Ayatullah Syahid Dastaghib

Rate this item
(0 votes)
Ayatullah Syahid Dastaghib

 

Ulama dalam Islam memiliki tempat yang menonjol dan berharga dan ulama hakiki adalah penerus Nabi Saw dalam menyebarkan agama dan menerapkan perintah ilahi. Namun dalam al-Quran dan hadis, ulama yang tidak mempraktikkan ilmunya sendiri telah sangat dicela. Sejatinya, menurut agama Islam, ilmu yang tidak memiliki efek pada perilaku dan kehidupan manusia, bukan hanya tidak berharga tetapi juga menyebabkan azab dan penderitaan di akhirat.

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Waspadalah jangan sampai engkau menjadi orang yang membimbing orang-orang untuk berbuat baik dan menginstruksikan mereka untuk berbuat baik, sementara ia sendiri lalai akan kebaikan itu. Karena Allah Swt berfirman, 'Apakah Anda memerintahkan orang untuk berbuat kebaikan, sementara Anda melupakan diri sendiri."

Keberadaan ajaran yang tercerahkan seperti itu dalam agama Islam telah membuat sejarah Islam di setiap zaman menyaksikan eksistensi para cendekiawan yang tidak hanya pengetahuannya yang menjadi penerang jalan bagi orang-orang, tetapi juga saat-saat hidup mereka, perbuatan serta ucapan mereka mencontohkan manusiapencarikebenaran dan pencari Allah. Syahid Ayatullah Dastaghib seorang ulama besar Iran dan salah satu contoh ilmu dan amal yang kemudian gugur syahi di hari-hari seperti ini.

Ayatullah Syahid Dastaghib
Syahid Sayid Abdolhossein Dastaghib Shirazi, yang dikenal di Iran sebagai Syahid Mihrab, adalah seorang ulama yang menonjol dan seorang mujahid yang tak kenal lelah. Warga Muslim Iran sangat menyukainya dan beliau juga dihormati oleh para ulama dunia Islam. Syahid Dastaghib lahir pada 19 Desember 1914 yang bertepatan dengan tanggal 18 Azar 1332 HS, pada malam Asyura, itulah sebabnya ia dinamai Abdolhossein. Keluarganya termasuk keturunan sayid dan silsilahnya sampai kepada Imam Husein as dengan 33 perantara. Ayahnya juga seorang alim terkemuka, dan di bawah pengawasannya, Sayid Abdolhossein menyelesaikan studi dasarnya dalam ilmu-ilmu Islam, kemudian melanjutkan belajar di Hauzah Ilmiah di Shiraz, dan pada saat yang sama terlibat dalam tablig agama dan bimbingan masyarakat.

Syahid Ayatullah Dastaghib memberikan perhatian khusus pada pensucian diri saat mempelajari ilmu-ilmu agama, dan untuk alasan ini ia menunjukkan efek cahaya ibadah dan peningkatan diri dari masa mudanya. Mensejajarkan ilmu dan amal pada diri ulama terkemuka ini, menjadikannya tokoh berpengaruh dan pemberani yang merupakan tempat perlindungan bagi penderitaan dan menjadi yang terdepan dalam menghadapi rezim despotik Pahlavi di Iran. Ketika Reza Shah Pahlavi memerintahkan untuk membuka jilbab di Iran, Ayatullah Dastaghib secara terbuka menentangnya. Agen-agen rezim berulang kali memenjarakannya dan akhirnya mendeportasinya ke Najaf Asyraf.

Syahid Sayid Ayatullah Abdolhossein Dastaghib Shirazi
Selama tujuh tahun tinggal di sekitar komplek makam suci Imam Ali bin Abi Thalib as, ia melanjutkan untuk belajar dan mencapai tingkat pencapaian ilmiah dan spiritual yang tinggi, dan pada usia muda mencapai tingkat ijtihad dari otoritas besar pada waktu itu. Selama waktu ini, ia mendapat perhatian dari para guru besar sair dan suluk, termasuk Ayatullah Qadhi. Kemudian ia kembali ke Shiraz atas saran salah seorang gurunya untuk melayani Islam dan Muslimin.

Karena pencapaian Ayatullah Dastaghib dalam kompetensi ilmiah dan spiritual, tidak lama kemudian banyak orang berbakat berkumpul di sekitarnya dan ia melatih mereka dengan pelajaran etika dan tafsir. Upaya kerasnya dalam membangun masjid dan sekolah hauzah mengejutkan semua orang. Secara luas terlihat bahwa, terlepas dari otoritas ilmiah dan irfan, seperti seorang pekerja ia ikut memperbaiki masjid atau bangunan sekolah agama. Orang-orang datang membantu ketika mereka melihat ketulusan dan kesederhanaan ini, dan pekerjaan itu berakhir.

Ketika Imam Khomeini ra menyampaikan perlawanannya terhadap Shah secara terang-terangan, Ayatullah Dastaghib mendukung Imam dan tujuannya dengan sepenuh hati dan dipenjara beberapa kali, tetapi setiap kali setelah pembebasannya ia dengan berani menempuh jalan untuk melanjutkan upaya memerangi pemerintah boneka Pahlavi. Reza Shah dan putranya melakukan rencana yang didiktekan Barat untuk mendeislamisasi negara dan memasukkan budaya Barat ke Iran. Tindakan anti-Islam rezim Pahlavi, kekejaman dan ketidakadilan dan ketergantungan terhadap Barat dan Timur pada pemerintah selalu diprotes oleh orang-orang dan para ulama.

Ayatullah Dastaghib selalu berada di garis terdepan perjuangan ini. Setelah kemenangan Revolusi Islam, ia ditunjuk oleh Imam Khomeini sebagai "Imam Jumat Shiraz" dan wakil Rahbar di provinsi itu. Ketegeran Ayatullah Dastaghib dalam membela Islam dan Revolusi Islam serta keberaniannya dalam mengungkap hasutan musuh-musuh terhadap revolusi membuat musuh-musuh tidak dapat mentolerir keberadaannya dan melaksanakan rencana pembunuhan terhadapnya pada 1981. Akhirnya, Ayatullah Dastaghib gugur syahid dalam perjalanan pulang dari shalat Jumat dalam serangan bom bunuh diri pada 20 Azar 1360 HS yang bertepatan dengan 14 Shafar 1402 HQ (11 Desember 1981).

Manusia seperti Ayatullah Dastaghib tidak dapat digambarkan hanya sebagai "seseorang" yang hidup untuk sementara waktu dan kemudian dimakamkan di bawah tanah. Waktu dan ruang tidak memiliki kekuatan untuk membatasi karakter tersebut. Meskipun banyak orang di dunia mungkin tidak pernah mendengar namanya, sejarah umat manusia, tidak diragukan lagi, berutang pada kesempurnaan manusia, berkat keberadaan manusia yang sempurna seperti Syahid Dastaghib. Mengetahui karakteristik orang-orang seperti itu dapat membuat jalan kita menuju kesempurnaan lebih mudah.

Syahid Ayatullah Dastaghib seorang orator yang sangat berpengaruh dan efektif. Kelas-kelas kuliah etikanya dipenuhi dengan orang-orang muda yang ingin mendengarkan pelajaran dan diskusinya. Sering terjadi bahwa mereka yang memiliki masa lalu yang tidak pantas akan mendengar kuliah etikanya dan bertaubat. Salah satu alasan pengaruh kata-kata Ayatullah Dastaghib ada pada pembersihan diri dan kemurniaannya dari sifat-sifat buruk akhlak. Sebelum Ayatullah Dastaghib mengajak mereka kepada akhlak Islam, hukum agama, ia terlebih dahulu telah melatih dan membersihkan dirinya. Pada dasarnya, perbuatannya mengajak semua orng kepada takwa.

Imam Sadiq as mengatakan, "Sesungguhnya jila seorang alim tidak mengamalkan ilmunya, maka nasihatnya hanya melewati hati dan tidak menembusnya, sebagaimana air hujan yang hanya melewati batu yang tidak bisa ditembus."

Syahid Dastaghib bukan hanya seorang  ulama terkemuka dan seorang pejuang yang berani dan terampil, tetapi juga seorang tokoh irfan yang telah mencapai derajat yang tinggi. Ayatullah Dastaghib belajar pada guru-guru besar ahli irfan Islam dan keseriusan mereka dalam pensucian diri, sehingga mengantarkan Ayatullah Dastaghib meraih derajat yang tinggi, sehingga terkadang masyarakat dan keluarga dekatnya bingung. Dikatakan bahwa sering terjadi ada seseorang akan datang ke Ayatullah Dastageib untuk menyelesaikan masalahnya dan sebelum ia menyampaikan masalahnya, ia telah mendapatkan solusinya dari beliau.

Salah satu kerabatnya mengatakan, "Saya kadang-kadang pergi menemuninya dan kesal tentang suatu masalah, meskipun saya tidak berbicara dengan beliau, tetapi terkait subjek yang sama yang saya khawatirkan, beliau mengutip dan berbicara tentang sebuah ayat atau hadis atau anekdot. Itu membuat saya rileks. Beliau punya hubungan khusus dengan Allah." Teman-teman dan kerabatnya percaya bahwa beliau menyadari kesyahadahannya bertahun-tahun sebelumnya dan mengutip bahwa pagi hari syahadah hingga saat bom meledak, beliau selalu mengucapkan zikir Laa Ilaaha Illallaah dan Inna Lillaahi wa Inaa Ilahi Raajiuun.

Syahid Dastaghib bersama anak dan sejumlah sahabat di sebuah acara di Shiraz
Syahid Dastaghib memberikan perhatian khusus pada shalat di awal waktu, shalat tahajud dan terjaga di malam hari dengan doa dan ibadah. Salah satu anaknya berkata, "Ayah saya menghabiskan banyak hari musim panas dengan berpuasa pada malam musim dingin dengan beribadah sampai pagi hari. Saya tidak lupa bahwa ketika masih kecil, terkadang saya akan bangun di tengah malam dan mendengar suara munajatnya dalam sujud. Saya berpura-pura tidur tetapi saya mendengarkan bisikan doa yang disertai tangisan dan tetesan air matanya."

Ayatullah Dastaghib menjalani kehidupan sederhana yang jauh dari glamor, memiliki sebuah rumah kecil dengan perabotan sederhana di gang-gang tua Shiraz yang berliku dan berniat untuk berada di antara orang-orang, dengan mengatakan, "Saya dulu bersama masyarakat dan hingga akhir nafasku akan tetap bersama mereka serta berbagi dalam kesulitan dan kegembiraan dengan mereka."

Di antara ciri-ciri utama Syahid Dastaghib adalah etika yang baik dan wajah yang selalu tersenyum dan beliau mereka mempertahankan kualitas keluarga dan komunitas yang baik dengan istri dan anak-anaknya yang lembut. Putri beliau berkata, "Ketika ia membangunkan saya untuk shalat subuh, ia pertama-tama akan mengetuk pintu dan memanggil saya gelar yang indah ini Nona Beheshti! Nona Beheshti! Saatnya melakukan shalat! Di pagi hari, dia akan berjalan dan membeli roti lalu pulang, kemudian menyiapkan teh dan sarapan dan memanggil kita untuk sarapan bersama."

Itu adalah bagian dari karakter hebat manusia yang menghiasi ilmu agama dengan perbuatan baik dan saleh. Syahid Dastgheib di bidang keilmuan adalah seorang mujtahid dan bidang irfan dan akhlak memiliki keramat, sementara di bidang perjuangan adalah seorang mujahid tak kenal lelah. Di tengah masyarakat, ia menjadi tempat rujukan yang aman bagi segala permasalahan mereka. Dalam kutipan dari surat wasiatnya, "... Selalu ingat Tuhan, jangan sampai ada kewajiban yang terlewatkan dan melakukan haram. Jadikan dunia sebagai persimpangan dan akhirat sebagai tempat tinggal..."

Read 85 times

Add comment


Security code
Refresh