Ibadah Haji, Manifestasi Kesempurnaan Islam (01)

Rate this item
(0 votes)
Ibadah Haji, Manifestasi Kesempurnaan Islam (01)

 

Bulan Dzulhijjah adalah bulan pelaksanaan ritus tauhid yang agung, saat lautan manusia berkumpul di negeri turunnya wahyu. Di awal bulan yang mulia ini, kita bersama-sama membawa hati kita ke pusat tauhid untuk mengikuti langkah jutaan manusia pencinta Allah dalam melaksanakan ritus manasik haji yang agung.

 

لبیک اللهم لبیک

Ya Allah kupenuhi panggilanMu

Kata-kata singkat yang penuh makna ini melukiskan hakikat indahnya penghambaan dan kecintaan Rabbani yang mengalir dari lisan para peziarah Baitullah. Haji adalah musim ibadah dan penghambaan yang sedemikian agung sehingga kata-kata tak mungkin bisa mengungkap hakikat ritus ini dengan makna yang sebenarnya. Untuk mengenal keagungannya, kita mesti ikut tenggelam dalam manasik yang ruhani dan irfani ini dengan khusyuk bersimpuh dalam ubudiyyah. Lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia tumpah ruah bergerak ke rumah Allah. Ritual manakah dan di agama atau ideologi apakah yang sedemikian agung menggerakkan jutaan manusia menuju satu tempat tertentu? Hanya Islamlah yang memiliki kekuatan untuk menggerakkan hati jutaan manusia dalam ibadah ini. Haji sekaligus membuktikan kapasitas agama Allah untuk menyatukan kalbu-kalbu manusia dan menambatkkan pada satu tempat, negeri wahyu.

Perkumpulan akbar umat Islam di sisi Baitullah, Ka’bah, kembali mengingatkan kita akan satu lembar dari sisi kehidupan Nabi Saw, saat beliau di hari perpisahan atau Hajjatul Wada’ menyeru umatnya untuk bersatu dan bersaudara serta melarang mereka melanggar hak-hak dan menzalimi orang lain. Saat itu beliau bersabda, “Wahai umatku! Dengarkanlah kata-kataku! Mungkin kalian tak akan pernah lagi berjumpa denganku di tempat ini. Umatku! Darah dan harta kalian punya kehormatan sampai kelak kalian menemui Allah seperti kehormatan hari dan bulan ini. Segala bentuk pelanggaran terhadapnya haram dilakukan.”

Saat ini, sekelompok Muslimin yang mewakili umat Islam lainnya sedang menapak tilas sejarah sejarah Islam di dua tempat suci, Mekah dan Madinah dalam suasana religius dan irfani. Sabda Nabi tadi terngiang kembali di telinga saat beliau menekankan persatuan di lembah penghambaan Ilahi. Apalagi, tahun ini haji digelar di saat isu kebangkitan Islam di dunia dan perjuangan membela jatidiri keislaman menjadi masalah yang sangat penting dan menentukan. Tak diragukan bahwa kesan dari ibadah haji menjadi salah satu faktor yang menggugah umat Islam untuk bangkit. Karena itu, haji adalah peluang yang sangat berharga untuk memperkuat gerakan kebangkitan Islam dengan memperkokoh persatuan di antara kaum muslimin dengan beragam madzhab dan pemikirannya.

Sebagai agama dan ideologi komprehensif, Islam memiliki perhatian yang menyeluruh atas semua dimensi wujud manusia dan kebutuhan fitrahnya. Islam telah meletakkan sistem yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama. Salah satu aturan dalam sistem ini adalah ibadah haji yang ditujukan untuk menyempurnakan manusia. Haji adalah ibadah yang meliputi sisi keimanan, sosial dan politik. Imam Ali (as) berkata, “Haji adalah panji Islam”. (Nahjul Balaghah, khotbah 1). Sebagaimana yang diketahui, panji atau bendera adalah lambang yang melukiskan kriteria dan seluruh dimensi satu budaya dan peradaban.

Haji adalah ibadah yang diikuti oleh umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Di tempat yang sama, semua suku, ras dan etnis berkumpul dan melebur menjadi satu. Perbedaan status sosial, kebangsaan dan budaya tidak lagi dipandang. Semuanya satu dan sederajat dalam penghambaan dan secara beriringan melakukan ritual yang sama. Seluruh amalan dalam manasik haji dilakukan oleh semua tanpa pengecualian. Mengenal rahasia-rahasia dan hikmah-hikmah yang terkandung dalam rangkaian ibadah ini akan mengantarkan umat ini kepada identitas yang satu. Karena itu, dapat dikatakan bahwa salah satu hikmah haji adalah membentuk kembali jatidiri umat. Fakta ini bahkan diakui oleh banyak pemikir non-Muslim seperti orientalis terkenal Lewis Bernard yang mengatakan, “Di dunia Islam, dalam kondisi tertentu, umat Islam menemukan kembali keutuhan mereka sebagai umat yang satu lewat satu bentuk kekompakan agama, jatidiri agama dan keimanan; jatidiri yang tak mengenal kesukuan dan negeri, tapi didasari oleh Islam itu sendiri.”

Manasik haji memberi kesempatan kepada jamaah haji untuk mengenal budaya Islam. Mereka dapat menyaksikan lebih jelas posisi peradaban dan budayanya di antara budaya dan peradaban-peradaban yang lain. Dengan sekilas menyimak konsep Islam yang murni dapat dikatakan bahwa haji adalah contoh ideal yang membuktikan bahwa Islam adalah agama yang komprehensif. Dalam hadis yang menjelaskan hikmah syariat Ilahi, Nabi Saw menyamakan haji dengan seluruh isi agama dan syariat. Setiap amalan dalam haji memiliki hikmah dan kesan irfani, etika dan pendidikan. Hikmah-hikmah inilah yang memberi makna mendalam untuk ibadah haji dan memberikan perubahan mendasar pada diri orang yang melaksanakannya.   

Seluruh amalan ibadah haji, dari pakaian ihram yang berwarna serba putih, sai antara safa dan marwa, tawaf di Baitullah, sampai kehadiran di Arafat, Mu’tazilah dan Mina, seluruhnya adalah pelatihan untuk memperbaiki diri, pemikiran dan jiwa manusia menjadi lebih baik. Semua amalan dan pelatihan itu dilakukan tahap  demi tahap. Tahap pertama adalah memutuskan diri dari segala bentuk kecenderungan materi dengan kepergian calon haji meninggalkan tanah airnya menuju Baitullah. Dia harus terlebih dahulu menanggalkan segala kecenderungan materi yang membelenggunya untuk memenuhi panggilan Ilahi. Dia juga harus melepaskan segala bentuk status sosial dan kesukuan untuk masuk ke sebuah pertemuan akbar umat Islam. Mungkin salah satu hikmah utama dari aturan memakai pakaian ihram yang tanpa jahitan untuk laki-laki dan berwarna serba putih adalah untuk melatih manusia menanggalkan semua hal yang bisa menjadikannya unggul di mata orang lain.

Filosofi dari ibadah dalam Islam adalah supaya manusia yang melaksanakannya bisa semakin dekat kepada Allah Swt. Keistimewaan haji adalah perjalanan irfani dan upaya menghias diri dengan hiasan taqwa ini dilakukan dalam sebuah perkumpulan besar umat Islam. Hal ini menunjukkan perhatian Islam kepada berbagai dimensi kehidupan individu dan sosial manusia. Karena itu, di ayat 27-28 surat al-Hajj, Allah Swt menjelaskan akan manfaat besar yang ada dalam ibadah haji.

“Dan serukan kepada manusia untuk melaksanakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, mengendarai unta yang kurus, dan datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka.”

Manfaat yang disebutkan dalam ayat tadi umum dan meliputi manfaat materi dan maknawi, individu dan sosial, ekonomi dan politik, duniawi dan ukhrawi. Dalam haji, umat Islam dapat menyaksikan manfaat yang sangat besar yang meliputi budaya, sosial, ekonomi dan politik. Keistimewaan ini hanya khusus dimiliki oleh ibadah haji, yang juga memberikan kesan besar secara maknawi dan irfani serta memperat jalinan hubungan persaudaraan antar umat Islam dari berbagai negara.

Bekal paling penting dan berharga bagi seorang yang berziarah ke Baitullah adalah makrifat dan pengetahuan. Dia mesti sadar, kemanakah dia pergi dan betapa besar anugerah yang Allah berikan kepadanya untuk menjalankan ibadah ini. Orang akan merasakan makrifat ini ketika dia bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan momen spiritual yang tak terhingga dalam safari maknawi di sisi Baitullah ini.

Di akhir pertemuan ini, kami ajak Anda menyimak hadis dari Imam Jafar Sadiq (as). Beliau berkata, ”Ketika engkau berniat melaksanakan haji, sebelum berangkat kosongkanlah hatimu dari semua kesibukan dan hal-hal yang menghalangi dan tuluskan semuanya untuk Allah yang Maha Besar. Serahkan segala urusanmu kepada Penciptamu, dan bertawakkallah dalam setiap gerak dan diammu kepadaNya, serta berserah dirilah kepada kehendak Ilahi. Lepaskan dirimu dari dunia, kesenangan dan manusia, dan bersungguh-sungguhlah dalam melaksanakan kewajiban atas manusia. Jangan mengandalkan bekal, penolong, kawan seperjalanan, kekuatan, harta dan masa mudamu, sebab jangan-jangan semua itu akan menjadi musuh yang mencelakakanmu, sampai jelas bahwa tak ada jalan kecuali berlindung kepada Allah dan mengharap taufik dariNya.” (Misbah al-Syari’ah)

Read 43 times

Add comment


Security code
Refresh