کمالوندی
Ayatullah Al-Udzma Sayid Mohammad Hussaini Shahroudi
Pekan lalu berita meninggalnya seorang ulama besar, Ayatullah al-Udzma Sayid Mohammad Hussaini Shahroudi membuat umat Islam berduka. Beliau merupakan salah satu ulama dan pejuang besar Islam dan umat Islam menuai manfaat besar dari keberadaan beliau. Kematian seorang ulama merupakan pukulan berat bagi Islam dan umat Muslim di seluruh dunia.
Sepanjang sejarah Islam, ulama muslim sebagai arus yang berpengaruh dan kokoh dalam membela warisan para nabi dan wali Allah. Keterlibatan ulama dalam memerangi kebodohan dan despotisme telah menyelamatkan umat Islam dari kesulitan dan pusaran mematikan.
Ulama yang merupakan didikan Islam dan maktab Ahlul Bait ini menjadikan metode dan arahan pemimpin Ilahi sebagai dasar tablig dan bimbingan merekat terhadap umat. Dengan bersandar pada prinsip ini, para ulama merupakan pewaris para nabi dan mereka menggantikan nabi dalam membimbing serta mendidik generasi muda. Mereka juga memainkan peran keilmuan, politik dan sosial umat Islam dengan ilmu serta wawasannya.
Ayatullah Mohammad Hussaini Shahroudi
Abdul Salam bin Saleh Herawi mengatakan, Saya mendengar dari Imam Ridha as, semoga Allah merahmati hamba-hamba yang menghidupkan perkara kami. Saya bertanya, bagaimana perkara dan perintah anda dihidupkan? Beliau berkata, mereka mempelajari ilmu kami dan kemudian mengajarkannya kepada masyarakat.
Berdasarkan riwayat ini, di masa ghaibat Imam Maksum as, ketika masyarakat tidak memiliki akses kepada para imam, ulama memainkan peran dan mereka menjadi rujukan setaip perkara yang dihadapi masyarakat. Mereka juga memiliki tugas untuk menyebarkan ajaran Ahlul Bait as di tengah masyarakat.
Sejarah Islam memiliki ulama-ulama seperti ini. Ulama yang menurut Imam Ali as kapanpun dan dimana pun bersedia menghadapi badai berat dan bencana karena kebenaran.
Ayatullah al-Udzma Sayid Mohammad Hussaini Shahroudi lahir di kota Najaf , Irak di bulan Jumadi Awal tahun 1344 Hq. Ia tumbuh besar di keluarga agamis dan terkenal di kota Najaf. Sayid Hussaini Shahroudi terkenal akan keadilan, takwa, zuhud dan ketinggian ilmunya. Selama bertahun-tahun beliau menjadi pemimpin agama, ilmu dan marji' besar di dunia Syiah.
Dilingkungan dan keluarga ulama inilah, Sayid Hussaini Shahroudi menuntut dasar-dasar ilmu agama di bawah bimbingan ayah dan kakeknya. Dinukil dari al-Marhum Ayatullah Sayid Mahmoud Shahroudi yang berkata, "Saya terus memantau Sayid Mohammad hingga usia 21 tahun. Sayid Mahmoud Shahroudi sagat ketat dalam membimbing dan mengajar anaknya sehingga sang anak tumbuh besar dalam lingkungan agama serta kemudian menjadi ulama besar.
Ayah Sayid Hussaini Shahroudi, Sayid Mahmoud Hussaini Shahroudi selama bertahun-tahun menjadi pemimpin agama dan hauzah ilmiah Syiah serta marji taklid. Sementara ibunya adalah putri Sheih Mohammad Reza Fazel Naishaburi, salah satu guru besar ilmu akhlak dan teologi hauzah ilmiah Najaf serta saudaranya Sayid Ali Hussaeni Shahroudi termasuk salah satu ulama terkemuka Shahroud.
Mohammad Shahroudi menimba ilmu dasar dari ayahnya dan Sheikh Ali Shahrbabaki dan Sheikh Shams Zanjani. Ia belajar kitab rasail dan makasib dari ayahnya serta kitab Kifayah al-Usul. Di usia 39 tahun ia sudah mengajar bahst kharij (kuliah khusus) fiqih dan usul fiqih di Masjid Hindi di hauzah ilmiah Najaf.
Ketinggian ilmu Sayid Mohammad Shahroudi sangat terkenal. Ketika ayahnya ada halangan atau lemah karena usia tua, ia menggantikan ayahnya mengajar dan memimpin shalat berjamaah. Di tahun 1347 Hs, Sayid Mahmoud Shahroudi meminta umat Syiah yang bertaqlid kepadanya untuk merujuk kepada anaknya, Sayid Mohammad Shahroudi. Bahkan sejumlah warga Syiah setelah kematian Sayid Mahmoud dan bertaklid kepadanya, kemudian bertaklid kepada Sayid Mohammad.
Tahun 1357 Hs, risalah amaliah Sayid Mohammad Shahroudi dicetak di Najaf dalam dua bahasa Arab dan Persia. Setelah diusir oleh rezim Baath Irak dari Najaf, Sayid Mohammad Shahroudi pindah ke Iran tahun 1359 Hs dan tinggal di kota Qom serta aktif mengajar fiqih dan usul fiqih.
Ayatullah Hussaini Shahroudi merupakan teladan zuhud, ikhlas dan memiliki moral yang tinggi serta berperilaku mulia dengan warga dan kerap membantu kesulitan mereka. Beliau juga tidak memiliki sikap sombong dan tidak terikat oleh hal-hal duniawi. Beliau juga tidak sombong dalam dengan masyarakat dan mukmin lain.
Salah satu akhlak mulia Sayid Shahroudi adalah beliau tidak jijik berinteraksi dengan kaum fakir. Beliau juga kerap duduk bersama kaum fakir miskin dan ikut dalam pertemuan mereka. Ketika berdiskusi dan kajian ilmiah, beliau juga menghormati lawan dan siap mendengarkan penjelasannya. Setelah lawan selesai memberi penjelasan, beliau menjawabnya dengan tenang.
Ketika dalam perjalanan, ada yang bertanya atau membutuhkan sesuatu, Sayid Shahroudi dengan sabar memberi jawaban dan memenuhi kebutuhan mereka. Saat menghadapi kesulitan dan kendala warga, beliau dengan sabar dan antusias menyelesaikannya. Mengingat sikap dan perilaku mulai tersebut, Sayid Shahroudi sangat dihormati dan dicintai masyarakat.
Kecintaan besar Ayatullah Shahroudi terhadap Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya sangat dikenal masyarakat. Selama di kota Najaf beliau selalu hadir di acara mingguan tawassul kepada Imam Husein as dan seluruh acara memperingati para imam maksum. Selain itu, di rumahnya Ayatullah Shahroudi juga menggelar acara doa tawassul.
Kecintaan kepada Ahlul Bait Nabi telah tercetak di wujud Ayatullah Shahroudi. Selama di kota Najaf, beliau setiap hari berziarah ke makam Imam Ali as dan lebih dari 100 kali berziarah ke Karbala dengan berjalan kaki. Beliau juga kerap berziarah ke makam Imam lainnya. Setelah diusir dari Irak, beliau tetap melanjutkan sunnah hasanah ini dan setiap hari berziarah ke makam suci Sayidah Maksumah di kota Qom.
Tak diragukan lagi salah satu alasan keunggulan manusia dari makhluk lainnya adalah kekuatan berpikir dan belajar. Yang menunjukkan ideologi manusia adalah dua senjata, pena dan mulut. Jika pena dan mulut digunakan untuk menyebarkan kebenaran dan ilmu pengetahuan, maka umat manusia akan meniti jalan selamat serta tidak akan ada ketidakadilan dan penganiayaan di dunia.
Ayatullah Mohammad Shahroudi dengan memanfaatkan dua senjata ini, pena dan lisan, selama bertahun-tahun aktif mengajar dan mendidik murid-murid. Saat ini anak didik beliau menjadi orang besar, baik pengajar maupun ulama.
Ayatullah Mohammad Shahroudi juga memiliki banyak karya tulis. Di antara karya beliau adalah kitab ذخیرة المؤمنین لیوم الدین dalam bahasa Arab, «توضیح مناسک الحج», «دروس فی احکام النساء», «کتاب الطهارة», «کتاب الصوم dan berbagai karya lainnya.
Prosesi pemakaman Ayatullah Mohammad Shahroudi di Qom
Setelah bertahun-tahun berkhidmat dan melayani umat Islam, marji besar Syiah ini meninggal dunia Ahad, 16 Tir 1398 Hs bertepatan dengan 7 Juli 2019 di usia 94 tahun di kota Tehran. Ulama besar ini dimakamkan di komplek makam suci Sayidah Maksumah di kota Qom.
Memori Pahit Kudeta di Turki 3 Tahun Lalu
Tanggal 15 Juli, tepat tiga tahun yang lalu terjadi peristiwa kudeta berdarah di Turki. Presiden Turki, Erdogan menetapkan hari ini sebagai Hari Demokrasi dan Persatuan Nasional. Peringatan tragedi kudeta dimulai sejak pagi, Erdogan membaca Alquran untuk para korban di Masjid Nasional, Bestepe, Ankara.
Kemudian Erdogan menuju Jembatan Martir di Istanbul dan meresmikan Museum Memori 15 Juli yang dibangun di samping jembatan tersebut. Sebuah museum yang berdiri di sisi Anatolia, akan mengingatkan rakyat Turki pada tragedi kudeta tersebut.
Pembangunan museum dimulai pada tanggal 13 Maret dengan luas 1500 m2, selain itu ada area hijau seluas 15.000 m2, dilengkapi dengan masjid dan cabang dari Pusat Kendali Lalu Lintas Direktorat Jenderal Keamanan Istanbul.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan
Museum ini akan menyajikan kronologi kejadian pada tanggal 15 Juli 2016. Berbagai memorabilia dari orang orang yang menjadi korban kudeta juga dipajang, mereka adalah pahlawan bagi masyarakat Turki. Sedangkan di ruang bawah tanah, diberikan informasi mengenai kudeta yang terjadi di seluruh dunia.
Selama dua tahun lalu dan diperingatan kudeta gagal ini, pemerintah Turki seraya menggelar peringatan kudeta yang gagal tersebut juga membahas berbagai isu di sela-sela kudeta ini.
Di sisi lain, kubu oposisi pemerintah Erdogan di peringatan kudeta gagal bulan Juli, selain menggelar aksi demo anti pemerintah juga mengecam kebijakan penumpasan pemerintah Ankara. Disebutkan bahwa pemerintah Ankara selain menyebarkan propaganda luas anti kudeta tahun 2016, juga memanfaatkan kudeta ini untuk menumpas kaum oposan.
15 Juli 2016, sejumlah petinggi militer Turki dalam sebuah kudeta, berusaha untuk menjatuhkan pemerintahan Islam Partai Keadilan dan Pembangunan (PKK), juga ingin membentuk pemerintahan yang sesuia dengan keinginan mereka.
Kudeta yang meletus dini hari 15 Juli 2016 dengan kemunculan helikopter, jet tempur di zona udara Turki serta tank-tank kubu kudeta di jalan-jalan berbagai kota Turki khususnya Ankara dan Istanbul, sehari kemudian mendapat kecaman luas dari berbagai negara dunia termasuk Republik Islam Iran.
Sejatinya dengan turunnya warga ke jalan-jalan dan kecaman mereka terhadap kudeta di Turki oleh mayoritas negara kawasan dan dunia, kudeta ini dipastikan gagal sejak awal kebangkitannya. Dengan kata lain, untuk pertama kalinya di sejarah Republik Turki, kudeta militer di negara ini mengalami kekalahan dan para pemimpinnya gagal.
Rakyat Turki pasca Kudeta Gagal
Selain dukungan rakyat, para pemimpin kubu oposisi di Turki juga mendukung partai berkuasa. Dengan demikian wajar jika langkah ini sangat penting dan urgen dalam menggagalkan para kudeta.
Di pentas politik, para pemimpin kubu oposisi Erdogan mengutuk aksi kudeta. Selehattin Demirtas, Ketua Partai Rakyat Demokrat (HDP), Kemal Kılıçdaroğlu, Ketua Partai Rakyat Republik (CHP), Devlet Bahceli, Ketua Partai Partai Gerakan Nasionalis (MHP) seraya merilis statemen mengutuk aksi kudeta di negara ini.
Langkah para pemimpin partai besar Turki mendorong rakyat negara ini semakin solid dan bertekad untuk melawan kudeta. Di antaranya adalah respon para pemimpin partai HDP dan MHP. Ketua Partai Gerakan Nasional (MHP) selain merilis statemen anti para pengkudeta, dalam kontak telepon dengan Perdana Menteri Turki saat itu, Binali Yildirim menyatakan bahwa partainya mengungkapkan rasa solidaritas dengan pemerintah dan kudeta sama sekali tertolak.
Selain memperingatkan potensi perang saudara di Turki, ketua MHP menambahkan setiap langkah yang mengancam persatuan nasional dan integritas wilayah nasional harus dihindari.
Sementara itu, ketua partai HDP seraya meminta rakyat untuk tetap bersatu melawan kudeta menegaskan, "Kita harus bersatu dalam melawan fenomena buruk ini sama seperti kita melawan terorisme."
Sejak awal kudeta, pemerintah Ankara menekankan keterlibatan Fetullah Gulen ketua gerakan FETO di aksi ini. Sementara itu, Gulen menolak segala bentuk tudingan keterlibatan dirinya dengan pelaku kudeta dan menilainya sebagai sknerio bikinan pemerintah Erdogan. Fetullah Gulen menyebut tujuan Erdogan menuding dirinya terlibat di aksi kudeta gagal adalah untuk membersihkan instansi dan kantor pemerintah, memajukan program politik dan sosial serta rencana monopoli kekuasaan di Turki.
Sementara itu, upaya pemerintah Ankara untuk mendeportasi Gulen yang tinggal di pengasingan di negara bagian Pennsylvania di Amerika Serikat sia-sia. Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai pasti ketergantungan FETO kepada Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA). Sejaitnya Fetullah Gulen telah menuai banyak manfaat dan hasil baik untuk memperluas pengaruh CIA di Turki dan seluruh negara muslim sekutu negara ini melalui aktivitas agama dan pendidikan.
Pengamat Turki mengatakan, kudeta gagal bulan Juli 2016 dapat dicermati dari sejumlah sisi. Kudeta gagal ini dari sisi militer disetir oleh sejumlah perwira tinggi. Dari sisi lain, kudeta ini juga dinilia sebagai bentuk ideologi di mana Gulen disebut-sebut sebagai sosok di balik ketua Jamaah Nur turki.
Selain itu, ada dua elemen yang patut dicermati di kudeta gagal ini. Pertama penyandang dana kudeta gagal ini di mana Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) disebut-sebut sebagai penyandang dana tersebut.
Sejatinya ada unsur ketiga yakni raja Arab Saudi dan pemimpin Uni Emirat yang memainkan peran parsial di kudeta Juli 2016 di Turki, namun keduanya cukup berpengaruh ketika dilihat dari sisi penyandang dana kudeta gagal ini. Dengan dukungan finansial kedua negara reaksioner Arab ini, FETO berani untuk melakukan gerakan untuk menumbangkan pemerintahan sah Recep Tayyip Erdogan.
Sejumlah pengamat juga mengaku menyaksikan jejak-jejak Arab Saudi bersama Uni Emirat Arab di insiden kudeta gagal di Turki. Mereka juga menegaskan peran efektif Riyadh di kudeta 15 Juli 2016 di Turki. Sekelompok pengamat ini menilai sangat nyata dan transparan peran Saudi di kudeta tersebut.
Terkait hal ini, pengamat politik Turki Omar Dagli dalam sebuah artikelnya di Koran Yeni Şafak menulis, "UEA memberi dana tiga miliar dolar kepada Mohammad Dahlan, kaki tangan Fetullah Gulen untuk menumbangkan pemerintahan Recep Tayyip Erdogan."
Muhammad bin Mukhtar Al-Shanqiti, pengamat isu-isu Asia Barat dan dosen Universitas Qatar mengatakan, mantan jaksa agung Turki dan pembunuh bayaran Asia Barat yang termasuk pendukung Fetullah Gulen berulang kali bertemu secara rahasia di Hotel Jumeira.
Warga Turki saat kudeta gagal militer
Ia juga menjelaskan, "Perwakilan tinggi kelompok Gulen sebelum 15 Juli 2016 berkunjung ke Emirat sebanyak 22 kali dan mengakaji serta membahas rencana kudeta."
Salah satu isu penting dan mendasar yang terjadi pasca kudeta gagal di Turki dan sedikit banyak mendorong kritikus pemerintah Ankara untuk merenungkannya adalah penerapan kondisi darurat. Lima hari setelah kudeta gagal pada 20 Juli 2016, pemerintah Ankara seraya mengumumkan penerapan kondisi darurat telah mengubah secara penuh kondisi untuk kepentingan dan tujuan pribadi Erdogan dan partai berkuasa.
Dengan kata lain, dengan diumumkannya kondisi darurat, butir-butir konstitusi Turki telah diabaikan dan ditetapkan peraturan keamanan baru oleh pemerintah. Banyak militer yang ditangkap, para wartawan digiring ke penjara dan banyak elit politik tersingkir serta dicekal. Selain itu, juga ditetapkan pembatasan dan terjadi berbagai peristiwa di berbagai bidang di negara ini. Hal ini merupakan imbas dari kudeta gagal di pertengahan Juli 2016.
Kesimpulannya adalah kudeta gagal 15 Juli 2016 di Turki terhadap pemerintahan Erdogan merupakan peluang tepat untuk merealisasikan seluruh keinginan dalam negeri presiden dalam waktu singkat. Sejatinya kudeta gagal ini malah mempercepat ambisi jangka panjang Erdogan.
Uni Eropa Melunak terhadap Iran, Netanyahu Kecewa
Perdana Menteri Rezim Zionis Israel, Benyamin Netanyahu Senin malam menyampaikan kekecewaannya terhadap pernyataan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa menyikapi langkah Iran, dengan mengatakan, "Israel berharap Uni Eropa bisa menekan Iran lebih keras,".
"Eropa harus bersikap keras tentang kegiatan nuklir Iran," ujar Netanyahu menyikapi statemen Federica Mogherini Senin pagi setelah menghadiri pertemuan para menteri Uni Eropa yang membahas langkah-langkah yang diambil oleh Iran.
"Terlepas dari ketidakpedulian pihak Eropa, Israel akan terus bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan demi mencegah program nuklir Iran," tegas PM rezim Zionis.
Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu di saat rezim Zionis yang terbukti memiliki senjata nuklir senantiasa menutup akses IAEA untuk menyelidiki program nuklir militernya, dan hingga kini belum menandatangani traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini dalam konferensi pers hari Senin (15/7) mengungkapkan bahwa pihak-pihak yang masih berada di JCPOA tidak memandang pengurangan komitmen Iran terhadap perjanjian internasional ini sebagai "pelanggaran mendasar", dan tidak satu pun dari mereka yang bermaksud untuk mengaktifkan mekanisme penyelesaian sengketa dalam perjanjian tersebut.
Selama beberapa pekan terakhir, pihak Eropa berulangkali menyampaikan pernyataan mengenai mekanisme keuangan antara Eropa dan Iran, Instex, sebagai reaksi terhadap langkah Tehran mengurangi komitmennya di JCPOA. Meskipun demikian hingga kini pihak Eropa belum mewujudkan janji nya terhadap implementasi isi JCPOA.
Masjid Jami' Khaf, Pusat Belajar al-Quran
Darul Hifz Hauzah Ilmiah Ahnaf Khaf didirikan pada tahun 1367 Hs. Sejak 1370 Hs hingga sekarang, tangung jawab dari hauzah ini diserahkan kepada Qari Abdul-Rauf Ramadhani.
Pusat belajar al-Quran tersebut berada di kompleks Masjid Jami' Khaf, Provinsi Khorasan Razavi, Republik Islam Iran. Sekitar 200 santri beraktivitas di hauzah ini pada siang dan malam.
Jepang Tolak Gabung Koalisi Anti-Iran di Teluk Persia
Menteri Pertahanan Jepang mengatakan, tidak ada alasan untuk mengerahkan pasukan ke kawasan Teluk Persia.
Kantor berita Kyodo (16/7/2019) melaporkan, Menhan Jepang, Takeshi Iwaya, Selasa (16/7) mengumumkan, Jepang tidak punya agenda pengerahan pasukan ke kawasan Teluk Persia untuk bergabung dengan koalisi militer pimpinan Amerika Serikat.
Pada saat yang sama, Menhan Jepang menekankan berlanjutnya upaya diplomatik untuk menurunkan ketegangan di Asia Barat (Timur Tengah) khususnya antara Iran dan Amerika.
Sebelumnya partai-partai politik Jepang mengumumkan penentangan mereka atas pembentukan koalisi militer usulan Amerika di Teluk Persia dengan dalih menjaga keamanan Selat Hormuz.
Rahbar: Iran akan Balas Aksi Pembajakan Inggris
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar memprotes Eropa yang terus menuntut dan tidak menjalankan komitmen JCPOA. Menurut Rahbar, Iran baru saja memulai penurunan komitmen, dan proses ini pasti akan berlanjut.
Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khaemeni, Selasa (16/7/2019) dalam pertemuan dengan para khatib Shalat Jumat seluruh Iran menekankan bahwa keberhasilan rakyat dan pemerintahan Republik Islam Iran di hadapan ketamakan Barat, dari hari ke hari terus meningkat.
Ia menambahkan, keangkuhan menyebabkan Barat gagal memahami kebenaran, tapi kesombongan ini membuahkan hasil bagi Barat ketika digunakan pada bangsa dan negara-negara lemah, namun Barat gagal di hadapan bangsa-bangsa pemberani dan pembela hak-haknya.
Ayatullah Khamenei menyinggung 11 janji Eropa terkait JCPOA yang disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, dan tidak ditepatinya janji-janji itu meski hanya satu. Menurut Rahbar, kita sudah melaksanakan komitmen JCPOA, bahkan lebih jauh dari itu, dan sekarang, disebabkan perilaku mereka, kita sudah memulai penurunan tingkat komitmen, Eropa terus menuntut, dan dengan congkak mengatakan, mengapa Anda melakukan hal ini.
Rahbar menegaskan, Anda (Eropa) tidak pernah menjalankan satupun komitmen anda, lalu apa hak anda meminta kami untuk patuh pada komitmen JCPOA.
Ayatullah Khamenei juga memprotes pembajakan kapal tanker Iran oleh Inggris dan menuturkan, negara yang semua kejahatannya terbukti jelas, membajak kapal tanker kita, dan mereka berusaha menampilkan agar seolah-olah pembajakan itu bukan pelanggaran hukum, akan tetapi orang-orang Mukmin Republik Islam Iran tidak akan membiarkan hal ini, dan pada waktu serta tempat yang tepat, mereka akan membalasnya.
Rahbar menilai kemampuan pertahanan Iran yang membanggakan adalah buah dari tekanan dan lepasnya ketergantungan pada pihak asing di masa Perang Pertahanan Suci (agresi militer Irak ke Iran).
"Pergerakan saat inipun, yang bersandar pada kemampuan kita sendiri di berbagai bidang termasuk ekonomi, akan membuahkan hasil-hasil penting," pungkasnya.
Pertemuan Rahbar dengan Imam dan Khatib Shalat Jumat
Para imam dan khatib Shalat Jumat di seluruh Republik Islam Iran bertemu dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.
Pertemuan dalam rangka menandai 40 tahun pelaksanaan Shalat Jumat pasca Revolusi Islam itu berlangsung di Tehran, Selasa pagi, 16 Juli 2019.
Shalat Jum'at pertama setelah Revolusi Islam Iran diselenggarkaan pada tanggal 27 Juli 1979.
Dalam kesempatan itu, Ayatullah Khamenei mengatakan, Inggris telah melakukan kejahatan dan membajak kapal tanker kami sembari mengklaim bahwa tindakan mereka itu legal.
"Republik Islam dan rakyat berimannya tidak akan membiarkan kejahatan ini tanpa balasan," tegas Rahbar dalam pidatonya.
Polisi dan agen bea cukai wilayah Gibraltar dibantu oleh pasukan Marinir Inggris telah membajak kapal tanker Iran di Selat Gibraltar pada 4 Juli 2019.
NATO Ancam Tindak Rusia jika Keluar dari INF
Sekjen Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO mengatakan, NATO akan memberikan reaksi tegas jika Rusia keluar dari Traktat Angkatan Nulir Jangka Menengah, INF.
Kantor berita Sputnik (16/7/2019) melaporkan, Sekjen NATO, Jens Stoltenberg, Selasa (16/7) menuturkan, jika Rusia keluar dari INF, maka NATO akan melakukan langkah pencegahan dan menunjukkan reaksi keras.
Sekjen NATO sehari sebelumnya meminta Rusia memanfaatkan waktu yang tersisa dan mengatakan, kami mencemaskan perkembangan INF yang dapat habis masanya pada 2 Agustus 2019 mendatang, dan beberapa hari ke depan adalah waktu untuk berunding dan mengambil langkah penting dalam hal ini.
Mereaksi langkah Amerika Serikat menangguhkan implementasi INF, Rusia mengumumkan akan melakukan balasan dengan menghentikan keanggotaannya di traktat ini.
Sebelumnya Amerika mengumumkan akan keluar dari traktat angkatan nuklir jangka menengah INF dengan dalih pelanggaran komitmen oleh Rusia, namun para pengamat percaya tujuan asli Washington adalah melawan kemampuan rudal Cina. (
Graham: Dukung Iran, Eropa akan Disanksi sampai Hancur
Seorang senator Amerika Serikat dari Partai Republik, mengeluarkan statemen keras terhadap negara-negara Eropa, dan mengancam jika Eropa masih mendukung Iran, maka Washington akan menjatuhkan sanksi atas Eropa sampai ia hancur.
Majalah mingguan Amerika, Washington Examiner (15/7/2019) melaporkan, Senator Lindsey Graham mengatakan, negara-negara Eropa terus mendukung pengayaan uranium Iran, dan Amerika harus menekan mereka "sampai ke tanah" dengan menggunakan sanksi.
Graham menambahkan, saya katakan kepada Eropa, jika kalian ingin berpihak pada Iran, silahkan, tapi kalian tidak akan bisa menggunakan bank Amerika atau melakukan transaksi ekonomi dengan negara ini.
"Anda harus memilih Ayatullah atau Amerika, itu pilihan anda. Eropa lemah," tegasnya.
Lembaga Zionis Ingin Bekukan Aset Iran di INSTEX
Sebuah lembaga Zionis bermaksud membekukan aset Iran, dengan mengajukan gugatan terkait mekanisme keuangan khusus Eropa-Iran atau INSTEX.
Fars News (16/7/2019) melaporkan, Surat kabar rezim Zionis Israel, Israel Hayom, Senin (15/7) mengabarkan, Shurat HaDin Israel Law Center yang bertugas menjadi pengacara bagi korban terorisme mengumumkan, kami mewakili beberapa keluarga Israel yang mengajukan gugatan terhadap INSTEX, menuntut agar aset Iran dibekukan dalam kanal ini.
Para penggugat menuduh beberapa organisasi dan kelompok afiliasi Iran berada di balik sejumlah serangan yang menewaskan keluarga mereka.




























