Hari Raya Gadir Khum (18 Dzul-Hijjah)

Rate this item
(0 votes)
Hari Raya Gadir Khum (18 Dzul-Hijjah)
 

Dalam surat al-Maidah ayat 67 disebutkan:

یَا أَیُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَیْکَ مِن رَّبِّکَ

Yang artinya: “Wahai Rasul sampaikanlah (kepada masyarakat) apa yang telah diwahyukan Tuhanmu.” Itu adalah suara malaikat pembawa wahyu yang terdengar di telinga dan kalbu Rasulullah Saw. Pada waktu itu, Nabi Muhammad Saw, Rasul dan penjaga amanat Allah Swt itu gelisah. Tampaknya ada yang beliau khawatirkan. Beliau mengkhawatirkan masa depan Islam. Oleh karena itu, penyampaian pesan tersebut ditangguhkan, sampai pada saat yang tepat. Namun sang pembawa wahyu Allah Swt, malaikat Jibril, kembali turun dan menyampaikan kembali ayat yang telah disebutkan. Kemudian dengan nada lebih serius Jibril berkata:

وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Dan jika tidak kau lakukan maka tidak pula kau sampaikan risalah [agama]-Nya”

 

Selanjutnya untuk menenangkan hati Rasulullah Saw yang telah dengan segenap jiwa dan raga berjuang demi Islam, malaikat Jibril berkata:

وَاللّهُ یَعْصِمُکَ مِنَ النَّاسِ

“Dan Allah [Swt] akan menjagamu dari [gangguan] masyarakat.”

 

Pada tahun ke-10 Hijriah Rasulullah Saw mengumumkan akan menunaikan haji dan mengimbau masyarakat yang mampu untuk menyertai beliau, karena akan ada ketetapan penting dalam hukum Islam yang hingga kini belum disampaikan secara sempurna dan resmi kepada masyarakat. Salah satunya adalah masalah haji dan berikutnya adalah masalah kepemimpinan dan penerus sepeninggal beliau.

 

Setelah pengumuman dari Rasulullah Swt itu, mayoritas umat Islam berduyun-duyun menuju Mekkah untuk mempelajari perincian haji dari Rasulullah Saw. Selain itu, Rasulullah Saw juga menyebutkan bahwa tahun itu adalah tahun terakhir kehidupan beliau. Atas pertimbangan itu pula, jumlah orang yang menyertai haji Rasulullah Saw mencapai 120.000 orang. Rasulullah Saw melaksanakan manasik haji satu per satu dan juga menjelaskan amalan wajib dan mustahabnya kepada masyarakat.

 

Di Mina, Rasulullah Saw menyampaikan khutbah panjang kepada masyarakat. Pada bagian awal khutbah itu, Nabi Muhammad Saw menyinggung keamanan sosial umat Islam dari sisi nyawa, harta dan kehormatan. Kemudian beliau mengampuni darah yang tertumpah dan harta yang terampas di era jahiliyah agar tidak ada lagi dendam dan permusuhan sehingga terwujud keamanan dalam masyarakat Islam. Rasulullah Saw memperingatkan masyarakat soal ancaman perpecahan sepeninggal beliau dan menyampaikan hadis yang terkenal dengan nama hadis Tsaqalain. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Aku akan tinggalkan untuk kalian dua hal, kitab Allah Swt (al-Quran) dan itrahku (Ahlul Bait as), jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan pernah tersesat.”

 

Pada hari ketiga di Mina, kembali Rasulullah Saw menginstruksikan masyarakat berkumpul di masjid Khaif. Di sana, Rasulullah kembali menyampaikan khutbah. Pada khutbah itu beliau menekankan keikhlasan dalam amal, kecintaan kepada imam umat Islam serta menghindari perpecahan serta keseteraan semua orang di hadapan hukum dan ketetapan Allah Swt. Kemudiah beliau memaparkan pentingnya kepemimpinan sepeninggal beliau dengan mengulang hadis Tsaqalain.

 

Rasulullah Saw yang jauh dari tanah kelahirannya, akhirnya setelah 10 tahun menginjakkan kaki di Mekkah. Oleh karena itu, diperkirakan setelah menyelesaikan manasik haji, Rasulullah Saw akan berada di Mekkah selama beberapa waktu. Namun tidak demikian. Setelah semua manasik haji terlaksana, Rasulullah Saw memanggil muadzin beliau yaitu Bilal Habasyi, untuk menyeru kepada masyarakat untuk bergerak meninggalkan kota Mekkah. Masyarakat pun menyertai Rasulullah Saw meninggalkan Mekkah. Bahkan para hujjaj dari Yaman yang jalur perjalanan pulang mereka menuju ke arah utara, tidak meninggalkan Rasulullah.

 

Ketika rombongan Rasulullah Saw sampai di wilayah Kura’ al-Ghamim, di mana Ghadir Khum juga di wilayah itu, Nabi Muhammad Saw bersabda:

 

اَیُّهَا النَّاسُ، أجیبُوا داعِیَ اللَّهِ، اَنَا رَسُولُ اللَّهِ

“Wahai masyarakat! Jawablah penyeru Allah bahwa aku adalah Rasulullah”

Ucapan Rasulullah Saw ini menunjukkan bahwa beliau akan menyampaikan sebuah pesan penting. Kemudian Nabi memerintahkan rombongan untuk berhenti. Mereka yang berjalan terdepan juga kembali, sampai akhirnya  semua berkumpul di Ghadir Khum. Masing-masing mencari tempat. Para sahabat menumpuk batu-batu dan pelana onta agar Rasulullah Saw dapat berdiri lebih tinggi hingga disaksikan semua sahabat dan agar suara beliau terdengar.

 

Para sahabat Nabi menanti beberapa waktu sampai akhirnya adzan dikumandangkan dan bersama-sama menunaikan shalat zuhur diimami Rasulullah. Usai shalat, Rasulullah berdiri di atas tumpukan batu dan pelana itu dan memanggil Ali bin Abi Thalib as serta memerintahkannya untuk berdiri di sebelah kanan dan satu tingkat lebih rendah. Setelah itu, Nabi Muhammad Saw menyampaikan khutbah bersejarahnya. Setelah memanjatkan puja dan puji kepada Allah Swt, beliau bersabda: Allah Swt telah mewahyukan kepadaku demikian: Wahai Rasul sampaikanlah (kepada masyarakat) apa yang telah diwahyukan Tuhanmu, dan jika tidak kau lakukan maka tidak pula kau sampaikan risalah [agama]-Nya, dan Allah [Swt] akan menjagamu dari [gangguan] masyarakat.”

 

Rasulullah Saw melanjutkan khutbahnya dan berkata, “Wahai masyarakat, aku tidak lalai dalam menyampaikan apa yang diwahyukan Allah Swt kepadaku. Aku akan menjelaskan kepada kalian sebab-sebab turunnya ayat ini. Jibril tiga kali menghadapku dan dari sisi Allah Swt dia memerintahkanku untuk mengumumkan kepada kalian semua bahwa Ali bin Abi Thalib, adalah saudaraku, wakilku dan penggantiku untuk umatku dan imam sepeninggalku. Wahai masyarakat! Aku meminta Jibril untuk memohon kepada Allah agar aku dibebaskan dari penyampaian pesan ini, karena aku mengetahui hanya sedikit orang yang bertakwa serta banyaknya orang-orang munafik dan para mufsidin pendosa dan berbagai tipu daya mereka dalam mengolok agama Islam. Akan tetapi Allah Swt pada kali ketiga, memperingatkanku bahwa jika tidak aku sampaikan pesan ini maka aku juga tidak menyampaikan risalah-Nya.” 

 

Rasulullah Saw juga menjelaskan 12 imam yang akan memimpin umat sepeninggal beliau dan bersabda, “Wahai masyarakat! Ini adalah terakhir kalinya aku berbicara dalam perkumpulan seperti ini. Maka dengarkan dan patuhilah dan berserahdirilah kalian di hadapan perintah Allah Swt. Ketahuilah bahwa yang halal dan haram sangat banyak bagiku untuk menjelaskannya satu per satu, oleh karena itu, aku akan mengatakannya sekali bahwa aku memerintahkan [kalian] pada yang halal dan aku melarang [kalian] dari yang haram dan untuk menjelaskannya aku diperintahkan untuk mengambil baiat dari kalian dan berjanji dalam jabat tangan bahwa kalian menerima apa yang datang dari sisi Allah Swt terkait Ali sebagai Amirul Mukminin dan para imam dari keturunanku dan Ali. Dan Mahdi adalah hakim kebenaran hingga hari akhir.”

 

“Wahai masyarakat! Jumlah kalian sedemikian banyak untuk satu per satu berjabat tangan denganku akan tetapi sesuai perintah Allah Swt aku harus mengambil pengakuan kalian satu per satu bahwa kalian telah menerima posisi kepemimpinan atas umat Mukmin yang telah aku tetapkan untuk Ali, dan juga aku diperintahkan untuk mendapat pengakuan dan baiat tentang penerimaan keimaman dan kepemimpinan dari keturunanku dan keturunan Ali. Dengan demikian, katakan secara bersama-sama: kami telah mendengar apa yang telah kau sampaikan dari sisi Allah Swt kepada kami tentang kepemimpinan multak Ali dan para imam setelahnya yang dari keturunannya, dan kami mematuhi, berserah diri serta kami ridho atas perintah tersebut! Sekarang kami menerima kepemimpinanmu dengan berbaiat dengan jiwa, hati, mulut dan tangan kami dan berjanji untuk hidup dan mati dengan keyakinan tersebut sampai kami dibangkitkan.”

 

Lalu para sahabat pun dengan suara lantang mengiyakan seruan Rasulullah Saw. Kemudian para sahabat  mengerumuni Rasulullah Saw dan Amirul Mukminin. Untuk meresmikan baiat, Rasulullah Saw memerintahan kepada para sahabatnya untuk mendirikan dua tenda, yang satu untuk beliau dan lainnya untuk Amirul Mukminin. Dengan demikian para sahabat dapat secara teratur berbaiat kepada Rasulullah Saw kemudian menuju Amirul Mukminin untuk berbaiat dan mengucapkan selamat kepada beliau. 

 

Acara baiat itu belum selesai, Nabi Muhammad Saw kembali menerima wahyu yaitu ayat 3 surat al-Maidah:

 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.”
 

Read 83 times

Add comment


Security code
Refresh