Hikayat Kehidupan dan Kesyahidan Imam Askari

Rate this item
(0 votes)
Hikayat Kehidupan dan Kesyahidan Imam Askari

Para malaikat berduka atas syahidnya Imam Hasan al-Askari as yang terjadi pada 8 Rabiul Awwal tahun 260 Hijriyah. Imam yang suci dan keturunan Ahlul Bait ini gugur di tangan penguasa lalim, al-Mu’tamid Abbasi.

Perilaku dan ucapan Imam al-Askari as, semuanya mengandung pelajaran cinta, makrifat, akhlak, keutamaan, dan kemanusiaan. Munajat cinta yang ia panjatkan menembus alam malakut dan ibadahnya di malam hari menghidupkan ingatan tentang sosok Imam Ali as, mengingatkan orang pada munajat yang dilakukan oleh leluhurnya, Sayidah Fatimah az-Zahra as. Sujudnya yang panjang menghidupkan memori tentang Imam Sajjad, dan keterasingannya dalam penjara sama seperti yang dialami Imam Musa al-Kazim as.

Pemuda 28 tahun ini bukanlah manusia biasa, tetapi intisari dari semua kebaikan dan kebesaran jiwa. Kita mengucapkan belasungkawa atas kesyahidan imam besar ini dan menyampaikan salam kepadanya. “Salam atasmu wahai penunjuk jalan umat, salam atasmu wahai perantara nikmat, salam atasmu wahai mutiara ilmu, salam atasmu wahai bahtera yang sabar, dan salam atasmu wahai ayah dari Imam al-Muntazar (Imam Mahdi as).”

Imam Hasan Askari as adalah pemimpin kaum Muslim yang ke-11. Imam yang menghabiskan hidupnya yang singkat (28 tahun) di sebuah garnisun di kota Samarra, bersama dengan ayahnya Imam Ali al-Hadi as. Mereka berada di bawah pengawasan yang sangat ketat oleh penguasa lalim, para khalifah Dinasti Abbasiyah.

Setelah ayahnya gugur syahid, situasi mencekam ini terus berlangsung dan ia berulang kali dipenjara oleh para tiran saat itu. Padahal, keimanan, kemuliaan, kebesaran, keutamaan, kesempurnaan, dan kepribadian luhur Imam al-Askari as diakui oleh para penguasa Abbasiyah.

Salah satu menteri penting Dinasti Abbasiyah, Ubaidillah bin Khaqan berkata kepada putranya, Ahmad, “Aku tidak melihat atau mengenal pria di Samarra di antara pembesar Alawi seperti Hasan bin Ali (Imam al-Askari). Jika kekhalifahan Bani Abbasiyah berakhir, maka tidak ada seorang pun dari Bani Hasyim yang pantas menjadi khalifah kecuali Hasan al-Askari, karena ia memiliki keutamaan, ilmu, kesalehan, kesabaran, zuhud, ahli ibadah, berakhlak mulia, dan kebaikan-kebaikannya membuat ia berhak atas posisi khalifah, dan tidak ada yang seperti dia.”

Imam Hasan al-Askari as adalah sosok yang paling berbudi luhur dan paling saleh di masanya. Tidak ada yang seperti dia dalam masalah ibadah dan munajat kepada Allah Swt. Dia begitu khusyu’ dalam beribadah dan bermunajat sehingga memesona semua hati dan mengingatkan orang lain tentang Tuhan.

Imam al-Askari membimbing bahkan orang-orang yang sesat ke jalan yang lurus dan membuat mereka menjadi ahli ibadah dan ahli tahajud. Daya tarik dari makrifat yang dimilikinya telah menarik bahkan orang-orang yang paling jahat, dan karena aura kesalehannya, mereka berubah menjadi manusia terbaik.


 

Beberapa pejabat Dinasti Abbasiyah memerintahkan Saleh bin Wasif, kepala penjara untuk bersikap keras terhadap Imam al-Askari as. Mereka berkata kepada Wasif, "Tekan Abu Muhammad semampumu dan jangan biarkan ia menikmati kelonggaran!" Saleh bin Wasif menjawab, "Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah menempatkan dua orang terkejam dari bawahanku untuk mengawasinya, keduanya sekarang tidak hanya menganggap Abu Muhammad sebagai tahanan, tapi mereka juga mencapai kedudukan yang tinggi dalam ibadah, shalat, dan puasa."

Para pejabat tersebut kemudian memerintahkan Wasif untuk menghadirkan kedua algojonya itu. Mereka berkata kepada para algojo itu, "Celaka kalian! Apa yang telah membuat kalian lunak terhadap tahanan itu?" Mereka menjawab, "Apa yang harus kami katakan tentang seseorang yang hari-harinya dilewati dengan puasa dan seluruh malamnya dihabiskan dengan ibadah? Ia tidak melakukan pekerjaan lain kecuali beribadah dan bermunajat dengan Tuhannya. Setiap kali ia menatap kami, wibawa dan kebesarannya menguasai seluruh wujud kami."

Para penguasa Abbasiyah yang kejam, sangat takut terhadap aura kesalehan dan kepribadian luhur para imam maksum sehingga selalu menjauhkan mereka dari umatnya.

Imam Hasan al-Askari as, seperti para leluhurnya, adalah sosok yang dermawan dan dalam banyak kesempatan, ia memenuhi kebutuhan orang lain sebelum orang tersebut meminta kepadanya. Memperhatikan kaum papa dan memenuhi kebutuhan mereka adalah salah satu perilaku mulia Imam al-Askari.

Abu Yusuf, penyair Dinasti Abbasiah berkata, "Saya pernah mengalami kondisi yang sangat sulit. Saat itu saya baru mempunyai seorang anak. Kondisi sulit saat itu membuat saya menulis surat ke para pembesar Bani Abbas dan menyampaikan problemanya kepada mereka. Namun sangat disayangkan, mereka sama sekali tidak peduli. Di tengah rasa pesimis, saya teringat pada Imam Hasan al-Askari as. Kemudian, saya mendatangi rumah beliau. Saat itu, saya ragu; Apakah saya harus menyampaikan kesulitan ini kepada Imam al-Askari? Sebab, saya khawatir, imam tak akan membantu karena tahu bahwa saya pernah menjadi penyair Dinasti Abbasiyah. Kegelisahan terus mengitari benakku. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk mengetuk pintu rumahnya. Tidak lama setelah saya mengetuk, pintu rumah terbuka dan berdiri seorang sahabat imam membawa sekantong uang. Sahabat Imam itu berkata, "Ambillah uang 400 dirham ini! Imam as berpesan, “Gunakanlah uang ini untuk anakmu yang baru lahir. Dengan keberadaan anak itu, Allah Swt memberikan berkah dan kebaikan kepadamu." Menyaksikan peristiwa tersebut, saya benar-benar terkejut dan bersyukur kepada Allah.”

Selama enam tahun masa kepemimpinannya, Imam al-Askari as menghadapi situasi yang sulit dan penuh rintangan, sebab para penguasa Abbasiyah menerapkan pembatasan yang ketat dan mengawasi gerak-gerik imam. Meski demikian, Imam al-Askari as tetap memimpin serangkain kegiatan politik dan sosial secara diam-diam.

Para imam maksum dan masyarakat Syiah telah membangun jaringan komunikasi di berbagai kota selama bertahun-tahun, dan jaringan ini semakin meluas pada masa Imam al-Askari as. Ia menempatkan orang-orang kepercayaan di berbagai kota penting di Irak, Iran, dan daerah lain yang dihuni kaum Muslim. Masyarakat melalui perwakilan ini, menyampaikan surat, khumus, dan persoalannya kepada Imam Hasan al-Askari as dan kemudian memperoleh jawaban darinya.

Jaringan penghubung ini sangat tertutup dan hanya para pengikut setia imam yang mengetahui adanya jaringan ini. Sebagai contoh, Utsman bin Said, seorang sahabat penting imam selalu mendatangi beliau dengan menyamar sebagai penjual minyak. Imam Hasan al-Askari as menyimpan sebagian surat yang ditujukan kepada wakil-wakilnya di kedai minyak milik Utsman bin Said.


Dalam situasi apapun, para imam maksum as tidak pernah melalaikan tugas-tugas yang diembankan oleh Allah Swt kepadanya dan mereka mengambil langkah-langkah efektif untuk membimbing masyarakat ke arah keutamaan dan kebaikan, serta menghapus keraguan dari relung kaum Muslim.

Di tengah tekanan dan kondisi mencekam, Imam al-Askari as berhasil mendidik murid-muridnya, yang kemudian memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran Islam dan memberantas syubhat. Syeikh Thusi mencatat jumlah murid Imam al-Askari melebihi dari 100 orang, di mana antaranya adalah tokoh-tokoh besar seperti, Ahmad Asy'ari Qummi, Usman ibn Sa'id Amri, Ali ibn Ja'far, dan Muhammad ibn Hasan Saffar.

Pengaruh pemikiran dan spiritualitas Imam al-Askari as membuat para penguasa Abbasiyah ketakutan. Oleh karena itu mereka memutuskan untuk membunuhnya. Penguasa Dinasti Abbasiyah akhirnya menyusun sebuah skenario pembunuhan Imam al-Askari. Ia syahid setelah beberapa hari menahan rasa sakit akibat diracun oleh Mu’tamid Abbasi.

Namun, penguasa lalim tidak berhasil memadamkan cahaya hidayah Imam al-Askari as, karena ia meninggalkan seorang pewaris yang saleh, juru selamat bagi umat manusia, serta pembawa pesan keadilan dan perdamaian yaitu Imam Mahdi as.

Imam Hasan al-Askari berkata, “Segala puji bagi Allah Swt karena Dia tidak mengambilku dari dunia ini tanpa menunjukkan kepadaku seorang pengganti. Ia (anakku) yang paling dekat dengan Rasulullah dalam hal perawakan dan karakternya. Allah akan menjaganya ketika ia dalam kegaiban sampai kemudian Dia akan memunculkannya untuk memenuhi bumi dengan keadilan dan persamaan.” 

Read 120 times

Add comment


Security code
Refresh