کمالوندی

کمالوندی

Selasa, 20 November 2012 13:18

Roket Muqawama Palestina Vs Iron Dome Israel

Perisai rudal Iron Dome Israel dalam beberapa hari ini benar-benar terbukti tidak efektif, padahal sistem ini membutuhkan dana besar baik untuk memproduksi, pemasangan dan pemeliharaan. Menurut Qodsna, pasca kekalahan memalukan Israel di perang 33 hari dari Hizbullah, Tel Aviv semakin merasa membutuhkan sistem anti roket dan rudal untuk menghadang roket yang ditembakkan dari luar ke arah Palestina pendudukan. Setelah bertahun-tahun, Israel akhirnya menggunakan sistem Iron Dome.

Berikut kinerja empat tahap Iron Dome:

· Pertama roket ditembakkan dari mesin pelontar

· Kedua, roket yang ditembakkan dikontrol oleh radar dan informasi radar dikirim ke pusat kontrol.

· Di tahap ketiga, informasi yang diterima pusat kontrol diolah dan dikirim ke sistem peluncur roket.

· Di tahap keempat, roket akan menuju target sesuai dengan data yang diterima.

Di perang 33 hari Lebanon, roket-roket muqawama telah memberi kerugian dan korban besar kepada Rezim Zionis Israel. Hal ini memaksa menteri peperangan Israel saat itu, Amir Peretz menandatangani kontrak pembuatan serta pembelian sistem anti rudal dengan perusahaan Rafael. Perusahaan Israel ini kemudian menggandeng perusahaan raksasa Amerika Serikat, Lockheed Martin untuk menjalankan program ini. Program Iron Dome tuntas di tahun 2011 dan kemudian diserahkan kepada militer Israel.

Pada tahun 2009 bidang pertahanan Israel membuat pengumuman pertama bahwa dalam tes, Iron Dome berhasil mencegat dan menghancurkan target. Pada bulan Mei tahun itu, Panglima Angkatan Udara Ido Nechushtan mengatakan Batalyon 947, yang telah dilengkapi dengan sisterm peluncur rudal Stinger, akan dikonversi ke sistem Iron Dome. Saat ini unit ini tepat disebut unit Iron Dome.

Tes langsung pertama Iron Dome pada bulan April 2011. Di uji coba ini Iron Dome berhasil mencegat serta meledakkan roket yang ditembakkan dari Beersheba. Keberhasilan uji coba ini telah memuaskan para petinggi Israel. Sementara itu, kepuasan mereka telah membuat petinggi Israel ini tak mengacuhkan besarnya anggaran yang harus dikeluarkan. Untuk peluncuran satu roket Iron Dome dibutuhkan biaya lebih dari 60 ribu dolar. Dengan sistem ini petinggi Tel Aviv telah beranggapan memiliki sistem pertahanan kokoh dalam menghadapi roket-roket pejuang Palestina. Namun dalam prakteknya ternyata Iron Dome bukan hanya tidak memiliki sistem pertahanan sempurna, bahkan data statistik menunjukkan tingkat keberhasilan sistem ini di bawah 20 persen.

Sebelum serangan terbaru Rezim Zionis Israel ke Jalur Gaza, kita dicekoki alasan ketidakefektifan perisai rudal Iron Dome dikarenakan jumlahnya yang minim. Bahkan setelah sistem ini diperbanyak, kita hanya mendengar pujian akan ketangguhan Iron Dome tanpa pernah memperoleh data akurat. Kini ketika pelontar perisai rudal Iron Dome ditingkatkan hingga 40 persen ternyata sistem ini hanya mampu membendung 30 persen roket muqawama Palestina.

Menurut keterangan juru bicara militer Israel, perisa rudal Iron Dome selama tiga hari berhasil menghancurkan 245 roket dari 900 roket muqawama. Di sejumlah kesempatan media pro Zionis malah bertindak berlebih-lebihan dengan menyebar cerita palsu serta mengklaim bahwa Iron Dome berhasil menghancurkan 90 persen roket yang ditembakkan muqawama. Namun seperti ujar-ujar kuno, orang yang bohong lemah ingatannya, media tersebut di pemberitaannya melaporkan tembakan lebih dari 800 roket mengenai sasaran di berbagai wilayah Palestina pendudukan.

Tel Aviv menjadi tempat terakhir yang dilengkapi dengan sistem perisai Iron Dome, namun seperti yang dilaporkan media massa internasional, lima roket muqawama akhirnya lolos ke Tel al-Rabi (Tel Aviv). Serangan roket ke Tel Aviv di luar perkiraan para petinggi Zionis, namun demikian muqawama telah membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menembakkan roket lebih jauh lagi dari Tel Aviv.

Brutalitas terbaru Israel ke Jalur Gaza menjadi ujian serius bagi kemampuan perisai rudal Iron Dome yang menghabiskan dana jutaan dolar yang sebagian besarnya disuplai oleh Amerika Serikat khususnya pemerintahan Barack Obama. Baru-baru ini Amerika Serikat memberi bantuan sebesar 200 juta dolar kepada Israel untuk meningkatkan kemampuan sistem Iron Dome. Namun hingga kini Iron Dome belum menampakkan hasil memuaskan sesuai dengan biaya besar yang dikeluarkan,

Militer Israel masih tetap memperingatkan warga Palestina pendudukan untuk tidak keluar dari rumah mereka dan jika terpaksa keluar rumah mereka dihimbau untuk secepatnya lari ke tempat persembunyian dalam waktu satu menit.

Biaya bagi satu pelontar di sistem Iron Dome sekitar 50 juta dolar dan hingga kini jumlah pelontarnya mencapai lima buah. Rencananya hingga tahun depan jumlah pelontar tersebut bertambah menjadi 13 buah. Roket yang diluncurkan dari Iron Dome seharga 60 ribu dolar. (IRIB Indonesia/MF)

Selasa, 20 November 2012 13:16

Rusia Tuduh AS Halangi PBB Bantu Gaza

Rusia menuduh Amerika telah menghalangi dukungan PBB terhadap Gaza.

Menurut Moskow, Amerika telah memperlambat langkah PBB untuk menyelesaikan konflik Gaza. Pasalnya AS menghalangi PBB untuk membantu Gaza dan mencegah keluarnya resolusi terkait masalah ini. Mehr News (20/11) melaporkan.

Stasiun TV al-Jazeera mengklaim bahwa Israel telah menghentikan serangan udaranya ke Jalur Gaza sejak Sabtu (17/11).

Juru Bicara Kemenlu Amerika, Victoria Nuland mengatakan, "Amerika mengamati perkembangan Gaza dari dekat, dan Mesir sedang mengupayakan terciptanya gencatan senjata di antara kedua pihak berseteru." (IRIB Indonesia/HS)

Media rezim Israel mengakui kekuatan militer yang dimiliki gerakan perlawanan Islam Palestina yang menjadikan jet-jet tempur Zionis sasaran roket dari darat ke udaranya.

Kantor berita independen Palestina, Samaa menulis, "Militer Israel kemarin malam Senin (19/11) mengaku bahwa sejak awal serangan ke Gaza, jet-jet tempur mereka menjadi sasaran 10 unit roket darat ke udara milik pejuang Palestina."

Pada saat yang sama militer Israel mengklaim, "Gerakan perlawanan Islam Palestina selama sepekan lalu telah menembakkan 10 roket ke arah jet-jet tempur kami, dan hampir mengenainya." (IRIB Indonesia/HS)

Pemimpin rezim Israel, Simon Peres kepada CNN mengatakan bahwa Hamas didukung Iran.

Menjawab pertanyaan apa yang akan anda lakukan setelah mengetahui Iran berada dibalik semua aktifitas terorisme Hamas, Peres mengatakan, "Saya tidak akan berspekulasi bahwa Iran mendukung Hamas, akan tetapi itulah yang sebenarnya terjadi."

Kami tidak ingin berperang dengan Iran, tapi kami akan mencegah pengiriman roket-toket jarak jauh oleh Iran ke Hamas, dan provokasinya untuk menembakkan roket-roket tersebut.

Peres mengklaim, "Menurut saya Iran sudah putus asa, mereka tidak membiarkan militer Israel menghentikan teror yang dilakukan Hamas. Sebaliknya warga Israel sekarang lebih berani dan lebih cerdas."

Ia menambahkan, "Iran itu masalah. Masalah dunia, tidak hanya karena sedang membuat senjata nuklir, akan tetapi lebih dari itu ia adalah sarang terorisme dunia. Mereka menyediakan anggaran untuk kelompok-kelompok teroris, melatih mereka, mengiriminya senjata dan mendorongnya untuk menggunakan senjata tanpa sedikitpun tanggungjawab dan empati. Iran adalah sebuah ancaman dunia, dan anda tahu itu."

Rezim Israel sejak sepekan lalu menggempur Gaza dan lebih dari 100 orang Palestina gugur dalam serangan ini, serta ratusan lainnya terluka. Gedung, masjid dan tempat tinggal warga Palestina menjadi sasaran utama militer Israel.

Menurut keterangan Kementerian Kesehatan Gaza, seperempat dari total korban kejahatan Israel kali ini adalah anak-anak, 10 wanita dan 12 lansia. (IRIB Indonesia/HS)

Tidak tersisanya lagi target serangan militer rezim Israel di Gaza memaksa mereka mengerahkan tim spionase untuk menentukan target baru, akan tetapi gerakan perlawanan Palestina menyuplai Shabak dengan informasi-informasi salah, dan berhasil mengelabui mereka.

Kantor berita al-Majed, sebagaimana dikutip Fars News (20/11) melaporkan, "Rezim Israel di tahun-tahun pasca perang tidak mampu meng-update database target serangannya di Gaza. Namun, mereka juga mengklaim memiliki database terkait informasi akurat letak landasan peluncuran roket dan gudang persenjataan serta markas pemimpin gerakan perlawanan Palestina."

Pada saat yang sama, salah seorang aparat keamanan Gaza, Abu Ibrahim mengaku pernah diminta oleh agen rahasia Israel, Shabak, dan sejumlah mata-matanya untuk mengidentifikasi letak landasan peluncuran roket serta gudang-gudang senjata brigade-brigade perlawanan Palestina.

Dari salah satu percakapan seorang tentara Israel dengan mata-matanya yang berhasil direkam gerakan perlawanan Palestina, diketahui bahwa Shabak tidak mampu mengidentifikasi dengan akurat sasaran mereka di Gaza sehingga dapat menghantamnya.

Tentara Israel itu meminta mata-matanya untuk mulai bergerak di sekitar lokasi peluncuran roket gerakan perlawanan Palestina, dan mengidentifikasi tempat-tempat itu dengan tepat sehingga dapat dijadikan sasaran rudal-rudalnya.

Abu Ibrahim mengatakan bahwa gerakan Shabak di Gaza tidak sederhana, pasalnya mata-mata mereka yang berhasil ditangkap pejuang Palestina terhitung banyak. Selain itu, gerakan perlawanan Palestina berhasil mengelabui mereka dengan informasi-informasi salah melalui sejumlah kanal khusus mereka di dalam agen spionase tersebut. (IRIB Indonesia/HS)

Mohammed Deif, salah seorang komandan senior brigade Qassam, sayap militer Hamas dalam statemennya mengatakan, "Saya sangat mengapresiasi perjuangan gerakan perlawanan Palestina yang berhasil membuat musuh kewalahan." Mehr News (20/11) melaporkan.

Ia menambahkan, "Serangan darat akan menjadi kunci kebebasan para tawanan Palestina."

"Serangan-serangan rudal dilakukan setelah latihan dan kerja keras bertahun-tahun gerakan perlawanan Palestina," tegasnya.

Menurutnya, gerakan perlawanan Palestina telah bersiap untuk kemerdekaan Palestina dan mereka harus bersabar untuk itu. Seluruh kekuatan harus dipersiapkan untuk tujuan yang lebih besar, yaitu pembebasan al-Quds.

Statemen ini di publikasikan secara langsung oleh TV al-Jazeera beberapa menit lalu. (IRIB Indonesia/HS)

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov seusai bertemu Menlu AS Hillary Clinton di Phnom Penh, Kamboja, mengatakan sama sekali tidak ada kesepakatan antara Moskow dan Washington terkait krisis Suriah.

Lavrov kepada kantor berita Ria Novosti, Selasa (20/11), menuturkan Rusia dan Amerika tidak memiliki kesamaan pandangan menyangkut masalah tersebut. Ditambahkannya, tidak ada pihak asing yang boleh mencampuri urusan Suriah. Meski demikian, dia menegaskan bahwa pembunuhan di negara itu harus segera dihentikan.

Berbicara tentang serangan rezim Zionis Israel ke Jalur Gaza, Lavrov menandaskan, Moskow berharap kelompok Kuartet Perdamaian Timur Tengah dapat menyelesaikan konflik Palestina-Israel. (IRIB Indonesia/RM)

Sekjen Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah), Sayid Hasan Nasrullah dalam pidatonya di malam kelima Muharram (Senin, 19/11) menyinggung konsistensi muqawama Palestina dan mengatakan, "Konsistensi muqawama di Gaza dan komitmennya terhadap persyaratan yang telah ditetapkan, memaksa Israel mengupayakan gencatan senjata agar kondisi dapat dipulihkan kembali sebelum teror Ahmad al-Jabari, panglima Brigade Izzuddin Qassam. Akan tetapi muqawama menolak solusi tersebut."

Target-target serangan Israel ke Gaza telah berakhir atau sedang berakhir dan Israel sedang membombardir kembali atau bahkan untuk ketiga kalinya target yang sebelumnya telah dibombardir. Akan tetapi roket muqawama akan terus ditembakkan dari Gaza menuju Palestina pendudukan.

Sayid Hasan Nasrullah kembali menyinggung watak buas Israel yang terbukti dalam pembantaian massal warga sipil, perempuan dan anak-anak. Dikatakannya bahwa aksi Israel ini membuktikan kegagalan operasi militer mereka dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Serangan membabi buta itu bertujuan menekan muqawama membatalkan persyaratannya.

Sayid Hasan Nasrullah menambahkan, pengalaman tahun 2008 di Gaza dan Lebanon membuktikan bahwa muqawa, rakyat, dan para pemimpinnya, telah melewati tahapan dimana tekanan dengan pembantaian massal warga sipil, perempuan dan anak-anak sudah tidak efektif lagi.

Di bagian lain, Sekjen Hizbullah Lebanon mengkritik sikap negara-negara Arab mereaksi agresi Israel ke Gaza dan juga statemen para menteri luar negeri Arab yang hanya mengecam serangan tersebut.

Dikatakan Sayid Nasrullah, statemen tahun 2012 dan tahun 2009 liga Arab hanya berbeda di beberapa poin, salah satunya adalah seruan kepada seluruh negara untuk menghentikan proses normalisasi hubungan dengan Israel. Selain itu ditekankan pula agar komite program perdamaian Arab untuk merevisi proses perdamaian negara-negara anggota .

Sayid Hasan Nasrullah menyinggung pernyataan seorang menteri luar negeri Arab dalam sidang terbaru Liga Arab di Kairo dan mengatakan, "Menteri ini [PM dan Menlu Qatar, Hamad bin Jassem al-Thani] mengatakan bahwa kami tidak mampu memberikan harapan lebih dari apa yang dapat kita lakukan saat ini."

"Menteri ini mengakui bahwa sejumlah negara Arab berpartisipasi dalam blokade Israel terhadap Gaza. Akan tetapi pertanyaannya sekarang adalah bagaimana persenjataan termasuk berbagai jenis roket, Grad, Fajr-5 dan roket-roket anti-tank itu dapat sampai ke Gaza?"

Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hasan Nasrullah juga menegaskan bahwa dukungan Iran dan Suriah terhadap muqawama Gaza tidak dapat dipungkiri.

Dikatakannya, "Sekarang mengirim senjata ke Gaza dan pembukaan seluruh jalur perbatasan, merupakan salah satu kewajiban yang paling penting."

Lebih lanjut Sayid Nasrullah menjelaskan, "Menteri itu [PM dan Menlu Qatar] menyatakan bahwa mayoritas Arab adalah domba, akan tetapi dia pasti sedang berbicara tentang dirinya sendiri karena mayoritas rakyat Lebanon dan Palestina adalah singa dan pahlawan."

"Setiap orang harus mengatakan tentang dirinya sendiri dan tidak berhak untuk memberikan penilaian terhadap mayoritas."

"Lebih dari 60 tahun terjadi perselisihan Arab dan Israel meski berbagai propaganda dari sebagian pemerintah Arab, akan tetapi kita tetap menyaksikan ketegaran muqawama. Palestina dan Baitul Maqdis akan tetap memiliki tempat isitimewa di hati rakyat ini, akan tetapi ‘para domba' akan pergi ke tempat yang khusus untuk mereka."

"Masa depan di kawasan adalah masa depan milik para pahlawan, bukan milik para domba."

Menyinggung pentingnya dukungan negara-negara Arab terhadap Gaza, Sayid Nasrullah mengatakan, "Diharapkan negara-negara Arab mengirim senjata ke Gaza, bukan malah menjadi mediator antara Israel dan Gaza."

Menurut Sayid Nasrullah, peran sekarang negara-negara Arab di Gaza sama seperti peran bulan sabit merah dan negara-negara tersebut tidak punya tekad politik apapun terkait masalah ini. Oleh karena itu peran mereka sama seperti peran lembaga bulan sabit merah.

"Manfaat negara-negara Arab untuk Gaza sama seperti para pelayat jenazah."

Pemimpin muqawama Lebanon ini menegaskan, "Islam yang sejati adalah negara-negara Islam mengirim senjata ke Gaza, membuka perbatasannya dan membiarkan roket-roket lebih banyak menuju Gaza."

"Para kaum Arab telah mengirim kapal penuh senajta untuk para pemberontak [teroris] Suriah akan tetapi mereka tidak berani mengirim bahkan satu peluru ke Gaza."

Di akhir pidatonya, Sayid Nasrullah menegaskan, "Iran, Suriah dan Hizbullah tidak akan melepaskan dukungan terhadap Gaza dan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kami akan tetap bersama mereka. Ini merupakan kewajiban agama, iman, nasional, dan kemanusiaan kami." (IRIB Indonesia/Muiz Sulistiono)

Deputi menteri luar negeri Iran mengatakan Republik Islam memainkan peran berpengaruh dalam meretas solusi mengatasi krisis di negara-negara tetangganya.

"Iran, dalam beberapa tahun terakhir selalu menjadi bagian yang efektif dalam menyelesaikan krisis regional," kata Deputi Menteri Luar Negeri Urusan Arab dan Afrika Hossein Amir-Abdollahian, hari Rabu (15/11).

Tehran mengedepankan solusi diplomatik dan damai," tambahnya.

Iran memainkan peran konstruktif Republik Islam dalam isu-isu penting dan rumit di Afghanistan, Irak dan Lebanon," tegas Abdollahian.

Pernyataan tersebut datang sehari setelah Tehran mengumumkan keputusannya menjadi tuan rumah pertemuan antara perwakilan berbagai kelompok politik, minoritas, oposisi, dan pejabat negara Suriah.

Pertemuan satu hari itu diadakan dengan tema utama "Tidak untuk Kekerasan, Ya untuk Demokrasi."

"Tehran sangat percaya bahwa satu-satunya strategi yang logis untuk menyelesaikan krisis Suriah adalah pembicaraan serius dan inklusif di kalangan yang berseteru," katanya.

Iran mengecam dukungan asing terhadap pemberontak bersenjata melawan pemerintah Presiden Bashar al-Assad yang menelan korban warga sipil Suriah.

Amir-Abdollahian menggambarkan upaya untuk menghentikan kekerasan yang sedang berlangsung di Suriah sebagai kewajiban kemanusiaan, sekaligus mewujudkan stabilitas regional dan internasional sesuai dengan resolusi "damai dan tidak memihak".(IRIB Indonesia/PH)

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan para ulama, peneliti dan akademisi di Tehran, mengecam kebebasan gaya Barat yang telah menciptakan diskriminasi, intimidasi, dan kebijakan mengobar perang.

Seraya memaparkan beberapa kasus yang dihasilkan oleh kebebasan ala Barat, Ayatullah Khamenei menekankan bahwa kebebasan ekonomi Barat telah menciptakan sistem dengan keuntungan maksimal untuk kelompok tertentu, kebebasan politik telah mewujudkan monopoli di kancah politik, dan kebebasan dalam isu-isu moral juga telah memelahirkan sejumlah kerusakan, seperti homoseksual. Inilah hasil-hasil dari kebebasan di tengah masyarakat Barat.

Menurut Rahbar, isu-isu tersebut mencerminkan realita yang sangat buruk, menjijikkan, pahit, dan keji di tengah masyarakat Barat. Kebebasan di Barat telah menciptakan diskriminasi, intimidasi, perang, dan standar ganda dalam menyikapi isu-isu sakral seperti, hak asasi manusia dan demokrasi.

Ayatullah Khamenei menilai perbedaan utama antara pandangan Islam dan Barat tentang kebebasan terletak pada prinsip-prinsip kebebasan itu sendiri. Dalam pandangan liberal, kebebasan berakar dari pemikiran-pemikiran humanisme. Sementara dalam Islam, landasan kebebasan adalah tauhid, yaitu percaya kepada Allah Swt dan menolak segala bentuk tirani. Menurut beliau, martabat manusia juga sebagai salah satu dari prinsip utama kebebasan dalam Islam.

Rahbar lebih lanjut mengatakan bahwa kajian tentang kebebasan dalam beberapa abad terakhir di Barat mendapat perhatian besar dibanding isu-isu lain. Beliau menilai Renaissance, Revolusi Perancis, Revolusi Industri dan juga Revolusi Oktober 1917, sebagai peristiwa dan faktor utama yang telah menciptakan gelombang besar pemikiran dalam ranah kebebasan.

Kebebasan termasuk di antara konsep yang dibahas secara serius dan luas oleh para pemikir Barat pada abad-abad ke 18, 19, dan 20. Kajian itu telah membentuk landasan bagi revolusi-revolusi sosial di Barat.

Sistem politik Barat terbentuk atas dasar kajian-kajian tersebut dan Deklarasi HAM juga ditulis atas dasar itu. Buah pemikiran mereka sangat cepat mejadi model dan acuan bagi bangsa-bangsa lain di luar benua Eropa. Banyak cendekiawan dan pemikir di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin terbius dan kagum dengan konsep kebebasan yang diproduksi oleh Barat. Namun, kebebasan yang mereka persembahkan untuk negaranya adalah kemerosotan dan penistaan terhadap nilai-nilai moral.

Perlu diingat bahwa Barat mendefinisikan kebebasan menurut prinsip humanisme, yaitu kebebasan yang telah mendorong masyarakat Barat ke arah dekadensi moral dan penistaan terhadap nilai-nilai luhur.

Ada banyak referensi dalam Islam yang berbicara mengenai kebebasan, namun komunitas Muslim menemukan kevakuman besar dalam masalah tersebut. Para pemikir Islam harus membentuk sebuah sistem untuk mengkaji dan menjawab semua isu-isu seputar kebebasan. Akan tetapi, misi ini tentu saja menuntut penguasaan penuh pada referensi-referensi Islam dan Barat. (IRIB Indonesia/RM)