Mengapa AS Kosongkan Tiga Pangkalan Militernya di Suriah ?

Rate this item
(0 votes)
Mengapa AS Kosongkan Tiga Pangkalan Militernya di Suriah ?

 

Amerika Serikat dilaporkan mengosongkan tiga pangkalan militernya di Provinsi Deir Ezzor dan Hasakah di Suriah.

Setelah aksi kejahatan Amerika pada 3 Januari 2020 saat negara ini meneror Syahid Qasem Soleimani, komandan pasukan Quds IRGC dan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil komandan al-Hashd al-Shaabi Irak di dekat Bandara Udara Baghdad, isu penarikan pasukan Amerika dari kawasan menjadi salah satu tuntutan publik. Tuntutan ini khususnya di Irak dan Suriah semakin meningkat.

Meski demikian, percikan penarikan militer AS dipantik dari Afghanistan dan akhirnya pada 31 Agustus, seluruh militer AS ditarik dari Afghanistan. Meski pun Presiden AS, Joe Biden mengumumkan bahwa biaya besar sebagai alasan penarikan pasukannya dari Afghanistan, tapi kegagalan kehadiran militer AS di Afghanistan dan gagalnya tujuan yang dicanangkan termasuk perang kontra terorisme, meningkatkan isu HAM dan membentuk pemerintahan, sebagai faktor utama keluarnya militer negara ini dari Kabul. Penarikan pasukan ini membuat Amerika semakin tidak populer, karena setelah ledakan bom di dekat Bandara Udara Kabul yang menewaskan 13 tentara AS, negara ini bahkan tidak berencana membalas kematian tentaranya dan menarik pasukan terakhirnya dari Kabul.

AS hingga akhir tahun ini, juga akan menarik pasukannya dari Irak dan berdasarkan kesepakatan Biden dan al-Kadhimi, hanya tim pensehat untuk pelatihan militer Irak yang akan tetap di negara ini. Pengosongan tiga pangkalan militer di Suriah juga mengindikasikan bahwa pemerintah Amerika menerima kekalahannya di Damaskus dan berencana menarik pasukannya dari negara ini atau paling tidak mengurangi jumlah pangkalannya di Suriah.

Masalah Suriah berbeda dengan Afghanistan dan Irak. Amerika sejak dua dekade lalu telah bercokol di Afghanistan dan Irak, namun kehadirannya di Suriah kurang dari satu dekade. Meski demikian, aksi demo anti-Amerika dan tuntutan penarikan militer Amerika dari Suriah lebih kuat dari kedua negara ini. Amerika di Suriah ingin membentuk pemerintahan yang sesuai dengan selera Washington dan berusaha menciptakan sistem pemerintahan federal di negara ini dengan mendukung milisi Kurdi di utara dan timur laut Suriah. Tak hanya itu, Amerika selalu mengambil langkah untuk melemahkan pemerintah Damaskus. Selain itu, melalui dukungan Amerika, milisi Kurdi menyelendupkan sebagian sumber energi Suriah dan pemerintah Damaskus tidak memiliki akses ke sumber ini. Teladan perilaku ini menjadi faktor penting bagi munculnya sentimen anti-Amerika di Suriah.

Poin penting adalah Amerika memiliki 13 pangkalan militer di Suriah dan hanya mengosongkan tiga pangkalannya. Sampai kini belum dapat dikatakan bahwa Amerika berencana keluar secara total dari Suriah. Alasannya adalah berkaitan dengan keamanan Israel yang bertetangga dengan Suriah dan Labanon serta Amerika seperti biasanya komitmen menjamin keamanan rezim ilegal ini.

Amerika ketika mengosongkan tiga pangkalannya di Suriah, dua pangkalan terletak di timur laut dan satu di utara negara ini. Dengan kata lain, pangkalan yang dikosongkan adalah pangkalan yang ada indikasi kehadiran milisi Kurdi dan termasuk daerah yang didukung Amerika untuk membentuk sistem federal. Sepertinya AS kembali meninggalkan kelompok Kurdi.

Di sisi lain, langkah Amerika ini diambil ketika teroris Daesh (ISIS) selama beberapa bulan terakhir meningkatkan pergerakannya di wilayah utara Suriah dan di bulan lalu, di Provinsi Deir Ezzor saja sedikitnya telah melancarkan 18 operasi bersenjata dan serangan teror. Tampaknya pemerintah Amerika secara tersirat menerima kekalahannya melawan Daesh.

Terlepas bahwa Amerika secara penuh keluar dari Suriah atau dengan alasan biaya tinggi, berencana mengurangi pangakalan militernya di negara ini, tapi kredibilitas militer Amerika telah dipertanyakan dan ini telah diakui oleh para jenderal veteran Amerika baru-baru ini.

Sebanyak 90 veteran jenderal Amerika seraya merilis surat, kepada Presiden AS Joe Biden selain mengungkapkan bahwa bentuk pelarian seperti ini telah merusak kredibilitas AS dan sekutunya, menuntut pengunduran diri menteri pertahanan dan kepala staf gabungan militer negara ini. 

Read 47 times

Add comment


Security code
Refresh