کمالوندی

کمالوندی

Sabtu, 01 Agustus 2015 07:22

Imam Ali Menjemput Kesyahidan

Pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriah, Imam Ali syahid di usia 63 tahun. Dua hari sebelumnya, Ibnu Muljam, lelaki jahil dan keras kepala menebaskan pedang beracun ke arah Imam Ali yang sedang menunaikan shalat. Sebelum syahid, Amirul Muminin berkata, "Kematian bagiku bukan tamu yang tidak diundang dan tidak dikenal. Antara diriku dengan kematian seperti orang yang kehausan mencari air, atau orang yang menemukan kembali barang bernilai yang pernah hilang".

Kerinduan Imam Ali terhadap kesyahidan bersumber dari keimanan dan keyakinan yang kuat kepada Allah swt. Pada prinsipnya, manusia mulia seperti Imam Ali senantiasa menjalani kehidupannya di dunia dengan memperhatikan masalah akhirat. Beliau bukan hanya tidak takut kepada kematian. Tapi lebih dari itu, kerinduannya yang besar kepada Yang Maha Kuasa membuatnya ingin segera menjemput kesyahidan.

Di malam hijrah Rasulullah Saw dari Mekah ke Madinah, Imam Ali bin Abi Thalib menggantikan beliau di tempat tidurnya.Tentu saja, tindakan seperti ini butuh keberanian tinggi, karena berhadapan dengan ancaman kematian. Tapi Ali bin Abi Thalib tidak takut. Yang ada di pikirannya hanya pengorbanan demi Rasulullah Saw dan ridha Allah swt. Terkait peristiwa ini, Allah swt dalam al-Quran menjelaskan pengorbanan Ali bin Abi Thalib. Dalam surat al-Baqarah ayat 207, Allah swt berfirman, "Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya."

Tidak hanya itu, Ali bin Abi Thalib hadir membela Nabi Muhammad Saw dalam perang Uhud. Pada perang yang menimbulkan kekalahan akibat kelengahan sebagian Muslim itu, banyak mujahid yang gugur syahid di medan perang termasuk paman Nabi Hamzah. Ali bin Abi Thalib bersama sedikit Muslim mengorbankan dirinya demi membela Nabi Muhammad Saw dari serangan musuh. Ketika itu, malaikat Jibril berkata, "Tidak ada lelaki seperti Ali dan tidak ada pedang laksana Zulfiqar".

Setelah perang tersebut, Imam Ali menyaksikan sekitar 70 orang Muslim syahid. Beliau pun terluka parah. Ali bin Abi Thalib kecewa, karena tidak syahid bersama mujahid lainnya. Rasulullah Saw yang mengetahui kondisi tersebut bersabda, "Aku kabarkan berita besar untukmu, engkau akan syahid nanti".

Sekian lama Ali bin Abi Thalib menantikan kematian di jalan Allah swt. Beliau selalu teringat sabda Rasulullah saw tentang datangnya kesyahidan menjemputnya. Rasulullah berkata kepada Ali, "Ya, itu pasti akan terjadi, tapi bagaimana dengan kesabaranmu ?" Ali menjawab, "Ketika itu bukan masalah kesabaran, tapi kabar gembira". Dua hari sebelum kesyahidannya, setelah pedang Ibnu Muljam menebas tubuh Imam Ali yang sedang menunaikan shalat, beliau berkata, "Demi Tuhan Kabah aku bahagia". Ya, Amirul Mukminin syahid di jalan Allah swt, dan tidak ada sedikitpun ketakutan dalam hatinya ketika menjemput kematian.

Hanya satu yang dipikirkan Ali, apakah ketika beliau meninggal dunia dalam kondisi menegakkan agama Islam atau tidak. Sebab, sejumlah sahabat Rasulullah yang mukmin, setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw memilih jalan lain. Tapi Rasulullah Saw sangat percaya dan meyakini keimanan Ali bin Abi Thalib. Bahkan berulangkali Rasulullah menunjukkan keutamaan Ali.

Suatu hari ketika Rasulullah Saw menyampaikan khutbah mengenai keutamaan di bulan suci Ramadhan, Ali bertanya, "Wahai Rasulullah Saw, apa perbuatan terbaik di bulan ini ?". Rasulullah saw menjawab. "Bertakwalah dan jauhi maksiat". Tapi seketika Rasulullah terlihat bersedih, ketika melihat wajah Ali bin Abi Thalib. Lalu Ali menanyakan sebab kesedihan mertuanya itu. Rasulullah bersabda, "Wahai Ali! Kesedihanku karena penistaan dan kezaliman yang dilakukan orang lain terhadapmu yang terjadi di bulan [Ramadhan] ini. Aku seperti melihatmu enggkau sedang menunaikan shalat, lalu orang yang dilaknat masa lalu dan masa mendatang, yang tidak lain dari saudara pembunuh unta Tsamud menebaskan pedangnya mengenai kepalamu hingga mihrab dipenuhi darah".

Mendengar sabda Rasulullah Saw, Ali bertanya, "Apakah ketika itu agamaku selamat dan terjaga?" Rasulullah Saw bersabda, "Ya, ketika itu agamamu selamat." Lalu, Rasulullah Saw mengungkapkan kalimat indah bahwa Ali adalah penerusnya.

Berita gembira mengenai kesyahidan Imam Ali membuat beliau senantiasa menantikan kedatangan ajal di jalan Allah swt menjemputnya. Bahkan, dalam beberapa hari di akhir hayatnya beliau seperti mengetahui penantian panjangnya akan berakhir. Meskipun mengetahui akan kesyahidannya langsung dari Nabi Muhammad Saw, tapi beliau tetap menjalankan tugasnya mengabdi dan melayani sesama demi meraih ridha Allah swt. Terkait hal ini, Ali berkata, "Merugilah orang yang malas dan tidak memperdulikan kehidupan dunianya. Sebab orang yang tidak memperhatikan dunianya, dalam masalah akhiratpun lebih malas dan tidak perduli".

Imam Ali adalah pekerja keras. Beliau dengan tangannya sendiri menggali banyak sumur. Ulama terkemuka Sunni, Ibn Abil Hadid menjelaskan tentang keutamaan Imam Ali, "Ia bekerja dengan tangannya sendiri. Menggali tanah dan menyiraminya. Menanam kurma dan setelah berbuah mewakafkan kebun itu untuk orang-orang miskin". Tidak sedikit sumur yang digali Imam Ali diwakafkan untuk orang lain yang membutuhkan demi mencari ridha Allah swt.

Puncak penghambaan dan ketaatan Imam Ali bin Abi Thalib terhadap perintah Allah swt terjadi selama lima tahun kekhilafahannya. Beliau menjadi khalifah umat Islam demi menjalankan perintah ilahi serta mewujudkan hak orang-orang yang tertindas dan menegakkan keadilan. Tujuan suci yang diwujudkan Imam Ali menimbulkan kekecewaan sejumlah orang yang merasa terancam kepentingannya.

Akhirnya, mereka memberontak dan menghalangi terwujudkan keadilan yang sedang ditegakkan oleh Imam Ali. Tapi dengan keberaniaannya, Imam Ali tetap menjalankan tanggungjawabnya melaksanakan perintah Allah dan memenuhi hak sesama manusia. Selain menghadapi orang yang haus kuasa dan gila harta, Imam Ali berhadapan dengan orang-orang jahil dan beliau syahid di tangan mereka di mihrab masjid Kufah.

Hingga kini begitu banyak pernyataan para ilmuwan Muslim dan non-Muslim mengenai kedudukan tinggi dan keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib. Setelah Imam Ali dimakamkan, Imam Hassan naik ke atas mimbar, dan dalam keadaan bersedih berkata, "Tadi malam, seorang lelaki meninggalkan dunia ini. Di antara orang yang menjadi pemuka Islam tidak ada menyamainya selain Rasulullah Saw. Beliau berjihad bersama Rasulullah Saw dan memanggul bendera risalah di pundaknya sementara malaikat Jibril dan Mikail mendukungnya. Di malam yang dinugerahi rahmat Allah, ketika Al-Quran turun malam itu kepada Rasulullah dan Nabi Isa putra Maryam diangkat ke langit, serta Yusya bin Nun syahid.... Ayahku tidak mewariskan harta dan kekayaan duniawi bagi kami, kecuali 700 dirham untuk keluarga...."

Pada bagian ini akan dibahas tentang perilaku dan sifat-sifat yang mampu membangun hubungan persahabatan dengan orang lain. Menemukan cara untuk menjalin persahabatan merupakan ketrampilan paling penting yang harus dikuasai oleh segala kalangan masyarakat bagi kehidupan sosialnya. Karena bila faktor-faktor ini hilang dari kehidupan manusia, maka motor penggerak masyarakat akan mati dan dengan sendirinya kegembiraan dan kegairahan akan tercerabut dari masyarakat. Dalam pandangan Islam, hanya Allah yang mampu menciptakan keakraban dan persahabatan. Hanya Dia yang menaburkan bibit cinta dalam hati manusia.

“Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Anfal: 62-63)

Hal ini tidak bertentangan dengan kondisi dimana Allah meletakkan faktor-faktor khusus yang mempengaruhi terjalinnya persahabatan dan dengan izin-Nya tercipta keakraban dan persahabatan antara manusia. Dari sini, dengan mempelajarinya dan memanfaatkan faktor-faktor ini manusia menguasai seni menjalin hubungan dengan sahabatnya. Mereka memiliki kemampuan menebar benih persahabatan pada hati orang-orang yang sejalan dengannya. Bahkan boleh jadi, kebanyakan akar dari masalah sosial terkait menjalin persahabatan kembali pada ketidakmampuan manusia mengenal faktor-faktor ini.

 

Sesuai secara psikologis

Sering terjadi kita bertemu dengan seseorang yang memiliki sifat dan jiwa yang sama, sekalipun demikian kita tidak banyak mengenalnya. Kesamaan ini membuat kita ingin menjalin hubungan dengannya. Sebab dari keinginan ini adalah kesamaan jiwa. Dalam riwayat Ahlul Bait, masalah ini disampaikan dengan pentakbiran yang beragam. Sebagai contoh, dalam sebagian riwayat  disebutkan kesamaan psikologi, sebagian lainnya kesamaan alami dan yang lainnya menyebut kesamaan hati. Tapi semua mengisyaratkan tentang kesamaan jiwa manusia dan kesamaan alami yang dimiliki manusia.

Tabiat setiap manusia akan cenderung menjalin hubungan dengan orang lain yang memiliki kesamaan lebih banyak dengan dirinya. Itulah mengapa mengakrabkan dua orang yang memiliki perbedaan kejiwaan sangat sulit.

Imam Ali as menyinggung masalah ini dan berkata, “Anakku! Hati memiliki pasukan yang senantiasa siap. Mereka melihat yang lain dengan kasih sayang, dengan dasar ini mereka bermunajat dan menyikapi musuh juga dengan cara ini. Oleh karenanya, bila engkau menyukai seseorang, sekalipun ia tidak memulai untuk mendekatimu, maka engkau bisa berharap padanya. Sementara bila engkau tidak menyukai seseorang, padahal orang itu tidak berbuat buruk padamu, maka jauhilah dia.”[1]

Dengan demikian, penting bagi kita untuk menjalin persahabatan dengan orang lain yang memiliki kesamaan. Sebuah peribahasa Persia menyebut burung merpati dengan merpati, sementara elang dengan elang. Karena bila seorang mukmin ingin menjalani kehidupannya dengan penuh keimanan, ia tidak boleh bersahabat dengan orang yang akan menyeretnya pada keburukan.

Dalam ucapannya yang lain, Imam Ali asmengatakan, “Orang berakal bergaul akrab dengan yang sama dengannya.”[2]

Sumber: Dousti va Doust Dashtan dar Quran va Rivayat, Mohammad Hemmati, Markaz Pezhouhesh-ha Eslami Seda Va Sima, Qom, 1392 Hs.

Kiblat dan Arsitektur Kota

Allah Swt berfirman:

“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu berhadap-hadapan (sebagai kiblat) dan dirikanlah olehmu salat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 87)

Kiblat dalam bahasa berarti berhadap-hadapan dan juga berarti arah Ka’bah. Yakni, dalam membuat rumah hendaknya mengarah ke kiblat. Sangat mungkin ayat ini berarti bahwa selama Firaun masih berkuasa dan memutuskan untuk menghancurkan kalian, maka ibadah kalian dilakukan di rumah-rumah.[1] Sama seperti tiga tahun pertama pengutusan Nabi Muhammad Saw.

Dengan demikian, arsitektur dan pembangunan kota Islam hendaknya memiliki kesamaan dengan ajaran Islam itu sendiri dengan tidak melupakan arah kiblat. Kita harus membangun rumah yang dapat dipergunakan untuk melakukan ibadah di dalamnya.

Semua program para nabi berdasarkan wahyu, bahkan terkait pembangunan rumah. Oleh karenanya, kawasan penduduk yang beriman harus dibedakan dari orang-orang Kafir dan jangan biarkan orang asing berada di kawasan dan masyarakat kita, sehingga hal itu menjadi sarana bagi kemuliaan, kekuatan dan independensi kelompok orang beriman. Dari satu sisi, rumah-rumah yang dibangun berhadap-hadapan lebih mudah untuk menjaga, mengawasi dan lebih mengakrabkan penghuninya satu dengan yang lain. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Mohsen Qaraati, Daghayeghi ba Quran, Tehran, Markaz Farhanggi Darsha-i az Quran, 1388 Hs, cet 1.

Amerika Serikat pada Jumat (31/7/2015), mengecam kejahatan mengerikan rezim Zionis Israel terhadap sebuah desa Palestina di Tepi Barat.

Sebuah pernyataan dari Departemen Luar Negeri AS, mendesak Israel untuk "menangkap para pembunuh" dan meminta kedua belah pihak untuk menghindari meningkatnya ketegangan di kawasan. Demikian dilansir AFP.

Penyerang Zionis membakar dua rumah warga Palestina di Tepi Barat. Serangan tersebut membunuh seorang balita dan menyebabkan empat orang lainnya kritis.

Tindakan rasis warga Zionis terhadap penduduk Palestina meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Selain aksi brutal para pemukim Zionis terhadap warga Palestina, tentara Israel juga memperluas serangan dan penangkapan sadis terhadap penduduk setempat. Sejak tahun 2015 sampai sekarang, 19 warga Palestina gugur syahid di tangan warga Zionis.

Michael Maloof, mantan pejabat Pentagon, menganggap penerapan sanksi baru Amerika Serikat terhadap Rusia sebagai langkah yang tidak bermakna dan tidak efektif.

Dalam wawancaranya dengan Press TV, Jumat (31/7/2015), Maloof mengatakan, sanksi tersebut benar-benar tidak efektif dan tidak memiliki pengaruh berarti terhadap masyarakat Rusia.

“Amerika bergerak sendirian dalam memaksakan sanksi baru terhadap Rusia,” tegasnya.

Uni Eropa tidak berkomitmen untuk sanksi itu, karena menurut Maloof, ada ketergantungan besar Eropa terhadap Rusia terutama di sektor energi.

Dia mengatakan sanksi yang dimaksudkan untuk mengirim sinyal, tetapi pada kenyataannya ia hampir tidak berarti.

Departemen Keuangan AS pada hari Kamis, mengumumkan putaran baru sanksi terhadap Rusia yang menyasar sejumlah perusahaan dan warga Rusia.

Tindakan tersebut sejalan dengan dukungan AS untuk Ukraina dan bentuk pelaksanaan undang-undang yang diloloskan Kongres terkait dukungan kepada pemerintah Kiev.

Washington mulai memberlakukan sanksi terhadap Moskow pada 2014, menargetkan sektor energi dan keuangan Rusia.

Perdana Menteri Yunani mengatakan, pemerintah telah menyiapkan rencana rahasia untuk kemungkinan keluar dari Zona Euro.

Menurut Reuters, Alexis Tsipras dalam pernyataannya di Parlemen Yunani, Jumat (31/7) mengatakan, kami tidak mempunyai rencana untuk keluar dari Zona Euro, namun kami telah menyiapkan rencana darurat terkait hal ini.

Ia menambahkan, ketika mitra-mitra kami dan para pemberi pinjaman telah menyiapkan rencana keluarnya Yunani dari Zona Euro, mengapa kita sebagai pemerintah tidak seharusnya menyiapkan langkah-langkah pembelaan kita?

PM Yunani lebih lanjut menggambarkan rencana tersebut sebagai rencana pertahanan sebuah negara sebelum dimulainya perang.

Tsipras mengatakan, ini adalah tugas pemerintah yang bertanggung jawab; yaitu untuk mempersiapkan rencana darurat untuk masa depan.

Di bagian lain statemennya, PM Yunani membantah tuduhan terkait keinginannya untuk mengembalikan mata uang euro menjadi drachma.

Perkembangan tersebut terjadi ketika PM Yunani juga menghadapi penentangan dari partai politiknya sendiri, SYRIZA.

Tsipras tengah berdialog dengan para pejabat Uni Eropa dan Dana Moneter Internasional (IMF) agar tiga minggu ke depan dapat menerima bantuan finansial bagian ketiga.

Sabtu, 01 Agustus 2015 07:11

Diserang ISIS, Tujuh Tentara Libya Tewas

Sumber-sumber militer di Libya mengabarkan tewasnya tujuh tentara negara ini dalam serangan teroris Takfiri ISIS ke sebuah pos pemeriksaan pasukan pemerintah pada Jumat (31/7).

Seperti dilansir Reuters, seorang pejabat militer Libya mengatakan, serangan teroris ISIS di pos pemeriksaan di luar kota Ajdabiya, Libya timur telah menewaskan lima tentara dan menyebabkan 15 lainnya menghilang.

Ia menambahkan, dua tentara Libya juga tewas dan lima lainnya terluka ketika pemerintah mengirim pasukan tambahan ke kota tersebut.

ISIS dalam pernyataannya mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Merurut statemen ISIS, kelompok teroris ini melancarkan serangan ke Ajdabiya dengan mengerahkan 200 milisi dan berhasil menguasai gudang amunisi dan peralatan militer Libya.

ISIS memanfaatan kevakuman keamanan di Libya yang kini terbagi menjadi dua pemerintahan dan dua parlemen yang saling berseteru. (

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif menilai memuaskan lawatan regionalnya ke tiga negara Arab.

Zarif Kamis (30/7) di laman Twitternya menulis, dirinya menggelar perundingan tingkat tinggi dan konstruktif dengan pejabat Kuwait, Qatar dan Irak.

Menlu Iran saat menjawab mereka yang sampai saat ini dilanda keraguan menekankan, “Negara tetangga menjadi prioritas kebijakan luar negeri Iran dan ini merupakan sebuah pilihan penting serta urgen.”

Zarif hari Ahad lalu di lawatan tiga harinya mengunjungi tiga negara Arab, Kuwait, Qatar dan Irak. Selama kunjungannya tersebut, Zarif bertemu dengan petinggi ketiga negara tersebut membicarakan kesepakatan nuklir Iran dan Kelompok 5+1 serta isu-isu regional termasuk perang anti terorisme di kawasan.

Iran baik sebelum maupun pasca negosiasi nuklir senantiasa berusaha memperluas hubungannya dengan tetangga dan negara-negara kawasan.

Tehran berulang kali menekankan, keamanan negara tetangga dan kawasan juga merupakan keamanan Iran dan untuk memerangi kendala instabilitas diperlukan kerjasama kolektif. Menurutnya kepercayaan merupakan strategi rasional dan konstruktif.

Republik Islam Iran senantiasa menghormati kebijakan bertetangga yang baik dan kedaulatan negara tetangga serta regional. Kebijakan mengejar stabilitas merupakan doktrin diplomasi aktif Iran di kawasan.

Komandan angkatan darat Iran lebih lanjut mengungkapkan, “Di antara angkatan bersanjata Iran, terdapat persatuan dan solidaritas penuh. Jika musuh melakukan kesalahan sekecil apa pun, maka mereka akan mendapatkan balasan yang mematikan.”

“Musuh tidak akan terlibat perang secara langsung dengan Iran, namun mereka akan mendukung kelompok Takfiri dan memperkokoh teroris di kawasan untuk membendung pengaruh Tehran,” tekan Pourdastan.

Kebangkitan Islam di kawasan menurut Pourdastan adalah hasil dari muqawama bangsa Iran terhadap kekuatan arogan dunia. “Selama bangsa Iran masih memiliki semangat anti-hegemoni, tidak ada kekuatan arogan dunia yang mampu melawannya,” tegas Pourdastan.

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan, Iran telah mencapai kesepakatan nuklir bersejarah dengan Barat.

Zarif dalam artikelnya di surat kabar The Guardian Inggris, Jumat (31/7/2015) menganggap rezim Zionis Israel sebagai penghalang terciptanya zona bebas nuklir di Timur Tengah. Dia mengatakan, Iran telah menandatangani kesepakatan nuklir bersejarah dan sekarang giliran rezim Zionis.

“Iran dan Kelompok 5+1 pada akhirnya mencapai tujuan kolektif mengubah program nuklir Tehran dari sebuah krisis yang tidak perlu menjadi peluang untuk kerjasama di bidang larangan proliferasi nuklir dan lebih jauh dari itu,” tulis Zarif.

Dia menegaskan bahwa Republik Islam Iran selalu melakukan upaya berkelanjutan untuk larangan penggunaan senjata pemusnah massal di kawasan.

“Rezim Israel sebagai satu-satunya pemilik program senjata nuklir di kawasan, menarik diri (dari proses perlucutan senjata nuklir),” tegas Zarif.

Menurutnya, kesepakatan nuklir Iran dapat menjadi awal perundingan untuk mencapai konvensi penghancuran dan penghapusan senjata nuklir dunia, di mana bisa didukung oleh sebuah mekanisme pengawasan yang ketat dan uji kejujuran.