Persahabatan dalam Perspektif Imam Jawad

Rate this item
(0 votes)
Persahabatan dalam Perspektif Imam Jawad

 

Ahlul Bait as di setiap zamannya merupakan sosok teladan masyarakat yang menyampaikan ajaran suci Rasulullah Saw dan membimbing masyarakat menuju kesempurnaan.

Malam ini, Kadzimain Irak, menjadi salah satu tempat yang paling ramai dikunjungi para peziarah. Alunan doa dan rintihan pilu terdengar dilantunkan para peziarah makam Imam Jawad. Suasana yang hampir sama terjadi di kompleks malam Imam Ridha dengan memperhatikan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19. Dari berbagai tempat, paara pencinta Imam Jawad melantunkan doa ziarah khusus untuk beliau. 

Imam Muhammad Jawad lahir pada bulan Rajab 195 H dan mereguk cawan syahadat pada hari terakhir bulan Dzulqaidah tahun 220 H. Beliau menjadi imam di usia delapan tahun melanjutkan ayahnya yang syahid.

Imam Jawad sebagaimana ayahnya Imam Ridha memainkan peran penting dalam menjaga dan menyebarkan nilai-nilai agama Islam di tengah masyarakat. Beliau menyebarkan ilmu al-Quran, akidah, fiqh, hadis, dan ilmu keislaman lainnya. 

Imam Jawad menyampaikan berbagai solusi dalam kehidupan sosial masyarakat, termasuk dalam interaksi hubungan sosial. Dalam sebuah hadits, beliau berkata, "Berinteraksi dan bergaul dengan orang-orang pandir dan durhaka akan menyebabkan kerusakan moral, sedangkan bergaul dengan orang-orang bijaksana dan berakal akan menyebabkan pertumbuhan dan kesempurnaan moralitas."

Agama Islam memiliki banyak petunjuk bagi kita  untuk berkomunikasi dengan orang lain, termasuk mengenai persahabatan dan karakteristik teman yang baik. Islam menganjurkan kita untuk berteman dengan orang-orang yang religius, yaitu orang-orang yang memiliki komitmen tinggi terhadap moralitas dan agamanya. Sebab, orang yang tidak memiliki komitmen terhadap kewajiban Allah, maka dia tidak tidak akan memiliki komitmen kepada temannya, dan orang yang tidak mematuhi perintah Allah tidak akan mematuhi kewajiban kepada temannya.

Memandang orang-orang religius yang baik mengingatkan kita kepada Allah sehingga kita lebih mengingat-Nya dalam interaksi sosial dengan mereka. Mereka senantiasa menjaga hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, dan  selalu memperhatikan hubungan sosial dengan sesama makhluk hidup. Peningkatan spiritualitas berkorelasi dengan peningkatan hubungan sosial dengan sesama makhluk.

Imam Jawad menganjurkan untuk bergaul dengan teman-teman yang baik, dengan mengatakan, "Bertemu dan bergauil dengan teman-teman dan saudara-saudara [ yang baik] akan menyucikan hati dan mencerahkannya, serta akan menyebabkan berkembangnya kecerdasan dan kebijaksanaan. Meskipun itu bisa dilakukan dalam waktu singkat,".

Ciri lain dari seorang teman yang baik adalah sikap bijaksana. Dalam pendidikan Islam, sahabat yang bijaksana sangat berharga sehingga dianggap sebagai sumber kebahagiaan dan kesuksesan manusia. Seseorang yang memiliki teman yang bijaksana akan menikmati berkah besar dalam hidupnya. Oleh karena itu, harus menghargai berkah yang berharga itu dan memanfaatkan keberadaan teman yang berharga tersebut dengan baik.

Teman yang bijak membawa vitalitas spiritual, keamanan dan kedamaian, karena berteman dengan orang bijak akan memberikan manfaat yang diperoleh dari kecerdasan dan kebijaksanannya. Seorang teman yang bijaksana adalah obat penyembuh berbagai masalah sosial Dia dapat melakukan pelayanan terbesar kepada temannya di saat-saat kritis dan berbahaya dalam hidup dan menyelamatkannya dari kejatuhan dan kesengsaraan dengan kecerdasannya. Oleh karena itu, Imam Syi'ah kesembilan, Imam Jawad mengatakan dalam hal ini. "Ada tiga sifat dalam diri setiap manusia yang menyebabkan ia tidak menyesali pekerjaan yang dilakukannya yaitu: tidak terburu-buru, berkonsultasi dengan teman yang bijak, dan bertawakal kepada Allah ketika ia memutuskan untuk melakukan sesuatu,".

Oleh karena itu, berkonsultasi dengan teman yang bijak akan mendapatkan manfaat dari pendapatnya yang bermanfaat dan akan efektif dalam mempererat persahabatan. Sebab dengan berkonsultasi seseorang akan memberikan kepribadian dan rasa hormat kepada teman-temannya, dan tentunya rasa hormat terhadap orang lain akan meningkatkan rasa cinta di antara mereka. 

Spirit kerja sama kolektif antarsesama manusia akan mendorong munculnya rasa cinta dan persahabatan. Jiwa manusia akan tumbuh subur dalam naungan persahabatan dan membuat manusia lebih merasakan manisnya kehidupan dan tidak merasa kesepian.

Selain itu, memanfaatkan bantuan dan bimbingan teman dalam hidup akan meningkatkan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah dan keberhasilan dalam mencapai tujuannya. Sebagaimana dikatakan dalam pepatah,"Seribu teman sedikit, dan satu musuh banyak." Sebab persahabatan merupakan kebutuhan spiritual manusia, sekaligus kebutuhan sosial yang menjadi faktor saling ketergantungan antarindividu dalam masyarakat.

Dengan demikian, seorang Muslim harus memperkuat hubungan sosialnya dengan orang lain dan mempererat hubungan dengan saudara-saudara seagamanya, karena mengasingkan diri dari orang-orang dan menjauhkan diri dari mereka memiliki konsekuensi yang tidak positif. Dalam hal ini, Imam Jawad mengatakan, "Tiga hal yang akan menarik kecintaan orang lain kepadamu, bersikap adil dalam berinteraksi, bersimpati dengan mereka dalam kesulitan maupun kemudahan, dan memiliki hati yang sehat."

Memilih teman yang baik membawa kebahagiaan di dunia dan  akhirat. Memilih teman yang baik memainkan peran paling mendasar dalam kesuksesan manusia di berbagai bidang kehidupan, dan mengabaikannya atau tidak memperhatikan masalah ini menyebabkan kesengsaraan dan kerugian. Teman yang baik akan membantu seseorang untuk mencapai cita-cita hidup yang sebenarnya, sedangkan teman yang buruk menjauhkan manusia dari kesuksesan dan membawa menuju kehancuran dan kerusakan.

Imam Mohammad Taqi Jawad menjelaskan ajaran ilahi dalam masalah persahabatan yang terinsipasi dari al Quran dan hadis Rasulullah SAW dengan mengatakan, "Jauhkan diri dari persahabatan dengan orang jahat, karena orang jahat itu seperti pedang telanjang yang memiliki penampilan yang indah dan efek yang menjijikkan." .

Dalam nasihatnya ini, Imam Jawad menunjukkan bahwa seorang Muslim harus menghindari bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang yang buruk dan rusak secara moral, karena bergaul dengan mereka seperti itu menabur benih-benih keburukan moral dalam tubuh manusia yang akan menyebabkan manusia menderita murka dan siksaan ilahi.

Akhir kata, kita memohon kepada Allah swt supaya memberikan  kekuatan untuk mengenali sahabat yang baik dan jalan yang benar, sehingga kita dapat mencapai kesempurnaan moral yang Allah tetapkan bagi kita bersama orang-orang yang saleh.

Read 73 times

Add comment


Security code
Refresh