Membedah Makna Syafaat dalam Pandangan Mazhab Syiah dan Ahli Sunnah

Rate this item
(1 Vote)

Memberikan syafaat di sisi Allah pada hari kiamat bukanlah kedudukan yang dapat dicapai oleh semua orang. Tetapi merupakan kedudukan orang-orang yang dimuliakan dan diistimewakan oleh Allah. Syafaat disalah pahami dan terkadang dijadikan sebagai pelarian dari pelaksanaan kewajiban.

Padahal syafaat adalah hasil amal perbuatan. Bahwa jika seorang hamba beramal saleh maka layak baginya mendapatkan syafaat. Misalnya, tidak lalai dari Allah dan tidak menjadikan syafaat Nabi dan Para kekasih Allah sebagai alasan boleh berbuat dosa.

 

a)Hadis-hadis tentang prinsip "syafaat":

Dalam kitab Raudhatu al-Waizhin, al-Qathan meriwayatkan dari as-Sukri dari al-Jauhari dari Muhammad bin Imarah dari ayahnya; Imam Shadiq as berkata: "Bukanlah dari golongan kami siapa yang mengingkari tiga perkara ini: mi'raj Nabi, pertanyaan dalam kubur dan syafaat." (Naisaburi, juz 2, hal 501; Shaduq, 1370, hal 294; al-Majlisi, 1403, juz 8, hal 37)

Riwayat dari Zaid bin Arqam dan sepuluh sahabat; Rasulullah saw bersabda: "Syafaatku pada hari kiamat adalah kebenaran, maka siapa yang tidak mengimaninya tidak tergolong orang-orang yang disyafaati." (Hindi, 1985 M, juz 14, hal 399)

 

b) Hadis-hadis tentang Siapa yang Memberi Syafaat:

Sebuah riwayat dalam kitab Sunan Turmudzi; Rasulullah saw bersabda: "Di dalam al-Qur`an sebuah surat yang memuat tiga puluh ayat memberi syafaat bagi seorang hamba (yang membacanya), sehingga ia diampuni Allah, yaitu surat al-Mulk." (Turmudzi, 1403 h, juz 4, hal 238)

Imam Ali as berkata: "Ketahuilah bahwa al-Qur`an diterima syafaatnya dan dibenarkan perkataannya. Siapa yang disyafaati al-Qur`an pada hari kiamat, maka berkat al-Qur`an lah ia mendapatkan syafaat." (Nahjul Balaghah, khutbah 176)

 

1)Nabi Muhammad Saw:

Dalam kitab al-Mahasin karya al-Barqi; Ayahku meriwayatkan dari Qasim bin Muhammad Hakam bin Nafi' dari Ali bin Abu Hamzah, Imam Shadiq as berkata: "Semua manusia dari masa awal sampai masa akhir pada hari kiamat memerlukan syafaat Muhammad." (al-Barqi, 1371 h, juz 1, hal 184; al-Majlisi, juz 8, hal 42)

Dalam Sunan ad-Darimi riwayat yang disampaikan oleh Hakam bin Nafi' dari Syuaib dari az-Zuhri dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah; Nabi saw bersabda: "Setiap nabi menyerukan doa, dan jika Allah menghendaki aku ingin menahan doaku untuk supaya dapat mensyafaati umatku pada hari kiamat." (ad-Darimi, 1349 H, juz 2, hal 328)

 

2)Al-Qur`an:

Dalam kitab Sunan Turmudzi; Rasulullah saw bersabda: "Di dalam al-Qur`an sebuah surat yang memuat tiga puluh ayat memberi syafaat bagi seorang hamba (yang membacanya), sehingga ia diampuni Allah, yaitu surat al-Mulk." (Turmudzi, 1403 h, juz 4, hal 238)

Imam Ali as berkata: "Ketahuilah bahwa al-Qur`an diterima syafaatnya dan dibenarkan perkataannya. Siapa yang disyafaati al-Qur`an pada hari kiamat, maka berkat al-Qur`an lah ia mendapatkan syafaat." (Nahjul Balaghah, khutbah 176)

 

3)Malaikat:

Rasulullah saw bersabda: "Para nabi, washi, orang mukmin dan malaikat adalah yang memberi syafaat. Di antara kaum mukmin adalah orang-orang yang mensyafaati seperti kabilah Rabiah dan Mudhar. Sedikitnya orang mukmin yang mensyafaati tiga puluh orang. Syafaat tidak akan dimiliki kaum musyrik, orang-orang yang syak (tidak beriman), yang kafir dan pembangkang. Tetapi dimiliki orang-orang beriman yang bertauhid." (al-Majlisi, juz 8, hal 58)

Dalam Sunan an-Nasa`i; Rasulullah saw bersabda: "Setelah Allah mengadili hamba-hamba-Nya dan hendak mengangkat mereka dari api, Dia memerintahkan para nabi dan malaikat supaya mensyafaati. Dan orang-orang yang disyafaati mempunyai tanda yang dapat dikenali, yaitu jika mereka adalah ahli sujud salat, maka api neraka tidak dapat membakar dahi mereka." (Nasa`I, 1348, juz 2, hal 181)

 

4) Para nabi:

Dalam Musnad Ahmad bin Hanbal; Rasulullah saw bersabda: "Jika telah dipilah antara para ahli surga dan para ahli neraka, lalu yang ahli surga memasuki surga dan yang ahli neraka memasuki neraka. Maka para rasul bangkit untuk memberi syafaat." (Ibnu Hanbal, juz 3, hal 325)

Syekh Shaduq as meriwayatkan; Dari Ali as: Rasulullah saw bersabda: "Tiga kelompok yang member syafaat di sisi Allah dan syafaat mereka diterima, yaitu para nabi, ulama dan syuhada di jalan Allah." (Shaduq, 1403 H, 156)

 

4)Kaum mukmin:

Dalam kitab Ta`wil al-Ayat azh-Zhahirah sebuah riwayat dari Aban bin Taghlab; "Aku mendengar Abu Abdillah berkata, "Sesungguhnya orang mukmin pada hari kiamat akan memberi syafaat bagi keluarganya, sampai ketika tinggal pembantunya seorang, dia mengangkat kedua tangannya seraya berucap: "Tuhanku, syafaatilah pembantuku yang (selama hidupku di dunia) telah menjaga aku dalam kepanasan maupun kedinginan." Lalu Allah menerima syafaatnya untuk pembantunya itu." (Ta`wil al-Ayat azh-Zhahirah, juz 1, hal 387; al-Bihar, juz 8, hal 61)

Rasulullah saw bersabda: "Para nabi dan malaikat serta kaum mukmin akan memberi syafaat. Maka Allah berkata, "Tinggallah[1] syafaat-Ku!". (al-Bukhari, juz 9, hal 160)

 

6-Syuhada (Orang-orang yang mati syahid di jalan Allah):

Ahmad bin Hanbal dalam musnadnya meriwayatkan; Rasulullah saw bersabda: "Diperkenankan bagi para malaikat, para nabi dan syuhada untuk memberi syafaat. Maka mereka mensyafaati, dan mereka mengeluarkan siapa yang ada setitik iman di hatinya, dari api neraka." (Musnad Ibn Hanbal, juz 5, hal 43)

Syekh Shaduq as meriwayatkan hadis dari Imam Ali as; Rasulullah saw bersabda: "Tiga kelompok yang memberi syafaat di sisi Allah Azza wa Jall; pertama para nabi, kemudian ulama lalu syuhada." (Shaduq, hal 156)

 

7-Ulama:

Ahmad bin Muhammad meriwayatkan dari ayahnya dari Abu Abdillah as; "Apabila telah datang hari kiamat, Allah membangkitkan orang alim dan orang ‘âbid. Ketika mereka berdiri di di hadapan Allah dikatakan kepada si abid, "Pergilah ke surga!" Dan dikatakan kepada si alim, "Tetaplah di tempat dan syafaatilah orang-orang yang telah kamu ajari ilmu." (Shaduq, juz 2, hal 394, al-Bihar, hal 56)

Rasulullah saw bersabda: "Pada hari kiamat, para nabi akan memberi syafaat, kemudian ulama kemudian syuhada." (Sunan Ibnu Majah, hal 737)

 

8-Puasa:

Riwayat dengan isnad dari Ali bin Hasan bin Fadhal, dari Abu Abdillah: "Dalam hadis yang panjang Rasulullah Saw bersabda: "Puasa adalah perisai (pelindung) dari api neraka." (Tafshil Wasail asy-Syiah ila Tahshil Masail asy-Syariah, juz 10, hal 395)

Dalam Musnad Ahmad bin Hanbal diriwayatkan; Rasulullah saw bersabda: "Puasa dan al-Quran akan memberikan syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat. Amal puasanya berkata: "Tuhan, aku telah menahan dia dari makanan dan syahwat di waktu siang hari. Maka jadikanlah aku pensyafaat baginya." Dan al-Quran berkata: "Aku telah menahan dia dari tidur di waktu malam, maka jadikanlah aku pensyafaat baginya." Maka keduanya mensyafaati." (hal 174)

 

9-Para penghafal al-Quran:

Rasulullah Saw bersabda: "Siapa yang membaca al-Quran sampai ia menghapalkan dan menghapalnya, maka Allah memasukkan dia ke dalam surga dan menjadikan dia pemberi syafaat bagi sepuluh orang dari keluarganya yang telah ditetapkan masuk api neraka." (Tafsil Wasail asy-Syiah ila Tahshil Masail asy-Syiah, juz 9, hal 169)

Sebuah hadis dalam Sunan Turmudzi riwayat dari Ali dari Rasulullah saw: "Siapa yang belajar al-Quran lalu menghapalkannya, kemudian ia menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya. Maka Allah memasukkan dia ke dalam surga dan menjadikan dia mensyafaati sepuluh orang dari keluarganya yang telah ditetapkan masuk api neraka." (Turmudzi, hal 245)

 

c) Riwayat-riwayat Syiah dan Sunni tentang Orang-orang yang Disyafaati:

Dalam sumber-sumber Islam disebutkan dengan jelas siapa saja yang memperoleh syafaat:

«یعْلَمُمَا بَینَ أَیدِیهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا یشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُم مِّنْ خَشْیتِهِ مُشْفِقُونَ»(انبیاء/28).

"Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di hadapan dan di belakang mereka (malaikat), dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya." (QS: al-Anbiya 28)

Oleh karena itu, syafaat adalah khusus bagi orang-orang yang Allah ridhai karena agama mereka.

«یوْمَئِذٍ لَّا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِی لَهُ قَوْلًا» (طه/109)

"Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah Maha Pengasih telah memberi izin kepadanya dan meridai perkataannya." (QS: Thaha 109)

Ayat ini menjelaskan bahwa keridhaan Allah itu mutlak tanpa dengan syarat amal tertentu, bahwa keridhaan Allah adalah karena agama mereka. Sebagaimana pula dalam firman Allah:

«یوْمَنَحْشُرُ الْمُتَّقِینَ إِلَى الرَّحْمَنِ وَفْدًا * وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِینَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا * لَا یمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِندَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا؛

"Pada hari Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Pengasih secara berkelompok-kelompok, dan Kami menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahanam dalam keadaan dahaga, mereka tidak berhak mendapat syafaat kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih." (QS: Maryam 85-87)

Jelaslah bahwa seorang pendosa yang telah mempunyai perjanjian di sisi Allah akan mendapati syafaat, dan perjanjian itu adalah agama mereka.

Dari atas disimpulkan bahwa siapakah yang akan mendapatkan syafaat, maka dapat dikatakan adalah orang-orang beriman yang telah memilih agama yang haq dan menjaga pertaliannya dengan Allah. Adapun terkait dengan dosa-dosa besar yang telah mereka lakukan, pada hari kiamat mereka menghadapi masalah yang berat. Tetapi mereka memperoleh syafaat dan mencapai keselamatan. Tentang demikian terdapat riwayat dari Syiah dan Sunni, yang menerangkan kriteria-kriteria orang-orang yang mendapatkan syafaat. Antara lain:

 

1)Para pelaku dosa besar:

Riwayat dalam kitab Kanzul Ummal dari Ibnu Umar dari Ka'ab bin ‘Ajarah; Rasulullah Saw bersabda: "Syafaatku adalah untuk para pelaku dosa besar dari umatku." (juz 14, hal 398)

Dalam kitab al-Amali karya Syekh Shaduq, diriwayatkan dari Ibnu Babuwaih al-Qummi dari Muhammad bin Ali Majiluwaih dari pamannya, Muhammad bin Abul qasim dari Ahmad bin Abu Abdillah Albu`qi dari Ali bn Husain al-Barqi dari Abdullah bin Jabalah dari Muawiyah bin Ammar dari Hasan bin Abdullah dari ayahnya dari kakeknya, Hasan bin Ali; Rasulullah Saw bersabda: "Syafaat adalah untuk para pelaku dosa besar dari umatku." (hal 194)

 

2) Orang-orang yang mengucapkan kalimat "lâ ilâha illallâh":

Dalam kitab al-Amali karya Syekh Thusi, diriwayatkan dari Abu Umar dari Ahmad dari Ahmad bin Yahya dari Abdurrahman dari Abu Ishaq dari Abbas bin Ma'bad bin Abbas dari keluarganya dari Abbas bin Abdul Muthalib bahwa dia berkata: "Ketika Abu Thalib mendekati wafatnya, Nabi berkata kepadanya, "Duhai paman, ucapkanlah satu kalimat niscaya Anda akan mendapatkan syafaat dengannya pada hari kiamat: "lâ ilâha illallâh"." (hal 265)

Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan; Rasulullah Saw bersabda: "Para nabi akan memberi syafaat bagi siapa saja yang telah bersaksi dengan tulus bahwa tiada tuhan selain Allah. Mereka akan mengeluarkan orang-orang ini dari api neraka." (juz 3, hal 12)

e) Riwayat-riwayat Syiah dan Sunni tentang Siapa yang tidak Memperoleh Syafaat:

 

1-Musyrik (yang menyekutukan Allah):

Riwayat dalam Sunan Ibnu Majah; Rasulullah Saw bersabda: "Setiap nabi memiliki doa yang dikabulkan, maka setiap nabi menggunakan doanya. Sedangkan aku menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku, dan syafaatku akan diterima oleh siapa saja yang telah mati dari mereka yang tidak menyekutukan Allah dengan apapun." (hal 735)

Disebutkan dalam kitab al-Khishal karya Syekh Shaduq bahwa Imam Hasan al-Mujtaba berkata: "Sesungguhnya Nabi telah bersabda dalam menjawab seorang Yahudi yang telah bertanya tentang suatu masalah kepadanya, "Syafaatku adalah bagi para pelaku dosa-dosa besar kecuali kaum yang menyekutukan Allah dan yang lalim." (hal 355)

 

2-Penipu:

Sebuah riwayat dalam Musnad Ahmad bin Hanbal; Rasulullah Saw bersabda: "Siapa yang menipu bangsa Arab tidak akan mendapatkan syafaatku." (juz 1, hal 72)

Dalam kitab Wasail asy-Syiah, Imam Shadiq as berkata: "Siapa yang menipu seorang muslim dalam jual-beli bukanlah dari golongan kami, dan pada hari kiamat dia akan dikumpulkan bersama kaum Yahudi karena mereka adalah orang-orang yang paling penipu terhadap kaum muslimin." (juz 12, hal 210)

 

3-Kaum pengingkar syafaat:

Imam Ali bin Musa ar-Ridha meriwayatkan dari Amirul mu`minin as: "Siapa yang telah mendustakan syafaat Rasulullah, maka syafaat beliau tidak akan menghampirinya. (juz 2, hal 117; Bihar al-Anwar juz 8, hal 41)

Dalam kitab Kanzul Ummal disebutkan riwayat dari Zaid bin Arqam dan sepuluh sahabat Nabi bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Syafaatku pada hari kiamat adalah kebenaran, maka siapa yang tidak mempercayainya bukan dari golongan orang-orang yang mendapatkan syafaat." (hal 399)

 

f) Riwayat-riwayat Syiah tentang para pensyafaat:

1-Amirul mu`minin Ali as:

Dalam kitab Manaqib Ali Abi Thalib disebutkan riwayat Imam Baqir as tentang firman Allah "تری كل امهٍ جاثیه" Ialah Nabi saw dan Ali yang menempati kedudukan yang tinggi di atas seluruh makhluk. Kemudian Nabi mensyafaati, kemudian beliau berkata: "Hai Ali, syafaatilah (mereka)!." (juz 2, hal 165; Bihar al-Anwar juz 8, hal 43)

 

2-Sayidah Fatimah az-Zahra as:

Dalam kitab Bisyarah al-Musthafa sebuah riwayat dari Ahmad bin Ziyad bin Ja'far al-Hamadani; dari Said bin Mushayab dari Ibnu Abbas; Rasulullah saw bersabda: "Wanita yang melaksanakan salat lima waktu, berpuasa bulan Ramadan, pergi haji ke Baitullah dikala mampu, membayar zakat, taat kepada suaminya dan menerima Ali sebagai imam sesudahku, niscaya akan masuk surga berkat syafaat putriku Fatimah." (Bihar al-Anwar juz 8, hal 58)

 

3-Ahlulbait Nabi as:

Diriwayatkan dari Ibnu Mahbub dari Abu Usamah dari Abu Abdillah dan Abu Ja'far (as): "Demi Allah, sungguh kami akan mensyafaati para pendosa dari syiah kami, sampai musuh-musuh kami ketika melihat demikian mereka mengatakan:

«فَمَا لَنَا مِنْ شَافِعِینَ, وَلَا صَدِیقٍ حَمِیمٍ, فلو أنَّ لنا كره فنكون منه المؤمنین

"Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafaat, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab. Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman." (QS: asy-Syu'ara 100-101) (Tafsir al-Qummi, juz 2, hal 123; Bihar al-Anwar, juz 7, hal 37)

 

4-Syiah Ali:

Ahmad bin Abdun berkata: "Ali bin Ahmad Zubair telah menyampaikan kepada kami dari Ali bin Hasan bin Fadhal dari Abbas bin Amir dari Ahmad bin Rizq dari Muhammad bin Abdurrahman dari Abu Abdillah; Rasulullah saw bersabda: "Janganlah kalian meremehkan syiah Ali, karena sesungguhnya seorang dari mereka seperti kabilah Rabi'ah dan Mudhar akan member syafaat." (Shaduq, hal 307)

 

5-Tetangga dan Kerabat:

Muhammad bin Khalid al-Barqi meriwayatkan dari Hamzah bin Abdullah dari Ishaq bin Ammar dari Ali al-Khadmi; Imam Shadiq as berkata: "Sesungguhnya tetangga itu mensyafaati tetangganya dan kerabat mensyafaati kerabatnya. Tetapi sekiranya para malaikat muqarrabin dan para rasul memberi syafaat bagi seorang nashibi yakni orang yang membenci Ahlulbait Nabi yang suci, syafaat mereka tidak akan diterima." (al-Bihar juz 8, hal 42)

 

6-Silaturahim dan Amanat:

Ad-Dailami meriwayatkan dari Abu Hurairah: "Rasulullah saw bersabda, "Para pensyafaat ada lima: al-Quran, kerabat, amanat, Rasulullah dan Ahlulbait Nabi." (Manaqib ali Abi Thalib juz 2, hal 164; Bihar al-Anwar juz 8, hal 43)

 

7-Salawat kepada Muhammad dan keluarganya:

Dalam ash-Shahifah as-Sajjadiyah disebutkan:

«و صل علی محمد و آله صلاه تشفع لنا یوم القیامه و یوم الفاقه إلیك؛

"Sampaikanlah salawat (ya Allah) kepada Muhammad dan keluarganya, salawat yang memberi syafaat kepada kami pada hari kiamat dan pada hari ketika menghadap-Mu." (doa 31)

g) Riwayat-riwayat Syiah tentang orang-orang yang disyafaati:

 

1-Siapa yang berwilayah kepada Amirul mu`minin dan para imam (Ahlulbait):

Tentang tafsir ayat,

«لَا یمْلِكُونَ الشَّفَاعَهَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا»

Imam Shadiq as berkata: "Tidak akan mensyafaati dan tidak akan disyafaati serta tidak akan diterima syafaat kecuali orang yang mengakui kepemimpinan Amirul Mu`minin dan para imam suci dan itulah perjanjian di sisi Allah."

 

2-Orang-orang yang diridhai Allah:

«یعْلَمُ مَا بَینَ أَیدِیهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا یشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُم مِّنْ خَشْیتِهِ مُشْفِقُونَ»

 

"Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di hadapan dan di belakang mereka (malaikat), dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya." (QS: al-Anbiya 28)

 

Mengenai tafsir ayat ini sebuah riwayat; hasan bin Khalid berkata kepada Imam Ridha as; "Wahai putra Rasulullah, apakah makna firman Allah "dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah"?

Beliau menjawab, "Ialah bahwa mereka tidak akan memberi syafaat kecuali bagi siapa yang agamanya diridhai dan diterima oleh Allah." (Shaduq hal 7; Bihar al-Anwar juz 8, hal 51)

 

3-Siapa yang menghormati dzurriyah Nabi dan membantu urusan mereka:

Amirul mu`minin as berkata: "Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya aku pada hari kiamat akan memberi syafaat bagi empat kelompok manusia walaupun mereka mempunyai dosa-dosa yang banyak sekali: 1) seorang yang menolong anak keturunanku, 2) seorang yang memberikan hartanya kepada anak keturunanku yang dalam kesulitan, 3) seorang yang mencintai anak keturunanku dengan lisan dan hatinya, dan 4) seorang yang berusaha dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak keturunanku ketika mereka terusir dan terasingkan." (at-Tibyan fi Tafsir al-Qur`an juz 4; Shaduq juz 2, hal 48)

 

4-Ayah dan Ibu serta paman dan saudara Nabi di masa Jahiliyah:

Ali bin Ibrahim meriwayatkan dari Muhammad bin Abu Umair dari Muawiyah dan Hisyam dari Abu Abdillah; Rasulullah saw bersabda: "Sekiranya aku berdiri di maqam al-Mahmud aku bersumpah kepada Allah bahwa aku akan memberi syafaat bagi ayah dan ibuku serta paman dan suadaraku di masa jahiliyah." (shaduq juz 4, hal 322)

 

h) Riwayat-riwayat Syiah tentang siapa yang tidak mendapatkan syafaat:

1-Kaum nashibi:

Ialah kelompok yang membenci dan memusuhi Ali bin Abi Thalib. (Lughat Nameh Dehkhuda, juz 14, hal 22160)

Muhammad bin Ali bin Babuwaih dari Sa'ad dari Ali ash-Sha`igh dari Imam Shadiq as; "Sesungguhnya seorang mukmin akan mensyafaati sahabatnya kecuali sahabatnya itu seorang nashibi. Sekiranya seluruh nabi yang diutus dan malaikat yang dekat di sisi Allah memberi syafaat kepadanya, syafaat mereka untuknya tidak akan diterima." (al-Mahasin juz 1, hal 186; al-Bihar juz 8, hal 41)

 

2-Orang kafir:

Rasulullah saw bersabda: "Syafaat tidak berlaku bagi kaum yang dalam keraguan, kaum syirik, kaum kafir dan pembangkang. Tetapi syafaatku adalah untuk kaum beriman yang bertauhid." (Bihar al-Anwar juz 8, hal 58)

 

3-Orang lalim:

Rasulullah saw bersabda: "Syafaatku adalah bagi para pelaku dosa-dosa besar kecuali kaum yang syirik dan yang lalim." (Mizan al-Hikmah juz 5, hal 355)

 

4-Orang yang menyakiti dzurriyah Nabi saw:

Rasulullah saw bersabda: "Jika aku menempati maqam al-Mahmud, maka aku akan memberi syafaat bagi orang-orang yang berdosa dari umatku, dan Allah mengabulkan syafaatku. Sumpah demi Allah, aku tidak akan mensyafaati orang-orang yang telah menyakiti dzurriyah (anak keturunan)ku." (Shaduq, hal 177)

 

5-Orang yang meremehkan salat:

Riwayat dari Abu Bashir dari Abul Hasan (Imam Musa al-Kazhim) as; "Ayahku di saat menjelang ajal berkata kepadaku: "Duhai anakku! Tidak akan mendapati syafaat kami orang yang meremehkan salat." (Mizan al-Hikmah ibid; al-Kafi juz 6, hal 400)

 

6-Orang yang melampaui batas dalam agama:

Harun meriwayatkan dari Abu Shadaqah dari Imam Ja'far dari ayahnya; Rasulullah saw bersabda: "Dua kelompok manusia yang tidak mendapati syafaatku: pertama, adalah raja (penguasa) yang lalim dan kedua, adalah orang yang melampaui batas dalam agama dan keluar dari agama tanpa bertaubat." (al-Bihar, juz 72, hal 336)

 

Masalah Kedua

Soal prinsip syafaat tidak ada satupun dari aliran-aliran Islam yang meragukannya. Syafaat disepakati dan diterima oleh semua golongan Islam. Hal yang diperselisihkan hanyalah perkara-perkara partikular seperti siapa yang memperoleh syafaat. Di bawah ini kami bawakan beberapa pandangan mengenainya:

 

a)Ahli Sunnah:

An-Nawawi pensyarah Sahih Muslim mengatakan: "Dalam akidah mazhab Ahlussunnah wal Jamaah, syafaat menurut akal tidaklah mustahil dan tidak ada masalah. Menurut al-Quran dan ucapan ulama juga merupakan perkara yang jelas, sebab: pertama, al-Qur`an tidak menolak hakikat ini. Kedua, hadis-hadis mengenainya banyak sekali hingga mencapai mutawatir dan meyakinkan. Di sisi lain, ulama dahulu dan sekarang sepakat bahwa pada hari kiamat syafaat adalah bagi orang-orang beriman yang berdosa." (Haqaiq Tahrif Syiddate Islam wa Mas`alah-e Syafaat, hal 135; Durus fi asy-Syafaah wa al-Istisyfa', hal 45)

Qadhi Abdul Jabbar (tokoh Mu'tazilah) mengatakan: "Tidak diperselisihkan bahwa syafaat Nabi adalah ketetapan bagi umat, melainkan soal bahwa bagi siapakah syafaat itu?". (Syarh al-Ushul al-Khamsah, hal 688)."

Menjawab soal tersebut, ia mengatakan: "Bagi kami bahwa syafaat itu bagi orang-orang beriman yang bertaubat, dan menurut kelompok Murjiah bahwa syafaat itu bagi para pelaku salat namun mereka orang-orang fasik (yang berdosa dan mati tanpa bertaubat)."

Di kesempatan lain ia berkata: "Menurut kami, syafaat sudah popular dan klaim kami bahwa siapa yang mengingkarinya maka ia telah melakukan kesalahan yang besar. Kami katakan bahwa syafaat adalah untuk orang-orang yang kaya pahala dan para wali Allah, tidak untuk orang-orang yang akan disiksa dan para musuh-musuh Allah. Syafaat juga bagi orang-orang yang kaya pahala dan para wali Allah, merupakan tambahan kemuliaan dan derajat mereka." (Syarh al-Ushul al-Khamsah, hal 207)

Fakhrur Razi (tokoh besar Asy'ari) mengatakan: "Umat Islam sepakat bahwa Nabi saw akan memberi syafaat pada hari kiamat. Kaum Mu'tazilah mempunyai penafsiran lain soal syafaat dan mereka mengatakan: "Yang dimaksud syafaat Nabi ialah bahwa pada hari itu, syafaat beliau meninggikan pahala orang-orang saleh, dan bukan berarti membebaskan para pendosa dari azab." Tetapi yang benar adalah bahwa seluruh kelompok Islam selain kelompok itu, mengatakan: makna syafaat ialah membebaskan para pendosa dari siksaan api neraka hingga mereka tidak masuk neraka. Mereka yang disiksa dalam api neraka, berkat syafaat Nabi mereka keluar dari api neraka dan masuk surga." (Tafsir al-Kabir, juz 3, hal 51)

Abu Hafsh an-Nasafi (wafat 573) mengatakan: "Syafaat bagi para nabi dan kaum saleh pada hari kiamat adalah suatu kepastian. Dalam agama Islam masalah ini kokoh secara populer." (Farhange Aqaed wa Mazahebe Islam, hal 488)

Ibnu Taimiyah al-Harani ad-Dimasyqi (wafat 727 Q) tokoh utama akar mazhab Wahabi, mengatakan: "Nabi akan memberi syafaat bagi orang-orang yang menerima siksaan api neraka. Tak cuma Nabi bahkan seluruh nabi, orang-orang benar dan lainnya pun akan memberi syafaat kepada para pendosa agar mereka tidak disiksa. Sekiranya mereka telah masuk neraka, mereka akan keluar darinya." (Mansyure Jawid, juz 8, hal 193)

Nizhamuddin al-Qusyji (wafat 879) mengatakan: "Kaum muslimin meyakini syafaat sebagai dasar yang pasti tanpa mereka perselisihkan. Para mufassir mengatakan, yang dimaksud ayat:

«... عَسَى أَن یبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا»

"Dan pada sebagian malam hari, bacalah Al-Qur'an (dan kerjakanlah salat) sebagai suatu tugas tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji."

Adalah syafaat Nabi (saw)." (Mawarede Syirk Nazde Wahabiyan, hal 33)

Muhammad bin Abdul Wahab (pendiri kelompok Wahabi -wafat 1206) mengatakan: "Bagi kami, syafaat merupakan perkara yang tetap. Dalam doa kami: Ya Allah, jadikanlah nabi kami Muhammad pemberi syafaat pada hari kiamat." Atau: ya Allah, jadikanlah kaum yang saleh dan para malaikat-Mu para pensyafaat kami." Maka hendaklah tidak mengucapkan: "Wahai Rasul atau wali Allah, aku memohon syafaat kepadamu!" Jika Anda memohon hajat seperti ini kepada seorang yang berada di alam barzakh, adalah termasuk syirik." (Syafaat, hal 13)

Ia juga mengatakan: "Di antara perkara-perkara yang pasti di akhirat adalah syafaat. Setiap muslim wajib mengimani syafaat Nabi dan lainnya. Tetapi tugas kita adalah kita berharap kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar Dia mengabulkan syafaat Nabi untuk kita." (Kasyful Irtiyab fi Ittiba' Muhammad bin Wahhab, hal 240)

Para pendukung Abdul Wahab mengetahui atau tidak, telah menyimpulkan masalah-masalah keislaman dalam melawan beberapa masalah seperti halnya tema syafaat. Pada prakteknya mereka menjauhkan orang-orang dari kajian-kajian sosial Islam. Terkait masalah syafaat, demikian mereka mengatakan: "Tak seorangpun dibolehkan memohon syafaat kepada Nabi, misalnya: "Wahai Muhammad, syafaatilah aku di sisi Allah!." (Tarikhceh-e Naqdo Barresi Wahabiha, hal 255) Karena Allah berfirman:

«وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا؛

"Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." (QS: Jin 18)

Ridha Rasyid seorang mufassir Ahlussunnah, mengatakan:

"Sirah para pendahulu ialah bahwa syafaat adalah sebuah doa yang Allah kabulkan. Hal ini juga diterangkan dalam hadis-hadis tentang syafaat, sebagaimana dalam riwayat Sahihain dan kitab-kitab hadis lainnya bahwa Nabi pada hari kiamat dengan terilhami beliau memuji Allah, kemudian dikatakan kepadanya, "Angkatlah kepalamu dan memohonlah niscaya dikabulkan! Lalu berikanlah syafaat bahwa syafaatmu dikabulkan!" Demikian tidaklah berarti bahwa Allah berpaling dari kehendak-Nya bagi sang pensyafaat. Tetapi itu adalah penampakan karomah bagi sang pensyafaat dalam mewujudkan kehendak azali-Nya setelah ia memohon doa. Juga tidak mendukung kecerobohan orang-orang yang angkuh, mereka mengabaikan perintah dan larangan agama lantaran bersandar pada syafaat para pensyafaat. Tetapi syafaat, seluruhnya adalah kepunyaan Allah." (Tafsir al-Manar, hal 308)

Sayid Sabiq guru besar Universitas al-Azhar mengatakan: "Yang dimaksud syafaat ialah bahwa kita memohon kebaikan kepada Allah untuk umat. Pada hakikatnya, syafaat adalah antara lain dari doa-doa yang dikabulkan. Syafaat, bagian besarnya adalah berkaitan dengan Rasulullah. Beliau memohon kepada Allah agar dia yang mengadili umat manusia guna mengurangi rasa takut yang mencekam di alam mahsyar. Ketika itu Allah mengabulkan doanya. Seluruh manusia mengakui kedudukan dan keutamaan beliau yang tinggi di atas mereka semua. Itulah maqam yang tinggi dan terpuji sebagaimana yang telah Allah janjikan kepadanya. Allah berfirman:

«.... عَسَى أَن یبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا»

"Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (QS: al-Isra 79)

Ia (Sayid Sabiq) setelah membawakan sejumlah riwayat syafaat, lalu menyebutkan syarat-syarat diterimanya syafaat. (al-Aqaid al-Islamiyah, hal 73)

 

b)Syiah:

Syekh Mufid seorang ulama besar Syiah, mengatakan: "Imamiyah sepakat bahwa Nabi saw pada hari kiamat akan memberi syafaat bagi para pelaku dosa-dosa besar. Selain beliau, Amirul mu`minin dan para imam (Ahlulbait) akan memberi syafaat sesudah Nabi bagi kaum syiah yang berdosa. Banyak dari mereka yang berdosa selamat berkat syafaat para imam. Tetapi kelompok tertentu dari Ahlussunnah seperti Mu'tazilah bertentangan dengan kami Imamiyah, bahwa syafaat Nabi berkaitan dengan orang-orang yang taat dan bukan dengan kaum pendosa. Nabi tidak akan memberi syafaat bagi orang-orang yang ditetapkan dalam siksaan. Dalam keyakinan mereka, syafaat itu menambah pahala, bukan mengampuni dosa." (Awail al-Maqalat, hal 29)

Abu Ali Muhammad bin Ahmad Fatal an-Naisyaburi dalam kitabnya Raudhatu al-Wa'izhin setelah menukil sejumlah ayat dan riwayat tentang syafaat, mengatakan: "Tiada perselisihan di antara muslimin bahwa syafaat adalah termasuk prinsip Islam yang tak terbantahkan. Melainkan para pengikut aliran Wa'idiyah mengatakan: "Hasil syafaat adalah penambahan pahala dan pengangkatan derajat." Tetapi yang lainnya menafsirkan bahwa syafaat ialah keselamatan hamba-hamba yang berdosa." Kemudian ia (Abu Ali) merampungkan kajiannya dengan menolak pandangan yang pertama. (hal 405)

Khajeh Nashiruddin ath-Thusi mengatakan: "Keyakinan pada syafaat merupakan ijma' dan adalah termasuk akidah yang benar dalam Islam, baik merupakan penambahan pahala maupun pembatalan hukuman." (Kasyfu al-Murad fi Tajrid al-I'tiqad, hal 443)

Allamah Hilli juga mengatakan: "Ulama sepakat bahwa Nabi pada hari kiamat akan memberi syafaat. Bukti atas syafaat beliau adalah ayat:

«... عَسَى أَن یبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا؛

"Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (QS: al-Isra 79)

Ayat ini ditafsirkan dengan syafaat. Perbedaan pandangan mengenainya bahwa satu kelompok mengatakan: tujuan syafaat ialah penambahan pahala bagi orang-orang beriman. Tetapi kelompok lain mengatakan: tujuannya adalah penyelamatan para pendosa dari azab, dan inilah yang benar." (ibid hal 444)

Almarhum Thabrasi mufassir besar Syiah mengatakan: "Kaum muslimin tidak mempersoalkan adanya syafaat Nabi pada hari kiamat. Kendati soal bagaimana syafaat terjadi perbedaan pandangan di antara kelompok Mu'tazilah dan lainnya. Kami kaum Syiah mengatakan bahwa tujuan syafaat Nabi adalah keselamatan para pendosa dari azab dan balasan dosa. Sedangkan Mu'tazilah mengatakan: syafaat Nabi berlaku bagi orang-orang yang taat atau para pendosa yang telah bertaubat." (Tafsir Majma' al-Bayan, juz 3, hal 83)

Oleh karena itu, akidah Syiah terkait syafaat adalah sebagaimana akidah ulama besar Syiah. Sebab mereka dalam menyimpulkan ilmu-ilmunya merujuk pada empat pilar: al-Qur`an, sunnah, ijma' dan akal. Kesimpulan bagi keyakinan ini adalah sebagai berikut:

1-Syafaat adalah atas izin Allah.

2-Para pensyafaat adalah para nabi terutama Rasulullah saw dan para imam suci dari Ahlulbaitnya, orang-orang mukmin pilihan dan kaum yang saleh serta para malaikat Allah.

3-Kaum yang disyafaati adalah orang-orang mukmin yang telah berbuat dosa-dosa besar, tetapi agama mereka diridhai Allah.

4-Guna syafaat adalah apabila seorang hamba tidak berdosa atau berdosa lalu bertaubat, maka menjadi pengangkatan derajat. Sedangkan bagi orang-orang yang ditetapkan dalam siksaan, menjadi terampuni dan orang-orang yang dalam siksaan akan keluar dari azab. Bagi mereka yang banyak dosanya, siksaan mereka diringankan.

Pandangan ulama besar Syiah tentang keyakinan ini, sebagaimana dalam kitab "I'tiqadat" adalah demikian diterangkan: "Keyakinan kami akan syafaat adalah bagi siapa yang Allah ridhai agamanya dari hamba-hamba yang berbuat dosa-dosa besar maupun kecil. Syafaat tidak berlaku bagi kaum yang dalam keraguan dan kaum syirik, juga tidak bagi kaum kafir dan pembangkang. Tetapi berlaku bagi para pendosa yang bertauhid." (Shaduq hal 66)

Dari penelitian berbagai pandangan kelompok-kelompok Islam, sampailah pada kesimpulan bahwa tiada satupun yang mengingkari syafaat. Perbedaannya terkait soal siapa yang disyafaati.

Kelompok-kelompok tersebut terbagi pada dua golongan:

Mu'tazilah dan yang sependapat dengannya mengatakan bahwa yang disyafaati adalah para kekasih Allah, dan syafaat berlaku untuk pengangkatan derajat mereka. Sebagaimana yang dikatakan Syekh Abu Imran dalam kitabnya: "Para pendosa tidak akan memperoleh syafaat. Dan pandangan Murjiah yang didasari bahwa syafaat adalah perkara yang mungkin, yang dapat mencegah para pendosa dari masuk neraka, tidaklah benar." (Mas`aleh-e Ikhtiyar dar Tafakkure Islami wa Pasukhe Mu'tazileh be on,-terjemahan Ismail S'adat, hal 354)

Syiah dan Asya'irah mengatakan bahwa yang disyafaati adalah orang yang berdosa, dan syafaat berlaku bahwa dosanya diampuni dan ia selamat dari siksaan.

Sayid Murtadha mengatakan: "Seluruh muslimin mempercayai syafaat Nabi. Tetapi soal siapa yang akan disyafaati, terdapat dua kelompok mengenainya:

1-Mu'tazilah, kaum Khawarij dan Zaidiyah, bahwa: syafaat berlaku hanya bagi orang-orang yang bertaubat sebelum mati dan tidak berbuat dosa.

2- Murjiah, Syiah dan Asya'irah, bahwa: syafaat berlaku bagi orang-orang yang ditetapkan dalam siksaan. Dengan syafaat mereka terlepas dari siksaan." (Syarh Jumal al-‘Ilm wa al-‘Amal, hal 156)

Ayatullah Subhani juga mengatakan: "Imamiyah dan Asya'irah meyakini bahwa kekal dalam neraka adalah bagi kaum kafir. Sedangkan orang-orang Islam yang berdosa, setelah sekian masa keluar dari neraka menuju surga. Sementara pandangan Mu'tazilah bahwa kekal dalam neraka diperuntukkan kaum kafir dan orang-orang Islam pelaku dosa-dosa besar yang tidak bertaubat. Dalam hal ini mereka bersandar pada sejumlah ayat yang jika diperhatikan apa yang terkandung di dalamnya, argumentasi mereka jelas sekali lemah." (Farhange Aqaed wa Mazaheb Islam, hal 175) (IRIB Indonesia/Taqrib/SL)

 

Pustaka:

1-al-Qur`an (terjemahan –Persia- oleh Muhammad Mahdi Fuladund.

2-Nahjul Balaghah (terjemahan Muhammad Dasyti, cet tahun 1379 Syamsiyah).

3-Sahifah Sajjadiyah.

4-Musnad Ahmad bin Hanbal.

5-Kasyful Irtiyab fi Ittiba' Muhammad bin Abdul Wahab.

6-Sahih Bukhari (cet Beirut tahun 1407 Q)

7-al-Mahasin.

8-Sunan Turmudzi (cet Darul Fikr, Beirut, tahun 1403).

9-Tafshil Wasail asy-Syiah ila Tahsil Masail asy-Syariah (cet II tahun 1414 Q)

10-Ta`wil al-Ayat azh-Zhahirah.

11-Durus fi asy-Syafaah wa al-Istisyfa'.

12-Kasyful Murad fi Syarh tajrid al-I'tiqad.

13-Sunan ad-Darimi (cet I tahun 1349)

14-Lughat Nameh Dehkhuda (cet II tahun 1377 Syamsiyah)

15-Tafsir al-Kabir (cet I tahun 1411 Q)

16-Tafsir al-Manar (cet II)

17-Mawarede Syrik nazde Wahabiyan.

18-Farhange Aqaed wa Mazaheb Islami (cet II tahun 1383 Syamsiyah)

19-Mansyure Jawid.

20-Fi Zhilal at-Tauhid.

21-Manaqeb Ali Abi Thalib.

22-Mutasyabeh al-Qur`an.

23-Syarh Jumal al-‘Ilm wa al-‘Amal.

24-al-Aqaid al-Islamiyah (Sayid Sabiq)

25-Tarikhceh Naqdo Barresi Wahabiha (cet II tahun 1367 Syamsiyah).

26-Mas`aleh-e Ikhtiyar dar Tafakkure Islami wa Pasukhe Mu'tazileh be on (terjemahan Ismail Sa'adat).

27-‘Ilal asy-Syaraye'.

28-al-Amali (syekh Shaduq)

29-al-Khishal

30-‘Uyun Akhbar ar-Ridha (terjemahan Ali Akbar Ghifari).

31-Man la Yahdhuruhu al-Faqih.

32-Syafaat (Sayid Hasan Tahiri Khurram-abadi).

33-Tafsir Majma' al-Bayan.

34-al-Amali (syekh Thusi).

35-Tahdzib al-Ahkam fi Syarh al-Muqniah.

36-at-Tibyan fi Tafsir al-Qur`an.

37-Awail al-Maqalat.

38-Raudhatu al-Wa'zhin.

39-at-Tawassul wa az-Ziyarah fi asy-Syariah al-Islamiyah (cet Mesir tahun 1388 Q).

40-Syarh al-ushul al-Khamsah (cet Mesir tahun 1384 Q).

41-Thabaqat al-Mu'tazilah (cet I tahun 1393, Tunis).

42-Sunan Ibnu Majah (cet I tahun 1421 Q, Beirut).

43-Tafsir al-Qummi.

44-Ushul al-Kafi (terjemahan Muhammad Baqir Kamrei).

45-Bihar al-Anwar.

46-Mizan al-Hikmah.

47-Sunan an-Nasai (cet I, tahun 1348, Beirut).

48-Haqaeq Tahrif Syiddate Islam wa Mas`aleh-e Syafaat.

49-Kanzul ‘Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af'al (cet V, tahun 1985 M).

 


[1]Mungkin yg dimaksud bahwa syafaat mereka bergantung pada syafaat Allah.-penerj

Read 4515 times