Imam Musa Kazhim as, Puncak Penghambaan dalam Penjara Harun Al-Rasyid

Rate this item
(0 votes)
Imam Musa Kazhim as, Puncak Penghambaan dalam Penjara Harun Al-Rasyid

Menjelang peringatan syahadah Imam Musa al-Kazhim as, kota suci Kazhimain menyaksikan kedatangan para pengikut dan pecinta Ahlulbait as dari dalam dan luar Irak. Halaman dan beranda tempat suci ini penuh dengan para peziarah yang berduka. Semua peziarah, tua dan muda, pria dan wanita berada di makam suci Imam Musa bin Jakfar as dan meratapi kesyahidan Imam agung ini. Kazhimain hari ini tenggelam dalam air mata dan duka.

Menjelang peringatan hari syahadah Imam Musa al-Kazhim as, Imam Kedelapan Syiah, kami mengucapkan rasa belasungkawa kepada Anda para pecinta Ahlulbait as.


Imam Musa Kazhim as lahir pada hari Sabtu tanggal 7 Shafar tahun 128 Hijriah Qamariah di sebuah tempat bernama Abawa yang terletak di antara Mekah dan Madinah. Sejak tahun 148 HQ, ketika ayahnya Imam Sadiq as gugur syahid, periode keimamahan Imam Kazhim dimulai. Imam yang tertindas, demi menyampai kebenaran dan mengungkap kebobrokan para khalifah Bani Abbas, harus menghabiskan bertahun-tahun dari kehidupannya yang luar biasa di penjara yang menakutkan. Akhirnya, beliau gugur syahid pada tanggal 25 Rajab 183 HQ di penjara Harun al-Rasyid. Ketika gugur syahid, Imam Musa Kazhim as berusia 55 tahun.

Panggilan paling masyhur pada Imam Kazhim as adalah "Bab al-Hawaij" yang berarti pintu bagi mereka yang membutuhkan. Mereka memanggilnya "Bab al-Hawa'ij ila Allah". Karena setiap orang yang menjadikannya wasilah atau perantara bagi hajatnya kepada Allah Swt pasti diijabahi. Ibn Hajar al-Haitsami, seorang ulama mazhab Syafi'i mengatakan, "Musa Kazhim as diketahui oleh orang-orang Irak sebagai Bab al-Hawaij." Sementara Ibn Shabbagh, seorang ahli fiqih mazhab Maliki juga mengatakan, "Orang-orang Irak mengenalnya dengan sebutan Bab al-Hawaij ila Allah. Karena orang-orang Muslim yang menjadikannya sebagai perantara bagi hajatnya, pasti terkabulkan."

Setelah gugur syahidnya Imam Sadiq as, kepemimpinan agama, ilmiah, politik dan pendidikan berarti keimamahan dari Imam Kazhim as dimulai. Dalam lingkungan politik yang sulit ini, dikhawatirkan bahwa jiwa Imam akan berada dalam bahaya. Karena alasan ini, Imam Shadiq as, Imam Keenam selama masa hidupnya, memperkenalkan Imam Kazhim as sebagai penggantinya. Dengan demikian, program Manshur, Khalifah Abbasiah untuk menghilangkan Imam Ketujuh, yaitu Imam Musa Kazhim as menjadi gagal. Setelah kematian Manshur, berturut-turut Mahdi dan Hadi berkuasa. Di masa mereka yang berlangsung lebih dari dua puluh tahun, ada ruang terbuka dan kebebasan relatif yang diberikan kepada Ahlulbait dan pengikutnya, terutama selama masa kekhalifahan Mahdi. Imam Kazhim as memanfaatkan benar-benar kesempatan ini dan berusaha untuk membimbing dan menuntun masyarakat Islam.


Imam Abu al-Hasan, Musa bin Jakfar as, yang juga dipanggil dengan Kazhim adalah tempat berkumpulnya segala kebaikan. Untuk alasan ini, beliau punya pengaruh di hati berbagai kelompok dan kalangan masyarakat Islam dan bahkan non-Muslim. Sebagian orang yang menyaksikan ibadah Imam Musa al-Kazhim as, sebagian lain dengan menyaksikan kesabaran dan sifat pemaaf beliau dan sebagian orang lain yang dipenuhi kebutuhannya oleh Imam dan bagaimana Imam begitu berempati kepada mereka, membuat semuanya begitu tertarik dengan kepribadian Imam Musa al-Kazhim as. Bagaimanapun juga, semua hati masyarakat begitu tertarik dengannya, sehingga menurut Ibnu Hajar, beliau adalah Imam al-Qulub, pemimpin hati masyarakat.

Sebagian dari kehidupan Imam Kazhim as sezaman dengan pemerintahan Harun al-Rasyid. Harun berkuasa pada tahun 170 HQ. Dia terkenal karena kedengkian dan permusuhan dengan Ahlulbait as dan Alawi atau keturunan Imam Ali as. Imam Kazhim as mengalami banyak kesulitan selama periode hidupnya ini. Imam Musa bin Jakfar as ada di hati rakyat dan memerintah hati mereka. Kekhususan ini tidak dapat disangkal dan diterima oleh semua orang, bahkan Harun al-Rasyid.

Ibn Hajar al-Haitsami menulis tentang kekhususan ini, "Suatu hari Imam Kazhim as sedang duduk di samping Ka'bah. Ketika mata Harun tertuju pada Imam, dia berkata, 'Kau adalah orang yang dibaiat masyarakat secara sembunyi-sembunyi?' Imam berkata, 'Aku adalah pemimpin hati dan engkau adalah pemimpin badan." Imam Kazhim as, dengan pernyataan ini ingin memahamkan kepada Harus bahwa dimensi kekuasaannya hanya badan masyarakat. Pemerintahanmu hanya pada lahiriah, materi dan dengan kekuatan dan tombak, tetapi wilayah kekuasaan saya adalah hati rakyat. Hati orang-orang bersamaku, tetapi tubuh mereka adalah sandera bagimu. Karena itu, alih-alih menyerah pada fakta ini, Harun justru menjadi lebih agresif dalam keputusannya untuk memperketat imam dan menyiksa dan melenyapkannya.

Harun al-Rasyid masih berada di awal perjalanan kekuasaannya, ketika dia mengunci Imam ke ruang bawah tanah. Kadang-kadang dia dipenjara di Basrah dan sekali di Baghdad. Tahun-tahun yang keras ini berbeda dari tahun-tahun lainnya. Karena Harun selalu berusaha untuk mempermalukan Imam dan mengurangi martabatnya. Namun, dalam situasi itu, Imam Kazhim as menggunakan semua kekuatannya untuk mencapai tujuan ilahi dan melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan ke pundaknya. Beliau tahu kebijakan Harun dengan baik dan tahu bahwa keputusan final Harun adalah untuk melenyapkannya.

Dalam sudut pandang Imam Kazhim as, seluruh tanah adalah masjid, tempat peribadatan dan tempat-tempat pujian dan pengudusan Allah, sekalipun lingkaran pengawasannya semakin diperketat dan mereka semakin keras memperlakukannya, beliau merasa semakin dekat dengan Allah dan meminta bantuan pada shalat dan kesabaran. Imam menjadikan penjara sebagai tempat penyembahan kepada Sang Pencipta Yang Maha Esa dan menjadikan kesendirian penjara sebagai rumah yang akrab dengan Allah.

Imam Kazhim as berpuasa selama di siang hari, sementara di malam hari beliau melakukan shalat dan munajat. Menurut salah seorang penjaga penjara, Imam Kazhim as memuji Allah dan bersyukur telah memberinya tempat, dimana ia dapat beribadah dengan tenang. Benar! Imam Kazhim as hidup di masa ketika penangkapan dan penyiksaan terhadap para pendukung Ahlulbait as adalah kebijakan umum para khalifah. Imam yang tertindas, demi menyampaikan kebenaran dan pengungkapan kebobrokan para Khalifah Bani Abbasiah harus menghabiskan bertahun-tahun hidupnya yang mengagumkan di penjara yang menakutkan. Dan akhirnya beliau gugur syahid di penjara Harun al-Rasyid.

Selama Imam Kazhim as berada bersama masyarakat, seperti nakhoda kapal, membimbing umatnya menuju pantai. Karena Imam Kazhim as seperti para leluhur sucinya merasa bertanggung jawab atas tindakan dan perilaku kaum Muslim, dan setiap kali melihat kelemahan dan kekurangan, beliau selaku Imam umat Islam bangkit dan mulai mendidik umat. Dalam sejarah disebutkan bahwa beliau sangat berbudi luhur, jujur, berani, dan murah hati.

Infak yang dilakukan beliau memberi berkah dalam kehidupan masyarakat, sehingga mereka mengatakan, "Mengejutkan ketika mendapatkan kantong uang berisi dirham dari Imam Kazhim as, tapi ia masihi mengadukan kemiskinannya" Ibnu Syahrasub, ahli sejarah Islam dalam mendeskripsikan Imam Kazhim as menulis, "Dia adalah orang yang paling bijaksana pada masanya, yang paling mengetahui akan Kitab Allah, dan memiliki suara yang sangat indah dalam bacaan al-Quran. Dia lebih unggul daripada orang lain dalam agama dan sangat fasih ketika berbicara."

Dalam ajaran agama banyak direkomendasikan agar manusia banyak mengingat mati, saat ruh berpisah dari badan dan hari penghitungan amal. Rasulullah Saw dan para Imam as senantiasa mengingat mati. Imam Kazhim as seperti para Maksumin as yang lain selalu mengingat mati. Satu dari doa yang biasa dibacakan dalam shalat membicarakan tentang masalah ingat mati. Beliau biasa membaca doa ini dalam sujudnya yang panjang.

"Ya Allah! Saya memohon kepada-Mu agar kematianku dipermudah dan ampuni dosa-dosaku di Hari Kiamat."

Cara pandang yang menibulkan takwa kepada Allah membuat Imam Kazhim as selalu menangis dalam melaksanakan shalat-shalatnya, sehingga air matanya membahasi jenggotnya dan berdoa, "Ya Allah! Dosaku sedemikian besarnya, maka ampunan dari-Mu adalah kebaikan."

Read 79 times

Add comment


Security code
Refresh