Makna Gelar Al-Masih

Rate this item
(0 votes)
Makna Gelar Al-Masih

Selamat Bahagia Hari Natal - Hari Kelahiran Nabi Isa as- dan tahun baru kalendar Masihi

Al-Masih diserap dari masaha yang berarti: ia menyapu bersih kotoran dari barang itu dengan tangannya; ia mengurapinya (menggosoknya) dengan minyak; ia berjalan di muka bumi; Tuhan memberkatinya (Aqrab-ul-Mawarid). Jadi, Masih berarti: (1) orang yang diurapi; (2) orang yang banyak mengadakan perjalanan; (3) orang yang diberkati. Al-Masih adalah  bentuk kata Arab dari Mesiah yang sama dengan Masyiah dalam bahasa Ibrani, artinya orang yang diurapi [dalam upacara pembaptisan, Pent.] (Encuclopaedia Biblica; Encyclopaedia of  Religions & Ethics).


      Masih seperti disebut di atas berarti pula “yang diurapi” , karena kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  tidak sebagaimana lazimnya sehingga  mudah dipandang tidak sah, maka untuk melenyapkan tuduhan yang mungkin dilancarkan beliau disebut “telah diurapi” dengan urapan Allah Swt.   Sendiri, sama seperti para nabi Allah semuanya telah diurapi (disucikan).


   Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. diberi nama  Al-Masih  karena beliau banyak mengadakan perjalanan mencari 10 suku-suku (domba-domba) Israil yang hilang (tercerai-berai) di luar Palestina.  Tetapi  kalau  mengikuti penuturan Injil, tugas beliau hanya terbatas untuk masa 3 tahun saja, dan perjalanan beliau hanya ke beberapa kota Palestina atau Suriah saja, sebab ketika itu di Palestina hanya  ada 2 suku Bani  Israil, dengan demikian  gelar Masih itu sekali-kali tidak cocok bagi beliau.


    Penyelidikan sejarah akhir-akhir ini telah membuktikan, bahwa sesudah beliau pulih dari rasa terkejut dan luka-luka akibat penyaliban (QS.4:158-159), Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  menempuh perjalanan jauh ke negeri-negeri sebelah timur dan akhirnya sampai ke Kasymir untuk menyampaikan amanat Ilahi kepada suku-suku Bani Israil yang hilang dan tinggal di bagian-bagian negeri itu.


     Kepergian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari Palestina tersebut sangat wajar sekali, sebab (1) kalau beliau tetap berada di wilayah Palestina pasti akan ditangkap kembali dan dibunuh oleh para ulama Yahudi; (2) beliau harus menggenapi gelar sebagai Al-Masih (Mesiah/Mesias) yakni  melakukan pengembaraan mencari “10 domba (suku) Israil” yang hilang, yang harus berliau “gembalakan” (Yohanes 10:11-17).


    Dalam firman Allah Swt. berikut ini   Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pada akhir pengembaraan beliau yang lama dan panjang   telah diberi perlindungan oleh Allah Swt. di suatu dataran tinggi  pegunungan Himalaya  di wilayah Kasymir, firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ  اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ  اِلٰی رَبۡوَۃٍ  ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan Kami menjadikan  Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki   lembah-lembah hijau  dan  sumber-sumber mata air yang  mengalir.  (Al-Mu’minun [23]:51).


      Dengan demikian tidak benar bahwa setelah mengalami peristiwa penyaliban lalu Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. naik ke langit (ke Surga) meninggalkan ibunya dan para pengikutnya di dunia ini – termasuk kesepuluh “domba-domba” (suku-suku) Bani Israil  yang bercerai-berai di luar “kandang” (Palestina) – karena kisah  yang dibuat-buat mengenai kenaikan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut  bukan saja bertentangan dengan makna kata (gelar) Al-Masih (Mesiah/Messias), juga bertentangan dengan pengakuan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sendiri sebagai “gembala yang baik” yang akan mencari “domba-domba gembalaannya” yang tersesat  di permukaan bumi ini,  walau pun harus mengorbankan nyawa sekali pun (Injil Yohanes 10:11-16).

Read 249 times

Add comment


Security code
Refresh