamah merupakan tokoh Syiah Kufah. Ia terkenal dengan keberanian dalam berperang. Ketika Muslim bin Aqil, utusan Imam Husein as tiba di Kufah untuk mengambil baiat masyarakat, Abu Tsumamah bertanggung jawab untuk mengumpulkan bantuan dan menyiapkan senjata. Setelah warga tidak lagi mendukung Muslim bin Aqil dan sebelum terjadi peperangan di Karbala, Abu Tsumamah pergi ke Karbala dan bergabung dengan para sahabat Imam Husein as.

 

Zuhur hari Asyura, Syimr dan pasukannya sudah begitu dekat dengan kemah-kemah. Ia mengangkat tombaknya dan mulai melubangi kemah yang ada. Para sahabat Imam Husein as berusaha sekuat tenaga untuk menghalau Syimr dan pasukannya. Pasukan Syimr tidak berhasil menyerang para sahabat Imam Husein as dari kiri dan kanan. Namun mereka kembali menyerang untuk menghakhiri sisa sahabat yang dengan gagah berani bertahan sekalipun dalam kondisi lelah dan haus.

 

Dalam kondisi yang demikian, Abu Tsumamah, mujahid pemberani asyura yang menyaksikan sudah banyak sahabat yang gugur syahid menemui Imam Husein as. Ia berkata, “Jiwaku untukmu! Musuh sudah dekat dan umurku sudah tidak berapa lama lagi. Harapanku dapat melaksanakan salat Zuhur ketika menemui Allah.” Imam menengadahkan kepalanya ke langit dan berkata, “Engkau mengingatkan tentang salat. Semoga Allah menjadikan engkau termasuk orang yang melaksanakan salat dan berzikir. Benar, sekarang waktu salat telah tiba.”

 

Imam Husein as memutuskan untuk melaksanakan Salat. Zuheir bin Qein dan Said bin Abdillah berdiri di depan Imam. Mereka menjadikan badannya sebagai perisai menghadapi anak panah musuh yang berdatangan dari segala arah. Imam Husein as melaksanakan salat dengan para sahabatnya yang masih tersisa. Ketika selesai menunaikan salat, Said bin Abdillah terjatuh akibat banyaknya anak panah yang tertancap di badannya.

 

Dalam kondisi itu ia sempat berkata, “Ya Allah! Tujuanku berkorban dan menanggung segala kesakitan ini untuk membantu keturunan Nabi-Mu.” Setelah itu ia membuka matanya menatap Imam Husein as dan berkata, “Wahai keturunan Rasulullah! Apakah saya telah melaksanakan kewajibanku terhadapmu?” Imam Menjawab, “Iya, engkau telah melaksanakan kewajibanmu. Engkau lebih dahulu memasuki surga terbaik dari aku.”

Selasa, 18 Oktober 2016 22:02

Dalam Bimbingan Imam Husain as (6)

Sejarah umat manusia dipenuhi dengan catatan peperangan. Di antaranya ada berbagai revolusi yang ditujukan untuk membela kebenaran dan keadilan. Banyak manusia yang rela mengorbankan diri dan orang yang mereka cintai untuk merealisasikan keadilan dan demi kebenaran, bahkan demi tujuan-tujuan Ilahi. Yang pasti siapa saja yang bangkit di jalan kebenaran dan berjuang, maka mereka akan mendapat pahala besar di sisi Allah.

Namun demikian sebagian orang seperti ini namanya bahkan terlupakan di sejarah dan sebagian lainnya hanya diingat kebaikannya. Di antara seluruh kebangkitan memperjuangan kebenaran, hanya kebangkitan Imam Husain as yang masih terus diingat, diperingati dan dikenang sepanjang tahun meski telah berlalu lebih dari 1400 tahun. Kebangkitan yang slogan dan nilai-nilainya senantiasa menjadi sumber inspirasi berbagai transformasi besar. Para pemuka agama menyebut rahasia abadinya kebangkitan Karbala adalah keikhlasan Imam Husain as dan para sahabatnya. Karena di sisi Tuhan perbuatan dan amal dianggap memiliki nilai besar ketika dikerjakan demi keridhaan-Nya.

 

Di al-Quran, seluruh perintah Ilahi disyaratkan dengan ikhlas dan niat mendekatkan diri kepada Allah. Seperti yang difirmankan Allah di al-Quran terkait jihad, “Mereka yang berjihad di jalan Tuhan” dan terkait syahadah Allah berfirman, “Mereka yang terbunuh di jalan Tuhan.” Terkait infak Allah berfirman, “Mereka yang mengifakkan hartanya di jalan Tuhan.” Selain itu, al-Quran terkiat Ahlul Bait menyatakan, “Dia memberikan makanannya, meski ia menyukainya, kepada orang miskin, yatim dan tawanan.” Kemudian al-Quran menambahkan, “Kami memberi makanan kepada kalian hanya karena Allah, dan kami tidak mengharapkan imbalan dan ucapan terima kasih dari kalian.”

 

Karakteristik unggul kebangkitan Imam Husain as adalah sisi keikhlasan dan demi Allah. Al-Quran menyebutkan, “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya' kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” Imam Husain terkait kebangkitannya mengatakan, “Sesungguhnya aku keluar hanyalah untuk menuntut perbaikan bagi umat kakekku, aku hendak melakukan amar makruf nahi munkar”.

 

Kebangkitan Imam Husain yang penuh keikhlasan ini didukung oleh para sahabat dan pengikut yang memiliki keikhlasan tinggi pula. Mereka yang tidak ikhlas dan mereka yang mengejar tujuan lain selain keridhaan Tuhan, benar-benar keluar dari konvoi suci ini. Jadi kelompok Imam Husain di perjuangan Padang Karbala telah dibersihkan dari anasir-anasir yang dapat merusak perjuangan suci ini. Dengan demikian perjuangan Imam Husain di Karbala kekal dan senantiasa di peringati serta diambil pelajaran oleh umat sepanjang sejarah, bahkan non muslim pun dengan rendah hati meneladani perjuangan manusia suci Ahlul Bait tersebut. Seiring berlalunya waktu, kebangkitan Asyura bukannya pudar dan ditelan sejarah, namun dari hari ke hari semakin bersinar cemerlang dan kian menarik simpati manusia pecinta kebebasan dan keadilan.

 

Ada satu ciri khas; bahwa kebangkitan Husain bin Ali as. adalah sebuah kebangkitan yang murni, tulus dan tanpa pamrih sedikitpun; demi Allah, demi agama dan demi perbaikan pada masyarakat Muslim. Ini adalah ciri khas pertama yang sangat penting. Ketika Imam Husain bin Ali as. mengatakan, "Aku tidak keluar melawan sebagai orang yang angkuh atau sombong; tidak pula sebagai orang yang zalim dan perusak".

 

Ini bukanlah unjuk diri; bukan pasang diri; bukan penuntutan sesuatu; bukan pamer diri. Dalam kebangkitan beliau, tidak ada sedikit pun kezaliman atau korupsi. Imam Husain melanjutkan, “"Akan tetapi, aku bangkit hanya untuk menuntut perbaikan dalam umat datukku". Ini satu poin yang sangat penting. ‘Innama' berarti hanya. Yakni, tidak ada niat dan maksud apa pun yang mencemari niat bersih dan pikiran cemerlang itu.

 

Model terunggul di sini adalah Imam Husain bin Ali as. Pada diri beliau, tidak ada egoisme, keakuan, hawa nafsu, kepentingan pribadi, ras dan kelompok. Ini ciri khas pertama dalam kebangkitan Imam Husain bin Ali as. Dalam suatu kegiatan yang sedang kita lakukan, maka semakin besar basis keikhlasan dalam diri kita, kegiatan itu akan menemukan nilai yang lebih besar lagi. Akan tetapi, semakin kita berpisah jauh dari poros keikhlasan, kita justru semakin dekat dengan hawa nafsu, egoisme dan bekerja untuk diri sendiri, memikirkan diri sendiri, kepentingan pribadi, ras dan semacamnya, dan jelas ini satu tipe lain. Antara keikhlasan mutlak dan egoisme mutlak, terdapat jarak yang besar. Semakin kita merenggang dari yang pertama dan mendekat kepada yang kedua, nilai kerja kita semakin kecil, berkahnya semakin sedikit, keutuhannya juga semakin kurang.

 

Inilah sifat dari duduk persoalan. Seberapa pun ketidak-ikhlasan itu ada, maka semakin cepat rusak. Kalau kerja itu tulus dan murni, pasti tidak akan pernah rusak. Kalau kita ambil perumpamaan dengan hal-hal inderawi, maka perhiasan ini emas seratus persen; ia tidak akan bisa rusak, tidak akan luntur. Akan tetapi, sebesar apa pun tembaga, besi dan logam-logam lainnya yang tercampur dalam perhiasan itu, maka tingkat kerusakannya dan kehancurannya semakin tinggi. Ini sebuah kaidah umum.

 

Ini dalam hal-hal yang terindera. Dalam hal-hal yang tak terindera, korelasi ini jauh lebih cermat dari itu. Sejauh pandangan yang materi dan yang biasa ini, kita tidak memahaminya, akan tetapi ahli hakikat dan mereka yang memiliki mata hati bisa memahaminya. Pengeritik hakikat masalah ini, penimbang tajam peristiwa ini adalah Allah SWT. "Pengeritik itu tajam pandangan." Jika ada sekadar mata jarum saja ketidakmurnian dalam pekerjaan kita, maka sekadar itu pula pekerjaan kita itu akan berkurang nilainya, dan Allah akan mengurangi tingkat keutuhannya. Pengeritik itu tajam pandangannya. Pejuangan Imam Husain as. salah satu perjuangan yang di dalamnya tidak ada semata jarum pun dari ketidakikhlasan.

 

Oleh karena itu, kita menyaksikan jenis [perjuangan] yang murni ini tetap utuh hingga sekarang, dan akan tetap utuh selama-lamanya. Siapa yang percaya bahwa setelah kelompok [pejuang] ini tewas terbunuh dalam keadaan terasing jauh di padang sahara itu, tubuh-tubuh mereka dimakamkan di sana, lalu [musuh-musuh] melancarkan segenap propaganda itu terhadap mereka, sedemikian rupa menumpas habis mereka, dan membakar kota Madinah pasca kesyahidan mereka - sebagaimana kisah Waq'ah Harrah yang terjadi pada tahun berikutnya - lantas taman ini diporakporandakan dan bunga-bunganya dipereteli, setelah semua ini ternyata masih ada orang yang mencium aroma air bunga dari taman ini?! Dengan kaidah fisis manakah peristiwa itu dapat ditafsirkan dimana daun sekuntum bunga dari taman itu tetap utuh segar di alam materi ini? Namun kita saksikan sendiri; semakin masa berlalu, aroma wangi taman itu semakin menyebar di dunia.

 

Banyak riwayat menyebutkan bahwa jika nyawa seseorang terancam, ia menggunakan hartanya untuk menghemat nyawanya. Namun juga Islam yang terancam, maka ia akan menggunakan nyawanya untuk melindungi agama. Oleh karena itu, untuk menjaga agama, segala pengorbanan diperbolehkan dan Imam Husain pun termasuk sosok seperti ini. Imam Husain meski menyadari akan nasibnya jika bertolak ke Karbala, namun menjaga agama lebih penting ketimbang nyawanya. Penyelewengan agama di pemerintahan Muawaiyah dan kemudian disusul Yazid mendorong Imam Husain untuk bangkit dan menyuarakan Islam hakiki meski harus ditebus dengan nyawa.

 

Ketika Imam Husain tiba di Karbala, beliau menulis surat kepada Habib bin Madhahir, salah satu sahabat Nabi dan pengikut dekat Imam Ali as. Di suratnya Imam Husain menjelaskan, “... Wahai Habib! Kamu mengetahui kedekatanku dengan Rasulullah dan lebih baik dari yang lain dalam mengenal kami. Di satu sisi kamu sangat mengenal rasa sakit dan sosok yang bersemangat. Oleh karena itu, jangan ragu-ragu membantu kami. Kakekku, Rasulullah di hari Kiamat kelak akan menghargaimu.”

 

Setelah membaca surat Imam Husain, Habib berpura-pura sakit untuk menghindari antek-antek Abdullah bin Ziyad. Bahkan di antara kabilahnya sendiri, Habib pun terus melanjutkan sandiwaranya tersebut, sehingga keputusannya tidak akan terungkap. Akhirnya Habib bersama pelayannya meninggalkan Kufah di tengah malam menuju Karbala.

 

Setibanya di Karbala, Habib menujukkan loyalitasnya kepada Imam Husain di medan perang. Ketika Habib menyaksikan bahwa pengikut Imam sedikit sedangkan musuh jumlahnya lebih banyak, ia menawarkan kepada Imam Husain untuk mencari bantuan. Ia berkata, “Di dekat sini ada kabilah Bani Asad. Ijinkan aku pergi ke mereka dan mengajaknya untuk membantu Anda. Semoga Allah memberi hidayah mereka.”

 

Setelah mendapat ijin dari Imam, Habib kemudian menuju perkemahan Bani Asad dan menyeru mereka untuk membela cucu Rasulullah. Kebanyakan dari Bani Asad menyambut seruan tersebut dan terkumpullah 70-90 orang. Mereka berencana menuju Karbala, namun mata-mata Umar Saad berada di antara mereka dan melaporkan kejadian tersebut kepada pemimpinnya. Umar Saad kemudian mengirim 500 penunggang kuda ke Bani Saad dan menghalangi mereka menuju Karbala. Meski Bani Saad gagal membantu Imam Husain di Karbala, pasca peristiwa Asyura mereka mendatangi bumi Karbala dan menguburkan jenazah para syuhada.

 

Di Karbala, Habib, muslim yang memiliki keimanan dan keikhalasan tinggi ini bertempur dengan gagah berani di usinya yang lanjut membela putri Fatimah. Setelah bertempur cukup lama dan berhasil membantai musuh-musuh keluarga Nabi, Habib pun tersungkur dan mereguk cawan syahadah. Ketika Imam Husain tiba di sisi jenazah Habib, beliau bersabda, “Saya mengharapkan pahala dari Allah bagi para pengikutku.”

Selasa, 18 Oktober 2016 22:01

Dalam Bimbingan Imam Husein as (5)

Imam Husein as adalah pewaris seluruh keutamaan dan akhlak mulia Rasulullah Saw. Sama seperti kakeknya, beliau sangat tersiksa dan tidak dapat berdiam diri menghadapi penyimpangan dalam masyarakat. Penyaksian penyimpangan masyarakat di jalan kebatilan dan kekufuran, menciptakan duka yang mendalam di hati beliau. Oleh karena itu, meski beliau tahu bahwa musuh tidak akan mendengarkan ucapannya, beliau tetap menyampaikan bimbingan dan nasehat hingga detik akhir kehidupannya.

Rasulullah Saw tersiksa menyaksikan kebodohan dan penyimpangan dalam masyarakat sebagaimana dijelaskan Allah Swt dalam firmannya dalam surat Al-Syuara ayat tiga: "Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman." Dan Imam Husein as adalah buah dari risalah. Dia adalah pewaris Rasulullah Saw dan bagian dari wujud beliau, sebagaimana dalam hadis Rasulullah Saw disebutkan, "Husein bagian dariku dan aku bagian dari Husein."

 

Pada hari Asyura, Imam Husein as selalu menasehati dan memberikan bimbingan kepada musuh, yaitu mereka yang bahkan mencegah keluarganya mendapatkan air. Di hadapan riuh dan keributan di barisan musuh, Imam Husein as, sebagai pemimpin umat, tidak berhenti menasehati mereka. Nasehat yang setiap kata di dalamnya mengandung makna yang sangat dalam.

 

Bahkan beliau menasehati para panglima pasukan Yazid yang memiliki catatan kejahatan panjang. Tujuan Imam Husein as adalah menyelamatkan manusia-manusia yang telah menjual jiwa mereka dan orang-orang yang akan mendapatkan azab dan siksa neraka dengan membunuh cucu Rasulullah Saw. Pada hari Asyura, dalam pertemuan dengan Omar bin Saad, panglima pasukan Yazid, Imam Husein as berkata, "Celakalah kau wahai putra Saad! Apakah kau tidak takut pada Tuhanmu yang kau akan kembali kepada-Nya? Apakah kau akan memerangiku meski kau tahu putra siapa aku? Tinggalkanlah kaum itu dan bersamalah denganku sehingga kau akan dekat dengan Allah Swt!"

 

Ucapan peduli Imam Husein as meski tidak berpengaruh pada mayoritas pasukan keji Yazid, akan tetapi ada orang-orang yang kemudian bergabung dengan pasukan Imam Husein as dan menggapai keridhoan Allah Swt dan kebahagian abadi. Ini adalah cara yang ditempuh pewaris Rasulullah di mana pada saat-saat genting, beliau tidak melupakan hidayah untuk umatnya.

 

 

Imam Husein as adalah buah pohon risalah di mana sirah akhlaknya memberikan gambaran jelas nilai-nilai luhur Al-Quran. Dia adalah teladan keutamaan, kemuliaan dan kepahlawanan bagi kawan dan lawan. Lautan kepahlawanan dan kemuliaan Imam Husein as tidak dapat dituangkan melalui otak dan pena kita yang kecil. Akan tetapi keluhuran dan kemuliaan jiwa Imam akan memuaskan jiwa-jiwa manusia yang dahaga.

 

Dalam sejarah disebutkan seorang laki-laki asal Syam menyimpan dendam dan permusuhan terhadap Imam Husein as karena terpengaruhi propaganda keji Muawiyah terhadap Ahlul Bait Nabi as. Dia tiba di Madinah. Ketika berhadapab dengan Imam Husein as, dia langsung menghina dan melontarkan kata-kata tidak sopan. Imam Husein as menatapnya dengan penuh kasih sayang dan berkata, "Jika kau meminta bantuan dari kami, kami akan membantumu, jika kau menginginkan sesuatu, kami akan memberikannya padamu, dan jika kau menginginkan bimbingan dan hidayah, kami akan membimbingmu." Lelaki itu merasa malu mendapat jawaban Imam Husein as. Beliau menyaksikan penyesalan itu dan berkata, "Tidak ada celaan dan hardikan untukmu, semoga Allah Swt mengampunimu, karena Dia-lah Yang Maha Pengasih." Lelaki itu merasa sangat malu dan meninggalkan majlis Imam Husein as itu. Namun kali ini dengan hati penuh kecintaan pada Ali as dan Ahlul Bait as.

 

Manifestasi terindah kepahlawanan Imam Husein as dapat disaksikan melalui perilaku beliau yang sangat mempesona di padang Karbala. Rombongan Imam Husein as dalam perjalanan menuju Kufah berpapasan dengan pasukan yang dipimpin Hur bin Yazid Ar-Riyahi.  Mereka diperintahkan untuk mencegat Imam Husein as beserta rombongannya dan menahan mereka di sebuah wilayah yang kering tanpa air. Namun pasukan Hur sendiri juga telah kehabisan air. Imam Husein as memerintahkan para sahabat dan keluarga beliau untuk berbagi air dengan pasukan Hur.

 

Seorang tentara dari pasukan Hur yang tiba paling akhir, sedemikian haus dan lemas tubuhnya bahkan tidak mampu turun dari kuda untuk meminum air. Imam Husein as menyaksikan hal itu dan beliau sendiri yang memberikan air ke mulut tentara itu. Akan tetapi pada hari Asyura, mereka bahkan tidak mengijinkan bayi Imam Husein as yang barus berusia enam bulan untuk minum air. Bahkan mereka melesatkan panah ke leher bayi yang sedang berada di tangan ayahnya.

 

Pada hari Asyura, Imam Husein as menampilkan puncak keberanian dan kepahlawanan beliau di hadapan puncak kehinaan musuh. Sebuah pemandangan yang mengingatkan masyarakat pada kepahlawanan Ali as di medan pertempuran. Tamim bin Qahtabah, salah satu tentara handal pasukan musuh, kehilangan salah satu kakinya ketika berduel dengan Imam Husein. Tamim yang menyaksikan kematian di depan matanya, langsung meminta belas kasihan dari Imam Husein as. Imam pun mengabulkannya dan membiarkan musuh menggotongnya kembali ke barisan musuh. Peristiwa ini terjadi di sat Imam Husein as dan keluarga Nabi sedang dirundung duka besar karena kejahatan pasukan Yazid. Akan tetapi Imam Husein as tetap menunjukkan belas kasihan kepada musuhnya yang sama sekali tidak menunjukkan belas kasih kepada beliau dan keluarganya.

 

Ketika seluruh sahabatnya telah berguguran di medan pertempuran, Imam Husein as menyaksikan kesyahidan seluruh putra-putranya, dan kini giliran beliau yang harus terjun ke medan tempur. Namun sebelum itu, Imam kembali menyampaikan hidayah terlebih dahulu dan berseru, "Apakah ada orang yang akan membela keluarga Rasulullah Saw? Apakah ada penyemah Allah Swt yang takut akan murka-Nya karena kami? Apakah ada penolong yang akan menolong kami demi keridhoan Allah? Apakah ada yang membatu kami demi keridhoan Allah Swt?"

 

Setelah seruan penuh kesedihan Imam Husein as itu terdengar musuh, suara tangis mereka menggelegar. Rasulullah Saw kembali ke perkemahan beliau dan berkatan kepada Sayyidah Zainab, "Bawakan putra kecilku (Ali Asghar) agar aku berpisah dengannya."

 

Imam Husein as memeluk erat putaranya di saat Sayyidah Zainab as berkata, "Wahai saudaraku! Anak ini sudah lama tidak menyentuh air. Mintalah sedikit air untuknya dari pasukan itu."

 

Imam Husein as membawa putranyanya itu mendekati musuh. Beliau menjunjungnya sambil berseru: "Hai para pengikut keluarga Abu Sufyan, jika kalian menganggapku sebagai pendosa, lantas dosa apakah yang diperbuat oleh bayi ini sehingga setetes airpun tidak kalian berikan untuknya yang sedang mengerang kehausan."

 

Sungguh biadab, tak seorangpun di antara manusia iblis itu yang tersentuh oleh kata-kata Imam Husein. Yang terjadi justru keganasan yang tak mengenal sama sekali rasa kasih sayang dan nilai-nilai kemanusiaan.

 

Tangisan Ali Asghar terus memuncak. Ia seperti tahu penderitaan yang dialami ayahnya sendiri. Namun tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menangis. Dalam kondisi mengenaskan itu, tiba-tiba Umar Saad pimpinan komando musuh mengarahkan pandangannya kepada pasukannya.

 

Ketika itu, seseorang bernama Harmalah bin Kahil Al-Asadi menarik anak panah dan membidikannya menuju Ali Asghar. Melihat ulah serdadu musuh itu, Imam Husein berteriak, "Jika kamu tidak mengasihaniku, setidaknya kasihanilah bayi ini." Namun perkataan Imam Husein itu tidak memengaruhi Harmalah. Bahkan ia mengarahkan anak panah menuju Ali Ashgar.

 

Anak panah Harmala melesat ke arah Ali Asghar. Tidak berapa lama bayi malang itu menggelepar di atas telapak Imam Husein yang tak menduga akan mendapat serangan sesadis itu, sehingga tak sempat berkelit atau melindunginya dengan cara apapun. Beliau tak dapat berbuat sesuatu hingga bayi itu diam tak berkutik setelah anak panah itu menebus lehernya. Ali Akbar telah gugur syahid dalam kondisi yang kehausan. Darah segar mengucur dari lehernya hingga menggenangi telapak tangan ayahnya.

 

Dengan hati yang tersayat-sayat, Imam berkata, "Ya Allah! Hakimi antara kami dan kaum ini. Mereka mengundang kami untuk membantu, akan tetapi mereka bertekad membunuh kami."

 

Imam Husein as memenuhi telapak tangannya dengan darah putranya kemudian melemparkannya ke arah langit seraya berkata, "Setiap musibah yang aku alami, mudah bagiku untuk bersabar karena semuanya disaksikan Allah Swt." Setelah itu beliau turun dari kudanya dan dengan sarung pedangnya, beliau menggali tanah dan menguburkan putranya.