کمالوندی

کمالوندی

Jumat, 06 September 2013 19:45

Tafsir Al-Quran, Surat Al-Araf Ayat 57-62

Ayat ke 57

Artinya:

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (7: 57)

 

Sebelumnya telah disinggung mengenai pelbagai dimensi kekuasaan Allah Swt dalam menciptakan langit dan bumi. Ayat ini juga menyinggung rahmat Allah melalui turunnya hujan yang menjadi sumber kehidupan bumi dan makhluk-makhluk lainnya. Dalam ayat ini disebutkan bahwa tiupan angin yang berhembus ke seluruh permukaan bumi ini mengindikasikan adanya perintah dan keinginan Allah Swt. Karena itu janganlah kalian menyangka bahwa alam raya ini tidak memiliki perasaan samasekali, misalnya ia bergerak dalam bentuk kebetulan dan tidak diinginkan, sehingga menjadikan angin bergerak dan awan berpindah lalu hujan turun.

 

Allah Swt berdasarkan pengaturan yang sangat bijaksana ini, menjadi perantara dan penyebab perubahan-perubahan alam, seperti maraknya kehidupan di muka bumi, kemudian terkoordinasinya angin dan hujan. Berbagai fenomena alam ini tidak hanya merupakan sebuah dalil atas tauhid dan Kesaan Allah sebagai pencipta jagat raya ini, tetapi ia merupakan pertanda bahwa kiamat akan terjadi setelah kehidupan manusia berakhir dan setelah kematian semua makhluk di jagat raya ini.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Mengenal alam dan menyingkap undang-undang yang ada padanya, tidak boleh menyebabkan seorang manusia lupa terhadap dasar-dasar alam.

2. Kematian bukan berarti musnah dan hancur, tetapi ia merupakan perubahan keadaan, sekalipun bumi mati tetapi bukan berarti bumi tersebut tidak ada.

 

Ayat ke 58

 

Artinya:

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (7: 58)

 

Pada ayat sebelumnya telah disinggung bahwa turunnya hujan merupakan rahmat Allah Swt. Lalu ayat ini menyatakan, kendatipun turunnya hujan itu merupakan sumber kehidupan dan rahmat Allah, namun pemanfaatan air hujan tersebut secara baik akan semakin membantu pada kesuburan bumi. Tanah yang subur akan menjadi resapan air, sehingga akan menumbuhkan tanaman-tanaman hijau yang segar. Tetapi berbeda dengan tanah yang keras dan tandus, maka ia tidak memiliki kemampuan untuk meresap air, ia bahkan akan menjadi tanah tandus dan kering yang akan memberikan bau kurang sedap dan mengganggu orang lain. Memang dengan turunnya air hujan bisa merubah tabiat tanah tersebut, sehingga bunga-bunga tulip pun mulai bertumbuhan dan tanah kering dan tandus itu menjadi subur.

 

Ayat-ayat al-Quran juga merupakan rahmat Ilahi, yang apabila dibacakan pada hati yang telah siap, maka ia akan menumbuhkan kehidupan maknawi manusia. Namun berbeda bila al-Quran itu dibacakan kepada orang-orang yang berhati keras, maka ia semakin menimbulkan keras kepala dan acuh tak acuh dan sedikit pun tidak akan menimbulkan kesadaran terhadap kebenaran.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Untuk memberikan hidayat dan petunjuk kepada manusia, turunnya rahmat tidaklah cukup, namun yang penting kemampuan dan kesiapan hati untuk menerima petunjuk tersebut.

2. Kebersihan hati meluruskan jalan menuju kebahagiaan, sedangkan kekotoran sumber kegelapan dan kesesatan.

 

Ayat ke 59-60

 

Artinya:

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya". Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). (7: 59)

 

Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata". (7: 60)

 

Ayat-ayat ini merupakan salah satu contoh dari "lahan atau tanah jelek", yang telah disinggung pada ayat sebelumnya dan juga dijelaskan mengenai peristiwa Nabi Nuh dan kaumnya. Sebuah kaum yang berdasarkan ayat-ayat lainnya dalam al-Quran, sepanjang 950 tahun telah mendengar nasehat dan bimbingan Nabi Nuh as, namun mereka tidak menerima nasehat dan bimbingan tersebut, bahkan mereka bersikap dalam menghadapi beliau as. Pada akhirnya mereka menistakan dan menganiaya Nabi Nuh as, sehingga Allah Swt menurunkan azab kepada mereka. Dua ayat ini mengatakan, Nabi Nuh as mengajak umat manusia agar menyembah Tuhan yang Maha Esa. Bahkan mereka diseru untuk menuju kepada jalan Allah, namun para pembesar kaumnya yang selalu menjadi panutan justru menyebut Nuh as sebagai bodoh dan sesat. Akhirnya masyarakat tidak lagi mendengarkan nasehat dan pernyataan Nuh as. Dengan demikian beliau memperingatkan masyarakat akan azab yang diturunkan Allah di dunia dan di akhirat.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Pernyataan dan seruan para nabi sepanjang sejarah adalah menyembah Tuhan yang Maha Esa, sejak dari Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad Saw.

2. Sepanjang sejarah para penentang utama para nabi adalah kaum arogan dan berduit yang sombong, dimana harta dan dunia menjadi tujuan utama mereka, sehingga kekayaan dan kekuasaan sebagai alat untuk memperdaya masyarakat.

 

Ayat ke 61-62

 

Artinya:

Nuh menjawab: "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam". (7: 61)

 

"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui". (7: 62)

 

Dalam menjawab berbagai pertanyaan kaum arogan yang sepenuhnya tidak mengindahkan penghormatan yang menyebut Nabi Nuh sebagai sesat dan menyimpang, ternyata Nabi Nuh as tidak terpancing dengan pernyataan yang keji dan jelek tersebut, bahkan beliau tidak terseret kepada kesesatan mereka. Beliau as mengatakan, tidakkah aku sudah menyatakan kepada kalian bahwa aku bukanlah orang yang tersesat, tetapi aku justru adalah utusan Tuhan yang menyampaikan pesan-pesan Allah Swt kepada kalian semua. Allah Swt bukan saja sebagai Tuhan kalian, tapi Dia adalah Tuhan semesta Alam. Aku hanya menginginkan kebaikan kalian, apa yang aku katakan bukanlah tipudaya, tetapi wahyu diturunkan kepadaku.

 

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Untuk menghadapi segala pelecehan kaum jahiliyah, kita harus bisa sabar dan tegar, tidak boleh kita hadapi dengan balas dendam.

2. Seorang pembimbing dan mubaligh harus mempunyai sifat ingin memperbaiki dan komitmen terhadap masyarakat, mereka harus alim dan mengerti sehingga masyarakat tidak terseret kepada kebatilan.

3. Para nabi harus menguasai berbagai ilmu pengetahuan, sehingga masyarakat juga dapat memanfaatkannya.

Jumat, 06 September 2013 19:42

Obama Dilematis Hadapi Konflik Suriah

Ancaman Amerika Serikat untuk menyerang Suriah dinilai banyak pihak sebagai sebuah upaya untuk menyelamatkan wibawa Washington dan citra negara itu di tengah para sekutu, ketimbang kebutuhan untuk tujuan-tujuan kemanusiaan.

Bahasa ancaman telah menjadi alat komunikasi yang lumrah bagi negara-negara Barat di kancah internasional. Barat tak henti-hentinya mengancam negara lain dengan berbagai tindakan, dan kali ini pemerintahan Presiden Bashar al-Assad diancam dengan serangan militer.

Para pejabat Gedung Putih menganggap penggunaan senjata kimia di Suriah sebagai garis merah AS. Sementara pemerintah Damaskus membantah keras tudingan tersebut dan mengecam penggunaan senjata kimia. Pasukan pemerintah Suriah meraih kemenangan beruntun dalam menumpas teroris selama beberapa bulan terakhir dan tidak ada kebutuhan untuk menggunakan senjata kimia.

Presiden Barack Obama saat ini berada di antara dua pilihan yang sulit. Serangan militer AS ke Suriah meskipun terbatas, akan menghadapi masalah legalitas mengingat tidak ada mandat dari Dewan Keamanan PBB.

Kondisi itu mendorong Obama meminta bantuan Kongres untuk mendapatkan otorisasi sekaligus mengulur waktu untuk membangun koalisi internasional sebelum menyerang Suriah. AS telah kehilangan sekutu dekatnya, Inggris setelah ada penolakan dari parlemen negara itu.

Dari sisi lain, kegagalan AS dalam menyerang Suriah akan ditafsirkan sebagai langkah mundur negara itu dalam percaturan global, di mana citra hegemoni AS akan dipertanyakan.

Yang jelas, klaim-klaim AS tentang dugaan penggunaan senjata kimia di Suriah tidak akan menciptakan payung hukum untuk menyerang sebuah negara yang berdaulat dan merdeka.

Menurut situs Foreign Policy, AS sama sekali tidak mampu menjustifikasi serangan ke Suriah baik dari segi hukum maupun moral. Utusan Khusus PBB untuk Suriah Lakhdar Brahimi menyatakan bahwa serangan tanpa persetujuan Dewan Keamanan jelas melanggar hukum internasional.

Gagasan bahwa serangan akan menegakkan norma-norma internasional atau aturan hukum adalah tidak rasional.

Sementara itu, mantan anggota Kongres Ron Paul mengatakan, AS harus menarik diri dari perang sipil Suriah karena AS akan berada di jalan untuk membantu Al Qaeda jika terus mendukung pemberontakan oposisi.

Paul menentang rencana AS untuk menyerang Suriah dan percaya bahwa siapa pun yang terlibat dalam perang sipil akan menghadapi risiko besar. Perang selalu melebar karena konsekuensi yang tidak disengaja.

Jumat, 06 September 2013 19:41

Protes atas Kerjasama Yordania dengan Israel

Kelompok Ikhwanul Muslimin Yordania mengecam kesepakatan pemerintah Amman dengan Israel terkait pertukaran air. Seperti dilaporkan al-Alam, komite tinggi pembela negara dan anti normalisasi hubungan dengan Israel di Partai Front Amal Islam, sayap militer Ikhwanul Muslimin Yordania dalam statemenny menyatakan, kesepakatan terkait pertukaran air dengan rezim Zionis Israel sama halnya dengan mengabaikan hak bangsa Yordania dan Palestina.

Dalam statemen ini ditambahkan, kesepatakan tersebut telah menyerahkan sumber air Yordania demi kepentingan rasisme dan kebijakan haus perang Zionis. Sebaliknya Yordania hanya mendapat sebagian kecil air dari danau Tabristan dari Israel yang terbukti tidak bermanfaat.

Front Amal Islam Yordania menjelaskan, pemerintah Amman secara serius harus berusaha mengambil bagian air negara ini yang dirampas musuh. Abdullah Ensour, perdana menteri Yordania yang bulan lalu meresmikan jalur pipa air sepanjang 325 km dari wilayah al-Disi ke ibukota serta sejumlah provinsi lain menyatakan bahwa pemerintahannya akan melakukan pertukaran air dengan Israel karena Yordania di wilayah utara membutuhkan air, sedang Israel di wilayah selatan juga memiliki kebutuhan yang sama.

Menteri Pertanian dan Perairan Yordania, Hazem al-Naser mengatakan, negaranya tengah berupaya melakukan penyulingan air Laut Merah di dekat Teluk al-Aqabah, 350 km selatan kota Amman. Hazem al-Naser menjelaskan, negaranya termasuk negara termiskin keempat dari sisi sumber air di dunia dan setiap kebutuhan setiap warga setahunnya sebesar 130 meter kubik bila di banding kebutuhan warga dunia lainnya tidaklah seberapa. Program penyulingan air laut ini sekitar 100 juta meter kubik dan akan disalurkan ke berbagai provinsi negara ini.

Statemen perdana menteri dan menteri pertanian Yordania dirilis di saat Abdullah II, raja Yordania bulan lalu juga meresmikan proyek pipa air dari wilayah al-Disi ke Amman dan sejumlah kota lainnya. Dana proyek sebesar satu miliar dolar ini ditanggung oleh Amerika Serikat dan Turki. Rencananya, jika proyek ini rampung, maka sekitar 100 juta meter kubik air akan diproduksi dari wilayah al-Disi.

Sejak ditandatanganinya perjanjian damai antara Yordania dan Israel tahun 1994 hingga kini, Aman dan Tel Aviv telah menandatangani sejumlah perjanjian terkait sumber air. Di sisi lain, di saat pemerintah Amman mengklaim akan mengambil kembali hak mereka terkait sumber air, kubu oposisi negara ini menuding pemerintah lalai serta membahayakan hak rakyat khususnya di bidang sumber air.

Tahun 1996 ditandatangani kerjasama ekonomi antara Israel dan Yordania. Berdasarkan perjanjian ini, Israel akan membangun sebuah rumah sakit besar di Amman dan mencari sumber uranium di Yordania.

Meski raja Yordania memiliki banyak kerjasama dengan Israel, namun petinggi Zionis menolak permintaan Amman kepada Washington untuk membangun pusat listrik tenaga nuklir. Lobi Zionis di Amerika pun turun tangan mencegah permintaan Amman.

Hubungan keamanan Israel dan Yordania terjalin sejak akhir dekade 70-an. Saat itu, Raja Hussein, pemimpin Yordania ketika itu, dengan bantuan data intelijen dan senjata Israel membantai warga Palestina di Yordania serta tidak lagi mengijinkan pejuang Palestina menggunakan wilayahnya untuk menyerang Israel.

Kendala utama dalam hubungan Tel Aviv dan Amman adalah kebencian warga Muslim Yordania terhadap kebijakan arogan Israel di kawasan. Hubungan keduanya hanya terbatas di tingkat para pembesar, adapun rakyat Yordania menolak keras hubungan dengan penjajah Israel.

Presiden Republik Islam Iran Hassan Rohani pada hari Kamis (5/9) mengalihkan tanggung jawab perundingan nuklir dengan pihak asing kepada kementerian luar negeri. Sebelum ini, tanggung jawab negosiasi nuklir Iran dengan kelompok 5+1 diemban Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran (SNSC). Sebelum masalah ini diputuskan, pemerintah baru Iran mengangkat Ali Akbar Salehi, mantan Menteri Luar Negeri sebagai Ketua Badan Energi Atom Iran dan Reza Najafi sebagai Duta Besar Iran di IAEA.

Keputusan baru Hassan Rohani di bidang nuklir ini menunjukkan Iran akan tetap melanjutkan upaya penyelesaian nuklir sipilnya secara serius baik di bidang hukum maupun teknis tanpa mundur dari hak bangsa Iran. Masalah nuklir sipil Iran termasuk isu penting nasional, bahkan internasional. Pemerintahan Bijak dan Optimis yang dipimpin Hassan Rohani dengan langkah konstruktif ini berusaha menyelesaikan masalah nuklir dalam kerangka kepentingan nasional Iran.

Alaeddin Boroujerdi, Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri Majlis Iran berkeyainan bahwa perundingan nuklir merupakan masalah yang benar-benar spesifik dan profesional dan dalam hal ini kementerian luar negeri mampu melaksanakannya. Hassan Rohani, pasca kemenangannya dalam Pilpres 14 Juni dalam konferensi pers pertamanya menegaskan masalah nuklir akan ditindaklanjuti dalam kerangka perundingan serius dan profesional. Isu nuklir pada dasarnya masalah teknis dan hukum, oleh karenanya harus ditindaklanjuti dalam kerangka ini.

Berdasarkan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai merupakan hak semua negara. Bahkan berdasarkan perjanjian ini, negara-negara maju yang memiliki teknologi ini harus membantu negara-negara lain untuk memanfaatkan engeri nuklir.

Republik Islam Iran dalam kerangka NPT ini juga hanya ingin memanfaatkan energi nuklir untuk tujuan damai. Masih dalam kerangka ini, Iran melakukan pelbagai perundingan dengan pihak asing dalam bentuk kelompok 5+1. Pembahasan masalah nuklir Iran dapat dilakukan dalam bingkai teknis dan terkait hal ini, para penyidik IAEA telah melakukan kontrol ketat terhadap aktivitas nuklir sipil Iran.

Tapi patut disayangkan, pihak asing mempolitisasi masalah nuklir sipil Iran. Cara pandangan inilah yang membuat mereka berusaha menghalang-halangi penyelesaian masalah ini. Sebagian negara-negara anggota kelompok 5+1 (Amerika, Rusia, Inggris, Perancis, Cina ditambah Jerman), khususnya Amerika berusaha mencegah kemajuan perundingan nuklir sipil Iran. Padahal Iran berkali-kali menegaskan aktivitas nuklirnya untuk tujuan damai, bahkan ajaran Islam melarang untuk memproduksi bom nuklir.

Sebaliknya, Amerika dengan cara pandang politik terhadap masalah ini menuduh Iran menyembunyikan sesuatu. Cara pandang ini yang membuat pembahasan teknis dan hukum masalah ini menjadi jalan di tempat.

Pengalihan tanggung jawab negosiasi masalah nuklir Iran dari Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran ke Kementerian Luar Negeri Iran menunjukkan masalah nuklir Iran murni pembahasan teknis dan hukum, bukan masalah keamanan dan politik. Keputusan baru Hassan Rohani, Presiden Iran dalam masalah nuklir ini menunjukkan Tehran serius melakukan perundingan teknis dan hukum, tapi pada saat yang sama tidak akan mundur dari haknya memanfaatkan energi nuklir untuk tujuan damai.

Semakin jelas pembahasan teknis dan hukum nuklir sipil Iran dan pengalihan tanggung jawab negosiasi nuklir ke kementerian luar negeri menunjukkan niat baik Iran untuk melakukan perundingan serius dan konstruktif di masa mendatang. Sebagaimana telah ditegaskan oleh Presiden Rohani, hak bangsa Iran untuk memanfaatkan teknologi nuklir harus dihormati dalam perundingan mendatang dan Barat harus mengakuinya.

Jane Bsaki, juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengklaim, keputusan Amerika untuk menyerang Suriah tidak bertentangan dengan rencana konferensi Jenewa 2 untuk menyelesaikan krisis Damaskus.

Menurut laporan al-Alam Jumat (6/9), Jane Bsaki seraya mengisyaratkan kembali klaim penggunaan senjata kimia oleh Suriah menekankan, "Kami yakin mampu membatasi kemampuan militer Suriah dalam menggunakan senjata kimia, namun pasca serangan ini apakah Suriah akan berpartisipasi atau tidak dalam Konferensi Jenewa 2, kami tidak mampu berbicara mengenai hal tersebut."

Bsaki menambahkan bahwa Amerika tetap melanjutkan perundingannya dengan Rusia untuk menggelar Konferensi Jenewa 2 dan kemungkinan di perundingan ini kehadiran kedua pihak di perundingan tersebut akan dibahas.

Sementara itu, Rusia berulang kali menekankan bahwa pemerintah Suriah senantiasa siap menghadiri Konferensi Jenewa 2, namun sebaliknya tidak ada indikasi dari kubu oposisi Suriah serta kubu pro anasir bersenjata untuk hadir di pertemuan ini.

Seiring dengan perilisan berbagai bukti dan dokumen terkait penggunaan senjata kimia oleh kelompok teroris, negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat berserta sekutunya di kawasan masih tetap mengklaim bahwa pemerintah Suriah dalam hal ini yang melakukan serangan kimia ke berbagai wilayah pemukiman warga. Amerika beserta sekutunya pun menuntut intervensi militer di Suriah.

Bersamaan dengan kedatangan tim inspeksi PBB untuk menyelidiki penggunaan senjata kimia di Suriah, setelah beberapa bulan permintaan pemerintah Damaskus, kubu oposisi bersenjata dan pendukunganya di tingkat regional serta internasional mulai melakukan propaganda dan mengklaim bahwa pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia di dekat Damaskus.

Klaim dan represi propagada media pro kubu bersenjata anti Bashar al-Assad ini telah mengubah misi utama tim inspeksi PBB dan pemerintah Damaskus pun menyetujui penyidikan tim inspeksi ini ke kawasan yang diklaim kubu anti Suriah.

Kini ketika laporan tim inspeksi PBB terkait klaim penggunaan senjata kimia di dekat Damaskus belum dirilis, sejumlah negara Barat khususnya Amerika dan sekutu kawasannya mulai menggelar propaganda luas untuk memulai agresi militer ke Damaskus.

Tiga kapal perang Rusia melawati Selat Bosfor dan menuju bagian timur Mideterania.

Melintasnya tiga kapal cruiser Rusia berlansung di tengah-tengah ancaman Barat untuk melakukan intervensi militer terhadap pemerintah Suriah.

Kapal perang SSV-201 Priazovye yang datang dari Laut Hitam bersama kapal penjelajah Novocherkassk dan Moskva dilaporkan telah melewati Selat Bosfor yang berada di Istanbul, Turki.

Sebuah sumber militer kepada Interfax Rusia melaporkan, kapal perang SSV-201 Priazovye telah meninggalkan pelabuhan Sevastopol di Ukraina Ahad malam untuk melaksanakan misinya di timur Mideterania.

Rusia mempertahankan sejumlah kapal perangnya di timur Mideterania. Selama krisis Suriah berlangsung, kapal perang Rusia di kawasan ini melakukan patroli rutinnya.

Menyusul serangan senjata kimia pada 21 Agustus lalu yang diklaim Amerika dilakukan oleh pemerintah Bashar al-Assad, Presiden Barack Obama meminta Kongres untuk menyepakati serangan udara ke Damaskus.

Sementara itu, Moskow yang selama ini menjadi pendukung utama Damaskus menolak serangan tersebut.

Pemerintah interim Mesir merilis surat pembubaran Ikhwanul Muslimin. Menurut laporan Kantor Berita Tasnim mengutip televisi al-Mayadeen, pemerintah interim Mesir yang dipimpin Adly Mansour telah merilis instruksi tersebut.

Ikhwanul Muslimin Mesir didirikan tahun 1928 di kota Ismailiyah Mesir dan dipimpin oleh Hasan al-Bana. Kemudian gerakan ini pun berkembang aktivitasnya hingga ke sejumlah negara Arab dan Islam.

Menurut sumber ini, di tahun 2011, menyusul tergulingnya rezim Hosni Mubarak di Mesir, gerakan ini meraih legalitas besar dan mulai mengembangkan aktivitas sosial serta politik. Sebelumnya, kelompok ini termasuk gerakan terlarang dan para anggotanya berhasil memasuki parlemen secara independen dan tidak mengusung atribut kelompoknya. Aktivitas kelompok ini pun sebelumnya terbatas pada masalah agama dan sosial.

Di pemilu pertama presiden Mesir yang digelar secara demokratis tahun 2012, Muhammad Mursi dari Partai Kebebasan dan Keadilan, sayap Ikhwanul Muslimin berhasil unggul dari Ahmad Shafiq serta dikukuhkan menjadi presiden negara ini.

Masih menurut sumber ini, menyusul dilengserkannya Mursi oleh militer dalam sebuah kudeta bertepatan dengan aksi demo pada 30 Juni tahun ini, bentrokan antara Ikhwanul Muslimin beserta pendukungnya dan kubu anti Mursi terus berlanjut. Mayoritas pemimpin Ikhwanul Muslimin pun ditangkap pihak penguasa.

Jumat, 06 September 2013 19:23

Inkonsistensi Vonis Djoko

Putusan terhadap Inspektur Jenderal Polisi Djoko Susilo terlihat tidak konsisten. Bekas Kepala Korps Lalu Lintas ini terbukti melakukan dua kejahatan sekaligus-korupsi proyek simulator kemudi dan pencucian uang. Tapi hukuman yang diterimanya amat ringan: 10 tahun penjara.

Ganjaran itu tidak setimpal dengan perbuatannya. Dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Pemberantasan Korupsi, ia dituduh terlibat mark-up pengadaan simulator. Djoko juga menerima duit Rp 32 miliar dari pelaksana proyek. Di atas kertas, ancaman pidana maksimal kejahatan ini adalah hukuman penjara 20 tahun atau seumur hidup.

Djoko pun didakwa melakukan pencucian uang selama periode 2003-2010 dan 2010-2012. Nilai buku semua harta yang disembunyikan mencapai Rp 120 miliar. Kini, harta yang bernilai pasar sekitar Rp 200 miliar ini disita oleh negara. Sesuai dengan Pasal 3 Undang-Undang Pencucian Uang, pelaku diancam hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Hukum memang bukan matematika. Kita juga tidak menganut hukuman kumulatif. Tapi, karena Djoko dijerat dengan dua jenis kejahatan berat sekaligus, semestinya ia dituntut dengan hukuman maksimal seumur hidup atau 20 tahun penjara. Tuntutan jaksa di bawah hukuman maksimal itu, yakni hanya 18 tahun penjara. Celakanya, majelis hakim kemudian memberikan "diskon" besar sehingga vonis bagi terdakwa semakin jauh dari rasa keadilan.

Putusan itu timpang karena, di sisi lain, majelis hakim secara jelas menyatakan terdakwa terbukti melakukan dua jenis kejahatan tersebut. Tidak ada hal yang signifikan pula yang bisa meringankan terdakwa. Bersikap sopan selama sidang, juga penghargaan yang diterima dari pemerintah selama menjadi polisi, tak relevan sebagai pertimbangan hakim.

Djoko juga bukan justice collaborator yang pantas mendapat rabat hukuman. Ia tak mengungkap peran petinggi lain di kepolisian dalam skandal ini. Padahal beberapa jenderal diduga terlibat dalam patgulipat proyek simulator. Bungkamnya terdakwa seharusnya memberatkan hukuman. Begitu pula posisinya sebagai penegak hukum dan abdi negara, yang semestinya terdepan dalam menjunjung aturan dan bukan sebaliknya.

Benar, tanah dan rumah Djoko yang berserakan di banyak kota telah disita negara. Putusan ini patut diapresiasi. Tapi dirampasnya harta tidak bisa mengurangi hukuman pidana. Ini hanyalah hukuman tambahan seperti halnya penggantian kerugian negara. Soalnya, kerugian moril dan materiil negara ini akibat korupsi dan pencucian uang jauh lebih besar dibanding harta yang disita.

Putusan hakim terasa menyepelekan dahsyatnya bahaya kejahatan korupsi. Vonis Djoko juga tak akan menimbulkan efek jera bagi para koruptor. Karena itu, penting bagi Komisi Pemberantasan Korupsi untuk mengajukan banding. Tak sepantasnya terdakwa dihukum ringan hanya karena banyak hartanya telah dirampas.

Ayatullah Ahmad Khatami, khatib shalat Jumat Tehran menilai transformasi yang tengah terjadi di Suriah sebagai hasil dari ideologi liberal demokrasi negara Barat khususnya Amerika Serikat.

Ayatullah Ahmad Khatami seraya mengutuk ancaman negara-negara arogan khususnya Amerika terhadap Suriah serta berlanjutnya pembunuhan massal di negara ini menandaskan, "Apa yang terjadi di Suriah merupakan dampak dari ideologi liberal demokrasi Barat."

Khatib shalat Jumat Tehran menambahkan, sekitar 30 bulan Suriah tenggelam dalam api dan serangan kelompok teroris dukungan Amerika, Israel, Arab Saudi, Turki dan Qatar serta ribuan warga tak berdosa baik wanita dan anak-anak dibantai secara sadis.

Ayatullah Ahmad Khatami menyebut statemen terbaru John Kerry, menteri luar negeri Amerika yang mengingkari keterlibatan negaranya dengan jaringan teroris al-Qaeda sebagai kebohongan besar. "Berdasarkan berbagai bukti dan data akurat, al-Qaeda mendapat dukungan finansial dan senjata dari Amerika dan negara kawasan dalam setiap operasi terornya," tegas Ayatullah Ahmad Khatami.

Seraya menjelaskan bahwa al-Qaeda pelaksana kebijakan Amerika di Suriah, Ayatullah Ahmad Khatami menekankan, "Amerika saat ini mendukung al-Qaeda untuk menggapai tujuannya di Suriah, padahal beberapa tahun lalu dengan dalih dan slogan memerangi al-Qaeda, Washington menduduki Afghanistan."

Ayatullah Ahmad Khatami juga menilai klaim petinggi Amerika bahwa Bashar al-Assad telah melampaui garis merah kemanusiaan sangat menggelikan. "Aksi penyiksaan dan kejahatan yang terjadi di penjara Guantanamo dan penjara rahasia lain Amerika di Irak serta Afghanistan menempatkan Washington sebagai pelanggar terbesar Hak Asasi Manusia (HAM) di dunia," tegas Ayatullah Ahmad Khatami.

Terkait alasan keputusan Amerika melakukan intervensi militer ke Suriah, khatib shalat Jumat Tehran mengatakan, "Amerika setelah menyaksikan kekalahan konspirasinya untuk menggulingkan Bashar al-Assad, kini menyadari bahwa untuk menggapai ambisinya di Damaskus tidak ada jalan lain kecuali menyerang negara ini."

Ayatullah Khatami menilai dakwaan terhadap pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia tidak dapat diterima dan sekedar alasan untuk menyerang negara ini. Beliau menambahkan, "Pemerintah dan militer dalam beberapa hari terakhir menggapai kemenangan beruntun menghadapi musuh. Oleh karena itu mereka tidak membutuhkan senjata kimia."

Khatib shalat Jumat Tehran dalam pidatonya juga menyinggung bentrokan anak-anak korban aksi teror dengan kelompok teroris MKO di pangkalan Ashraf, provinsi Diyala Irak timur. "Kelompok teroris ini belepotan darah ribuan warga Irak dan Iran serta kejahatan mereka tidak akan pernah dilupakan oleh anak-anak yang menjadi korban aksi teror kelompok ini," tegas Ayatullah Ahmad Khatami.

Anasir Al-Qaeda yang beroperasi di Suriah menyerang sebuah desa Kristen di barat negara itu.

Serangan oleh para teroris Front Al-Nusra terjadi Rabu (4/9) di desa pegunungan Maaloula, di timur laut dari ibukota, Damaskus. Anasir Front Al-Nusra juga menjarah sebuah hotel selama serangan tersebut.

Setelah serangan itu, sekitar 80 warga desa berlindung di sebuah biara lokal.

Menurut keterangan pejabat pemerintah, desa ini masih di bawah kontrol tentara Suriah, yang terus berusaha menghalau serangan tersebut.