کمالوندی

کمالوندی

 

Setiap tanggal 12 Ordibehest, diperingati sebagai hari guru di Iran. Pada tanggal 12 Ordibehesht 1358 HS, belum sampai setahun dari kemenangan Revolusi Islam Iran, Ayatullah Murtadha Muthahhari diteror oleh kelompok teroris MKO. Tanggal kesyahidan beliau diperingati sebagai hari guru untuk mengenang jasa besarnya.

Selain itu, sebuah jalan utama di Teheran Utara, Takhte Tavoos, Singgasana Merak, diganti menjadi jalan Morteza Motahari. Jalan raya tersebut menghubungkan jalur utama Sohravardi dan Vali Ashr. Nama beliau juga menghiasi nama institusi pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Salah satunya diabadikan menjadi nama Sekolah Tinggi Motahari Tehran.

Muthahhari muda mengenyam pendidikannya hingga mencapai derajat mujtahid di Hauzah Ilmiah Qom dari tahun 1944 hingga1952. Kemudian, ia hijrah ke ibu kota Iran dan mengajar di Fakultas Teologi Universitas Tehran selama 22 tahun.

Muthahhari juga memberikan ceramah di Huseiniyah Irsyad, Tehran Utara selama delapan tahun. Bersama pemikir lainnya, Muthahhari mengobarkan spirit perlawanan menghadapi rezim diktator Reza Shah.

Di bawah bimbingan Imam Khomeini, Allamah Thabathabai, dan ulama terkemuka masa itu, Muthahhari mendalami khazanah klasik Islam dari fikih, akhlak hingga filsafat. Bahkan, Muthahhari tidak hanya mencerap gagasan sang guru. Ia pun fasih mengkritik pemikiran gurunya dan berhasil menelorkan pemikiran orsinil.

Tidak hanya mahir berorasi di mimbar, pemikir prolifik ini menulis berbagai isu penting tentang Islam, Iran, dan problem kontemporer. Saat ini, karya-karya Muthahhari yang melebihi 60 buku diterbitkan penerbit Sadra, Tehran.

Ayatullah Syahid Murtadha Muthahhari
Keluasan dan ketajaman pemikiran Muthahhari membuat dirinya mampu merespon beragam pemikiran yang berkembang saat itu, bahkan pandangannya masih relevan hingga kini.

Allamah Thabathabai ketika ditanya komentarnya mengenai kepribadian muridnya itu, berkata, "Syahid Muthahhari adalah seorang cendekiawan besar, pemikir dan peneliti. Ia sangat cerdas, punya pemikiran yang terbuka dan realistis. Berbagai karya gemilang dan riset yang dilakukannya ditulis dengan argumentasi kokoh dan menakjubkan".

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Udzma sayid Ali Khamenei menilai Syahid Muthahhari sebagai guru sejati. Rahbar mengungkapkan, "Dilihat dari tulisan dan lisannya, serta perbuatan beliau dalam kehidupan sehari-hari, terutama caranya menyikapi zaman dan masyarakat, beliau adalah seorang pengajar dan guru sejati," Ayatullah Khamenei menegaskan, "Musuh-musuh umat manusia, musuh negara dan musuh Islam, mengambilnya dari kita, akan tetapi Alhamdulillah, karya-karyanya tetap lestari,".

Menurut Rahbar, karya-karya Syahid Muthahhari menyampaikan ajaran Islam yang benar dan kuat. Beliau menganjurkan agar semua kalangan, terutama generasi muda  mempelajari karya-karyanya.

Syahid Muthahhari dikenal sebagai ulama yang memiliki dedikasi tinggi di dunia pendidikan, dan dikenal sebagai tokoh pendidikan terkemuka di Iran. Ceramah-ceramah, kelas dan buku-buku Syahid Mutahhari berperan penting dalam menjelaskan Islam sejati dan mendidik generasi muda Muslim Iran yang revolusioner.

Setahun pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, tepat di saat kebangkitan rakyat dan Islam tengah berkembang dan tunas mudanya mulai tumbuh, kelompok teroris anti-revolusi dengan dukungan Barat, melancarkan aksi-aksi teror di Iran.

Aksi teror luas itu dilakukan untuk meruntuhkan pilar-pilar intelektual dari kebangkitan rakyat demi menurunkan bendera Republik Islam yang baru saja dikibarkan. Teror terhadap Syahid Muthahhari di awal kemenangan Revolusi Islam juga dilakukan untuk tujuan tersebut. Meski Iran telah kehilangan seorang pemikir besar dan guru mulia, namun tetap melanjutkan jalan perjuangannya.

Muthahhari meninggalkan banyak karya ilmiah yang masih tetap menarik dan diminati oleh berbagai kalangan terutama para pemuda pencari kebenaran. Salah satu kelebihan Muthahhari adalah perhatiannya terhadap berbagai masalah sosial ketika itu, termasuk mengungkap penyimpangan pemikiran Islam yang tumbuh di tengah masyarakat, sekaligus memberikan jawabannya. Syahid Muthahhari dalam berbagai bukunya menjelaskan tugas Muslim dalam menghadapi upaya distorsi dan perusakan agama dan tatanan masyarakat.

Syahid Muthahhari menilai Islam sebagai agama yang dapat menjawab seluruh tuntutan pada zamannya. Di antara karya komprehensif beliau adalah buku berjudul "Islam dan Tantangan Zaman".

Beliau berpendapat bahwa umat manusia memiliki ketergantungan terhadap unsur-unsur material dan non-material. Cara untuk memenuhi tuntutan tersebut pun sangat beragam dan berbeda-beda pada setiap zaman. Sebab itu, manusia harus menyesuaikan diri dengan tantangan zamannya.

Menurut Muthahhari, setiap individu dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan zamannya serta memiliki kemampuan untuk mengontrol dan membenahi dirinya yang mengikuti panduan ajaran Islam.

Ayatullah Syahid Murtadha Muthahhari
Umat manusia harus dapat menyesuaikan diri dengan kondisi zamannya seperti memanfaatkan teknologi yang terus berkembang. Namun pada saat yang sama mereka juga harus tetap menjaga diri dari dampak negatif yang muncul dari arus kemajuan teknologi.

Dalam pandangan Muthahhari, Islam adalah ajaran yang paling komprehensif, sempurna, dan terus hidup sepanjang zaman. Ajaran Islam juga dapat disesuaikan dengan tantangan zamannya. Kepergian Muthahhari menimbulkan kesedihan bagi semua kalangan di Iran, dari pelajar hingga pemimpin negara.

Tidak lama setelah berita kesyahidan Muthahari sampai ke telinga Imam Khomeini, bapak pendiri Revolusi Islam Iran mengungkapkan kesedihannya, "Saya tidak bisa menyembunyikan perasaan sedih mendengar berita kehilangan sosok mulia ini. Saya amat menyesalkan kepergiannya. Para penjahat telah mengambil pohon berbuah dari dunia akademis dan Islam ini, Beliau telah menyumbangkan pengabdian berharganya untuk Islam dan ilmu pengetahuan… "

Imam Khomeini melanjutkan ucapannya, "Muthahhari sangat berharga dan mulia bagi saya, sekaligus pendukung yang kuat bagi pesantren dan dunia akademis. Beliau juga pelayan yang baik dan berharga bagi bangsa dan negara ini. Di usianya yang relatif singkat, ia  telah melahirkan berbagai karya abadi yang menghidupkan nurani dan kecintaan terhadap mazhab Syiah,".

 

Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi mengunjungi Suriah pekan lalu yang disambut baik oleh pemerintah dan rakyat negara ini.

Meskipun Suriah dan Iran adalah dua mitra di kawasan Asia Barat, tapi salah satu alasan utama penerimaan hangat presiden Iran di Suriah terkait dengan kontribusi penting Syahid Qassem Soleimani selama krisis internal di Suriah dan perang melawan kelompok teroris Daesh di negara ini.

Daesh, Kelompok Teroris yang melayani Islamofobia di Barat

Kelompok teroris Daesh adalah salah satu fenomena langka di kancah keamanan Asia Barat. Di kawasan Asia Barat, banyak kelompok teroris telah terbentuk dan beroperasi, tetapi hanya sedikit kelompok seperti Daesh yang bertindak melakukan begitu banyak kejahatan terhadap kemanusiaan.

Daesh sebenarnya merupakan kelanjutan organisasi dari kelompok Salafi Jihadi di Irak yang dipimpin oleh Abu Musab Zarqawi. Salah satu perbedaan penting antara Daesh dengan kelompok teroris lainnya mengenai posisi Daesh yang selalu menganggap dirinya sebagai negara dan menilai kawasan Asia Barat sebagai titik berdiri negaranya.

Salah satu karakteristik penting dan menonjol dari kelompok teroris Daesh adalah kekerasan yang sangat parah dan penggunaan strategi teror terhadap warga sipil. Selain itu, kelompok teroris yang berkembang dalam beberapa tahap di wilayah pendudukan, maupun dari segi jenis operasi atau struktur ideologis dan metode terornya, bertindak seperti pabrik produksi Islamofobia. Dengan berbagai kejahatan Daesh ini, Barat mengeksploitasinya untuk menyudutkan Islam di arena internasional.

Suriah seperti kebanyakan negara Arab lainnya menjadi ajang protes rakyat terhadap rezim yang berkuasa pada tahun 2011. Suriah berperan strategis sebagai basis front perlawanan dan menjadi salah satu negara di garis depan perang melawan Israel dan mendukung pertahanan Palestina. Oleh karena itu, krisis internal Suriah segera berubah menjadi perang skala penuh baru dengan intervensi Amerika Serikat, beberapa negara Eropa, sejumlah negara Arab, Turki, dan rezim Zionis.

Ini adalah perang baru, karena tentara Suriah tidak menghadapi tentara negara lain, tetapi menghadapi kelompok teroris yang anggotanya adalah bagian dari rakyat Suriah dan berkebangsaan lebih dari 80 negara. Dengan demikian, ada yang mengatakan bahwa Suriah telah menjadi ajang perang dunia baru.

Seiring dimulainya krisis Suriah pada Maret 2011, berbagai kelompok teroris juga lahir di negara ini. Front Al-Nusra dan Pasukan Pembebasan Suriah termasuk di antara kelompok teroris pertama di negara ini, yang lahir dibidani oleh Amerika Serikat, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Turki dan rezim Zionis. Daesh juga merupakan salah satu kelompok teroris yang terbentuk paling belakangan dibandingkan kelompok lain di Suriah.

Dengan pecahnya perang saudara di Suriah dan kedatangan pasukan al-Qaeda dari seluruh dunia ke negara ini, al-Qaeda di Irak, yang beroperasi dengan nama Negara Islam, berangkat ke Suriah dan merebut kota-kota dan mencoba untuk menggulingkan otoritas pemerintahan Bashar al-Assad yang sah, dan melemahkan pengaruhnya di berbagai wilayah negara Arab ini.

Nama Abu Bakr al-Baghdadi pertama kali populer di Irak pada tahun 2010. Kemudian pada awal tahun 2012, ia dan antek-anteknya pergi ke Suriah, dan sejak saat itu, kelompok teroris Takfiri Daesh memasuki wilayah tersebut, dan nama Abu Bakr al-Baghdadi dibantu oleh orang Barat, dan negara-negara Arab reaksioner menjadikan pemimpin kelompok teroris ini dikenal di arena internasional.

Kelompok teroris Daesh merebut kota Raqqa dalam operasi pertamanya pada Maret 2013. Selanjutnya, seiring masuknya Daesh ke Irak dan pendudukan berbagai wilayah negara ini, kekuatan Daesh meningkat di Suriah, dan ketidakamanan tersebar di mana-mana dalam bentuk peperangan jalanan dan perkotaan.

Setelah menduduki Irak di Suriah, Daesh meningkatkan jumlah dan tingkat kejahatannya. Warga sipil, khususnya perempuan, menjadi korban utama kelompok teroris Daesh di Suriah. Kelompok takfiri ini telah mengorganisir pembantaian yang tidak diketahui dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia, dan  menggunakan alat baru untuk penyiksaan dan eksekusi.

Pemenggalan kepala menjadi metode keji Daesh yang paling terkenal. Bahkan mereka meneriakkan slogan "Kami datang untuk memenggal kepala" dan menerbitkan banyak video dari tindakan sadisnya ini. Pembakaran juga merupakan metode keji lainnya dari Daesh yang dijalankan. Unsur takfiri Daesh membakar seorang pilot Suriah bernama Azzam Eid dan memublikasikan adegan kejahatan tidak manusiawi ini selama 58 menit. Selain itu, Daesh juga menimbulkan kerusakan besar pada budaya Suriah, terutama pada karya kuno negara ini. Menurut laporan UNESCO, kota kuno Aleppo yang masuk dalam daftar tempat kuno dunia mengalami kerusakan paling parah akibat kejahatan Daesh.

Pada tahun 2017, Daesh dan kelompok teroris lainnya berhasil dikalahkan setelah empat tahun digelar operasi teroris yang ekstensif di Suriah dan Irak. Meskipun demikian, inti dan sisa-sisanya di Irak dan Suriah masih melakukan operasi terhadap warga sipil dan pasukan keamanan.Menurut sumber keamanan dan media, hampir 100.000 teroris bersama keluarga mereka, yang sebagian besar adalah orang asing, telah menetap di provinsi Idlib di barat laut Suriah dan utara Aleppo dan dekat perbatasan negara ini dengan Turki.

Peran Syahid Soleimani dalam Kekalahan Daesh di Suriah

Seiring dimulainya perang di Suriah, masalah besar di negara ini adalah infrastrukturnya, termasuk organisasi, fasilitas, dan tenaga kerja yang tidak berada dalam kondisi sesuai untuk menghadapi serangan gelombang terorisme besar-besaran. Salah satu kelemahan pemerintah Suriah adalah kurangnya pengalaman dalam menggunakan kekuatan rakyat dalam mengatasi krisis.

Dalam situasi seperti itu, Republik Islam Iran terjun atas permintaan pemerintah Suriah untuk membantu negara ini memerangi terorisme, dan Letnan Jenderal Qassem Soleimani berperan besar perang melawan terorisme di negara ini. Letjen Soleimani memenuhi undangan pemerintah Suriah dan mempresentasikan rencananya, termasuk mengandalkan kekuatan rakyat. Ia berhasil memulihkan kepercayaan publik rakyat Suriah terhadap pemerintahan Bashar al-Assad.

Syahid Soleimani merancang dan mengelola lebih dari 32 operasi melawan Daesh di Irak, dan merancang, mengelola, dan memimpin lebih dari 100 operasi di Suriah untuk mengalahkan Daesh. Benteng terakhir Daesh di Suriah adalah kota Al-Bukamal. Banyak analis menyebut Syahid Soleimani sebagai arsitek kekalahan Daesh di Irak dan Suriah.

Amin Hoteit, seorang ahli strategi dan analis urusan militer dan strategis Lebanon, mengatakan, "Syahid Soleimani memainkan peran khusus di Suriah dan mampu membuat kelompok perlawanan di negara ini koheren dan bersatu dalam perang melawan terorisme, dan ini adalah faktor penting dalam kegagalan konspirasi muduh melawan Suriah."

Syahid Soleimani juga dianggap sebagai pemenang perang Aleppo di Suriah. Dialah yang mematahkan punggung Daesh di Suriah. John Maguire, mantan perwira CIA, mengatakan,"Pertempuran al-Qasir di Suriah, yang menyebabkan direbutnya kembali kota strategis ini oleh tentara Suriah dan titik balik dalam perang, berada di bawah pengawasan dan komando Jenderal Soleimani."

Surat kabar elektronik Rai Al-Youm yang diterbitkan di London menulis, “Daesh muncul di Suriah dan menaklukkan berbagai wilayah negara ini satu demi satu, hingga dikatakan telah menaklukkan dua pertiga wilayah Suriah. Kemudian dia pindah ke Irak dan menduduki provinsi Mosul serta mulai memperluas kehadirannya di Irak, hingga mencapai tembok Baghdad. Anehnya, meskipun ada kesepakatan antara Irak dan Amerika Serikat, Washington tidak terburu-buru mendukung Irak, tetapi media Amerika mencerminkan posisi yang sangat mengecilkan hati, termasuk bahwa Daesh tidak dapat dikalahkan dalam waktu kurang dari dua puluh tahun,".

Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan bahwa badan intelijen AS berencana untuk membuat kawasan itu dalam kekacauan total selama 20 tahun, periode di mana ia berencana untuk mendapatkan kembali kemampuannya dan pada akhirnya mengendalikan kawasan dan dunia. Tindakan Syahid Soleimani dalam melawan Daesh dan dukungannya yang besar untuk pasukan Irak, Al-Hashd Al-Shaabi dan kelompok Irak dan Suriah, serta pembentukan batalion militer di Suriah, dan lebih dari itu semua, tindakannya dalam membujuk Moskow untuk terlibat dalam perang di Suriah. Semua itu menghancurkan seluruh plot dan konspirasi Amerika Serikat.

 

Bersamaan dengan peringatan hari kelahiran Rasulullah Saw, pada tanggal 17 Rabiul Awal, keluarga besar risalah dan nubuwah, menyambut kelahiran manusia yang akan melanjutkan perjuangan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Dia akan menerangi dunia dengan cahaya, keilmuan dan pengetahuan, serta akan memberikan perubahan besar di dunia ilmu pengetahuan dan spiritual. Dia tidak lain adalah Jafar bin Muhammad yang dijuluki as-Shadiq as, matahari imamah keenam Ahlul Bait Nabi as.

Masalah persatuan dan solidaritas umat Islam, termasuk di antara berbagai masalah penting dan prioritas bagi para imam maksum Ahlul Bait as, sedemikian rupa sehingga mereka selain menekankan pentingnya menjaga persatuan umat Islam, juga menilai perhatian terhadap persatuan sebagai salah satu di antara kewajiban para Syiah mereka.

Sebagaimana sirah amal Ahlul Bait as dan para pengikutnya dalam bertoleransi dengan pengikut mazhab lain, merupakan bukti nyata pentingnya masalah persatuan umat Islam. Ini adalah poin yang selain dapat menunjukkan budaya prinsip agama dan mazhab Syiah, juga menjadi perisai di hadapan tuduhan dan upaya sebagian kelompok mencoreng citra Syiah. 

Ahlul Bait Nabi as adalah para pemimpin ilahi dimana Rasulullah Saw menyebut kebersamaan dengan mereka di samping al-Quran akan membawa kebahagiaan dan keselamatan di akhirat. Ucapan mereka adalah ucapan al-Quran dan tujuan mereka adalah pelaksanaan firman-firman Allah Swt.

Imam Shadiq as adalah contoh sempurna hamba Allah Swt yang saleh dan selalu menekankan persatuan dan kekompakan masyarakat serta agar nilai-nilai kemanusiaan dan hubungan afeksi yang dalam selalu terjaga dalam masyarakat. Beliau mengatakan, "Bersamalah kalian, saling mencintailah kalian, berbuat baiklah kalian dengan sesama serta berkasih sayanglah."

Peringatan syahadah Imam Shadiq as
Sebagai cucu Rasulullah Saw dan juga karea memiliki ilmu pengetahuan luas serta akhlak mulia dan juga berbagai faktor lainnya, membuat Imam Ja'far Shadiq as, menjadi jembatan kokoh dalam hubungan umat Islam untuk mewujudkan persatuan yang sangat kokoh. 

Imam Ja'far Shadiq menilai perpecahan sebagai faktor ketergelinciran Islam dan peluang bagi musuh-musuh Islam. Beliau selalu menekankan kasih sayang dan persaudaraan dengan sesama Muslim, dan kepada salah seorang sahabatnya, Imam mengatakan, "Sampaikan salam kami kepada para pengikut kami, katakan kepada mereka bahwa Allah Swt akan melimpahkan rahat kepada hamba-Nya yang menyeru kepada persatuan."

Imam Ja'far Shadiq as berpendapat bahwa seluruh kelompok mazhab adalah anggota masyarakat Islam serta mereka harus dihormati dan didukung. Karena mereka juga tidak terkecualikan dari kezaliman dan kejahatan penguasa. Oleh sebab itu, beliau menekankan sangat penting bagi umat Islam untuk selain menjaga hubungan persaudaraan, juga memberikan dukungan dan bantuan kepada saudara Muslimnya.

Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq disebutkan bahwa “Seorang Muslim adalah saudara Muslim lainnya. Seorang Muslim adalah cermin dan panduan Muslim lainnya. Seorang Muslim tidak akan pernah mengkhianati, menipu dan menindas Muslim lainnya, dan tidak berbohong kepadanya serta tidak mengghibahnya.”

Menurut Imam Ja'far Shadiq as, solidaritas dan persaudaraan berpijak pada tiga faktor. Pertama meninggalkan kedengkian untuk mencegah dan menghindari lemahnya masyarakat Islam, sehingga umat Islam tidak terpecah-belah. Faktor kedua, meningkatkan ikatan persaudaraan dan solidaritas. Adapun faktor ketiga adalah saling membantu sehingga meningkatkan kemuliaan umat Islam.

Kemuliaan akhlak dan ketinggian ilmu Imam Shadiq telah menarik perhatian Abu Hanifah dan para pemimpin mazhab Ahlussunnah lainnya sehingga mereka berbondong-bondong mendatangi beliau untuk menimba kekayaan ilmu cucu Rasulullah Saw ini.

Abu Hanifah, pemimpin mazhab Hanafi hadir di kelas-kelas Imam Shadiq selama dua tahun. Terkait hal ini, ia berkata, “Kalau bukan karena dua tahun [menimba ilmu dari Imam Shadiq], maka Nu`man (Abu Hanifah) telah celaka.” Sementara itu, Malik bin Anas, pemimpin mazhab Maliki mengenai Imam Shadiq berkata, “Belum ada mata yang melihat dan belum ada telinga yang mendengar serta belum ada manusia yang hadir dalam hati, yang lebih baik dari Imam Ja’far Shadiq dari sisi keutamaan, ilmu, ibadah, wara` dan ketakwaannya.”

Mereka yang hadir dalam kelas Imam Shadiq as mengakui keutamaan beliau di bidang ilmu pengetahuan, meskipun sebagian dari mereka tidak sejalan dengan pemikirannya. Imam Shadiq mendidik murid-murid besar di antaranya Hisyam bin Hakam, Muhammad bin Muslim dan Jabir bin Hayan.

Sebagian dari mereka memiliki berbagai karya ilmiah yang tiada tara di zamannya. Misalnya Hisyam bin Hakam menulis 31 buku. Jabir bin Hayyan menulis lebih dari 200 buku dan pada abad pertengahan, karya tersebut diterjemahkan ke berbagai bahasa Eropa. Mufadhal juga merupakan salah satu murid terkemuka Imam Shadiq yang menulis buku “Tauhid Mufadhal”.

Berbagai kitab sejarah baik dari kalangan Sunni maupun Syiah menjelaskan dialog dan perdebatan ilmiah yang diikuti oleh Imam Shadiq. Menariknya, seluruh perdebatan tersebut tidak berujung debat kusir, apalagi pertengkaran. Imam Shadiq kepada para pengikutnya menekankan prinsip akhlak mulia di berbagai bidang, termasuk ketika berdialog. Beliau sangat menjunjung tinggi pesan al-Quran dalam berdialog untuk menggunakan cara yang baik, atau al-Jidal Ahsan.

Peringatan syahadah Imam Shadiq as
Para lawan Imam Shadiq pun mengakui ketinggian akhlaknya. Ketika pihak lawan dalam debat menyampaikan pandangan, beliau mendengarkan argumentasinya hingga selesai, lalu secara singkat menanggapinya. Beliau juga menghormati dan menjaga etika berdebat, kemudian mengemukakan pandangannya dengan kalimat yang benar dan berisi, yang disampaikan secara singkat dan padat. Ketika berdebat, Imam Shadiq membela keyakinannya secara tegas dan terang-terangan, tapi disampaikan dengan cara yang bijaksana.

Imam Shadiq meminta para pengikutnya untuk menghormati sesama Muslim, dan menjaga persatuan Islam. Cucu Rasulullah Saw ini memberikan nasehat kepada salah seorang sahabatnya bernama Zaid bin Hisyam supaya menghormati Ahlusunnah.

Beliau berkata, "Datangilah masjid-masjid mereka dan shalatlah di sana. Jenguklah mereka jika sakit, dan iringilah jenazahnya ketika mereka meninggal. Bersikap baiklah kalian, sehingga mereka datang dan ikut bersama-sama shalat dengan kalian. Jika akhlak kalian demikian, mereka akan berkata inilah pengikut mazhab Ja’fari; Tuhan merahmati Imam Shadiq yang telah mendidik pengikutnya demikian….. Tapi jika akhlak kalian buruk, maka mereka akan memandang buruk mazhab Ja’fari, dan menilai sebegitu burukkah Imam Shadiq mendidik para pengikutnya."

Suatu hari Hisyam bin Hakam menanyakan kepada Imam Shadiq alasan mengapa umat Islam diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji. Imam Shadiq menjawab, "Allah Swt menciptakan makhluk supaya mereka menaati aturan agama dan menjauhi yang dilarang agama, demi kemaslahatan hidupnya di dunia. Dalam ibadah Haji terdapat sarana bagi orang-orang yang ada di timur dan barat untuk saling mengenali. Lalu kelompok dan suku yang satu mengunjungi satu kota ke kota lain, sehingga terjalin perniagaan yang menguntungkan di antara mereka… selain itu warisan Rasulullah Saw lebih dikenali dan selalu teringat dan tidak akan pernah terlupakan."

Dalam pandangan Imam Shadiq as pondasi kuat persatuan Muslim adalah itikad baik dan berbuat baik serta saling membantu. Mengharapkan terwujudnya sebuah umat yang kuat dan terorganisir tanpa infrastruktur moral yang kokoh hanya sekedar penantian sia-sia. Akar perpecahan dan kelemahan masyarakat Muslim harus dilihat dari moralitas umat Islam sendiri.

Selain menekankan masalah akhlak dan persatuan Islam, Imam Shadiq menegaskan mengenai masalah politik dan nasib masyarakat, termasuk mengkritik kinerja buruk pemerintahan lalim yang merugikan masyarakat.

Sabtu, 20 Mei 2023 21:12

Omar Khayyam, Saintis yang Penyair

 

Setiap tanggal 28 Ordibehesht, yang bertepatan dengan 18 Mei, kalender nasional Republik Islam Iran memperingatinya sebagai hari penghormatan terhadap Omar Khayyam Neishabouri, ilmuwan sekaligus penyair besar Iran.

Khayyam Neishabouri adalah salah satu cendekiawan dan pemikir terkemuka Iran akhir abad kelima dan awal keenam Hijriah, atau akhir abad ke-11 dan awal abad ke-12 Masehi.

Karya puisinya, Rubaiyat membuat Khayyam dikenal sebagai penyair besar. Tidak hanya itu, dia juga seorang ahli matematika, dan astronomi yang dikenal luas. Setelah kematiannya, puisinya diterbitkan, dan kemudian aspek puitisnya dikaji para pemikir setelahnya, selain posisinya sebagai seorang ilmuwan. Reputasi Khayyam saat ini di timur dan barat, bukan karena statusnya sebagai ilmuwan, tetapi juga karena posisinya sebagai penyair terkemuka.

Buku Rubaiyat Omar Khayyam termasuk buku puisi terkecil di dunia sastra, tetapi ketenarannya menembus batas geografi Iran dan terkenal ke berbagai penjuru dunia. Lalu apa, yang ditulis Khayyam hingga buku kecilnya ini menjadi perhatian sejak dahulu hingga kini. Apa yang tersembunyi dalam Rubaiyat Khayyam. Sebagaimana diungkapkan Will Durant, apa yang ditiupkan selain filsafat dalam puisi Khayyam dengan segenap kebesaran?

Dalam sejarah sastra Persia, ada banyak penyair yang telah menggabungkan puisi mereka dengan kebijaksanaan dan menciptakan ramuan puisi dan filsafat yang luar biasa. Tetapi reputasi mereka tidak mampu melampaui Khayyam dengan  Rubaiyatnya yang menawan.

Daya tarik dan pesona Rubaiyat membuat penyair Inggris Fitz Gerald terdorong untuk menerjemahkan puisi ini pada tahun 1859. karyanya terjemahannya inilah yangmemperkenalkan Khayyam ke seluruh penjuru dunia, terutama dunia Barat.

Menurut peneliti terkemuka Arberry,  terjemahan Khayyam oleh Fitzgerald diterbitkan dua puluh lima kali, antara tahun 1859 hingga akhir abad ke-19 Masehi. Pada 1929, lebih dari 410 buku Rubaiyat Khayyam dalam terjemah bahasa Inggris dicetak, dan muncul lebih dari 700 buku dan artikel maupun komposisi musik dan teater yang didasarkan pada puisi Khayyam. Tentu saja, angka-angka ini akan jauh lebih tinggi dalam beberapa dekade terakhir. Bahkan hingga kini terjemahan Rubaiyat bahasa Inggris mengisi rak-rak perpustakaan dan sebagian rumah orang-orang Inggris dan AS.

Khayyam adalah salah satu teka-teki dalam sastra Persia selama berabad-abad, terutama kontroversi tentang apakah Khayyam adalah seorang mistikus dan seorang yang religius, ataukah seorang yang menolak syariat. Kontroversi ini muncul dari kesalahan memahami Khayyam.

Khayyam adalah seorang penyair yang meyakini Allah dan berjiwa saleh. Tapi ia kritis, dan merenungkan penciptaan alam semesta. Khayyam memilih karya puisinya dalam format Rubaiyat. Dalam Rubaiyat, kalimat dicari yang paling singkat dalam bentuk empat baris.

Pada tiga baris pertama dari rubaiatnya, Khayyam memberikan landasan yang tepat untuk gagasan utamanya yang dikemukakan di baris keempat. Dalam format kecil ini, peluang  untuk menjabarkan dan memperluas pemikirannya menjadi lebih luas.

Diksi yang kuat dalam Rubaiyat Khayyam menunjukkan kekuatan puitisnya. Ritme paling awal Rubaiyat Khayyam sangat efektif dalam mentransfer konsep dan pemikiran Khayyam kepada pembaca.

Karakteristik lain dari Rubaiyat Khayyam adalah kesederhanaannya dan menghindari pemujaan yang puitis, tetapi pada saat yang sama fasih dalam penyampaikan maknanaya. Seluruh puisi Khayyam tidak menggunakan retorika atau bahasa yang berlebihan.

Seluruh usaha adalah untuk menyampaikan makna dan pemikirannya dilakukan dengan memilih diksi yang singkat . Makna dalam puisi Khayyam begitu halus dan tepat, yang menunjukkan keunggulannya dari aspek imajinasi dan artistik. Puisi Khayyam serius dan tidak diresapi dengan humor.

Kata-kata kunci dalam puisi Khayyam sangat jelas. Tetapi ditafsirkan dengan banyak ragam pemikiran sesuai dengan kecenderungan ideologis masing-masing.

Kematian dan kehidupan menajadi dua masalah utama dalam pemikiran Khayyam. Kematian dibayangi oleh sebagian besar puisi Khayyam. Dalam kata pengantar untuk terjemahan Rubaiyat Khayyam dalam bahasa Prancis, Pierre Pascal menggambarkan kematian sebagai pemikiran abadi dan eksklusif dari Ru'ba'iyat Khayyam.

Pemikiran ini sangat didominasi oleh suku-suku Khayyab sehingga, bahkan ketika merekomendasikan agar manusia mengambil kesempatan untuk merampok, orang masih dapat melihat dominasi pemikiran fana. Tetapi ini tidak berarti takut akan kematian, karena menurut prinsip-prinsip psikologi, orang yang takut mati tidak begitu banyak berkeras untuk mengingat kematian, tetapi ia tidak mampu melupakannya.

Konfrontasi antara hidup dan mati, yang diwujudkan dalam sebagian besar struktur Rubaiyat Khayyab dan digambarkan dalam segala hal dengan cara artistik dan indah yang indah, tidak diragukan lagi telah dipengaruhi oleh kepeduliannya dalam misteri makhluk. Dengan mengungkap konfrontasi ini di sebagian besar kuatrainnya, Khayyam telah mencoba menunjukkan nilai momen-momen kehidupan kepada para pendengarnya dan menggunakannya untuk memanfaatkan waktu.

Khayyam secara sadar menghubungkan tanah, tanah liat dan keramik dengan sesuatu yang berharga dan indah untuk lebih memengaruhi pembaca sekaligus mendekatkan konsep yang ingin disampaikannya  secara lebih artistik dan lebih efektif . Dalam karya Rubaiyatnya, Khayyam tidak mengatakan apa-apa tentang kematian, tetapi merujuk pada kehidupan yang berjalan yang digunakan untuk mengingatkan kematian yang dekat. Menurut Khayyam, setiap orang harus meyakini kadar umur yang diberikan Tuhan yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya hingga ajal menjemput.(

 

Pada tanggal satu Dzulqadah 173 Hijriah, lahir seorang bayi mulia di rumah Imam Musa Kadzim. Sang ayah menamainya Fatimah, dan lebih dikenal dengan sebutan Maksumah. Kelahirannya juga disambut dan dirayakan para pencinta Ahlul Bait Rasulullah Saw, bahkan hingga kini. Meskipun telah berlalu lebih dari seribu tahun, tapi hari kelahiran Sayidah Maksumah setiap tahun diperingati dengan suka cita.

Hari ini, di kota suci Qom, tempat Sayidah Maksumah dimakamkan, ribuan peziarah mendatangi makam suci beliau untuk mendapatkan berkahnya. Dengan mengikatkan diri kepada Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya, mereka merasakan kedamaian dan keamanan, serta kekuatan untuk keluar dari pusaran keputusasaan.

Sayidah Maksumah lahir dan dibesarkan di rumah kemuliaan. Ayah dan ibunya adalah orang-orang yang memiliki keutamaan Akhlak. Ibadah dan kezuhudan, ketakwaan, kejujuran, kesabaran, kedermawanan dan kesucian menjadi sifat-sifat mulia keluarga suci ini. Mereka adalah nahkoda kapal kemanusiaan. Ayahnya, Imam Kadzim, dan ibunya Sayidah Najmah Khatun, adalah sosok mulia dan agung. Selain kedua orang tuanya, Sayidah Maksumah memiliki saudara laki-laki yang menjadi pembimbingnya, yaitu Imam Ridha.

Pada tanggal 23 Rabiul Awal 201 Hijriah, Sayidah Maksumah bersama rombongannya tiba di kota Qom. Para tokoh dan ulama, serta masyarakat Qom menyambut rombongan keluarga Nabi Saw. Di kota ini pula Sayidah Maksumah wafat, dan dimakamkan di sana. Jauh hari sebelum kelahiran dan wafatnya Sayidah Maksumah, Imam Shadiq berkata, "Haram Allah swt berada di Mekah. Haram Rasulullah Saw berada di Madinah. Haram Amirul Mukminin berada di Kufah. Dan kami [Ahlul Bait] memiliki haram di Qom. Seorang perempuan dari salah satu keturunanku bernama Fatimah akan dimakamkan di sana."

Ajaran Islam memandang gender bukan ukuran kemuliaan dan keutamaan manusia. Sebab, kemuliaan dan keutamaan ditentukan oleh keimanan, ilmu dan akhlaknya. Berbagai ayat al-Quran menjelaskan penolakan segala bentuk ukuran keutamaan manusia, kecuali ketakwaannya.

Semua manusia, baik laki-laki dan perempuan bisa mencapai kesempurnaan dengan ketakwaan, ibadah dan amal shalihnya. Salah satu contoh terbaik adalah Sayidah Maksumah. Selain memiliki akhlak mulia, beliau juga dikenal sebagai orang yang ahli ibadah, suci dan berilmu tinggi.

Kehadiran aktif Sayidah Maksumah dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan keimanan menunjukkan posisi dan kedudukan wanita yang tinggi dalam sejarah kebudayaan Islam. Kehidupan Sayidah Maksumah menjadi bukti bahwa Islam sangat menghargai perempuan dan menempatkannya pada kedudukan tinggi, sehingga dari sisi keutamaan spiritual, keilmuan dan kemuliaan akhlak menjadi teladan bukan hanya bagi perempuan saja.

Salah satu karakteristik Sayidah Maksumah adalah keilmuannya. Sejak usia kanak-kanak, Sayidah Maksumah telah menunjukkan kecerdasaan dan keluasan ilmunya. Sayidah Fatimah berjuang keras dalam menuntut ilmu dan pengetahuan Islam. Beliau tidak menambah dan mengurangi ilmu yang disampaikan oleh ayahnya ketika menyampaikan kepada masyarakat. Hal ini menunjukkan tanggung jawab besar dan amanat yang tertanam dalam jiwa putri Imam Musa as. Terkait hal ini, dalam salah satu doa ziarah kepada Sayidah Maksumah disebutkan, "Salam atasmu wahai Fatimah binti Musa, sang hujah dan terpercaya".

Sayidah Fatimah senantiasa menyebarkan ilmu dan membela kebenaran dalam kondisi sulit sekalipun. Sayidah Fatimah didampingi Imam Ali ar-Ridha mengamalkan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari ayahnya. Ketika Imam Kadzim tidak ada, Sayidah Maksumah hadir memberikan jawaban atas berbagai permasalahan yang ditanyakan para pengikut Ahlul Bait, bahkan ketika beliau masih berusia belia.

Sejarah mencatat, suatu hari sekelompok pengikut syiah datang ke kota Madinah untuk meminta jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka kepada Imam Musa Kadzim. Ketika sampai di pekarangan rumah beliau, mereka mendapat berita bahwa Imam Kadzim masih menempuh perjalanan. Lalu, mereka menulis seluruh pertanyaan dan menyerahkan kepada anggota keluarga Imam Kadzim.

Mereka menetap di kota Madinah selama beberapa hari dan kemudian kembali ke rumah Imam Kazim untuk berpamitan. Ketika itu, mereka melihat Sayidah Maksumah yang masih kecil telah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ketika mereka beranjak pulang, di tengah pertengahan jalan bertemu dengan Imam Kadzim dan menceritakan kejadian yang dialami. Beliau meminta surat tersebut dari mereka, kemudian membaca dan menelaahnya. Jawaban Sayidah Maksumah dibenarkan oleh Imam Kadzim. Itulah sebabnya beliau disebut Shadiqah, yang berarti orang yang terpercaya.

Sayidah Fatimah juga dikenal dengan nama agung "Muhadatsah", yang berarti perawi Hadis. Beliau senantiasa mengingatkan umat Islam mengenai Imamah dan Ahlul Bait melalui rangkaian hadis. Makmun merancang makar dengan mengusulkan posisi Putra Mahkota kepada Imam Ridha. Tujuannya tak lebih demi meredam perlawanan para pengikut Ahlul Bait.

Sayidah Maksumah menyadarkan masyarakat mengenai kepemimpinan Ahlul Bait Nabi Muhammad Saw. Oleh karena itu, sejarah mencatat perjuangan besar Sayidah Maksumah dalam mengokohkan Imamah Ahlul Bait, khususnya di saat masalah kepemimpinan tengah dirongrong konspirasi musuh.

Di antara hadis lain yang diriwayatkan Sayidah Maksumah adalah Hadis Manzilah yang menjelaskan kedudukan mulia Imam Ali as. Hadis ini menjelaskan kedudukan Imam Ali terhadap Nabi Saw, seperti posisi Harun bagi Nabi Musa as. Sayidah Maksumah juga menjelaskan peristiwa penting di Ghadir Khum untuk mengingatkan umat Islam supaya tidak lalai dari amanat Nabi Muhammad Saw tentang kepemimpinan setelahnya. Sayidah Maksumah berkata, "Apakah kalian lupa dengan sabda Nabi Muhammad Saw di hari Ghadir, 'Siapa yang menjadikanku sebagai pemimpin, maka Ali menjadi pemimpinnya."

Selain itu, beliau dikenal dengan nama mulia lain seperti Thahirah, yang bermakna orang yang suci, dan Karimah Ahlul Bait, yang bermakna wanita agung Ahlul Bait, karena kedudukannya yang tinggi. Terkait hal ini, Imam Ali ar-Ridha berkata, "Barang siapa yang menziarahi [Sayidah] Maksumah di [kota] Qom, sama seperti menziarahiku."

Sayidah Maksumah sepanjang sejarah dikenal luas di kalangan pencinta Ahlul Bait Rasulullah Saw. Hingga kini, makamnya diziarahi para  pecinta Ahlul Bait yang datang dari seluruh penjuru dunia. Berkat keberadaan Sayidah Fatimah, Qom menjadi kota penting di dunia. Di kota suci ini berdiri pusat pendidikan agama Islam Syiah terbesar di dunia, sekaligus pusat penyebaran ajaran Islam.

Aura spiritualitas yang dipancarkan makam suci Sayidah Fatimah memberikan pencerahan intelektual bagi para ulama, dan berkah bagi masyarakat luas. Sepanjang sejarah, kota Qom telah melahirkan para ulama terkemuka.

 

Shiraz adalah kota bersejarah Iran dan terletak di wilayah Pars. Di masa Mulla Sadra, pemerintah Iran berada di bawah kekuasaan imperium Safavi yang secara resmi mengakui kemerdekaan wilayah Pars dan salah satu menterinya adalah ayah Mulla Sadra.

Ayah Mulla Sadra -Khajah Ibrahim Qiwami- seorang negarawan yang cerdas dan mukmin. Meski kaya dan memiliki kedudukannya terhormat, namun ia tidak memiliki keturunan. Baru setelah berdoa selama bertahun-tahun dia dikaruniai seorang putra yang diberi nama Muhammad (Sadruddin) dan sehari-hari dipanggil Sadra, setelah dia dewasa kemudian diberi gelar mulla yang berarti ilmuwan besar lalu digabungkan dengan nama kecilnya menjadi Mulla Sadra.

Sadruddin Muhammad (Sadra), merupakan anak tunggal seorang menteri raja yang menguasai wilayah luas Pars, hidup di lingkungan religius dan terhormat. Biasanya untuk anak-anak yang tinggal di lingkungan istana pada saat itu mereka diajar oleh guru privat di rumah mereka sendiri. Sadra seorang anak yang cerdas, bersemangat dan rajin belajar, dalam waktu yang singkat dia menguasai seluruh pelajaran yang diajarkan seperti, literatur Persia, Arab, kesenian dan kaligrafi indah. Pelajaran-pelajaran lain yang juga diperlajari misalnya, fiqih, logika dan filsafat, namun Sadra yang kala itu belum baligh lebih condong ke filsafat dan khususnya dalam bidang irfan. Hal ini dapat dilihat dari catatannya yang banyak tertulis syair-syair irfani berbahasa parsi dari Jalaluddin Maulawi, Araqi dan Attar.

Pada masa kanak-kanak, Mulla Sadra bersama ayahnya pergi ke kota Qazvin dan di sana dia mempelajari semua ilmu dasar dan menengah. Dia dengan cepat mencapai jenjang lebih tinggi melampaui teman-teman seusianya. Pada masa muda, Mulla Sadra bertemu dengan Syeikh Bahai yang menjadi peletak batu pondasi kepribadian ilmiah dan akhlak Mulla Sadra. Syeihk Bahai bukan hanya menguasai ilmu-ilmu Islam khususnya fiqih, hadis, tafsir al-Quran, epistemologi dan irfan, melainkan juga sangat menguasai bidang astronomi, matematika, arsitektur, kedokteran dan teknik.

Penyempurna bangunan spiritual guru besar ini adalah Sayid Amir Mohammad Baqir bin Shamsuddin, atau yang dikenal dengan Mirdamad. Mirdamad adalah salah seorang jenius pada masa itu yang menguasai seluruh ilmu yang berkembang saat itu, akan tetapi lingkup pelajarannya difokuskan pada ilmu fikih, hadis dan filsafat. Mulla Sadra mengambil banyak pelajaran filsafat dan irfan dari gurunya Mirdamad.

Menyusul berpindahnya ibukota Dinasti Safavi dari Qazvin ke Ishfahan pada tahun 1006 H atau 1598 M, Sheikh Bahauddin dan Mirdamad beserta semua muridnya hijrah ke kota tersebut dan melanjutkan pelajaran mereka di sana. Mulla Sadra juga mengikuti mereka ke Isfahan selama beberapa waktu kemudian dia kembali ke kotanya Shiraz. Akan tetapi para pesaingnya yang di saat sisi merasa posisi sosial mereka terancam atau merasa harus mempertahankan ideologi mereka atau bahkan karena rasa iri, bersikap buruk terhadap Mulla Sadra serta mengolok pandangan baru dan berbagai terobosan baru Mulla Sadra.

Perilaku tersebut tidak sesuai dengan jiwa lembut Mulla Sadra, oleh karen itu dengan kecewa dia meninggalkan Shiraz dan berhijrah menuju kota Qom serta tinggal di sebuah desa bernama Kahak. Selama beberapa waktu dia meninggalkan dunia ilmiah serta menyibukkan diri beribadah, berpuasa dan membersihkan diri. Dalam waktu cepat dia mencapai derajat spiritualitas yang tinggi. Masa itu adalah masa keemasan Mulla Sadra di mana dia telah mencapai derajat kasyaf dan syuhud alam ghaib. Pada masa itu pula dia memahami seluruh hakikat filsafat bukan pada otak melainkan dengan mata hati, dan oleh karena itu dia melakukan penyempurnaan pandangan filsafatnya.

Pada masa itu pula Mulla Sadra menulis berbagai kitab terkenalnya atau menulis artikel untuk menjawab pada filsuf di masanya. Mulla Sadra kemudian mendidik banyak murid besar. Dua dari murid terkenalnya adalah Fayyad Lahiji dan Allamah Feiz Khashani, yang keduanya berperan besar dalam menyebarkan pandangan Mulla Sadra.

Mulla Sadra seorang filsuf yang sederajat dengan filsuf Abu Nasir Farabi, Ibnu Sina, Sheikh Isyraq Suhrawardi, Nasiruddin Thusi, Ibnu Rushd, Ibnu Miskawai dan lain-lain. Juga penafsir serta penyempurna filsafat-filsafat Islam sebelumnya, dalam ilmu Irfan dia sederajat dengan para tokoh seperti Ibnu Arabi.

Sheikh Muhammad Husain Garawi Isfahani berkata tentang Mulla Sadra, "Jika ada orang yang mengetahui sempurna rahasia kitab Asfar maka saya akan berguru kepadanya walaupun ke negeri Cina."

Sadr al-Mutaallihin adalah penulis handal di bidang filsafat Islam. Banyak karya tulisannya yang dinilai sangat lembut serta sempurna dalam kefasihan dan balaghah. Karya-karya Mulla Sadra tercatat mencapai lebih dari 40 judul buku dan beberapa surat, semuanya berbahasa Arab (yang menjadi bahasa resmi pusat-pusat ilmiah kala itu). Semua karya peninggalannya memiliki susunan yang jelas, fasih dan berirama yang sangat memudahkan siapapun untuk mempelajari filsafat dan irfan. Di antara karya filsafat Mulla Sadra, sebagian memiliki karakteristik irfan yang lebih kental sementara di sebagian lainnya memiliki aspek argumentatif yang lebih kuat. Meski demikian, cita rasa irfan tetap dapat dirasakan di setiap sudut karyanya.

Termasuk di antara kriteria sangat penting dalam karya-karya Mulla Sadra adalah keberhasilannya dalam menyesuaikan berbagai teori, penjelasan syariat serta argumentasi filosofis, sehingga dia tidak akan mengemukakan pendapatnya secara pasti sebelum bersandarkan pada ayat-ayat al-Quran atau hadis dari pada imam maksum as. Dia selalu berbangga bahwa tidak ada orang yang dapat mengungkap rahasia-rahasia al-Quran dan Sunnah Maksumin seperti yang dilakukannya. Seluruh karya filsafat Mulla Sadra dipenuhi dengan ayat-ayat al-Quran dan riwayat sementara tafsirnya penuh dengan perspektif irfan dan logis.

Sadr al-Mutaallihin memiliki kemahiran tinggi dalam memahami lahiriyah dan rahasia al-Quran dan hadis. Dia juga meninggalkan banyak karya di bidang tafsir al-Quran dan hadis. Mulla Sadra menafsirkan sejumlah surat dalam al-Quran yang hingga kini dinilai sebagai penafsiran al-Quran terbaik dari sudut pandang filosofis.

Sebagian bukunya adalah buku pelajaran dan sesuai untuk memberikan bimbingan filsafat tahap mukaddimah, serta penyempurnaan jenjang filsafat dan irfan yang lebih tinggi yang diberi nama Hikmah Mutaaliyah. Sebagian lainnya juga sangat istimewa untuk menjelaskan dan membuktikan pandangannya.

Ada pula beberapa buku Mulla Sadra di bidang akhlak dan hubungan manusia. Mulla Sadra juga memperkenalkan diri sebagai muhaddits atau pakar hadis dan riwayat yang dinukil dari Rasulullah Saw dan para imam maksumin, yaitu buku penjelasan dari kitab hadis terkenal al-Kaafi, karya Kulaini.

Al-Hikmah al-Mutaaliyah fi al-Asfar al-Arba'ah al-Aqliyah, adalah karya paling tersohor Mulla Sadra. Sebuah terobosan yang hanya terdapat dan digunakan di buku penting ini yaitu seluruh pembahasan buku tersebut dibagi menjadi empat tahap perjalanan spiritual irfani di mana setiap tahapnya adalah sebuah perjalanan. Oleh karena itu disebutkan bahwa perjalanan seorang arif pada tahap awal adalah perjalan dari dirinya dan masyarakat menuju Tuhan, pada tahap kedua dan ketiga dari Tuhan menuju Tuhan yang berarti dari Dzat-Nya menuju sifat dan perilaku-Nya, kemudian pada perjalanan tahap terakhir adalah dari Tuhan menuju umat.

Buku tersebut pada hakikatnya adalah ensiklopedia filsafat dan kumpulan berbagai masalah penting filsafat Islam yang mengutip berbagai pendapat para filsuf terdahulu hingga masa Mulla Sadra.

Mulla Sadra telah berkunjung ke Mekkah selama tujuh kali berjalan kaki, dan pada perjalanan ketujuhnya, dia sakit di kota Basrah dan akhirnya meninggal dunia.

 

Hari ini bertepatan dengan kelahiran Imam Ali bin Musa Ridha yang dimakamkan di kota Mashhad. Beliau digelari berbagai nama dan sebutan yang menunjukkan keistimewaannya sebagai wali Allah swt.

Sheikh Saduq dalam bukunya "Uyun Akhbar Ar-Ridha" menulis, "Imam Ridha dipanggil dengan beberapa sebutan seperti Ridha, Shadiq, Fadhil, Qurata Ayun al-Mukminin (penyejuk mata kaum Muslimin) dan Ghaidul al-Mulhidin (penyebab kemarahan pengingkar Tuhan),".
 
Imam Ali Ar-Ridha  lahir pada 11 Dzulqa'dah 148 H. di Madinah. Ayah beliau adalah Imam Musa Al-Kadzim dan ibunya seorang wanita mukmin nan saleh, bernama Najmah. Beliau memegang tampuk kepemimpinan umat pada usia 35 tahun setelah kesyahidan ayahnya. Salam atasmu Ali bin Musa Ridha, salam wahai mentari khorasan !
 
Nama panggilan paling terkenal dari Imam kedelapan Syiah, Ali bin Musa adalah Ridha. Pemimpin umat islam ini menjadi mata air kebajikan, ilmu pengetahuan dan akhlak, karena seluruh tindakan serta ucapannya selalu dilandasi keridhaan kepada Allah swt. Itulah sebabnya Imam Ali bin Musa digelari Ridha, yaitu, orang yang telah mencapai tingkat kesempurnaan akhlak yang tinggi dan menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan.
 
Mengenai makna Ridha sebagai panggilan Imam Ali bin Musa, mufasir terkemuka Ayatullah Javadi Amoli menjelaskan kepada para peziarah Imam Reza dengan mengatakan: "Anda yang datang menziarahi Imam Ridha dari tempat yang jauh maupun dekat mengharapkan beliau sebagai sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. sebagaimana dalam surat Al-Maidah ayat 35, "Kita harus menyediakan sarana untuk membantu mendekatkan diri kepada Allah swt. "
 
Kesucian hati, ketajaman pandangan, keluasan ilmu, keimanan yang kuat kepada Allah Swt, dan perhatiannya yang besar kepada nasib masyarakat merupakan sejumlah sifat mulia yang khas pada diri Imam Ridha. Kurang lebih selama 20 tahun, beliau memikul tanggung jawab sebagai imam dan pemimpin kaum muslimin. Karena itu, salah satu julukan beliau adalah "Rauf" atau penyayang.
 
Image Caption
 
Salah seorang sahabat Imam Ridha berkata, "Setelah menyelesaikan tugas dan pekerjaannya, beliau selalu bersikap ramah dan penuh kasih sayang terhadap anggota keluarga dan orang-orang sekitarnya. Setiap kali menyambut hidangan makan, beliau selalu memanggil anak kecil, orang dewasa bahkan para pekerja."
 
Ketika para budak tidak memperoleh hak-hak minimalnya, Imam Ridha as memperlakukan mereka dengan baik dan penuh kasih sayang. Mereka mendapat tempat dan dihormati di rumah sang Imam. Mereka banyak belajar etika dan nilai-nilai kemanusiaan dari Sang Imam. Selain memperlakukan mereka dengan kasih sayang, Imam Ridha senantiasa menasehati bahwa jika kalian tidak memperlakukan manusia dengan seperti ini, maka kalian telah menzalimi mereka.
 
Salah seorang yang menyertai Imam Ridha mengungkapkan, "Dalam perjalanan ke Khorasan, aku menyertai Imam Ridha. Suatu ketika Imam meminta dihidangkan makanan. Imam mengumpulkan seluruh rombongan di dekat jamuan, termasuk para budak dan orang-orang lain. Aku berkata kepada beliau: "Wahai Imam, sebaiknya mereka makan di tempat lain." Beliau berkata: "Tenanglah! Pencipta kita semua adalah satu, ayah kita adalah Nabi Adam as dan ibu kita semua adalah Hawa. Pahala dan siksa bergantung pada perbuatan masing-masing."
 
Julukan lain Imam Ridha adalah Alimu Aali Mohammad (cendikiawan Ahlul Bait Nabi). Julukan ini menunjukkan ketinggian ilmu beliau. Terkait hal ini Imam Ridha sendiri berkata, "Aku duduk di komplek makam Rasulullah Saw. Setiap ulama dan cendikiawan Madinah menghadapi kesulitan dan tidak mampu menyelesaikannya, mereka mendatangiku dan mendapatkan jawabannya."
 
Kala itu Marv merupakan pusat ilmiah di tanah Khorasan. Imam Ali al-Ridha as menggunakan keunggulan tersebut untuk meningkatkan gerakan ilmiah. Di lain pihak, Ma’mun berusaha tampil dekat dengan Imam Ali al-Ridha demi kepentingan politiknya. Namun pada saat yang sama, dia selalu berusaha mencoreng keutamaan ilmu Imam Ali al-Ridha dengan menggelar berbagai acara debat. Akan tetapi Imam dalam setiap sesi perdebatan, selalu menang dan bahkan mempengaruhi para ilmuwan yang hadir, dengan argumentasinya yang kokoh.
 
Islam adalah agama yang menyambut berbagai pertanyaan dan tidak pernah tercatat dalam sejarah bahwa para imam Ahlul Bait as tidak menjawab pertanyaan yang dikemukakan kepada mereka. Imam Ali al-Ridha, berperan penting dalam perluasan budaya Islam. Dalam berbagai acara debat, Imam selalu mempertimbangkan hidayah dan bimbingan untuk lawan dan tidak berusaha untuk selalu menang.
 
Beliau membuktikan kebenaran keyakinan Islam  dengan menggunakan argumentasi logis yang kokoh. Imam berkata, “Jika masyarakat memahami keindahan ungkapan kami maka mereka pasti akan mengikuti kami.” Dan terbukti betapa banyak musuh-musuh yang akhirnya menjadi teman di akhir acara perdebatan.
 
Meski memiliki tingkat keilmuwan tinggi, akan tetapi Imam tidak merendahkan lawan debat beliau. Imam selalu menjaga kehormatan pihak lawan meskipun sebagiannya tidak beragama. Jika perdebatan sampai pada titik di mana pihak lawan tidak lagi bisa menjawab, beliau membimbingnya atau mengutarakan sebuah pertanyaan sehingga pembahasan mereka menghasilkan. Bahkan terkadang beliau menjawab pertanyaan lawan dengan mengatakan, “Jika kau bertanya seperti ini maka pendapat kamu sendiri akan tertolak.”
 
Al-Quran memandang kesabaran sebagai faktor sejati dan fondasi kepemimpinan, sebagaimana ditegaskan dalam surat Al-Sajadah ayat 24, yang artinya "Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.". Penyabar adalah nama lain dari Imam Ridha. Para ahli sejarah menyebut Imam Ali bin Musa dikenal sebagai sosok penyabar.
 
Selamat hari kelahiran Imam Ridha, Salam atasmu wahai Ali bin Musa Ridha, sang imam yang saleh dan mulia.

 

Mendekati pertengahan Khordad 1368 Hs (1989 ), rakyat Republik Islam Iran mendengar berita buruk, Imam Khomeini sakit.

Sejak saat itu, rakyat Iran selalu menggelar doa di masjid, husseiniyah dan berbagai tempat ziarah. Tapi takdir Tuhan menentukan hal lain. Pada hari Sabtu, 13 Juni, pukul 20.22 waktu setempat, perjalanan abadi tokoh besar ini dimulai. Imam Khomeini, dengan kedamaian dan ketenangan, sementara bibirnya dipenuhi dengan zikir, memulai perjalanannya ke tanah kebenaran. Saat kematiannya, seolah-olah telah terjadi gempa besar, dan seluruh Iran dan pusat-pusat di dunia yang akrab dengan nama dan pesan Khomeini menangis serempak.

Pukul 07:00 tanggal 14 Khordad 1368 Hs,  radio menyetel gelombang kesedihan dan berita kepergian Imam umat memenuhi hati rakyat Iran. Publikasi berita ini mengirim banyak orang ke ibu kota untuk menghadiri pemakaman paling megah dari seorang pemimpin ilahi dan populer dalam sejarah Iran.


Rakyat Iran dan kaum Muslim revolusioner memiliki hak untuk membuat keributan dan menciptakan adegan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka telah kehilangan seseorang yang mengembalikan martabat mereka yang terinjak-injak, memotong tangan raja-raja penindas dan tangan penjarah Amerika dan Barat dari tanah mereka, membawa agama ke dalam konteks kehidupan dan menghidupkan kembali Islam, memberi martabat kepada umat muslim. Dan mendirikan pemerintahan Repblik Islam.

Mereka menangis berduka untuk sosok yang berdiri di depan semua kekuatan jahat dan buruk dunia, serta menetralisir ratusan konspirasi, rencana kudeta, kekacauan dan hasutan, baik domestik maupun asing. Dia telah memimpin pertahanan suci selama 8 tahun, dan musuh agresornya secara terbuka didukung oleh kekuatan besar dari Timur dan Barat. Orang-orang telah kehilangan pemimpin tercinta dan otoritas agama dan penyeru Islam sejati.

Kantor berita resmi dunia memperkirakan massa yang menyambut Imam Khomeini pada tahun 1357 Hs mencapai 6 juta orang dan massa yang hadir pada upacara pemakamannya mencapai 9 juta orang, dan ini terjadi selama 11 tahun pemerintahan Imam Khomeini, karena penyatuan negara-negara Barat dan Timur, dalam permusuhan terhadap Revolusi Islam, orang-orang Iran mengalami banyak kesulitan dan masalah dan kehilangan banyak orang yang dicintai dengan cara ini, dan tentu saja mereka seharusnya secara bertahap menjadi lelah dan putus asa, tetapi ini tidak pernah terjadi. Generasi yang dibesarkan di sekolah teologi Imam Khomeini memiliki keyakinan penuh pada perkataan Imam ini bahwa: "Di dunia, jumlah jerih payah, penderitaan, pengorbanan dan kekurangan adalah sesuai dengan jumlah kebesaran dan nilai dan ketinggian derajatnya."

Wafatnya Imam Khomeini ra
Hari ini adalah peringatan wafatnya seorang pria hebat yang, dengan kepemimpinannya yang cerdas, menciptakan salah satu revolusi terbesar dalam sejarah, seorang ahli hukum ilmiah dan politisi bijaksana yang berdiri dengan dukungan bangsa dan kepercayaan pada Tuhan dan menggulingkan pemerintah boneka dan otokratis. Dan dia mendirikan pemerintahan demokratis berdasarkan ajaran agama. Imam Khomeini ra mendirikan pemerintahan Republik Islam dan memperkenalkan sistem ini sebagai model dan panutan bagi umat Islam dan orang-orang tertindas lainnya di seluruh dunia. Ayatullah Khamenei selalu menyebut Imam Khomeini sebagai "kebenaran yang selalu hidup" dan dalam deskripsi yang indah tentangnya ia menyatakan: "Imam yang mulia adalah jiwa dari Republik Islam; Jika semangat ini diambil dari Republik Islam dan diabaikan, itu akan meninggalkan bekas di dinding."

Kehidupan Imam Khomeini ra yang penuh berkah, semua dihabiskan untuk belajar, mengajar, pelatihan jiwa, bimbingan dan perjuangan. Sebagai seorang ahli hukum (ulama fiqih) yang mendalam, seorang bijak yang bijaksana, seorang politisi yang berpandangan jauh ke depan dan seorang arif ilahi, ia mampu terhubung ke sumber cahaya ilahi dan lautan mistisisme dan spiritualitas yang tak terbatas dalam terang doa malam, kepercayaan, pengetahuan dan ketulusan. Dan termasuk di antara orang-orang yang beriman yang Imam Ali as berkata tentang mereka, " Dengan cahaya ilmu, mereka mencapai kebenaran persepsi dan wawasan, dan mereka telah memahami hakekat kepastian dengan jiwa mereka sendiri, dan mereka telah memudahkan apa yang sulit bagi orang yang mencari kemakmuran, dan mereka telah menjadi akrab dengan apa yang orang bodoh takuti. Mereka menemani dunia dengan tubuh yang jiwanya terhubung ke [puncak tinggi] alam malakut. Mereka adalah penerus Tuhan di bumi dan mengajak manusia untuk memeluk agamaNya. Ah! Ah! Betapa inginnya aku bertemu dengan mereka." (Nahjul Balaghah, Hikmah ke 147)

Karya besar terpenting Imam Khomeini ra yang seperti mukjizat adalah berdirinya pemerintahan Republik Islam di era ketika agama dianggap sebagai candu masyarakat, tetapi ia percaya pada universalitas agama dan ajarannya di arena sosial, dan untuk agama dia mendefinisikan misi membangun sistem, membangun peradaban, membangun masyarakat, dan membangun manusia dan benar-benar mengubah pandangan orang tentang agama. Imam Khomeini ra memperkenalkan model pemerintahan baru berdasarkan al-Qur'an dan Sunnah Nabi kepada dunia dan membawa kehormatan bagi umat Islam.

Ayatullah Khamenei, murid paling menonjol Imam Khomeini terkait peran berpengaruh  gurunya mengatakan, "Kami dulunya adalah tembaga, dia menjadikan kami emas, dia adalah alkimia, dia adalah obat mujarab. Kami menjalani kehidupan biasa, dia mengubah tikungan menjadi gerakan dan denyut dan menjadikan kami manusia."

Imam Khomeini dan Ayatullah Khamenei
Popularitas dan keagungan Imam Khomeini ra muncul dari karakteristik ilmiah dan akhlak beliau. Keberadaan karakteristik indah akhlak dalam kehidupan Imam Khomeini yang menonjol di bidang ilmiah, sosial, ekonomi dan politik, membuatnya menjadi sosok yang unggul dan tak ada duanya. Menurut kepribadian dan pemikiran politiknya, Imam memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat dan orang-orang di komunitasnya, dan dia adalah seorang pemimpin populis yang tertarik dan simpatik kepada orang-orang di komunitasnya. Dalam maktab Imam Khomeini, "kekuatan absolut" adalah milik Tuhan. Menurut ontologi mistiknya, tidak ada wujud kecuali Tuhan dan setiap wujud adalah bayangan dari wujudnya. Oleh karena itu, satu-satunya kekuatan sejati adalah kekuatan Tuhan, dan apapun selain Dia yang mengklaim kekuatan adalah kelemahan murni. Sikap seperti itu membuat ketakutan para penggugat kekuatan non-ilahi menghilang di mata mereka, karena tidak ada kekuatan kecuali kekuatan Tuhan, dan jika seseorang mencapai pemahaman tentang kebenaran ini, dia tidak akan takut pada kekuatan apa pun kecuali Tuhan.

Hari ini, pada peringatan 34 tahun wafatnya Imam Khomeini, kami salut dengan semangat agung arsitek besar Revolusi Islam dan kami mengingatkan bahwa kami masih teguh dan tabah dalam perjanjian dengannya, dan kami akan mewujudkan citapcitanya di bawah kepemimpinan bijak penerusnya yang layak. Kami berjanji bahwa kami akan terus berpegang pada prinsip-prinsip yang digariskan oleh Imam dan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, dan prinsip-prinsip ini menjamin kemenangan berkelanjutan bangsa Iran.

Menurut Rahbar, Ayatullah Khamenei: "Imam bukan hanya Imam hari kemarin; Ada imam hari ini dan imam hari esok. Generasi muda dan cerdas kita, yang seharusnya memikul tanggung jawab nasional dan revolusioner dari langkah kedua revolusi ini dan mengatur masa depan negara ini, membutuhkan perangkat lunak yang nyata; Untuk dapat berjalan di jalur revolusi dengan benar, yang akan membawa Iran dan bangsa Iran ke puncak, mereka membutuhkan perangkat lunak yang andal dan komprehensif yang dapat membantunya. Perangkat lunak ini, yang bisa menjadi akselerator, penolong, dan bahkan transformatif dalam beberapa kasus, adalah pelajaran Imam; Pelajaran yang bisa dicari dan ditemukan baik dalam perkataan Imam maupun perilaku Imam."

 

Tanggal 15 Khordad 1342 Hs atau 5 Juni 1963 di sejarah revolusi rakyat Iran menjadi momentum kunci kebangkitan rakyat Iran dalam menghadapi kekuatan-kekuatan imperialis. Kebangkitan 15 Khordad harus dianggap sebagai awal dimulainya tahap penting kebangkitan rakyat Iran yang membentuk gerakan besar Revolusi Islam.

Kebangkitan 15 Khordad merupakan peristiwa bersejarah dilihat dari dua sisi. Pertama, gerakan revolusioner besar ini terjadi di salah satu penggalan sejarah Iran yang paling genting dan membuktikan bahwa rakyat Iran dengan bersandar pada nilai-nilai agama, tidak membiarkan negaranya dijadikan pangkalan untuk menjaga kepentingan haram Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel.

Di sisi lain, kebangkitan 15 Khordad harus dianggap sebagai awal bersatunya ulama dengan rakyat sehingga membuka lahan subur untuk menyemai bibit-bibit Revolusi Islam Iran hingga tumbuh dan menghasilkan buah.

Kebangkitan 15 Khordad
Kebangkitan 15 Khordad tahun 1341 Hs dan awal tahun 1342 Hs pada kenyataannya adalah kelanjutan penting dari momen bersejarah Iran yang dimulai beberapa tahun sebelumnya, diawali  dengan kudeta Amerika-Inggris pada 28 Mordad 1332 Hs, 19 Agustus 1953 di Iran. Dalam rentang waktu ini, terjadi sejumlah peristiwa penting di Iran.

Salah satu pemicu pecahnya Kebangkitan 15 Khordad adalah pengesahan draf asosiasi negara-negara bagian dan provinsi, serta masalah-masalah seputar "Revolusi Putih" yang karena substansinya adalah penjajahan, sehingga membangkitkan protes rakyat dan kalangan ulama.  

Imam Khomeini di hari Asyura, yang bertepatan dengan 13 Khordad, di Madrasah Feiziye, Qom menyampaikan orasi bersejarah yang mengungkap realitas rezim Shah dan kepentingan Amerika di Iran. Pidato tersebut menyebabkan Imam Khomeini ditangkap.

Pada tanggal 15 Khordad 1342 Hs, 5 Juni 1963 orang-orang Shah dengan maksud menumpas kebangkitan rakyat, menangkap Imam Khomeini dan membawanya ke Tehran.

Namun seiring dengan tersebarnya berita penangkapan Imam, berbagai lapisan masyarakat Iran di Tehran, Qom dan beberapa kota lain turun ke jalan dan meneriakkan protesnya.

Kebangkitan ini semakin menambah semangat perlawanan rakyat Iran terhadap penguasa zalim kala itu. Kebangkitan 15 Khordad nyatanya adalah cikal bakal terbentuknya sebuah kebangkitan politik berlandaskan bangunan pemikiran dan revolusi.

Imam Khomeini, pendiri Republik Islam Iran dalam pidato terkenal yang menyebabkannya ditangkap dan diasingkan, memprotes intervensi dan tujuan politik  Amerika di Iran, serta bentuk hubungan rezim Shah dengan Israel. Gerakan revolusioner Imam Khomeini dan sikap reaktif Shah terhadap gerakan ini menjadi faktor penting yang mempererat ikatan rakyat Iran dengan nilai-nilai Islam.

Harus diakui, realitas yang diungkap Imam Khomeini terkait substansi rezim Shah dan target regional Amerika dan Israel, semakin menancapkan tekad rakyat Iran, serta menyadarkan mereka akan kenyataan seputar intervensi Amerika, setelah sebelumnya terbukti pada upaya kudeta tahun 1953.

Ketokohan, semangat perlawanan dan ketegasan Imam Khomeini dalam perjuangan menghadapai imperialisme, mulai dari pengasingan beliau ke Turki hingga pecahnya kembali gerakan-gerakan revolusi dan protes luas rakyat Iran terhadap rezim Shah, diakui membawa pengaruh yang cukup besar.

Kebangkitan 15 Khordad
Realitas inilah yang diprediksi Imam Khomeini jauh hari sebelum kemenangan Revolusi Islam Iran dan berungkali mengingatkan bahwa Kebangkitan 15 Khordad adalah pemicu Revolusi Islam Iran. Dampak jangka panjang Kebangkitan 15 Khordad dipicu oleh kedalaman pemikiran politik Imam Khomeini.

Menurut pendapat beberapa konseptor revolusi dunia, pemikiran politik Imam Khomeini memiliki karakteristik global. Imam Khomeini terjun ke arena perjuangan dengan mengusung prinsip "bersandar pada rakyat" dan menyebarkan keyakinannya ini di tengah masyarakat tertindas dunia.

Ia percaya, dalam kondisi sesulit apapun, jika bersandar pada rakyat, maka akan diperoleh hasil maksimal. Pemikiran revolusioner ini akhirnya melahirkan sebuah gerakan politik, sosial dan keagamaan. Seluruh konsep revolusi tersebut membuka peluang perlawanan rakyat Iran dan memainkan peran kunci dalam kemenangan Revolusi Islam.

Dalam pandangan Imam Khomeini, terbebasnya rakyat dari cengkeraman imperialisme dan segala bentuk tirani adalah salah satu tujuan perjuangan yang penting.

Kebangkitan 15 Khordad membuktikan bahwa dalam pemikiran politik Imam Khomeini, pemerintahan Islam adalah sebuah pemerintahan yang pertama-tama harus 100 persen bersandar pada rakyat. Setiap warga negara Iran harus merasa bahwa mereka menentukan nasib diri dan negaranya dengan suara yang diberikannya.

Imam Khomeini, terkait definisi Republik Islam mengatakan, pemerintahan Islam tidak mungkin bergabung dengan tirani. Imam Khomeini selalu menekankan peran masyarakat sebagai salah satu pondasi pemerintahan Islam dan menjadikannya sebagai salah satu konsep Revolusi Islam yang paling mendasar.

Tidak diragukan Imam Khomeini telah berusaha membebaskan Islam dan masyarakat Muslim dari isolasi dengan menyebarluaskan pemikiran politiknya, serta memberikan makna pada perjuangan di jalan kebenaran dan keadilan.

Oleh karena itu, Kebangkitan 15 Khordad tidak pernah bisa dimatikan meski dengan penumpasan, penangkapan, pengasingan, atau bahkan dengan intervensi langsung Amerika.

Kebangkitan ini bukanlah akhir dari gerakan revolusi rakyat Iran, tapi awal. Imam Khomeini dalam perjuangan politiknya menunjukkan bahwa tanpa bersandar pada dukungan kekuatan adidaya dunia, ia tetap bisa menciptakan peluang perubahan politik besar.

Perubahan ini berujung dengan kemenangan Revolusi Islam di Iran dan mampu menunjukkan kekuatan besar serta kapasitas politik luas agama Islam kepada masyarakat dunia.

Kedudukan Revolusi Islam Iran juga harus diukur berdasarkan nilai-nilai tersebut. Di sisi lain, pemikiran politik Imam Khomeini mampu meningkatkan kesadaran dan mendorong kebangkitan rakyat-rakyat tertindas di seluruh Dunia Islam.

Ia menularkan semangat dan keberanian yang diperlukan untuk berjuang. Gerakan besar ini telah mengubah nilai-nilai revolusi menjadi nilai-nilai global dan memberikan harapan kepada kaum mustadhafin dunia dalam melawan tirani.

Berkat pemikiran Imam Khomeini, Revolusi Islam menjadikan pembelaan terhadap hak-hak rakyat tertindas sebagai inti tujuannya dan berbeda dengan revolusi-revolusi dunia lain, ia tidak pernah keluar dari jalur aslinya.

Kebangkitan 15 Khordad
Revolusi Islam dalam kondisi apapun, di bawah tekanan dan gangguan, tetap berdiri di atas prinsip dasarnya. Imam Khomeini selama bertahun-tahun di pengasingan, pasca Kebangkitan 15 Khordad selalu menegaskan prinsip penting ini. Dengan demikian Kebangkitan 15 Khordad dapat membuka peluang perubahan yang lebih besar.

Seiring dengan terbentuknya Revolusi Islam berlandaskan pemikiran politik Imam Khomeini dan kemenangannya, bangsa-bangsa tertindas dunia seolah mendapat semangat dan harapan dalam melakukan perjuangan melawan imperialisme. Kebangkitan rakyat tertindas di seluruh penjuru dunia seolah mendapat nafas baru yang ditiupkan oleh Revolusi Islam di Iran.

Imam Khomeini dengan pemikirannya, mengembalikan rasa percaya diri dan kemuliaan pada rakyat Iran, dan menjauhkan mereka dari inferioritas di hadapan kekuatan adidaya dunia.

Setelah berlalu lebih dari setengah abad, kemuliaan ini tetap berdiri kokoh dan menjadi sandaran rakyat Iran serta memberikan jaminan kemenangan bagi mereka dalam menghadapi kekuatan imperialisme dan penjajah dunia.

 

34 tahun telah berlalu sejak wafatnya pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini ra. Setiap tahun pada peringatan haul Imam Khomeini, hamba Allah yang saleh ini, para pecintanya berkumpul untuk memperbaharui janji mereka dengan cita-cita Imam ra.

Menurut Ayatullah Khamenei, Imam bukan hanya tokoh di masanya, tetapi tokoh sejarah. Tokoh tidak dapat dihapus atau didistorsi dari memori sejarah. Media-media propaganda yang semakin modern dan dilengkapi hari demi hari, dapat memperkenalkan malam sebagai siang dan siang sebagai malam, mereka dapat berbohong tentang tokoh-tokoh terkemuka dan tercerahkan, seperti buih di atas air. "Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya." (QS. 13: 17)

Menurut Pemimpin Besar Revolusi Islam, Imam adalah tokoh yang komplit. Dalam ilmu agama... dalam iman dan takwa dan perilaku bertakwa ... dalam kekuatan karakter dan kemauan kuat... dalam kebangkitan karena Allah dan politik revolusioner serta menciptakan transformasi dalam sistem manusia, dia adalah yang terbaik dan unik. Sifat-sifat ini tidak dikumpulkan dalam diri para pemimpin mana pun dalam sejarah kita, (tetapi) sifat-sifat ini dikumpulkan dalam diri Imam yang terhormat... Matahari ini tidak dapat disembunyikan di balik awan.

Pidato Ayatullah Khamenei di acara Haul Imam Khomeini ra
Dari sudut pandang Pemimpin Besar Revolusi Islam, Imam, dengan kepribadian dan kepemimpinannya yang penting, telah menciptakan tiga transformasi besar dan bersejarah di tingkat Iran, Umat Islam, dan dunia. Di tingkat negara, Imam menciptakan Revolusi Islam, yang menggantikan struktur politik monarki dengan demokrasi, menggantikan militer yang independen yang berlandaskan kehormatan bangsa dengan militer boneka dan dipermalukan di depan kekuasaan, serta mendirikan pemerintahan Islam. Revolusi Islam di Iran mengubah tirani menjadi kebebasan, meningkatnya ketiadaan identitas bangsa menjadi identitas nasional dan kepercayaan diri, dan memperlengkapi bangsa yang berharap pada kekutan asing dengan kekuatan "kita bisa".

Menurut Ayatullah Khamenei, "Inilah keajaiban revolusi besar ini dan transformasi besar yang dibawa oleh Imam terhormat di tingkat negara..."Kita bisa"...adalah kunci untuk menyelesaikan semua masalah. Kami telah memiliki masalah, sedang dan akan memiliki masalah, tetapi hal yang dapat menyelesaikan masalah ini dan menyelesaikan masalah di masa lalu dan merupakan solusi dari masalah kami di masa depan adalah semangat dan kekuatan "kita bisa" di mana revolusi Imam yang terhormat di negeri ini. ... ciptakan."

Ayatullah Khamenei mempertimbangkan transformasi kedua yang diciptakan oleh Imam Khomeini ra di tingkat umat Islam dan inisiasi Kebangkitan Islam. Dengan pergerakan Imam ra, periode kepasifan dan imobilitas di dunia Islam bergerak menuju kelemahan dan kehancuran. Umat ​​Islam hari ini lebih dinamis, lebih aktif, lebih siap dan lebih hidup daripada sebelum kemenangan Revolusi Islam dan era sebelum Imam. Dengan langkah Imam tersebut, maka masalah Palestina yang dianggap sudah selesai menurut kaum Zionis dan pendukungnya, menjadi masalah pertama dunia Islam dan menjadi pusat perhatian bangsa-bangsa muslim.

Ayatullah Khamenei mengatakan, “Gema suara para pemimpin Palestina dari atas kedutaan rezim Zionis di Tehran pada awal revolusi mengguncang dunia. Semua orang mengerti bahwa era baru telah dimulai dalam konteks Palestina; Dia menghembuskan nafas kehidupan ke dalam tubuh bangsa Palestina yang tertekan dan hari ini Anda melihat bahwa bangsa Palestina membuktikan kehadirannya dengan kekuatan serta menyampaikan pesannya kepada dunia. Pada Hari Quds Sedunia, tidak hanya di Iran atau di Tehran, bahkan di ibu kota dunia non-Muslim, orang-orang mendukung dan membela Palestina.

Pidato Ayatullah Khamenei di acara Haul Imam Khomeini ra
Transformasi ketiga yang diciptakan oleh Imam Khomeini ra adalah untuk menghidupkan suasana spiritualitas dan memperhatikan hal-hal spiritual di tingkat dunia. Menurut Pemimpin Besar Revolusi Islam, dengan reaksi pasif masyarakat dunia terhadap agresi lembaga-lembaga Zionis dan arogansi untuk mempromosikan materialisme, spiritualitas telah dilupakan. Gerakan Imam menghidupkan kembali warna spiritual di dunia. Masalah ini mendapat reaksi keras dari pusat-pusat kekuatan yang sama. Saat ini, dengan lebih banyak motivasi, mereka menyerang spiritualitas dengan metode tercela yang membuat orang malu menyebutkannya, di mana pun mereka bisa di dunia.

Ayatullah Khamenei selanjutnya menganggap dukungan dan bantuan Imam dalam melakukan hal-hal besar ini sebagai "iman" dan "harapan" dan mengatakan bahwa Imam percaya pada empat hal; iman pada tujuan, yaitu Islam, iman pada jalan perjuangan, iman pada masyarakat, dan iman kepada Allah, yang di atas segalanya. Ayatullah Khamenei menganggap iman kepada Allah dalam hal-hal objektif dan dalam masalah melawan arogansi berarti beriman pada janji-janji Allah, dan dengan membaca ayat-ayat dari Al-Qur'an, dia berkata:

“Allah SWT telah membuat janji-janji dalam Al-Qur'an, di mana janji-janji ini pasti terjadi. Dia telah berjanji, "Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS. 47: 7). Apa yang bermanfaat bagi manusia adalah langgeng dan permanen dan buih di atas air akan lenyap. Kebatilan sama seperti buih di atas air... Ini adalah janji ilahi. "Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji (QS. 3: 9) ... (Imam) percaya pada janji-janji Allah... percaya akan janji Allah yang menggerakkan langkah tegas Imam di jalan ini"

Imam percaya pada rakyat, dia memercayai tindakan dan motif rakyat serta suara mereka. Kata "republik" di Republik Islam adalah hasil dari kepercayaan Imam kepada rakyat. Menurut Ayatullah Khamenei, “Imam bukanlah orang yang mengatakan sesuatu demi menyambut ini dan itu. Itu adalah keyakinannya. Karena itu, dia mengusulkan demokrasi. Di penghujung hidupnya, Imam mengklarifikasi bahwa dirinya tidak memilih presiden pertama. Namun presiden yang sama di mana Imam tidak menerimanya dan tidak memilihnya, tetapi tetap mengukuhkannya... Karena rakyat telah memilih. Dia meyakini validitas suara rakyat; Pemikiran dasar Imam adalah ini.

Di samping iman, faktor kedua yang membantu Imam Khomeini dalam memajukan jalannya adalah harapan. Harapan di hati Imam merupakan elemen dan mesin penggerak yang konstan, yang terlihat jelas dalam perilaku dan ucapannya. Dalam salah satu tulisannya, dia mengatakan bahwa selama bertahun-tahun perjuangan sampai setelah kemenangan, saya tidak pernah putus asa dan saya percaya bahwa ketika bangsa menginginkan sesuatu, itu pasti akan menjadi kenyataan.

Menurut Ayatullah Khamenei, "Harapan Imam ini juga karena imannya. Ketika Anda memiliki keyakinan yang jelas pada sumber yang benar dan pada Tuhan Yang Maha Esa, nyala harapan ini akan menyala di hati Anda dan tidak akan padam. Pengharapan dan iman bekerja sama. Iman adalah harapan. Mencapai harapan meningkatkan iman. Ini saling mempengaruhi... Imam memiliki harapan ini dan berusaha."

Pemimpin Besar Revolusi Islam berbicara kepada bangsa besar Iran dan mengatakan bahwa nasihat terbesar Imam kepada kita hari ini adalah untuk melanjutkan jalan dan menjaga warisannya. Kita harus mengikuti tiga transformasi yang sama yang diciptakan Imam di dalam negeri, di tingkat umat dan di tingkat dunia. Ayatullah Khamenei mengatakan, Hari ini, untuk memajukan tujuan ini, alat harus dipilih sesuai dengan masanya. Tidak ada keraguan tentang itu. Alatnya berubah, tetapi front musuh dan tujuan tidak berubah. Front arogansi, Zionisme dan penindas serta agresor dunia telah berbaris di depan bangsa Iran hari ini, sama seperti kemarin. Tentu saja, perbedaan yang tercipta dalam formasi front saat ini adalah bahwa bangsa Iran menjadi lebih kuat dan mereka menjadi lebih lemah.

Rahbar mengingatkan, "Apa yang tampak seperti lembah berbahaya yang dapat muncul di depan gerakan kita adalah bahwa kita melupakan permusuhan ini... Kita melupakan front permusuhan ini. Setiap kali kita lupa, kita dipukul... Kehidupan, kekuasaan, kehormatan dan reformasi bangsa Iran bergantung pada mengikuti transformasi Imam. Transformasi ini memiliki musuh yang keras kepala, penuh kebencian dan pendendam... Jika bangsa Iran ingin bergerak melawan ini gerakan melambat, ... sesuai dengan perangkat lunak yang sama yang dimiliki Imam di tubuhnya dan direkomendasikan kepada orang-orang. Itu membutuhkan iman dan harapan."

Pemimpin Besar Revolusi Islam menasihati orang-orang untuk memperkuat iman dan harapan mereka dan mengatakan bahwa tujuan musuh adalah iman dan harapan yang sama. Upaya besar-besaran musuh ditujukan untuk memadamkan api harapan di hati rakyat, terutama kaum muda. Melindungi kepentingan nasional kita memiliki musuh bebuyutan yang akan melakukan apapun yang mereka bisa dan telah lakukan hingga saat ini. Upaya terakhir mereka adalah kerusuhan musim gugur yang lalu. Ayatullah Khamenei menyatakan bahwa desainnya dilakukan di lembaga-lembaga think tank negara-negara Barat. Rahbar menyatakan:

Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran
"Rancangan mereka sedemikian rupa sehingga mereka mengira pekerjaan Republik Islam telah selesai... Mereka dapat merekrut bangsa Iran. Orang bodoh membuat kesalahan lagi, mereka tidak mengenal bangsa itu lagi. Tentu saja, bangsa Iran mengabaikan mereka, tidak memperhatikan seruan mereka. Orang-orang muda yang berkomitmen di jalanan dan universitas mampu melakukan hal-hal hebat...Mmereka mengecewakan musuh. Rencana musuh dibatalkan, tetapi peringatan ini diberikan kepada semua orang untuk tidak mengabaikan kebencian musuh."

Menurut Ayatullah Khamenei, Upaya musuh adalah membuat pemuda Iran putus asa dengan mengungkapkan masalah mereka. Padahal masalah bisa diperbaiki. Di depan masalah, ada fenomena yang jauh lebih menjanjikan. Kemajuan negara di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, terciptanya infrastruktur industri dan pertanian, terciptanya struktur transportasi yang sangat penting, kemajuan negara dalam pelatihan sumber daya manusia, pelaksanaan kegiatan konstruksi di daerah terpencil dan tertinggal bagian negara... Dalam politik internasional, kehormatan dan kemuliaan nasional, otoritas militer dan pertahanan negara. Fakta-faktanya penuh harapan.

Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan bahwa musuh ingin kita melupakan fakta-fakta ini dan pemuda kita tidak boleh diberitahu tentang hal itu. Fakta-fakta ini menandakan masa depan yang cerah. Poin harapannya adalah bahwa dalam upaya habis-habisan dari musuh ini... para pejuang tanpa pamrih, pembela tempat suci, para aktivis Jihad Tabyin yang bekerja keras, kelompok bantuan keagamaan, kamp-kamp jihadi, ini adalah seluruh pemuda negeri ini. Dengan adanya internet, jejaring sosial, terlepas dari semua ketergelinciran yang terjadi, pemuda kita bergerak dengan cara ini... Semua ini menjanjikan... Semoga bangsa Iran, anak muda terkasih, kebangkitan, kesadaran, motifasi, iman dan harapan ini akan terus meningkat dari hari ke hari, insya Allah dan menggagalkan musuh.