کمالوندی

کمالوندی

Ayat ke 115

Artinya:

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.(6: 115)

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa ketika Al-Quran diturunkan, sebagian ilmuwan Yahudi dan Kristen berada di Madinah mengetahui bahwa Al-Quran tersebut adalah kitab samawi. Namun, karena berbagai alasan, mereka tidak mau menerima kebenaran Islam dan kitab samawi tersebut. Ayat ini berbicara kepada Nabi Muhammad Saw dengan mengatakan,sekalipun mereka tidak mau mengakui kebenaranmu, namun jangan sedih dan berkecil hati.Karena Allah Swt akan menguatkan kamu dengan menurunkan firman-Nya yang terbaik, yaitu suatu firman yang berpijak pada kebenaran dan kejujuran. Firman ini merupakan ajaran Tuhan yang terlengkap dan sempurna, sebagai sandaran untuk menegakkan keadilan dan pemerintahan di dalam masyarakat. Firman suci ini tidak akan pernah bisa diubah dan diselewengkan sedemikian rupa. Ia akan tetap lestari dan abadi. Al-Quran berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya yang telah diubah oleh tangan-tangan jahil para pengikutnya.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Al-Quran adalah kitab samawi yang terlengkap dan firman Allah yang paling sempurna untuk dimanfaatkan oleh umat manusia. Karena ia adalah kitab samawi dari agama terakhir.

2. Dasar hukum al-Quran secara keseluruhannya mencakup kejujuran, keadilan, pandangan kebenaran, penegakan kebenaran, serta kekuatan hakikat.

 

Ayat ke 116

Artinya:

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).(6: 116)

Menyusul ayat sebelumnya, ayat ini berbicara kepada Nabi Muhammad Saw dan pengikut beliau dengan mengatakan, saat ini firman suci telah diturunkan oleh Allah Swt kepada kalian, karena itu janganlah kalian mengikuti pendapat dan pandangan orang-orang lain, sekalipun jumlah mereka banyak sekali. Jumlah terbanyak bukanlah dalil kebenaran, khususnya dalam masyarakat yang mayoritasnya lebih berpegang teguh kepada adat dan tradisi yang menyimpang dari logika dan akal sehat.

Sementara itu, pada dasarnya, ajaran yang dibawa para nabi as selalu bertentangan dengan keyakinan mayoritas masyarakatnya pada saat itu. Para nabi datang untuk mengajak umatnya ke jalan yang lurus. Apabila mayoritas merupakan tolok ukur, maka tidak perlulah diutus para nabi atau disampaikan firman suci yang bertentangan dengan pandangan orang-orang Kafir dan Musyrik. Dalam pemilihan pemilihan presiden yang menjadikan suara mayoritas masyarakat sebagai tolok ukur, sesungguhnya suara mayoritas itu bukanlah dalil bagi kelayakan seseorang untuk menjabat posisi ini.

Betapa banyak orang-orang yang mendapatkan suara mayoritas untuk menduduki sebuah jabatan, tetapi menyia-nyiakan suara tersebut dengan melakukan penyelewengan. Akhirnya, ia diturunkan dari jabatannya.Oleh sebab itu, pada dasarnya, benar dan salahnya sebuah akidah dan kepercayaan, bukanlah tergantung pada diterima atau tidak oleh masyarakat. Contoh lainnya adalah fakta bahwa merokok adalah merusak kesehatan. Bahkan bila semua orang jujur menjadi perokok, merokok tetaplah merusak kesehatan.

Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Hidayah yang hakiki ada di dalam jalan yang ditunjukkan al-Quran, bukan pada jalan yang ditempuh oleh mayoritas manusia.

2. Suara mayoritas dalam masalah-masalah pemikiran dan akidah bukanlah dalil bagi sebuah kebenaran. Kita hanya bisa berpegang pada suara mayoritas dalam berbagai masalah sosial dengan tujuan untuk mencari jalan penyelesaian, bukan jalan kebenaran dalam masalah akidah.

3. Kita harus menerima dan melaksanakan dasar logika dan kebenaran. Sebaliknya, kita tidak boleh mengikuti persangkaan dan kata hati.

 

Ayat ke 117

Artinya:

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk.(6: 117)

Sekarang, ketika sudah jelas bahwa pendapat mayoritas tidak bisa dijadikan sandaran untuk menentukan kebenaran, maka dalam ayat ini ditegaskan bahwa jalan kebenaran itu harus kita dapatkan dari Allah Swt. Jalan dari Tuhan itu harus kita ikuti sekalipun jumlah pengikut kebenaran itu minoritas. Untuk mengenali kebenaran dan kebatilan diperlukan ilmu dan pengetahuan yang luas mengenai akibat dan dampak dari berbagai berbagai masalah, baik di saat ini, maupun di masa depan. Pengetahuan seperti ini hanya bisa diperoleh dari ilmu Allah yang tak terbatas. Karena itu, hanya Allahyang paling mengetahui, mana jalan petunjuk yang lurus dan mana jalan yang sesat.

Allah Swt lebih mengetahui mana orang-orang yang tersesat, dan mana orang-orang yang tersesat. Meskipun manusia dengan bantuan akal sehatnya, mampu membedakan kebenaran dan kebatilan sampai batas-batas tertentu, namun ilmu Allah yang tidak terbatas terbebas dari segala kesalahan. Sebaliknya ilmu dan pengetahuan manusia mungkin untuk salah. Karena itu, ayat ini menekankan tujuan ayat sebelumnya, yang mengatakan, "Ikutilah Tuhan-mu, Dia lebih mengetahui daripada kamu, karena itu berdasarkan ilmu-Nya Dia memberi petunjuk kepadamu."

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Sekalipun manusia itu memiliki ilmu dan akal, tetapi Allah Swt lebih mengetahui semua ilmu umat manusia. Selain itu, akal pun mengatakan bahwa kita harus mengikuti orang yang lebih berilmu.

2. Janganlah kita menyangka bahwa dengan sikap riya, sombong, dan munafik, kita dapat menipu Tuhan karena Dia mengetahui apa yang tampak dan apa yang tersembunyi. Allah Swt akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat.

 

Ayat ke 118-119

Artinya:

Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.(6: 118)

Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.(6: 119)

Lanjutan dari berbagai pembahasan yang lalu, khususnya mengenai tanda-tanda ketauhidan dan kesyirikan, dua ayat ini telah menyinggung salah satu contoh syirik yang menonjol dalam kehidupan. Dalam ayat ini disebutkan, jauh dari jalan Allah akan menjadi penyebab terjadinya penyelewengan dan akan menghantarkan seseorang menjadi ekstrim atau sebaliknya, menjadi acuh tak acuh dalam urusan makan. Sekelompok orang dengan begitu saja membolehkan menyembelih dan memakan sesuatu binatang, padahal dia tidak mengerti batas-batas halal dan haramnya. Akibatnya, mereka menjadi pemakan bangkai, karena mereka menyembelih binatang tanpa memperhatikan aturan-aturan agama.

Al-Quranal-Karim mengatakan,hal itu tidaklah benar karena dalam Islam telah diatur cara yang benar untuk menyembelih hewan dan disebutkan pula mana hewan yang halal dimakan. Ketahuilah, bahwa kalian tidak berhak mengambil nyawa (yakni membunuh ) binatang apapun, jika Allah tidak mengijinkannya, karena Dia-lah pemilik hakiki binatang-binatang tersebut. Selain itu, sewaktu kita menyembelih binatang tersebut, lisan kita harus mengucapkan nama Allah dengan penuh iman, dan bertujuan binatang itu untuk dimakan. Sebagaimana kebersihan daging untuk keselamatan tubuh kalian, maka perlu sekali disebutkan nama Allah, sehingga jiwaraga kalian akan tumbuh dengan sehat dan sempurna dengan memakan daging ini.

Lanjutan ayat itu mengatakan,Allah Swt suka kepada kalian yang menjauhi makanan (daging) yang diharamkan, dan suka pula bila kalian memakan daging yang dihalalkan bagi kalian. Manusia tidak boleh dengan seleranya sendiri mengharamkan apa-apa yang sudah dihalalkan oleh Allah. Sikap ekstrim yang tidak pada tempatnya timbul dari hawa nafsu orang-orang yang jahil, dan sikap ini merupakan pelanggaran, baik pelanggaran terhadap hak Allah maupun hak-hak manusia.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Bahkan pada masalah makanan dan daging yang dimakanpun, orang mukmin harus bersandarkan kepada aturan Allah Swt. Agama tidak terpisahkan dari kehidupan dunia manusia dan mengkonsumsi makanan yang halal merupakan syarat iman.

2. Makanan manusia harus memperhatikan halal dan haram, dan bukan bersandarkan pada hawa nafsu serta keinginan perut manusia.

3. Memang dalam keadaan darurat, memakan makanan-makanan haram dibolehkan, namun hanya sebatas kebutuhan, karena Islam tidak pernah memberikan jalan buntu kepada pemeluknya.(

Ayat ke 111

Artinya:

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (6: 111)

Sebelumnya telah disebutkan bahwa akar kekufuran sebagian besar umat manusia adalah sikap keras kepala. Mereka tidak mau mengindahkan nasihat tentang kebenaran, padahal mereka tidak memahami kebenaran itu. Pada ayat ini juga disebutkan bahwa salah satu permintaan orang-orang Kafir ialah turunnya para malaikat di tengah-tengah mereka, sedangkan mereka tidak memiliki kemampuan untuk bisa melihat malaikat. Selain itu, sesuai dengan ayat-ayat yang lainnya, apabila itu terjadi, mereka dipastikan akan tetap kufur. Sebagaimana disebutkan dalam berbagai ayat, pada sebagian manusia, malaikat itu bisa nampak dengan jelas, sebagaimana malaikat itu nampak dengan jelas pada bentuknya terhadap Nabi Ibrahim dan Nabi Luthas.

Permintaan mereka yang lainnya ialah agar Nabi Muhammad menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati sebagaimana mukjizat Nabi Isa as.Namun apakah semua orang yang melihat mukjizat Nabi Isa as itu kemudian beriman? Al-Quran mengatakan,selama sikap keras kepala masih mendominasi hati mereka, meski para malaikat itu turun dari langit, atau orang-orang yang sudah mati itu bangun dari kuburnya untuk kemudian berbicara kepada mereka, ataupun setiap yang menjadi keinginan mereka dipenuhi, mereka tetap tidak akan beriman. Bahkan mereka akan menyebutnya sebagai sihir, karena hal semacam ini sudah terjadi pada para Nabi sebelumnya.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Untuk memperoleh iman, tidak cukup dengan bekal ilmu pengetahuan, tetapi juga harus dengan keinginan yang ikhlas dan sungguh-sungguh.

2. Tidak ada ketentuan dari Allah bahwa semua umat manusia harus beriman.Karena Allah Swt menginginkan agar manusia bebas memilih menurut keinginannya.

 

Ayat ke 112

Artinya:

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.(6: 112)

Ayat ini mengatakan bahwa sekelompok manusia dan jin tidak mau menerima ajaran-ajaran para nabi utusan Allah. Mereka tetap pada sikapnya yang keras kepala dalam menghadapi ajaran lurus dan kebenaran dan hal ini justru menunjukkan adanya sunnatullah berupa ikhtiar yang dimiliki manusia dalam menentukan pilihan. Sebagaimana telah ditetapkan oleh Allah, setan itu dari bangsa jin, dan karena disebabkan ketidakpatuhannya terhadap perintah Allah, maka mereka tidak dihancurkan, tetapi mereka diberi batas waktu. Allah Swt memberi hak kepada semua manusia yang tidak menerima wahyu. Mereka diberi kesempatan waktu hingga akhir umurnya, apakah akan beriman atau tetap kufur.

Sunnatullah ini sedemikian rupa terus berkesinambungan, sehingga dapat dikatakanbahwaAllah Swt berkeinginan agarsetan senantiasa berhadapan dengan para nabi.Begitu juga sudah menjadi ketentuan-Nya bahwa sekelompok orang tetap dalam kekufurannya. Lanjutan ayat itu menyebutkanbahwa sebagian besar orang kafir itu mengatakan,bisikan-bisikan setan telahmenyusup ke dalam hati manusia dan terus menyampaikan kata-kata. Karena itu wahai Nabi Allah,penentangan mereka jangan menjadikan kalian cemas dan pesimis. Biarkan mereka dalam kondisinya, karena tugasmu hanya membimbing dan menyampaikan saja dan bukan memaksa mereka supaya mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1.Perjuangan antara kebenaran dan kebatilansenantiasa ada di sepanjang sejarah. Ia tidak terbatas pada suatu periode saja.

2. Kita harus berhati-hati terhadap kata-kata dan pernyataan manis.Karena propaganda dan ajakan batil itu kadang-kadang berbentuk semacam ini.

 

Ayat ke 113

Artinya:

Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.(6: 113)

Ayat ini telah menyinggung berbagai propaganda mereka yang memusuhi kebenaran dengan mengatakan, orang-orang yang berhati kotor tidak mau mendengarkan kata-kata dan pernyataan setiap orang, kecuali kata-kata manis yang diucapkan setan. Ungkapan yang akan menjerumuskan setiap orang yang meragukan Hari Kiamat. Pada awalnya mereka tertarik oleh pernyataan dan kata-kata manis setan, lalu sedikit-demi sedikit, menerima pernyataan itu. Dalam ayat itu juga disebutkan bahwa sedikit pengikut yangmau mendengarkan kata-kata setan itu sudah sangat cukup. Kepada mereka yang mau mendengarkan itulah, para pengikut setan iu menancapkan pengaruhnya.

 

Ayat ke 114

Artinya:

Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.(6: 114)

Ayat ini berbicara mengenai Ahlul Kitab yaitu Yahudi dan Kristen dengan mengatakan, mereka yang sempat melihat Nabi Muhammad Saw dan bahkan mendengarkan pernyataan beliau itu sebenarnya telah mengetahui bahwa pernyataan beliau sesuai dengan pernyataan Nabi Musa dan Nabi Isa as. Tidak hanya itu karena kitab suci beliau juga sama dengan kitab Taurat dan Injil. Sekalipun demikianmereka tetap tidak mau beriman kepada Rasulullah Saw dan kitabnya. Adapun sebagian dari permintaan mereka mengenai ditunjukkannya mukjizat merupakan suatu alasan yang sama persis terhadap mukjizat Nabi Musa dan Isa as. Karena itu kelanjutan ayat ini memberikan peringatan kepada kaum Muslimin agar dalam menetapkan kebenaran jalan ini janganlah ragu-ragu dan bimbang samasekali.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Salah satu dalil mengenai kebenaran Islam ialah berita gembira dari para nabi sebelumnya yang tertera dalam kitab Taurat dan Injil.

2. Kekufuran orang-orang lain bukan merupakan dalil batilnya jalan kebenaran. Penerimaan atau penolakan seseorang tidak bisa menjadi tolok ukurkebenran dan kebatilan.Karena totlok ukur hak dan batil itu sendiri bersifat independen yang dapat diterima oleh akal sehat.(

Ayat ke 107

Artinya:

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak memperkutukan(Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka; dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka.(6: 107)

Setelah ayat-ayat sebelumnya menyinggung upaya manusia menyekutukan Allah Swt, ayat ini mengatakan, janganlah kalian menyangka dapat mempecundangi kekuasaan Allah Swt, bahkan apabila Allah menghendaki dan berbuat sesuatu, maka tak seorang pun mampu menyekutukan-Nya. Tetapi keinginan Allah terhadap umat manusia demikian bahwa Dia menghendaki agar manusia berbuat menurut ikhtiar dan pilihannyasendiri. Karena itu Allah Swt berbicara kepada Nabi-Nya dengan mengatakan,kamu pun tidak berhak memaksa umat manusia untuk beriman.Kamu bukan wakil dan penanggung jawab mereka. Atau dengan ungkapan lain menurut pandangan tasyri'i (tinta)semua umat manusia beriman kepada Tuhan.Karena itu para nabi diutus untuk mengarahkan fitrah itu. Adapun menurut pandangan takwini (cipta), keinginan manusia berdasarkan kehendak dan ikhtiarnya sendiri dalam memilih jalannya, sehingga mereka tidak terpaksa dalam menerima suatu agama.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Kehendak Allah Swt tergantung pada kehendakan manusia. Karena itu keberadaan kaum Musyrikin menunjukkan adanya ikhtiar di tengah umat manusia.

2. Tugas para nabi dan mubalig Islam adalah membimbing manusia,bukan memaksa mereka untuk menerima agama.

 

Ayat ke 108

Artinya:

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.(6: 108)

Ayat-ayat sebelum ini memperingatkan Nabi Muhammad Saw dan kaum Mukminin agar jangan melakukan segala bentuk pemaksaan terhadap orang-orang Musyrik. Sementara ayat ini melarang mereka melakukan segala bentuk gangguan dan penganiayaan kepada kaum Musyrikin. Ayat ini mengatakan, janganlah kamu berbicara jelek dan tidak pada tempatnya terhadap Tuhan sesembahan kaum Musyrikin, sehingga mereka dengan akan membalas dengan berkata jelek terhadap Tuhan kamu. Karena itu sewaktu kamu memiliki logika yang kuat, kenapa kamu tidak menggunakan logika saja? Ajaklah dan seru mereka dengan kekuatan logika!Bila mereka suka pasti akan menerima seruanmu.Dan bila mereka tidak suka,pasti tidak akan mendengarkanmu. Kamu tidak punya tugas lain.

Kelanjutan ayat ini menyatakan,setiap kelompok senantiasa berpegang teguh dengan keyakinannya.Mereka mengira semua perbuatannya mempunyai akibat yang baikdi masa depan. Tetapi padaHhari Kiamat, dimana segala hakikat akan menjadi jelas. Maka Allah Swt akan memberitahukan perbuatan-perbuatan setiap kelompok kepada mereka sendiri, sehingga mereka memahami apa yang telah mereka perbuat didunia.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Kita harus waspada agar menjauhkan diri dalam berbagai perselisihan dengan para penentang. Karena terkadang mereka berlaku ekstrim

2. Melaknat dan bara'ah atau berlepas tangan itu berbeda dengan perhitungan berbuat dosa.Bara'ahmenunjukkan sikap dihadapan kekufuran dan syirik, dimana kita menyatakan berlepas tangan dari jalan mereka.

 

Ayat ke 109

Artinya:

Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mu jizat, pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah". Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman.(6: 109)

Di antara alasan orang-orang Kafir dan Musyrikin pada zaman Nabi Muhammad Saw yaitu kenapa setiap kali kami menginginkan melihat mukjizat, Nabi Saw tidak mengeluarkannya. Allah Swt dalam ayat ini berfirman kepada Nabi-Nya agar berkata kepada mereka, mukjizat itu bukan di tanganku, sehingga setiap waktu dan kondisi apapun yang kalian inginkan, saya dapat mengeluarkannya. Mukjizat ditangan Allah.Oleh sebab itu,setiap kali Tuhan memandang perlu dan maslahat pasti akan Dia tunjukkan. Karena Mukjizat untuk menyempurnakan hujjah, dan bukan untuk hiburan atau memuaskan berbagai keinginan masyarakat.Apalagi sebagian besar dari keinginan masyarakat itu bertentangan dengan kebenaranseperti sebagian orang yang berkeinginan untuk melihat Tuhan.Padahal undang-undangan alam ini bukan permainan yang dapat memuaskan keinginan-keinginan Musyrikin.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Jangan sampai kita termakan tipu muslihatyang dikemas dalam sumpah palsu para penentang.

2. Akar utama kekufuran adalah sikapkeras kepala, meski mereka telah menyaksikan mukjizat,tetapi mereka tidak ambil peduli, bahkan dianggap enteng.

 

Ayat ke 110

Artinya:

Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.(6: 110)

Kufur dan keras kepala yang berkelanjutan akan berakibat lenyapnya kemampuan manusia dalam melihat, mendengar dan memahami hakikat. Akhirnya ia menganggap yang benar itu batil dan batil itu sebagai kebenaran. Dalam ayat ini al-Quran berfirman, ini adalah sunnatullah yang Allah ciptakan bahwa kufur itu adalah sumber kebingungan. Karena itu pandangan manusia bisa terbalik, sehingga tidak bisa memahami tujuan diciptakannya alam semesta ini.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Iman kepada Allah dan Nabi Muhammad Saw dapat membersihkan hati dan jiwa.Karena keras kepala dan berhati batu akan mencemari kecerdasan manusia, sehingga manusia itu tidak mau menerima kebenaran.

2. Jauh dari Allah dan jalan yang lurus mengakibatkan kerugian dan kebingungan didunia ini.(

Ayat ke 103

Artinya:

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.(6: 103)

Sebelumnya telah disinggung tentang ayat-ayat yang menjelaskan sifat-sifat Allah Swt, yaitu suatu sifat yang sama sekali berbeda dari sifat-sifat patung sesembahan dan sekutu lainnya yang disejajarkan oleh manusia dengan Tuhan. Ayat ini juga menyinggung satu lagi ciri-ciri khusus Allah dan mengatakan, tidak hanya pada mata kasar, bahkan mata batin yakni akal manusia pun tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui Zat Allah Swt, meski ia dapat mengetahui dan memahami perwujudan-Nya Swt. Sebaliknya, Dia Maha Mengetahui segala perwujudan manusia, tidak hanya pada ucapan manusia, tapi Allah juga mengetahui pemikiran manujsia. Karena Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dia tidak bisa dilihat, namun Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dia adalah Zat yang Maha Lembut dan tidak ada satupun yang dapat menyembunyikan diri dari-Nya.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Zat Allah tidak bisa diketahui, bahkan tentang bagaimananya tidak bisa kita pikirkan.

2. Dengan demikian Allah Swt Maha Mengetahui atas segala kehidupan kita, juga dengan kasih sayang-Nya,Dia tidak pernah menarik dan mencegah segala nikmat-Nya kepada kita.

 

Ayat ke 104

Artinya:

Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).(6: 104)

Ayat-ayat sebelumnya telah menjelaskan mengenai sifat-sifat Allah Swt dalam berbagai ayat sebelumnya serta lemahnya dalil-dalil sesembahan patung yang disejajarkan dengan Allah dalam mengatur nasib umat manusia dan dunia. Ayat ini mengatakan, sesuatu yang harus dinyatakan maka harus kita katakan sehingga jalan yang benar dapat dijelaskan. Kita juga harus menjelaskan sesuatu yang diperlukan untuk mengetahui hal-hal yang benar, begitu juga harus mengungkapkan dalil dan bukti untuk menerima hal itu. Dengan begitu ada orang yang berkeinginan lalu menerima. Hal itu akan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Tetapi apabila seseorang tidak mau menerima kita tidak berhak memaksanya.karena Allah Swt telah membentangkan jalan kekufuran dan iman buat umat manusia dan setiap orang bebas menentukan pilihannya.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Tugas kita hanyalah membimbing umat manusia, sehingga hujjah dapat disempurnakan dikalangan manusia dan pintualasan tidak tersisa sama sekali. Selain itu, kita tidak berhak memaksa manusia.

2. Tanda-tanda kekufuran adalah tidak menganggap benar ajara para nabi. Itu petanda butanya mata hati mereka.

 

Ayat ke 105

Artinya:

Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan supaya orang-orang musyrik mengatakan: "Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab)", dan supaya Kami menjelaskan Al Quran itu kepada orang-orang yang mengetahui.(6: 105)

Orang-orang Kafir dan Musyrikin menuduh Nabi Muhammad Saw telah belajar kepada para ilmuwan Yahudi. Apa yang dipelajari beliau dikatakannya sebagai al-Quran dan wahyu. Padahal semua itu telah beliau pelajari dan apa yang tertera dalam al-Quran bukan datang dari beliau, tapi dari ilmuwan Yahudi.

Allah Swt dalam menjawab Nabi-Nya justru memberikan semangat kepada beliau. Dalam ayat ini Allah Swt berfirman, janganlah engkau bersedih atas tuduhan ini. Karena tuduhan semacam ini tidak bisa diterima oleh para ilmuwan bahkan mereka akan membatalkan pernyataan semacam itu. Kelompok Kuffar dan Musyrikin itu sama sekali tidak menunjukkan dalil dan bukti. Karena itu dalam sejarah tidak terdapat sebuah dalil pun yang menguatkan bahwa Nabi Muhammad Saw telah belajar dan mengambil manfaat dari suatu ajaran apapun. Selain itu diantara isi al-Quran dan Taurat terdapat perbedaan yang sangat banyak sekali. Menurut pandangan al-Quran pada zaman Nabi Saw,kitab Taurat merupakan sebuah kitab yang sudah ditahrifkan.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Para penentang al-Quran justru mengakui isi al-Quran sangat dalam. Mereka juga tidak mengatakan bahwa pernyataan-pernyataan al-Quran itu kosong dan tidak ada artinya, tetapi mereka mengatakan ungkapan itu telah Nabi pelajari dari para ilmuwan zamannya.

2. Ilmu danpengetahuan tidak hanya tidak mampu menyembunyikan kebenaran al-Quran, justru memberikan persaksian atas kebenaran al-Quran.

 

Ayat ke 106

Artinya:

Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.(6: 106)

Pada ayat sebelumnya telah dijelaskan mengenai tuduhan orang-orang Kafir dan Musyrik bahwa al-Quran bukan wahyu samawi, tapi pernyataan yang dipelajari dari orang lain, dalam hal ini adalah para ilmuwan Yahudi. Ayat ini justru memberikan semangat kepada Nabi Muhammad Saw untuk mengikuti al-Quran. Ayat ini mengatakan, janganlah kamu memperhatikan berbagai pernyataan orang-orang yang menentang, tetapi perhatikan dan dengarkanlah wahyu Tuhanmu. Karena kebenaran itu berasal daripada-Nya, dan Dia akan memberikan persaksian kebenaran buatmu.

Tugas para nabi dalam menghadapi orang-orang Musyrik dan Kuffar hanyalah sebagai penyampai dan pembimbing mereka. Karena itu, bila mereka tidak mau menerima, tidak ada hak bagi para nabi untuk memaksa mereka. Mereka bebas untuk melakukan apa saja yang menjadi keinginannya. Sekalipun demikian, tetaplah mengajak orang lain kepada. Kita tidak boleh mendesak dan meminta sehingga mereka menyangka bahwa kita memerlukan iman orang lain. Tetapi hendaknya pada tahap pertama kita ketengahkan pernyataan yang logis dan baik. sampaikanlah pernyataan hak atau kebenaran kepada mereka. Namun bila mereka tidak mau menerima, maka bersabarlah dan janganlah memaksa mereka.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Dalam rangka berjalan di atas kebenaran, kita senantiasa menemui tuduhan dan penghinaan dari para penentang. Karena itu janganlah mundur dan lemah semangat, tapi harus tegar.

2. Nabi Saw senantiasa mengikuti apa yang telah diwahyukan kepadanya dan bukan semata-mata mengikuti hawa nafsunya.

Ayat ke 98

Artinya:

Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui.(6: 98)

Setelah ayat-ayat sebelumnya menjelaskan peran Allah Swt dalam menciptakan manusia, ayat ini mengatakan, Allah Swt dalam menciptakan kalian umat manusia belum pernah keluar dari batasan dan kalian adalah makhluk yang lebih baik dari seluruh makhluk lainnya. Kalian semua adalah umat manusia, baik laki-laki maupun perempuan, berkulit hitam maupun putih, bahkan dari ras dan kabilah manapun, diciptakan dari satu jenis dan satu jiwa. Semua manusia yang pernah ada dan akan datang merupakan amanat Allah yang diletakkan di tulanag sulbi ayah dan ibu. Ketika tiba Hari Kiamat, manusia semua mati dan akan dibangkitkan dari kuburan untuk berkumpul di padang Mahsyar.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Semua umat manusia antara yang satu dan yang lainnya adalah bersaudara, sedang perbedaan ras dan tingkat tidak ada makna samasekali.

2. Meski berasal dari satu jenis, namun keanekaragaman dalam ciptaan manusia ini justru menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Alllah.

 

Ayat ke 99

Artinya:

Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.(6: 99)

Ayat sebelumnya menyinggung mengenai satunya sumber umat manusia. Ayat ini juga menyinggung sumber tumbuhnya tanaman yaitu dengan turunnya air hujan. Sumber air hujan dan berbagai tumbuh-tumbuhan adalah pekerjaan Allah Swt, sedang manusia tidak memiliki peranan. Dalam ayat ini juga diketengahkan nama berbagai buah-buahan seperti anggur dankurma yang dari jenis buah-buahan lainnya masih terdapat berbagai jenis yang lebih banyak lagi dan dari segi gizi memiliki nilai lebih dibandingkan dengan yang lainnya.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Hubungan antara manusia dengan pepohonan yang berbuah, tidak boleh hanya sekedar bahan makanan saja, tetapi juga harus memiliki hubungan pemikiran yang mengarah kepada tauhid. Otak manusia juga harus seperti perut yang bisa mencerna buah-buah dan jenis makanan lalu mengambil sarinya dan menyampaikan dirinya kepada Allah Swt.

2. Pandangan manusia terhadap alam tidak boleh hanya sekedar pandangan biasa saja, tetapi harus bisa menyelami kedalam, lalu menerobos dari makhluk kepada pencipta alam semesta ini.

 

Ayat ke 100

Artinya:

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.(6: 100)

Sayangnya para pemeluk agama samawi sebelum Islam semuanya telah menyekutukan Allah Swt. Para pengikut Kristen mengatakan bahwa Isa adalah anak Tuhan, begitu juga pengikut Yahudi menyebut Uzair adalah anakTuhan. Bahkan sebagian mereka menganggap para malaikat adalah anak-anak Tuhan. Dalam hal ini para pemeluk Zoroaster menyebut bahwa Tuhan merupakan manifestasi kebaikan, sedang setan merupakan manifestasi keburukan dan kejahatan, padahal ia dianggapnya sebagai bediri sendiri, juga menjadi sekutuTuhan dalam mengelola alam semesta ini.

Sebagian orang Arab juga beranggapan bahwa jin itu ada hubungannya dengan Tuhan, bahkan mereka berkeyakinan diantara mereka yakni antara Tuhan dan bangsa jin ada hubungan famili. Maka ayat ini memberikan jawaban atas segala pemikiran yang menyimpangdan khurafat inidanmengatakan,jin sama seperti kalian adalah makhluk Allah, sedang Allah samasekali tidak memiliki anak baik perempuan maupun laki-laki yang bisa menjadi sekutu-Nya mengurus alamini. Allah Swt lebih mengetahui dari apapun yang diungkapan dalam bahasa maupun sesuatu yang terbetik dalam pemikiran, karena Dia maha suci dari sifat-sifat manusia. Oleh sebab itu,apabila Allah bersemayam dalam pikiran manusia, maka Dia menjadi makhluk manusia, padahal Allah adalah pencipta manusia itu sendiri.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Kebodohan merupakan akar segala penyelewengan, sedang dalam masalah-masalah keyakinan, manusia harus berbuat berlandaskan ilmu pengetahuan dan bukan khurafat.

2. Allah Swt tidak memiliki istri, sehingga memiliki anak. Lalubagaimana orang-orang itu bisa mengatakan bahwa Allah memiliki anak?

 

Ayat ke 101-102

Artinya:

Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.(6: 101)

(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.(6: 102)

Di akhir kumpulan ayat-ayat ini dijelaskan bahwa sekali lagi Allah menekankan tentang Keesaan-Nya baik dalam mencipta maupun dalam mengatur alam semesta. Dua ayat ini mengatakan, alam semesta ini diciptakan dari sesuatu yang tidak ada dan Dia Maha Mengetahui atas segala rahasia. Karena itu Dia tidak membutuhkan seorangpun, sehingga kalian tidak perlu lagi menyiapkan untuk-Nya istri dan anak. DiaadalahTuhan Yang Maha Esa danPencipta kalian. Karenanya kalian harus menyembah Dia dan hanya kepada-Nya-lah kalian harus taat dan berbakti.

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Allah Swt yang telah dijelaskan dalam al-Quran, bandingkan dengan Tuhan yang telah dijelaskan dalam kitab-kitab yang telah mereka selewengkan.

2. Akar penyembahan kepada Tuhan,adalah Dia Maha Mencipta. Dan Dia-lah Zat yang pantas disembah.Karena alam semesta ini telah diciptakan oleh-Nya.

Ayat ke 94

Artinya:

Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).(6: 94)

Mengikuti ayat sebelumnya yang telah disampaikan tentang kondisi orang-orang Musyrik ketika mati, ayat ini turut menambahkan bahwa ketika manusia musyrik telah meninggal dunia akan dikatakan kepada mereka, kalian selama di dunia ini mencari orang banyak dan mengikatkan hati kalian kepada mereka. Bahkan nasib kalian sendiri telah kalian ikatkan kepada mereka. Untuk itu, kalian mengumpulkan harta yang banyak dan kalian menyangka bahwa orang dan harta yang banyakitu akan menjadi pelindung kalian. Namun, hari ini kalian meninggalkan dunia ini sendirian dan kembali kepada Kami tanpa seorang pendamping. Segala yang mengikat hati dan angan-angan kalian kini telah lenyap. Apakah yang kalian pikirkan untuk hari ini?

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Sistem kehidupan setelah mati adalah berbentuk individu bukan masyarakat. Pada Hari Kiamat hubungan kekeluargaan dan masyarakat akan lenyap.

2. Segala kekayaan dan kekuasaan tidak berarti ketika seseorang itu mati.

 

Ayat ke 95

Artinya:

Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?(6: 95)

Dalam lanjutan ayat sebelumnya, ayat ini menyinggung peran Allah Swtdalam kematian dan kehidupan makhluk dan menyebutkan contoh dari kehidupan alam hayati. Meskipun menanamkan benih dan biji itu adalah pekerjaan manusia, tetapi menumbuhkan benih tumbuhan dari bumi adalah pekerjaan Tuhan. Air, tanah dan udara yang membuat benih tersebut bisa tumbuh adalah ciptaan Allah Swt. Allah yang menghidupkan benih dan biji-bijian yang tidak bernyawa itu keluar dari bumi. Selanjutnya, dari pohon yang hidup, Allah mengeluarkan benih atau biji-bijian yang mati.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Penelitian kepada proses penciptaan alam dan perenungan akanciptaanAllahmerupakan jalan terbaik untukmengenali Tuhan.

2. Manusia yang diciptakan oleh Allahmaka bagaimana mungkin manusia mencari sesembahan selain dari-Nya?

 

Ayat ke 96

Artinya:

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.(6: 96)

Ayat ini menyinggung kekuasaan Allah Swt yang bukan sekedar menumbuhkan butir, malah juga menyingsingkan pagi. Butir itu bisa tumbuh dari dalam perut bumi yang gelap gulita dan darinya tumbuh kehidupan. Begitu pula Allah menjadikan siang dan malam dengan pengaturan dan perhitungan yang sangat tepat. Malam diciptakan untuk manusia agar beristirahat dan siang diciptakan agar manusia bisa bekerja. Manusia bisa melihat fenomena yang terindah setiap hari yang dapat dilihat di langit, yaitu ketika pagi menyingsing dan diikuti dengan kehidupan.

Gerakan bumi dan bulan mengelilingi matahari, tidak saja melahirkan siang dan malam, namun juga merupakan sarana terbaik untuk menghitung hari dan berlalunya zaman. Dengan demikian, manusia bisa memprogram kerja hidup mereka dan membagi waktu.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Merenungi sistem penciptaan yang amat sempurna dan teliti merupakan jalan untuk mengenal Tuhan.

2. Pekerjaan Allahberlandaskan kepada program yang telah diperkirakan dan penciptaan-Nya itu memiliki ketentuan dan ukuran. Oleh karena itu, kita harus bergerak menurut program tersebutagar menjadi wujud yang serasi dengan kehendak Allah.

 

Ayat ke 97

Artinya:

Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.(6: 97)

Selain dari bulan dan matahari, bintang-bintang dengan segala keindahannya merupakan petunjuk akan kekuasaanTuhan dalam penciptaan dan pengaturan alam. Al-Quran menyebutkan penciptaan bintang-bintang adalah untuk manusia, tetapi masih banyak manusia yang tidak mengetahui akan peran besar bintang-bintang dalam kehidupannya. Ayat ini memberitahukan kepada manusia bahwa ketika melakukan perjalanan di laut, mereka dapat mengambil bintang-bintang sebagai petunjuk.

Islam memberikan perhatian khusus kepada fenomena alam ini. Sebagai contoh, penetapan waktu shalat pada setiap hari melalui matahari. Begitu juga akhir bulan Ramadhan ditetapkan lewat gerakan bulan. Ketika terjadi gerhana matahari dan bulan, umat muslim diwajibkan untuk shalat ayat. Demikian juga, ketika berlangsung musim kemarau, umat Islam disuruh untuk melakukan shalat memohon hujan. Perhatian dan keperluan yang besar terhadap fenomena alam inilah yang menyebabkan cendikiawan besar Islam mendirikan observatorium di Baghdad, Damaskus, Kairo, dan Andalusia, serta menulis banyak sekali buku mengenai ilmu alam.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Sistem perbintangan di langit sedemikian tepatnya sehingga ia mampu menunjukkan jalan dan arah penduduk bumi.

2. Jika Tuhan memberikan petunjuk kepada manusia dalam perjalanan darat dan laut , sudah pasti Tuhan juga akan memberi petunjuk bagi manusia dalam menjalani perjalanan hidup sepanjang usia mereka.

Ayat ke 91

Artinya:

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia". Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)?" Katakanlah: "Allah-lah (yang menurunkannya)", kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.(6: 91)

Sekelompok orang Yahudi, meski percaya bahwa Allah telah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa as, tetapi kepada Nabi Muhammad Saw mereka ingkar dan mengatakan, "Tidak mungkin Tuhan menurunkan wahyu kepada manusia dan memberinya kitab." Al-Quran menjawab kata-kata mereka ini dengan mengatakan, bagaimana kalian percaya bahwa kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa, tetapi menolak diturunkannya al-Quran kepada Nabi Muhammad. Apa yang kalian miliki berasal dari Taurat, sementara agama yang kalian dan nenek moyang kalian yakini juga berasal dari Taurat. Meskipun kalian tidak jarang menutup-nutupi ajaran Taurat yang tidak menguntungkan kalian. Tetapi bagaimanapun juga kalian tetap mengakui bahwa Taurat adalah kitab yang diturunkan oleh Allah.

Bagian akhir ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw,wahai Rasul, berilah mereka jawaban, tetapi jangan engkau berputus asa jika mereka tidak beriman dan bertawakal kepada Tuhan. Tuhan sudah mencukupi buatmu dan biarkanlah para pengingkar itu tenggelam dalam kesesatan mereka.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Ingkar terhadap para nabi pada hakikatnya ialah pengingkaran terhadap nikmat Ilahi karena nubuwah berlandaskan kepada rahmat dan hikmah Tuhan.

2. Tanggung jawab para nabi adalah memberikan petunjuk kepada umat dan menyampaikan seruan Ilahi, bukan memaksa mereka untuk menerimanya. Orang yang tidak ingin menerimanya harus ditinggalkan.

 

Ayat ke 92

Artinya:

Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.(6: 92)

Menyusul ayat sebelumnya mengenai keingkaran orang-orang Yahudi terhadap Rasul, ayat ini mengatakan, meskipun kalian ahli Taurat, tidak menerima al-Quran, tetapi al-Quran tidak menolak Taurat. Al-Quran malah menyebut Taurat sebagai kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Musa as. Selanjutnya ayat berkata kepada Nabi Muhammad Saw, al-Quran telah diturunkan untukmu supaya pada peringkat pertama engkau akan dapat membimbing masyarakat Mekah dan kemudian masyarakat lain. Tetapi ketahuilah tidak semua manusia akan beriman kepadamu dan kitab yang engkau bawa. Mereka yang menerima kata-katamu ini tidak menganggap kehidupan hanya pada wujud yang terbatas di dunia dan apa yang mereka lihat dan dengar. Tetapi mereka meyakini adanya alam lain selepas dunia ini, dan kematian bukan berarti akhir dari kehidupan manusia.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1.Meninggalkan agama lama tidak bermakna bahwa agama tersebut keliru. Tetapi hal itu bermakna akhir dari relevansi agama tersebut.

2. Islam dan al-Quran membenarkan semua agama dan kitab samawi yang lalu.

3. Shalat merupakan amalan yang paling jelas bagi seorang muslim yang tanpanya iman tidak akan sempurna.

 

Ayat ke 93

Artinya:

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.(6: 93)

Di sepanjang sejarah terdapat orang yang menipu dengan membuat dakwaan bahwa dirinya adalah seorang nabi dan menyebut dirinya telah mendapatkan wahyu dari Tuhan. Yang menarik ialah sebagian para pengaku nabi itu muncul pada zaman Nabi Muhammad Saw. Salah seorang dari mereka bernama Abdu bin Saad yang pada mulanya adalah penulis wahyu. Akibat pengkhianatan yang dilakukannya dia diusir oleh Nabi. Dia lantas mengumpulkan masyarakat dan berkata,"Saya juga bisa mendatangkan ayat seperti al-Quran."Seorang lagi bernama Musailamah yang pada akhir usia Nabi juga mengaku demikian tetapi tidak ada yang mempercayainya. Dalam ayat ini disebutkan,pembohongan seperti ini merupakan kezaliman yang besar kepada masyarakat. Para pendusta ini kelak di dunia akan menghadapi azab yang sulitsaat ajalnya.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Kezaliman paling besar adalah kezaliman budaya,dimana yang merupakan cikal bakal dari penyimpangan sepanjang sejarah.

2. Berhati-hatilah terhadap para penipu yang adakalanya menyebarkan kebohongan di tengah masyarakat dengan kemasan agama.

Ayat ke 84-87

Artinya:

Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya'qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (6: 84)

Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh. (6: 85)

Dan Ismail, Alyasa', Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya). (6: 86)

Dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (6: 87)

Sebelumnya telah dijelaskan panjang lebar tentang peran Nabi Ibrahim as dalam menyeru umat di zamannya kepada penyembahan Tuhan yang Esa serta menjauhi syirik dan penyembahan berhala. Ayat ini menjelaskan pengaruh tauhid pada generasi dan keturunan Nabi Ibrahim dengan menyatakan bahwa Nabi Ibrahim telah dikarunia anak-anak yang juga mandapatkan hidayah ilahi dan telah mencapai kedudukan sebagai nabi. Dari mereka inilah berdatangan generasi para nabi.

Dalam empat ayat ini, secara keseluruhannya terdapat nama delapan belas orang nabi yang sebagiannya hidup sebelum Ibrahim seperti Nabi Nuh AS, sementara sebagian yang lain adalah keturunan Nabi Ibrahim as.

Meskipun berlandaskan kepada ayat ini, sebagian keturunan Nabi Ibrahim telah mencapai derajat kenabian, tetapi tolak ukur kenabian bukanlah karena mereka keturunan Ibrahim, tetapi kebaikan dan ketakwaan mereka di sisi Tuhan yang melebihkan mereka dari orang lain di zamannya dan mengangkat mereka ke derajat kenabian.

Dari empat ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Perbuatan baik ayah dan ibu sangat berpengaruh pada pendidikan generasi seterusnya. Banyak balasan dari perbuatan baik tidak didapatkan saat hidup, tetapi Allah mengaruniakannya kepada keturunan mereka.

2. Anak-anak yang saleh merupakan karunia Ilahi kepada orang-orang yang suci dan saleh.

 

Ayat ke 88

Artinya:

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (6: 88)

Ayat ini menyinggung soal bimbingan atau hidayah khusus Allah kepada para nabi dan menyebutkan bahwa Allah akan memberikan bimbingan dan petunjuk khusus kepada hamba yang dikehendaki-Nya dan memberinya amanat risalah. Tetapi derajat itu tidak bertentangan dengan kebebasan mereka dalam berbuat baik. Sebab jika mereka tidak mensyukuri nikmat ini dan mengingkari Allah, maka Allah akan menurunkan mereka dari kedudukan mulia tersebut.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1.Hidayah yang benar hanyalah dari Allah Swt. Para nabi sendiri bahkan tidak bisa memberikan hidayah dari diri mereka sendiri. Dengan hidayah itulah mereka telah mencapai derajat kesempurnaan.

2. Dalam sunnah Ilahi tidak ada diskriminasi. Karena itu jika para nabi melakukan penyimpangan, mereka juga akan dibalas dan dikenai hukuman.

 

Ayat ke 89

Artinya:

Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. (6: 89)

Masih melanjutkan ayat sebelumnya mengenai bimbingan khusus para nabi, ayat ini menyebutkan bahwa selain kitab samawi dan kedudukan sebagai nabi, Tuhan juga telah memberikan hikmah dan kedudukan sebagai pemimpin di tengah umat, sehingga para nabi bisa menjalankan undang-undang samawi di tengah masyarakat dan menyelesaikan perselisihan di kalangan mereka.

Lanjutan ayat ini menghibur Nabi Saw dengan menyatakan, seandainya umat mengingkari risalah kenabian seperti yang biasa dilakukan umat-umat terdahulu, janganlah khawatir sebab ada kaum lain yang akan menerima risalah ini dan sekali-kali tidak akan mengingkarinya.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Kepemimpinan dan kedudukan sebagai hakim di tengah masyarakat adalah hak para nabi dan pemimpin Ilahi.

2. Tolak ukur kebenaran, bukan dilihat dari sejauh mana umat menerima atau menolaknya. Janganlah kita merasa ragu dan sangsi ketika sekelompok orang mengingkari agama.

 

Ayat ke 90

Artinya:

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)". Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat. (6: 90)

Pada akhir bagian ayat ini, Allah swt berfirman, wahai Rasul, risalahmu juga merupakan lanjutan dari risalah nabi-nabi terdahulu. Oleh karena itu, katakanlah kepada umatmu bahwa aku juga sama seperti para nabi terdahulu yang menyeru kalian pada hal yang sama dan tidak membawa sesuatu yang baru. Tujuan dari ucapan ini tidak lain adalah untuk membimbing dan mengingatkan kalian, bukan karena uang dan bukan juga karena perkara-perkara lain.

Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Penghapusan agama-agama terdahulu tidak bermakna penghapusan seluruh ajaran para nabi. Inti dari semua agama adalah penyembahan Tuhan yang Esa, hanya syariat dan metode praktisnya yang berbeda.

2. Metode seruan nabi adalah metode mengingatkan dan menyadarkan, bukan memaksa umat untuk beriman.

3. Para nabi dalam seruan mereka tidak memiliki motivasi materi dan duniawi. Para mubalig juga hendaknya bersikap demikian.

Ayat ke 80

Artinya:

Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku". Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?" (6: 80)

Sebelumnya telah dibahas bahwa Nabi Ibrahim as pada awalnya menempatkan diri bersama-sama kaum yang menjadi obyek dakwahnya itu. Ia mengatakan apa yang menjadi keyakinan kaumnya bahwa bintang, bulan, dan matahari adalah Tuhannya. Akan tetapi, dengan menyentuh fitrah yang ada pada setiap manusia, Nabi Ibrahim as langsung menunjukkan kekeliruan keyakinan semacam itu dengan cara membuktikan bahwa benda-benda langit itu sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadap nasib manusia dan dengan sendirinya tidak layak menjadi Tuhan.

Kemudian, pada akhirnya Nabi Ibrahim secara terang-terangan mengatakan bahwa Tuhannya ialah Zat yang menciptakan langit dan bumi, dan Zat Pencipta itulah yang diyakini memiliki kekuasaan penuh atas segala nasibnya.

Dalam ayat berikutnya, dijelaskan bahwa sikap kaumnya terhadap ajakan Nabi Ibrahim sangat keras. Mereka bukan hanya enggan menjadi pengikut Nabi Ibrahim, melainkan bahkan mengajak Ibrahim agar mengikuti keyakinan mereka. Menanggapi sikap seperti ini, Ibrahim as berkata, "Bagaimana mungkin aku akan meninggalkan Tuhanku, padahal Dia-lah yang memperkenalkan diri-Nya kepadaku dan telah memberiku petunjuk? Bagaimana mungkin aku meninggalkan Zat yang telah aku kenal sambil mengikuti keyakinan kalian yang betul-betul menyimpang sekaligus sesat?"

Ibrahim as juga mengatakan bahwa jika mala petaka terjadi kepadanya, semua itu bisa dipastikan bukanlah berasal dari patung-patung sesembahan kaumnya itu, melainkan karena Allah memang menghendaki. Karena tanpa izin dan kehendak-Nya, tidak akan mungkin sebuah perkara bisa terealisasi.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Seorang monotheis atau yang berkeyakinan terhadap Tuhan yang satu, sama sekali tidak akan takut terhadap kesendirian. Seandainya semua orang menjadi kafir, ia tidak akan pernah mau melepaskan keyakinannya.

2. Salah satu tanda keimanan seseorang adalah tidak takutnya ia kepada apapun atau siapapun selain Allah.

 

Ayat ke 81

Artinya:

Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui? (6: 81)

Melalui ayat ini terlihat bahwa Nabi Ibrahim telah mengemukakan argumentasi yang sangat bersifat fitri. Ia berkata, "Kalian, wahai orang-orang musyrik, sama sekali tidak merasa takut akan murka Allah baik di dunia maupun di akherat dan kalian merasa sangat aman dengan kondisi kalian seperti ini. Anehnya, kalian berharap bahwa aku akan merasa takut dengan patung-patung sesembahan kalian. Padahal, patung-patung itu tidak lebih dari benda-benda yang kalian buat sendiri, dan kalian tidak memiliki argumentasi apapun, baik akal ataupun fitrah, yang bisa membenarkan perilaku syirik kalian itu".

Nabi Ibrahim as melanjutkan, "Logika justru mengharuskan aku untuk takut kepada Tuhanku, tidak kepada patung-patung itu, hingga Hari Kiamat kelak, kita semua akan lebih dekat pada keamanan. Yang kalian lakukan ini sangatlah ironis, karena kalian telah meninggalkan satu perkara yang betul-betul pasti sambil mencoba mengikuti hal-hal yang masih serba meragukan"

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Pemikiran dan keyakinan agama haruslah berlandaskan kepada logika dan argumen, bukannya berlandaskan kepada persangkaan, ilusi, mimpi, ataupun khayalan.

2. Dalam berdebat dengan para penentang agama, cara efektif yang seharusnya dipakai adalah metode tanya jawab, untuk kemudian kita ajukan solusinya. Ayat tadi memberikan contoh, ketika disebutkan bahwa Nabi Ibrahim bertanya, "Jika kalian memang mengetahui, katakanlah, siapa di antara kita, dua kelompok yang berbeda ini, yang berhak memperoleh keamanan di Hari Kiamat?"

 

Ayat ke 82

Artinya:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (6: 82)

Pada akhir perdebatan antara Nabi Ibrahim dan kaumnya, Ibrahim as mengajukan pertanyaan kepada kaumnya dan Quran memberikan jawabannya. Di Hari Kiamat hanyalah kaum Mukminin yang saleh, kuat iman, dan tidak melakukan kesyirikan, serta tidak berbuat kezaliman yang akan memperoleh keselamatan di Hari Kiamat.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Menjaga iman lebih penting dari iman itu sendiri. Keteguhan dan keistiqamahan di jalan yang benar adalah faktor penting untuk memperkuat dan mempertahankan iman.

2. Keamanan yang sejati ada dalam lindungan iman yang sejati pula. Keamanan sejati itu adalah keamanan pada hari ketika tidak ada seorang pun yang mendapatkan keamanan.

 

Ayat ke 83

Artinya:

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (6: 83)

Di bagian akhir perdebatan Nabi Ibrahim dan kaumnya, Allah berfirman bahwa "Inilah argumen yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim untuk berdebat dengan kaumnya. Dalil atau argumen yang berdasarkan wahyu dan logika itu, dibawa oleh Rasul Tuhan kepada umatnya agar dipahami oleh mereka. Ibrahim telah Kami angkat sebagai nabi dan rasul, atas dasar hikmah. Umat manusia memerlukan petunjuk dan teladan dan orang terbaik di dalam masyarakatlah yang harus dipilih untuk urusan ini. Orang-orang yang tidak punya kebijaksanaan dan kemuliaan tidak akan mencapai derajat kenabian."

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Peningkatan derajat dan kedudukan dalam sistem sosial haruslah berdasarkan ilmu dan hikmah, bukan karena kekuatan dan kekayaan.

2. Metode dakwah para nabi adalah berdasarkan pada penjelasan dan argumentasi, bukan pada taklid dan pemaksaan.

Ayat ke 75

Artinya:

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. (6: 75)

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim as bangkit menentang dan memberantas berbagai penyelewengan yang dilakukan umatnya dengan menggunakan akal dan argumen. Pada saat yang sama, Ibrahim as juga menyatakan berlepas diri dari segala bentuk patung serta yang mereka yang menyembahnya. Dalam ayat ini, Allah Swt menjelaskan bahwa berbagai tindakan tegas Ibrahim tadi telah membuat ia memperoleh anugerah berupa kemampuan melihat tanda-tanda Allah yang ada di langit ataupun yang ada di bumi. Diperlihatkannya tanda-tanda Allah itulah yang kemudian membuat Ibrahim bertambah yakin bahwa segala sesuatu adalah milik-Allah dan Dia-lah penguasa mutlak segala sesuatu.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Siapa saja yang mengetahui kebenaran dan mengajak orang lain untuk mengikuti kebenaran itu, pasti akan memperoleh hidayah Allah Swt berupa diperlihatkannya tanda-tanda-Nya yang ada di langit dan di bumi.

2. Kita diperintahkan untuk tidak hanya membatasi pandangan kita terhadap hal-hal yang lahiriah di dunia. Kita tidak boleh melupakan hubungan antara Allah, manusia, dan alam semesta.

 

Ayat ke 76

Artinya:

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam". (6: 76)

Pada zaman Nabi Ibrahim as hidup, masyarakat penyembah berhala juga sangat memperhatikan benda-benda langit. Mereka menganggap bahwa perputaran benda-benda itu sangat mempengaruhi kehidupan mereka. Kepercayaan seperti ini hingga sekarang masih dengan mudah kita temukan dalam karya-karya sastra.

Dalam menghadapi pemikiran-pemikiran yang sesat seperti itu, Nabi Ibrahim mengambil langkahyang agak unik. Pertama-tama ia menempatkan diri seakan-akan seperti mereka yang sangat menggantungkan diri kepada bintang, rembulan, dan mentari. Ketika disaksikannya benda-benda langit itu senantiasa muncul dan tenggelam, Ibrahim lantas mengambil kesimpulan bahwa benda-benda itu tidak layak untuk disembah. Dengan kata lain, dalam benak Ibrahim yang tergambar adalah logika bahwa alih-alih mampu mengusai alam, benda-benda tadi malah tidak bisa melepaskan diri dari hukum alam. Karenanya, sangatlah aneh jika benda-benda itu sampai bisa menguasai nasib seseorang.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Salah satau cara berdakwah adalah dengan menempatkan diri kita seolah-olah bersama mereka yang tersesat dan menjadi obyek dakwah kita itu. Setelah itu, kita tunjukkan kekeliruan mereka itu dengan menggunakan logika dan membangkitkan fitrah mereka.

2. Sesuatu yang disembah haruslah dicintai oleh penyembahnya. Karena aktivitas penyembahan sendiri berkaitan dengan hati dan perasaan, bukan dengan indera atau akal.

 

Ayat ke 77-78

Artinya:

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat". (6: 77)

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (6: 78)

Mengikuti ayat sebelumnya mengenai penyembahan bintang dan bantahan terhadapnya, ayat ini menunjuk kepada para penyembah bulan dan matahari. Di sana disebutkan bahwa Ibrahim dengan melihat bulan dan matahari, sebagaimana orang-orang lain, menunjukkan penghambaan kepadanya. Namun ketika dilihatnya matahari dan bulan tenggelam, Ibrahim memperingatkan kaumnya bahwa benda-benda langit itu bisa terbit dan tenggelam. Artinya benda-benda tersebut tidak layak untuk disembah.

Ibrahim menyatakan kepada kaumnya, "Tindakan kalian itu adalah sebuah penyelewengan dan jika aku mengikuti kalian, aku akan tersesat. Bagaimana mungkin kalian bisa menjadikan bulan dan bintang sebagai sekutu Tuhan dalam mengatur bumi sementara mereka itu tidak mampu mengatur dirinya sendiri."

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Pembangunan fitrah dan pengaktifan pemikiran merupkan metode dakwah para rasul Allah.

2. Menghadapi pemikiran dan perilaku yang menyimpang harus dilakukan langkah demi langkah. Misalnya, Nabi Ibrahim awalnya menolak bintang, kemudian bulan, dan terakhir matahari.

 

Ayat ke 79

Artinya:

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (6: 79)

Di akhir perdebatan logis dan fitri dengan kaum penyembah berhala dan penyembah bintang, bulan, dan matahari, Nabi Ibrahim as berkata, "Tidak ada satupun dari benda-benda itu yang bisa menjadi Tuhanku. Tuhanku adalah yang menciptakan aku, pencipta benda-benda itu, dan pencipta langit dan bumi. Aku mengikuti jalan yang benar dan lurus. Tanpa ada sekutu dan penyelewengan, aku hadapkan diriku secara ikhlas kepada-Nya dan kepada-Nya-lah aku mengikatkan hatiku."

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Setiap kali kebenaran tampak kepada kita, dengan tegas dan jelas, kita harus mengumumkan kebenaran itu dan kita harus berlepas diri dari kebatilan.

2. Menjauhkan diri dari syirik artinya semua pekerjaan yang dilakukan oleh manusia hanyalah dipersembahkan kepada Tuhan dan segala bentuk keterikatan kepada benda atau orang lain akan menjauhkan diri dari tauhid dan akan masuk ke dalam batasan syirik.