Rezim Zionis dan Babak Baru Ketegangan Keamanan dengan Perlawanan Regional

Rate this item
(0 votes)
Rezim Zionis dan Babak Baru Ketegangan Keamanan dengan Perlawanan Regional

 

Mencermati tindakan Israel baru-baru ini di luar Wilayah Pendudukan menunjukkan bahwa rezim ini, dengan perhitungan pada tiga tingkat; internal, regional dan internasional, telah beralih ke ketegangan keamanan baru dan ditargetkan dengan Poros Muqawama regional.

Menteri Perang Israel Benny Gantz menyatakan bahwa kami siap berperang dengan Iran. Jet-jet tempur Zionis Israel juga menyerang daerah-daerah di Lebanon selatan setelah 15 tahun, mencoba untuk menguji Hizbullah Lebanon.

Pada saat yang sama, pendukung Barat Israel, kali ini dipimpin oleh Inggris, telah meluncurkan perang media melawan Iran, mengklaim bahwa Iran terlibat dalam serangan terhadap kapal Mercer Street. Tapi apa tujuan ketegangan keamanan baru Israel melawan Poros Perlawanan?

Tampaknya tujuan terpenting dari langkah-langkah ini adalah untuk mempengaruhi pemerintahan baru Iran. Pengalihan kekuasaan di Iran secara resmi berlangsung pada hari Kamis (05/08/2021), dan pemerintah baru mulai menjabat. Presiden baru Iran, Sayid Ebrahim Raisi, telah berulang kali menekankan perlunya memperkuat Perlawanan terhadap pendudukan Israel dan kejahatan terhadap sekutu Iran di kawasan.

Baca juga: Partai-Partai Nasional Lebanon Dukung Hizbullah Hadapi Agresi Rezim Zionis
Rezim Israel berusaha untuk mencegah pemerintah baru Iran berkonsentrasi pada memajukan kebijakan domestiknya serta memperkuat Perlawanan regional melalui operasi psikologis seperti mempersiapkan perang dengan Iran atau tekanan media yang selaras dengan Eropa dan Amerika Serikat. Kenyataannya, Israel dan sekutunya berusaha membuat pemerintah Iran baru di bawah tekanan.

Tujuan penting lainnya dari Zionis Israel adalah untuk mempengaruhi negosiasi baru antara Iran dan kelompok 4 + 1 untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir, yang dihentikan sekitar sebulan lalu karena ekspektasi Barat akan transfer kekuasaan di Iran.

Sekarang Israel mencoba untuk menjaga permainan nuklir di tanah Iran dengan ketegangan keamanan dan Barat dengan kebohongan media. Ada ketegangan keamanan baru terhadap Iran dan Perlawanan juga berada di dalamnya.

Mencermati tindakan Israel baru-baru ini di luar Wilayah Pendudukan menunjukkan bahwa rezim ini, dengan perhitungan pada tiga tingkat; internal, regional dan internasional, telah beralih ke ketegangan keamanan baru dan ditargetkan dengan Poros Muqawama regional.
Tujuan Zionis Israel lainnya dalam permainan yang belum selesai ini adalah kekuasaan di Wilayah Pendudukan. Netanyahu mengundurkan diri setelah 12 tahun dan 74 hari berkuasa di Israel, tetapi orang yang mengerti politik di dalam dan di luarWwilayah Pendudukan sangat menyadari bahwa kabinet yang berputar pada Bennett dan Lapid tidak hanya tidak koheren tetapi masih bergerak dalam bayang-bayang ketakutan Netanyahu.

Putaran baru ketegangan dengan Perlawanan masih menjadi konsumsi domestik di Wilayah Pendudukan dan menunjukkan bahwa kabinet yang berotasi ini dapat memberikan keamanan yang lebih baik daripada kabinet Netanyahu.

Isu lainnya adalah bahwa Zionis Israel masih terusik dan marah dengan konsekuensi 12 hari Perang Saif al-Quds, dan terutama terkait terbuktinya terjadi perubahan perimbangan kekuatan dalam menghadapi Perlawanan. Ketegangan baru juga terkait dengan kemarahan ini, tetapi ketegangan ini membuat kelemahan Israel lebih terlihat.

Di satu sisi, Israel membom daerah-daerah terpencil di Lebanon selatan, dan di sisi lain, aksi ini juga mendapat reaksi dari perlawanan Lebanon. Hizbullah Lebanon Jumat (6/8) kemarin, menargetkan posisi rezim pendudukan Israel di ladang Shebaa dengan puluhan roket 122 mm.

Sekaitan dengan balasan atas ketegangan perbatasan di Lebanon Selatan dan daerah pendudukan, Sheikh Naim Qassem, Wakil Sekjen Hizbullah Lebanon mengatakan, "Hizbullah berkomitmen pada prinsip ini yaitu setiap agresi terhadap Lebanon harus dibalas dengan tepat."

"Apa yang dilakukan Hizbullah adalah membalas agresi musuh penjajah, di mana semua dunia menyaksikannya dan kami tidak bisa diam menghadapinya," tegas Wakil Sekjen Hizbullah.

Kesimpulannya,  Zionis Israel menyadari ketidakmampuannya untuk memasuki perang baru. Dengan perhitungan ini, surat kabar al-Akhbar menulis dalam sebuah artikel, "Tel Aviv mengkhawatirkan serangkaian reaksi dari kelompok Perlawanan di kawasan. Namun kawasan dengan langkah-langkah ini lebih cepat bergerak menuju ketegangan keamanan, di mana mengidentifikasi kemungkinan dan hasilnya sulit bagi Israel, dan Washington tidak ingin itu terjadi."

Read 67 times

Add comment


Security code
Refresh