کمالوندی
Terbukanya Invasi Militer Perancis di Afrika
Michel Djotodia, presiden baru Republik Afrika Tengah meminta bantuan Perancis untuk menghentikan kerusuhan yang tak berkesudahan dan aksi penjarahan di negara ini.
Nicolas Tiangaye, perdana menteri Republik Afrika Tengah melalui pesannya yang disiarkan televisi pemerintah meminta Perancis dan pasukan Afrika (FOMAC) memikirkan pengamanan dan penanggulangan instabilitas di Bangui, ibukota negara ini dan kota-kota lainnya.
Menyusul kudeta sparatis Seleka pada 24 Maret dan tumbangnya pemerintahan Francois Bozize, aksi kerusuhan dan penjarahan menjadi pemandangan sehari-hari di Republik Afrika Tengah. Berbagai kelompok menarik pajak seenaknya dan menjarah harta pribadi warga dan pemerintah termasuk rumah sakit, balai pengobatan dan UGD.
Menurut berbagai laporan, eskalasi instabilitas dalam beberapa hari ini mengakibatkan ratusan warga mengungsi dari ibukota Republik Afrika Tengah. Apa yang ditakutkan saat ini adalah instabilitas tersebut akan membuka peluang bagi intervensi asing.
Menurut para pengamat, permintaan resmi petinggi Afrika Tengah kepada Perancis untuk mengirim pasukannya ke negara ini akan melegalkan kehadiran Paris di Bangui. Sejumlah pengamat lainnya menilai, berpalingnya Perancis dari Francois Bozize yang tidak meraih dukungan dari rakyatnya, sebagai bentuk Paris untuk mencitrakan dirinya sebagai penegak demokrasi.
Francois Bozize selama memerintah tidak pernah komitmen terhadap perjanjian damai, membelakangi rakyatnya dan memberi konsesi besar kepada asing. Hal ini dimaksudkan Bozize untuk memperkokoh posisinya. Di satu sisi, Paris dengan dukungannya di balik layar kepada kelompok sparatis telah jauh hari mempersiapkan kehadirannya di negara Afrika ini.
Pengamat menilai penentuan syarat untuk membantu Afrika Tengah di kondisi saat ini sebagai kelanjutan kebijakan penipuan publik awam. Menteri Luar Negeri Perancis, Laurent Fabius hari Rabu (17/4) telah menyinggung kesiapan Paris untuk memulihkan stabilitas Afrika Tengah. Meski demikian Fabius mensyaratkan bantuan tersebut dengan terbentuknya pemerintahan legal di negara ini.
Menlu Perancis menyatakan, pasukan Perancis dengan mudah dapat mengontrol bandara udara, lalu lintas dalam kota dan menjamin keamanan pusat-pusat bahan makanan. Disebutkan bahwa saat ini sekitar 600 tentara Perancis berada di Republik Afrika Tengah.
Menurut keyakinan para pengamat, permohonan bantuan kepada negara imperialis ini untuk memulihkan keamanan di Afrika Tengah berdampak sangat negatif. Dengan permohonan ini, Perancis beserta sekutunya dengan mudah menduduki Afrika Tengah dan mempermudah kebijakan imperialisnya di benua Afrika ini.
Berbagai bukti menunjukkan bahwa bantuan Perancis terhadap wilayah jajahannya di Afrika hanya dari luarnya saja. Negara Afrika tersebut termasuk negara paling miskin dunia dengan standar pendidikan dan kesehatan terendah. Berlanjutnya kebijakan arogan Perancis di Afrika terjadi di saat Francois Hollande ketika baru berkuasa akan mengakhiri Françafrique.
Tampaknya munculnya kekuatan baru dunia seperti Cina yang menjadi rival utama dan serius Barat untuk menguasai kekayaan alam dan pasar Afrika menjadi dalih utama bagi maraknya kembali Françafrique.
Pesan Berdarah bagi Senat Amerika Serikat
Pembunuhan terhadap seorang opsir polisi di universitas paling terkenal di Amerika Serikat merupakan pesan berdarah bagi Senat negara ini yang menolak pengetatan kontrol peredaran dan kepemilikan senjata di negeri Paman Sam ini.
Hari Rabu lalu, senator Amerika enggan mendukung draf pengetatan kontrol senjata dan tepat satu hari kemudian Kamis (18/4/2013) seorang bersenjata menembak polisi di universitas Teknologi Massachusetts (MIT), Amerika Serikat (AS).
Petugas itu menurut kantor kejaksaan distrik setempat, ditembak ketika ia tengah memeriksa laporan gangguan keamanan. Ia tewas dengan sejumlah luka tembak. Anggota kepolisian negara bagian, dan Biro Investigasi Federal Amerika (FBI), segera merapat ke lokasi penembakan di Gedung 32 kampus MIT.
Saat pertama kali ditemukan petugas masih dalam keadaan hidup, ia dilarikan ke Rumah Sakit Umum Massachusetts, di mana ia dinyatakan meninggal dunia. Pascapenembakan, pihak berwenang menutup sementara bangunan gedung, dan meminta orang-orang tidak memasukinya.
Pembunuhan seorang polisi di MIT terjadi ketika Presiden Barack Obama hanya berada beberapa kilometer tepatnya di Boston dalam rangkan menghadiri acara peringatakan korban ledakan bom di kota ini. Aksi terorisme di Amerika semakin besar ketika Obama berbicara mengenai tekad pemerintah untuk menemukan pelaku pemboman di Boston.
Sementara itu, jumlah korban teroris di Amerika dalam dua dekade lalu jika dibandingkan dengan korban tewas akibat penembakan di jalan-jalan akan disadari bahwa undang-undang pembebasan untuk membawa senjata merupakan ancaman terbesar bagi masyarakat Amerika Serikat. Contohnya, tragedi 11 September 2001 yang menjadi dalih AS menggelar perang di berbagai negara dunia dengan alasan memerangi terorisme hanya menelan korban kurang dari 3.000 orang, namun setiap tahunnya warga yang tewas akibat tembakan di jalan-jalan, pusat pendidikan, pusat rekreasi dan perdagangan di negara ini mencapai lebih dari 25 ribu orang.
Arsitek serangan bom di kota Boston hanya mampu menewaskan tiga orang, namun pelaku penembakan di Sekolah Dasar Sandy Hook di Newton, Connecticut, Amerika Serikat berhasil membantai 25 orang termasuk 20 anak usia di bawah enam tahun. Jumlah korban tewas dalam aksi penembakan di Aurora Colorado, universitas Colorado, kampus Universitas Virginia Tech, Sekolah Dasar Sandy Hook di Newton, Connecticut dan universitas Teknologi Massachusetts (MIT) tercatat paling besar dalam sejarah negara ini.
Jumlah korban penembakan tersebut sangat mengerikan dan kira-kira separuh dari korban teroris terhadap Gedung Federal Alfred P. Murrah di Oklahoma City. Peristiwa ini sebelum tragedi 11 September tercatat sebagai serangan teroris terbesar di wilayah Amerika Serikat.
Pastinya saat ini keamanan warga Amerika Serikat terancam dari dua fenomena yang hampir serupa. Dari satu sisi, para kriminal, penjagal, psikopat dan sampah masyarakat memiliki peluang untuk membantai warga tanpa alasan atau motif pribadi. Dan dari sisi lain, kelompok dalam negeri atau asing kian mendapat angin untuk melakukan aksi teroris baik itu di dalam negeri Amerika atau di luar perbatasan negara ini.
Oleh karena itu, dalam satu atau dua tahun terakhir setiap minggunya warga Amerika disuguhi dengan adegan penembakan membabi buta atau upaya untuk melakukan aksi teroris. Sementara itu, pemerintah Amerika menerapkan kebijakan yang menelan anggaran besar untuk mencegah aksi teroris. Pembentukan berbagai lembaga seperti manajeman intelijen nasional dan departemen keamanan nasional memaksa mengalirnya puluhan miliar dolar bujet tambahan ke dinas intelijen dan keamanan, perang di Afghanistan dan Irak serta program perang anti terorisme internasional. Ini merupakan salah satu kebijakan pemerintah AS dan Kongres untuk menghadapi ancaman terorisme.
Kampanye Presiden Barack Obama untuk mengurangi kasus kekerasan akibat senjata setelah terjadinya pembantaian di sekolah dasar Sandy Hook, Newtown, dihadang Senat Amerika Serikat. Dalam sidang Rabu 17 April 2013, Senat menolak rencana untuk memperluas pemeriksaan latar belakang untuk pembeli senjata.
Dalam pemungutan suara di Senat, regulasi baru itu mendapatkan suara 54-46, kurang enam dari 60 suara yang dibutuhkan untuk disetujui badan perwakilan ini. Dalam proposal yang diajukan ke Senat, Obama meminta perluasan pemeriksaan latar belakang untuk pembelian senjata. Termasuk untuk mereka yang membeli senjata secara online atau di acara pameran.
Langkah-langkah lain yang didukung Obama --termasuk usulan untuk melarang senjata serbu- juga gagal dalam serangkaian penilaian Senat. Perkembangan ini mencerminkan keengganan Senator untuk mengubah regulasi itu, selain menunjukkan kuatnya kekuatan politik pembela hak-hak untuk memiliki senjata, yaitu Asosiasi Senapan Nasional.
Di luar dua usulan itu, Senat juga menolak dengan suara 52-48, kurang delapan dari 60 suara yang dibutuhkan, atas amandemen Undang Undang Kontrol Senjata yang ada saat ini. Melalui amandemen itu, senator Chuck Grassley mengusulkan agar regulasi baru hanya fokus pada penuntutan kejahatan menggunakan senjata, ditingkatkannya catatan kesehatan mental bagi pemilik senjata, dan mendanai langkah-langkah pengamanan sekolah yang lebih baik.
Di masyarakat yang dengan mudah mendapat senjata perang otomatis dan senapan serbu dengan dengan harga beberapa ratus dolar atau petunjuk pembuatan bom dibeberkan di internet serta mudah di akses oleh siapa saja, maka sudah tidak ada tempat aman bagi warga dan aksi tembakan atau serangan teroris mudah terjadi. Kondisi ini hanya akan meninggalkan kesedihan bagi keluarga korban dan hadirnya pejabat di acara peringatan insiden berdarah serta kian maraknya senjata di tengah masyarakat Amerika.
Merkel: Eropa Harus Memimpin Dunia
Kanselir Jerman, Angela Merkel seraya menekankan bahwa sampai saat ini masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menyelesaikan krisis menambahkan, kami menginginkan sebuah Eropa yang kuat dan pemimpin dunia di segala bidang.
MNA mengutip Focus melaporkan, Angela Merkel saat diwawancarai Koran Bild menekankan, "Kami menghendaki Eropa yang kuat dan mampu memimpin dunia." Ia pun mengingatkan bahwa kami berada di Jerman dan Eropa selatan telah berada di jalur benar untuk menyelesaikan krisis, namun demikian masih banyak pekerjaan yang menunggu dan harus dikerjakan.
Menurut keyakinan Angela Merkel, negara-negara Eropa harus lebih layak untuk bersaing. Ia juga menekankan, "Saya menilai Jerman sebagai negara dengan proses reformasinya yang layak."
Ia juga mengingatkan, "Saya menghendaki Eropa yang kokoh, mampu memberi kesejahteraan kepada warganya di masa mendatang. Eropa harus menjadi pemimpin dunia, namun realitanya di banyak sektor tidak demikian."
Merkel juga menilai cukup baik upaya negara-negara Eropa selatan dalam memajukan reformasi. "Negara-negara ini telah melakukan reformasi yang diperlukan sehingga posisinya lebih terjamin. Negara tersebut menyadari bahwa mayoritas rakyatnya hidup dalam penderitaan," tandas Merkel.
Ia menambahkan, setiap negara Eropa membutuhkan sebuah ekonomi yang layak untuk bersaing dan sebuah pijakan industri.
Mufti Tunisia: Perang di Suriah itu Bukan Jihad
Ulama senior Tunisia, Othman Battikh, menyebut seruan jihad melawan pemerintah Suriah sebagai "kekeliruan besar" yang tidak diperbolehkan dalam Islam.
Mufti Tunisia itu mengemukakan hal tersebut dalam sebuah konferensi pers Jumat (19/4) seraya menyatakan bahwa "Muslim tidak boleh memerangi Muslim" dengan alasan apapun.
Battikh menegaskan bahwa mereka yang pergi ke Suriah di bawah panji Jihad, telah dibohongi dan menjadi korban pencucian otak.
Pernyataan Battikh dikemukakan menyusul banyak para pemuda Tunisia yang direkrut oleh kelompok teroris untuk dikirim ke Suriah berperang melawan pemerintahan Presiden Suriah, Bashar Al-Assad.
AS Akan Tingkatkan Bantuan untuk Kelompok Oposisi Suriah
Amerika Serikat berencana akan mengalirkan bantuan kepada pasukan milisi Suriah hingga 130 juta USD dalam bentuk suplai militer, dalam rangka meningkatkan perlawanan terhadap pemerintah Suriah.
Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat yang berbicara secara anonim Sabtu (20/4) mengatakan, "Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry akan segera memberikan penjelasan tentang bantuan kepada kelompok oposisi dalam konferensi Friends of Syria yang digelar di Istanbul, Turki."
Pertemuan tersebut dihadiri oleh delegasi dari Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Perancis, Arab Saudi dan Qatar.
Menurut pejabat Amerika Serikat itu, bantuan terhadap kelompok bersenjata Suriah itu mencakup rompi anti peluru, kendaraan lapis baja, teropong malam hari dan perlengkapan komunikasi mutakhir.
Kamis lalu, Kerry mengatakan bahwa Amerika Serikat akan melanjutkan bantuannya kepada kelompok bersenjata yang berjuang menggulingkan pemerintah Suriah dan mengatakan, "Kami bekerjasama sangat erat dengan kelompok oposisi Suriah."
Delegasi Parlemen Iran Berkunjung ke Suriah
Seorang anggota parlemen senior Iran mengkonfirmasikan kunjungan delegasi parlemen Republik Islam ke Damaskus, Suriah, dalam program kunjungan tiga hari.
Wakil direktur jenderal untuk urusan internasional parlemen Iran, Hossein Sheikholeslam, Sabtu (20/4) menyatkaan bahwa delegasi itu telah meninggalkan Tehran pada hari Jumat (19/4).
Delegasi parlemen Iran itu dipimpin oleh Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Alaeddin Boroujerdi.
Sheikholeslam menambahkan, tujuan kunjungan tersebut adalah "memperkuat hubungan parlemen antara Iran dan Suriah dan membicarakan perkembangan regional khususnya situasi Suriah".
Suriah telah mengalami instabilitas sejak pertengahan Maret 2011. Banyak orang, termasuk sejumlah besar personil militer, keamanan dan warga sipil tewas dalam instabilitas tersebut.
Pemerintah Suriah menyatakan bahwa instabilitas tersebut disetir dari luar negeri, dan bahwa mayoritas anasir bersenjata yang beroperasi di Suriah adalah warga negara asing
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Maidah Ayat 32-35
Ayat ke 32
Artinya:
Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi. (5: 32)
Sebelumnya telah diceritakan mengenai peristiwa yang terjadi pada anak-anak Adam as. Dengan demikian kita mengerti bahwa Qabil yang terbakar oleh api dengki da hasud-nya tega membunuh Habil saudaranya. Berkat petunjuk seekor burung gagak, Qabil menguburkan saudaranya Habil dan akhirnya menyesali perbuatannya itu. Allah Swt dalam ayat ini mengatakan, "Setelah peristiwa ini, Kami telah menetapkan suatu hukum bahwa membunuh seorang manusia, sama dengan membunuh seluruh manusia. Karena menyelamatkan kehidupan seorang manusia, sama dengan menyelamatkan seluruh manusia dari kehancuran dan malapetaka." Karena itu, al-Quran dalam ayat ini menyinggung sebuah prinsip sosial dan menegaskan, sebuah masyarakat bagaikan sebuah tubuh. Sedangkan individu-individu masyarakat merupakan anggota tubuh tersebu. Apabila sebuah anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lainnya pun ikut merasakan sakit pula.
Begitu juga bila seseorang berani mencemari tangannya dengan darah orang yang tak berdosa, maka pada hakikatnya dia telah siap untuk membunuh manusia-manusia lain yang tak berdosa. Karena dia adalah pembunuh, maka sudah pasti berbeda dengan orang-orang yang tak berdosa. Dari segi sistim penciptaan manusia, terbunuhnya Habil telah menyebabkan hancurnya generasi besar suatu masyarakat, yang bakal tampil dan lahir di dunia ini. Poin yang sangat menarik dimana al-Quran memberikan perhatian penuh terhadap perlindungan jiwa manusia dan menganggap membunuh seorang manusia, sama dengan membunuh sebuah masyarakat.
Sekalipun demikian, ternyata membunuh manusia dalam Islam diperbolehkan dalam dua hal; pertama, seorang pembunuh yang harus menjalani hukum qishash yakni dibunuh, dan yang kedua mengenai seseorang yang telah melakukan fasad, kejahatan dan kejelekan besar di dunia. Sekalipun orang itu bisa saja tidak dibunuh, tetapi undang-undang Islam mewajibkan dia membayar tebusan uang, dalam jumlah yang telah ditetapkan. Demikianlah peraturan dan undang-undang semacam ini ditetapkan dalam Islam, dalam rangka menjaga ketentraman hidup masyarakat luas.
Dalam riwayat-riwayat Islam disebutkan bahwa salah satu contoh dan manifestasi dari dibunuh atau dibiarkan hidup orang-orang tersebut ialah perbuatan menyesatkan atau memberi petunjuk kepada mereka. Barangsiapa yang menyebabkan orang lain tersesat, maka seakan-akan ia telah menyesatkan pula masyarakat luas. Sebaliknya barangsiapa yang memberi petunjuk kepada seseorang, maka seakan ia telah memberi petunjuk kepada masyarakat untuk menuju hidup sejahtera. Akhir ayat tersebut menyinggung adanya kebiasaan kelompok Bani Israil yang melanggar undang-undang dan mengatakan, justru karena masalah itulah sebagian Kami mengutus para nabi itu, sehingga Kami dapat menyampaikan kebenaran ke dalam telinga mereka. Namun mereka malah keluar menentang dan melakukan pelanggaran terhadap undang-undang Ilahi.
Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Nasib manusia sepanjang sejarah memiliki kaitan dengan orang lain. Sejarah kemanusiaan merupakan mata rantai yang saling berhubungan. Karena itu, terputusnya sebuah mata rantai akan mengakibatkan musnahnya sejumlah besar umat manusia.
2. Nilai suatu pekerjaan berkaitan dengan tujuan mereka. Pembunuhan seorang manusia dengan maksud jahat, merupakan pemusnahan sebuah masyarakat, tetapi eksekusi terhadap seorang pembunuh dalam rangka qishash merupakan sumber kehidupan masyarakat.
3. Mereka yang memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan penyelamatan jiwa manusia, seperti para dokter dan perawat, harus mengerti nilai pekerjaan mereka. Menyembuhkan atau menyelamatkan orang yang sakit dari kematian, bagaikan menyelamatkan sebuah masyarakat dari kehancuran.
Ayat ke 33-34
Artinya:
Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (5: 33)
Kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (5: 34)
Setelah ayat sebelumnya yang menerangkan kehormatan jiwa manusia, ayat-ayat ini juga mengatakan, apabila kehormatan jiwa seseorang tidak dijaga dan dihormati, maka jiwanyapun tidak akan terhormat. Bahkan harus diberikan sanksi yang terberat sekalipun supaya dapat menjadi perhatian dan pelajaran bagi yang lainnya. Dalam ayat ini disebutkan 4 jenis sanksi hukum sebagai berikut; hukum bunuh, gantung, memotong anggota badan dan diasingkan. Sudah jelas dan gamblang bahwa 4 jenis hukuman tersebut tidak bisa disamaratakan. Karena itu Hakim Islam berdasarkan tingkat kejahatan yang telah dilakukan oleh terpidana, akan menentukan salah satu hukuman yang sesuai.
Poin yang menarik ialah Allah Swt pada ayat ini menyebutkan, ancaman masyarakat dengan pembunuhan, sama halnya dengan pernyataan perang terhadap Allah dan Rasul-Nya. Pernyataan perang ini merupakan perkara yang sangat besar dan penting. Artinya, harus diketahui bahwa seorang yang melakukan pembunuhan telah berhadapan dengan Allah dan Nabi-Nya. Oleh karena itu, janganlah menyangka bahwa seseorang itu lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, padahal bila berkehendak, dia akan berbuat sesuatu untuk menentangnya.
Di akhir ayat ini Allah mengatakan, "Sanksi-sanksi hukum ini adalah bersifat duniawi, tidak bisa menghapus siksa dan balasan kelak di Hari Akhirat, kecuali jika para pelaku kejahatan ini bertaubat, dan Allah mengampuni segala kesalahan yang berkaitan dengannya. Namun hak-hak setiap orang harus ditunaikan. Allah Swt tidak bisa membebaskan hak-hak manusia, kecuali jika orang yang teraniaya itu sendiri telah memaafkan.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Guna memperbaiki masyarakat, di samping melakukan bimbingan dan penyuluhan yang diperlukan, juga memanfaatkan jasa pengadilan untuk menentukan sikap yang tegas dan kukuh.
2. Mereka yang merusak keamanan dan ketenteraman masyarakat harus siap disingkirkan dan dicegah kehadirannya dalam masyarakat.
3. Pelaksanaan hukum pembalasan secara Islami, memerlukan terbentuknya pemerintahan Islam serta kemampuan pemerintahan ini dalam melaksanakan hukum-hukumnya.
Ayat ke 35
Atinya:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (5: 35)
Setelah menjelaskan siksaan yang pedih terhadap sebagian orang yang berbuat dosa, seperti membunuh, berbuat kejahatan, mengancam dan merusak keamanan, ayat ini menyatakan, jalan yang lurus dan selamat di dunia ini penuh dengan halangan dan godaan. Sementara dua hal; takwa dan tawasul, merupakan pengontrol jiwa atas hawa nafsu rendah dan pencegah terjadinya kejahatan dan dosa. Selain itu ada jalan yang ditetapkan oleh Allah dalam rangka menghantarkan manusia kepada kebahagiaan dan keselamatan hidup yaitu bertawasul kepada al-Quran, Sunnah Nabi, Sirah Ahlul Bait, para aulia dan orang-orang yang suci yang kesemuanya merupakan sarana dan penyebab Allah Swt mendekatkan manusia kepada-Nya. Sebagaimana takwa merupakan unsur yang dapat menjauhkan manusia dari perbuatan dosa.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Untuk bisa berbuat yang lurus dan jujur, harus dapat menjauhkan diri dari perbuatan yang jelek dan jahat. Selain itu harus membiasakan bergaul dan mendekatkan diri dengan orang-orang yang bersih dan baik.
2. Takwa dan bertawasul merupakan jalan yang dapat membahagiakan manusia, apabila syarat-syarat yang lainnya juga telah tersedia, maka manusia dapat mencapai tujuannya.
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Maidah Ayat 27-31
Ayat ke 27
Artinya:
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (5: 27)
Kendatipun dalam riwayat-riwayat Islam dan kitab Taurat (Perjanjian Lama: Kitab Kejadian), bab keempat disebutkan, Nabi Adam as pada awalnya memiliki dua anak laki-laki yang masing-masing bernama Habil dan Qabil. Habil adalah peternak dan penggembala, sedang Qabil adalah petani dan bercocok tanam. Habil telah mempersembahkan seekor kambingnya yang terbagus sebagai korban, namun Qabil menginfakkan hasil pertaniannya yang terburuk untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena itulah nazar dan persembahan Habil diterima, sedang nazar dan persembahan Qabil ditolak disisi Tuhan Swt.
Perkara ini telah diberitahukan kepada Adam as dan mereka berdua melalui wahyu, atau melalui jalan lain. Qabil adalah seorang yang suka hasud, pendengki dan berhati gelap, bukannya memperbaiki diri dan menebus kesalahan masa lalunya, malah tumbuh didalam hatinya niat untuk memusnahkan saudaranya. Pada akhirnya sifat dengki telah membuatnya memutuskan untuk membunuh saudaranya itu. Adapun Habil adalah seorang yang berhati bersih dan berkepribadian bersih pula. Dalam menjawab tindakan saudaranya itu ia mengatakan, diterima atau tidaknya pekerjaan-pekerjaan kami disisi Allah Swt bukan tanpa dalil dan perhitungan, maka dari itu sia-sia belakalah kamu melakukan hasud kepadaku, karena Allah Swt pada akhirnya hanya akan menerima persembahan dan korban yang dilakukan dengan penuh ikhlas dan takwa, dari siapapun dan sebesar apapun. Disisi Allah benda apapun yang dipersembahkan, selama ia bagus dan bersih pasti akan diterima, jika tidak maka ia tidak ada nilanya samasekali.
Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1.Sejarah para tokoh terdahulu merupakan pelita dan jalan penerang terbaik bagi generasi mendatang. Fakta sejarah yang penting harus dipelajari, sehingga dapat menjadi bahan renungan bagi generasi baru.
2. Perbuatan yang baik saja tidaklah cukup, namun harus ada niat baik yang dijadikan acuan untuk beramal, sehingga ia akan memberikan poin dan nilai kebaikan.
3. Hasud dan dengki hingga sampai pada batas melenyapkan persaudaraan juga dapat terjadi, sebagaimana yang terjadi pada Yusuf as dan saudara-saudaranya. Setan membakar rasa hasud mereka, sehingga mereka dipisahkan jauh dari Yusuf.
Ayat ke 28-29
Artinya:
"Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam". (5: 28)
"Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim" (5: 29)
Dalam menghadapi saudaranya, Qabil mengaktualkan kedengkiannya dan melakukan kejahatan, sementara Habil tidak berbuat apa-apa. Habil hanya berkata, "Aku telah mengerti bahwa engkau bermaksud membunuhku, namun aku sedikitpun tidak melakukan perbuatan semacam ini terhadapmu. Karena aku takut terhadap keadilan Allah besok pada Hari Kiamat. Dan aku mengerti mengambil tindakan qishash sebelum perbuatan jahat tidak diperbolehkan."
Tentu saja membela diri dihadapan orang-orang yang zalim itu harus dan wajib, tetapi bila manusia sekedar mengetahui bahwa seseorang bermaksud akan berbuat dosa, dan belum melakukannya, maka seseorang tidak boleh menghukum orang tersebut dengan pengetahuannya. Sebab betapa banyak niat untuk melakukan kejahatan, namun tidak jadi dilakukan. Hanya saja dari segi pencegahan terhadap perbuatan jahat, maka alat-alat perbuatan jahatnya dapat dirampas.
Bagaimanapun Habil berkata, "Aku tidak akan meniru dan melakukan perbuatan yang kau lakukan itu, tetapi apabila engkau melakukannya dan membunuhku, maka engkau akan menjadi penghuni neraka. Sementara aku akan memperoleh balasan atas engkau disana. Oleh sebab itulah amal perbuatan baikmu akan hilang dari buku catatanmu, karena ia diberikan kepadaku dan engkau terpaksa menanggung dosa-dosaku, dan engkau akan mendapat siksaan yang berlipat ganda.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dalam bergaul dengan orang yang hasud dan keras kepala, kita harus dapat berbicara tenang dan lembut, bukan dengan keras yang dapat lebih membangkitkan api hasud mereka.
2. Yang penting dan terhormat ialah tidak melakukan dosa dikarenakan takut pada kebesaran Allah, bukan karena ketidakmampuan. Habil tidak mengatakan, "Aku tidak berdaya, maka aku memaafkanmu!" Tetapi dia mengatakan, "Aku takut kepada Allah bahwa aku membunuh saudaraku!"
3. Takut kepada Tuhan merupakan unsur sugesti penting, yang dapat mencegah manusia dari perbuatan dosa.
Ayat ke 30-31
Artinya:
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi. (5: 30)
Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal. (5: 31)
Meskipun Habil sudah banyak menasehati dan terjadi dialog di antara mereka, tetapi akhirnya hawa nafsu Qabil tak terkendalikan. Qabil akhirnya melakukan pembunuhan terhadap saudaranya Habil. Tangan Qabil berlumuran darah saudaranya sendiri. Tapi dengan cepat ia menyelesaikan perbuatannya ini. Namun apalah artinya penyesalan. Karena saudaranya tidak akan dapat bangkit dan hidup kembali. Hal itu membuat Qabil berdiri kebingungan, tidak tahu apa yang harus dilakukan atas jasad saudaranya itu. Akhirnya Allah Swt mengirim seekor burung gagak, yang menggali tanah untuk menguburkan temannya dengan kuku-kukunya. Perbuatan burung gagak ini mengilhami Qabil untuk mengebumikan jasad saudaranya di dalam tanah.
Benar. Apa yang dilakukan Qabil merupakan pembunuhan pertama di muka Bumi. Qabil menjadi orang pertama yang menebar benih dengki dan hasud di kalangan anak-anak Adam as. Benih-benih yang sayangnya hingga saat ini selalu meminta korban, dan menciptakan ketidakamanan serta kesulitan-kesulitan di kalangan umat manusia.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Peperangan antara kebenaran dan kebatilan punya sejarah panjang, seusia kehadiran manusia di muka bumi.
2. Terkadang hewan dikirim oleh Allah Swt untuk mengajari manusia. Karena itu, dalam banyak hal manusia berhutang budi kepada hewan.
3. Berdasarkan keinginan Allah Swt, jasad orang yang mati harus dikebumikan. Karena itu Islam melarang jasad manusia dimumi atau dibakar.
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Maidah Ayat 23-26
Ayat ke 23
Artinya:
Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (5: 23)
Sebelumnya telah dijelaskan bagaimana upaya Nabi Musa as mendorong Bani Israil agar bangkit melawan orang-orang jahat dan zalim, sehingga dengan itu mereka dapat membebaskan kota mereka dari cengkeraman para penjahat. Tapi mereka ternyata tidak siap melakukan perlawanan dan mengatakan, kami tidak mempunyai nyali untuk memasuki kota, sebelum para para penjahat itu dikeluarkan. Ayat ini mengatakan bahwa dua orang dari pembesar kaum Yahudi yang namanya disebutkan dalam Kitab Taurat, yakni Yusya' dan Kalib mengatakan kepada masyarakat, kenapa kalian takut terhadap musuh! Padahal semestinya kalian harus takut kepada Tuhan dan bertawakal kepada-Nya!? Masuklah kalian semua melalui pintu gerbang kota, dan sekali lagi kalian jangan tunduk di hadapan musuh-musuh. Percayalah bahwa kalian akan memperoleh kemenangan dengan syarat kalian tetap teguh terhadap keyakinan, dan tidak lupa kepada Allah Swt.
Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Barangsiapa yang takut kepada Allah, maka ia tidak akan takut kepada kekuatan apapun. Iman kepada Allah merupakan unsur kekuatan, kemuliaan dan kebesaran.
2. Apabila kita bergerak maju, maka kemenangan dan pertolongan Allah akan tiba, sedang tanpa berbuat apa-apa, hanya menunggu pertolongan semata-mata, maka akan sia-sia.
3. Bertawakal kepada Allah tanpa berusaha samasekali, maka tidak ada artinya. Karena itu ia juga memerlukan tekad dan keberanian, disamping takwa dan bertawakal.
Ayat ke 24
Artinya:
Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja". (5: 24)
Walaupun dengan adanya seruan Nabi Musa as serta dorongan para pembesar kaum, namun Bani Israil tetap saja tidak siap dan tidak punya nyali untuk bangkit melakukan perlawanan. Mereka berkata kepada Nabi Musa as, "Mengapa kami harus pergi berperang? Pergilah kamu berdua dengan Tuhan-mu, maka kamu akan menang. Dan sewaktu kamu berhasil menguasai kota, kami juga akan memasukinya."
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kaum Bani Israil merupakan contoh kaum yang tidak memiliki adab sopan santun. Mereka banyak alasan dan hanya ingin hidup enak. Mereka tidak memiliki nyali dan keberanian. Oleh karenanya, kita harus hati-hati jangan sampai terjebak seperti mereka.
2. Adanya para pemimpin agama dan para pembaharu, maka kewajiban masyarakat tidak gugur. Tidak bisa dikatakan bahwa bila seseorang telah melaksanakan tugas, maka kita tidak memiliki tugas lagi.
Ayat ke 25
Artinya:
Berkata Musa: "Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu". (5: 25)
Sejarah memang sangat mengherankan. Satu bangsa dapat terbebaskan dari cengkeraman Firaun lewat perjuangan Nabi Musa as, tapi pada saat yang sama mereka tidak berani memasuki kotanya sendiri. Padahal Nabi Musa as telah menyeru mereka untuk memasuki kota. Melihat sikap mereka, Nabi Musa as mengutuk Bani Israil dan memohon kepada Allah Swt agar orang-orang yang fasik dan berbuat jahat mendapatkan azab dan siksaan. Karena itulah beliau tidak lagi berharap untuk perbaikan mereka. Dan untuk tetap berada dalam keselamatan, atas azab ini beliau memohon, "Ya Allah! Pisahkanlah antara kami dan mereka!
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Para nabi dalam melaksanakan tugasnya tidak berputus asa, justru masyarakat yang tidak sanggup berusaha dan berjihad untuk memperoleh kemuliaan.
2. Cara para nabi dalam menyampaikan perintah dan hukum Allah dengan tidak memaksa masyarakat untuk melaksanakan hal tersebut.
Ayat ke 26
Artinya:
Allah berfirman: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu". (5: 26)
Siksaan-siksaan Allah tidak hanya terbatas pada Hari Kiamat saja, tetapi kadang-kadang Allah Swt memberikan siksaan kepada beberapa orang, atau kaum atas amal perbuatan mereka di dunia ini sebagai peringatan. Dan Allah Swt dalam memberi siksaan atas ketidaktaatan Bani Israil, yaitu mereka terkena kebingungan dan berputar-putar di Gurun Sina selama empat puluh tahun. Sehingga mereka dijauhkan dari berkah tanah suci tersebut. Yang menarik dalam peristiwa kemurkaan Allah ini, pada pasal ke-4 Kitab Taurat ini disebutkan bahwa berdasarkan riwayat-riwayat sejarah, mereka setelah 40 tahun menjadi kaum pengungsi di Gurun Sina, akhirnya dengan wafatnya Nabi Musa as, mereka terpaksa harus memanggul senjata untuk bisa masuk kekota, sedang ketidakmampuan mereka dahulu tidak bisa dikaitkan dengan pengungsian mereka selama 40 tahun tersebut.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Refleksi kelemahan dan ketidakmampuan dalam menghadapi musuh, serta lari dari medan perang dan jihad adalah dijauhkan dari berkah Allah Swt, sehingga terlunta-lunta menjadi pengungsi.
2. Orang-orang yang lari dari medan perang dan jihad, harus dijauhkan dari fasilitas dan sarana masyarakat.
3. Para wali Allah juga tidak sanggup menanggung siksaan orang-orang fasik, namun para wali Allah tersebut prihatin terhadap mereka. Sedang peringatan bagi orang yang berbuat jahat merupakan suatu keharusan dan obat yang pahit guna keselamatan masyarakat.
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Maidah Ayat 18-22
Ayat ke 18
Artinya:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (5: 18)
Pada ayat-ayat terdahulu telah disebutkan bahwa orang-orang Kristen, telah menempatkan Nabi Isa as pada sebuah kedudukan manusia yang luar biasa, bahkan mereka menyebutnya sebagai Tuhan. Sementara ayat ini mengatakan bahwa mereka tidak saja menganggap kenabiannya lebih baik dari nabi-nabi yang lain, tetapi diri mereka sendiri pun disebutnya sebagai lebih baik dari para pengikut agama-agama lainnya. Bahkan mereka berkeyakinan bahwa mereka adalah anak-anak Tuhan dan kekasih-kekasih-Nya, sehingga mereka akan mendapat ampunan dari azab dan siksa.
Yang menarik dalam hal ini adalah bahwa orang-orang Yahudi, juga terjerumus dalam kesalahan semacam ini, dimana mereka mengklaim bahwa hanya mereka sajalah kelompok yang selamat dan bahagia itu. Al-Quran dalam menanggapi kaaim-klaim mereka yang keterlaluan ini mengatakan, Nabi Isa as adalah seorang manusia sebagaimana manusia-manusia lainnya, dan kalian sebagai pengikut beliau juga manusia sebagaimana manusia-manusia lainnya. Tak seorangpun merasa lebih baik daripada yang lainnya, selain takwa dan amal saleh, bahkan ia merupakan unsur yang dapat menyelamatkan mereka di Hari Kiamat, amal saleh dan bukan status.
Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Diskriminasi dan merasa lebih dari yang lain merupakan keburukan, sekalipun atas nama agama.
2. Berbangga diri dalam urusan agama merupakan salah satu bahaya yang mengancam para pemeluk agama. Karena itu berhati-hatilah terhadap bahaya ini, dan jangan menganggap diri kita lebih baik dari orang lain, hingga terkena penyakit ujub dan berbangga diri.
3. Pembagian surga dan neraka bukan ditangan kita. Karena hak itu milik Allah Swt semata. Dia akan membalas segala perbuatan manusia dengan siksa dan pahala berdasarkan hikmah dan kasih sayang.
Ayat ke 19
Artinya:
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari'at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: "Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan". Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (5: 19)
Berdasarkan data-data sejarah, Nabi Muhammad Saw dilahirkan pada tahun 570 Masehi, dan tahun 610 beliau diangkat untuk mengemban risalah kenabian. Dengan mencermati hal ini, kira-kira ada 600 tahun tenggat waktu, antara diutusnya Nabi Isa as dan Nabi Muhammad Saw dan pada periode ini tidak diutus seorang Nabi pun. Tapi harus diketahui bahwa bumi tidak pernah sepi dari hujjah dan penyeru agama Allah yang mengajarkan agama Allah kepada manusia. Ayat ini ditujukan kepada Ahlul Kitab, baik Yahudi maupun Kristen bahwa Nabi Muhammad Saw diutus untuk kalian semua. Bila kalian memiliki pengalaman terhadap para nabi sebelumnya, maka seharusnya kalian lebih cepan beriman kepada Nabi Muhammad Saw dan menerima ajaran yang dibawanya.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dengan diutusnya para nabi menjadi tertutuplah alasan bagi manusia untuk mengatakan tidak tahu.
2. Risalah para nabi berisikan berita gembira bagi setiap amal saleh dan ancaman bagi setiap perbuatan buruk dan dosa.
Ayat ke 20
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain". (5: 20)
Dari ayat ini dan selanjutnya, Allah Swt menerangkan mengenai perbincangan Nabi Musa as dengan kaum Bani Israil yang dimulai dengan menyebutkan nikmat Allah yang khusus dan berharga kepada mereka. Di antara nikmat-nikmat tersebut yaitu pengutusan para nabi di tengah-tengah mereka seperti Nabi Yusuf dan Nabi Sulaiman yang memegang tampuk pemerintahan. Kedua nabi ini berhasil menciptakan kemuliaan dan kekuasaan Bani Israil, namun dikarenakan mereka mengabaikan nikmat-nikmat Allah ini, sehingga pekerjaan mereka melenceng ke suatu tempat, dan berada dibawah cengkraman Firaun serta dijadikan sebagai budak-budaknya. Nabi Musa as dengan mengingat masa lalu yang cemerlang, menyeru kaumnya untuk bergerak dan berhijrah, serta berusaha hingga dapat mengembalikan kekuasaannya yang terdahulu.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Nikmat Kenabian, pemerintahan dan kebebasan merupakan nikmat-nikmat Allah terbesar dan harus dihargai dan disyukuri.
2. Ambillah contoh dari sejarah. Kaum Bani Israil setelah mendapatkan anugerah Allah dan berkuasa, akhirnya hidup dalam kenikmatan dan ketenangan.
Ayat ke 21-22
Artinya:
Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (5: 21)
Mereka berkata: "Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya". (5: 22)
Nabi Musa as meminta kepada Bani Israil agar berjuang dan berupaya untuk bisa memasuki kawasan Syam dan Baitul Maqdis, serta tetap berjuang melawan para penguasa zalim di sana. Adapun mereka yang hidup bertahun-tahun di bawah kekuasaan Firaun dan sedemikian takutnya berbicara bebas, mereka mengatakan, kami bukanlah orang yang bersikap tegas dan kami tidak memiliki keberanian dalam berperang. Namun apabila mereka berhasil dikeluarkan dan tanah suci itu diberikan kepada kami, maka kami pun akan memasuki Baitul Maqdis.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Para pemeluk agama Ilahi harus bisa membebaskan tempat-tempat suci agama dari cengkeraman para penjahat dan penjajah.
2. Kurangnya introspeksi dan merasa lemah melawan musuh merupakan faktor kegagalan yang telah diupayakan untuk dihilangkan oleh para nabi.




























