Dosen Unpad: Bela Palestina, Isu Kemanusiaan dan Amanat UUD 1945 !

Rate this item
(0 votes)
Dosen Unpad: Bela Palestina, Isu Kemanusiaan dan Amanat UUD 1945 !

 

Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia sejak merdeka hingga kini senantiasa mendukung perjuangan bangsa Palestina. Apalagi saat ini posisinya sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB bisa lebih kuat memberikan dukungannya terhadap Palestina di kancah internasional.

Masalah ini dicermati pengamat Timur Tengah, Dina Sulaeman yang menilai pemerintah Indonesia telah berperan besar dalam membela Palestina, terutama dengan posisinya sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.

"Yang paling penting dilakukan oleh Indonesia saat ini adalah menyuarakan kembali isu Palestina di PBB. Karena, selama beberapa tahun terakhir, terutama tujuh atau delapan tahun terakhir, sejak maraknya aksi-aksi terorisme dan munculnya ISIS, dunia Islam dan dunia internasional secara umum lebih perduli pada isu-isu tersebut, isu terorisme atas nama agama. Jadi Palestina cenderung terpinggirkan. (Contohnya) kita melihat aksi bombardir beberapa kali Israel terhadap Gaza tidak banyak mendapatkan perhatian dari masyarakat internasional," ujar Direktur Indonesia Center for Middle East Studies (ICMES) dalam wawancara dengan jurnalis IRIB Indonesia.

Posisi Indonesia di PBB juga diharapkan bisa terus mendorong publik internasional melakukan tekanan terhadap Israel dan pendukungnya, terutama AS, supaya menghentikan kejahatan terhadap Palestina.

Menurut Dina, Indonesia saat ini sudah melakukan berbagai langkah konkret untuk membantu Palestina antara lain memberikan berbagai bantuan yang memang dibutuhkan di Gaza, terutama infrastruktur, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia, selain dukungan finansial yang terus berlanjut hingga kini yang dilakukan baik pemerintah maupun masyarakat Indonesia.

Peneliti senior sebuah lembaga riset yang berbasis di Bandung ini menyerukan dukungan luas masyarakat dunia terhadap perjuangan Palestina.

"Hampir setiap hari terjadi pembunuhan, perampasan tanah atau penangkapan, termasuk terhadap anak-anak Palestina. Tapi relatif sedikit sekali yang diangkat oleh media, dan yang diangkatpun responnya tidak banyak," tegas Dina.  

Ketika ditanya mengenai peran AS dalam masalah Palestina, terutama dengan prakarsa "Kesepakatan abad", penulis buku Prahara Suriah ini menilai Washington tidak bisa dijadikan sebagai mediator adil yang bisa memberikan usulan mengenai konflik di Palestina, karena AS sendiri bagian dari masalah.

Posisi AS, jelas Dina, sejak awal adalah membela kepentingan Israel dan AS jelas-jelas membela kepentingan Israel, karena mereka itu doktrinnya adalah kepentingan Israel adalah kepentingan AS juga.

"Masalah ini ditegaskan oleh Wakil Presiden AS yang menyatakan bahwa kepentingan Israel adalah kepentingan AS, perjuangan Israel adalah perjuangan AS, tujuan Israel adalah tujuan AS," ungkap penulis buku "Obama Revealed, Realitas di Balik Pencitraan".


Oleh karena itu, tutur Dina, apapun proposal yang disampaikan AS menjadi proposal sepihak yang tidak mengedepankan keadilan dan seluruhnya dibuat demi kepentingan Israel.    

Suara perjuangan Palestina, meskipun mengalami pasang surut tetap bergema ke seluruh penjuru dunia yang tidak bisa dilepaskan dari kiprah Imam Khomeini. Pada 7 Agustus 1979, Bapak Pendiri Republik Islam Iran ini mencanangkan Jumat terakhir bulan suci Ramadhan sebagai "Hari Quds Sedunia".

"Di hari al-Quds, orang-orang berdemonstrasi yang dilakukan di berbagai negara dunia, bukan hanya di negara-negara Islam tapi di negara-negara Barat sebagaimana seruan yang disampaikan Imam Khomeini dahulu," tegas Dina.

Direktur lembaga riset ICMES menilai inti dari demonstrasi adalah bersuara; menyuarakan pembelaan, menyuarakan solidaritas, juga menyuarakan kecaman terhadap penjajahan dan kepada pelaku kezaliman.

"Inilah yang memang penting sekali dilakukan hari ini dan ini sebuah gerakan yang sangat penting yang perlu terus dilakukan oleh seluruh umat manusia yang berhati nurani, apapun bangsa dan agamanya karena kejahatan yang dilakukan Israel terhadap Palestina adalah kejahatan kemanusiaan,"pungkasnya.

Dosen hubungan internasional Universitas Padjadjaran Bandung ini memandang perjuangan bangsa Palestina sebagai tempat berkaca bagi orang Indonesia tentang perjuangan menghadapi penjajahan, sekaligus bentuk empati dan solidaritas terhadap kezaliman yang menimpa mereka.

"Kita sebagai bangsa Indonesia juga sudah diberi amanat oleh UUD 1945 bahwa kita harus berperan aktif dalam mewujudkan perdamaian dunia dan menghapuskan penjajahan dari muka tinggi," papar ibu dua anak ini.

"Jadi kita sebagai bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab moral yang tinggi untuk membantu Palestina," pungkas penulis yang menekuni isu-isu Timur Tengah kepada IRIB Indonesia. 

Read 25 times

Add comment


Security code
Refresh