کمالوندی

کمالوندی

 

Sebuah situs web ternama Inggris menulis bahwa setelah dua tahun perang dan genosida terhadap Gaza, justru rezim Israel-lah yang kini terisolasi di panggung internasional.

Tehran, Parstoday- Adnan Hamidan, analis situs Middle East Eye, dalam sebuah artikel analitis meninjau hasil yang dicapai, baik oleh Israel maupun oleh rakyat Palestina mengungkapkan  fakta setelah lebih dari dua tahun perang dan penghancuran sistematis terhadap Jalur Gaza. Ia menulis: “Ketika gencatan senjata di Gaza akhirnya berlaku setelah dua tahun kehancuran tanpa henti, satu kebenaran tampak lebih jelas dari sebelumnya: Israel tidak menang, dan Gaza tidak kalah.”

Hamidan menegaskan bahwa meskipun penderitaan dan kehancuran begitu besar, perang Israel tidak berakhir dengan kemenangan, melainkan dengan kehinaan dan kegagalan.Ia menggambarkan rezim Tel Aviv sebagai negara yang gagal secara militer, politik, ekonomi, dan moral. Apa yang terjadi di Gaza, katanya, bukanlah pertunjukan kekuatan, melainkan runtuhnya ilusi superioritas Israel.Sejak awal, para pejabat Israel mengklaim bahwa tujuan utama perang ini adalah “menghapus perlawanan,” “membersihkan Gaza,” dan “memulihkan daya gentar.” Namun, tidak satu pun dari tujuan tersebut tercapai.

Kegagalan Militer Israel dan Ketangguhan Perlawanan

Analis Middle East Eye menulis bahwa struktur perlawanan Palestina tetap berdiri kokoh. Jaringan komandonya terus berfungsi meski di bawah blokade, pengeboman, dan kehancuran.“Para pembela Gaza tetap terorganisir dan tidak terkalahkan, sementara justru tentara Israel yang mengalami demoralisasi dan kehilangan kepercayaan diri.”Hamidan menekankan bahwa satu-satunya “keberhasilan” Israel adalah membunuh puluhan ribu warga sipil, menghancurkan kawasan pemukiman, dan melakukan kejahatan yang oleh PBB dikategorikan sebagai genosida.Namun, kekalahan Israel tidak hanya terbatas pada medan tempur. Di bidang politik dan ekonomi, kekalahannya bahkan lebih nyata.

Kerugian Ekonomi dan Kejatuhan Moral

Menurut Hamidan, perang Gaza menjadi bencana ekonomi bagi Israel. Kerugian langsungnya diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar, sementara sektor pariwisata dan investasi asing hancur total.Banyak perusahaan global menghentikan atau memblokir kerja sama mereka dengan Tel Aviv, dan bursa saham Tel Aviv mencatat kinerja terburuk dalam dua dekade terakhir.Selain itu, ketakutan dan ketidakpercayaan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Israel. Gelombang emigrasi diam-diam ke Eropa dan Amerika Utara meningkat, sementara secara politik, Israel lebih terisolasi daripada sebelumnya.

Kemenangan Moral dan Naratif Palestina

Sementara itu, Gaza — wilayah yang dijanjikan Israel akan “dibersihkan” — tetap berdiri tegak. Ketahanan Gaza, menurut Hamidan, telah mengubahnya menjadi pemenang sejati perang ini.Lebih jauh, perang Gaza telah mengubah kesadaran global. Narasi rakyat Palestina kini mengungguli narasi resmi Israel di panggung internasional.“Mesin propaganda Israel, yang dulu mampu mendikte persepsi dunia Barat, kini goyah di hadapan bukti-bukti yang tak terbantahkan,” tulis Middle East Eye.

Kesimpulan

Dua tahun setelah dimulainya agresi militer, Israel bukan hanya gagal mencapai tujuan militernya, tetapi juga kehilangan posisi moral dan politiknya di mata dunia.Sebaliknya, Gaza muncul sebagai simbol keteguhan, daya tahan, dan kebangkitan narasi keadilan Palestina. Dalam pandangan Middle East Eye, akhir perang ini bukanlah kemenangan militer Israel, melainkan awal dari kekalahan strategis dan moral yang mendalam.

 

Perdana Menteri Zionis Israel mengklaim bahwa akhir perang Gaza hanya akan mungkin terjadi setelah implementasi penuh perjanjian gencatan senjata dua tahap dan pemenuhan persyaratan seperti pengembalian tawanan Israel dan pelucutan senjata Hamas.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menambahkan, "Syarat untuk mengakhiri perang adalah pengembalian semua tawanan Israel dan pelucutan senjata Hamas sepenuhnya. Kami berharap ini akan tercapai dengan mudah, jika tidak, kami akan mencapainya dengan cara yang sulit yang akan mengakhiri perang."

Sikap Netanyahu baru-baru ini telah memicu reaksi domestik dan regional serta menunjukkan tanda-tanda ketidaksepakatan dalam kabinet Israel.

Dalam hal ini, Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Dalam Negeri Rezim Israel melanjutkan sesumbarnya terhadap perlawanan, dan mengancam akan membubarkan kabinet pada tanggal tertentu jika Hamas tidak dibubarkan dan hukuman mati tidak diterapkan kepada tahanan Palestina.

Kantor Perdana Menteri Israel sebelumnya telah mengumumkan bahwa Netanyahu telah memerintahkan penutupan perlintasan Rafah hingga pemberitahuan lebih lanjut. Netanyahu mengatakan bahwa pembukaan kembali penyeberangan akan bergantung pada kepatuhan Hamas terhadap komitmennya, terutama dalam memulangkan jenazah tawanan Israel dan menerapkan kerangka kerja yang disepakati.

Sementara itu, Diaa Rashwan, Kepala Badan Informasi Mesir mengatakan bahwa Netanyahu menggunakan penundaan penyerahan jenazah tawanan Zionis sebagai alat tekanan politik, dengan mengaitkan penundaan tersebut dengan kondisi keamanan yang sulit di Gaza dan kurangnya akses ke beberapa wilayah.

Rashwan menekankan bahwa dengan mengangkat isu-isu ini, Netanyahu berusaha menunda fase kedua perjanjian, yang akan mencakup penarikan penuh tentara Israel dari Gaza. Menurut Rashwan, isu-isu ini merupakan tantangan bagi Netanyahu di dalam rezim Israel dan ia berusaha menghindarinya.

Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) mengumumkan bahwa keputusan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mencegah pembukaan penyeberangan Rafah hingga pemberitahuan lebih lanjut merupakan pelanggaran nyata terhadap klausul perjanjian gencatan senjata dan pengingkaran terhadap komitmen yang ia buat kepada para mediator dan pihak penjamin.

Rezim Israel berupaya menunda fase kedua perjanjian gencatan senjata di Gaza dengan berbagai dalih, termasuk jenazah tawanan militer Israel, serta eskalasi perselisihan politik internal di Tel Aviv. Rezim Israel telah mengumumkan bahwa fase kedua perjanjian gencatan senjata tidak akan dimulai hingga Hamas mengembalikan jenazah tawanan Israel. Hal ini terjadi di tengah situasi di mana Hamas baru-baru ini menyerahkan jenazah dua sandera Israel.

Netanyahu, mengingat meningkatnya krisis politik dan protes ekstremis Zionis serta ancaman mereka untuk meninggalkan kabinet, menghalangi proses gencatan senjata, dan beberapa anggota kabinet rezim Zionis ingin perang berlanjut hingga Hamas sepenuhnya dilucuti.

Rezim Zionis juga menolak membuka perlintasan Rafah dengan melanggar perjanjian dan komitmennya serta berbohong. Tindakan rezim Zionis ini telah menunda masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza dan implementasi fase kedua perjanjian tersebut. Rezim Zionis juga telah menangguhkan pertukaran tahanan oleh Hamas dengan serangan sporadis dan pelanggaran gencatan senjata, dan telah membawa proses ini ke dalam krisis.

Tentara rezim Zionis belum memenuhi komitmennya dan belum sepenuhnya melaksanakan penarikan pasukan dari Gaza, dan beberapa pejabat Zionis mendukung kelanjutan operasi militer. Netanyahu dan Zionis ekstremis, yang gagal mencapai tujuan jahat mereka di Gaza dan terpaksa menerima kekalahan dalam menghadapi perlawanan Palestina, berusaha memanfaatkan situasi saat ini untuk membenarkan kelanjutan perang Gaza dengan segala cara yang memungkinkan.

Perkembangan di Gaza setelah Operasi Badai Al-Aqsa menunjukkan bahwa kelompok-kelompok perlawanan Palestina sepenuhnya siap untuk membela tuntutan dan aspirasi sah rakyat Palestina, dan sabotase oleh otoritas rezim Zionis dengan dukungan terbuka dari Gedung Putih tidak akan menghentikan proses ini.

 

Gerakan Muqawama Islam Palestina (Hamas) mengumumkan bahwa keputusan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu untuk menghalangi pembukaan jalur penyeberangan Rafah sampai pemberitahuan lebih lanjut merupakan pelanggaran yang jelas terhadap ketentuan perjanjian gencatan senjata dan pengingkaran terhadap komitmen yang dibuatnya kepada para mediator dan pihak penjamin.

Hamas dalam keterangan persnya menekankan bahwa berlanjutnya penutupan jalur penyeberangan Rafah, mencegah keluarnya mencegah keluarnya korban luka dan sakit serta pergerakan warga dari kedua arah, mencegah masuknya peralatan khusus yang diperlukan untuk operasi pencarian mereka yang hilang di bawah reruntuhan, dan mencegah masuknya peralatan dan tim khusus untuk memeriksa jenazah (Israel) dan memverifikasi identitas mereka, akan menyebabkan penundaan operasi untuk mengevakuasi dan menyerahkan jenazah. Hamas juga menyerukan tindakan segera dari para mediator dan penjamin perjanjian untuk menekan penjajah agar segera membuka kembali perbatasan Rafah.

Mufti Besar Oman Memuji Perilaku Hamas terhadap Tawanan Zionis

Sheikh Ahmad bin Hamad al-Khalili, mufti besar Oman memuji perlakuan baik Hamas dan pasukan muqawama terhadap para tawanan Zionis yang mendapat apresiasi dan solidaritas masyarakat dunia. Sheikh Ahmad bin Hamad al-Khalili di akun X nya menulis: Salah satu nikmat Tuhan kepada muqawama Islam di Gaza adalah kebaikan hatinya terhadap para tawanan yang ada di tangan mereka dan perlakuan baiknya terhadap mereka, sehingga para tawanan pun bercerita tentang perlakuan tersebut dengan penuh kekaguman.

Rezim Zionis Langgar 47 kali Kesepakatan Gaza

Kantor informasi pemerintah Palestina di Gaza mengumumkan bahwa rezim Israel telah melanggar perjanjian gencatan senjata di Gaza sebanyak 47 kali sejak dimulai. Merujuk pada gugurnya 38 orang dan cederanya 143 orang lainnya di Gaza oleh Zionis, kantor tersebut menambahkan: "Rezim Israel telah melanggar perjanjian ini sejak pengumuman berakhirnya perang di Gaza, yang merupakan pelanggaran terhadap aturan hukum humaniter internasional."

Pelanggaran Gencatan Senjata Berulang; Serangan Drone Israel di Lebanon Selatan

Melanjutkan pelanggaran gencatan senjata di Lebanon, rezim pendudukan menargetkan wilayah di sekitar wilayah Deir Kifa di Lebanon selatan dengan serangan pesawat nirawak pada hari Minggu. Rezim Israel menembakkan tiga roket ke wilayah perbatasan antara wilayah Deir Kifa dan Kafr Dounin di Lebanon selatan. Melanjutkan pelanggaran gencatan senjata di Lebanon, rezim pendudukan melancarkan serangkaian serangan udara di Lebanon timur dan selatan pada Kamis malam.

Netanyahu Umumkan Pencalonan Diri untuk Pemilu Israel 2026 di tengah Tuntutan Hukum

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang diburu oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas kebijakan kabinetnya dalam perang Gaza dan karena melakukan kejahatan perang, mengumumkan keputusannya untuk kembali mencalonkan diri dalam pemilihan parlemen Israel yang dijadwalkan pada November 2026. Netanyahu mengumumkan pada Sabtu malam dalam sebuah wawancara dengan televisi Channel 14 Israel bahwa ia bermaksud untuk kembali mencalonkan diri sebagai perdana menteri dalam pemilihan parlemen (Knesset) mendatang.

Upaya Netanyahu Tangguhkan Tahap Kedua Kesepakatan Gencatan Senjata Gaza

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netnayahu dalam sebuah statemen yang dinilai sebagai upaya untuk menangguhkan tahap kedua kesepakatan gencatan senjata di Gaza, mengatakan bahwa akhir perang hanya mungkin setelah implementasi penuh kesepakatan gencatan senjata di tahap kedua, dan terealisasinya syarat seperti pemulangan tawanan Israel serta pelucutan senjata Hamas.

 

Dua tahun telah berlalu sejak Israel melancarkan serangan gencarnya ke Gaza dengan dalih "menghancurkan Hamas sepenuhnya". Selama masa ini, rezim Zionis bukan hanya gagal menghancurkan Hamas, tetapi juga kehilangan kredibilitasnya di mata dunia.

"Ribuan pejuang Hamas telah bangkit dari reruntuhan Gaza", demikianlah pendapat publikasi Amerika, National Interest, tentang kondisi pasukan Hamas setelah dua tahun perjuangan.

Menurut laporan Pars Today mengutip FNA, National Interest menekankan bahwa Hamas masih hidup dan kelompok tersebut tidak dapat dihancurkan hanya melalui aksi militer.

Hamas berakar di masyarakat Palestina

Para pejabat Israel telah berulang kali mengklaim bahwa mereka mampu mengalahkan Hamas, tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Para ahli percaya bahwa Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) bukan sekadar kelompok militan, melainkan gerakan politik dan ideologis yang berakar kuat dalam masyarakat Palestina.

Menurut para analis, penghancuran infrastruktur atau pemusnahan para pemimpin gerakan semacam itu mungkin saja terjadi, tetapi ideologi dan keyakinan ini tidak dapat dihancurkan selamanya, terutama karena keyakinan ini berakar pada patriotisme dan perjuangan puluhan tahun rakyat Palestina untuk mempertahankan tanah mereka.

The National Interest menekankan bahwa tujuan "kemenangan penuh" yang dideklarasikan Israel hanyalah "fatamorgana" sejak awal.

Media ini menambahkan bahwa terlepas dari semua tindakan Israel yang membunuh banyak warga sipil dan menghancurkan Gaza, alasan utama pembentukan Hamas tetap utuh. Para ahli percaya bahwa selama kondisi ini berlaku dan negara Palestina tidak diakui, perjuangan Hamas akan terus berlanjut.

Media Amerika ini menekankan bahwa ideologi tidak dapat dihancurkan dengan peluru dan semakin banyak serangan yang dilakukan, semakin kuat ideologi dan keyakinan rakyat Palestina untuk melanjutkan perjuangan.

 

Perang teknologi dan sumber daya mineral antara Amerika Serikat dan Cina telah menempatkan Eropa dalam posisi yang rapuh.

Financial Times menulis dalam sebuah laporan bahwa ketergantungan ganda Uni Eropa pada teknologi digital Amerika dan industri pengolahan mineral Cina telah menjadikannya pemain yang rentan dalam persaingan kekuatan besar.

Menurut laporan Pars Today mengutip FNA, perang teknologi antara Timur dan Barat bukanlah fenomena baru. Selama Perang Dingin, Amerika Serikat dan sekutunya terlibat dalam persaingan teknologi antariksa dan persenjataan dengan Uni Soviet. Namun, dalam perang teknologi antara Washington dan Beijing saat ini, Eropa tampaknya menjadi pihak yang paling dirugikan.

Pada tahun 1949, Amerika Serikat, bersama sekutunya, membentuk sebuah komite yang disebut "Komite Koordinasi Pengendalian Ekspor Multilateral" untuk mencegah Blok Timur mengakses teknologi yang dapat memperkuat kekuatan militer dan ekonomi Soviet. Kebijakan ini semakin intensif selama masa kepresidenan Ronald Reagan, dan ekspor mikrochip, komputer, dan teknologi ekstraksi minyak ke negara-negara Pakta Warsawa dilarang. Kesenjangan teknologi yang diakibatkan oleh kebijakan-kebijakan ini berkontribusi pada keruntuhan Uni Soviet yang lebih cepat.

Menciptakan Kembali Perang Teknologi, Kali Ini dengan Cina

Dalam beberapa tahun terakhir, tiga pemerintahan AS berturut-turut telah menerapkan kebijakan serupa terhadap Cina, membatasi ekspor mikrochip canggih dan mesin untuk memproduksinya. Namun, perbedaannya adalah, tidak seperti Uni Soviet, Cina memiliki kemampuan untuk membalas.

Dengan monopoli atas produksi dan pemrosesan unsur tanah jarang, Beijing dapat membatasi ekspor bahan-bahan vital ini. Pekan lalu, pemerintah Cina mengumumkan kontrol ekspor terhadap 12 dari 17 logam tanah jarang untuk "melindungi kepentingan keamanan nasional".

Meskipun pemerintahan Trump telah menekankan penggunaan sumber daya ini dalam transisi energi hijau, perhatian utama kini beralih ke sektor pertahanan Barat. Industri militer, mulai dari drone dan tank hingga kapal selam dan rudal, bergantung pada unsur langka seperti disprosium dan terbium, unsur-unsur yang kini tunduk pada kontrol ekspor Cina.

Ketergantungan Militer dan Teknologi Barat terhadap Timur

Pada minggu pertama perang Iran-Israel di bulan Juni tahun ini, sekitar 800 rudal dipertukarkan antara kedua belah pihak. Setiap rudal mengandung 2 hingga 20 kilogram unsur tanah jarang. Menurut perkiraan, antara 1,6 dan 16 ton material ini hancur di medan perang hanya dalam tujuh hari.

Dalam perang Ukraina, keberhasilan luar biasa pesawat nirawak negara itu melawan Rusia sangat bergantung pada komponen elektronik dan magnet yang diimpor dari Cina. Menurut para ahli, Kiev sekarang lebih peduli dengan aliran teknologi dari Cina daripada senjata Eropa.

Selama tiga dekade terakhir, Cina telah menjadi pemain terbesar dalam industri pengolahan mineral dunia. Dari 54 mineral vital yang diidentifikasi oleh Survei Geologi AS untuk industri-industri utama, Cina adalah pemimpin dalam pengolahan sebagian besarnya dan memiliki kemampuan yang tak tertandingi untuk mengolahnya.

Produsen Cina mengolah hampir setiap jenis mineral 30 persen lebih murah daripada pesaing mereka. Untuk bersaing dengan situasi ini, pemerintah Barat harus mengalokasikan subsidi yang sangat besar, sesuatu yang belum tercapai.

Eropa Pihak Paling Dirugikan dalam Perang Teknologi dan Sumber Daya Mineral

Seiring Washington berupaya membatasi akses Cina ke mikrochip canggih dan menghidupkan kembali produksi domestiknya, Eropa justru tertinggal dari kedua pihak. Pada pertemuan para ahli bahan baku penting di Wina baru-baru ini, para ahli menyimpulkan bahwa bukan AS maupun Cina, melainkan Eropa, yang menjadi pihak yang paling dirugikan dalam perang teknologi dan sumber daya mineral.

Meskipun AS telah menjauhkan diri dari kebijakan energi hijau, teknologi surya dan angin merupakan bagian integral dari identitas ekonomi Eropa abad ke-21. Perusahaan-perusahaan Eropa merupakan pelopor dalam energi terbarukan dan kendaraan listrik, tetapi kini Cina mendominasi semua industri ini, mulai dari panel surya dan turbin angin hingga baterai litium.

Kesenjangan Investasi dan Kebijakan

Amerika Serikat secara bertahap membangun kembali industri tanah jarangnya dan memperluas pengaruhnya terhadap produsen bahan-bahan penting di Amerika Selatan, termasuk cadangan litium yang besar di Chili dan Bolivia. Namun, Eropa bahkan belum berada di awal perjalanan. Uni Eropa telah mengembangkan strateginya sendiri untuk bahan baku penting, tetapi proyek-proyek pertambangan di negara-negara anggotanya menghadapi perlawanan sengit dari kelompok-kelompok lingkungan.

Perlawanan politik ini dan kurangnya investasi skala besar telah membuat Uni Eropa semakin bergantung pada rantai pasokan AS dan Cina. Para ahli memperingatkan bahwa investasi Uni Eropa dalam industri maju tidak seberapa dibandingkan dengan triliunan dolar yang digelontorkan oleh Cina dan AS.

Eropa di Ambang Kehilangan Kemandirian Teknologi

Jika Brussels gagal memobilisasi anggotanya untuk tindakan terkoordinasi dalam waktu dekat, para analis yakin negara itu akan segera menjadi "ketergantungan permanen" pada salah satu dari dua kekuatan, Timur atau Barat. Eropa terjebak dalam dilema strategis: di satu sisi, membutuhkan Amerika Serikat untuk teknologi digital, infrastruktur cloud, dan kecerdasan buatan; di sisi lain, bergantung pada Cina untuk bahan baku bagi industri pertahanan dan energi bersihnya.

Sementara Washington dan Beijing bersaing untuk mendominasi industri masa depan, mulai dari kecerdasan buatan dan komputasi kuantum hingga robotika dan drone, Eropa hanya duduk di pinggir. Masa depan ekonomi dan industri benua ini kini lebih dari sebelumnya bergantung pada keputusan kekuatan transatlantik dan Asia.

Perang memperebutkan logam tanah jarang bukan sekadar kompetisi teknologi, melainkan ujian bagi otonomi strategis negara-negara. Sementara itu, Eropa telah menjadi bukan pemain, melainkan panggung dalam persaingan ini, sebuah benua yang, jika tidak segera sadar, mungkin akan kehilangan tempatnya di peta industri dan geopolitik dunia selamanya.

Minggu, 14 September 2025 09:53

Keluarga, Harta Karun Kecil Kehidupan

 

Manusia diciptakan dalam keadaan tidak tahu di awal kehidupannya, tetapi penuh dengan potensi ilahi. Al-Qur'an memandang hak untuk belajar dan berkembang secara intelektual sebagai salah satu hak paling mendasar setiap anak hak dan kewajiban orang tua untuk menanamkan benih-benih ilmu dan akhlak di hati anak-anak mereka melalui pengasuhan yang tepat.

Tehran, Pars Today-Penciptaan manusia adalah fenomena yang menakjubkan, penuh dengan hikmat ilahi. Tuhan Yang Maha kuasa telah menempatkan manusia di awal kehidupannya, sebagai makhluk yang belum tahu, tetapi dengan potensi tak terbatas untuk belajar dan berkembang.

Bakat bawaan untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman ini sendiri merupakan hak asasi setiap anak, dan merupakan tanggung jawab orang tua untuk memeliharanya.Oleh karena itu, keluarga menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya potensi anak dan anggota lainnya.

Al-Quran menegaskan kebenaran ini dengan menjelaskan jalan yang benar dalam pengasuhan dan pendidikan.

Surat An-Nahl ayat 78 menekankan salah satu hak terbesar anak dan anugerah Tuhan: hak untuk mengetahui dan kemampuan untuk belajar.

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.

Berdasarkan ayat ini, Allah SWT memperkenalkan manusia pada awal penciptaan sebagai makhluk yang tidak tahu dan tidak memiliki pengetahuan atau pemahaman. Namun, Allah telah membuka jalan bagi perolehan pengetahuan dan pemahaman dengan menganugerahkan kepadanya perangkat-perangkat vital seperti telinga, mata, dan hati, dan akal untuk menalar dan memahami.

Ayat ini merupakan bukti kewajiban orang tua dalam mendidik dan melatih anak-anaknya. Dengan memberi mereka perangkat-perangkat ini, Allah telah menyediakan landasan bagi perkembangan intelektual dan spiritual anak-anak mereka. Oleh karena itu, kewajiban orang tua untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya dan membantu anak-anak mereka di jalan meraih pengetahuan, akhlak, dan pemahaman yang benar tentang dunia.

Hak seorang anak adalah bahwa orang tua mereka menyediakan fasilitas yang diperlukan bagi perkembangan intelektual dan spiritual mereka dan membimbing mereka untuk bersyukur atas nikmat-nikmat ini.

Ayat ini menunjukkan bahwa rasa syukur atas nikmat-nikmat ini hanya dapat dicapai dengan menggunakan sarana-sarana ini dengan benar dan memahami hakikat keberadaan.

Mengabaikan hak ini dan tidak berupaya mendidik serta melatih merupakan bentuk penghujatan; ayat ini juga mengingatkan kita bahwa penciptaan kita tidak hanya fisik, tetapi juga perkembangan intelektual dan spiritual merupakan bagian tak terpisahkan dari penciptaan ini, dan orang tua memainkan peran fundamental dalam mewujudkan pertumbuhan ini. Oleh karena itu, hak seorang anak adalah hak untuk menikmati ilmu pengetahuan dan mengembangkan bakatnya yang tumbuh berkembang di dalam keluarga sebagai harta karun kecil kehidupan.

 

Merujuk pada ciri-ciri akhir zaman dan membandingkannya dengan kondisi terkini di Gaza, seorang pakar di bidang Mahdiisme di Iran mengatakan, "Banyak tanda-tanda, termasuk pergantian penguasa, kelaparan, dan perang, telah terjadi di Gaza, tapi riwayat-riwayat menekankan bahwa kedatangannya akan terjadi ketika kerusakan melanda seluruh dunia."

Hujjatul Islam Yousefi Rastgou, pakar Mahdiisme di Iran mengatakan, Banyak tanda, termasuk tipe penguasa, kelaparan, dan perang, telah terpenuhi di Gaza, tetapi riwayat-riwayat menekankan bahwa janji akhir zaman akan terjadi ketika seluruh dunia diselimuti kerusakan. Oleh karena itu, peristiwa di Gaza mungkin membuka jalan bagi kemunculannya, tetapi penentuan waktu kemunculannya tidak dapat diterima.

Menurut laporan Pars Today, Hujjatul Islam Yousefi Rastgou menambahkan dalam sebuah wawancara dengan IQNA, Di Gaza, pendudukan rezim Zionis merupakan contoh nyata dominasi orang-orang jahat, pembunuhan warga sipil, penghancuran rumah, dan blokade pangan yang menyebabkan kelaparan. Di sisi lain, kerusakan moral global juga telah terjadi dalam menghadapi perlawanan Gaza.

Yousefi menyatakan, "Kewajiban orang-orang beriman dalam situasi saat ini adalah amar ma'ruf nahi munkar, mengungkap kejahatan di Gaza dan melawan normalisasi penindasan, serta memperkuat semangat penantian aktif. Imam Shadiq as mengatakan, Harapan akan kebangkitan adalah kebangkitan itu sendiri, yang berarti bahwa seseorang harus mempersiapkan landasan bagi kebangkitan dengan amal saleh."

Pakar di bidang Mahdiisme ini lebih lanjut menekankan, Dengan demikian, Gaza saat ini merupakan cerminan dari tanda-tanda akhir zaman, penindasan global, perlawanan orang-orang beriman, dan kerusakan sistematis. Namun, peristiwa-peristiwa ini tidak serta merta menandakan datangnya kebangkitan, melainkan sebuah peringatan untuk senantiasa bersiap dan memenuhi kewajiban-kewajiban ilahi. Sebagaimana ditegaskan dalam riwayat-riwayat, kebangkitan akan terjadi ketika dunia terjerumus ke dalam puncak kegelapan, dan pada saat itu, "kebenaran akan datang dan kebatilan akan dihancurkan".

Minggu, 14 September 2025 09:52

Meyakini Sang Juru Selamat yang Dijanjikan

 

Sejak awal sejarah hingga kini, manusia telah mencari keadilan, kebebasan, dan martabat, tapi penderitaan kemiskinan dan diskriminasi masih membayangi kehidupan banyak orang. Meskipun mengalami kemunduran, harapan akan munculnya juru selamat pemberi keadilan, Imam Mahdi af, tetap menjadi mercusuar dan simbol terwujudnya perdamaian dan kesetaraan di dunia.

Sejak awal sejarah, manusia selalu mencari nilai-nilai seperti spiritualitas, kebebasan, keadilan, martabat, kesejahteraan, dan kedamaian. Meskipun telah mencapai beberapa keberhasilan dalam mencapai tujuan-tujuan itu, masih banyak kegagalan yang dialami.

Patut dicatat bahwa sebagian besar masyarakat manusia belum merasakan manfaat dari kemajuan-kemajuan ini. Sebaliknya, sekelompok kecil pemerintah dan individu yang berkuasa dan kaya, dengan mengabaikan prinsip-prinsip kemanusiaan dan moral, telah memaksakan berbagai penderitaan dan kesulitan seperti kemiskinan, korupsi, dan diskriminasi kepada rakyat, serta membuat hidup mereka sulit dan menyakitkan.

Sayangnya, upaya para pencari kebebasan dan pejuang hak asasi manusia sejauh ini hanya mencapai hasil yang terbatas dan belum signifikan. Meskipun demikian, masih ada harapan cerah bagi rakyat. Harapan akan munculnya individu yang mencari keadilan, kebenaran, cinta kebebasan, kuat, bijaksana, dan berbudi luhur yang mampu menumpas para penindas dan akar penyebab kemiskinan dan korupsi, serta mewujudkan kehidupan yang bermartabat dan sejahtera bagi seluruh umat manusia di bawah pemerintahan yang adil, bijaksana, dan merakyat.

Dalam Islam, agama ilahi terakhir, juru selamat umat manusia ini adalah Al-Mahdi af, yang berasal dari garis keturunan suci Nabi Muhammad Saw.

Janji yang pasti ini senantiasa menjadi cahaya penuntun dan motivasi yang tak henti-hentinya bagi para pengikut kebenaran dan keadilan.

Kemunculan Al-Mahdi af bukan hanya akan menandai berakhirnya penindasan dan kezaliman, tetapi juga akan membuka babak baru perdamaian, keamanan, kesetaraan, dan pertumbuhan spiritual di dunia, serta mendekatkan manusia kepada martabat dan kehormatan sejati.

Keyakinan yang mendalam ini memberi manusia kekuatan untuk menapaki jalan stabilitas dan memperjuangkan keadilan serta menghindari keputusasaan.

Kemunculan Juru Selamat Akhir Zaman merupakan simbol terpenuhinya cita-cita manusia dan perwujudan sempurna rahmat dan kebijaksanaan ilahi dalam ranah kehidupan manusia.

 

Sayidah Zainab as adalah cucu kesayangan Nabi Muhammad Saw dan dikenal sebagai teladan kesabaran dan kegigihan.

Sayidah Zainab, putri Sayidah Fatimah (putri Nabi Muhammad Saw) dan Imam Ali (penerus Nabi Muhammad), adalah salah satu tokoh terkemuka dalam sejarah Islam yang, berkat kepribadiannya yang teguh dan banyak pengorbanan, dikenal sebagai pembawa panji kebangkitan Asyura dan pelindung para tawanan Karbala.

Artikel dari Pars Today ini mengulas kehidupannya.

Kelahiran

Zainab adalah putri sulung Imam Ali dan Fatimah, serta saudara perempuan Imam Hasan dan Imam Husein. Terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal kelahiran Zainab. Beberapa sumber menyebutkan kelahirannya pada tanggal 5 Jumadil Awal tahun ke-5 Hijriah, sementara yang lain menyebutkan kelahirannya pada tahun ke-6 Hijriah di Madinah.

Pemberian Nama

Zainab diberi nama oleh Nabi Muhammad. Diriwayatkan bahwa Jibril menyampaikan nama ini kepada Nabi dari Allah. Dinyatakan dalam kitab Al-Khasa'is Al-Zainabiyyah, Nabi menciumnya dan berkata, "Hai orang-orang yang hadir di antara umatku, sampaikanlah kepada mereka yang tidak hadir tentang kemuliaan putriku ini, Zainab. Sesungguhnya, dia seperti neneknya, Khadijah."

Zainab secara harfiah berarti "pohon yang indah dan harum" dan "perhiasan sang ayah".

Gelar

Banyak gelar yang telah dikaitkan dengannya. Beberapa menyebutkan lebih dari enam puluh gelar untuknya, beberapa di antaranya adalah Aqila Bani Hasyim, Arifah, Muwatstsaqah, Fadhilah, dan Kamilah. Sayidah Zainab disebut Umm Al-Masaaib karena banyaknya kesulitan yang dihadapinya dalam hidup. Mulai dari wafat kakeknya, Nabi Muhammad, penyakit dan kesyahidan ibunya, Fatimah, kesyahidan ayahnya, Amirul Mukminin, kesyahidan saudaranya, Imam Hasan, kesyahidan Imam Husain, peristiwa Karbala, dan penahanannya di Kufah dan Suriah, merupakan beberapa peristiwa sulit dan pahit dalam hidupnya.

Pernikahan

Menurut sumber sejarah, Sayidah Zainab menikahi sepupunya, Abdullah bin Ja'far, meskipun memiliki banyak pelamar, dan mereka dikaruniai empat putra dan satu putri.

Mendampingi Imam Husein dalam peristiwa Karbala dan pencerahan setelahnya

Banyak sejarawan menganggap peristiwa Karbala sebagai peristiwa terpenting dalam kehidupan Zainab. Beliau mendampingi Imam Husein dalam peristiwa Karbala hingga beliau syahid.

Setelah Imam Husein as syahid, beliau ditangkap bersama para penyintas lainnya dan pergi ke Kufah dan Suriah. Zainab diperkenalkan sebagai pembawa panji kebangkitan Karbala untuk menghadapi musuh-musuhnya dan mengungkap jati dirinya, serta untuk memperkenalkan status dan ketidakadilan terhadap Ahlul Bait setelah syahidnya saudara mereka, Imam Husein.

Khotbah dan pencerahannya juga dianggap sebagai rahasia keberlangsungan kisah Asyura dan kebangkitan umat.

Mohammad Mohammadi Eshtehardi, seorang penulis keagamaan di Iran, telah menyatakan tiga misi Sayidah Zainab setelah Asyura sebagai berikut: mengawasi para tawanan, mendukung dan menjaga Imam Sajjad, putra Imam Husein, dan menyampaikan pesan syuhada kepada masyarakat.

Majelis Yazid di Suriah

Ketika kafilah tawanan Karbala memasuki istana Yazid, sebuah majelis resmi yang terdiri dari para tetua Suriah dan perwakilan agama diadakan di istana. Pada saat ini, atas perintah Yazid, para tawanan dibawa ke majelis sementara mata semua orang tertuju pada mereka. Pada saat itu, Sayidah Zainab berkata kepada Yazid:

"Apakah adil jika kalian menempatkan istri-istri dan budak-budak perempuan kalian di balik tirai, tetapi menjadikan putri-putri Rasulullah sebagai tawanan, merobek tirai kesucian mereka, memperlihatkan wajah mereka, dan menjadikan mereka sasaran kekuasaan musuh dari kota ke kota, sebagaimana penduduk kota, desa, istana, dan gurun memandang mereka dan mengamati wajah mereka dari jauh dan dekat? Betapa pun licik dan upaya kalian, demi Allah, kalian tidak akan pernah mampu menghapus ingatan dan nama kami, serta membunuh dan memadamkan wahyu kami... Aib dan rasa malu ini tidak akan pernah hilang dari kalian."

Pencerahan yang diberikan oleh Sayidah Zainab konon telah menghilangkan kegembiraan atas kemenangan Ibnu Ziyad, Yazid, dan Bani Umayyah. Akibat pencerahan yang diberikan oleh Sayidina Zainab, Yazid terpaksa meminta maaf dan mengungkapkan penyesalannya, serta menyalahkan Ubaydullah bin Ziyad atas kesyahidan Imam Husein. Setelah itu, Sayidina Zainab dan para tawanan Karbala meminta Yazid untuk berkabung atas Imam Husein di malam hari, dan Yazid pun menerimanya.

Kesabaran dan Keteguhan

Sayidah Zainab telah diperkenalkan sebagai simbol kesabaran dan pahlawan kesabaran. Keteguhan dalam menjaga kesucian agama, pengendalian diri dalam menghadapi kesulitan, tidak menunjukkan kelemahan di hadapan musuh, dan tidak mengeluh di hadapan manusia merupakan beberapa ciri kesabaran Sayidah Zainab.

Pada hari Asyura, ketika beliau melihat tubuh saudaranya, Imam Husein, yang berlumuran darah, beliau berkata, "Wahai Ya Allah, terimalah pengorbanan dan kematian kami (keluarga Nabi) di jalan-Mu.”

Ia pun menjawab pertanyaan Ibnu Ziyad yang menanyakan bagaimana pandangan beliau terhadap saudaranya dan Ahlul Bait, dengan mengatakan, “Aku tidak melihat apa pun kecuali keindahan.”

Kisah Zainab

Ayatullah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam telah mengatakan, tentang kepribadian Sayidah Zainab, perempuan yang menjadi pencetus perlawanan: "Kisah Zainab yang Agung as... Melengkapi kisah Asyura... Keagungan karya Zainab yang Agung as tidak dapat dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa besar lainnya dalam sejarah, melainkan harus dibandingkan dengan peristiwa Asyura itu sendiri. Manusia agung ini, perempuan agung Islam dan kemanusiaan ini, mampu mempertahankan keteguhan dan keagungannya dalam menghadapi gunung penderitaan yang berat... Beliau berdiri tegak dan gagah bagaikan puncak, baik dalam menghadapi musuh maupun dalam menghadapi musibah dan peristiwa pahit. Beliau menjadi teladan, panutan, pemimpin, dan pelopor.

Wafat dan Tempat Pemakaman

Sayidah Zainab wafat pada tanggal 15 Rajab tahun 62 H dan dimakamkan di Damaskus, Suriah.

 

Imam Sajjad as berkata, Imam Hussein as telah mengenalkan masyarakat terbaik di setiap zaman yaitu mereka yang menanti kedatangan Imam Mahdi as.

Dalam kitab Kamaluddin Jilid 1, halaman 320, dikutip dari Imam Sajjad as, beliau berkata, “Masyarakat terbaik di setiap zaman adalah mereka yang menanti kedatangan Imam Mahdi as.”
 
Kalimat pendek tapi penuh makna ini mengandung konsep dasar pemikiran Islam yang bukan hanya menjadikan penantian kedatangan Imam Mahdi yang dijanjikan sebagai sebuah kondisi spiritual semata, tapi juga sebuah jalan hidup dan jalan peningkatan makrifat. Di ulasan kali ini Pars Today akan memaparkan sekilas syarah hadis di atas.
 
 
Penantian; Konsep yang Melampaui Harapan
 
Dalam budaya Islam, menanti kedatangan Imam Mahdi, yang merupakan Juru Selamat umat manusia, bukan berarti diam, tapi sejenis kesiapan, gerakan, dan upaya untuk mewujudkan cita-cita Ilahiah.
 
Allamah Tabatabaei, dalam tafsir Al Mizan, mendefinisikan penantian sebagai “kondisi siap untuk mewujudkan janji Ilahi”, dan menganggapnya sebagai salah satu tanda keimanan hakiki.
 
 
Karakteristik Para Penanti Menurut Ahlul Bait Nabi SAW
 
Para penanti hakiki adalah manusia-manusia yang tidak diam di hadapan kezaliman, tidak diam di hadapan kerusakan, dan tidak berputus asa karena kesulitan.
 
Mereka, dengan harapan masa depan yang cerah, bergerak di jalan keadilan, akhlak, dan maknawiah. Imam Shadiq as salah satu cucu Nabi Muhammad SAW berkata, “Orang yang menanti kedatangan Imam Mahdi, seperti orang yang berperang bersama beliau.”
 
Pernyataan Imam Shadiq as ini menunjukkan posisi para pejuang yang menanti Imam Mahdi as, sebuah penantian yang disertai dengan kerja keras, kesabaran, dan kesadaran.
 
 
Dampak Individu dan Sosial dari Penantian
 
Penantian akan menyelamatkan manusia dari putus asa dan hidup tanpa arah. Seorang penanti dengan keyakinan terwujudnya janji Ilahi, melangkah jalan pembangunan diri dan pembangunan masyarakat.
 
Orang semacam ini bukan saja berorientasi akhlak dan tanggung jawab dalam kehidupannya, tapi juga akan menjadi aktivis dan agen perubahan, di sisi lain, sebuah masyarakat yang di dalamnya budaya penantian sudah mengakar, adalah masyarakat dinamis, penuntut keadilan, dan berorientasi perubahan. 
 
Masyarakat semacam ini menciptakan kondisi kedatangan Juru Selamat yang dijanjikan Ilahi, dan terwujudnya pemerintahan global yang adil.
 
Akhirnya dapat dikatakan, bahwa penantian hakiki adalah jembatan antara iman dan amal, dan antara individu dan masyarakat, penantian semacam ini akan mengubah manusia menjadi makhluk terbaik di setiap masa, sebagaimana dikatakan Imam Sajjad as.