Idul Adha, Momentum untuk Membuang Ego

Rate this item
(0 votes)
Idul Adha, Momentum untuk Membuang Ego

Setelah selesai membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim mengumumkan perintah haji dan Allah juga menetapkan rukun-rukun haji. Di usia tua dan beratnya perjuangan berdakwah, Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan buah hatinya, Ismail. Sebuah ujian yang sulit bagi orang yang telah menghabiskan umurnya di jalan tauhid dan penghambaan Tuhan.

Namun, Allah Swt menguji seseorang sesuai dengan kadar kemampuannya dan tentu saja ujian yang dihadapi oleh para nabi lebih sulit dan lebih berat dari manusia biasa.

Nabi Ibrahim as mulanya memberitahu Ismail tentang perintah untuk berkurban dan berkata, “Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ismail menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Ibrahim berada dalam dua situasi antara kecintaan kepada buah hatinya dan kecintaan kepada Allah, tetapi ia tunduk pada perintah-Nya. Ia membawa Ismail ke tanah Mina untuk dikorbankan dan ketika sampai di sana, Ismail berkata, “Wahai ayahku! Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba dan kecintaan kepada anak tidak menjauhkanmu dari ketaatan kepada Allah.”

Ismail – sama seperti ayahnya – memiliki derajat spiritual dan makrifat yang tinggi kepada Allah. Ibrahim menutupi wajah putranya dan mulai meletakkan pisau di lehernya, tetapi atas kehendak Allah, leher Ismail tidak tersayat oleh pisau itu. Seketika, seekor kibas muncul di hadapan Ibrahim dan terdengar suara dari langit, “Hai Ibrahim! Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.”

Hari ini para jamaah haji juga melakukan kurban sebagai bentuk ketaatan dan mereka berkata, “Ya Ilahi, kami sama seperti Ibrahim juga tunduk kepada-Mu. Kami telah menanggalkan ketergantungan duniawi dan memutuskan rantai belenggu hawa nafsu sehingga kami bisa dekat kepada-Mu lebih dari sebelumnya.”

Kaum Muslim merayakan Idul Adha di setiap tahun. Mereka memulainya dengan mandi sunnah, memakai pakaian yang paling bagus, dan menggunakan wewangian. Setelah shalat eid, mereka membuka pintu silaturahim dan merayakan hari yang bahagia ini.


Di antara amalan Idul Adha adalah jamaah haji wajib berkurban dalam manasik haji, sementara kaum Muslim yang tidak berhaji dianjurkan untuk menyembelih hewan kurban. Semua amalan ini dilakukan untuk meraih keridhaan Ilahi dan mencapai derajat takwa.

Pada hari ini, kaum Muslim menyembelih kambing, sapi, atau unta dan kemudian membagi-bagikan dagingnya kepada fakir-miskin. Sejumlah riwayat menganjurkan orang-orang untuk berkurban pada Idul Adha sehingga kaum dhuafa dan fakir-miskin juga memperoleh makanan.

Selain berkurban dan membangun solidaritas sosial, ada juga amalan dan shalat-shalat sunnah yang dikerjakan pada hari raya ini. Pelaksanaan amalan ini adalah kesempatan untuk memperoleh makrifat dan kesempurnaan yang tinggi.

Seorang arif besar, Almarhum Mirza Jawad Maleki Tabrizi mengenai amalan Idul Adha mengatakan, “Dengan tibahnya hari raya, kerjakanlah semua amalan yang mendatangan keridhaan dan mengundang kasih sayang-Nya. Allah Swt adalah pemilik dunia dan akhirat serta kehidupan dan kematian kalian, dan kita tidak boleh lalai terhadap Tuhan yang maha pengasih dan penyayang ini.

Di pagi hari, mandilah dengan niat untuk mensucikan hati dari kehadiran selain Tuhan. Kemudian lantunkanlah takbir “Allahu Akbar” dan dengan takbir ini, seluruh makhluk terlihat kecil dan tidak berarti apa-apa di hadapan keagungan Tuhan. Dengan niat menghiasi diri dengan pakaian takwa dan akhlak mulia, pakailah baju yang paling bersih dan kemudian bergeraklah ke masjid untuk menunaikan shalat ied.” 

Read 78 times

Add comment


Security code
Refresh