Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa menyatakan bahwa blok tersebut menolak pemberian konsesi wilayah Ukraina kepada Rusia.
Menurut laporan IRNA yang mengutip Anadolu, Sabtu, 07 November 2026, Kaja Kallas pada Jumat (6/11) menolak pengakuan atas tuntutan Rusia terkait wilayah Ukraina. Ia juga menyerukan pertanggungjawaban atas kejahatan perang, pembayaran ganti rugi atas kerusakan akibat perang, serta pemulangan anak-anak yang diduga dipindahkan secara paksa dari Ukraina ke Rusia.
Ia menambahkan bahwa kedaulatan dan kemerdekaan Ukraina, serta hak negara itu untuk menentukan hubungan luar negerinya, harus dihormati.
Kallas menegaskan bahwa Uni Eropa harus dilibatkan dalam setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang Rusia melawan Ukraina. Ia memperingatkan bahwa Uni Eropa tidak akan melaksanakan kesepakatan apa pun yang dicapai tanpa kehadiran dan keterlibatan blok tersebut.
Dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Polandia Radosław Sikorski dan Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha, Kallas menjawab pertanyaan mengenai peran Eropa dalam perundingan perdamaian. Ia mengatakan bahwa keputusan terkait sanksi Uni Eropa dan aset Rusia yang dibekukan berada di tangan blok tersebut.
“Kami tidak akan melaksanakan kesepakatan apa pun jika kami tidak menjadi pihak dalam perundingan. Uni Eropa tidak dapat diabaikan dalam semua bidang, mulai dari jaminan keamanan dan sanksi hingga rekonstruksi serta keanggotaan Ukraina di Uni Eropa,” ujarnya.
Kallas menyebutkan bahwa upaya diplomatik baru untuk mengakhiri perang sedang berlangsung. Para menteri juga telah membahas cara mereka dapat berpartisipasi dalam proses tersebut.
“Faktanya, upaya diplomatik baru dan intensif untuk mengakhiri perang Rusia sedang berlangsung. Eropa tetap mendukung semua langkah yang mengarah pada tercapainya perdamaian yang adil dan berkelanjutan. Namun, di tengah upaya diplomatik ini, situasi di medan perang sangat memprihatinkan,” katanya.
Kallas menyatakan bahwa sedikitnya 45 warga sipil tewas akibat serangan udara Rusia di Ukraina sepanjang pekan ini. Ia memperingatkan bahwa Ukraina akan menghadapi situasi sulit pada musim dingin mendatang akibat serangan Moskow terhadap infrastruktur energinya.
“Moskow berusaha memaksa Ukraina menyerah dengan menciptakan suhu dingin ekstrem dan melumpuhkan infrastruktur energi negara itu. Namun, kami tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi,” ujarnya.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa itu juga mengatakan bahwa pada pekan ini, blok tersebut telah menyalurkan tambahan 4,36 miliar euro (5,03 miliar dolar AS) dalam bentuk pinjaman dukungan untuk memperkuat ketahanan Ukraina.




























