کمالوندی
Mari, Membuat Hidup Lebih Baik (1)
Manusia membutuhkan berpikir tentang alam, pencipta dan kekuasaan-Nya yang tak terbatas untuk hidup lebih baik.
Kehidupan itu indah, buka matamu
Kelilingi rahasia lorong dan taman,
Kehidupan adalah anugerah yang diberikan kepada kita. Kehidupan penuh dengan kebaikan dan kuburukan, pasang dan surut serta tanjakan dan turunan, terkadang sangat sulit dilalui dan terkadang begitu menarik hati, sehingga kita tidak menyadari ternyata waktu telah berlalu. Kelsulitan pada dasarnya pengalaman kehidupan setiap manusia. Ketika manusia menyadari bahwa kesulitan juga akan pergi dan kenikmatan hidup juga bakal meninggalkan kita, kita tidak akan kehilangan kontrol ketima menhadapi kesulitan, tidak tenggelam dalam kenikmatan. Dengan demikian, bangun yang terbaik untuk diri kita dan memanfaatkan sebaik mungkin dari anugerah kehidupan ini.
Kita memiliki kekuatan yang mampu mengubah keputusasaan menjadi harapan, kekalahan menjadi kemenangan dan air mata dengan senyuman dengan bantuan kehendak, usaha dan mengambil pelajaran dari pengalaman. Kita harus memiliki kemampuan untuk membuat hidup kita lebih baik, sehingga kita dapat menikmati saat-saat kehidupan kita dipenuhi kegairahan dan kebahagiaan.
Kita selalu berusaha untuk mencapai kebahagiaan, sebagai satu prinsip dan aturan yang harus diraih. Padahal tidak ada jenis obat yang semacam ini di luar kita. Karena cara pandang setiap manusia, kecenderungan dan keinginannya berbeda dengan orang lain, maka tidak satu aturan yang bisa diberikan kepada semua orang, tetapi perbedaan setiap individu inilah yang memaksa manusia untuk mencari solusi bagi bagaimana hidup lebih baik.
Untuk hidup lebih baik ada sejumlah kaidah dan aturan umum yang banyak dijelaskan lewat lisan para tokoh agama, ilmuan dan psikolog. Memperhatikan ucapan mereka akan mempermudah manusia melewati jalan yang diinginkannya. Mereka meyakini bahwa untuk hidup lebih baik maka yang harus terjadi pada tahap awal di "benak" kita. Para psikolog meyakini bahwa benak manusia memiliki kekuatan luar biasa. Karenanya mereka mengatakan, "Pikiranmu sangat menentukan dan menjadi kontrol atas segala peristiwa yang akan terjadi bagimu."
Manusia memiliki kemampuan untuk memperbaiki model benaknya. Setelah melakukan percobaan dan kesalahan yang dilakukan manusia dalam kehidupannya, ia akan sampai pada satu titik bahwa dirinya mampu menganalisa jalannya. Sebagai contoh, manusia dapat memahami bahwa bila ia mengambil keputusan tertentu dalam beberapa tahun lalu, sekarang ia pasti memiliki kehidupan yang lebih baik, tetapi dengan mengambil keputusan yang salah, ia menghadapi berbagai masalah yang melilitnya.
Sebagaimana manusia tidak berpikir dan menganalisa pekerjaan-pekerjaannya. Mereka sepertinya berkeyakinan bahwa "apa yang bakal terjadi pasti terjadi". Mereka tidak mencari hidup yang lebih baik dan membiarkan dirinya seperti dedaunan yang ditiup angin. Membiarkan akal dan tidak memikirkan apa yang terjadi akan membuat manusia menghadapi banyak masalah. Nabi Muhammad Saw dan para nabi as selalu berusaha mendidik dan melatih kekuatan akal dan pikiran masyarakat. Nabi Muhammad Saw berusaha membimbing umat Islam untuk berpikir, menganalisa dan memperhatikan segala urusan, sehingga mereka dapat membuat hidupnya lebih baik.
Berpikir dapat mendidik dan menyempurnakan jiwa manusia. Lewat berpikir, kesalahan dapat diminimalisir sekecil mungkin dan menunjukkan kekuatan jiwa manusia. Berpikir akan membuka jalan lurus menuju hakikat alam. Dalam berpikir ada energi yang akan menarik seseorang yang sedang berpikir untuk berhubungan dengan masalah yang dipikirkan lalu menjalin hubungan di antara keduanya. Ketika seseorang terbiasa memikirkan hal-hal yang baik, pribadi itu akan tertarik menuju kebaikan dan perilakunya menjadi indah dan layak. Ini adalah hakikat yang telah dijelaskan dalam banyak riwayat dan ucapan Ahlul Bait as.
Imam Shadiq as berkata, "Berpikir akan mengajak manusia pada kebaikan dan mengamalkannya." Siapa saja dengan berpikir dapat mengaktualisasikan kekuatan agung yang tersimpan dalam dirinya. Masalah ini membawa kabar gembira bagi manusia untuk dapat hidup lebih baik.
Ada masalah yang dihadapi ketika seseorang menapaki jalan berpikir yang dalam dan benar, dimana manusia sepanjang hari diserang oleh berbagai pikiran. Terkadang manusia tenggelam dalam pemikiran akibat peristiwa dan kenangan sebelumnya yang tidak disukai ini, dimana pikiran ini tidak menguntungkan kondisinya saat ini atau sebaliknya, melemahkan energinya dan merusak vitalitas kehidupan dan keceriaan manusia.
Memikirkan kenangan yang tidak menyenangkan sangat memakan energi manusia. Jadi sangat penting bagi manusia untuk mengendalikan pikiran. Koreksi dan pengelolaan gagasan telah lama menjadi keinginan umat manusia. Karena pikiran adalah aspek terpenting dari keberadaan manusia dan hak istimewa manusia atas makhluk lain, maka kita harus memanfaatkan kekuatan besar ini dan mempelajari cara berpikir yang benar.
Dalam banyak riwayat dari para Maksum as dan ayat-ayat al-Quran, cara berpikir terbaik adalah berpikir tentang menemukan fakta dan ada atau tidak seperti mengenal Allah, mengenal hakikat hidup dan mengenal manusia. Imam Shadiq as dalam hal ini berkata, "Manusia mengenal Tuhan-nya lewat akalnya dan mengetahui bahwa Dia adalah Pencipta." Sementara Imam Ali as mengatakan, "Mengenal Allah akan langgeng dengan bantuan akal."
Manusia membutuhkan berpikir tentang alam, pencipta dan kekuasaan-Nya yang tak terbatas untuk hidup lebih baik. Mengenal dan mengandalkan Allah yang tidak ada bandingannya memberi manusia kedamaian. Dengan mengetahui bahwa Allah yang kekuasaan-Nya tak terbatas selalu melihat dan mengawasi Anda, dan jika Anda meminta kepada-Nya Dia pasti mengabulkan, maka banyak kegelisahan dan kekhawatiran sia-sia akan menjauh dari Anda. Mengenal Allah dapat memoles hati lebih mengkilap dan membuat akal lebih siap untuk menerima lebih banyak hakikat.
Dalam surat Ali Imran ayat 191, Allah Swt berfirman, "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."
Al-Quran memperkenalkan orang-orang seperti ini sebagai orang yang bijak dan suka berpikir. Mereka yang berpikir adalah pribadi yang selalu mengingat Allah dalam segala kondisinya dan memikirkan akan penciptaan alam semesta. Ketika memikirkan akan penciptaan alam semesta, mereka memahami adanya pencipta yang sekaligus mengatur alam semesta dan karenanya mereka selalu berzikir dan mengingat-Nya.
Mereka yakin bahwa di luar dunia ini, ada kehidupan abadi yang telah dijanjikan Allah sebagai balasan atas apa yang dilakukan selama di dunia. Dalam pandangan al-Quran, orang-orang bijak dan yang berpikir menyadari bahwa tanpa akhirat dan alam di balik dunia ini, masalah penciptaan menjadi batal secara mendasar. Mereka meminta belas kasihan dan rahmat Allah. Pemikiran ini mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dan menghentikannya dari tindakan jelek. Demikianlah, berpikir akan membawa manusia untuk hidup lebih baik.
Berpikir tentang alam semesta, alam akhirat dan yakin bahwa Allah tidak pernah melakukan pekerjaan yang sia-sia serta tujuan penciptaan manusia adalah untuk mendidiknya menuju kebaikan dan transenden, dan memperkuat akhlaknya. Dalam hal ini, seseorang dapat memilih dan memilah antara moral yang jelek dan baik dan selalu mengambil langkah di jalan keutamaan dan dan kebaikan. Imam Shadiq as saat menjelaskan tentang aspek akal mengatakan, "Akal mampu mengenal perbuatan baik dari buruk."
Sekarang tiba waktunya untuk mempertimbangkan saat-saat dalam kehidupan Anda. Bagaimana Anda menghabiskan hidup anda?Apakah Anda telah berpikir sebelumnya atau hanya ingin mengalami dan melewatinya?
Cara terbaik adalah berpikir. Mulailah dengan berpikir untuk dapat melewati jalan tanpa akhir bersama-sama dengan aspek lain dari kehidupan yang lebih baik.
Hidup adalah pencarian
Hidup adalah kebisingan
Kehidupan adalah malam baru, hari baru dan pikiran baru...
Nabi Muhammad Saw Dalam Pandangan Orientalis (8)
Sudah lewat tengah hari. Pada 8 Mei 1840, Carlyle memulai pidatonya di ruang konferensi di Portman Square, London. Dia mengklaim bahwa dia berniat untuk membawa audiens ke zaman asal agama yang sangat berbeda dari era sebelumnya.
Sudah lewat tengah hari. Pada 8 Mei 1840, Carlyle memulai pidatonya di ruang konferensi di Portman Square, London. Dia mengklaim bahwa dia berniat untuk membawa audiens ke zaman asal agama yang sangat berbeda dari era sebelumnya. Dan di antara bangsa yang sama sekali berbeda, dengan zaman Muhammad di antara orang-orang Arab. "Pahlawan tidak lagi dianggap sebagai dewa di antara para pengikutnya, tetapi seorang nabi yang dipengaruhi oleh inspirasi ilahi," ungkapnya.
Thomas Carlyle adalah seorang penulis, filsuf dan sejarawan Inggris terkenal yang telah meninggalkan banyak karya. Pemikir terkemuka ini telah sangat mempengaruhi pemikiran politik, agama, dan sastra abad kesembilan belas. Dengan memberikan serangkaian kuliah tentang para pahlawan sejarah, ia menjadi tokoh terkemuka di antara pers sastra dan publik. Pidatonya diterima dengan baik. Serangkaian kuliah yang berjudul "On Heroes, Hero-Worship, and the Heroic in History," telah dicetak ulang berkali-kali.
Dalam pandangan Carlyle, pahlawan adalah orang yang memiliki wawasan dan misteri. Pahlawan mengamati sifat dan esensi dari fenomena material dan menafsirkan realitas bagi massa, sehingga membuat sejarah. Dalam pidatonya yang kedua, berjudul "Kepahlawanan dalam Jubah Nabi, Muhammad, Islam," Carlyle menempatkan Muhammad sebagai salah satu tokoh besar dan heroik dalam sejarah dunia, dengan mengatakan, "Karunia paling berharga yang diberikan Tuhan kepada makhluk duniawi adalah seorang jenius seperti Muhammad yang diwahyukan kepada kita melalui pesan ilahi dari dunia yang lebih tinggi."
"... biarkan mereka memanggilnya apa pun yang mereka inginkan. Tidak ada kekaisaran dengan mahkota dan takhta yang begitu ditaati seperti ini, sehingga pria ini dalam jubah sederhana yang dijahit oleh tangannya sendiri, yang telah menanggung semua penderitaan dan cobaan hidup yang paling sulit selama dua puluh tiga tahun, dan telah mengalami banyak kesulitan. Secara pribadi, saya melihat dalam dirinya semua karakteristik pahlawan sejati, itu saja ..." tambah Carlyle.
Aku ingin memberitahu semua hal baik dirinya sehingga aku bisa mengatakan yang sebenarnya ... Kebohongan yang telah dikumpulkan di sekitar pria ini hanya membuat kami jelek dan memalukan ...
Pernyataan Carlyle ini mengingatkan kita tentang peristiwa historis penaklukan Mekah oleh Nabi Saw yang terjadi tanpa perang atau pertumpahan darah. Abu Sufyan, salah satu pemimpin musyrikin Mekah, berjalan perlahan dan diam-diam dengan Abbas, paman Nabi, ke kamp Muslim malam sebelumnya. Di pagi hari, dia melihat bahwa orang-orang sangat mencintai Nabi sehingga mereka mengambil air wudhu Nabi dari satu sama lain dan menuangkannya di kepala dan wajah mereka. Ia berkata ke Abbas, "Wow! Saya melihat Kasra dan Caesar, raja Iran dan kaisar Romawi, tetapi saya tidak melihat kejutan bahwa Muhammad, keponakan Anda, ada di antara mereka. Mereka memerintah rakyat dengan paksa dan dengan bayonet, tetapi ini memerintah hati rakyat, ia memiliki emosi dan iman rakyat, dan cinta rakyat adalah untuknya."
Saat memuji Muhammad Saw, sejarawan Inggris ini mengatakan, "Dia adalah salah satu dari mereka yang tidak memiliki apa-apa selain cinta dan kehangatan yang penuh gairah, dan dia adalah salah satu dari mereka yang alam telah membuat mereka tulus dan akrab. Sementara yang lain berjalan di jalur semboyan dan bidah menyesatkan, dan pada saat yang sama puas dan bahagia, pria ini tidak bisa membungkus dirinya dengan slogan-slogan itu. Rahasia besar keberadaan, dengan semua kengerian dan kejayaannya dan dengan semua kemuliaan dan kemegahannya, bersinar terang dan jelas di matanya ... Kata orang seperti itu adalah suara langsung dari hati alam. Orang harus mendengarkannya, dan jika mereka tidak mendengarkannya, mereka seharusnya tidak mempercayai suara apa pun, karena semuanya menentangnya.
Setelah pidato dan artikel Carlyle, banyak kebenaran dan kebohongan tentang nabi terakhir Allah menjadi jelas, dan bahkan kemudian gelombang serangan irasional terhadap Nabi berkurang. Dalam pidatonya, ia mencoba menanggapi ambisi dan nafsu Nabi. Sementara dia sangat bersemangat, dia berkata: "Jika musuh melihat kebenaran, mereka akan menyadari bahwa di dalam jiwa lelaki agung ini ada keinginan yang lebih tinggi dan lebih baik di luar kehausan dan keinginan. Pikirannya berada di atas keserakahan duniawi dan ambisi serta monarki ... Betapa menindas dan tidak adil menuduh seseorang seperti Nabi sebagai pencari nafsu atau mengatakan bahwa ia tidak punya pilihan selain menikmati dirinya sendiri. Bagaimana bisa seseorang yang mengaitkan dengan kesucian dan kehormatan serta memanggilnya Muhammad sebagai orang yang dipercayainya, seseorang yang berusia 25 tahun membawa wanita berusia empat puluh tahun dan puas dengan seorang wanita tua hingga usia lima puluh tahun, menisbatkan hawa nafsu kepadanya?!
Carlyle dengan indah menjawab kepada mereka yang menuduh Nabi Saw, "Saudaraku, apakah kamu pernah melihat pembohong memiliki kekuatan untuk membuat agama dan menyebarkannya ke seluruh dunia? Saya bersumpah kepada Tuhan bahwa orang yang tidak peduli dan berbohong tidak memiliki kekuatan untuk membangun rumah. Dia tidak bisa membangun rumah tempat jutaan Muslim bisa hidup selama 14 abad. Jika pembohong membangun rumah ini, itu sudah pasti hancur dan musnah ... Sayangnya! Betapa memalukannya fantasi itu! Betapa miskin dan lemahnya pemilik pemikiran ini ... Saya melihat sejarah dan melihat bahwa kebenaran dan kejujuran adalah dasar dari kehidupan Nabi dan semua perbuatan baik dan sifatnya."
Carlyle mengingatkan audiensnya bahwa dari awal hingga akhir hidupnya, tidak ada kontradiksi dalam perilaku Muhammad Saw. Dari masa kecilnya, dia dikenal sebagai orang yang dapat dipercaya, jujur, baik hati, wajah ceria, ramah, berpandangan jauh ke depan, penuh perhatian dan rendah hati. Sepanjang hidupnya, Muhammad Saw telah berperang melawan kekerasan, keegoisan, ambisi, dan ketidakadilan. Muhammad Saw memperkenalkan hukum-hukum sipil dan moral untuk menghilangkan kebiadaban dan mengganti pelanggaran hukum dan kekacauan dengan ketertiban dan peradaban. Bertentangan dengan kepercayaan populer di Eropa, bukunya, al-Quran, tidak mengajarkan prinsip-prinsip yang tidak bermoral, tidak terkendali, tetapi, pada kenyataannya, kehidupan moral yang sangat terkontrol, tertib, dan sesuai dengan kehendak Tuhan dan menilainya sebagai bagian dari kewajiban agama dan kemanusiaan umat Islam.
Carlyle berusaha menggambarkan keinginan Muhammad untuk mendapatkan wawasan tentang realitas alam semesta. Ia menulis, "Sejak dahulu kala, ada pikiran-pikiran tinggi di benak lelaki ini; dia berkata pada dirinya sendiri, 'Apa aku?' Apa dunia tanpa batas tempat saya tinggal ini? Apa itu kehidupan? Apa itu kematian? Tebing-tebing gunung Hira yang menakutkan dan pasir Hijaz yang panas tidak dapat memberinya jawaban. Langit biru, dengan segala keagungan dan ketinggiannya, dan bintang-bintang yang bersinar di kepalanya, tidak merespons. Cahaya kecemerlangan menemui Muhammad. Menemukan fakta bahwa makna hidup adalah Islam, adalah tunduk pada kehendak Tuhan."
Di akhir pidatonya, Carlyle menyimpulkan cintanya pada Nabi dalam semangatnya yang tenang dan hatinya yang menembus seraya mengatakan, "Anak gurun ini, dengan hati yang dalam dan mata yang hitam dan tajam, dan dengan semangat sosial yang luas, membawa bersamanya segala macam pikiran kecuali ambisi. Semangat yang tenang dan luar biasa!
Pada abad ke-19, sejumlah besar pria dan wanita Inggris di masa Ratu Victoria Inggris menyebut Carlyle sebagai pemikir baru yang membentuk dan membimbing pemikiran keagamaan dan mengguncang fondasi keyakinan dan stereotip yang tidak fleksibel, tetapi selama kurang lebih lima puluh tahun, sampai semua orang berani secara terbuka dan percaya diri mengakui dan memujinya di depan publik dan untuk melakukan penelitian serius tentang al-Quran dan Nabi Muhammad Saw, sesuai dengan ide kebenaran.
Nabi Muhammad Saw Dalam Pandangan Orientalis (7)
Pada abad ke-19, Nabi Muhammad Saw dan ajaran-ajaran ilahinya menjadi fokus para penyair besar Rusia.
Nabi Saw, sumber dari segala kebaikan, etika yang baik dan belas kasihan dan penyayang, dengan daya tarik dan pengaruh spiritualnya yang unik, tidak hanya sangat mempengaruhi pikiran orang-orang penyembah berhala dan sesat lalu mengubah hidup mereka, namun berabad-abad kemudian, siapa pun yang menggali jauh ke dalam kepribadian obor abadi ini, magnetnya bakal memikat dirinya dan akan tunduk dengan pesan kebenaran dan ajarannya yang menebarkan kehidupan.
Pada abad ke-19, Nabi Muhammad Saw dan ajaran-ajaran ilahinya menjadi fokus para penyair besar Rusia. Banyak penyair Rusia menulis puisi dengan terinspirasi oleh al-Quran dan konsep-konsep Islam. Setelah penandatanganan Perjanjian Golestan dan aksesi Kaukasus ke Rusia pada 1192 HS, orang-orang Rusia banyak yang melakukan perjalanan ke daerah ini dan menjadi lebih akrab dengan Islam, al-Quran dan Nabi.
Pada prinsipnya, Timur memainkan peran penting dalam karya-karya penulis besar Rusia. Sifat menakjubkan dari Timur telah menyebabkan munculnya karya seni, penulis dan penyair seperti Pushkin, Lermontov, Tolstoy dan lain-lain.
Kepribadian dan kehidupan Nabi Saw juga merupakan salah satu tema yang muncul dalam karya-karya dan terutama dalam puisi-puisi para penyair ini. Alexander Pushkin adalah salah satu penyair berbahasa Rusia terbesar, termasuk penyair yang lebih mencintai Timur daripada sastra Rusia lainnya dan dipengaruhi oleh budaya dan warisannya. Pushkin, yang secara luas dianggap sebagai salah satu penyair Rusia yang paling menonjol dan referensi bahasa Rusia kontemporer, telah berulang kali memuji Islam dan karakter Nabi dalam surat-suratnya.
Alexander Pushkin
Alexander Pushkin (1837-1799) adalah seorang penyair, dramawan, dan penulis naskah Rusia, salah satu pendiri sastra Rusia modern. Dari sudut pandangnya, sastra adalah sarana untuk merefleksikan realitas kehidupan yang perlu diintegrasikan ke dalam konteks sosial dan intelektual masyarakat.
Pushkin adalah orang yang militan dan libertarian, tidak hanya memperhatikan kehidupan para tokoh dan cendekiawan besar dunia, tetapi juga tulisan suci ilahi. Lirik liberal-nya, yang berbicara tentang kebutuhan masyarakat, menyebar dengan cepat di antara berbagai kelas orang, dan ini menyebabkan pengasingannya. Semangatnya tertarik pada al-Quran dan Firman Tuhan, dan ucapan al-Quran membebaskannya dari kebodohan dan keterikatan materi.
Dalam pendapat sarjana Rusia Kastalova, "Sumber koleksi Pushkin puisi berjudul 'Tiruan al-Quran' berasal dari terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Rusia. Al-Quran menciptakan percikan pertama kebangkitan di Pushkin dan karenanya sangat penting bagi kehidupan batinnya."
Salah satu cuplikan terkenal Pushkin, dipengaruhi oleh al-Quran dan kepribadian Nabi, adalah sebuah puisi berjudul "Rasul." Ia menulis puisi itu pada tahun 1926. Dan sebelum itu, ada "Cahaya al-Quran dan Nabi" pada tahun 1924.
Bi'tsah Muhammad Saw adalah pengutusan beliau sebagai Nabi merupakan puncak paling penting dalam sejarah Islam dan wahyu al-Quran dimulai dari masa ini. Nabi Islam yang terkasih, pada tahun-tahun sebelum diutus sebagai Nabi untuk ibadah dan kontemplasi melakukannya di gua dan berpikir tentang Pencipta yang seluruh wujudnya diciptakan oleh kebijaksanaan-Nya. Ketika akan diutus sebagai Nabi, malaikat Jibril, malaikat yang dekat dengan Allah diturunkan kepada beliau dan dengan nama Allah, beliau diperintahkan untuk membaca dan belajar yang berkelindan erat dengan tauhid lalu mengutus beliau sebagai Nabi dan bertugas memberi hidayah manusia.
Dalam perintah itu, Nabi Saw ditugaskan untuk berperang melawan semua syirik, penyimpangan intelektual dan takhayul, dan untuk membimbing dunia dalam jalur keindahan dan kenikmatan pengetahuan dan kebijaksanaan. Pushkin, berbicara dalam perumpamaan tentang efek wahyu dan perubahan yang terjadi pada Nabi Saw selama diturunkannya wahyu, menggambarkan sosok beliau dengan ucapannya, "Rahasia alam semesta dan sifat adikodrati yang tidak dapat dipahami oleh orang-orang biasa diungkapkan kepadanya."
Dia melengkapi pengutusan Nabi dalam gambar puitis dan berbicara tentang pembelahan dada Nabi:
Dan patahkan dadaku dengan pedangnya.
Untuk mengguncang hatiku yang gemetaran
Dan di dadaku yang terbelah, nyala api membakar
Dan aku jatuh ke tanah seperti tubuh tak bernyawa di hutan belantara.
Pushkin kemudian menceritakan dalam bab terakhir puisinya tentang bahasa Nabi:
Waktu itu saya mendengar suara wahyu ...
Bangkitlah, wahai Nabi, dan lihatlah kehendak saya,
Lewati lautan dan daratan, dan hati orang-orang, atas undangan Anda
Buat suar.
Pushkin menyebut Muhammad seorang Rasul yang memberi makan kehausan jiwa manusia di padang pasir yang tak berujung. Dan ketika dia berbicara tentang pengutusan Jibril kepada Nabi, dia digambarkan sebagai malaikat dengan beberapa sayap, yang dipercaya oleh para peneliti adalah penafsiran ayat 101 Surat Fathir.
Pushkin tampaknya telah dipengaruhi dalam beberapa puisinya tentang Nabi Saw oleh ayat-ayat al-Quran seperti ayat-ayat al-'Alaq dan al-Insyirah. Perhatian Pushkin pada tema agama dan timur tidak terbatas pada satu koleksi puisi saja, tetapi ia juga memiliki puisi lain seperti "Nabi" dan "Hafiz" yang dipengaruhi oleh budaya Timur dan agama.
Kutipan pertama dari "Tiruan al-Qur'an" menyatakan:
Saya bersumpah dengan apa pun yang genap dan ganjil
Jangan bertempur dengan pedang di hari yang sulit
Aku bersumpah demi bintang aurora di pagi hari
Aku bersumpah dengan bermunajat di bawah sinar bulan
Bahwa kami tidak pernah meninggalkanmu sendirian
Dan menjadikan Juruselamat manusia
Kami telah menyelamatkanmu dari mata yang buruk
Kami telah menutupimu dengan pakaian ketenangan
Malam itu ketika bibir Anda haus
Sebagian besar tanah gurun adalah mata air
Saya telah memberi Anda pernyataan yang sangat kuat
Untuk memotong orang bodoh seperti mata pisau
Bangkitlah dan menghadapi secara ksatria
Kemari untuk memuluskan jalan kebenaran
Cintai anak yatim saya
Panggil dunia ke al-Quran saya
Itu mengguncang iman mereka seperti pohon willow
Panggil mereka ke jalan kebenaran
Dua bait pertama dari puisi ini diambil dari surah al-Dhuha, al-Thariq, al-'Asr dan al-Fajr dan juga dari berbagai sumpah dari sejumlah surah al-Quran. Puisi-puisi ini menunjukkan bahwa penyair itu sangat mengenal al-Quran sebelum menulis bagian ini, dan berdasarkan pemahaman dan penggunaan kreativitas puitisnya, ia menyusun bagian yang indah ini. Dua bait kedua diambil dari ayat 40 dari surah al-Taubah, Dua bait ketiga berbicara tentang bahasa Nabi Muhammad Saw yang lugas dan kuat, yang telah disebutkan dalam surah-surah al-Quran dalam hal ini. Sementara dalam dua bait terakhir, berbicara tentang sejumlah sifat seperti ksatria, cinta, kasih sayang dan perhatian pada anak yatim dan dalam dua bait terakhir adalah seruan dan ajakan al-Quran yang merujuk ini dalam banyak kasus dalam surah-surah al-Quran. Sebagaimana disebutkan dalam ayat 67 dari surah al-Maidah.
"Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu."
Faktanya adalah bahwa karya-karya keagamaan dan karya sastra terkemuka yang mengajak kepada kebenaran dan keadilan tidak mengenal batas geografis. Mereka bukan milik suatu bangsa tertentu tetapi bersifat universal dan dapat menjadi penyebab kedekatan dan persahabatan negara-negara yang berbeda. Al-Quran adalah kitab samawi dengan pesan universal dan berisi hukum kebahagiaan bagi umat manusia. Nabi Muhammad Saw juga menunjukkan kasih sayangnya kepada dunia. Wajar jika iman dan ajarannya menembus jauh ke dalam jiwa umat manusia. Karena pengetahuannya tentang al-Quran dan pengenalannya tentang kepribadian Nabi Muhammad Saw, Pushkin mampu merefleksikan kebenaran dengan menggunakan bakat dan hasrat puitisnya dan untuk menampilkan sekilas tentang kepribadian berkilauan Nabi Islam yang terkasih.
Nabi Muhammad Saw Dalam Pandangan Orientalis (6)
Abad kedelapan belas dalam sejarah Barat disebut Zaman Pencerahan dan Zaman Akal. Ini bisa disebut awal zaman kontemporer.
Karena perkembangan politik dan sosial Barat selama periode ini, seperti Revolusi Industri, membuka jalan bagi munculnya perdebatan baru dalam berurusan dengan agama, terutama Islam. Para penulis dan cendekiawan zaman ini melakukan penelitian di dua bidang yang berbeda: sekelompok mengikuti para perawi Kristen yang tujuannya adalah untuk mengalahkan saingan dari agama lain yang dikompilasi dan disebarluaskan melawan Islam.
Dr. Abdolhadi Haeri mengatakan tentang para pemikir Pencerahan ini, "... Para sarjana terkemuka masa Pencerahan dalam ucapan dan tulisannya meyakinkan dunia dengan cara yang tidak adil dan salah bahwa dunia di luar perbatasan Eropa terdiri dari orang-orang yang tidak beradab dan hanya Eropa, yang meliputi peradaban tertinggi ... Ini adalah konspirasi untuk menumbangkan sejarah ini dilakukan dengan tiga cara berbeda:
1. Untuk tetap diam melawan kemuliaan peradaban non-Eropa
2. Membalikkan nilai-nilai peradaban orang lain
3. Untuk berpura-pura kepada dunia bahwa apa yang membuat Eropa lebih unggul dari yang lain di dunia adalah pendekatan rasionalisme dan untuk menyimpang dari tradisi dan kebiasaan lama, tidak perlu untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan keahlian."
Dan dalam proses mengubah sejarah di tangan para pemikir Barat, mereka menyerang budaya dan peradaban Islam di atas semua budaya dan peradaban yang ada di dunia.
Sebaliknya, kelompok orientalis lain yang menyadari penyalahgunaan komunitas ulama Kristen, sendirian dan tanpa prasangka, berusaha menemukan misteri Islam dan Nabi sendiri dengan meneliti teks-teks Islam. Tetapi kelompok orientalis ini yang tidak sengaja membiaskan Islam atau Nabi Muhammad, sayangnya, menghakimi Nabi Muhammad menurut prinsip pengetahuan dan etika Barat.
Oleh karena itu, mereka tidak dapat menerjemahkan konsep Islam dengan baik karena kesalahpahaman tentang sejarah atau teks-teks Islam dan mengungkapkan wajah bercahaya dari pemimpin besar Islam. Tetapi mereka kurang lebih telah mendokumentasikan fakta bahwa Nabi Muhammad Saw adalah mata rantai terakhir dalam rantai para nabi ilahi dan merupakan asal mula evolusi sejarah dan perubahan dunia menuju moralitas manusia, keadilan dan martabat manusia, pengetahuan dan peradaban dan utusan ilahi ini merupakan makhluk yang sangat diberkati yang diberitakan Nabi Isa as akan kedatangannya.
Al-Qurn dalam ayat keenam surat Shaf menyebutkan, "Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata, "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, "Ini adalah sihir yang nyata"."
Pada tahun-tahun awal abad kesembilan belas, kami dihadapkan dengan mereka yang berusaha membela Nabi Muhammad dan ajarannya. Salah satu pendukung Napoleon Bonaparte, Karoline von Gunderode, berangkat untuk membuat skenario di mana ia menggambarkan Muhammad sebagai tokoh terkemuka yang luar biasa besarnya. Dia kemudia pada 1804 menerbitkannya dengan judul "Mimpi Muhammad di Gurun" atau "Mahomet's Dream in The Desert".
Gunderode adalah seorang biarawati yang menjalani kehidupannya jauh dari kehidupan normal, tetapi kondisi ini tidak mencegahnya untuk bergabung dengan gelombang kepahlawanan. Dia memandang dan memuji Nabi Muhammad di sebuah biara Jerman, dan menganggapnya sebagai orang yang memiliki pemikiran besar untuk mencapai dunia dan mengubah hukum dunia dalam cita-cita agung.
Karolinevon Gunderode
Dalam puisinya, Gunderode menghubungkan pengalaman Muhammad ketika ia menerima wahyu, dengan doa dan munajat Isa al-Masih dan gambar yang berada dalam ajaran Zoroaster tentang air, udara, api, dan bumi. Muhammad ingin melakukan mukasyarah untuk mendengarkan suara batinnya, dan memanggil jiwa pencipta, yang dia yakini ada di dalam dirinya. Penyair ini menjelaskan bagaimana Muhammad menerima wahyu dengan cara sastra dan imajinatif yang berakar pada riwayat-riwayat Islam, "Ketika dia mencoba untuk bermukasyaffah, Muhammad tiba-tiba bangun dan terkejut karena tubuhnya penuh kekacauan, tetapi dia tiba-tiba mendengar suara yang datang dari bintang-bintang;... Dan dia bertanya-tanya, "Tidak ada yang akan menghentikan saya dari melakukan ini, bahwa Cahaya Ilahi akan menjadi penuntun saya di masa depan karena tindakan dan perbuatan saya akan diabadikan:
Semoga kekuatan Tuhan ...
Malam takdir di depan mataku
Jangan khawatir
... biarkan aku melihat masa depan
... apakah bendera saya akan diangkat dengan penuh kemenangan?
... apakah hukum saya akan berlaku di dunia?"
Sebelumnya, kita telah berbicara tentang penyair Jerman Goethe: Johann Wolfgang von Goethe dan puisinya tentang Nabi. Salah satu pembangun besar Istana Budaya dan Seni Sastra Dunia di era Pencerahan. Ia memiliki dua karya; yang pertama tentang Nyanyian Muhammad dan yang lain Diwan Barat-Timur, yang berulang kali memuji Islam dan Rasulullah Saw. Dengan mempelajari pikirannya yang panjang dan progresif, dia telah menghormati Nabi Muhammad Saw.
Nabi Saw, dengan integritas etis dan agama progresifnya, begitu membuat orang lain terpesona padanya, sehingga hanya dalam waktu singkat berhasil menyebarkan Islam dari Semenanjung Arab ke negara-negara lain. Sekarang ajarannya, menggabungkan hukum yang hidup dan mencerahkan, menembus hati setiap hari dengan cahaya yang diperbarui, dan nyanyiannya yang mengundang dan menyenangkan jiwa. Oleh karena itu, di mata penyair Jerman terkemuka ini, menggambarkan Nabi Muhammad Saw sebagai sungai yang tak bertepi dan keagungannya selalu bertambah dan membawa manusia ke arah keabadian, kebahagiaan dan keberuntungunan.
Bagi Goethe, hidup dan perilaku sangat penting. Nasihat para pendeta dan sufi tidak enak didengar untuk menguatkan jiwa dan menanggung penderitaan di telinganya. Dia tidak menganggap kematian sebagai "fana" tetapi sebuah perubahan. Goethe percaya bahwa semua keberadaan adalah asli dan abadi. Dengan cara pandang seperti inilah ia dengan penuh semangat menerima Nabi dan ajarannya sebagai sumber inspirasi untuk pembebasan. Ketika dia berusia 23 tahun, dalam sepucuk surat kepada salah seorang temannya, Herder, dia secara eksplisit berbicara tentang rayuan dan daya tarik konten mistik al-Quran kepada temannya, merujuk pada dialog antara Allah dan Nabi Musa di Surah Thaha. Dia bahkan merujuk pada ayat 25 dari Surah ini dan menulis kepada temannya, "Aku ingin beribadah seperti Musa, seperti yang dinyatakan dalam al-Quran, "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku."
Goethe memuji Nabi Muhammad Saw atas warisan abadi al-Qurannya, dengan mengatakan, "Al-Quran harus dianggap sebagai hukum ilahi dan tidak boleh dilihat sebagai buku yang ditulis untuk pengajaran atau hiburan bagi sesama manusia. Gaya al-Quran itu kuat, luar biasa, kaya dan dipadukan dengan kebenaran yang indah dan benar-benar dihormati."
Goethe juga menulis dalam surat kebijaksanaannya yang memuji Islam, "Adalah suatu kebodohan manusia yang hanya memuji kepercayaan pribadi seseorang. Setiap kali arti Islam adalah berserah diri pada kehendak Tuhan dunia, maka kita semua hidup dalam Islam dan mati dalam sebagai Muslim."
Nabi Muhammad Saw Dalam Pandangan Orientalis (5)
Dalam artikel sebelumnya kita telah berbicara mengenai studi orientalis tentang Nabi Muhammad Saw.
Agama Islam telah menyebar hingga hari ini, dari tahun ke tahun, dari abad ke abad, dan dari satu ujung dunia ke ujung lainnya. Dalam prosesnya, bersama dengan mereka yang memeluk agama ini, ada banyak musuh dan lawan. Beberapa menentang Islam dikarenakan benci dan dendam. Tetapi sementara itu, ada orang-orang yang beralih ke Islam tanpa prasangka dan mencari kebenaran. Banyak dari mereka tidak memilih Islam untuk dirinya, sementara ada banyak kasus dalam sejarah dimana banyak tokoh besar mulai dari cendekiawan, penulis dan ulama hingga para filsuf dan penyair terkenal baik dari Timur maupun Barat yang melakukan penelitian menarik terkait agama ini, khususnya Nabi Muhammad Saw lalu meninggalkan karya-karya yang obyektif dan dapat direnungkan.
Pada artikel sebelumnya, kita telah berbicara mengenai studi orientalis tentang Nabi Muhammad Saw. Menariknya, sampai abad keenam belas, terjemahan dan penerbitan mukjizat abadi Nabi Saw, yaitu al-Quran dilarang di Eropa dan beberapa dipenjara karena menerbitkannya. Tetapi beberapa peneliti percaya bahwa kita harus menerbitkan al-Quran sehingga semua orang bisa melihat kebohongan Muhammad! Jadi al-Quran diterjemahkan dan diterbitkan, tetapi memiliki efek sebaliknya. Ajaran al-Quran diperkenalkan sebagai doktrin yang logis dan rasional dan dengan cepat digunakan untuk mempertanyakan kepercayaan Kristen dan kepercayaan Gereja, terutama Trinitas. Nabi Muhammad Saw juga diidentifikasi sebagai pembaru sosial yang menentang kepercayaan irasional orang Kristen.
Edward Gibbon
Selama era Renaissance Eropa, beberapa penulis juga menyebut Nabi Saw sebagai pahlawan anti-ulama Kristen. Beberapa orang melihat Islam sebagai bentuk murni dari monoteisme filosofis, dan melihat al-Quran sebagai pujian dan lagu rasional bagi pencipta dunia.
Edward Gibbon, seorang sejarawan Inggris adalah salah satu Orientalis terkemuka di masa Renaissance. Karya terbesarnya adalah buku "History of the Decline and Fall of the Roman Empire" yang diterbitkan dalam enam jilid antara tahun 1776 hingga 1788 dan digunakan sebagai sumber tangan pertama.
Bab ke-5 buku ini berjudul "Muhammad dan Kemunculan Islam" dicetak dan diterbitkan secara terpisah.
Dalam buku ini, Gibbon mencurahkan satu bab khusus untuk kehidupan Nabi Saw dan tahap awal sejarah Islam dan lebih bergantung pada penelitian Eropa terbaru dan laporan yang dibuat para pejuang. Dia menggambarkan Nabi Saw sebagai orang yang memiliki karakter spiritual yang, selama hidupnya di Mekah, memperkenalkan bentuk murni monoteisme.
Edward Gibbon memulai pembicaraannya tentang kemunculan Nabi Muhammad Saw, "Orang-orang Kristen telah berbicara dengan kejam kepada Muhammad, dan mereka telah membuatnya dihina, dan dengan cara ini, alih-alih mengurangi ketenaran dan martabat musuh, mereka telah meninggikan dia."
Dia kemudian membandingkan Muslim dan Kristen dengan menulis, "Tujuan sebenarnya dari setiap nabi di setiap zaman adalah untuk menyebarkan pengetahuan tentang penciptaan Allah dan mempraktikkan perintah-perintah-Nya di antara manusia. Muhammad secara kredibel memuji garis keturunan panjang nabi-nabi sebelumnya dari diturunkannya Adam hingga kemunculan al-Quran. Selama waktu itu, 124.000 individu tertentu telah menerima tingkat cahaya kenabian yang berbeda dan masing-masing dengan kebajikan pribadi dan rahmat ilahi ... di antara mereka adalah para nabi abadi dari Ulul Azim dengan sebuah agama tetap yang tidak berubah yang telah diwahyukan kepada mereka dan disampaikan kepada umat manusia. Di antara umat Islam, prestise Nabi Muhammad Saw adalah yang tertinggi. Nabi Muhammad telah mengajar umat Islam untuk menghormati asal usul agama Nabi Isa. Dengan penghormatan dalam benak seorang lelaki Muslim yang bercampur dengan rahasia. Dalam al-Quran disebutkan, "(Ingatlah), ketika Malaikat berkata, "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)." (QS. Ali Imran: 45)
Buku Edward Gibbon, History of the Decline and Fall of the Roman Empire
Gibbon selanjutnya dalam pembahasannya menunjukkan janji kedatangan nabi terakhir dari Musa dan Isa, dan menulis, "Musa dan Isa yakin akan kedatangan Nabi yang tinggi dan di masa depan, karena agama dan cinta mereka, dan sangat yakin dengan diri mereka sendiri. Mereka senang ... Muhammad juga meletakkan dasar Islam dalam kemurnian dan legitimasi dua agama yang telah diungkapkan kepada Musa dan Yesus sebelum Islam, dan Muhammad percaya pada kebajikan dan mukjizat mereka. Muhammad mengalahkan berhala Arab Saudi di depan takhta ilahi, menggantikan ritual pengorbanan dan menumpahkan darah manusia dengan doa dan amal yang semuanya merupakan ritual ibadah yang disukai manusia. ... Karyanya yang paling penting adalah untuk mengembuskan belas kasih dan kebaikan pada keberadaan orang-orang mukmin. Dia merekomendasikan pekerjaan kepada pengikutnya yang manfaatnya mencakup seluruh masyarakat. Berkat ajaran dan hukumnya yang bermanfaat, keserakahan, balas dendam dan penindasan terhadap para janda dan anak yatim telah dilarang, dan semua suku yang bermusuhan bersatu dalam menerima dan tunduk pada satu agama."
Tentu saja, cendekiawan Inggris ini juga kadang-kadang membuat beberapa kesalahan dalam bukunya. Para ahli percaya bahwa kesalahan-kesalahan ini bukan karena kebusukan ang melekat dalam dirinya, tetapi karena referensi yang tidak akurat untuk buku-buku dan sumber-sumber sejarah. Edward Gibbon menganggap al-Quran dan ajaran agama Islam sebagai hasil kejeniusan Nabi dan menulis:
"Putra Abdullah, di pelukan orang-orang Arab yang paling mulia, menerima dialek Arab yang terbaik dan paling murni. Terlepas dari kefasihan dan kekuatan berbicara, Muhammad adalah Ummi dan tidak pernah belajar di sekolah. Jelas tidak membaca membatasi lingkaran kehidupan, tetapi alam dan manusia adalah buku yang terbuka bagi Muhammad dan dia juga mengamati poin-poin dalam filsafat dan politik selama perjalanannya... Dalam perjalanan singkat dan tergesa-gesa ini, Muhammad melihat dengan kejeniusannya apa yang tidak bisa dilihat oleh teman-temannya yang tidak memiliki kemampuan itu."
Gibbon berbicara tentang Nabi Muhammad dengan cara yang secara tidak sadar menciptakan perasaan pada pembaca bahwa ia adalah orang yang terpesona atau pengikut kepribadian Nabi Muhammad Saw. Gibbon menulis, "Sebelum Muhammad berbicara di tengah kerumunan penggemarnya atau kelompok bahasa tertentu, kewibawaan dan martabatnya, penampilan lahirian dan cara pandangnya yang berpengaruh membuat mereka yang mendengarkannya memuji dan menyimpan kekaguman, terutama ketika dia tersenyum dengan penuh kelembutan, janggut yang rapih dan perilaku mulianya menunjukkan kelembutan jiwanya, sementara perilakunya membuktikan kebenaran ucapannya.... Pencetus Revolusi Besar Islam adalah seorang yang saleh dan bertakwa yang menyendiri di gua Hira demi menerima rahasia ilahi. Dia melihat kemegahan istana raja dengan pandangan menghina dan melakukan pekerjaan yang kecil-kecil juga."
Buku Edward Gibbon, History of the Decline and Fall of the Roman Empire
"Itu adalah hasil dari ide-ide Muhammad tentang Islam sehingga dia mengajar keluarganya dan orang-orang Arab. Prinsip pertama agama ini adalah kebenaran abadi dan itu adalah keesaan Tuhan. Dan prinsip kedua adalah misi Rabbani Muhammad," tambag Gibbom.
Rasulullah Saw yang memiliki karakteristik ini, dimana Allah menyebut-nyebut namanya, meminta yang lain agar bersamanya dan mengucapkan salam bersama-sama kepadanya, "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56)
Manifestasi Demokrasi di Republik Islam Iran
Pemilihan umum di Republik Islam Iran – terlepas dari fungsinya sebagai alat demokrasi – adalah salah satu manifestasi dari ikatan dan kepercayaan antara rakyat dan pemerintah.
Masyarakat lewat partisipasinya dalam pemilu, menggunakan hak konstitusional dan sosialnya untuk terlibat dalam politik dan secara bebas memilih orang yang tepat dan kompeten untuk memikul tanggung jawab. Oleh karena itu, pemilu memiliki arti penting dari berbagai segi.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam sebuah pertemuan dengan tim pengawas pemilu di Dewan Garda Konstitusi, mengatakan, "… Sistem kita adalah sebuah sistem yang berpijak pada kepercayaan, selera, dan emosional rakyat. Secara prinsip, rahasia ketangguhan sistem ini karena keberpijakannya pada rakyat. Ini adalah sesuatu yang penting. Keberpijakan pada rakyat ini tidak mudah dicapai dan tidak ditemukan di setiap tempat."
Mengingat sistem Republik Islam Iran menganut demokrasi religius, dan untuk memenuhi prinsip partisipasi rakyat dalam kekuatan politik, Konstitusi Iran mengamanatkan penyelenggaraan pemilu termasuk pemilu parlemen, presiden, dan pemilu dewan-dewan kota.
Pasal 114 Konstitusi Iran menekankan masalah pemilu baik secara langsung seperti pemilihan presiden atau pemilihan anggota parlemen. Berdasarkan Pasal 100 Konstitusi, pemilihan tidak langsung dilakukan dalam dua tahap. Misalnya pemilihan Rahbar. Ia dipilih oleh anggota Dewan Ahli Kepemimpinan di mana para anggotanya dipilih langsung oleh rakyat dalam pemilu.
Pasal 59 Konstitusi Iran juga menekankan masalah referendum dalam mempertimbangkan isu-isu ekonomi, politik, sosial, dan budaya yang vital. Indikasi lain yang menunjukkan peran nyata pemilu dalam menciptakan demokrasi sejati di Republik Islam adalah partisipasi independen kelompok minoritas dalam pemilu parlemen.
Di Iran, minoritas agama yang diakui dalam konstitusi – Zoroaster, Yahudi, dan Kristen – memiliki satu perwakilan independen di parlemen yang memperjuangkan hak-hak kelompoknya.
Perlu dicatat bahwa mayoritas penduduk Iran adalah Muslim, dan masing-masing dari kelompok minoritas ini mungkin jumlahnya tidak melebihi beberapa ratus ribu orang, tetapi mereka tetap memiliki wakil di parlemen. Sementara di Amerika Serikat yang menganggap dirinya sebagai tempat lahirnya demokrasi, tidak mengakomodasi keterwakilan masyarakat Muslim meskipun jumlah mereka mencapai jutaan orang.
Ilustrasi pemilu di Iran.
Demokrasi sering dicirikan dengan istilah-istilah seperti kebebasan, partisipasi, dan persaingan politik, tetapi didasarkan pada prinsip kesetaraan. Artinya, terlepas dari semua perbedaan yang dimiliki antar-manusia, tapi dalam ranah kehidupan sosial ia harus diperlakukan sebagai individu yang setara di hadapan orang lain.
Semua orang Iran, apapun kelompok etnis atau suku mereka, menikmati hak yang sama, sementara warna kulit, ras, bahasa, dan sejenisnya, tidak memberikan hak istimewa apapun.
Demokrasi dalam istilah politik berarti manajemen negara oleh rakyat, pemerintahan di tangan rakyat, atau cara memerintah berdasarkan kehendak rakyat. Oleh karena itu, demokrasi didefinisikan sebagai pemerintahan rakyat, sebuah pemerintahan yang kedaulatannya berada di tangan rakyat, dan pelaksanaannya dilakukan oleh orang-orang yang dipilih rakyat.
Kamus ilmu politik mendefinisikan demokrasi sebagai pemerintahan rakyat untuk rakyat. Seperti yang dikatakan Abraham Loncoln, demokrasi adalah pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Jadi, demokrasi bermakna sebuah pemerintahan yang diperintah oleh rakyat.
Namun, demokrasi membutuhkan penyegaran secara terus-menerus dan salah satu mekanismenya adalah merujuk pada kehendak rakyat. Partisipasi rakyat dalam urusan negara merupakan salah satu simbol utama pemerintahan demokratis. Oleh karena itu, Konstitusi Republik Islam Iran mengakui peran khusus rakyat dalam memerintah.
Pemenuhan kebutuhan publik menuntut partisipasi dan tanggung jawab semua orang dalam kehidupan kolektif. Dengan demikian, demokrasi mengharuskan keterlibatan orang-orang di tengah masyarakat dan pengelolaan urusan publik.
Di antara ciri khas sistem Republik Islam Iran adalah bersandar pada suara rakyat dalam pengelolaan negara. Suara rakyat akan menentukan pemilihan presiden, anggota parlemen, dan anggota dewan-dewan kota. Dengan cara inilah rakyat memiliki keterwakilan politik dalam urusan publik, dan semua legitimasi berasal dari kehendak rakyat untuk menjalankan negara.
Pasal 56 Konstitusi Iran disebutkan, "Kedaulatan mutlak atas dunia dan manusia berada di tangan Tuhan dan Dia yang mengangkat manusia untuk mengatur kehidupan masyarakatnya." Jadi dapat disimpulkan bahwa penguasa sesungguhnya dalam sistem Republik Islam Iran adalah rakyat sendiri.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei.
Melalui pemilu, presiden, anggota parlemen, anggota dewan-dewan kota, dan seluruh perwakilan terpilih akan memikul tanggung jawab untuk mengelola urusan publik. Pemilu diselenggarakan dengan dua cara yaitu pemilihan langsung atau pemilihan tidak langsung, yang dilakukan oleh orang-orang yang mendapat kepercayaan dari rakyat. Di sini, lembaga-lembaga yang kompeten seperti Dewan Garda Konstitusi akan melakukan pengawasan terhadap pemilu, karena lembaga ini merupakan perwakilan tidak langsung rakyat berdasarkan konstitusi.
Berdasarkan Konstitusi Iran, dalam kondisi apapun, para calon anggota parlemen atau calon presiden berhak dipilih oleh rakyat setelah lolos uji kualifikasi yang dilakukan Dewan Garda Konstitusi.
Republik Islam Iran adalah sebuah sistem yang sepenuhnya melaksanakan demokrasi. Pasal 3 Konstitusi Iran menjamin prinsip partisipasi politik rakyat di samping supremasi hukum. Prinsip-prinsip ini telah melahirkan sistem republik di Iran atas dasar kehendak rakyat yang disalurkan melalui pemilu.
Kajian tentang perkembangan demokrasi dan sistem politik selama empat dekade lalu di Iran, menunjukkan bahwa pelaksanaan demokrasi di Republik Islam terus mencapai kemajuan. Sejumlah prinsip-prinsip demokrasi seperti persamaan di mata hukum, penghapusan diskriminasi ras dan kelompok, dan parameter suara rakyat dalam pemilu, sudah melembaga di negara ini.
Proses pemilu dan referendum – yang diakui sebagai ciri khas sistem demokrasi – juga terlihat lebih menonjol di Republik Islam Iran.
Lieberman Desak Knesset Keluarkan UU Cekal Netanyahu
Mantan menteri urusan perang rezim Zionis mendesak Knesset mengesahkan undang-undang larangan bagi Benjamin Netanyahu yang saat ini menjabat sebagai perdana menteri Israel.
Avigdor Lieberman, pemimpin partai Yisrael Beiteinu hari Minggu mengirim pesan kepada Benny Gantz, pemimpin Partai Biru dan Putih, yang memimpin parlemen Zionis (Knesset), dan mendesaknya untuk membuat aturan cekal terhadap Netanyahu.
Mantan menteri urusan perang rezim Zionis ini menyatakan bahwa Netanyahu saat ini hanya mengulur waktu dan tidak akan menandatangani perjanjian koalisi dengan Gantz.
Sementara itu, ribuan Zionis berdemonstrasi di Tel Aviv pada hari Minggu untuk memprotes lambatnya proses pembentukan kabinet baru dan kerugian yang mereka alami akibat Covid-19.
Negosiasi antara partai Likud dengan partai Biru dan Putih mengalami kebuntuan karena Netanyahu mengajukan permintaan supaya Gantz membatalkan putusan mahkamah Agung rezim Zionis mengenai pencopotan jabatannya sebagai perdana menteri Israel.
Selama lebih dari satu tahun terakhir, rezim Zionis menghadapi krisis politik akibat kegagalan pembentukan kabinet baru, bahkan tiga pemilu parlemen yang telah digelar juga gagal menghasilkan pemerintahan baru.
Gaza Hadapi COVID-19 dalam Kondisi Diblokade
Jalur Gaza telah diblokade rezim Zionis Israel dari darat, laut dan udara sejak belasan tahun lalu dan hingga sekarang, rezim ilegal ini belum mencabutnya.
Akibat blokade keji tersebut, penduduk Gaza mengalami penderitaan dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Bahan-bahan dasar dan juga kebutuhan penting seperti bahan bangunan dan obat-obatan pun dilarang masuk ke Gaza.
Blokade juga telah menimbulkan pengangguran dan berbagai persoalan serius bagi warga Palestina di Gaza.
Dalam kondisi tersebut, penyebaran virus Corona, COVID-19 di Gaza menjadi ancaman serius bagi sekitar dua juta penduduk di wilayah ini.
Mereka kekurangan peralatan medis untuk mencegah penyebaran virus Corona dan untuk merawat pasien yang terinfeksi virus ini.
Hingga hari Senin (20/4/2020) pagi ini, 418 warga Palestina dilaporkan terinfeksi COVID-19 dan 2 dari mereka meninggal dunia.
Virus Corona telah menyebar ke lebih dari 111 negara dan jumlah korban jiwa akibat virus ini di seluruh dunia hingga Senin pagi telah mencapai 165.788 orang.
Lebih dari 2.404.681 orang terinfeksi COVID-19 dan 620.696 dari mereka telah sembuh. Covid-19 ditemukan pertama kali pada Desember 2019 di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina.
Amerika Serikat berada di urutan pertama yang memiliki kasus terbanyak terkait dengan virus Corona. 759.118 warga Amerika terinfeksi COVID-19, dan 41.379 dari mereka meninggal dunia.
Spanyol berada di urutan kedua. 198.674 warga negara ini tertular COVID-19, dan 20.453 dari mereka meninggal dunia. Negara berikutnya adalah Italia. 178.972 warga negara ini terinfeksi virus Corona dan 23.660 dari mereka meninggal dunia.
Negara-negara berikutnya yang memiliki kasus terbanyak COVID-19 adalah Prancis, Jerman, Inggris, Turki, Cina, dan Iran.
Di Israel Lansia tak Diprioritaskan Pakai Alat Bantu Pernafasan
Stasiun televisi rezim Zionis Israel mengabarkan, Kementerian Kesehatan Israel meminta agar para penyandang disabilitas, orang lanjut usia dan penderita penyakit jantung menjadi kelompok terakhir yang diperbolehkan menggunakan alat bantu pernafasan di masa wabah Virus Corona.
Kanal 13 TV Israel (20/4/2020) melaporkan, berdasarkan keterangan Kemenkes Israel, pemukim Zionis yang mengalami trauma psikologis, menderita luka bakar akut, menderita penyakit kronis, atau sudah lanjut usia serta mereka yang peluang kesembuhannya dari Virus Corona kurang dari 2 persen, tidak diprioritaskan untuk menggunakan alat bantu pernafasan.
Sebuah lembaga resmi pembela hak difabel di Israel mengumumkan, kebijakan ini sarat muatan disriminatif yang bertentangan dengan prinsip kesetaraan bagi para penyandang disabilitas, dan melanggar konvensi PBB terkait hak penyandang disabilitas.
Asosiasi penyandang disabilitas Israel menuntut pencabutan segera keputusan Kemenkes Israel tersebut, dan menganggapnya sebagai pemikiran yang mendukung pembunuhan warga lemah dengan dalih Corona.
AS Minta Irak Impor Energi dari Saudi Jangan Iran
Pemerintah Amerika Serikat kembali campur tangan dalam urusan internal Irak, dan meminta Baghdad mengimpor energi listrik dan gas dari Mesir, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, jangan dari Iran.
Fars News (20/4/2020) melaporkan, Fazel Al Dabas, salah seorang pakar perminyakan mengabarkan intervensi baru Amerika terhadap pemerintah Irak.
Dalam wawancara dengan Shafaq News, Fazel Al Dabas mengatakan, masa pengecualian Irak dari sanksi Amerika atas Iran, dan izin yang diberikan kepada Baghdad untuk mengimpor energi listrik dan gas dari Iran akan berakhir pada bulan April 2020.
Menurutnya, untuk keluar dari krisis ini, Irak tidak punya alternatif pengganti lain, dan pemerintah Amerika sebelumnya pun pernah meminta Baghdad untuk mencari pengganti sumber impor listrik dan energinya.
Al Dabas menjelaskan, sampai saat ini kita tidak tahu apa yang sudah diputuskan pemerintah Irak, dan sedang bergerak ke arah mana negara ini.
Kementerian Listrik Irak mengumumkan, saat ini Baghdad masih mengandalkan produksi dalam negeri di bidang energi listrik.




























