کمالوندی
Ayatullah Ja’far Subhani
Ayatullah Ja’far Subhani
Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Al-Imran:103)
Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh kepada tali (agama) Allah. Perumpamaan bangsa yang terbagi dan terpecah belah adalah seperti seseorang yang jatuh ke dalam sumur, yang membuat Allah SWT menggunakan istilah ‘tali’ dan tidak menggunakan istilah selain ini. Oleh karena itu seseorang yang telah masuk ke dalam sumur tersebut hanya dapat diselamatkan dengan berpegang pada tali yang telah dijulurkan kedalam lubang sumur.
Hal yang perlu digaris bawahi bahwa Al-Qur'an telah berulang-ulang memuji dan memerintahkan umat akan persatuan dan kerukunan, dan melarang umat dari perpecahan. Al-Qur'an telah mencela perpecahan dengan pertimbangan akan terjadinya bencana mengerikan sebagai konsequensinya.
قُلۡ هُوَ ٱلۡقَادِرُ عَلَىٰٓ أَن يَبۡعَثَ عَلَيۡكُمۡ عَذَابٗا مِّن فَوۡقِكُمۡ أَوۡ مِن تَحۡتِ أَرۡجُلِكُمۡ أَوۡ يَلۡبِسَكُمۡ شِيَعٗا وَيُذِيقَ بَعۡضَكُم بَأۡسَ بَعۡضٍۗ
“Katakanlah: "Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain” (QS. Al-An’am: 65)
Dengan demikian, semua umat Islam harus merujuk ke Al-Qur'an, bertindak sesuai dengan perintah Allah SWT didalamnya, dengan bersatu dan menahan diri dari sesuatu yang menyebabkan perpecahan. Apalagi pada zaman sekarang ini, di mana orang-orang kafir dan kekuatan arogan bersekongkol untuk menyebabkan perselisihan di kalangan umat Islam, dan mereka telah memimpin untuk menumpahkan darah satu sama lain untuk demi mencapai tujuan jahat mereka, mendominasi negara-negara Islam dan menjarahnya, yang mana kekayaan alam di negara itu adalah rahmat yang diberikan Allah SWT. Dengan demikian, mereka mencoba untuk membuat tempat yang aman bagi tentara penjajah yang telah menginvasi Palestina dan Yerusalem.
Fenomena Takfir (menuduh orang lain sesat) adalah tindakan tercela dan tidak senonoh; Karena semua umat Islam menyembah satu Tuhan dan percaya pada kenabian Nabi dan hari Hari Kiamat, ini cukup untuk menganggap mereka sebagai Muslim, bahkan jika mereka tidak percaya pada salah satu mazhab dalam Islam. Di ranjang sebelum wafat, Imam Asy'ari mengumpulkan semua muridnya dan mengatakan kepada mereka: “Saya bersaksi bahwa saya tidak pernah menuduh (amalan) muslim yang lain dengan bid'ah, karena mereka semua menyembah satu Tuhan dan semua di bawah bendera Islam. Kita juga wajib menghormati perasaan dan keyakinan yang lain. Kita tidak boleh memperlakukan mereka dengan cara yang menyebabkan perpecahan dan yang dapat menabur benih permusuhan dan dendam, karena hal ini telah menjadi praktek umum keturunan yang saleh diantara kita, yang hidup berdampingan dalam damai dan aman. Tuduhan mengutuk sahabat nabi yang salah dilontarkan terhadap Syiah adalah palsu dan tidak berdasar. Syiah dengan keras menyangkal tuduhan tersebut. Dalam sikap mereka terhadap para sahabat nabi, mereka mencontoh Imam Ali bin Hussein yang berdoa kepada Allah:
"اللهم وأصحاب محمّد خاصة، الذين أحسنوا الصحبة، والذين أبلوا البلاء الحسن في نصره، وکانفوه، وأسرعوا إلی وفادته، وسابقوا إلی دعوته”
“Ya Allah, pujian kepada sahabat Nabi Muhammad SAW yang terpilih, yaitu mereka yang menjadi teman yang baik dan yang telah diberikan ujian dalam membantu dan mendukung Dia (Nabi SAW), dan mereka yang bersegera untuk menghargai kehadiran dan kenabiannya”
Salam Perdamaian untuk Anda Sekalian beserta rahmat Allah dan berkah-Nya.
Hauzah Ilmiyah Kota Suci Qom
Ja'far Subhani
Ayatullah Jawadi Amuli
Ayatullah Jawadi Amuli
Ayatullah Jawadi Amuli mengatakan: "Nabi (SAW) tidak pernah mengutuk siapapun bahkan terhadap berhala sekalipun". Beliau menambahkan: "Kita tidak pernah hidup sendirian di dunia ini; kita memiliki masalah nasional, regional dan internasional, yang harus diselesaikan dengan bijaksana. Kedua masalah asosiasi dan disosiasi (tawalla dan tabarra’) dan keamanan harus diperhitungkan dan ini adalah masalah politik dan sosial. Menurut “ISNA” yang dikutip oleh “Jahan”, pada dini hari, tanggal 17 Farwardin (penanggalan Iran), di kelas tafsir yang diadakan di masjid A'zam, Ayatullah Abd-allah Jawadi Amuli menafsirkan ayat-ayat awal bab surat al-Ahzab, mengatakan: "Surat al-Ahzab, yang berpusat pada isu-isu politik dan pemerintahan, teraktualkan di Madinah (pada zaman Nabi SAW). Di Madinah dijelaskan dan telah dibentuk sistem militer dan basis ekonomi dalam Islam. Dalam surat al-Ahzab ini, disebutkan kata ‘al-marjuufin’, yaitu mereka yang telah menimbulkan penghasutan dan menyebar kecurigaan tak beralasan dan rumor omong kosong yang berlebih kepada masyarakat, berita hasutan ini sudah pasti tidak memiliki nilai kebenaran sama sekali. Kabar tersebut menyebabkan kerusuhan dan turbulensi sosial. Dalam surat al-Ahzab ini, kalimat "Wahai Nabi" telah berulang 5 kali dan ini menyoroti pentingnya masalah ini yang berpusat pada isu militer atau keluarga, yang mana masalah keluarga ini kemudian menjadi isu dasar bertolaknya masalah-masalah besar (di masa itu). Allah SWT berfirman:
يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِيِّ لَسۡتُنَّ كَأَحَدٖ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ
“Wahai Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, (QS. al-Ahzab: 32)
Ayat diatas menunjukkan adanya bahaya yang mengancam masyarakat yang bersumber dari masalah keluarga. Allah juga berfirman:
وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS. Al-Ahzab: 33)
seperti Perang Jamal yang mana berakar dari masalah keluarga ini.
Nabi (SAW) yang tidak pernah mengutuk siapapun mengacu kepada ayat:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ ٱتَّقِ ٱللَّهَ وَلَا تُطِعِ ٱلۡكَٰفِرِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقِينَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا
“Wahai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Ahzab: 1)
Ayatullah Jawadi Amuli menyatakan: "Hal yang perlu digaris bawahi bahwa pembentukan pemerintahan bukanlah tugas yang mudah. kata يا أيها "Wahai Nabi" digunakan untuk peringatan, menginformasikan dan mengingatkan sensitivitas dan pentingnya masalah ini. Di berbagai ayat yang ada di Al-Qur’an, Allah tidak pernah memanggil Nabi dengan sebutan namanya secara langsung, kecuali seperti di surat Al-i-Imran, di mana Allah berbicara kepada beliau dengan namanya, tapi dengan tujuan untuk memberitahu orang-orang bahwa beliau memiliki status sebagai Rasul-Allah atau Nabi-Allah (utusan atau nabi) dan Allah ingin menekanan posisinya. Allah tidak memperlakukan Nabi seperti nabi lainnya, dan ini menunjukkan bahwa kita juga terikat untuk berbicara tentang Nabi dengan hormat dan sopan.
Beberapa para penafsir Al-Qur’an mengatakan:
"Di ayat pertama dari surat Al-Ahzab, Allah memberi tahu bahwa nabi berbudi luhur, karena beliau memiliki misi penting ke depan, yang dapat dicapai hanya melalui kesalehan dan kebajikan. Perang dan pertumpahan darah akan terjadi di masa depan; banyak dari sahabat beliau akan dipenjara atau dibunuh; banyak anggota keluarga yang paling dicintai akan kehilangan kehidupan mereka; oleh karena itu tidak ada jalan untuk menghadapi ini semuanya kecuali dengan takwa. Nabi telah memutuskan untuk memperlakukan masyarakat dengan cara yang tidak biasa, yaitu dengan cara-cara yang shaleh. Seperti ketika Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail yang telah bersusah payah membangun ka'bah. Setelah beberapa waktu, ka’bah tersebuh justru berubah menjadi sebuah kuil berhala di mana semua berhala disimpan didalamnya. bahkan tidak sekali pun Nabi mengutuk mereka, meskipun sebenarnya Nabi bisa berbuat apapun (untuk menghukumnya). Oleh karena itu jika kita ingin hidup damai, tanpa menuduh (amalan) orang lain bid'ah, dan untuk mencegah pembantaian kejam setiap hari di Myanmar, Bangladesh dan Timur, maka kita harus mengikuti cara Nabi. Yang mana bahkan beliau tidak sekali pun mengutuk berhala.”
Pembantaian Kaum Muslimin tidak kalah pentingnya dari isu energi nuklir
Ayatullah Jawadi Amuli menyatakan:
"Melangkahlah di jalan yang benar sebisa yang kalian bisa, dan Allah SWT akan membantu kalian juga. Ada prosedur tertentu dalam rangka membangun masyarakat Islam dan pemerintah: kita harus mengamati etika umum dan tata krama sosial, dan menangani masalah para penyembah berhala secara logis. Mengutuk berhala tidaklah ada gunanya. Kita tidaklah hidup sendiri di dunia ini; kita memiliki masalah dan konflik nasional, regional dan internasional, dan ini harus diselesaikan dengan bijaksana. Kedua isu asosiasi dan disosiasi (tawalla dan Tabarra’) dan keamanan harus diperhitungkan, dan ini adalah masalah politik dan sosial. Masalah-masalah yurisprudensi harus ditangani oleh orang-orang yang memiliki otoritas dalam masalah agama, namun tetap bahwa kedua masalah asosiasi dan disosiasi (tawalla dan tabarra’) dan menjaga keamanan umat Islam harus diutamakan, dan ini tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan isu energi nuklir. Perlu dicatat juga bahwa, perbuatan mengutuk justru berimplikasi kepada pembantaian terus-menerus yang kita saksikan pada akhir-akhir ini. Oleh karena itu, maka masalah ini harus ditemukan solusinya. Apakah kita cukup hanya bersedih atas pembantaian setiap hari yang terjadi di Myanmar, Pakistan, dan Bangladesh? Jika agama ini dimaksudkan untuk menjaga keamanan, masalah ini tidak bisa hanya diselesaikan secara hukum fiqih (saja) oleh hauzah-hauzah tapi juga membutuhkan negosiasi dan diplomasi. Apakah berdukacita dan menangis di ritual dan upacara pemakaman hanya satu-satunya hal yang bisa kita lakukan?
Menanggapi pertanyaan tentang mengutuk dan mencaci, beliau menegaskan:
"Mengutuk berlaku untuk umum, Allah secara umum berfirman:
أُوْلَٰٓئِكَ جَزَآؤُهُمۡ أَنَّ عَلَيۡهِمۡ لَعۡنَةَ ٱللَّهِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ ٨٧
“Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya” (QS. Al-Imran: 87)
Kami dan yang lainnya menyetujui keumuman ayat ini. Ayat ini jelas berlaku untuk untuk umum, dan tidak seharusnya menjadi masalah di perinciannya.
Sebelumnya, jika seorang pangeran mahkota meninggal pada saat perang antara dua negara, gencatan senjata dilakukan selama seminggu, dan kemudian perang dilanjutkan, tapi sekarang, ketika raja Arab Saudi meninggal, beberapa orang mendistribusikan kacang dan permen kepada orang-orang! Ini bukan wajib, ataupun sunnah, tidak masuk masuk akal, dan tidak ada di dalil naqli. Dan tindakan ini dapat dicegah. Maka kami berharap para pejabat Saudi untuk membentangkan karpet merah kepada para jamaah haji! Adapun tugas-tugas keilmuan dan masalah fiqih yang dilakukan oleh hauzah memang memiliki nilai yang besar, tetapi untuk menjadi sesuatu yang bersifat global, maka semua orang dan negara-negara harus membuat kontribusi, seperti cara mereka bekerja sama dan serempak dalam menangani masalah energi nuklir. Sampai kapankah derita ini mampu kita tolerir?
Ayatollah Seyyed Mohammad Shahroodi
Ayatollah Seyyed Mohammad Shahroodi
Siapapun yang bersaksi atas "Keesaan Allah" dan "Kenabian Muhammad (SAW)" adalah Muslim, kehidupan dan hartanya harus dihormati dan dilindungi. Mengambil propertinya (hartanya), membantai ataupun menuduh orang lain sebagai sesat dan menyebabkan perpecahan di antara kaum muslimin tidaklah diperbolehkan. Apapun yang oleh seorang (atau golongan) kaum muslimin yang dianggap suci harus dihormati. Dan Ibadah (ritual suci) dan bangunan mereka tidak boleh dinodai dan dihina.
Seyyed Mohammad Shahroodi
Ketua Dewan Tertinggi Perkumpulan Ulama Hauzah Qom
Ketua Dewan Tertinggi Perkumpulan Guru-guru Hauzah Qom
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
{و لا تسبوا الذين يدعون من دون الله فيسبوا الله عدوا بغير علم}
Allah SWT berfirman:
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan
Al-Quran secara eksplisit melarang kita dari berkata kotor, mengutuk dan melaknat siapa saja yang menyimpang dari jalan yang benar karena hal ini justru akan membuat mereka tidak menghormati Sang Pencipta alam semesta.
Dengan memperhatikan dengan seksama ayat suci Al-Qur’an diatas, maka kita bisa melihat sebuah gambaran umum sebagai berikut:
Melakukan sesuatu yang dapat memancing permusuhan dan menyebabkan orang lain melakukan perbuatan yang salah adalah dilarang.
Oleh karena itu, berkata kotor, mengutuk, dan memaki apapun yang dihormati pada kelompok tertentu, terutama jika mereka adalah pengikut agama surgawi dan ilahi, tidaklah diperbolehkan.
Jelas bahwa jika tindakan, baik secara langsung ataupun tidak langsung mengakibatkan pembunuhan, pembantaian, penghancuran dan hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, maka dengan yakin mereka telah melanggar hukum (syariat Islam), dan mereka juga harus bertanggung jawab baik di dunia dan di akhirat.
Seperti mengutuk dan melaknat dalam dunia maya ataupun nyata, dalam bentuk puisi, pujian, bahkan pidato atau berkabung, dikemas dalam teater ataupun dalam bentuk sinema video.
Tidak peduli apa sifat tindakannya, yang mana dapat memicu pembunuhan, pembantaian, dan kerusakan pada kehidupan, kehormatan dan harta benda.
Dengan menelaah muqoddimah diatas, di dunia di mana tidak ada yang tersisa dari rahasia, (karena adanya) satelit, pasukan keamanan, jaringan mata-mata, dan media massa modern yang cepat, mulai dari internet, radio, televisi, ponsel dengan perangkat media lainnya, yang berperan menyiarkan hal-hal yang berkaitan diatas.
Mengutuk para pemimpin agama yang saleh, terutama para nabi ilahi, para khalifah Islam dan penerus mereka, yang menonjol dalam Islam, termasuk khalifah di era awal Islam, istri-istri Nabi dan anak-anaknya tidaklah diperbolehkan.
Efek dari tindakan ini tidak hanya menyebabkan perpecahan dan dispersi antara ummat Islam, tetapi juga merupakan sumber dari berbagai konflik di berbagai belahan dunia Islam, dan itu jelas dilarang agama.
Tindakan dan perilaku para imam, terutama komandan yang setia, Imam Ali, adalah bukti klaim ini.
Dan secara umum, berkata kotor, mengutuk dan melaknat bukanlah cara yang efektif untuk menyatakan ide yang benar.
Kita tidak seharusnya mengabaikan hasil dari penelitian yang menunjukkan fakta oleh para sarjana, ilmuwan dan para elit, baik secara individu maupun kelompok, di pusat-pusat penelitian ilmiah, pendidikan dan penelitian dari hauzah dan universitas yang mana harus dilakukan jauh dari bias, tidak memihak dan tidak dipolitisasi .
Kemajuan ilmiah di semua bidang humaniora, studi ideologi agama atau disiplin ilmu lainnya tergantung pada imparsialitas dan obyektivitas, bukan persahabatan atau permusuhan.
Diharapkan bahwa berbagai golongan umat Islam dapat mengetahui keadaan dunia saat ini, mempertimbangkan masalah ini lebih hati-hati, dan bertindak lebih peka dan rasional sehingga mereka akan dilindungi oleh Allah SWT. Amin.
Mohammad Yazdi
Ketua Dewan Tertinggi Perkumpulan Guru-guru Hauzah Qom
Ketua Dewan Tertinggi Perkumpulan Guru-guru Hauzah Qom
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
{و لا تسبوا الذين يدعون من دون الله فيسبوا الله عدوا بغير علم}
Allah SWT berfirman:
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan
Al-Quran secara eksplisit melarang kita dari berkata kotor, mengutuk dan melaknat siapa saja yang menyimpang dari jalan yang benar karena hal ini justru akan membuat mereka tidak menghormati Sang Pencipta alam semesta.
Dengan memperhatikan dengan seksama ayat suci Al-Qur’an diatas, maka kita bisa melihat sebuah gambaran umum sebagai berikut:
Melakukan sesuatu yang dapat memancing permusuhan dan menyebabkan orang lain melakukan perbuatan yang salah adalah dilarang.
Oleh karena itu, berkata kotor, mengutuk, dan memaki apapun yang dihormati pada kelompok tertentu, terutama jika mereka adalah pengikut agama surgawi dan ilahi, tidaklah diperbolehkan.
Jelas bahwa jika tindakan, baik secara langsung ataupun tidak langsung mengakibatkan pembunuhan, pembantaian, penghancuran dan hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, maka dengan yakin mereka telah melanggar hukum (syariat Islam), dan mereka juga harus bertanggung jawab baik di dunia dan di akhirat.
Seperti mengutuk dan melaknat dalam dunia maya ataupun nyata, dalam bentuk puisi, pujian, bahkan pidato atau berkabung, dikemas dalam teater ataupun dalam bentuk sinema video.
Tidak peduli apa sifat tindakannya, yang mana dapat memicu pembunuhan, pembantaian, dan kerusakan pada kehidupan, kehormatan dan harta benda.
Dengan menelaah muqoddimah diatas, di dunia di mana tidak ada yang tersisa dari rahasia, (karena adanya) satelit, pasukan keamanan, jaringan mata-mata, dan media massa modern yang cepat, mulai dari internet, radio, televisi, ponsel dengan perangkat media lainnya, yang berperan menyiarkan hal-hal yang berkaitan diatas.
Mengutuk para pemimpin agama yang saleh, terutama para nabi ilahi, para khalifah Islam dan penerus mereka, yang menonjol dalam Islam, termasuk khalifah di era awal Islam, istri-istri Nabi dan anak-anaknya tidaklah diperbolehkan.
Efek dari tindakan ini tidak hanya menyebabkan perpecahan dan dispersi antara ummat Islam, tetapi juga merupakan sumber dari berbagai konflik di berbagai belahan dunia Islam, dan itu jelas dilarang agama.
Tindakan dan perilaku para imam, terutama komandan yang setia, Imam Ali, adalah bukti klaim ini.
Dan secara umum, berkata kotor, mengutuk dan melaknat bukanlah cara yang efektif untuk menyatakan ide yang benar.
Kita tidak seharusnya mengabaikan hasil dari penelitian yang menunjukkan fakta oleh para sarjana, ilmuwan dan para elit, baik secara individu maupun kelompok, di pusat-pusat penelitian ilmiah, pendidikan dan penelitian dari hauzah dan universitas yang mana harus dilakukan jauh dari bias, tidak memihak dan tidak dipolitisasi .
Kemajuan ilmiah di semua bidang humaniora, studi ideologi agama atau disiplin ilmu lainnya tergantung pada imparsialitas dan obyektivitas, bukan persahabatan atau permusuhan.
Diharapkan bahwa berbagai golongan umat Islam dapat mengetahui keadaan dunia saat ini, mempertimbangkan masalah ini lebih hati-hati, dan bertindak lebih peka dan rasional sehingga mereka akan dilindungi oleh Allah SWT. Amin.
Mohammad Yazdi
Ketua Dewan Tertinggi Perkumpulan Guru-guru Hauzah Qom
Ayatullah Mohammad Reza MahdaviKani
Dengan Nama Allah, yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang
Pertanyaan- Ada pertanyaan yang sering (ditanyakan) akhir-akhir ini, yaitu; Kepada siapakah syariat Islam itu dapat diterapkan? Apakah semua Muslim Sunni, Syiah dan sekte lainnya harus setuju dengan penerapan syariat Islam?
Seseorang yang bersaksi atas keesaan Allah SWT dan Kenabian Nabi Muhammad (SAW) adalah seorang Muslim, kecuali mereka merasa dan menunjukkan kebencian dan permusuhan terhadap Ahlul Bait Nabi yang suci.
Syiah dari Ahlul Bait Nabi (SAW) diperintahkan untuk memperlakukan semua Muslim dengan hormat, kehangatan dan persahabatan.
Dan mereka harus menghadiri salat berjamaah dan upacara pemakaman, mengunjungi mereka jika mereka sakit, dan menahan diri dari setiap permusuhan dan perselisihan dengan Muslim, karena semua ini adalah apa-apa yang musuh-musuh Islam inginkan.
Syiah harus menghormati semua agama dan menyadari hasutan dari musuh-musuh Islam, karena musuh takut akan kebangkitan Islam.
قال الله تعالي: {و اعتصموا بحبل الله جميعا و لا تفرقوا و اذكروا نعمت الله عليكم إذ كنتم أعداء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخوانا ...} (آل عمران: 103)
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara;… (Q.S. Al-i-Imran: 103)."
اللهم انصر الاسلام واهله واخذل الکفر واهله.
"Semoga Allah memberikan kemenangan bagi Islam dan para pengikutnya, dan menghinakan kekafiran dan orang-orang kafir"
Menuduh (amalan) Muslim sebagai bid'ah, membunuh dan menjarah properti mereka adalah dilarang dalam agama dan dianggap sebagai dosa besar.
{من قتل نفسا بغير نفس أو فساد في الأرض فكأنما قتل الناس جميعا}. (مائده: 32)
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (Q.S. Al-Maidah: 32)
Perkumpulan Ulama Tehran dan Dewan Agung.
Mohammad Reza MahdaviKani
Ayatullah Asif Mohseni
Dalam Nama Allah, Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang
Ini adalah respon terhadap pertanyaan yang dikirim ke Ayatullah oleh Seyyed Ali Ghazi Asgar selaku penanggung jawab peziarah Iran dan perwakilan tertinggi Rahbar dalam urusan Haji dan Ziarah.
Pertanyaannya menyangkut pembantaian dan kejahatan yang dilakukan oleh kekuatan arogan internasional dan agen-agen mereka yang menuduh orang lain sesat (terutama) terhadap Muslim Syiah dan Sunni. Mereka memfitnah Islam di seluruh dunia dan menabur benih perpecahan agama dan pemikiran di kalangan umat Islam tanpa dasar agama atau pemikiran yang benar. Inilah sebabnya mengapa hari ini Islam dan negara-negara Muslim berada dalam situasi sangat sulit.
Pertama, bagi siapa saja yang percaya kepada keesaan Allah, misi Nabi Muhammad Al-Mustafa, tertutupnya kenabian (setelah Nabi Muhammad SAW) dan hari kiamat adalah seorang Muslim.
Kedua, menyerang kehidupan, harta, dan kehormatan umat Islam dengan tegas dilarang.
Ketiga, semua Muslim adalah saudara, dan mereka harus menyebarkan Islam dengan mempertahankan persaudaraan Islam di antara mereka sendiri, dan menerima perbedaan kecil diantara mereka.
Keempat, menyebabkan sengketa dan perpecahan di antara para pengikut Islam, dihitung sebagai pengkhianatan terhadap Islam.
Ayatollah Asif Mohseni, Afghanistan.
Ayatullah Salehi Modarres
Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang
Pernyataan dibawah Ini adalah jawaban terhadap pertanyaan yang dikirim kepada Ayatullah oleh Seyyed Ali Ghazi Asgar sebagai penanggung jawab peziarah Iran dan perwakilan Rahbar (Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran) dalam urusan Haji dan Umrah.
Pertanyaannya menyangkut pembantaian dan kejahatan yang dilakukan oleh kekuatan arogan internasional dan agen-agen mereka yang menuduh orang lain sesat (terutama) terhadap Muslim Syiah dan Sunni. Mereka memfitnah Islam di seluruh dunia dan menabur benih perpecahan agama dan pemikiran di kalangan umat Islam tanpa dasar agama atau pemikiran yang benar. Inilah sebabnya mengapa hari ini Islam dan negara-negara Muslim berada dalam situasi sangat sulit.
Setelah perlunya menolak kemusyrikan, masalah kedua yang perlu ditekankan bagi umat Islam adalah kesatuan umat Islam.
بني الاسلام على دعامتين کلمة التوحيد و وحدت الکلمه.
"Islam didasarkan pada dua prinsip: Tauhid dan Persatuan".
Oleh karena itu, hal-hal yang menyebabkan kerusakan pada kehidupan, harta, dan kehormatan kaum muslimin adalah salah satu dosa terbesar dan larangan dalam Islam.
Islam tidak mengizinkan menghina keyakinan agama dari setiap sekte atau golongan umat Islam yang lainnya.
Di sisi lain, serangan bunuh diri terhadap Muslim dan pembantaian mereka di berbagai negara adalah salah satu bentuk agama yang melanggar hukum. Salah satu wujud kerusakan dan termasuk dalam dosa tak termaafkan yang pada akhirnya akan membawa mereka ke dalam api neraka.
Muslim Syiah dan Muslim Sunni harus menyadari plot musuh, pemecah belah umat dan mereka yang menuduh orang lain sesat.
Ini adalah kewajiban semua Muslim untuk menunjukkan wajah Islam yang sebenarnya kepada dunia, Islam yang merupakan agama kasih sayang dan kebaikan. Mereka diminta untuk menyebarkan Islam, menjaga persaudaraan dan persatuan mereka.
Mohammad Hashem Salehi
12/2/92
Ayatollah Salehi Modarres - Afghanistan
Ayatullah Udzma Seyyed Musa Shobeiri Zanjani
Selain kaum Khawarij dan Nawasib, bagi siapa yang bersaksi atas Keesaan Allah dan Kenabian Nabi Muhammad (SAW) adalah seorang Muslim dan semua hukum Islam tentang perkawinan, warisan, penghormatan terhadap kehidupan dan properti serta yang lain-lain berlaku baginya. Mereka yang telah menciptakan perpecahan di antara umat Islam dan menuduh (amalan) umat Islam lainnya dengan bid'ah tidaklah memahami tentang realitas Islam sebernarnya, dan tak diragukan lagi bahwa mereka baik agen langsung dari para penjajah, atau bertindak sejalan dengan upaya jahat dari penjajah untuk menghancurkan dasar-dasar Islam, mencabut agama Nabi suci (SAW), dan telah menghilangkan tentang Ke-Kudus-annya dari fikiran mereka. Serangan bunuh diri dari kelompok-kelompok ini hanya justru memperlancar isu bidah dan menjadi musuh bebuyutan umat Islam:
{قل هل ننبئكم بالأخسرين أعمالا * الذين ضل سعيهم في الحياة الدنيا و هم يحسبون أنهم يحسنون صنعا}
"Katakanlah: Sudikah Anda kami beritahu tentang orang-orang yang telah kehilangan sebagian besar amal perbuatan mereka, yaitu mereka yang telah membuang segala jerih upayanya di kehidupan ini, tapi mereka mengira bahwa mereka telah memperoleh kebaikan dari amal perbuatan mereka.."
Insya Allah, semua umat Islam akan tetap waspada terhadap trik dan tipuan musuh, dan akan tetap teguh serta tabah dalam sumbangsi demi kemuliaan dan kehormatan Islam.
Seyyed Musa Shobeiri Zanjani
3 Rajab, 1434
Banyak-banyaklah Mengingat Allah
"
Barang siapa yang berpaling dari mengingat Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami kuasakan atasnya setan (yang menyesatkan), lalu setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Qs. Az-Zukhruf: 36).
Dari ayat suci ini jelas dan terang, bahwa untuk tidak terjebak pada penguasaan syaitan maka kita tidak boleh lalai apalagi berpaling dari mengingat Allah SWT. Keutamaan mengingat Allah bukan sekedar agar terhindar dan terlepas dari godaan dan gangguan syaitan, namun lebih dari itu, mengingat Allah adalah ibadah yang lebih besar keutamaannya dibanding ibadah-ibadah yang lain. Allah SWT berfirman, “…dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).” (Qs. Al-Ankabut: 45). Dikatakan mengingat Allah (dzikrullah) lebih besar keutamaannya karena pada hakikatnya setiap ibadah yang dilakukan (shalat, zakat, puasa, naik haji, jihad, ‘amar ma’ruf nahi munkar dan lain-lain) adalah dalam rangka semata-mata untuk mengingat Allah. Ayatullah Husain Mazhahiri dalam kitabnya Jihad an-Nafs menafsirkan firman Allah SWT, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Qs. Thaha: 41) dengan mengartikan, “Tidak ada Tuhan yang memberikan pengaruh di alam wujud selain Aku, dan wajib atas kamu beribadah kepada-Ku dengan tujuan mengingat Aku, yang merupakan sebesar-besarnya kewajiban.”
Hal lain yang menunjukkan keutamaan dzikrullah dibanding ibadah lain, misalnya dalam shalat, haji, zakat, puasa ataupun jihad pengamalannya memiliki syarat-syarat, batasan-batasan, situasi dan kondisi tertentu, dan waktu-waktu yang telah ditentukan, sementara zikir tidak. Allah SWT memerintahkan, “Hai orang-orang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Qs. Al-Ahzab: 41). Jika ibadah lain yang dituntut adalah kualitasnya, zikir sedikit berbeda, yang dituntut adalah kuantitasnya. Puasa misalnya, kita hanya diwajibkan untuk melakukannya di bulan Ramadhan saja, haji hanya pada Dzulhijjah saja, shalat fardhu pada waktu-waktu dan tempat yang telah ditentukan namun zikir bisa dilakukan kapan, dimana saja dan dalam setiap keadaan. Perintah Allah untuk berzikir sebanyak-banyaknya, menunjukkan tidak ada batasan waktu untuk berzikir. Allah menyifatkan ibadah-ibadah yang lain dengan ‘amalan shâlihâ bukan ‘amalan katsîrâ. Namun khusus untuk zikir, Al-Quran memakai kata sifat dzikran katsîrâ bukan dzikran shâlihâ. Ini juga bisa diartikan, betapa pun jelek kualitas zikir kita, kita tetap dianjurkan untuk berzikir sebanyak-banyaknya. Zikir dianjurkan untuk dilakukan dalam setiap keadaan, sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, bahkan dalam keadaan sibuk mencari rezeki sekalipun. Allah SWT berfirman, “Apabila salat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Qs. Al-Jumuah: 10). 7. Sungguh indah Allah SWT yang menyampaikan, “Kaum laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (Qs. An-Nur: 37-38).
Orang-orang yang senantiasa mengingat Allah disebut oleh Allah SWT sebagai orang-orang yang berakal (Ulil Albab). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs. Ali-Imran: 190-191). Jika Allah SWT menjadikan zikir sebanyak-banyaknya sebagai tanda dari Ulil Albab (orang-orang yang berakal) maka bagi yang zikirnya sedikit, Allah menyebutnya sebagai tanda kemunafikan. Allah SWT berfirman tentang orang-orang munafik, “…dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Qs. An-Nisa’: 142). Sedangkan bagi yang sama sekali lalai dan berpaling dari zikrullah maka Allah menyifatkannya sebagai teman-teman syaitan, “Barang siapa yang berpaling dari mengingat Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami kuasakan atasnya setan (yang menyesatkan), lalu setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Qs. Az-Zukhruf: 36). Bahkan dalam ayat lain dikatakan termasuk dalam golongan syaitan, “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi. (Qs. Al Mujaadilah: 19). Naudzubillah.
Zikrullah adalah aktivitas Anbiyah as dan para Aimmah as, mereka tidak pernah lepas dari mengingat Allah SWT. Sebagaimana yang diriwayatkan Ibn Asakir dalam Tarikh Dimasyq, II, hal. 439, Rasulullah saww sampai menyebut Imam Ali as sebagai orang yang selalu berzikir (da’im az-zikr). Dalam banyak ayat, secara khusus Allah SWT memerintahkan kepada kekasih-Nya Muhammad saww untuk senantiasa berzikir, “…Dan sebutlah nama Tuhan-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan di malam hari, bersujud dan bertasbihlah kepada-Nya pada sebagian besar malam.” (Qs. Al-Insan: 25-26). Zikir bisa dilakukan dengan dua cara, zikir secara lisan (lafzhi) sebagaimana dalam perintah, “Sebutlah!”dan zikir dengan hati (qalbi) sebagaimana dalam perintah, “Ingatlah!”.. Keduanya sangat berpengaruh pada jiwa. Lewat berzikir dan mengingat Allah maka pintu-pintu jalan bagi syaitan untuk memberi pengaruh akan tertutup rapat, baik syaitan dari kalangan jin maupun manusia. Zikir juga dapat menghilangkan was-was, keraguan dan menentramkan batin, Allah SWT berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Qs. Ar Ra'd: 28).
Terakhir, untuk tulisan ini. Ada hadits qudsi yang diriwayatkan secara muttafaq ‘alaihi, yakni diriwayatkan oleh dua Imam ahli hadits Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Imam Bukhari dan Imam Muslim, sehingga sulit untuk melemahkan kedudukannya, sayangnya sering dipenggal secara sepihak oleh pihak tertentu. Dari Abu Hurairah, Allah SWT berfirman lewat lisan Nabiullah Muhammad saw, “Aku terserah kepada persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Jika ia mengingat-Ku (berzikir) dalam dirinya, Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam sebuah jama’ah, Aku akan menyebutnya di dalam jama’ah yang lebih baik dari mereka”.
Ya, ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, dalam setiap keadaan, dalam keadaan berkesendirian, dalam keadaan berjama'ah....
Qom, 27 Maret 2010




























