Perjalanan Spiritual Haji Ibrahimi (4)

Rate this item
(0 votes)
Perjalanan Spiritual Haji Ibrahimi (4)

Ibadah Haji tidak hanya ritual simbolis, tetapi lebih dari itu memiliki muatan isi yang luar biasa dan makna yang tinggi.

Berabad-abad yang lalu, Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, hanya berdua membawa beberapa keping batu hitam sederhana dari gunung di sekitar Mekah. Mereka membangun sebuah bangunan sederhana atas perintah Allah swt yang diberi nama Ka'bah. Hingga kini, Kabah menjadi simbol monoteisme dan jantung dunia. Bangunan ini menjadi titik arah  ibadah seperti shalat dan haji.

Allah swt dalam al-Quran surat Haj ayat 27-29 berfirman, "Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.  Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah),". 

Ibadah Haji tidak hanya ritual simbolis, tetapi lebih dari itu memiliki muatan isi yang luar biasa dan makna yang tinggi. Jadi dari tampilan luarnya sebagai bentuk kekuatan dunia Muslim terbesar dan termegah ini, lebih dari itu menunjukkan pengaruh spiritualitas yang menyatukan umat islam dari berbagai etnis, kubu dan bangsa di dunia.

Ritual haji menampakkan kesatuan bahasa, gerakan, dan ketulusan yang meneladani Nabi Ibrahim, Hajar, dan Ismail. Gerakan di sekitar haram dan masjid al-Haram, Safa dan Marwah, Arafah, Masy'ar dan Mina. Pria dan wanita, kaya dan miskin, putih dan hitam, dan siapa pun dari berbagai latar belakangan beribadah dengan khusuk. 

Para jamaah haji pertama mengenakan pakaian Ihram di tempat yang disebut "Meqat". Dua potong pakaian putih dan polos dimaksudkan untuk menghilangkan semua unsur kebencian dan kebanggaan diri, kesombongan dan melepaskan seluruh ikatan ketergantungan kepada selain Allah swt.

Ketika seorang peziarah mengenakan pakaian Ihram, ia harus hati-hati memperhatikan gerakan dan perilaku, serta pengendalian diri dari hawa nafsu. Sejumlah perbuatan dilarang seperti berburu binatang, berbohong,  pertengkaran dengan orang lain, atau hubungan suami istri.

Ketika Rasulullah Saw sedang dalam perjalanan miraj, terdengar suara memanggilnya, "Apakah Allah swt tidak menemukanmu sebagai seorang yatim piatu dan berlindung kepada-Nya ? Dan tidak menemukanmu kehilangan arah dan membimbingmu ? Mendengar suara ini, Nabi Muhammad Saw  berkata, "Allahuma labaik  ... inal hamda wal  nikmata Laka wal Mulk La syarika laka labaik" - Tuhanku aku akan menjawab panggilanmu ... Puji dan berkah dan kerajaan bagimu. Engkau tidak punya sekutu dan tara. Perkenankan doaku,"

Tawaf di sekitar Ka'bah adalah ritual pertama haji. Peziarah secara massal melakukan gerakan mengitari Kabah yang sebagai simbolisasi tauhid yang mengaskan bahwa Allah adalah pusat dan asal mula alam semesta seluruh isinya.

Selanjutnya, peziarah melakukan Sai atau berlari kecil dari Safa hingga Marwah sebanyak tujuh kali. Bagian dari ritual ibadah haji ini merupakan bentuk napak tilas perjuangan seorang wanita yang berserah diri kepada Allah swt ketika dirinya kehausan padang pasir yang kering dan panas untuk mencari air demi anaknya yang haus. Setelah berlari sebanyak tujuh kali, ia akhirnya menemukan air zam-zam yang merupakan anugerah Allah kepada siti Hajar putranya, Nabi Ismail. 

Al-Quran surat al-Baqarah ayat 158 merekam peristiwa penting ini, Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui."

Di pagi hari hari kesembilan Dzulhijah, para peziarah yang besar mengalir seperti sungai dan bergabung dengan lautan manusia di Arafah. Arafah adalah tempat pengetahuan, dan salah satu cabangnya adalah pengetahuan diri. oleh karena itu  ibadah Haji di Arafat untuk menyadari dirinya sendiri.

Bagian dari rangkaian ritual ibadah haji ini mengingatkan manusia supaya bertaubat dan mengevaluasi dirinya. Di padang pasir Arafah, manusia dikumpulkan. Momentum ini sebagai pengingat manusia akan dikumpukan dan diminta pertanggungjawabannya di hari akhirat kelak. 

Ritual lain ibadah haji adalah melempar batu atau jumrah ke arah tiang sebagai simbol perlawanan terhadap setan. rangkaian ibadah haji ini mengikuti jejak Nabi Ibrahim yang melempati setan dengan batu ketika menghalangi perjalanannya untuk menunaikan perintah Allah swt. 

Imam Kazim berkata, "Di tempat ini (tempat melempat jumlah) Iblis hadir menghalangi jalan Nabi Ibrahim AS dan menggodanya supaya tidak jadi mengorbankan Ismail. Tetapi nabi Ibrahim menyingkirkannya dengan melemparkan batu ke arah setan.

Sejatinya, melempar jumrah adalah adalah mengetahui siapa musuh sebenarnya. Kini iblis hadir dalam berbagai bentuk di kancah global  yang berupaya melawan umat Islam dan menghancurkannya.

Berkurban di hari raya Idul Adha dan juga mencukup kepala dan memotog kuku adalah ritual langkah terakhir ibadah haji. Pada Hari Raya Idul Adha, mereka yang telah menjalankan seluruh tahapan ibadah haji yang merayakan sukacita.

Para peziarah yang kembali datang untuk tawaf dan berdoa Baitullah melakukannya dengan penuh cinta. dan Kabah menjadi magnet spiritual yang menyedot jutaan orang datang untuk beribadah.

Ritual haji tidak hanya gerakan fisik tapi disertai ketulusan dan penyucian diri demi mendekatkan diri kepada Allah swt. Sebagimana ditegaskan Nabi Muhammad Saw dalam salah satu sabdanya, "Urgensi diwajibkannya shalat, haji dan tawaf untuk mengingat Allah swt. Jadi, jika hati kita tidak merasakan keagungan dan kemuliaan Allah, yang merupakan tujuan utama ibadah, lalu apa manfaat dari zikir? 

Read 60 times

Add comment


Security code
Refresh