Imam Sajjad, Manifestasi Keindahan Munajat Ilahi

Rate this item
(0 votes)
Imam Sajjad, Manifestasi Keindahan Munajat Ilahi

Hari masih gelap dan matahari belum menunjukkan sinarnya pada 5 Sya'ban tahun itu, bulan yang penuh kebaikan dan diberkahi, namun para malaikat langit sudah turun dan menyelimuti kota Madinah dengan sayap-sayapnya.

Shaharbanu mendekap seorang anak dalam pelukannya. Seorang anak yang lahir dari keturunan suci Rasulullah Saw yang kelak akan menjadi pewaris risalah agung yaitu Imamah dan Wilayah.

 

Tak syak ia adalah putra Hussein bin Ali bin Abi Thalib, dan hari ini menjadi hari penuh berkah, karena Hujatullah, Imam Ali bin Hussein bin Abi Thalib terlahir ke dunia. Kami mengucapkan selamat atas kelahiran cucu Rasulullah Saw ini kepada anda sekalian.

 

Memperingati hari lahir Imam Sajjad as, kami akan mengulas singkat kehidupan seseorang yang menjadi simbol kesucian dan kebenaran, sehingga diharapkan,  layaknya sepoi angin musim semi, dapat menyejukan jiwa-jiwa kita dan menghubungkan kita dengan dunia yang indah.

 

Imam Sajjad dilahirkan pada tanggal 5 Sya'ban tahun 38 Hijriah di kota Madinah. Ia dikenal sebagai orang yang menghias wujud dirinya dengan keutamaan-keutamaan paling luhur di bawah perhatian kepada Ilahi dan kasih sayang ayah beliau Imam Hussein.

 

Peristiwa Karbala terjadi saat Imam Sajjad berusia 23 tahun dan dikarenakan sakit parah, beliau tidak mampu terjun di medan tempur. Sebenarnya ada rahasia Ilahi di balik sakitnya Imam Sajjad, Allah Swt menghendaki beliau tetap hidup untuk meneruskan panji hidayah umat Islam pasca kesyahidan ayah beliau tercinta, Imam Hussein as.

 

Di masa hidup Imam Sajjad, terutama di masa kepemimpinannya, secara umum kondisi pemerintahan Islam dilanda krisis. Krisis ini bukan hanya mengancam masa depan umat Islam, bahkan mungkin saja berujung dengan kebinasaan.


Pada situasi seperti ini sejumlah penguasa saling bersaing dan tidak ada satupun dari mereka yang mampu memerintah lebih dari tiga atau empat tahun. Sebagai contoh, Yazid bin Muawiyah tiga tahun berkuasa, Muawiyah bin Yazid hanya enam bulan atau kurang, dan Marwan memerintah lebih lama beberapa bulan dari pendahulunya.

 

Di sisi lain, ketidakpedulian terhadap pendidikan agama, berfoya-foya dan tenggelam dalam kenikmatan dunia serta pudarnya hubungan dengan Tuhan dan spiritualitas, semuanya menyebabkan kerusakan moral yang menyebar luas di tengah masyarakat Muslim.

 

Sama seperti para penguasa, masyarakat Muslim hanya menampilkan agama secara lahir dan kehilangan substansi asli keimanannya. Penyimpangan hakikat dan hukum Islam marak terjadi di mana-mana.

 

Para penguasa dinasti Umawi dengan membayar para periwayat hadis palsu, selain berusaha menyimpangkan Islam juga menjauhkan Muslim dari hakikat agama ini.  

 

Dalam kondisi seperti inilah Imam Sajjad memegang kepemimpinan umat sehingga Islam terselamatkan dari kebinasaan yang pasti.

 

Imam Sajjad selama 35 tahun masa keimamahannya, selain berjuang melawan propaganda negatif para penguasa Umawi dan menyingkirkan keraguan dari benak masyarakat, juga menjelaskan serta menyebarluaskan pemikiran Islam dan mengkokohkan pondasinya.

 

Imam Sajjad selalu menekankan pentingnya perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan, dan lewat cara-cara cerdas, beliau selalu mengingatkan kebangkitan Imam Hussein di benak umat, sehingga peristiwa heroik itu selamanya menjadi inspirasi bagi setiap bangsa dan generasi mendatang dalam melawan penindasan dan ketidakadilan.

 

Saat Islam muncul, perbudakan merupakan fenomena umum di seluruh dunia, dan karena tidak mungkin untuk mencabut sekaligus fenomena buruk itu, maka Islam membuka berbagai macam jalan untuk mencabut perbudakan secara bertahap.

 

Artinya, dari satu sisi Islam mempersempit kemungkinan dilakukannya praktik perbudakan, dan di sisi lain menetapkan pembebasan budak sebagai syarat dihapusnya sejumlah banyak dosa, kesalahan dan gugurnya kewajiban, sehingga peluang pembebasan budak secara total dapat dibuka.

 

Di samping itu Nabi Muhammad Saw menganjurkan umat Islam untuk menganggap budak, sebelum dibebaskan, layaknya anggota keluarga sendiri dan diperlakukan secara manusiawi.

 

Imam Sajjad menganggap seluruh budaknya sebelum dibebaskan, sebagai anak-anaknya sendiri demi menghidupkan sunnah Nabi Muhammad Saw, dan memanggil mereka dengan panggilan Wahai Anakku atau putraku.

 

Imam Sajjad ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa bagi dirinya setiap manusia itu setara.

 

Imam Sajjad tidak pernah sekalipun menghukum budaknya, tapi beliau menuliskan setiap kesalahan yang dilakukan budak-budaknya dan di akhir bulan suci Ramadhan beliau mengumpulkan mereka di satu tempat dan membacakan satu persatu kesalahannya.

 

Kemudian Imam Sajjad meminta budak-budaknya untuk memohon kepada Allah Swt pengampunan bagi beliau sebagaimana beliau memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.


Di akhir, selain membebaskan seluruh budaknya, Imam Sajjad membekali masing-masing dari mereka dengan keterampilan yang diperlukan untuk hidup.

 

Dengan mempertahankan para budak di sisi beliau selama setahun, Imam Sajjad sebenarnya telah mengajarkan perilaku dan budaya Islam kepada mereka.

 

Kemudian setelah bebas, masing-masing dari mereka menjadi manusia terdidik dan menjadi teladan bagi yang lain. Nyatanya setelah bebas, mereka tidak pernah memutus ikatan maknawiahnya dengan Imam Sajjad dan mendidik banyak orang sesuai kemampuannya.

 

Imam Sajjad terus mengulang-ulang perilaku Islami setiap hari selama setahun. Sebagaimana dicatat sejarah, Imam Sajjad setiap tahun, bulan dan hari, membebaskan budak-budak atas kesalahan dan kekeliruan, sehingga jumlah laki-laki dan perempuan yang menjadi pengikut Ahlul Bait as semakin banyak. Sebagian dari budak yang dibebaskan itu kelak menjadi ahli hadis terkemuka dan pekerja keras.

 

Imam Sajjad menjelaskan banyak hakikat ilmu dan ajaran Islam seperti irfan, sosial, pendidikan dan masalah sensitif semacam politik, dalam bingkai doa yang sebagian besarnya diabadikan dalam kumpulan doa Sahifah Sajjadiyah.

 

Dalam seluruh penjelasan bernilainya, Imam Sajjad sangat menekankan perhatian kepada Allah Swt. Di salah satu doa pertama Sahifah Sajjadiyah, Imam Sajjad bermunajat, segala puji bagi Allah Swt, Dialah awal yang tanpa permulaan dan akhir yang tak berujung.

 

Dia yang tidak bisa dijangkau oleh pandangan dan pemikiran gagal menjelaskan. Ia menciptakan makhluk dengan kekuasaan-Nya dan atas kehendak-Nya Ia memberikan wujud kepada mereka.

 

Lalu Ia menuntun mereka ke jalan yang dikehendaki-Nya dan mengarahkan mereka ke jalan cinta-Nya. Segala puji bagi Allah Swt, Dia yang mengenalkan sendiri diri-Nya kepada kita dan mengajarkan cara memuji-Nya kepada kita, dan membuka pintu-pintu ilmu ketuhanan-Nya kepada kita, dan membimbing kita kepada keikhlasan dalam tauhid-Nya dan mencegah kita dari keraguan dan ketidakpercayaan. 

Read 134 times

Add comment


Security code
Refresh