کمالوندی

کمالوندی

Senin, 26 Oktober 2015 09:59

Imam Sajjad Pelanjut Asyura

Tanggal 12 Muharam merupakan hari syahadah Imam Sajjad as. Dua hari pasca peringatan Asyura. Imam Sajjad as sebagai saksi mata pembantaian Karbala setelah peristiwa itu bertanggung jawab memimpin umat Islam. Beliau adalah Ali bin al-Husein as yang lebih dikenal dengan panggilan Sajjad. Pada peristiwa Karbala, beliau ditakdirkan oleh Allah Swt sebagai salah satu orang yang hidup demi melanjutkan pesan Asyura.

Sebagaimana telah diketahui, Imam Sajjad as adalah anak Imam Husein as yang lahir pada tahun 36 Hijriah. Beliau hidup hingga usia 57 tahun. Periode penting dalam hidup beliau dimulai di masa Imamah-nya pasca syahadah Imam Husein as. Ketika peristiwa Karbala terjadi, beliau dalam keadaan sakit. Itulah mengapa beliau waktu itu tidak pergi ke medan perang.

Hamid bin Muslim, sejarawan Karbala menulis, “Di hari Asyura, pasca kesyahidan Imam Husein as, pasukan Yazid mendatangi Ali bin Husein as yang tengah berada di atas pembaringan karena sakit. Mereka mendapat perintah untuk membunuh seluruh laki-laki dari keluarga Imam Husein as. Kedatangan mereka dengan niat membunuhnya. Tapi ketika melihatnya dalam kondisi sakit, mereka kemudian membiarkannya. Jelas di balik penyakit beliau di hari Asyura tersimpan rahasia ilahi, agar dapat melanjutkan jalan ayahnya.”

Pasca tragedi Karbala dan kesyahidan Imam Husein as, kondisi masyarakat Islam memasuki periode sensitif. Dari satu sisi, pelbagai dimensi kebangkitan Imam Husein as harus dijelaskan kepada masyarakat, sekaligus menghadapi propaganda bohong Bani Umayah. Sementara dari sisi lain, perjuangan melawan penyimpangan akidah dan moral harus dilakukan demi menegakkan nilai-nilai agama.

Dalam kondisi yang demikian, Imam Sajjad as menjalankan pelbagai programnya dengan mengatur skala prioritas. Pada awalnya, beliau menerapkan program jangka pendek untuk menenangkan kondisi penuh ketegangan pasca syahadah ayahnya. Dalam program ini, beliau menyampaikan pidato mencerahkan akan kebenaran jalan dan tujuan Imam Husein as. Sementara untuk program jangka panjang, beliau berusaha memperkaya pemikiran dan akhlak masyarakat Islam dengan mengajarkan ajaran murni Islam disertai prinsip-prinsip akidah.

Dalam peristiwa pasca Asyura disebutkan, pada 12 Muharam 61 Hijriah, rombongan tawanan Karbala yang terdiri dari perempuan dan anak-anak tiba di kota Kufah. Di antara tawanan itu ada dua pribadi agung; pertama Imam Sajjad as dan Sayidah Zainab as. Keberadaan keduanya mampu menenangkan para tawanan Karbala. Ketika rombongan memasuki kota Kufah, sudah banyak orang berkumpul di sana. Imam Sajjad as memanfaatkan kesempatan ini dengan menyampaikan pidatonya.

Beliau berkata, “Wahai warga Kufah! Saya Ali anak Husein. Anak dari orang yang kalian hancurkan kehormatannya. Ingat bahwa Allah Swt menyebutkan kebaikan kami Ahlul Bait. Kemenangan, keadilan dan ketakwaan bersama kami, sementara kesesatan dan kehancuran berada pada musuh kami. Apakah kalian tidak menulis surat berisi baiat kepada ayahku? Tapi kalian licik setelah itu dan bangkit menentangnya. Betapa perilaku dan pikiran kalian sangat buruk. Bila Rasulullah berkata mengapa kalian membunuh keturunanku, menghancurkan kehormatanku dan bukan umatku, bagaimana rupa kalian menangis di hadapannya?”

Di lain waktu, ketika tiba di Syam (Suriah saat ini), pusat kekuasaan Yazid, beliau menyampaikan pidato. Sedemikian tegas pidato yang disampaikan, sehingga pemerintah Bani Umayah menghadapi kondisi yang tidak pernah diprediksi sebelumnya. Pidato beliau sangat mempengaruhi opini masyarakat waktu itu. Pidato Imam Sajjad as dan Sayidah Zainab as di istana Yazid mampu menyadarkan masyarakat, sehingga sebagian orang setelah mendengar langsung bangkit memrotes Yazid.

Dalam pidatonya, beliau berkata, “Wahai warga Syam! Barang siapa yang mengenalku, berarti telah mengenalku. Tapi mereka yang tidak tahu siapa saya, perlu mengetahui bahwa saya putra dari sanjungan kalian. Pribadi yang paling baik dalam menunaikan haji. Putra dari orang yang pergi Mi’raj bersama Jibril dan shalat bersama para malaikat. Ia sang penerima wahyu. Saya putra wanita terbaik di dua dunia, Fathimah az-Zahra as. Saya putra orang yang syahid berlumuran darah di tanah Karbala.”

Ketika pidatonya sampai pada ucapan tersebut, masyarakat yang mendengarnya sangat terpengaruh, sehingga sebagian berteriak sedih. Pidato yang menjelaskan hakikat dirinya mampu membangkitkan kebencian masyarakat kepada Bani Umayah. Yazid yang menyaksikan kondisi berubah dari yang diinginkannya sangat khawatir. Untuk menghentikan pidato Imam Sajjad as dan mengubah keadaan, ia memerintahkan seseorang untuk mengumandangkan azan.

Ketika mendengar suara azan, Imam Sajjad as diam mendengarkannya. Ketika ucapan muazin sampai pada kalimat “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, dengan segera Imam Sajjad as menatap Yazid. Beliau berkata, “Apakah Nabi yang disebutkan dalam azan itu kakekku atau kakekmu? Bila engkau menjawab itu adalah kakekku, semua orang tahu bahwa engkau telah berdusta. Dan bila engkau mengatakan itu adalah kakekmu, lalu apa dosa ayahku yang merupakan cucu Nabi Saw, sehingga kau bunuh, hartanya kau rampas dan istrinya kau tawan? Betapa celakanya engkau di Hari Kiamat!”

Disebutkan bahwa Ahlul Bait Imam Husein as di pertemuan itu membawakan kidung kesedihan tentang Imam Husein as dan syuhada Karbala. Yazid yang berusaha memanfaatkan kondisi tersebut untuk meningkatkan popularitasnya ternyata harus menerima kenyataan yang lain. Tapi tetap saja berusaha untuk membohongi masyarakat. Yazid mengubah strateginya dengan mencoba mendekat para tawanan dan memberikan penghormatannya kepada mereka.

Yazid jelas takut masyarakat bangkit melawan kekuasaannya. Oleh karenanya ia berusaha menenangkan para tawanan. Menurutnya, apa yang dilakukannya dapat menutupi dosanya. Untuk itu ia menerima permintaan para tawanan membacakan kidung kesedihan tentang Imam Husein as dan syuhada Karbala.

Yazid mempersiapkan sebuah tempat bernama Dar al-Hijarah. Para tawanan selama sepekan berada di sana membacakan kidung kesedihan. Masyarakat mulai berdatangan dan perlahan-lahan masyarakat semakin tahu akan hakikat kebangkitan Imam Husein as. Yazid semakin ketakutan menyaksikan apa yang terjadi. Ia terpaksa memindahkan para tawanan ke Madinah.

Di Madinah, Imam Sajjad as kembali melaksanakan tanggung jawab yang diembannya. Masyarakat Madinah menyambut mereka. Di tengah masyarakat Madinah, Imam Sajjad as naik ke mimbar dan menyampaikan pidatonya.

Setelah mengucapkan puji-pujian kepada Allah Swt, beliau berkata, “Wahai warga Madinah! Allah Swt menguji kami dengan musibah yang agung. Tidak ada musibah yang dapat menyamainya. Wahai warga Madinah! Siapa yang hatinya dapat bergembira ketika mendengar tragedi besar ini? Hati siapa yang tidak sedih setelah mengetahui kesyahidan Husein bin Ali as? Mata siapa yang tidak menangis? Kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari musibah luar biasa ini. Kami mengorbankan jiwa di jalan Allah demi menghadapi segala musibah. Karena kami tahu Allah akan membalas semuanya.”(

Taubat Penyelamat Manusia

Allah Swt berfirman:

“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 98)

Sekalipun surat Yunus menjelaskan secara detil tentang sejarah Nabi Nuh dan Musa as, tapi surat ini tetap dinamakan surat Yunus. Padahal dalam surat ini hanya memuat kisah kaum Nabi Yunus as yang bertaubat dan itupun disinggung hanya dalam satu ayat. Walaupun demikian, penamaan surat ini dengan surat Yunus mungkin disebabkan pentingnya apa yang dilakukan oleh kaum Nabi Yunus as. Karena pada akhirnya bertaubat dan Allah Swt menerima taubat mereka.

Imam Shadiq as berkata, “Nabi Yunus as berdakwah kepada kaumnya sejak usia 30 hingga 63 tahun, tapi hanya dua orang yang beriman kepada apa yang dibawanya. Nabi Yunus as kemudian melaknat mereka lalu pergi meninggalkan kaumnya. Satu dari dua orang yang beriman kepada beliau adalah seorang bijaksana dan berilmu. Ketika menyaksikan Nabi Yunus as melaknat kaumnya dan pergi meninggalkan mereka, ia naik ke tempat yang agak tinggi dan memperingatkan mereka. Warga yang mendengar ucapannya menyadari kesalahan yang selama ini dilakukan dan dengan  petunjuknya mereka bergerak ke luar kota. Mereka berusaha menjaga jarak dengan anak-anaknya lalu mulai bermunajat kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, hingga Allah Swt menerima taubat mereka. Nabi Yunus as kembali ke kota itu, tapi menemukan warganya tidak binasa. Beliau terkejut dan bertanya apa yang terjadi. Mereka menjelaskan kepada Nabi Yunus as apa yang terjadi sepeninggalnya.”[1]

Benar, sekalipun manusia telah berada di bibir jurang, tapi ia masih dapat menolong dirinya sendiri. Karena iman dan taubat pada waktunya dapat menyelamatkan manusia dari kemurkaan ilahi dan membatalkan azab, sekaligus menjadikan manusia bahagia.

Dalam sejarah kaum nabi-nabi terdahulu yang mendustakan ucapan mereka hanya kaum Nabi Yunus as yang bertaubat pada waktunya lalu beriman kepada apa yang diajarkannya, sehingga dapat selamat dari azab ilahi.

Sumber: Mohsen Qaraati, Daghayeghi ba Quran, Tehran, Markaz Farhanggi Darsha-i az Quran, 1388 Hs, cet 1.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran urusan Arab dan Afrika menyatakan aksi terpenting yang harus diambil di Suriah adalah mengontrol perbatasan tetangga negara ini, dan keseriusan untuk memberantas terorisme sebagai pertimbangan penting dalam proses politik.

Hossein Amir Abdolahian dalam wawancara dengan wartawan IRIB menyikapi pertemuan menteri luar negeri AS, Rusia, Arab Saudi dan Turki di Wina yang membahas krisis Suriah yang digelar hari Jumat (23/10).

“Kini semua pihak harus mendukung penguatan proses politik di Suriah. Sebab pada akhirnya rakyat negara inilah yang akan menentukan masa depan negerinya,“ ujar wakil Menlu Iran Urusan Arab dan Afrika, hari Jumat.

“Sejumlah negara hingga saat ini memainkan peran negatif di Suriah dengan memperkuat terorisme, dan kini kita harus memikirkan peran konstruktif di Suriah,“ tegas Abdolahian.

Iran, tutur Abdolahian, mendukung langkah PBB dan aksi Rusia dalam menumpas teroris di Suriah.

Menurutnya, Iran melakukan lobi dengan Uni Eropa, negara-negara regional dan menegaskan urgensi memusatkan solusi politik yang realistis di Suriah.(

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran mengecam serangan bom di Provinsi Sindh, Pakistan.

Marzieh Afkham dalam statemennya mengecam pemboman di Provinsi Sindh Pakistan yang menewaskan lebih dari 30 orang. Demikian dilaporkan kantor diplomasi media Kemlu Iran, Sabtu (24/10/2015).

Ia mengucapkan belasungkawa kepada pemerintah dan rakyat Pakistan terutama kepada para keluarga korban serangan tersebut.

Afkham menyebut para pelaku serangan bom di Provinsi Sindh sebagai musuh bangsa Pakistan dan umat Islam.

Jubir Kemlu Iran lebih lanjut mengungkapkan harapan para pelaku teror tersebut dapat ditangkap dan diadili atas kejahatannya.

Pada Kamis malam, ledakan bom terjadi ketika jemaah Muslim Syiah Pakistan sedang menunaikan shalat Maghrib di Provinsi Balochistan.

Aksi tersebut setidaknya menewaskan 10 orang, dan menciderai 13 lainnya, termasuk anak-anak

Kelompok teroris Lashkar-e-Jhangvi mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Lashkar-e-Jhangvi telah berulangkali melancarkan aksi teror terhadap Muslim Syiah Pakistan, terutama di bulan Muharam.

Pada hari Jumat kembali terjadi serangan bom di hari duka Tasua, 9 Muharam, di Provinsi Sindh yang merenggut nyawa setidaknya 20 orang.

Pejabat Humas Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengabarkan peningkatan jumlah penasihat militer Iran di Suriah menyusul babak baru trasformasi di medan tempur untuk memberantas kelompok-kelompok teroris Takfiri di negara Arab itu.

Brigadir Jenderal Ramadhan Sharif dalam wawancara dengan FNA, Sabtu (24/10/2015) membantah isu kematian 15 pasukan IRGC di Suriah.

Ia mengatakan, pada Kamis dan Jumat, dua anggota pasukan Ansar gugur syahid.

Brigjen Sharif lebih lanjut mengucapkan belasungkawa kepada keluarga-keluarga Syuhada yang gugur dalam peperangan melawan teroris.

Deputi sumber daya manusia Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Iran, Brigjen Mohammad Hassan Baqeri menyatakan, “Pasukan angkatan bersenjata di semua sektor darat, udara dan laut, memiliki kemampuan memadai untuk menjawab segala bentuk ancaman di semua titik.”

Kantor berita IRNA melaporkan, Baqeri pada Sabtu malam (24/10/2015) mengatakan, “Menyusul upaya dan kerja keras para pejuang Islam, Angkatan Bersenjata Republik Islam lebih siap dari kapan pun.”

Baqeri mengatakan, “Pasukan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, dengan instruksi dari Panglima Besar (Rahbar), siap untuk melaksanakan tugasnya di setiap titik dan kapan pun juga dalam menghadapi ancaman musuh dengan sebaik-baik dan ini merupakan titik kekuatan Angkatan Bersenjata Iran.”

Pejabat militer Iran ini mengatakan, “Setan besar Amerika Serikat dan pihak-pihak dependennya telah mengerahkan semua yang mereka miliki untuk menghadang kebangkitan Islam dan sekarang ISIS dengan dukungan kaum imperialis, ingin mencoreng citra Islam di mana itu semua tidak lebih dari ilusi.”

Deputi urusan Internasional, Menteri Perminyakan Iran mengatakan, dalam kontrak-kontrak minyak baru Tehran, perusahaan-perusahaan asing harus memiliki sebuah mitra Iran.

Mehr News (25/10) melaporkan, Amir Hossein Zamani Nia, Ahad (25/10) menjelaskan syarat baru Iran untuk memulai kerja sama dengan perusahaan besar internasional di era pasca sanksi.

Ia menambahkan, “Salah satu syarat Kementerian Perminyakan Iran dalam kontrak-kontrak barunya bagi perusahaan-perusahaan internasional untuk masuk ke industri minyak Iran, harus dimilikinya satu mitra Iran agar selain investasi, perusahaan-perusahaan dalam negeri pun bisa diperkuat.”

Menurut Zamani Nia, tujuan diterapkannya syarat ini adalah alih teknologi dan sains ke dalam Iran.

“Hingga kini perusahaan-perusahaan dari Austria, Italia, Jerman, Perancis, Spanyol dan Inggris sudah berkunjung ke Iran untuk melakukan negosiasi. Pasalnya, peluang-peluang yang baik untuk investasi di industri minyak Iran, terbuka lebar,” paparnya.

Industri minyak dan gas Iran, kata Zamani Nina, bagi perusahaan-perusahaan internasional memiliki sejumlah daya tarik. Daya tarik ini membawa pengaruh yang baik untuk perekonomian dan politik Iran.

Deputi urusan internasional, Menteri Perminyakan Iran juga menuturkan, dengan diimplementasikannya kesepakatan nuklir dua bulan mendatang, perusahaan-perusahaan Iran dan asing, dapat merealisasikan penandatanganan kontrak-kontrak kerja sama.

Menteri Komunikasi dan Teknologi Iran mengabarkan perluasan kerja sama Tehran-Moskow di bidang internet dan peluncuran satelit nasional.

IRNA (25/10) melaporkan, Mohammad Waezi, Ahad (25/10) di sela pertemuannya dengan Nikolay Nikiforov, Menteri Komunikasi dan Media Rusia di Tehran, menyinggung pertemuan internasional tentang internet yang akan digelar di markas PBB.

Ia menuturkan, “Dalam pertemuan dengan Menteri Komunikasi dan Media Rusia disepakati, dua negara akan bekerjasama untuk mematahkan dominasi Amerika Serikat di bidang internet.”

Waezi menjelaskan bahwa kerja sama bilateral Tehran-Moskow akan diperluas. “Langkah pertama, kedua negara masing-masing membuka radar-radarnya,” kata Waezi.

Menteri Komunikasi dan Teknologi Iran menekankan peningkatan level kerja sama pusat sains, riset dan universitas Iran-Rusia.

“Terkait hal ini, kedua negara akan memasarkan produk-produknya di pasar ketiga,” pungkasnya.

Juru Bicara Badan Energi Atom Iran mengabarkan penyusunan akurat kontrak pertukaran uranium antara Iran dan Rusia.

Mehr News (25/10) melaporkan, Behrouz Kamalvandi, Jubir Badan Energi Atom Iran menegaskan bahwa pertukaran uranium dengan Rusia berdasarkan syarat-syarat yang ditetapkan oleh Pemimpin Revolusi Islam Iran atau Rahbar.

Ia menuturkan, “Terkait bahan pengayaan uranium yang diberikan Iran kepada Rusia, dan sebaliknya bahan yang diterima Iran, dapat dipastikan sesuai dengan isi kontrak yang disepakati.”

Kamalvandi menjelaskan, “Sudah diupayakan agar kontrak-kontrak antara Iran dan Rusia ditandatangani sedemikian rupa sehingga menutup kemungkinan munculnya masalah dan kesalahpahaman.”

Ayatullah Khamenei, Rahbar, baru-baru ini dalam suratnya untuk Presiden Iran mengumumkan syarat-syarat pelaksanaan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

Dalam surat Rahbar disebutkan, langkah-langkah modernisasi pabrik-pabrik di Arak dengan menjaga identitas air beratnya, hanya bisa dimulai jika kontrak pasti dan dapat dipercaya terkait program alternatif serta jaminan yang cukup untuk melaksanakannya, ditandatangani.

Dalam surat tersebut juga dijelaskan, transaksi uranium terkayakan untuk ditukar “kue kuning” (Yellowcake) atau urania dengan negara asing, dapat dimulai jika kontrak dapat dipercaya dalam masalah ini, ditandatangani dengan jaminan yang cukup.

Senin, 26 Oktober 2015 09:47

Pesan Haji Rahbar 1436 H

بِسم الله الرحمن الرحیم

والحمد لله رب العالمین و الصلاه و السلام علی سید الخلق اجمعین محمد و آله الطاهرین و صحبه المنتجبین و علی التابعین لهم باحسان الی یوم الدین
 

Dan salam sejahtera untuk Ka’bah yang mulia, poros tauhid dan pusat tawaf orang-orang Mukmin, serta tempat turunnya para malaikat, dan salam sejahtera untuk Masjidul Haram, Arafah, Mash’ar dan Mina, dan salam sejahtera untuk kalbu-kalbu khusyu’, lidah-lidah yang berzikir, mata-mata yang terbuka menuju keinsafan, benak-benak yang telah memahami pelajaran masa lalu; dan salam untuk kalian para hujjaj berbahagia yang berkesempatan mengucap Labbaik menjawab seruan Allah dan duduk di  jamuan penuh nikmat ini.

Tugas pertama adalah perenungan dalam "labbaik" global, historis dan konstan ini.

 

إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ  لَبَّيْكَ

Segala puja dan puji adalah milik-Nya, semua nikmat dari-Nya, dan seluruh kekuasaan dan kekuatan adalah milik-Nya. Inilah perspektif yang diberikan kepada pelaksana haji pada langkah pertama kewajiban penuh bobot dan makna ini, dan kelanjutan manasik ini, terbentuk seirama dengannya, dan kemudian diletakkan di hadapannya bak pendidikan yang kekal dan pelajaran yang tidak mungkin terlupakan, dan dia akan dituntut untuk menyusun program hidup berasaskan hal itu. Menimba pelajaran besar ini dan pengamalannya, bagaikan sumber penuh berkah yang dapat memberikan kesegaran, kegairahan dan dinamika dalam hidup umat Muslim serta membebaskan mereka dari berbagai kesulitan yang menjerat—sekarang dan di setiap periode.

Berhala keegoisan, kesombongan, hawa nafsu, berhala hegemoni dan kepatuhan pada hegemoni, berhala imperialisme global, berhala kemalasan dan ketidakbertanggungjawaban serta semua berhala yang menghinakan jiwa mulia manusia, akan termusnahkan dengan seruan Ibrahim ini, jika muncul dari lubuk hati yang terdalam dan menjadi program hidup, seta kebebasan, kemuliaan dan keselamatan akan menggeser ketergantungan, kesulitan dan penderitaan.

Saudara dan saudari pelaksana haji, dari bangsa dan negara manapun, hendaknya merenungkan kalimat penuh hikmah ilahi ini dan dengan pandangan teliti terhadap berbagai masalah dunia Islam khususnya di Asia Barat dan Afrika Utara, hendaknya mereka merenungkan tugas dan tanggung jawab untuk diri mereka berdasarkan kapasitas, fasilitas individu dan lingkungan, serta sungguh-sungguh mengupayakannya.

Dewasa ini, politik jahat Amerika Serikat di wilayah ini yang menjadi penyebab perang, pertumpahan darah, kerusakan, pengungsian, dan juga kemiskinan, keterbelakangan serta perselisihan etnis dan mazhab di satu sisi, dan kejahatan rezim Zionis yang telah menyampaikan perilaku penjajahan di negara Palestina hingga ke puncak kebuasan dan kekejian, penistaan repetitif atas wilayah suci Masjid al-Aqsa, serta pemusnahan nyawa dan harta warga tertindas Palestina di sisi lain, masalah  utama kalian semua umat Islam adalah harus memikirkannya dan mengetahui tugas-tugas islami kalian di hadapan itu semua. Dan para ulama agama serta para elit politik dan budaya memiliki tugas lebih berat yang sayangnya kerap mereka abaikan. Para ulama alih-alih mengobarkan api perpecahan mazhab, dan para politisi daripada pasif di hadapan musuh, serta para elit budaya ketimbang sibuk pada isu-isu marginal, hendaknya mengidentifikasi penderitaan besar dunia Islam serta menerima dan melaksanakan tugas  yang akan mereka pertanggungjawabkan di hadapan keadilan Allah Swt. Berbagai peristiwa memilukan di kawasan, di Irak, Suriah, Yaman, Bahrain, Tepi Barat Sungai Jordan, Jalur Gaza, dan sejumlah wilayah lain di negara-negara Asia dan Afrika, adalah masalah besar umat Islam yang harus disaksikan pada  ujung jari propaganda imperialisme global dan dipikirkan solusinya. Bangsa-bangsa harus menuntut hal itu dari pemerintah-pemerintah mereka dan pemerintah juga harus berkomitmen dalam melaksanakan tugas beratnya.

Dan haji serta konsentrasi agungnya, merupakan panggung terpenting kemunculan dan pertukaran tugas-tugas bersejarah ini. Dan kesempatan Bara’ah (lepas tangan dari kaum musyrik dan taghut) yang harus dimanfaatkan dengan partisipasi semua hujjaj dari semua tempat, merupakan salah satu manasik politis paling jelas dalam kewajiban komprehensif ini.

Tahun ini peristiwa pahit dan merugikan Masjidul Haram membuat pahit lidah para hujjaj dan bangsa mereka. Benar bahwa para korban peristiwa itu sedang shalat, bertawaf dan beribadah, ketika menyambut pertemuan dengan Sang Haq, menggapai kebahagiaan besar dan insyaallah bersemayam dalam wilayah aman, terjaga dan rahmat ilahi, ini merupakan duka besar bagi para keluarga korban, akan tetapi ini tidak akan mengurangi besarnya tanggung jawab pihak-pihak yang berkomitmen atas keamanan para tamu Sang Maha Pengasih. Pengamalan komitmen dan pelaksanaan tugas ini merupakan tuntutan tegas kami.

 

Wassalamu alaa ibadillahis salihin

Sayyid Ali Khamenei