Kitab Jami Al Tawarikh, Warisan Budaya UNESCO

Rate this item
(0 votes)
Kitab Jami Al Tawarikh, Warisan Budaya UNESCO

Dua naskah bergambar kitab Jami Al Tawarikh karya Rashid Al Din Fadlallah Hamadani yang tersimpan di Museum Istana Golestan tercatat sebagai warisan budaya dunia UNESCO.

Jami Al Tawarikh adalah jendela untuk menengok masa lalu, bukan saja bagi rakyat Iran, tapi juga bagi seluruh masyarakat dunia. Pasalnya, karya ini membuka horizon "Iran Budaya" yang menembus batas-batas politik dari Iran yang kita kenal sekarang.

Pertemuan komisi konsultatif internasional, Program Memori Dunia, UNESCO pada 24-27 Oktober 2017 di Paris menyetujui usulan sejumlah negara untuk mengkaji pencatatan peninggalan budaya di era baru dan memasukkan 78 nominasi baru  daftar warisan dunia.

Di antara benda cagar budaya yang masuk nominasi ini adalah kitab Jami Al Tawarikh yang diusulkan oleh Komite Nasional Warisan Dunia Iran. Dengan demikian, sampai sekarang ada 427 benda cagar budaya yang tercatat dalam daftar warisan dunia UNESCO, dan Iran menyumbang 10 karya.  

Jami Al Tawarikh karena mencatat peristiwa-peristiwa sejarah dan mengulas kajian sosial-politik, dianggap sebagai kitab yang memiliki keunikan tersendiri. Dua naskah tulisan tangan bernilai dari kitab ini sebelumnya dipromosikan untuk masuk daftar warisan dunia UNESCO.

Naskah pertama ditulis pada tahun 1004 HQ atau tahun 1595 dalam 305 halaman dan naskah kedua ditulis pada tahun 1074 HQ atau tahun 1665. Kedua naskah kitab ini disimpan di Museum Istana Golestan, Tehran dan dianggap memiliki nilai artisktik tinggi. 

Rashid Al Din Fadlallah Hamadani dilahirkan tahun 629 HS atau tahun 1250 di kota Hamedan dan meninggal pada tahun 696 HS atau 1317. Ia adalah seorang politikus, sejarawan dan dokter terkemuka Iran sekaligus penulis kitab Jami Al Tawarikh. Di masa ia menjabat menteri, banyak bangunan didirikan termasuk Rab-e Rashidi.

Kitab Jami Al Tawarikh
Rashid Al Din menulis Jami Al Tawarikh atas permintaan Ghazan Khan, namun karena Ghazan Khan meninggal, kitab itu akhirnya diserahkan kepada Mohammad Khudabanda Oljaitu. Atas perintah Oljaitu, kitab itu kemudian diberi nama "Mobarak Ghazani" untuk menghormati Ghazan Khan.

Bagian lain kitab ini mencakup penjelasan sejarah masa kekuasaan Oljaitu, sejarah bangsa-bangsa dunia, Suwar Al Aqalim dan Masalik Al Mamalik yang ditulis dalam dua jilid dan ditambahkan pada bagian pertama.

Ketiga jilid ini secara keseluruhan dikenal sebagai kitab Jami Al Tawarikh. Kitab Mubarak Ghazani mencatat sejarah kabilah-kabilah Turki, Mongol dan leluhur Jengis Khan, termasuk riwayat kehidupannya semenjak kanak-kanak hingga menjadi penguasa Mongol. Bagian kitab ini merupakan campuran legenda dan sejarah.

Begitu juga sejarah era kekuasaan anak keturunan Jengis Khan di Asia Tengah, gurun Qepchagh, Cina dan Ilkhanat Mongol di Iran dari Hulagu sampai Ghazan Khan. Hampir di seluruh isi kitabnya, penulis memberikan informasi yang padat tentang sejarah di masa ia hidup dan itu dianggap sebagai salah satu kekhususan buku ini.

Jilid kedua dan ketiga Jami Al Tawarikh mencakup pembahasan tentang sejarah Ilkhanat Oljaitu hingga masa sebelum ditulisnya kitab, sejarah para nabi mulai dari Nabi Adam as sampai Nabi Muhammad Saw, sejarah Iran hingga akhir era Sasani, sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw dan para khalifah.

Selain itu, sejarah keluarga penguasa Iran pasca Islam sampai era pengerahan pasukan Mongol dan sejarah sejumlah bangsa dunia termasuk bangsa Oghuz Turk, Cina, India dan Eropa. Jilid ketiga mencakup pembahasan Suwar Al Aqalim dan Masalik Al Mamalik.

Kitab Jami Al Tawarikh
Di antara pembahasan penting yang terdapat dalam jilid kedua kitab Jami Al Tawarikh adalah, sejarah bangsa Oghuz, sejarah Cina, sejarah India dan Buddha, sejarah bangsa Eropa, akhir kekuasaan Ismaili dan Nizari dalam pandangan sejarawan Islam. Pembahasan-pembahasan itu dinilai luar biasa dan terhindar dari fanatisme serta ditulis berdasarkan sumber-sumber terpercaya, riwayat dan keterangan kaum yang bersangkutan.

Rashid Al Din Hamadani menulis sejarah Cina dengan merujuk sumber-sumber asli Cina. Ia juga bekerjasama dengan sejumlah ilmuwan Cina dan berdiskusi dengan mereka. Bagian kitab Jami Al Tawarikh ini adalah karya sejarah Cina pertama yang independen dan komprehensif yang ditulis penulis Iran dan Islam. Dalam kitab ini, sejarah India dan kehidupan Sang Buddha ditulis dengan cukup terperinci.

Meski penulis adalah salah satu pegawai Kekaisaran Mongol dan terpaksa mencantumkan catatan untuk menghormatinya, namun ia juga melaporkan pembunuhan, perusakan dan perampokan yang dilakukan Mongol secara detail dan menunjukkan penyesalannya atas realitas tersebut.

Sejarawan Iran ini juga menyampaikan pendapatnya tentang pembunuhan para pegawai Iran seperti Khwaja Shamsedin Jouini dan Khwaja Bahaedin Jouini, bahkan beberapa penguasa Mongol sendiri seperti Amir Nowrouz.

Begitu juga mengungkap tentang persengkokolan, alasan dan prakondisi pembunuhan para pegawai tersebut. Selain itu ia juga menjelaskan masalah hidup masyarakat, mata pencaharian, kondisi keagamaan dan perilaku pemerintah terhadap para pegawainya.

Kitab Jami Al Tawarikh
 Rashid Al Din Hamadani dalam menulis karyanya menggunakan berbagai sumber di antaranya, dalam sejarah Islam ia menggunakan kitab Al Kamil, karya Ibnu Atsir, dalam sejarah penguasa Iran, ia bersandar pada kitab Tarikh Tabari dan Al Kamil, dan kitab Fars Nameh, Ibn Balkh dan Muruj Al Dzahab, karya Masoudi dan beberapa kitab tafsir dan kisah-kisah Al Quran.

Ia juga mengutip informasi dan riwayat lisan dari Ghazan Khan sendiri dan beberapa pejabat kerajaan, ilmuwan, sejarawan, para penguasa Uighur, Cina, bangsa Khitan, India, Qepchagh dan sejumlah kaum lain yang tinggal di lingkungan kerajaan. Misalnya dalam menulis sejarah Cina, Rashid Al Din Hamadani meminta bantuan dua ilmuwan Cina yang tinggal di Tabriz.

Gaya penulisan kitab Jami Al Tawarikh berbeda dengan Tarikh-e Jahangusha-ye Juwayni dan Tarikh-e Washaf, sangat mudah, dan tulisan-tulisan berbahasa Mongol diterjemahkan ke bahasa Farsi. Kitab ini di masa hidup penulisnya diterjemahkan ke bahasa Arab, Turki dan Mongol, akan tetapi hanya bagian terjemahan bahasa Arab yang masih tersisa sekarang.

Bagian-bagian kitab Jami Al Tawarikh hingg kini sudah diterjemahkan ke sejumlah bahasa seperti Turki Timur, Turki Usmani, Arab, Perancis, Inggris, Jerman dan Rusia. Bagian kitab ini diterjemahkan pertama kali pada tahun 1836 di Paris. Sayid Jalaludin Tehrani menerbitkan Jami Al Tawarikh pada tahun 1313 HS atau 1934 di Tehran.

Karya budaya Iran yang masuk dalam daftar warisan dunia UNESCO bukan naskah tertua kitab Jami Al Tawarikh, tapi kitab ini dapat dianggap sebagai kitab dengan desain dan ilustrasi bergambar tertua.

Masoud Nosrati, Direktur koleksi dunia Museum Istana Golestan Tehran menganggap kitab Jami Al Tawarikh sebagai salah satu kitab langka yang dihias dengan perlit emas bergambar pohon dan beraneka ragam hewan, dan setiap gambar di kitab ini menjelaskan tema khusus yang memuat penjelasan di atasnya.

Kitab Jami Al Tawarikh
Kitab Jami Al Tawarikh karya Rashid Al Din Hamadani adalah mahakarya abad pertengahan Iran. Di samping kejelian dan kebijaksanaannya dalam masalah politik, Rashid Al Din Hamadani juga adalah sejarawan ulung yang dikenal karena keakuratannya dalam mengumpulkan informasi berharga.

Dalam lukisan-lukisan yang memenuhi kitab Jami Al Tawarikh, banyak digunakan gaya lukisan Cina dan gaya Mesopotamia, terutama dalam lukisan-lukisan yang mengilustrasikan sejarah Cina dan Mongol. Namun nuansa khas budaya Iran masih begitu terasa dalam setiap lukisan.

Meski Iran di masa lalu sempat mengalami aksi perusakan dan penghancuran sebagian besar peninggalan budaya dan seninya di masa Mongol dan Ilkhanat, namun masih tersisa sejumlah karya indah lainnya sekelas kitab Jami Al Tawarikh yang menggambarkan masa Ilkhanat di Iran.

Rashid Al Din Hamadani dengan menggunakan kapasitas salah satu kekaisaran besar dunia, memanfaatkan seniman dan ilmuwan dari berbagai penjuru dunia dalam menulis kitab Jami Al Tawarikh.

Ditambahkannya lukisan-lukisan indah dan hidup dalam kitab ini, menciptakan sebuah seni menawan sehingga membuat Jami Al Tawarikh masih dikenang hingga sekarang.

Read 15 times

Add comment


Security code
Refresh