کمالوندی
Imam Husein as, Sang Reformis
Imam Husein as karena kebangkitannya untuk memperbaiki pemerintahan yang rusak di zamannya dikenal sebagai salah satu reformis besar sejarah.
Imam Husein adalah reformis yang hanya menginginkan kebaikan umat dan tidak segan-segan berusaha keras untuk tujuan sangat suci memperbaiki masyarakat dan bahkan mengorbankan nyawa, harta dan keluarganya supaya Islam, ajaran Islam dan risalah suci Muhammad Saw tetap hidup serta tidak menyimpang.
Reformasi dan pembaharuan adalah lawan dari kerusakan. Pembaharuan telah dilakukan dengan beragam cara di berbagai zaman. Terkadang reformasi di sebuah pemerintahan, yakni ketika sebuah pemerintahan dilanda kerusakan atau bermoral buruk, individu atau sekelompok orang akan bangkit melakukan reformasi kondisi ini. Faktanya tujuan seluruh para nabi adalah memperbaiki sistem dan instansi politik dan pemerintahan, dan secara umum memperbaiki moral masyarakat.
Reformasi di masyarakat dapat dilakukan dalam dua bentuk, individu dan sosial, dan keduanya saling terkait. Dari satu sisi, jika setiap individu memberbaiki dirinya, maka dengan sendirinya masyarakat juga akan diperbaiki. Dan setiap indivudu dengan menjaga akhlak dan kemanusiaan, maka mereka dapat mempengaruhi individu lain dan juga anggota masyarakat, serta masyarakat saling membantu.
Di sisi lain, jika sistem sosial diperbaiki, maka akan ada peluang yang tepat untuk pertumbuhan dan perbaikan individu, serta setiap anggota masyarakat akan terdorong untuk memperbaiki individu. Imam Husein as melalui kebangkitannya, mengejar kedua metode ini, memperbaiki individu dan juga masyarakat. Seperti yang diungkapkan Imam Husein as ketika keluar dari Madinah bahwa ia berencana mereformasi umat kakeknya, Muhammad Saw. Dengan demikian kebangkitan Imam Husein as adalah kebangkitan untuk memperbaiki masyarakat dan pemerintah. Bagaimana pun juga, beliau juga tidak lalai untuk mereformasi individu, seperti cerita Zuhair dan Hurr yang akhirnya sadar setelah mendengar berbagai nasehat Imam Husein as.
Imam Husein as dikenal melalui gerakan reformis dan baiknya. Beliau sejak awal pergerakannya menyatakan bahwa tujuan kebangkitannya adalah mereformasi umat Rasulullah Saw dan senatiasa menghendaki kebaikan umat. Sejatinya surat Imam Husein as kepada saudaranya, Muhammad Hanafiyah telah menentukan tujuan beliau yang menginginkan kebaikan. Imam Husein as di suratnya tersebut menulis, " Ketahuilah bahwa aku keluar dari Madinah bukannya atas dasar thugyan dan kesombongan serta mencari kesenangan atau membuat kerusakan dan kezaliman, melainkan tujuanku adalah membuat perbaikan pada umat kakekku. Aku bermaksud untuk melakukan amar makruf nahi munkar dan menghidupkan sirah kakekku Rasulullah saw dan ayahku Ali bin Abi Thalib. Barangsiapa yang menerima hakku telah menerima hak Allah. Namun, apabila masyarakat mencegah untuk menerima kebenaran, aku akan bersabar hingga Allah mengadili antara aku dan mereka dan Allah adalah hakim yang terbaik."
Poin sangat penting dari surat Imam Husein as ini adalah reformasi umar Rasulullah Saw yang dijadikan beliau sebagai tujuan kebangkitannya. Tapi pertanyaannya adalah hal-hal apakah yang perlu untuk direformasi di mana Imam Husein as merasa berkewajiban untuk bangkit ?
Sejatinya kebutuhan reformasi umat Rasulullah Saw sudah terasa sejak awal kematian Rasulullah. Ketika jenazah suci Nabi belum juga kering setelah dimandikan, dan Imam Ali as masih sibuk untuk mengebumikan Nabi, sekelompok Ansar dan Muhajirin berkumpul di Saqifah (Saqifah Bani Sa'idah) untuk memilih khalifah setelah Nabi. Semasa hidup Nabi, mereka menganggap dirinya sebagai sahabat setia Rasulullah dan pada 18 Dhulhijjah (Hari Ghadir) berbaiat kepada Imam Ali as, tapi mereka mengabaikan perintah Allah Swt yang mewajibkan Nabi-Nya di hari Ghadir dihadapan mata ribuan umat Islam menentukan Imam Ali as sebagai penggantinya.
Dengan demikian jelas bahwa penyimpangan umar Rasul terjadi sejak beliau meninggal, di mana jalur khilafah di Islam berubah, dan khilafah yang menjadi hak Imam Ali bi Abi Thalib as dan Rasul berulang kali dan di berbagai kesempatan seperti Ghadir Khum mengumumkannya kepada semua orang, telah diambil dari Imam Ali dan diserahkan kepada orang lain. Umat Nabu sejak hari itu, ketika mereka menyembunyikan kekhilafahan dan Imamah Imam Ali as, dan mengingkari wilayah (kepemimpinan) beliau, maka umat ini membutuhkan reformasi dan Imam Husein as ketika menyaksikan citra dan wajah Islam semakin rusak akibat penyimpangan ini, dan jalan Islam yang telah ditentukan Rasul Saw, ayahnya Imam Ali as dan saudaranya Imam Hasan as mulai pudar, maka beliau memutuskan untuk bangkit melawan pemerintahan yang rusak Bani Umayyah, dan membangun kebangkitannya dengan pondasi reformasi umat Rasulullah Saw.
Debu kebodohan dan penindasan telah membayangi hukum Islam di tahun-tahun setelah kematian Nabi. Kesyahidan Hazrat Aba Abdullah Al-Hussein (AS) dan para sahabatnya yang setia menyebabkan debu ini disingkirkan dari wajah tradisi Islam yang benar dan cahaya bersinar pengetahuan ilahi bersinar sekali lagi di hati yang terabaikan. Seperti yang kita baca dalam doa ziarah kepada beliau: “Aku bersaksi bahwa kamu telah mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar.”
Pada dasarnya, dari sudut pandang budaya wahyu Ahlul Bait as, menghidupkan amar ma'ruf nahi munkar memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan lebih penting dari nilai-nilai ketuhanan lainnya, sebagaimana Imam Ali as memandang nilai-nilai amar ma’ruf nahi munkar lebih tinggi dari jihad. Ia berkata, “Seluruh perbuatan baik dan jihad di jalan Allah seperti tetesan air di tengah laut bila di hadapan amar ma'ruf nahi munkar.”
Pada dasarnya, untuk mempertahankan prinsip-prinsip aliran yang benar dan samawi, para pendiri aliran sesat harus diperangi, dan seorang Muslim bebas tidak berkompromi dengan para pendiri tradisi negatif dalam mempertahankan alirannya. Imam Husein as percaya bahwa nilai-nilai Islam harus didukung dengan sekuat tenaga. Kepribadian Imam Husein as mengekspresikan semangat perlawanan dan manifestasi kebebasan. Dia memulai kampanye di Karbala dengan pola pikir seperti itu untuk memberi pelajaran kepada umat manusia tentang kebebasan dan untuk membuktikan bahwa dia tidak akan menyerah pada penindasan dalam keadaan apa pun.
Imam Husein as Menurut Cendekiawan Kristen
Seorang cendikiawan, pemikir, dan tokoh terkemuka Kristen. Bukunya berjudul ‘Imam Hussein in Christian Ideology’ telah menuai kontroversi luas. Pasalnya, sang penulis berpendapat bahwa Jesus (Nabi Isa as) telah memberitahukan munculnya Imam Husein as.
Bara menyatakan bahwa Imam Hussein as tidak khusus untuk Syiah atau Muslim saja, tetapi milik seluruh dunia karena menurutnya beliau adalah “hati nurani agama”. Bara juga tidak pernah menyebut nama Imam Husein tanpa alaihissalam (peace be upon him).
Bara mengklaim diri sebagai Syiah dan menilai menjadi Syiah adalah “tingkat cinta tertinggi kepada Allah Swt.” Menurutnya semua orang dapat menjadi Syiah meskipun agamanya berbeda, tergantung pada interpretasinya.
Saat menulis bukunya tersebut, Bara mengatakan, "Saya juga mencoba menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan revolusi dan sosok Imam Husein as: mengapa pertempuran ini terjadi dan apakah itu untuk tujuan duniawi? Mengapa Imam Husein as mencari kesyahidan Apa rahasia di balik ucapan dan seruan beliau? Mengapa dia membawa serta perempuan adan anak-anak bersamanya? Ini memperpajang masa penulisan sampai lebih dari lima tahun, dua tahun di antaranya sepenuhnya untuk proses penulisan. Meski kala itu saya belum menikah, penulisan buku tersebut memakan waktu sedemikian lama. Buat saya ini sangat lama karena tidak ada karya lain saya yang memakan waktu lebih dari dua tahun untuk merampungkannya."
Berbicara reaksi dan tanggapan setelah pencetakan bukunya itu, Bara mengatakan, “Tentu ini menuai berbagai reaksi; lebih dari yang Anda dapat bayangkan. Benar bahwa Syiah khususnya dan umat Muslim secara umum menerima buku itu dan saya tahu banyak orang yang mempertimbangkannya sebagai buku terbaik yang pernah ditulis tentang Imam Husein as, akan tetapi sebagian Muslim dan Kristen menolaknya.”
Sepuluh tahun setelah publikasi buku tersebut, saya terkejut dipanggil ke Kuwait, tempat saya biasa bekerja, untuk melalui investigasi. Saya dituding telah menentang Khalifah Muslim! Ketika hadir ke pengadilan, saya mengetahui bahwa gugatan itu diajukan oleh pemerintah Kuwait. Mereka keberatan pada bagian dalam buku itu yang menilai pemerintahan Khalifah Utsman bin Afan korup dan bahwa politik tersebut yang memberi kesempatan kepada Bani Umayyah berkuasa. Saya membela diri dengan menjelaskan bahwa saya mengutipnya dari buku-buku Muslim. Saya juga menyebutkan nama buku-buku tersebut yang banyak beredar dan dapat dijangkau di perpustakaan publik.
Kepada hakim saya berkata, “Anda meninggalkan 499 halaman yang memuji tokoh Islam mulai dari Nabi Muhammad Saw, Ali as, Fatimah sa, Hasan dan Husein as, serta hanya mengandalkan satu halaman yang Anda mengklaimnya menentang Utsman!” Singkat kata, hakim mewajibkan saya membayar denda 50 dinar Kuwait serta menyita dan melarang buku yang telah dicetak lebih dari tiga kali dalam katalog elektronik pada pameran buku, dan seperti yang Anda tahu, buku tersebut telah dibaca luas sebelum pelarangannya.
Ketika Antoine Bara ditanya apakah penulisan buku tersebut merupakan sebuah interpretasi keinginan khusus yang dimilikinya atau murni riset, dia mengatakan, “Kedua-duanya. Pada awalnya, menulis buku bertujuan ilmiah akan tetapi ketika sa semakin menyelami lebih dalam dan lebih luas tentang topik sejarah ini, tumbuh sebuah perasaan kebesaran Imam Husein as pada diri saya. Manusia ini telah mengorbankan dirinya untuk agama, prinsip-prinsip, dan menyelamatkan Muslim dari penyimpangan dari Islam guna memastikan berlanjutnya pesan dan penyampaiannya dari satu generasi ke generasi lain.”
“Jika dia tidak mengorbankan dirinya pada dimensi emosional tingkat tinggi itu, maka pengaruh dari pemeliharaan agama Islam, tidak sebesar yang dirasakan masyarakat ini. Buktinya adalah apa yang terjadi ketika para tahanan perang kembali ke Damasku; orang-orang Sunni, Syiah, dan Kristen melempari serdadu [Yazid] dengan batu karena mereka semua merasa terpengaruh. Peristiwa yang sama juga terjadi di Homs ketika masyarakat memukuli para serdadu dan tidak memberi mereka air, karena mereka telah mengharamkan air untuk keluarga Nabi Muhammad Saw.”
Buku Imam Husein di Ideologi Kristen
“Pada hakikatnya, prinsip-prinsip kemanusiaan dibangkitkan dalam revolusi Asyura. Ini yang mendorong saya terus untuk menulis buku yang telah melelahkan dan menimbulkan masalah buat saya, tanpa ada keuntungan pribadi lain bagi saya kecuali berkah dari Imam Husein as. Berkah yang saya maksud di sini adalah fakta bahwa buku tersebut telah diceak lebih dari 20 kali, tiga di antaranya oleh saya. Banyak pihak yang telah mencetak buku tersebut tanpa ijin akan tetapi saya tidak mempermasalahkannya, karena saya tidak menilai buku itu sebagai milik pribadi, sebaliknya buku itu adalah milik seluruh umat manusia sama seperti Imam Husein as adalah milik seluruh umat manusia.
Muharram dan Imam Husein bin Ali as
Muharram, awal bulan di kalender Islam yang seharusnya menjadi peristiwa menggembirakan bagi umat Islam, tapi di bulan ini justru umat muslim berduka, pasalnya cucu tercinta Rasulullah Saw dan juga penghulu pemuda surga dibantai oleh mereka yang mengaku sebagai pengikut kakeknya di Padang Karbala.
Sekitar dua abad sebelum kedatangan Islam, para pemimpin kabilah Arab di Mekah berkumpul untuk menyatukan nama-nama bulan Arab. Pertemuan tersebut digelar di rumah Kilab bin Murrah, kekek kelima Rasulullah Saw. Arab mengharamkan perang di hari-hari tersebut dan meninggalkan permusuhan. Oleh karena itu, sejak saat itu, bulan ini dinamakan dengan larangan tersebut dan hari pertama Muharram ditetapkan sebagai awal tahun hijriah qamariah.
Dengan hijrahnya Nabi (SAW) dari Mekah ke Madinah pada tahun ketiga belas kenabian, yang terjadi pada bulan Rabiul Awwal, peristiwa bersejarah ini dan bulan ini menjadi awal dari sejarah umat Islam. Oleh karena itu, sejak tahun pertama Hijriah, peristiwa ini menjadi cikal bakal penanggalan Islam. Penyebaran Islam ke wilayah kerajaan Persia dan Romawi, dan kesimpulan dari berbagai perjanjian seperti perdamaian, upeti, upeti, dll, mendorong perhatian terhadap sejarah yang akurat.
Isu-isu ini mendorong khalifah kedua untuk mengadakan pertemuan konsultatif untuk membangun sejarah yang teratur dan akurat. Sejak masa khalifah kedua, umat Islam, atas saran Imam Ali (AS), telah menganggap migrasi Nabi (SAW) dari Mekah ke Madinah sebagai sumber sejarah dan kalender Islam, dan bulan Muharram menurut dengan ciri-ciri khusus yaitu akhir haji, bulan terakhir dianggap haram, dipilih sebagai bulan pertama tahun qamariyah. Hari ini adalah hari pertama tahun baru qamariyah dan awal Muharram.
Setiap kali bulan Muharram tiba, ingatan tentang gerakan Asyura dan pemberontakan Imam Husein as semakin hidup dan bergairah. Darah Imam Husein, yang ditumpahkan secara tidak adil di tanah pada tahun 61 H dan di bulan ketika perang dilarang, masih hangat dan setelah 14 abad masih mengalir di pembuluh darah jutaan pecinta kebebasan dan keadilan. Husein bin Ali -sebagai manusia yang saleh dan anti-penindasan- menjadi teladan gerakan para pejuang dan memori kesyahidan Husein as dan para sahabatnya menciptakan semangat yang tak terlukiskan di hati.
Bulan Muharram mengingatkan peristiwa tragis yang menimpa keluarga Rasulullah Saw. Sang cucu tercinta Husein bin Ali bin Abi Thalib as, putra putrin tercintanya, Fatimah Az-Zahra justri dibantai umatnya sendiri di Padang Karbala. Kesedihan Rasulullah Saw terlihat sejak awal kelahiran Imam Husein, ketika ia diberitahu Jibril bahwa bayi yang baru lahir ini nantinya akan terbunuh dalam kondisi kehausan dan kepalanya terpenggal oleh mereka yang mengaku sebagai pecinta dan pengikut Rasulullah.
Ketika Husein dilahirkan ke dunia, ia menemukan dirinya dibuaian kakeknya yang penuh cinta, Rasulullah Saw. Mohammad al-Mustafa (Saw) memiliki kecintaan dan kedekatan khusus dengan cucunya, Imam Hasan dan Imam Husein as. Beliau tak segan-segan menunjukkan kecintaan besar tersebut kepada para sahabatnya.
Al-Thabarani dalam bukunya Maqtal Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib mengisahkan bahwa suatu ketika, Husein bin Ali masuk ke kamar Nabi yang ketika itu sedang menerima wahyu. Lalu Husein meloncat ke atas pundak Nabi dan bermain-main di atas punggung beliau. Maka kemudian Jibril bertanya, “Wahai Muhammad, apa engkau mencintainya?.” Nabi pun menjawab, “Wahai Jibril, bagaimana aku tidak mencintai cucuku?.”
Jibril lantas berkata kembali, “Sesungguhnya, setelah kamu wafat nanti umatmu akan membunuhnya.” Jibril kemudian mengambil tanah berwarna putih dan memberikannya kepada Nabi seraya berkata, “Wahai Muhammad, di tanah inilah cucumu akan dibunuh. Tanah itu namanya Thaf (Karbala).”
Di hari-hari pertama bulan Muharram, umat Islam dan para pecinta Ahlul Bait as yang seharusnya bergembira dan ceria, tapi mereka justru bersedih dan mengenakan pakaian hitam tanda berkabung. Ya...mereka berkabung untuk kesyahidan cucu junjungan mereka dan penghulu pemuda surga, Husein bin Ali as. Bulan Muharram yang dilarang untuk berperang menurut Islam, tapi di bulan ini sejarah mencatat peristiwa tragis yang dialami keluarga manusia paling sempurna dan penerang dunia, Muhammad al-Mustafa Saw.
Ya....di hari-hari pertama bulan Muharram kita menyaksikan ungkan sedih dan acara duka umat Islam mengenang Husein bin Ali as. Imam Ridha as saat menyebutkan kondisi ayahnya, Imam Musa al-Kadhim as ketika bulan Muharram tiba mengatakan, ketika bulan Muharram tiba, tidak ada yang melihat ayahku tertawa, dan kesedihannya semakin besar hingga datangnya hari kesepuluh (Asyura). Dan ketika hari kesepuluh Muharram tiba, saat itulah hari musibah, kesedihan dan tangisan tiba.
Di sebuah riwayat daru Rayyab bin Syabib disebutkan bahwa di hari pertama bulan Muharram saya bertemu dengan Imam Ridha as dan beliau berkata kepadaku, Wahai putra Syabib sesungguhnya bulan Muharram adalah bulan di mana masyarakat di zaman jahiliyah di masa lalu mengharamkan kezaliman dan perang untuk menghormati bulan ini, tapi umat ini, bukan saja tidak menjaga kehormatan bulan Muharram, dan juga kehormatan Rasulullah Saw, bahkan berani membantai anak dan keturunanya, serta menangkap perempuan Ahlul Bait dan menjarah harta bendanya...Wahai Putra Syabib ! Jika kamu ingin menangisi sesuatu, maka menangislah untuk Husein bin Ali as.
Kemudian Imam Ridha as melanjutkan, Wahai Putra Syabib ! Menangislah untuk Husein as hingga bercucuran air matamu, Allah Swt akan mengampuni setiap dosamu, baik kecil atau besar, sedikit atau banyak...Wahai Putra Syabib ! Jika kamu ingin ditempatkan bersama nabi di surga, maka laknatlah pembunuh Husein as....Setiap kamu mengingat Husein ucapkanlah " یا لَیتَنِی کُنْتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزًا عَظِیمًا " (Seandainya aku bersama mereka, maka aku akan beruntung dan meraih kemenangan besar)
Masalah menangis untuk Imam Husein tidak sama dengan tangisan dan duka lainnya, sehingga kita samakan dan dianggap sebagai sesuatu yang tidak baik. Tapi menangis untuk Imam Husein sejak awal beda. Imam Shadiq as berkata:
إِنَّ الْبُکَاءَ وَ الْجَزَعَ مَکْرُوهٌ لِلْعَبْدِ فِی کُلِّ مَا جَزِعَ مَا خَلَا الْبُکَاءَ عَلَى الْحُسَیْنِ بْنِ عَلِیٍّ ع فَإِنَّهُ فِیهِ مَأْجُورٌ
Sesungguhnya setiap tangisan dan jeritan itu makruh bagi seseorang kecuali tangisan untuk Husein bin Ali. Karena sesungguhnya ia [tangisan untuk Husein] ada pahalanya.
Jenis duka untuk Imam Husein as dengan duka-duka yang lain begitu berbeda, sehingga jauh-jauh sebelum tragedi Asyura menyampaikan tentang nilainya menangis untuk Imam Husein as dan bersabda:
یا فاطِمَةُ! کُلُّ عَینٍ باکِیَةٌ یَومَ القِیامَةِ إلاّ عَینٌ بَکَت عَلى مُصابِ الحُسَینِ
Hai Fatimah! Setiap mata akan menangis di Hari Kiamat, kecuali mata yang menangis atas musibah-musibah [yang menimpa] Husein.[6]
Faedah Menangis dan berduka untuk Imam Husein as
Ketika menangisi musibah Imam Husein begitu dianjurkan, dan disebutkan betapa besar pahalanya di akhirat; yakni memahamkan kepada kita bahwa amal ini juga memiliki pengaruh dan faedah yang sangat penting di dunia. Salah satu pengaruhnya adalah melewati gerbang gejolak dan masuk menuju lautan pemahaman. Menangis untuk Imam Husein bukan akhir pekerjaan, tapi permulaan untuk memahami. Perasaan yang akan bangkit dan kita dibawa untuk memikirkan. Sebuah pemikiran yang membangun yang terbentuk dari ilham yang berasal dari musibah yang ada.
Risalah menangis untuk Imam Husein adalah menjaga nama, peninggalan dan jalan Imam Husein. Tangisan inilah yang mengajarkan budaya syahadah pada para pecinta jalan Imam Husein, juga yang menjaga darah [perjuangan] Imam Husein.
Menangis untuk Imam Husein pada dasarnya mengenali para pezalim dan despotik dunia. Setelah bertahun-tahun ada saja orang-orang yang melanjutkan jalannya Yazid dan orang-orang seperti Yazid. Menangis untuk Imam Husein menjadikan seseorang terdidik menjadi seorang pejuang. Pejuang yang sungguh-sungguh yang menghadapi kezaliman dan imperialisme sampai akhir hayat dan di jalan menuju pada Allah tidak takut sama sekali pada pezalim. Selain itu, menangis untuk Imam Husein adalah mewariskan kecintaan kepada Imam Husein pada generasi selanjutnya dan mengalihkan budaya Asyura dari generasi ke generasi. Jangan lupa bahwa alat untuk menyampaikan budaya Imam Husein di tangan Sayidah Zainab dan Imam Sajjad adalah tangisan untuk Imam Husein as.
Sejarah Acara Duka untuk Imam Husein as
Hind (هند), istri Yazid bin Muawiyah adalah seorang wanita cantik dan saleh di zamannya. Ayahnya bernama Abdullah bin Amir, salah satu sahabat Imam Ali as yang gugur di salah satu perang. Hind setelah ayahnya gugur, untuk beberapa waktu tinggal di rumah Imam Ali as. Kemudian Muawaiyah melamar Hind untuk anaknya, Yazid. Dengan demikian Hind resmi menjadi istri Yazid dan tinggal di Syam.
Setelah peristiwa Asyura dan gugurnya Imam Husein as beserta sahabat setianya, iring-iringan tawanan dibawa ke kota Syam dan ditempatkan di reruntuhan. Warga Syam yang tidak mengetahui gugurnya keluarga Rasulullah Saw dan menganggap bahwa sejumlah pemberontak tewas di perang dengan khalifah musliminin, sibuk menggelar pesta.
Saat itu, salah satu pelayan Hind mendatanginya dan berkata, "Ada sekelompok tawanan yang dibawa ke kota kota. Apakah kamu ingin melihatnya dan bergabung dengan kegembiraan ?
Hind menerima usulan pelayannya dan ketika keluar dari istana ia berpapasan dengan suaminya, Yazid. Hind menjelaskan tujuannya keluar istana, tapi tiba-tiba ia melihat muka suaminya berubah. Yazid dengan baik mengetahui bahwa Hind selama bertahun-tahun tinggal di rumah Ali bin Abi Thalib dan mengenal Zainab as. Oleh karena itu, Yazid pertama-tama berusaha menghalangi kunjungan istrinya tersebut, tapi tidak memiliki alasan yang tepat. Oleh karena itu, ia memberi syarat bahwa Hind hanya dapat keluar di malam hari untuk menyaksikan tawanan tersebut. Hind sendiri menerima syarat tersebut.
Ketika malam tiba, Hind bersama pelayannya mendatangani tempat tawanan. Ia diberitahu bahwa pemimpin tawanan tersebut seorang wanita. Kemudian ia mendekati Sayidah Zainab dan bertanya kepadanya, dari kota mana kamu berasal ? Sayidah Zainab langsung menjawab, Madinah !
Hind setelah mendengar kata Madinah, dengan bersemangat maju kedepan dan berkata, Benarkah !!! Kemudian ia melanjutkan, jika kamu warga Madinah, pastinya kamu mengenal Zainab, putri Fatimah as. Ia adalah guruku dan semua pengetahuan agamaku berasal darinya.
Sayidah Zainab yang sejak awal kedatangan Hind telah mengenalnya berkata, Hind ! Putri Abdullah bin Amir, aku mengenal Zainab ! Ia sekarang berada di depanmu ! Setelah mendengar jawaban Sayidah Zainab, Hind merasa tenggorokannya tercekik dan berteriak dengan sedih. Ia kemudian menghadap pelayannya dan berkata, Celakalah Aku, tawanan Syam adalah keluarga Rasulullah Saw.
Hind, sambil merobek kerudungnya, memasuki tempat pertemuan (majelis) Yazid dan berteriak kepadanya, "Apakah kamu telah memberi perintah untuk menempatkan kepala Husain (as) di pintu istana?" Haruskah kepala anak Fatima (as) digantung di pintu rumah saya, putri "Abdullah bin Amer"? Yazid, yang sedang duduk di singgasana di majelisnya, ketika dia melihat istrinya seperti ini, bangkit dan sambil berusaha menutupi kepala dan wajahnya, berkata: Wahai Hind! Menangislah untuk anak putri Rasulullah, yang "Ibnu Ziyad", penguasa Kufah,tergesa-gesa di pekerjaannya, semoga Tuhan membunuhnya!!! Saya tidak puas dengan pembunuhan Husein!!
Hind yang menyaksikan Yazid berusaha menutupi kepalanya dengan marah berteriak: Wahai Yazid ! Celakalah kamu, apa yang tengah terjadi ! Apakah kamu cemburu ? Jadi mengapa Anda tidak cemburu dengan putri-putri Rasulullah (Saw) ? Kamu telah merobek kerudung mereka dan memperlihatkan wajah mereka dan meninggalkan mereka dalam reruntuhan ? Tidak, demi Tuhan, aku tidak akan memasuki rumahmu kecuali saya membawa mereka bersamaku.
Dengan demikian Yazid memerintahkan para tawanan wanita ditempatkan di rumah Hind. Saat itu, seluru wanita di istana Yazid melepas seluruh perhiasannya dan berduka selama tiga hari.
Yazid kemudian mengijinkan keluarga Ahlul Bait Nabi menggelar acara duka untuk Imam Husein as. Kisah Karbala yang terdengar penuturan Sayidah Zainab telah memicu revolusi di hati saat itu, dan membuat perempuan Syam menangis tesedu-sedu. Menurut kutipan sejarah, di Syam digelar acara duka selama tiga hari berturut-turut untuk mengenang gugurnya Imam Husein as dan sahabatnya. Setelah peristiwa ini, wajah kota Syam berubah dan kota ini tenggelam dalam duka, tidak seperti tiga hari lalu saat tawanan Karbala memasuki kota ini.
Warga Syam yang sebelumnya menyambut kedatangan tawanan Karbala dengan gembira, kini dengan rasa malu dan penuh penghormatan memperlakukan para tawanan keluarga Nabi ini. Mereka mendapat pemahaman baru setelah mendengarkan khutbah Sayidah Zainab dan Imam Sajjad as. Dengan cepat kondisi tak puas melanda seluruh Syam, dan Yazid terpaksa memerintahkan pemulangan tawanan Karbala dnegan penuh hormat. Rombongan Sayidah Zainab setibanya di Madinah menggelar acara duka Imam Husein di Baqi' dan di makam Rasulullah Saw.
Setelah gugurnya Imam Husein as, para Imam maksum as juga menggelar acara duka untuk Imam Husein dan mendorong para pengikut serta pecinta Ahlul Bait as untuk menggelar acara ini.
Sementara itu, sejarah acara duka untuk Imam Husein as di Iran secara resmi dimulai di masa pemerintahan Dinasti Buwayhiyah (Buyid). Tahun 353 H (964 M) Mu'izz al-Dawla menginstruksikan acara duka umum untuk Imam Husein dan meminta masyarakat mengenakan pakaian hitam serta pasar-pasar diliburkan. Dengan demikian acara pertama duka Imam Husein resmi digelar di Iran. Di hari Asyura, masyarakat dan sejumlah ulama Hanafi seraya meratap dan menaburkan tanah di kepala dan wajahnya, melaknat para pembunuh Imam Husein as.
Para raja Dinasti Saljuk (1037-1194) juga memiliki kecenderungan khusus terhadap para Imam Syiah. Raja Saljul MalikShah di tahun 1086 H pergi berziarah ke Kadhimaian, Najaf dan Karbala. Mohammad bin Abdullah Balkhi, penulis zaman itu, berturut mengenai ketertindasan Ahlul Bait as dan membaca syair-syair duka. Acara duka untuk syuhada Karbala marak di Bagdad dan berbagai kota Iran hingga awal pemerintahan Tughrul Saljuki.
Setelah runtuhnya pemerintahan Dinasti Abbasiah di Baghdad dan ketika Mongol menguasai sebagian besar pemerintahan Islam, bentuk dan konten acara duka ini berubah. Di saat itu, para pecinta Ahlul Bait as memiliki kebebasan lebih untuk melaksanakan ritual mazhab mereka. Sampa pada masa pemerintahan Oljaitu (1304-1316) mazhab Syiah menjadi mazhab resmi di Iran dan dengan demikian acara duka untuk Imam Husein bebas digelar.
Dengan dimulainya pemerintahan Safawi dan mazhab Syiah menjadi mazhab resmidi negara itu, pembacaan puisi untuk memuji para Imam, Imam Hussain (as) dan para syuhada Karbala dianggap sebagai suatu kehormatan besar. Isu ini berdampak signifikan pada hari berkabung Muharram, sedemikian rupa sehingga acara besar ini digelar setiap tahun di Muharram dan penggunaan puisi-puisi ini banyak membantu untuk menyebarkan mazhab Syiah.
Jenis berkabung ini berlanjut sampai periode Pahlavi. Tapi selama era Reza Khan, pembatasan secara bertahap dipertimbangkan untuk pelayat; Hingga pada tahun 1314 (1935 M), penguasa berbagai daerah diperintahkan untuk melarang pembentukan prosesi berkabung di bulan Muharram dan Safar. Sedikit demi sedikit, pembatasan penyelenggaraan upacara keagamaan semakin meningkat, dan akhirnya dikeluarkanlah perintah larangan berkabung di masjid-masjid dan Huseiniyah, bahkan di beberapa kota, penyelenggara acara berkabung untuk Imam Husein as pun dipenjara.
Demonstran Irak Terobos Masuk Zona Hijau di Baghdad
Media Irak mengabarkan masuknya sejumlah demonstran negara ini ke Zona Hijau yang dijaga ketat oleh militer, setelah menggelar aksi di dekat salah satu pintu masuk area tersebut.
"Puluhan ribu demonstran turun ke jalan, dan menggelar aksi di Bundaran Al Tahrir, Baghdad, memprotes kandidasi Mohammed Shaya'a Al Sudani untuk menjabat posisi Perdana Menteri Irak," lapor stasiun televisi Al Sumaria, Rabu (27/7/2022) sore.
Menurut keterangan TV Al Sumaria, setelah menggelar aksi di Bundaran Al Tahrir, pada demonstran bergerak menuju Zona Hijau, Baghdad.
Tidak lama setelah tiba di Zona Hijau yang berada dalam penjagaan ketat aparat keamanan itu, para demonstran berkumpul di salah satu pintu masuk Zona Hijau.
Meskipun dihalangi aparat keamanan Irak, yang terus berusaha membubarkan massa, namun para demonstran merusak pembatas beton di Zona Hijau, dan memasuki wilayah itu.
PM Irak Mustafa Al Kadhimi, meminta para demonstran untuk menggelar aksinya secara damai, dan segera keluar dari Zona Hijau. Di sisi lain, sejumlah banyak demonstran juga dikabarkan memasuki gedung Parlemen negara itu.
Hizbullah: Revolusi Iran Singkirkan Ketakutan atas Israel
Ketua Dewan Politik Hizbullah Lebanon mengatakan, kemenangan Revolusi Islam Iran telah menciptakan perubahan pemikiran, semangat dan spiritualitas.
Ibrahim Amin Al Sayyed, Kamis (28/7/2022) menegaskan bahwa Hizbullah berada dalam kondisi ideal karena telah berubah dari kondisi individu ke kondisi kolektif.
Ia menambahkan, "Para pemimpin Hizbullah siap berjuang di garda terdepan, dan dengan iman, keikhlasan, serta kemuliaan, mereka akan mampu menghadapi musuh."
Pada saat yang sama Ibrahim Amin Al Sayyed menjelaskan bahwa Revolusi Islam Iran telah mengembuskan harapan, dan telah berupaya untuk membuat ketakutan akan serangan Zionis menjadi tak bermakna.
"Dunia hari ini menyaksikan perubahan, sebagian negara dan masyarakat sedang tumbuh, sementara yang lain lemah. Lebanon berkat perlawanan termasuk di antara negara penting," imbuhnya.
Ketua Dewan Politik Hizbullah menegaskan, "Rakyat Lebanon harus tahu bahwa ada peluang, dan mereka harus bertindak berdasarkan hal itu, karena berlanjutnya kebijakan toleransi dengan Amerika Serikat, tidak akan membuahkan hasil apa pun."
Kebakaran Luas di Kota Haifa, Wilayah Pendudukan
Media-media Palestina, baru-baru ini mengabarkan terjadinya kebakaran luas di kota Haifa, yang terletak di Wilayah pendudukan.
"Kebakaran luas yang terjadi di kota Haifa, menyebabkan tiga rumah pemukim Zionis hangus terbakar, dan tiga kendaraan mereka terbakar," tulis media Palestina, Kamis (28/7/2022).
Menurut media Palestina, tim pemadam kebakaran Rezim Zionis Israel, segera dikerahkan ke lokasi kebakaran di Haifa, dan beberapa wilayah lain untuk memadamkan api.
Menurut keterangan sumber media Palestina, api terus menjalar luas ke lokasi-lokasi lain, dan sampai sekarang otoritas Rezim Zionis belum mengumumkan korban tewas dan luka akibat kebakaran ini.
Tanggapi Klaim Zionis, Komandan AL Iran: Kami Hadir di Perairan Bebas
Komandan Angkatan Laut Militer Iran menanggapi klaim Rezim Zionis soal kehadiran Angkatan Laut Militer Iran di Laut Merah.
Laksamana Muda Shahram Irani, Kamis (28/7/2022) saat menjelaskan kehadiran Iran di Laut Merah, dan klaim-klaim Rezim Zionis terhadap Iran menuturkan, "Sepertinya mereka tertidur lelap, dan sangat terlambat untuk bangun, kehadiran Angkatan Laut Iran, di Laut Merah bukan hal baru."
Ia menambahkan, "Dalam tiga tahap kami pernah melewati Terusan Suez, artinya tidak hanya di Laut Merah, bahkan di Laut Mediterania kami juga hadir, dan akan tetap hadir."
Komandan AL Militer Iran menegaskan, "Hari ini di permukaan, bawah laut dan di udara, Angkatan Laut Militer Iran, telah meraih sejumlah kemajuan."
"Sekarang kepentingan, sumber daya dan jantung perekonomian Iran, terhampar luas di kawasan maritim, oleh karena itu jalur-jalur pelayaran Iran, membutuhkan perlindungan dan dukungan, maka dari itu penegakan keamanan di laut bagi jalur pelayaran akan menyebabkan lokasi kehadiran kami menjadi aman, dan negara-negara lain juga bisa memanfaatkannya," pungkas Irani.
Israel Bantu Ukraina, Rusia: Bagaimana jika Warga Kami Bantu Hamas ?
Salah seorang pejabat Rusia kepada stasiun televisi Rezim Zionis, mengatakan bahwa Moskow sangat marah kepada Tel Aviv karena mengirim milisi ke Ukraina.
Stasiun televisi Rezim Zionis, KAN 11, Kamis (28/7/2022), mengutip salah satu sumber yang dekat ke pemerintah Rusia melaporkan, Moskow sangat marah dengan laporan terkait lampu hijau Tel Aviv untuk mengirim ratusan milisi Zionis ke Ukraina.
Pejabat Rusia itu menuturkan, "Jika bagi Anda jelas bahwa warga Rusia berperang melawan Israel bersama Hamas, apa reaksi Anda ? Orang-orang Rusia marah karena Israel setuju mendukung Ukraina, dan wajar jika Moskow bereaksi."
Sehubungan dengan penghentian aktivitas lembaga Yahudi, Jewish Agency di Rusia, pejabat Moskow itu menegaskan bahwa masalah ini tidak ada kaitannya dengan kemarahan Rusia terhadap Israel, lembaga itu ditutup karena melanggar aturan.
Sebelumnya Rusia menolak rencana kunjungan delegasi Israel, ke Moskow untuk membicarakan penutupan Jewish Agency.
NY Times: Iran Jadi Pemain Global dalam Ekspor Drone
Surat kabar Amerika Serikat, New York Times mengatakan, Iran berubah menjadi pemain global dalam ekspor drone, dan sedang meningkatkan pengaruhnya di wilayah-wilayah yang lebih jauh dari Asia Barat.
New York Times, Kamis (28/7/2022) melaporkan, Amerika Serikat mengklaim bahwa Iran, meningkatkan penjualan drone ke negara-negara di luar kawasan Asia Barat, dan sedang berubah menjadi pemain global dalam ekspor drone.
Koran AS itu menjelaskan, Iran dalam beberapa tahun terakhir mengalami kemajuan-kemajuan yang stabil dalam desain, dan produksi drone-drone militer, dan sedang berusaha meningkatkan pengiriman drone-drone ini ke luar Asia Barat.
NY Times mengklaim, Iran juga sedang berusaha meningkatkan pengaruhnya di dunia, dan sekarang berupaya menjual drone-drone militer canggih miliknya ke negara lain, termasuk ke Venezuela dan Sudan.
"Masalah ini telah berubah menjadi sebuah sumber penting untuk penanaman investasi dan pengaruh politik bagi Iran, yang tengah dihadapkan dengan berbagai pembatasan keuangan oleh AS," imbuhnya.
Menurut laporan NY Times, saat ini Rusia menjadi salah satu konsumen potensial Iran, dan para pejabat AS minggu lalu mengklaim Rusia bermaksud memperkuat arsenalnya dalam perang Ukraina, dengan membeli ratusan drone dari Iran.
Akan tetapi Kementerian Luar Negeri Iran mengumumkan bahwa kerja sama militer Iran dan Rusia, sudah dilakukan sejak sebelum pecahnya perang di Ukraina.
Mengungkap Alasan Meningkatnya Ketegangan Rusia dan Israel
Di tengah meningkatnya ketegangan Rusia dan Rezim Zionis terkait sikap dan langkah Tel Aviv atas perang Ukraina, dan penutupan lembaga Yahudi, Jewish Agency di Rusia, Rezim Zionis justru menambah bantuannya untuk Ukraina.
Duta Besar Rezim Zionis untuk Ukraina, Michael Brodsky belum lama ini mengabarkan pengiriman bantuan makanan untuk Ukraina, setelah Perdana Menteri rezim itu mengaku akan membalas langkah Rusia, menutup Jewish Agency.
Sebelumnya Kementerian Perang Rezim Zionis pada 14 Juli 2022, mengirim paket bantuan yang terdiri dari helm, rompi keselamatan, dan masker kimia ke Ukraina.
Pada bulan Mei 2022, bersamaan dengan proses bertahap peningkatan ketegangan Rusia dan Israel, pemerintah Tel Aviv juga mengirim bantuan-bantuan semacam ini ke Kiev.
Rusia baru-baru ini menutup salah satu lembaga Yahudi bernama Jewish Agency di negara itu, dan memperingatkan lembaga-lembaga serupa untuk tidak melanggar hukum dan terus melakukan campur tangan.
Kementerian Kehakiman Rusia tiga minggu lalu mengumumkan penutupan lembaga Yahudi, Jewish Agency yang beraktivitas di negara itu. Jewish Agency didirikan pada tahun 1929 sebagai bagian dari Organisasi Zionis Internasional, dan membantu penyebaran imigran Zionis ke Wilayah pendudukan.
PM Rezim Zionis Yair Lapid menegaskan bahwa penutupan Jewish Agency, di Moskow, akan mempengaruhi hubungan bilateral dengan Rusia.
Kementerian Kehakiman Rusia juga mengirim surat peringatan ke beberapa lembaga Yahudi lain di negara itu, karena mereka terdeteksi bekerja sebagai agen asing.
Sepertinya dengan memperhatikan aksi intelijen Israel di seluruh penjuru dunia, dan dukungan rezim ini pada Ukraina, Rusia berkesimpulan bahwa aktivitas-aktivitas Jewish Agency dan lembaga-lembaga afiliasi Zionis lainnya, mengancam keamanannya.
Resimen Azov, Ukraina
Jewish Agency dituduh melakukan mata-mata terhadap warga Rusia, memprovokasi mereka untuk melakukan migrasi ke Wilayah pendudukan, dan kantor agen ini menjadi pusat pelarian modal manusia dari Rusia.
Meski PM Israel sudah mengirim delegasi ke Rusia, untuk mempertahankan aktivitas Jewish Agency di negara itu, namun sepertinya kemungkinannya kecil lembaga Yahudi itu bisa beraktivitas kembali.
"Jika tidak punya bukti yang menunjukan bahwa Jewish Agency telah mencampuri urusan internalnya, dan upaya lembaga Yahudi itu mendorong migrasi semakin besar sumber daya manusia unggul dan ilmuwan Rusia ke luar negeri, maka tidak mungkin Moskow mengambil keputusan ini," kata Samir Ayub, pengamat masalah Rusia.
Meski di awal perang Ukraina, Israel berusaha netral, namun seiring berlalunya waktu, rezim itu menunjukan dukungan terbukanya atas Ukraina dalam perang melawan Rusia, dengan mengirim berbagai bantuan ke Kiev, mulai dari bantuan medis hingga militer, bahkan mengirim petempur.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova memprotes kehadiran langsung para Zionis dalam perang Ukraina, dan mengatakan, para tentara bayaran Israel, berperang bersama Resimen Azov di Ukraina.
Selain itu tim perwira militer Rezim Zionis, terbukti memberikan pelatihan tempur kepada pasukan asing yang berperang untuk Ukraina, melawan pasukan Rusia.
Keputusan Rusia menutup lembaga Yahudi, Jewish Agency, merupakan pukulan telak terhadap Rezim Zionis, terutama karena lembaga ini memainkan peran kunci dalam mendorong migrasi warga Rusia ke wilayah pendudukan.
Khatib Jumat Tehran: Perempuan Berhijab Iran, Gemilang di Semua Arena
Khatib Salat Jumat Tehran mengatakan, perempuan Iran, dengan jilbab Islaminya, gemilang di semua arena ilmu pengetahuan, politik, ekonomi dan manajemen.
Ayatullah Sayid Ahmad Khatami, Jumat (29/7/2022), dalam khutbah Salat Jumat menyinggung masalah jilbab, kesucian, penyebaran budaya tak berjilbab dan keraguan-keraguan yang dibuat Barat.
Ia menuturkan, "Barat mengira selama perempuan tidak terbebas dari aturan moral dan syariat agama, maka mereka tidak akan pernah maju, akan tetapi upaya itu gagal total, karena sebaliknya di Iran, setelah kemenangan Revolusi Islam, mereka menyaksikan perempuan Iran, dengan jilbab Islaminya mencapai kegemilangan di semua arena pengetahuan, politik, ekonomi, manajemen dan yang lainnya."
Menurut Ayatullah Khatami, front budaya Barat berdiri di atas landasan anti-jilbab dan menyebar luaskan budaya tak berhijab.
"Musuh marah dengan jilbab perempuan Iran, dan perwujudan kemarahan mereka terlihat dari keraguan-keraguan yang disebarkan terkait jilbab," imbuhnya.
Khatib Jumat Tehran menegaskan, "Permusuhan imperialis terutama Amerika Serikat adalah terhadap Islam hakiki, dan mereka tidak bisa menerima jika Islam hakiki ini berkuasa di Iran."
Khatami juga menyinggung pertemuan terbaru Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei.
"Sikap Ayatullah Khamenei merupakan perwujudan dari kemuliaan, kebijaksanaan, dan kemaslahatan," kata Khatib Jumat Tehran.
Menurut Ayatullah Khatami, Rahbar mengaku tidak senang dengan pembunuhan warga sipil di perang Ukraina, pada saat yang sama mengatakan, jika Rusia tidak mengambil inisiatif maka pihak lawan akan menyerang.
Ia menambahkan, Rahbar dalam pertemuan dengan Presiden Turki menegaskan urgensi untuk menjaga integritas teritorial Suriah, dan ini adalah sikap yang bijak.
Di bagian lain khutbahnya, Ayatullah Khatami menyebut 10 hari pertama bulan Muharam adalah waktu yang tepat untuk menghidupkan ammar makruf dan nahyi munkar, dan menguatkan pemerintahan Islam merupakan salah satu kebaikan yang paling utama, dan melemahkannya merupakan kemungkaran yang paling buruk.




























