Selasa, 18 Oktober 2016 21:57

Kematian Sang Penjagal Qana, Shimon Peres

Rate this item
(0 votes)
Kematian Sang Penjagal Qana, Shimon Peres

Kematian Shimon Peres, mantan presiden Israel, diumumkan pada 28 September, setelah koma dua pekan. Peres adalah pejabat tinggi kedua rezim Zionis setelah Ariel Sharon yang mati setelah mengalami koma terlebih dahulu. Peres, 93 tahun, berasal dari Polandia. Dia dilahirkan di kota Wiszniew, yang saat ini masuk dalam wilayah Belarusia. Namun 82 tahun lalu, dia bersama keluarganya berhijrak ke Palestina pada tahun 1934. Ketika eksistensi rezim penjajah Qods diumumkan, Peres berusia 25 tahun.

Menelusuri jejak Peres menunjukkan bahwa dia berperan langsung dalam pendirian dan perluasan rezim Zionis, pengusiran warga Palestina, penempatan imigran Yahudi di wilayah pendudukan, pembangunan permukiman Zionis, penandatanganan kesepakatan perdamaian Oslo pada tahun 1993, operasi pada 1996, serangan ke kamp pengungsi Palestina di Qana, selatan Lebanon, serta penyebab Intifada Pertama dan Kedua Palestina.

 

Pada tahun 1947, Peres bergabung dengan kelompok militan ekstrim Zionis Haganah, yang dipimpin David Ben Gurion. Peres sendiri mengidolakan Ben Gurion. Pada tahun-tahun berikutnya, Peres membentuk cikal-bakal militer Israel dan sangat berperan besar dalam pengusiran wara Palestina serta penempatan imigran Yahudi.

 

Shimon Peres bertanggungjawab membeli persenjataan untuk militan Haganah. Dan menyusul pengumuman eksistensi Israel pada Mei 1948, Ben Gurion menjadi perdana menteri pertama Israel dan menunjuk Peres sebagai panglima angkatan laut Israel. Pada tahun 1952, Peres ditunjuk sebagai wakil direktur utama kementerian perang dan antara tahun 1953 hingga 1959, dia menjabat sebagai direktur utama kementerian perang Israel.

 

Antara tahun 1959 hingga 1965, Peres ditunjuk sebagai wakil menteri perang Israel. Adapun pada tahun 1974, Peres diangkat menjadi menteri perang di kabinet Yitzhak Rabin dan bertahan di posisi tersebut selama tiga tahun. Kemudian Peres duduk di posisi yang sama selama satu tahun pada 1995.

 

Jabatan politik pertama Peres adalah keanggotaan di parlemen Zionis Knesset pada 1959. Peres pada 2007 dilantik menjadi presiden rezim Zionis Israel. Peres pernah menjabat banyak posisi penting di Israel sebelum terpilih menjadi presiden. Peres pernah menduduki kuris di lima kementerian kabinet Israel antara lain kementerian imigrasi (1969-1970), kementerian transportasi dan komunikasi (1970-1974), kementerian perang (1974-1977 dan 1995-1996), kementerian luar negeri (1984-1986, 1992-1995, dan 2001-2002), kementerian keuangan (1988-1990) dan menjadi menteri selama dua periode(1984-1986 dan 1995-1996) serta sekali menjabat sebagai perdana menteri. Pada tahun 2007 Peres diangkat sebagai presiden rezim Zionis dan menjabat posisi tersebut selama tujuh tahun.

 

Secara keseluruhan, Peres menjabat di berbagai kementerian selama 15 tahun, tiga tahun menjadi perdana menteri dan tujuh tahun menjadi presiden Zionis. Oleh karena itu, Peres memainkan peran cukup besar dalam pengembangan program nuklir Israel. Bahkan dia dikenal sebagai arsitek program nuklir Israel. Peres adalah orang Zionis pertama yang pernah menjabat sebagai presiden dan perdana menteri Israel.

 

Dalam catatan karir politiknya, Shimon Peres pernah menjadi anggota empat partai. Awalnya Peres menjadi anggota partai Mapai, namun pada 1965, memisahkan diri dari partai tersebut bersama Ben Gurion dan mendirikan partai Rafi. Dua tahun kemudian, yaitu 1967, Shimon Peres mempersiapkan penggabungan partai Mapai dan Rafi serta membentuk Partai Buruh. Peres sejak tahun 1977 hingga 1992 menjabat sebagai sekrataris jenderal partai tersebut. Sebelum pelaksanaan pemilu Knesset ke-17, Peres bergabung dengan partai Kadima. Partai Kadima dibentuk oleh orang-orang seperti Ariel Sharon, Ehud Olmert dan Tzipi Livni.

 

Peres terlibat secara langsung maupun tidak langsung kejahatan rezim Zionis Israel. Sebagai salah satu anggota senior kelompok teror bersenjata Zionis Haganah, Peres berandil besar dalam perubahan demografi di Palestina pendudukan, melalui pengusiran paksa warga Palestina dan penempatan imigran Yahudi. Peres mencatat rapor panjang dalam politik pembangunan permukiman ilegal Zionis di bumi Paletsina.

 

Puncak kekejaman Shimon Peres tercatat pada April 1996, ketika dia menjabat sebagai perdana menteri Israel dan menginstruksikan serangan ke Lebanon dengan tujuan mengakhiri perlawanan di negara itu. Dalam perang tersebut, atas instruksi Peres, militer Israel menyerang kamp pengungsi Palestina Qana di selatan Lebanon. Akibatnya lebih dari 250 orang tewas dan terluka. Pasca insiden tersebut, Peres dikenal dengan julukan, "Si Penjagal Qana".

 

Ketika Peres menjabat sebagai presiden Israel, dia menggelar dua perang yaitu ke Gaza pada tahun 2008 dan ke Lebanon pada 2012. Ribuan nyawa menjadi korban dalam insiden tersebut. Serangan ke kapal Mavi Marmara pada tahun 2010 juga terjadi atas instruksi Peres.

 

Peres juga berperan tidak langsung dalam berbagai kejahatan Israel lainnya. Pada tahun 1982, Peres adalah pihak yang mendukung penuh serangan ke Lebanon yang merenggut nyawa 20 ribu orang. Pada tahun 1987 dan 2000, Peres juga mendukung penumpasan sadis terhadap gerakan Intifada Pertama dan Kedua. Pada gerakan Intifada Pertama sekitar 3.000 warga Palestina gugur syahid. Adapun pada gerakan Intifada Kedua, lebih dari 3.000 warga Palestina gugur syahid dan ribuan lainnya terluka. Peres juga merupakan pendukung utama blokade terhadap Jalur Gaza yang dimulai sejak 2006.

 

Meski dengan catatan tindak kejahatan sedemikian panjang, namun sejumlah pejabat, analisa dan media massa yang menyebutnya sebagai "Tokoh Perdamaian". Sebabnya adalah peran besar Peres dalam konferensi perdamaian Oslo pada 1993. Konferensi perdamaian yang bak pengakuan de facto rezim Zionis Israel oleh negara-negara Arab itu, pada hakikatnya tidak memberikan pengaruh untuk mereduksi kejahatan Israel, namun berdampak besar pada hubungan diplomatik resmi maupun tidak resmi antara Israel dan negara-negara Arab.

 

Konferensi Oslo sendiri digelar bukan dengan tujuan meningkatkan keamanan di Timur Tengah, melainkan menjamin kepentingan Israel. Karena sebelum konferensi tersebut, negara-negara Arab dan Israel juga tidak berperang selama 20 tahun. Pada saat yang sama, Mesir sebagai pemimpin perang dengan Israel, pada tahun 1979 telah menandatangani perjanjian Camp David dengan Israel. Pasca konferensi Oslo, Israel juga tetap menyerang Jalur Gaza dan Lebanon Selatan. Akan tetapi, rezim-rezim Arab yang dahulu menggunakan isu perang dengan rezim Zionis untuk mendapatkan legitimasi di dalam negeri, ternyata bungkam di hadapan kejahatan Israel itu.

 

Konferensi Oslo digelar atas upaya tiga orang yaitu Shimor Peres sebagai menlu Zionis, Yitzhak Rabin sebagai PM Zionis, dan Yasser Arafat, ketua Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) kala itu. Ketiganya kemudian mendapat Nobel Perdamaian. Rabin meninggal 1995 dan Arafat menyusul sembilan tahun kemudian pada tahun 2004. Adapun Peres meninggal 12 tahun setelah Arafat. Dengan demikian tidak ada satu pun yang tersisa dari para arsitek kesepakatan damai Oslo.

 

Yang menarik terkait kematian Peres adalah reaksi sejumlah tokoh dan pemimpin Arab, khususnya Ketua Otorita Ramallah, Mahmoud Abbas dan Khalid bin Ahmad Al-Khalifa, Menlu Bahrain dalam hal ini.

 

Khaled bin Ahmad Al-Khalifa, dalam sebuah pesan di medsos menyatakan belasungkawa atas kematian Shimon Peres, "Istirahat dengan tenang Shimon Peres, lelaki perang dan perdamaian yang pencapaiannya untuk kawasan ini masih sangat jauh."

 

Namun yang lebih parah lagi adalah reaksi dan langkah dari pemimpin Palestina, Mahmoud Abbas. Dia bukan hanya menilai Peres sebagai bapak spiritual bagi Israel, melainkan juga bapak spiritual bangsa Palestina. Pada hari pemakaman Peres, media massa internasional mempublikasikan foto-foto kesedihan Abbas pada acara pemakaman sang Penjagal Qana.

 

Seorang anggota Knesset dari partai Likud mengatakan, "Salah seorang pemimpin negara-negara Teluk Persia mendengar kematian Peres, betapa dia menit dia menangis tersedu."

 

Penyesalan sejumlah pejabat Arab atas kematian mantan Presiden rezim Zionis Israel menuai kritikan dari para tokoh Palestina. Beberapa tokoh Palestina mengatakan, penyesalan sejumlah pejabat Arab atas kematian Shimon Peres dan kehadiran mereka di prosesi penguburan orang yang tangannya telah berlumuran darah ribuan warga Palestina ini tidak akan pernah bisa menghapus kasus kelam Peres dalam pembantaian rakyat Palestina.

 

Daud Shahab, salah satu pejabat Gerakan Jihad Islam Palestina mengatakan, Peres sebagai simbol terorisme Zionis adalah pelaku utama pengusiran ribuan warga Palestina yang tak berdosa dari kota dan tanah air mereka.

 

Sami Abu Zuhri, juru bicara Gerakan Muqawama Islam Palestina (Hamas) menilai kematian Peres –orang terakhir dari pendiri rezim palsu Zionis– sebagai akhir sebuah tahap dari sejarah rezim perampas Israel dan dimulainya tahap baru dari sejarah ini.

Read 39 times

Add comment


Security code
Refresh