کمالوندی

کمالوندی

Kamis, 09 Januari 2020 19:22

PBNU Kecam Pembunuhan Jenderal Soleimani

 

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Helmy Faishal Zaini menanggapi terbunuhnya Komandan Quds Force Iran, Jenderal Qassem Soleimani oleh serangan roket yang ditembakkan secara sengaja oleh militer AS.

Bagi PBNU, tindakan AS dengan melakukan pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani adalah tindakan yang bertentangan dengan kemanusiaan, dan melanggar prinsip-prinsip perdamaian dunia.

"(Kami) mengecam keras tindakan Pemerintah AS bersama militernya yang dengan sengaja menembakkan roket yang menyebabkan gugurnya Jenderal Qassem Soleimani," kata dia dalam keterangannya kepada Republika.co.id, Selasa (7/1).

Helmy meminta kapada komunitas internasional dan PBB untuk menyeru kepada AS agar bertindak secara rasional demi kepentingan perdamaian dunia. Termasuk segera tarik pasukan-pasukan AS di Timur Tengah dan berhenti membunuhi rakyat di wilayah tersebut," tuturnya.

Selain itu, Helmy juga mendorong pemerintah Indonesia untuk melakukan upaya-upaya bantuan penyelesaian konflik melalui PBB. Prinsip yang harus dipegang Indonesia harus objektif melihat persoalan ini.

"Dan juga kepada segenap masyarakat untuk bersikap tenang dan tidak terprovokasi sehingga terpancing melakukan tindakan yang semakin memperkeruh suasana," tutur dia.

Sebelumnya, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta agar pemerintah Indonesia tetap mengambil sikap non-blok terkait konflik Amerika Serikat dan Iran yang kembali mencuat pasca serangan tersebut.

"Kita harus tegas mengambil politik bebas aktif non- blok. Tidak boleh kita berpihak kepada siapapun. Itu urusan mereka. Menurut saya begitu," ujar Kiai Said.

Nahdlatul Ulama (NU).
Menurut dia, Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) sebenarnya telah mengupayakan agar Amerika Serikat dan Iran bisa damai. Namun, menurut dia, pada kenyataannya negara-negara di Timur Tengah tetap bergejolak sampai saat ini.

"Itu sebenarnya sudah diusahakan. Tapi ya itulah kenyataannya di Timur Tengah ini selalu bergejolak. Tapi kita prinsipnya Indonesia harus tetap objektif, non-blok, bebas aktif," ucap Kiai Said.

Menlu RI Temui Dubes AS dan Iran, Minta Semua Pihak Menahan Diri

Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia Retno LP Marsudi bertemu dengan Duta Besar Amerika Serikat dan Iran. Pertemuan digelar secara terpisah.

Retno mengatakan pertemuan digelar untuk menyampaikan sikap Indonesia terkait hubungan Iran dan AS usai pembunuhan Mayor Jenderal Qasem Soleimani.

"Tadi saya memanggil Duta Besar Iran (Mohammad Azad) dan Amerika Serikat (Joseph R Donovan Jr). Saya menyampaikan pesan persahabatan," kata Retno di Jakarta, Senin 6 Januari 2020 seperti dikutip media Detiknews.

Retno meminta AS dan Iran menahan diri. Dia menyebut eskalasi dalam hubungan antara Iran dan AS tidak akan bermanfaat bagi siapapun malahan bakal memberi dampak pada ekonomi dunia.

Menurutnya, ini pesan yang disampaikan Indonesia dalam politik luar negeri Indonesia.

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menghadiri acara tahlil dan doa bersama untuk Syahid Letnan Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan al-Quds Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Syahid Abu Mahdi al-Muhandis, Wakil Komandan Pasukan Relawan Irak Hashd al-Shaabi beserta para pengawal keduanya.

Acara berlangsung di Huseniyah Imam Khomeini ra di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran pada Kamis (9/1/2020).

Selain Rahbar, hadir pula para pejabat politik dan militer Iran dan Irak, wakil-wakil berbagai kelompok perlawanan (Muqawama) Irak dan negara-negara Muslim lainnya, para duta besar dari negara-negara asing dan ribuan masyarakat Iran.

Letjen Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis gugur syahid dalam serangan udara Amerika Serikat di Bandara Internasional Baghdad, Jumat dini hari, 3 Januari 2020.

Empat anggota pasukan IRGC (Pasdaran) yang menyertai Letjen Soleimani dan empat anggota pasukan Hashd al-Shaabi yang menyertai Abu Mahdi al-Muhandis juga gugur syahid dalam serangan udara tersebut. 

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menghadiri acara tahlil dan doa bersama untuk Syahid Letnan Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan al-Quds Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Syahid Abu Mahdi al-Muhandis, Wakil Komandan Pasukan Relawan Irak Hashd al-Shaabi beserta para pengawal keduanya.

Acara berlangsung di Huseniyah Imam Khomeini ra di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran pada Kamis (9/1/2020).

Selain Rahbar, hadir pula para pejabat politik dan militer Iran dan Irak, wakil-wakil berbagai kelompok perlawanan (Muqawama) Irak dan negara-negara Muslim lainnya, para duta besar dari negara-negara asing dan ribuan masyarakat Iran.

Letjen Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis gugur syahid dalam serangan udara Amerika Serikat di Bandara Internasional Baghdad, Jumat dini hari, 3 Januari 2020.

Empat anggota pasukan IRGC (Pasdaran) yang menyertai Letjen Soleimani dan empat anggota pasukan Hashd al-Shaabi yang menyertai Abu Mahdi al-Muhandis juga gugur syahid dalam serangan udara tersebut. 

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menghadiri acara tahlil dan doa bersama untuk Syahid Letnan Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan al-Quds Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Syahid Abu Mahdi al-Muhandis, Wakil Komandan Pasukan Relawan Irak Hashd al-Shaabi beserta para

pengawal keduanya

Acara berlangsung di Huseniyah Imam Khomeini ra di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran pada Kamis (9/1/2020).

Selain Rahbar, hadir pula para pejabat politik dan militer Iran dan Irak, wakil-wakil berbagai kelompok perlawanan (Muqawama) Irak dan negara-negara Muslim lainnya, para duta besar dari negara-negara asing dan ribuan masyarakat Iran.

Letjen Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis gugur syahid dalam serangan udara Amerika Serikat di Bandara Internasional Baghdad, Jumat dini hari, 3 Januari 2020.

Empat anggota pasukan IRGC (Pasdaran) yang menyertai Letjen Soleimani dan empat anggota pasukan Hashd al-Shaabi yang menyertai Abu Mahdi al-Muhandis juga gugur syahid dalam serangan udara tersebut.

 

Komandan Pasukan Dirgantara, Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC mengabarkan dilancarkannya operasi perang elektronik pasca serangan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat, Ain Al Asad, dengan memutus komunikasi dan gambar drone-drone MQ-9.

Fars News (9/1/2020) melaporkan, Brigjen Amir Ali Hajizadeh dalam jumpa persnya menuturkan, operasi pasca serangan rudal yang sampai sekarang belum kami umumkan sandinya, dan dilakukan dengan peralatan khusus yang telah kami siapkan, adalah operasi penting perang elektronik selama 15 menit pasca serangan rudal.

Brigjen Hajizadeh menambahkan, semua pesawat nirawak yang terbang di atas pangkalan Ain Al Asad untuk beberapa saat berhasil kami putus hubungannya dengan pusat kontrol militer Amerika, dan jalur komunikasi serta gambar mereka berhasil kami hapus, sehingga membuat Amerika begitu ketakutan.

Menurutnya, pasca serangan rudal Iran, yang paling dibutuhkan Amerika adalah memahami tingkat kerusakan yang ditimbulkan serangan tersebut, dan biasanya dilakukan menggunakan kamera-kamera dari 8 unit drone MQ-9 yang terbang di atas pangkalan Ain Al Asad.

Hajizadeh menegaskan, MQ-9 melakukan operasi pengamatan dan mengirim gambar ke pusat kontrol, maka dari itu ketika komunikasi drone-drone itu terputus, pasukan Amerika merasa terpukul secara psikologis, dan pukulan itu tidak dirasakan akibat serangan rudal. 

Minggu, 05 Januari 2020 20:54

Duka Kesyahidan Komandan yang Merakyat

 

Kemarin, kita mendengar berita yang tak terduga mengenai kesyahidan Letjen Qasem Solaemani, komandan brigade Quds Korp Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam serangan udara yang dilancarkan AS di bandara Baghdad.

Berita itu melukai hati bangsa-bangsa Muslim, tapi membuat musuh-musuh Islam bergembira. Bagaimanapun kepergian mujahid, seperti Qasem Solaemani menimbulkan kesedihan, tapi tidak akan menyurutkan langkah para pejuang Islam di seluruh penjuru dunia, terutama di Iran. Dalam pandangan teologis Syiah, kesyahidan adalah kedudukan tertinggi, sehingga justru diharapkan kedatangannya, sebagaimana menjemput  Syahid Solaemani. 

Kesyahidan dalam Islam dianggap sebagai nilai tertinggi dan terkait dengan ajaran seperti jihad. Al-Quran juga menyebut syahid itu hidup di sisi-Nya. Sayidina Ali bin Abi Thalib  pernah menyatakan bahwa "Kematian termulia adalah syahid di jalan Tuhan". Beliau dalam Nahjul al-Balaghah memuji para Mujahidin yang syahid di jalan Allah swt, dengan mengatakan, "Sesungguhnya kematian yang paling berharga adalah syahid. Demi Tuhan aku bersaksi, lebih mudah bagiku untuk menanggung sabetan seribu pedang daripada mati di tempat tidur dalam kedaan tidak menanti Allah."

 Syahid Qasem Solaemani lahir 20 Isfand 1335 Hs di sebuah desa pegunungan di provinsi Kerman. Pada usia 12 tahun, setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya meninggalkan tempat kelahirannya dan mulai bekerja sebagai kuli bangunan di Kerman.

Seiring meletusnya perang yang dipaksakan rezim Saddam Hossein Irak terhadap Iran, Qasem muda bergabung dalam barisan pejuang di garda depan. Tak lama kemudian, ia menjadi seorang komandan divisi Basij yang dikenal dengan divisi Tarallah. Selama perang delapan tahun, ia memimpin pasukannya dalam banyak operasi, seperti: Walfajr 8, Karbala 4, Karbala 5, dan Tak Shalamcheh.

Qasem Solaemani pertama kali terluka pada Azar 1980 dalam sebuah operasi gabungan angkatan bersenjata dan Sepah Pasdaran yang disebut Operasi Al-Quds di wilayah barat Susangard akibat dari ledakan mortir yang menyebabkan luka pada tangan kanan dan perutnya. Tapi hal ini tidak menyurutkan perjuangannya, karena ia sudah berjanji dengan Tuhan untuk berjuang di jalan-Nya.

Seiring berakhirnya perang, divisi 41 Tarallah yang dipimpin Qasem Solaemani ditarik kembali ke Kerman untuk menumpas para perusuh di perbatasan timur negara itu. Ketika menjawab sebagai salah satu komandan Sepah Pasdaran, ia juga memimpin perang melawan sindikat narkoba di dekat perbatasan Iran dan Afghanistan.

Kemudian, dia dipanggil ke Teheran oleh Ayatullah Khamenei pada tahun 1376 Hs, dan diberi tanggung jawab memimpin brigade Quds Sepah Pasdaran. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran memberikan Solaemani pangkat mayor jenderal pada Bahman 1389 Hs, dan beliau juga disebut sebagai "Syahid yang hidup". Solaemani dalam beberapa tahun terakhir disebut sebagai komandan terhebat dalam perang melawan kelompok teroris Daesh.

Haji Qasem Solaemani mendapat lencana Zulfiqar dari Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Khamenei pada Isfand 1397 Hs. Lencana ini diberikan atas penghargaan terhadap keberhasilannya dalam penumpasan kelompok teroris Daesh di Irak dan Suriah.

"Setelah perjuangannya selama bertahun-tahun, keikhlasan dan keberaniannya di medan perang menghadapi para setan dan penjahat dunia, dan kerinduannya sekian lama untuk menjemput kesyahidan di jalan Allah swt, akhirnya Solaemani yang terhormat mencapai kedudukan mulia ini. Darah sucinya tumpah di tangan pihak yang paling dibenci umat manusia di  muka bumi," ujar Rahbar dalam pesannya Jumat pagi.

"Kesyahidan sebagai balasan atas perjuangan tanpa kenal lelah Letnan Jenderal Qasem Soleimani selama ini. Tapi dengan kepergiannya, pekerjaan dan jalannya tidak akan berhenti dan akan terus berlanjut," tegas Ayatullah Khamenei.

Kesyahidan dalam Islam adalah hasil dari keberanian dan pilihan sadar dan perlawanan terhadap kezaliman demi kemajuan masyarakat. Sebab berakar dari perjuangan dan pengorbanannya memerangi kezaliman dan kerusakan yang terjadi di tengah masyarakat. Syuhada menjamin kemajuan masyarakat dan memberikan kapasitas spiritual komunitas serta menghilangkan kelemahan dan kemunduran dalam masyarakat. Nabi Muhammad Saw menyampaikan keutamaan syuhada dalam sabdanya, "Dengan setetes darah pertama yang ditumpahkan dari tubuh syahid, semua dosanya diampuni. Kepala syahid berada di samping dua malaikat, dan mereka membersihkan wajahnya dan menyambutnya. Pakaian surga menutupi tubuhnya. Di surga para tuan rumah saling menjamu syahid. Sebelum ruh dipisahkan dari tubuhnya, ia melihat tempatnya di surga. Di surga ia memberi tahu ruhnya bahwa di manapun dan di posisi apapun ingin tinggal, syahid menjadi perhatian Allah, dan matanya berbinar-binar bersukacita mendapatkan berkah ilahi ini,"  

Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 23, Allah swt berfiman, "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya),"

Syahid Solaemani memiliki tempat yang di hati setiap orang yang beriman. Hati anak-anak yang ditinggal syahid orang tuanya yang berjuang melawan kezaliman. Kesederhanaan, kerendahan hati dan ketulusan, serta kehidupannya yang merakyat menunjukkan ketinggian akhlaknya. Kepergiannya meninggalkan luka di hati setiap orang yang mencintai kebenaran dan keadilan.

 


 

Tidak diragukan lagi, teror tidak lain dari kelemahan musuh. Pembunuhan Syahid Solaemani karena mereka tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi para mujahidin yang berjuang mengibarkan bendera keadilan. Tetapi musuh harus tahu bahwa kepergian orang-orang besar seperti Syahid Solaemani tidak akan pernah bisa menghentikan jalan perjuangan, karena akan muncul Qasem Solaemani lainnya.

 

Presiden Dewan Konsultatif Organisasi Islam Malaysia, MAPIM menilai pembunuhan terhadap Komandan Pasukan Qods, Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC, Jenderal Qasem Soleimani, telah menunjukkan kepada dunia bahwa Amerika Serikat adalah negara penjahat dari jenis yang terburuk.

New Straits Times (3/1/2020) melaporkan, Mohd Azmi Abdul Hamid mengatakan, barbarisme telah membuat Amerika menganggap dirinya memiliki hak untuk membunuh. Kebijakan biadab di atas hukum ini ditanamkan dalam kebijakan keamanan Amerika, sehingga menjadikannya negara yang mendaulat diri sendiri untuk mengeksekusi siapa pun yang dikehendaki.

Ia menambahkan, Amerika telah lama melakukan pembunuhan di luar proses hukum dengan impunitas, dan dunia tidak dapat melakukan apapun.

Abdul Hamid menjelaskan, menargetkan seseorang dan melakukan pembunuhan dengan cara seperti itu adalah kejahatan yang tidak bisa dibiarkan. Kami sangat mengutuk tindakan Amerika, dan tidak ada alasan yang dapat diterima.

Ia menegaskan, dunia tidak boleh diam. Ini adalah situasi genting yang dapat berubah menjadi konfrontasi militer penuh. Amerika telah memicu potensi perang regional besar-besaran, dan ia harus bertanggung jawab penuh atas konsekuensi-konsekuensinya. 

 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk keras serangan militer AS yang menewaskan Komandan Pasukan Quds Korp Garda Revolusi Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani bersama wakil komandan Al-Hashd al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis dan sejumlah orang lainnya.

Sekjen MUI, Anwar Abbas mengatakan, MUI mengutuk dengan keras pembunuhan terhadap Jenderal Iran, Qasem Soleimani yang tewas bersama pemimpin milisi Hashed al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, di Bandara Internasional Baghdad Irak yang diserang dengan rudal dari drone AS.

Menurut Anwar, serangan AS terhadap Soleimani akan memicu ketegangan dan ancaman baru, karena Iran tidak akan tinggal diam dan akan melancarkan pembalasan yang menimbulkan petaka besar.

"Pembunuhan yang dilakukan secara terencana oleh pemerintah AS ini tentu jelas akan memantik ketegangan dan ancaman baru karena jelas pemerintah Iran sebagai negara yang berdaulat tidak akan tinggal diam dan akan melakukan pembalasan terhadap apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah AS tersebut dengan caranya sendiri," ujar Anwar, dilansir situs Detik Sabtu (4/1/2020).

Bendahara Umum PP Muhamadiyah ini menyerukan supaya Amerika tidak menggunakan cara-cara kekerasan dan tidak beradab dalam menyelesaikan masalah, karena bisa menimbulkan masalah baru yang lebih rumit.

Langkah kekerasan yang dilakukan AS, tutur Anwar, selain tidak mudah untuk menyelesaikannya, juga berpotensi menyeret dan merusak kehidupan rakyat dan masyarakat di negara lain karena naiknya harga minyak dunia dan terganggunya perdagangan internasional.

 

Sayap militer Hamas, Brigade Ezzedine Al Qassam mengumumkan, sebagian besar upaya Jenderal Qasem Soleimani dilakukan untuk menghancurkan rezim Zionis Israel, dan meruntuhkan penjajahan atas tanah Palestina.

Pusat Informasi Palestina (3/1/2020) melaporkan, Brigade Al Qassam, Jumat (3/1) merespon kesyahidan Komandan Pasukan Qods, Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC, Jenderal Qasem Soleimani dan menegaskan, pasukan perlawanan Palestina akan melanjutkan perjuangan melawan Zionis dan sumber kejahatan regional. Kubu perlawanan yakin darah Syahid Qasem Soleimani akan membinasakan para pembunuh dan Israel.

Sementara itu, sayap militer gerakan Jihad Islam Palestina, Brigade Al Qods mengecam teror terhadap Jenderal Soleimani dan mengumumkan, poros perlawanan sampai kapanpun tidak akan pernah menyerah, dan tidak akan kalah, sebaliknya semakin solid dan kuat dalam melawan proyek-proyek Amerika-Israel.

Kelompok Palestinian National Initiative menjelaskan, teror terhadap Jenderal Soleimani oleh Amerika adalah tindakan bodoh yang mengancam keamanan seluruh kawasan.

Popular Front for the Liberation of Palestine, PFLP mengumumkan, Jenderal Soleimani selalu mendukung perlawanan di seluruh negara termasuk Palestina dan Lebanon.

Juru bicara PFLP, Abu Ahmad Fouad mengatakan, target yang selalu dikejar Jenderal Soleimani adalah Al Quds dan kemerdekaan seluruh Palestina, dan ia tidak pernah sekalipun meninggalkan medan jihad dan perjuangan.

 

Salah satu situs rezim Zionis Israel menulis, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran atas balasan tegas Iran, Israel mengirim surat kepada Hamas dan Jihad Islam, dan meminta mereka untuk tidak bereaksi.

Fars News (4/1/2020) melaporkan, melalui perantara Mesir, Israel mengirim pesan kepada petinggi Hamas dan Jihad Islam, dan memperingatkan segala bentuk aksi mereka untuk membalas teror Komandan Pasukan Qods, Koprs Garda Revolusi Islam Iran, IRGC, Jenderal Qasem Soleimani.

Situs berita Israel, Walla mengabarkan, Tel Aviv mengirim pesan tersebut segera setelah Jenderal Soleimani dikabarkan tewas diserang Amerika di Irak, dan rencananya esok hari Minggu (5/1) kabinet Israel akan membahas perkembangan terbaru pasca teror Jenderal Soleimani.

Sebelumnya, Menteri Perang Israel, Naftali Bennett menggelar rapat darurat membahas transformasi terbaru di kawasan.

Kelompok-kelompok perlawanan Palestina hari Sabtu (4/1) pagi menggelar acara memperingati kesyahidan Jenderal Qasem Soleimani di Gaza.