کمالوندی
Keajaiban Membaca Basmalah Setiap Hari
Bacalah Basmalah ketika kita hendak beraktifitas dan di setiap pekerjaan kita. Percayalah selain aktifitas kita akan berjalan lancar juga akan berkah. Selain itu dengan membaca Basmalah, inshaAllah akan ada pahala di setiap pekerjaan yang kita lakukan.
NuOnline mengabarkan bahwa ada seorang perempuan yang bersuamikan seorang lelaki munafik. Perempuan itu selalu mengucap basmalah sebelum melakukan sesuatu, baik ucapan maupun perbuatan.
Suaminya suatu saat berujar, “Sungguh aku akan mempermalukannya sebab kebiasaannya itu.”
Kemudian ia memberikan sebuah bungkusan kepada istrinya untuk disimpan.
Istrinya pun menaruh bungkusan itu pada suatu tempat dan menguncinya.
Suaminya berusaha agar istrinya lupa. Lalu ia mengambil bungkusan itu beserta isinya dan membuangnya ke dalam sumur.
Kemudian ia bertanya kepada istrinya tentang bungkusan itu.
Istrinya langsung menuju tempat penyimpanan bungkusan tersebut seraya mengucapkan bismillâhirrahmânirrahîm.
Allah Ta’ala memerintahkan malaikat Jibril agar lekas turun dan mengembalikan bungkusan itu ke tempatnya semula.
Kemudian istrinya mengambil bungkusan itu.
Ternyata bungkusan tadi tetap pada tempatnya semula.
Sang suami pun terheran-heran dan akhirnya dia bertobat kepada Allah Ta’ala.
Kisah ini bisa dibaca dalam kitab An-Nawadir karya Syaikh Ahmad Syihab al-Din Ibn Salamah al-Qalyubi (w. 1069 H), pada bab “Keutamaan Basmalah”.
الحكاية الأولى: في فضل البسملة
حكي: أن امرأة كان لها زوج منافق وكانت تقول على كل شيء من قول أو فعل باسم الله، فقال زوجها لأفعلن ما أخجلها به فدفع إليها صرة وقال لها: احفظيها، فوضعتها فى محل وغطتها. فغافلها وأخذ الصرة وأخذ ما فيها ورماها في بئر في داره، ثم طلبها منها، فجاءت إلى محلها وقالت باسم الله، فأمر الله تعالى جبريل أن بنزل سريعا ويعيد الصرة إلى مكانها فوضعت يدها لتأخذها فوجدتها كما وضعتها، فتعجب زوجها وتاب إلى الله تعالى
Kisah Abu Nawas; Melarang Ruku Dan Shalat
Suatu hari, baginda raja Harun Al Rasyid sangat murka kepada Abu Nawas, ia ingin sekali menghukum berat Abu Nawas bahkan memancungnya. Bagaimana tidak, Baginda menerima informasi bahwasanya Abu Nawas telah berani menyebar fitnah melarang rukuk dan sujud di dalam ibadah shalat dan menuduh baginda raja sebagai orang yang suka fitnah.
Baginda yang sudah sangat marah kemudian memerintahkan pengawal istana untuk menangkap Abu Nawas dan menghadirkan dia ke istana untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Setelah Abu Nawas diseret keistana, baginda kemudian bertanya kepadanya,
“Wahai Abu Nawas, apakah benar engkau berpendapat rukuk dan sujud tidak diperlukan di dalam shalat?” Tanya baginda.
“Benar, Baginda Raja !” Jawab Abu Nawas dengan santai.
Meski baginda ingin sekali memancung Abu Nawas karena jawabannya itu, beliau masih berupaya sabar dan kembali mengajukan pertanyaan lain kepada Abu Nawas,
“Benarkah engkau berkata kepada orang-orang bahwa aku adalah orang yang suka fitnah?” Tanya baginda.
“Benar Paduka !” Jawab Abu Nawas kembali dengan santai.
Kali ini baginda tidak bisa lagi membendung amarahnya, dengan sangat marah baginda berkata kepada Abu Nawas,
“Wahai Abu Nawas, Engkau pantas dihukum mati karena telah melanggar Syariat Islam dan menyebarkan fitnah tentang junjunganmu !” Kata baginda geram.
“Tunggu dulu baginda !!, janganlah tergesa-gesa mengambil keputusan. Izinkan hamba sedikit membela diri” Pinta Abu Nawas.
“Baiklah, jelaskan sekarang!” Kata baginda.
“Memang hamba akui dua pendapat tadi. Akan tetapi sepertinya, kedua pendapat hamba tersebut datang kepada paduka dalam keadaan tidak lengkap dan seolah-olah hamba bersalah dan melanggar syariat Islam, hamba merasa difitnah.” Jelas Abu Nawas.
“Wahai Abu Nawas, apa maksudmu? Kenapa engkau membela diri jika mengaku bersalah?” Tanya baginda.
Abu Nawas kemudian segera memberikan penjelasan rinci,
“Ampun Paduka yang mulia, Hamba memang melarang rukuk dan sujud dalam shalat, tapi bukanlah shalat lima waktu atau shalat lainnya, melainkan shalat jenazah. Memang pada waktu itu hamba sedang menjelaskan shalat jenazah.” Jelas Abu Nawas.
Baginda Raja Harun Al Rasyid mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Abu Nawas. Meski sebelumnya emosinya mulai muncul, namun raja membenarkan apa yang menjadi pendapat Abu Nawas tersebut.
“Lalu bagaimana tentang pernyataanmu tentangku yang suka fitnah?” Tanya baginda.
“Oh, jika hal tersebut kebetulan pada saat itu hambasedang menjelaskan tentang Surat Al-Anfal ayat 28 yang berbunyi sebagai berikut:
Artinya:
“dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”
“Nah,baginda sebagai seorang raja yang memiliki harta banyak dan sebagai seorang ayah yang menyayangi anak-anak baginda, baginda termasuk orang-orang yang menyukai fitnah (cobaan/ujian) itu, karena baginda menyayangi harta dan anak-anak baginda.” Lanjut Abu Nawas.
Mendengar penjelasan Abu Nawas, baginda merasa malu. karena kata-kata Abu Nawas tersebut bukan hanya untuk pembelaan diri semata, melainkan sebuah sindiran dan teguran terhadapnya yang selama ini terlalu larut dalam kesenangan dunia semata. padahal kenikmatan yang ia dapatkan itu adalah ujian dari Allah SWT.
Baginda raja akhirnya meminta maaf kepada Abu Nawas karena telah berburuk sangka kepadanya. Hal itu terjadi karena beberapa orang pegawai kerajaan tidak senang melihat kedekatan Abu Nawas dengan baginda. Oleh sebab itu mereka sengaja menyampaikan informasi yang salah agar Abu Nawas celaka.
Empat Nasihat Allah SWT Pada Nabi Adam As
Allah swt berfirman kepada Nabi Adam as, “Aku akan mengumpulkan semua firman-Ku dalam empat kalimat.”
“Apa itu?” tanya Nabi Adam.
Allah swt berfirman, “Salah satu dari empat hal ini adalah punya-Ku dan salah satunya lagi untukmu. Yang ketiga adalah punya-Ku dan untukmu. Yang keempat adalah untuk dirimu dan umatmu.”
“Wahai Tuhanku! Jelaskanlah semuanya padaku!” pinta Nabi Adam.
Allah berfirman;
Sesuatu yang hanya untuk-Ku adalah engkau harus menyembah hanya kepada-Ku dan janganlah menyekutukan-Ku.
Hal untukmu adalah Aku akan memberikan pahala amal baikmu yang mana pada waktu itu engkau akan lebih memerlukannya (dari yang lainnya).
Sedangkah hal untuk-Ku dan untukmu ialah engkau berdoa dan Aku akan mengabulkannya.
Lalu sesuatu yang hanya untukmu dan umatmu adalah janganlah melakukan sesuatu pada orang lain yang mana engkau sendiri tidak akan menyukainya jika orang lain melakukannya padamu. Dan lakukanlah hal yang disukai orang lain sebagaimana engkau menyukainya jika orang lain melakukannya padamu.
Perbedaan Kehidupan Dunia Akhirat Antara Orang Baik Dan Jahat
Ratusan ayat al-Quran dan riwayat mengatakan bahwa amal baik dan dan buruk seorang manusia berpengaruh pada kehidupannya di akhirat. Amal baik menjadi sebab kebaikan di dunia juga akhirat. Amal buruk dan dosa menjadi sebab kehinaan ruh dan azab di dunia serta menjadi pendosa di akhirat.
أَمْ حَسِبَ الَّذينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ سَواءً مَحْياهُمْ وَ مَماتُهُمْ ساءَ ما يَحْكُمُونَ
“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (Surah Al-Jatsiyaah, ayat 21)
Dari ayat di atas kita akan mendapatkan hal mendasar terkait perbedaan antara orang-orang yang beriman dan melakukan amal baik dengan mereka yang kufur dan berdosa.
Apakah bisa antara cahaya dan kegelapan, ilmu dan kebodohan, kebaikan dan keburukan, iman dan kufur, dihitung sebagai satu hal yang sama? Apakah mungkin sesuatu yang berbeda mempunyai hasil yang sama?
Jawabannya adalah tidak akan pernah sama. Mereka yang beriman dan mengerjakan amal saleh akan terpisah dengan para pendosa yang tidak beriman. Iman dan kufur, kebaikan dan keburukan akan memberikan warna tersendiri pada kehidupan dan kematian mereka.
Hal ini juga tercantum Firman Allah swt dalam surah Shaad ayat 28.
“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma’siat?”
Maaf, Apakah Engkau Itu Tuhan?
Anak kecil bergerak-gerak di atas salju dalam keadaan kaki bertelanjang berharap rasa dingin tidak mengganggu telapak kakinya. Lalu ia menempelkan wajahnya pada kaca salah satu toko dan menatap tajam pada isi toko itu.
Lalu matanya tertuju pada sesuatu. Seakan-akan dengan tatapan matanya itu ia memintanya pada Tuhan.
Seorang wanita yang hendak masuk ke toko berhenti sejenak dan melihat anak kecil tersebut lalu masuk ke toko. Selang beberapa menit wanita tersebut keluar dengan membawa sepasang sepatu.
“Hai anak kecil! Ke sini sebentar!” panggil wanita itu.
Anak laki-laki kecil pun menengoknya dan pergi ke arah wanita itu. Dia kaget dan terharu melihat sepasang sepatu yang dibawa oleh wanita itu dan berkata, “Apakah Anda itu Tuhan?” tanya anak kecil.
“Tidak aku hanya seorang hamba Tuhan.” Jawab wanita itu.
“Oh seorang Hamba Tuhan! aku tahu pastinya engkau punya hubungan dengan Tuhan”.
Seorang hamba Tuhan pasti punya hubungan dengan Tuhan sekecil apapun. Dari kisah ini, kita bisa memetik hikmah bahwa seorang hamba Tuhan harus mempunyai sifat seperti Tuhan. Yakni jika Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang maka seorang hama Tuhan mestinya menjadi seorang yang pengasih dan penyayang juga.
Kisah Abu Nawas; Ibu Yang Asli
Kisah Abu Nawas; Kisah ini mirip dengan kejadian pada masa Nabi Sulaiman ketika masih muda. Entah sudah berapa hari kasus seorang anak bayi yang diakui oleh dua orang ibu yang sama-sama sangat ingin memiliki anak. Hakim pun rupanya mengalami kesulitan memutuskan dan menentukan perempuan yang menjadi ibu bayi itu sebenarnya.
Kasus ini sudah berlarut-larut tanpa ada keputusan yang jelas, hakim akhirnya menghadap Baginda Raja untuk meminta bantuan. Baginda pun turun tangan. Baginda memakai taktik rayuan. Baginda berpendapat mungkin dengan cara-cara yang amat halus salah satu, wanita itu ada yang mau mengalah. Tetapi kebijaksanaan Baginda Raja Harun Al Rasyid justru membuat kedua perempuan makin mati-matian saling mengaku bahwa bayi itu adalah anaknya. Baginda pun putus asa.
Baca juga: Kisah Abu Nawas; Wajah Bertemu Tuhan
Mengingat tak ada cara-cara lain lagi yang bisa diterapkan. Baginda pun berpikir mungkin perlu memanggil Abu Nawas meminta bantuannya. Abu Nawas hadir menggantikan hakim. Abu Nawas tidak menjatuhkan putusan pada hari itu melainkan menunda sampai hari berikutnya. Semua yang hadir yakin Abu Nawas pasti sedang mencari akal seperti yang biasa dilakukan. Padahal penundaan itu hanya disebabkan oleh hal lain, yaitu seorang algojo yang harusnya masuk dalam taktik Abu Nawas tidak berada di tempat.
Keesokan hari sidang pengadilan diteruskan lagi. Abu Nawas memanggil algojo dengan pedang di tangan. Abu Nawas memerintahkan agar bayi itu diletakkan di atas meja.
“Apa yang akan kau perbuat terhadap bayi itu?” Kata kedua perempuan itu saling memandang.
“Sebelum saya mengambil tindakan apakah salah satu dari kalian bersedia mengalah dan menyerahkan bayi itu kepada yang memang berhak memilikinya?”Kata Abu Nawas.
“Tidak, bayi itu adalah anakku!!” Kata kedua perempuan itu serentak.
“Baiklah, kalau kalian memang sungguh-sungguh menginginkan bayi itu dan tidak ada yang mau mengalah maka saya terpaksa membelah bayi itu menjadi dua sama rata dan membaginya kepada kalian.” Kata Abu Nawas mengancam dengan spontan.
Perempuan pertama girang bukan kepalang, setuju akan tindakan yang akan dilakukan Abu Nawas, sedangkan perempuan kedua menjerit-jerit histeris.
“Jangan, tolong jangan dibelah bayi itu. Biarlah aku rela bayi itu seutuhnya diserahkan kepada perempuan itu.” Kata perempuan kedua.
Abu Nawas tersenyum lega. pemilik sebenarnya bayi tersebut sudah diketahui. Abu Nawas segera mengambil bayi itu dan langsurig menyerahkan kepada perempuan kedua.
Abu Nawas minta agar perempuan pertama dihukum sesuai dengan perbuatannya. Karena tidak ada ibu yang tega menyaksikan anaknya disembelih. Apalagi di depan mata.
Baginda Raja merasa puas terhadap keputusan Abu Nawas. Sebagai rasa terima kasih, Baginda memberikan sejumlah hadiah atas bantuannya yang sangat berguna.
Kisah Abu Nawas: Wajah Bertemu Tuhan
Meski Abu Nawas tidak menyukai pejabat tinggi yang sombong pada pemerintahan Harus Ar-Rasyd, akan tetapi Abu Nawas tidak igin menaruh dendam dalam hati.
Suatu hari Abu Nawas berjalan menuju ke rumah pejabat tersebut dengan maksud silaturahmi dan menghapus segala kebencian. Sesampainya di rumah pejabat tersebut, Abu Nawas langsung dipersilahkan untuk masuk, tuan pejabat kemudian bertanya,
Baca Juga : Menyindir Pejabat
“Wajah yang mana yang engkau bawa mengunjungiku kali ini wahai Abu Nawas?” tanya tuan pejabat menyindir Abu Nawas.
“Aku membawa wajah ketika aku bertemu Tuhanku. Karena ternyata dosaku kepada-Nya lebih besar daripada kepada kamu!” Jawab Abu Nawas.
Tuan pejabat kemudian terdiam mendengar jawaban Abu Nawas, ia sangat tertegu dengan kerendahan hati Abu Nawas yang sama sekali tidak menyukai permusuhan. Akhirnya mereka pun menjalin persahabatan.
Hikmah dari kisah di atas adalah setiap insan biasa pasti pernah dan akan melakukan sebuah aib dan tergelincir pada jalan yang tidak diridhoi Allah swt. maka dari itu jangan berharap bahwa manusia biasa akan selalu melakukan sesuatu yang benar pada kita. Namun jika mereka pernah menyakiti dalam Islam kita mengenal istilah maaf dan kita bisa memaafkan mereka.
“Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu menjadi kafir kembali setelah kamu beriman, karena rasa dengki yang ada dalam diri mereka setelah tampak jelas kebenaran bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapangdadalah, sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S Al-Baqarah: 109)
Cerita Seorang Darwis Dan Gadis Remaja
Seorang yang zuhud (Zahid) dan seorang Darwis yang telah melewati maqom dan derajat dari suluk berjalan dari desa ke desa. Di tengah perjalanan mereka melihat seorang gadis remaja sedang berdiri di pinggir sungai yang mana ia ragu dan takut untuk menyebrangi sungai.
Ketika mereka berdua sampai di pinggir sungai, gadis remaja tersebut meminta pertolongan dari mereka. Darwis langsung memegang tangan gadis tersebut dan menuntunnya untuk menyebrangi sungai.
Setelah sampai di sebrang sungai, sang gadis pun pergi meninggalkan mereka sedangkan Darwis dan Zahid (orang yang zuhud) kembali melanjutkan perjalanannya.
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan mereka.
Seketika itu, Zahid yang beberapa lama ini terdiam berkata kepada Darwis.
“Wahai sahabatku! Kita tidak boleh mendekati dan menyentuh hal-hal yang bisa menarik kita pada dunia. Dan gadis tersebut bisa menarik kita pada dunia.” Kata Zahid.
Setelah mendengar perkataan Zahid, Darwis dengan tenang menjawab, “Aku dari tadi telah melepaskan gadis kecil itu di sana. Sedangkan kamu masih menyentuhnya dan belum melepaskannya sampai sekarang.”
Menelisik Konspirasi Terencana Melawan Poros Muqawama di Lebanon dan Irak
Wilayah Asia Barat menyaksikan putaran baru perkembangan, dimana Lebanon dan Irak menjadi pusat transformasi ini. Artikel ini membahas beberapa bukti konspirasi para penentang poros Muqawama dari dalam demonstrasi rakyat di Irak dan Lebanon.
Lebanon telah menyaksikan demonstrasi anti-pemerintah sejak 17 Oktober dan Irak setelah pawai akbar Arbain Imam Husein as. Akar demonstrasi hampir identik di kedua negara. Orang-orang memprotes kemiskinan, pengangguran, dan korupsi pemerintah yang meluas. Di Irak, kurangnya layanan sosial juga merupakan penyebab protes anti-pemerintah. Dengan demikian, demonstrasi di kedua negara ini merupakan respon alami masyarakat terhadap masalah mata pencaharian dan kekurangan sosial. Sementara masyarakat menyerukan peningkatan mata pencaharian dan layanan sosial, mereka juga menekankan perlunya perjuangan serius melawan korupsi pemerintah yang terorganisir dan reformasi sejati.
Aksi demonstrasi di Irak dan Lebanon
Pemerintah dan pejabat di Irak dan Lebanon telah berulang kali menyatakan bahwa mereka akan mengambil langkah serius untuk memenuhi tuntutan rakyat. Di Irak, pemerintah telah mengajukan lima paket reformasi yang diusulkan dan telah disetujui oleh parlemen, tetapi bukan hanya demonstrasi tidak berhenti tetapi mereka beralih ke kekerasan jalanan. Ada banyak bukti bahwa kekerasan jalanan di Irak dan Lebanon adalah rencana yang telah disusun oleh pihak penentang poros Muqawama.
Perkembangan di wilayah Asia Barat tidak sesuai dengan kepentingan Arab Saudi, Amerika Serikat dan rezim Zionis. Arab Saudi telah gagal dalam agresi brutal terhadap Yaman dan terjebak di rawa Yaman. Kebijakan anti-Iran AS belum menghasilkan sesuatu seperti yang diinginkan oleh Washington dan Republik Islam Iran telah menolak untuk bernegosiasi di bawah tekanan dengan Washington.
Sementara rezim Zionis Israel telah mengalami rekor krisis politik, dengan Benjamin Netanyahu yang gagal membentuk kabinet, dan tidak jelas apakah Benny Gantz dapat membentuk kabinet baru. Dalam keadaan seperti itu, kekacauan pada poros Muqawama akan mencegahnya dari memperkuat posisinya di wilayah tersebut serta menciptakan peluang bagi Arab Saudi dan rezim Zionis untuk meringankan masalah mereka.
Situs web Lebanon al-Ahed, dalam sebuah laporan, mengidentifikasi kedutaan besar Arab Saudi dan UEA di Beirut sebagai pendukung utama demonstrasi yang sedang berlangsung di Lebanon. Situs ini menulis, kedutaan-kedutaan besar ini menyediakan uang sebesar 100 dolar setiap harinya, makanan, tenda dan fasilitas lainnya. Sementara kepada anak muda yang menghabiskan malam di tenda atau keluar di jalan-jalan akan diberi uang 150 dolar.
Sementara itu, beberapa outlet media Zionis mengklaim bahwa Hizbullah bertanggung jawab atas masalah ekonomi Lebanon karena mereka membelanjakan uangnya untuk membangun rudal. Laporan-laporan bohong ini muncul ketika poros Muqawama dalam pemilu Mei 2018, kendatipun pengeluaran besar oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, berhasil memenangkan mayoritas absolut 68 kursi dari 128 kursi di parlemen,yang menunjukkan peningkatan dukungan warga Lebanon untuk Hizbullah.
Surat kabar Lebanon al-Akhbar melaporkan rencana kudeta lunak AS, UEA, dan Arab Saudi terhadap pemerintah Adel Abdul-Mahdi di Irak, seraya menulis, "UEA telah menjadi pusat ide melawan pemerintah Irak, dengan tokoh-tokoh seperti Penasihat Keamanan Nasional UEA Tahnoun bin Mohammed Al Nahyann dan Mohammed Dahlan Penasihat Palestina-nya (dikenal karena hubungannya dengan rezim Zionis) bertanggung jawab atas konspirasi ini. Biaya kudeta sekitar 5 juta dolar yang ditanggung oleh Arab Saudi. Kerja lapangannya juga disponsori oleh organisasi masyarakat sipil Irak yang disponsori oleh Kedutaan Besar AS. Masalah penting adalah bahwa jumlah lembaga-lembaga ini mencapai lebih dari lima puluh ribu lembaga dan hanya pada tahun 2019 telah dialokasikan danya sebesar 701 juta dolar."
Surat kabar al-Akhbar Lebanon
Pada saat yang sama, Kedutaan Besar AS memainkan peran penting dalam membentuk organisasi rahasia demonstrasi bulan Oktober. Poin penting adalah bahwa AS menabuh genderah korupsi pemerintah di Irak, padahal telah berada di Irak selama 16 tahun, menjarah puluhan miliar dolar pendapatan minyak dan memainkan peran utama dalam meningkatkan ketidakpuasan rakyat Irak.
Jaringan televisi AS al-Hurra serta televisi Alarabiya dan Alhadath yang berbasis di Arab Saudi, dan sebagian besar jaringan virtual yang didukung asing, memainkan peran penting dalam mengubah demonstrasi damai menjadi kekerasan jalanan. Jaringan al-Hurra merilis film dokumenter yang baru-baru ini menuduh institusi keagamaan seperti Imam Husein as dan Amirul Mukminin as terlibat praktik korupsi dan menargetkan otoritas Irak. Jaringan televisi Amerika al-Hurra juga memprovokasi orang untuk berbenturan dengan pasukan keamanan selama demonstrasi baru-baru ini di Irak, menyebarkan gambar palsu dan memprovokasi masalah ini guna terjadi konflik antara warga dan pasukan keamanan. Jaringan televisi AS al-Hurra telah mengklaim bahwa al-Hashd al-Shaabi dan komandan bagian keamanannya bertanggung jawab untuk menargetkan para pemrotes Irak.
Menanggapi tuduhan itu, Juru Bicara Gerakan al-Nujaba Nasr al-Shamari mengatakan, "Jaringan televisi Amerika al-Hurra telah memainkan peran yang ambisius dan destruktif dalam menyerang orang-orang Irak, contoh terakhir adalah menuduh al-Hashd al-Shaabi dan komandan keamanannya. Tujuan utama dari jaringan-jaringan ini adalah untuk menghancurkan persatuan nasional Irak dan menumbuhkan motif etnis dan agama di antara warga Irak serta untuk membangkitkan kepekaan nasionalis dan etnis terhadap Iran. Menanggapi peran destruktif dari jaringan ini, pemerintah Irak memerintahkan penghentian jaringan Alarabiya, Alhadath dan al-Hurra.
Penyusup domestik telah mencoba dengan berbagai cara untuk mengarahkan demonstrasi rakyat Irak dan Lebanon serta mengalihkan mereka ke kekerasan. Di Lebanon, yang paling penting adalah partai Lebanese Forces, yang dipimpin oleh Samir Geagea, mengorganisir pergerakan orang-orang di jalanan. Samir Geagea didukung oleh Arab Saudi dan UEA. Para penyusup dalam demonstrasi Irak baru-baru ini meliputi berbagai kelompok, terutama Ba'ath, pengikut gerakan Yamani dan gerakan al-Sarkhi, dimana gerakan Yamani dan al-Sarkhi menentang gerakan Syiah saat ini di Irak.
Putri Saddam, Raghad Saddam, berusaha mengidentifikasi kematian demonstrasi baru-baru ini sebagai "martir pahlawan". Para penyusup telah menggunakan jaringan virtual untuk menghasut orang. Karenanya, hoaks di dunia maya menjadi agenda. Di antara rumor ini adalah kebohongan pihak berwenang meninggalkan negara dan menutup perbatasan. Proyek pembunuhan juga merupakan salah satu metode infiltrasi untuk membelokkan demonstrasi rakyat Irak. Dengan cara ini, para penyusup menembaki para pengunjuk rasa dan menggunakan media, baik sosial atau televisi, mereka mencoba menuduh pasukan keamanan, terutama Hashd Shaabi, membunuh para pengunjuk rasa.
Putri Saddam, Raghad Saddam
Poin penting dalam hal ini terkait beberapa gambar yang dirilis oleh televisi Irak dan jejaring sosial independen, jelas bahwa pasukan keamanan dan pengunjuk rasa telah berlindung bersama untuk melindungi diri dari penembakan yang dilakukan para penyusup. Mengingat fungsi para penyusup, pihak marjaiyah Irak telah memperingatkan para pengunjuk rasa tentang peran para penyusup dan bagaimana mereka menunggangi demonstrasi rakyat. Demonstrasi massal di Irak tidak memiliki pemimpin, dan ini telah menyebabkan eksploitasi jaringan sosial dan jaringan televisi serta para penyusup.
Rezim Zionis dan tokoh-tokoh afiliasinya telah berusaha keras untuk menyebarkan Republik Islam Iran sebagai penyebab situasi saat ini di Irak dan menggelar demonstrasi menentang dengan slogan-slogan anti-Iran. Dalam nada yang sama, penulis Israel Idi Cohen menyebut para demonstran Irak sebagai "para revolusioner melawan Persia" dan dalam twitt bohongnya mengklaim kehadiran pasukan yang berafiliasi Iran untuk menekan demonstrasi Irak. Idi Cohen mengklaim dalam sebuah twitt, "Ribuan orang dari brigade Fatemiyoun datang ke Irak untuk menghancurkan demonstrasi." Sementara Republik Islam Iran berkali-kali menekankan pentingnya pemerintah Baghdad menindaklanjuti tuntutan rakyat selain menolak segala bentuk intervensi pihak asing dalam urusan Irak.
Intinya adalah bahwa, sebagaimana yang ditekankan oleh Sekjen Hizbullah, Sayid Hassan Nasrallah bahwa protes telah memiliki beberapa hasil positif, termasuk suara orang-orang telah didengar. Irak dan Lebanon akan melewati fase demonstrasi ini, tetapi peristiwa di Irak, khususnya, telah menunjukkan bahwa yang kalah di arena politik dan militer di wilayah tersebut telah memulai babak baru konfrontasi dalam bentuk tuntutan rakyat. Dan dengan cara ini, mereka bahkan menargetkan norma dan nilai-nilai yang dilembagakan masyarakat, termasuk menghormati marjaiyah Syiah.
Revolusi Islam, Simbol Perlawanan terhadap Arogansi Global
Rakyat Iran pada hari Senin (4/11/2019) akan memperingati Hari Nasional Melawan Arogansi Global. Pada 4 November 1979, mahasiswa Iran menduduki Kedutaan Besar AS (sarang spionase) di Tehran dalam sebuah aksi protes menentang intervensi Washington.
Setiap tahun, rakyat Iran memperingati momen itu sebagai Hari Nasional Melawan Arogansi Global dengan menggelar pawai akbar menyuarakan persatuan nasional dan solidaritas Islam melawan AS sebagai simbol imperialis dunia.
Dalam kamus politik, arogansi bermakna keangkuhan, menguasai pihak lain (hegemoni), menjajah, dan melakukan eksploitasi budaya, politik, dan ekonomi atas bangsa-bangsa lain oleh kekuatan tertentu. Praktik ini membuat negara lain berada di bawah tekanan, bangsa-bangsa dieksploitasi dan dilemahkan.
Amerika memulai babak baru permusuhan dengan Iran pasca kemenangan Revolusi Islam. Beberapa bulan pasca kemenangan Revolusi Islam, Kedutaan AS di Tehran berubah fungsi menjadi pusat spionase dan koordinasi untuk kubu penentang revolusi.
Pasca pendudukan sarang spionase, reaksi pertama yang diambil oleh presiden AS adalah menjatuhkan sanksi ekonomi dan memblokir aset-aset Iran di bank-bank Amerika dan bank asing yang berkantor di negara itu. Washington kemudian memutuskan hubungan diplomatik dengan Tehran.
Dalam tanggapannya, Imam Khomeini ra berkata, "Jika Carter (Jimmy Carter) di masa hidupnya pernah melakukan sesuatu yang membawa kebaikan bagi orang-orang tertindas, maka itu adalah pemutusan hubungan ini. Hubungan sebuah bangsa dengan sebuah penjarah yang rakus, akan selalu merugikan bangsa tertindas dan menguntungkan penjarah. Kami menganggap pemutusan hubungan ini sebagai sebuah peristiwa baik, karena pemutusan ini adalah bukti atas terputusnya harapan AS dari Iran. Saya berulang kali mengingatkan bahwa hubungan kita dengan AS sama seperti hubungan bangsa tertindas dengan perampok dunia."
Sejak sarang spionase AS diduduki oleh kelompok mahasiswa pengikut garis Imam Khomeini ra, Washington mengambil tindakan politik dan bahkan persiapan serangan militer, mereka mengirim armada kapal perang ke Teluk Persia dan menyatakan siap menyerang Iran kapan pun. Namun semua skenario itu gagal.
Bekas sarang mata-mata Amerika di Tehran.
Daftar permusuhan AS antara lain; melakukan kudeta 28 Mordad (19 Agustus 1953), memaksakan undang-undang kapitulasi untuk memperbudak rakyat Iran, operasi militer di Gurun Tabas, merancang kudeta Nojeh, menerapkan sanksi ekonomi dan politik, memprovokasi dan mendukung rezim Saddam dalam agresi ke Iran, menembak jatuh pesawat sipil Iran dengan 290 penumpang, mengorganisir dan mendukung anasir anti-revolusi untuk merusak keamanan dengan target penggulingan sistem, serta melancarkan Iranphobia dan propaganda bohong tentang Revolusi Islam Iran.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Pihak tertentu mengira bahwa permusuhan dengan kita terjadi karena kita yang memulai pertama, kita selalu menunjuk tangan kita ke arah mereka. Karena itu mereka memusuhi kita. Tidak! Ini sebuah dugaan yang salah… bukan kita yang mengawali, mereka yang mulai duluan, mereka memulainya dengan mencela, menyanksi, menuntut, memberikan tempat kepada musuh bangsa Iran, mereka-lah yang memulai."
Sekarang 40 tahun setelah kemenangan Revolusi Islam, pemerintah AS dengan semangat arogansi tetap mengobarkan permusuhan terhadap Iran. Tindakan pertama AS dalam melawan Revolusi Islam adalah menghasut oposisi dan membantu gerakan separatisme di perbatasan Iran. Tidak hanya itu Washington juga mendukung para pengkudeta terhadap revolusi.
Pemerintah AS memanfaatkan media untuk melancarkan propaganda dan fitnah serta memprovokasi orang-orang untuk bangkit. Washington sekarang memanfaatkan instabilitas regional untuk mempertajam kampanye Iranphobia dan membentuk koalisi anti-Iran.
Salah satu metode penting arogansi global untuk melestarikan hegemoninya atas dunia adalah mencegah kemajuan bangsa-bangsa lemah. Dalam hal ini, AS merekrut orang-orang pintar dari negara ketiga atau negara berkembang, serta menerapkan sanksi dan pembatasan internasional.
Demikian juga yang dilakukan terhadap Iran, AS melakukan upaya maksimal untuk mencegah kemajuan bangsa Iran di bidang politik, ekonomi, militer, ilmiah, dan lain sebagainya.
Di bidang ilmiah misalnya, AS mencegah Iran untuk mencapai teknologi modern seperti yang dilakukan di bidang teknologi nuklir, mereka melakukan sabotase untuk mencegah kemajuan bangsa ini.
Pawai akbar memperingati Hari Nasional Melawan Arogansi Global di Tehran tahun 2018.
Seorang ilmuwan politik Amerika, Noam Chomsky mengatakan, "Para pemimpin AS saat ini adalah penguasa yang paling berbahaya dalam sejarah umat manusia. Ungkapan ini mungkin terlalu keras, tetapi menurut saya, Partai Republik saat ini adalah organisasi yang paling berbahaya dalam sejarah umat manusia. Hitler bahkan tidak merencanakan pemusnahan kehidupan manusia di muka bumi."
Bangsa Iran percaya bahwa perang melawan penindasan dan arogansi global adalah bukan gerakan yang ketinggalan zaman, karena AS baik di masa lalu maupun sekarang, tidak pernah berhenti memusuhi Iran dan mereka melakukan apa yang mereka bisa.
Bangsa ini bangkit melawan konspirasi AS dan membuktikan bahwa dengan berpegang pada prinsip dan cita-cita Revolusi Islam, mereka dapat menghalau hegemoni kekuatan-kekuatan global.
Saat ini, para pejabat AS mengkhawatirkan berubahnya Iran menjadi kekuatan utama di wilayah Timur Tengah. Oleh karena itu, mereka berusaha memutarbalikkan fakta dan memperkenalkan Iran sebagai negara perusak stabilitas di kawasan.
Pemerintah AS sedang mengejar tiga opsi kunci untuk melumpuhkan Iran. Opsi pertama, mengurangi kekuatan pertahanan Iran dengan fokus pada kemampuan misil. Di sini, para pejabat AS benar-benar menyadari akan kekuatan pertahanan Iran dan kemampuan rudal-rudal yang dimilikinya.
Opsi kedua, AS sedang menyusun sebuah skenario untuk mengurangi atau menghilangkan pengaruh dan kekuatan regional Iran serta mematahkan gerakan perlawanan.
Pengaruh regional Iran telah terbukti dalam perang menumpas teroris Daesh. AS mulai memahami bahwa Iran memiliki peran strategis dan peran ini telah memperkuat poros perlawanan serta mengalahkan konspirasi Amerika dan rezim Zionis dalam memecah negara-negara regional.
Opsi ketiga, AS sedang meningkatkan perang ekonomi terhadap Iran atau lebih tepatnya melakukan terorisme ekonomi. Sanksi AS bertujuan untuk memperlemah Iran dari dalam, membuat rakyat pesimis, dan memprovokasi mereka untuk bangkit.
Di era pemerintahan Trump, AS menyusun langkah-langkah baru untuk melawan Iran dan salah satunya adalah prakarsa Hanson. Prakarsa ini disusun oleh Grup Studi Keamanan (SSG) pimpinan Jim Hanson dan diserahkan ke Dewan Tinggi Keamanan Nasional AS.
Hanson berbicara tentang penyebab munculnya sebagian protes di Uni Soviet dan merekomendasikan cara yang sama untuk dijalankan di Iran. Dia menuturkan, "Iran membutuhkan gerakan serupa yang bersandar pada tuntutan untuk memperbaiki kualitas hidup rakyatnya dan mengakhiri penumpasan oleh rezim."
Hanson mengusulkan penerapan sanksi yang paling berat terhadap Iran sehingga pendapatan negara ini terkuras. Pada titik ini, Iran hanya punya dua pilihan yaitu menghabiskan pendapatannya untuk kebutuhan rakyat atau membelanjakan uangnya untuk mendukung poros perlawanan.
Pemikiran ini menunjukkan bahwa pemerintah AS sejak awal kemenangan revolusi telah berusaha untuk menggulingkan sistem Republik Islam.
Namun, Ayatullah Khamenei mengatakan bahwa meredupnya kekuatan AS telah menjadi sebuah realitas yang disepakati oleh para pakar dunia. Menurutnya, AS menderita kekalahan dalam mewujudkan konspirasinya terhadap Iran selama 40 tahun terakhir.
"Pendudukan sarang mata-mata AS oleh mahasiswa merupakan sebuah tamparan bangsa Iran kepada AS," ungkapnya.
Ayatullah Khamenei menjelaskan kekuatan lunak AS dalam artian pemaksaan pandangannya kepada negara lain, sekarang berada pada situasi yang paling lemah dan sejak presiden saat ini berkuasa, keputusan Washington tidak hanya ditentang oleh bangsa-bangsa, tetapi juga oleh pemerintah Eropa, Cina, Rusia, India, Afrika dan Amerika Latin.
"Hari ini satu-satunya negara yang keputusannya tidak bisa dipengaruhi oleh AS adalah Republik Islam Iran dan ini bermakna kekalahan AS," pungkasnya.




























