کمالوندی

کمالوندی

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Kamis (5/9) siang dalam pertemuan dengan Ketua dan para anggota Dewan Ahli Kepemimpinan (Majles-e Khebregan-e Rahbari) mengimbau para pejabat negara untuk memandang permasalahan yang ada di negara ini secara komprehensif. Beliau dalam kesempatan itu juga membahas perkembangan terkini di kawasan.

Menurut beliau, memandang permasalahan secara menyeluruh adalah hal yang harus dilakukan termasuk diantaranya dalam menganalisa terjadinya revolusi Islam di Iran di tengah badai yang bertiup kencang di dunia. Munculnya revolusi bernafaskan Islam di kawasan yang sangat strategis dan sarat dengan gejolak ini lebih mirip dengan mukjizat.

Seraya menyinggung kebencian musuh-musuh revolusi Islam sejak awal berdirinya pemerintahan Islam di Iran, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, "Penyebab utama permusuhan ini adalah keislaman yang dibawa oleh revolusi."

Mengenai gejolak yang terjadi di kawasan Asia Barat yang notabene selama ini dikuasai oleh negara-negara Barat, beliau menuturkan, "Munculnya kesadaran dan kebangkitan Islam di kawasan bertolak belakang dengan apa yang dimaukan oleh kubu arogansi."

Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei menandaskan, "Salah besar jika ada yang beranggapan bahwa kebangkitan Islam sudah redup. Sebab, kebangkitan Islam bukanlah satu peristiwa politik semata yang lenyap dengan tumbangnya kekuasaan satu pihak tertentu. Tapi kebangkitan Islam adalah keterjagaan dan kesadaran yang semakin meluas di tengah masyarakat Islam untuk percaya diri dan bersandar pada ajaran Islam."

Beliau menambahkan, "Yang kita saksikan di kawasan saat ini adalah reaksi kubu arogansi terutama Amerika Serikat (AS) terhadap fenomena kebangkitan Islam."

Menyinggung sikap kubu arogansi untuk menangani masalah-masalah dunia sesuai dengan kepentingan mereka, Rahbar mengatakan, "Kubu arogansi hadir di kawasan dengan segala kecongkakan dan ambisinya. Mereka hendak memadamkan gelora moqawamah dan perlawanan tapi selalu gagal dan tak akan pernah berhasil."

Menurut beliau, yang diinginkan kubu arogansi adalah kekuasaan Zionisme atas kawasan. Terkait isu Suriah, mereka mengangkat masalah senjata kimia untuk mengelabuhi opini umum dan mengesankan bahwa mereka punya jiwa kemanusiaan.

"Padahal, yang sebenarnya paling tidak penting di mata mereka adalah masalah kemanusiaan. Para petinggi AS berkoar soal kemanusiaan sementara mereka adalah pihak yang paling bertanggung jawab terkait penjara Guantanamo dan Abu Ghraib, dan merekalah yang bersikap bungkam saat Saddam menggunakan senjata kimia di Halabja dan sejumlah kota di Iran dan mereka pula yang melakukan pembantaian warga sipil di Afghanistan, Pakistan dan Irak," kata beliau.

Karena itu, lanjut beliau, tak ada yang mempercayai klaim kemanusiaan mereka di dunia ini.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menambahkan, "Kami meyakini bahwa saat ini AS sedang melakukan kesalahan besar di Suriah. Karena itu, AS pasti akan merasakan pukulan yang bakal menimpanya di sana."

Mengenai kondisi di Iran, beliau menegaskan bahwa di saat musuh kian melemah, Republik Islam justeru semakin kuat dan solid meski menghadapi berbagai macam gangguan selama 34 tahun.

Beliau juga mengimbau para pejabat negara untuk memandang permasalahan yang ada secara menyeluruh. "Jangan hanya melihat fenomena pahit saja. Sebab, di tengah masyarakat ini ada pemikiran-pemikiran yang menonjol, tenaga-tenaga yang aktif dan kreatif, ketaatan beragama di tengah kaum muda, dan langgengnya slogan-slogan agama kita di negara ini dan di dunia. Realitas yang manis ini harus menjadi landasan untuk menyingkirkan kegetiran yang ada," lanjut beliau.

Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei mengingatkan kembali pemikiran dan perilaku Imam Khomeini (ra) pada dekade pertama kemenangan revolusi Islam. Imam Khomeini tidak menutup mata dari realita yang ada dan tidak pernah mundur dari prinsip yang diperjuangkannya.

Beliau mengatakan, "Imam Khomeini adalah orang yang menyebut Rezim Zionis Israel sebagai kanker ganas yang harus dihilangkan. Dalam masalah ini beliau tidak mengenal kata taqiyah. Dalam menghadapi AS, Imam juga tak gentar menyebut AS Setan Besar karena kejahatan-kejahatan yang dilakukannya di dunia. Beliau pula yang menyebut pendudukan atas kedutaan besar AS di Tehran sebagai revolusi kedua yang lebih besar dari revolusi pertama."

Rahbar menaandaskan, "Resistensi Imam inilah yang membuat pilar-pilar pemerintahan Islam semakin kokoh."

Beliau mengingatkan apa yang terjadi pada negara-negara yang rela meninggalkan prinsip demi menarik hati kubu arogansi.

"Jika di Mesir, mereka tidak meninggalkan slogan perlawanan anti Israel demi menyenangkan hati AS, tentu diktator yang telah menistakan rakyatnya tak akan bisa keluar dan bebas dari penjara sementara orang-orang yang dipilih rakyat justeru dijebloskan ke sel tahanan. Jika prinsip dipegang teguh, orang-orang yang menentang para wakil dan pilihan rakyat akan ikut bergabung dan mendukung," kata beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam mengingatkan satu masalah penting, yaitu bahwa musuh selalu berupaya menebar perselisihan di tengah umat untuk menyulut api fitnah. "Salah satu caranya adalah dengan menyusupkan orang-orang bayaran di tengah dua kubu yang berkonflik. Misalnya, dengan menyusupkan anasir sebagai Sunni takfiri di salah satu pihak dan dengan mengatasnamakan Syiah di pihak lain. Siapapun yang termakan oleh tipudaya besar ini berarti dia melakukan tindakan yang merugikan gerakan Islam," tegas beliau.

Untuk itu beliau menyeru ulama Syiah dan Sunni untuk tidak membiarkan perbedaan keyakinan dan madzhab menjadi pemicu pertikaian di tengah umat.

Di awal pertemuan, Ketua Dewan Ahli Kepemimpinan Ayatollah Mahdavi Kani menjelaskan proses berlangsungnya sidang tahun Dewan dan menyatakan bahwa Dewan ini akan membantu pemerintah dalam menjalankan tugas-tugasnya.
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Senin (9/9) dalam pertemuan dengan para Imam Shalat Jum'at dari seluruh penjuru negeri menyebut ibadah shalat Jum'at sebagai satu jaringan keagamaan, kerakyatan dan pemerintahan yang sangat urgen dan bernilai.

Seraya menekankan keharusan untuk memiliki pandangan yang komprehensif dan menyeluruh terhadap permasalahan-permasalahan negara, kawasan dan dunia beliau mengatakan, "Pemerintah, para pejabat negara, para politikus, para diplomat dan rakyat hendaknya menganalisa semua gerak-gerik dan perilaku sistematis Barat dan Amerika Serikat serta kesan-kesan yang sengaja mereka tonjolkan dalam masalah hak asasi manusia secara benar dan realistis. Hal ini juga harus dianalisa dalam kerangka konflik yang mendalam dan substansial antara Barat dan Islam. Sebab jika tidak, kita akan salah dalam membedakan taktik-taktik dan strategi lawan bahkan salah dalam mengenal lawan itu sendiri."

Menjelaskan pentingnya memiliki pandangan yang komprehensif dan realistis dalam menganalisa permasalahan negara dan dunia, Ayatollah al-Udzma Khamenei menyinggung konflik yang mendasar antara Barat dan Islam dalam beberapa abad terakhir seraya menandaskan, "Di masa penjajahan, Barat melebarkan kekuasaan dan hegemoni ekonomi, politik dan budayanya di wilayah Timur termasuk di Dunia Islam. Berbekal kemajuan sains dan teknologi, Barat meyakinkan dunia bahwa panutan dan poros dari seluruh perhitungan di dunia ini adalah Dunia Barat."

Beliau menambahkan, "Bahkan terkait pembagian wilayah geografis, Barat juga membuat pemetaan yang menunjukkan keunggulannya dengan menciptakan istilah-istilah yang tidak benar seperti Timur Dekat, Timur Tengah dan Timur Jauh."

Mengenai hegemoni mutlak Barat di masa penjajahan, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, "Di masa ketika negara-negara kawasan termasuk Iran berada di bawah hegemoni Barat dan Dunia materialis, gerakan revolusi Islam yang dilandasi oleh semangat kemerdekaan penuh serta loyalitas kepada Islam dan ajaran al-Qur'an mencapai kemenangannya dan ini merupakan pukulan yang telak terhadap apa yang dibangun Barat sejak lama."

Menurut beliau, revolusi Islam Iran berpengaruh sangat besar di kawasan dan Dunia Islam dalam mengembalikan jatidiri keislaman dan keagamaan. "Dengan semakin meluasnya pemikiran revolusi Islam Iran secara bertahap, Barat dicekam kekhawatiran yang sangat. Seiring dengan kian mendalamnya pemikiran ini, Barat menyusun strategi dan program-program secara lebih sistematis dan mendalam," tandas beliau.

Rahbar mengatakan, "Saat ini kondisi di kawasan dan di Dunia Islam telah membuat Barat berpikir bahwa mereka telah tertinggal dari cepatnya gerakan arus pemikiran revolusi Islam. Untuk itu, dengan segenap kemampuan mereka hendak mengejar ketertinggalan ini."

Beliau menambahkan, "Dalam kondisi seperti ini, kawasan menyaksikan gelombang gerakan kebangkitan Islam. Sebagai pihak merasa ketinggalan dari gerakan revolusi Islam, Barat dengan kepanikannya masuk ke tengah medan untuk melawan arus kebangkitan Islam."

Karena itu beliau mengimbau pemerintah Iran serta para pejabat, politikus dan seluruh masyarakat untuk memiliki pandangan yang benar dan komprehensif terkait permasalahan yang ada di kawasan. Sebab, jika tidak demikian realitas yang sebenarnya tak akan terlihat dengan baik. "Itu akan mengecoh dan merugikan kita," imbuh beliau.

Ayatollah al-Udzma Khamenei menyebut Republik Islam Iran sebagai pihak yang memenangi pertarungan dunia materialis melawan Islam. Kemenangan ini akan langgeng dan tak bisa diguncang dengan cara memupuk persatuan nasional yang lebih kokoh dan komitmen seluruh instansi negara yang lebih kuat terhadap nilia-nilai dan prinsip yang dijunjung tinggi.

Beliau mengatakan, "Dalam menghadapi Dunia Barat kita harus kuat. Sebab, mereka telah membuktikan bahwa mereka tak menaruh belas kasihan kepada siapapun. Tidak seperti yang mereka klaim dan kesankan dalam masalah hak asasi manusia, ternyata hati mereka tidak merasa iba menyaksikan tewasnya jutaan orang."

Pemimpin Besar Revolusi Islam mengingatkan bahwa para politikus Barat biasa membohongi opini dunia. "Sebenarnya, para politikus Barat itu tidak pernah merasa iba dan sedih menyaksikan pembunuhan massal di Hiroshima atau terbunuhnya jutaan orang dalam Perang Dunia I dan II, juga pembantaian rakyat yang tak berdosa di Pakistan, Afghanistan dan Irak. Dan di masa mendatangpun, jika diperlukan mereka tak akan segan untuk membantai manusia-manusia tak berdosa di manapun juga. Karena itu, kita dituntut untuk meningkatkan kemampuan diri secara politik, pemerintahan, kesejahteraan hidup dan kerakyatan."

Di bagian lain pembicaraannya Ayatollah al-Udzma Khamenei menyebut shalat Jum'at sebagai ibadah yang menghadirkan masyarakat untuk tetap berhubungan dengan pemerintahan Islam. Mengenai hubungan shalat Jum'at dengan pemerintahan Islam, beliau menjelaskan, "Tidak seperti anggapan sebagian kalangan yang memandang tugas pemerintahan hanya berhubungan dengan kesejahteraan hidup serta kebebasan berpolitik rakyatnya, pemerintahan Islam punya kewajiban untuk memikirkan kondisi keagamaan dan keimanan rakyat."

Namun demikian beliau menggarisbawahi, bahwa meskipun shalat Jum'at merupakan jaringan keagamaan dan kerakyatan yang terhubung kepada pemerintahan, tapi forum shalat Jum'at tidak masuk dalam pemetaan kubu politik di dalam negeri.

Dalam kesempatan itu, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengimbau para khatib Jum'at untuk menyampaikan khutbah yang singkat namun padat yang disertai dengan nasehat dan bimbingan. "Upayakan agar khutbah Jum'at bisa menjawab tuntutan hidup dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak jamaah, khususnya kaum muda dalam masalah aqidah, perilaku dan cara pandang berpolitik," kata beliau.
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Rabu (11/9) pagi dalam pertemuan dengan para pengurus haji tahun ini menyebut haji sebagai sumber kekuatan politik, budaya dan spiritual bagi masyarakat Muslim. Menyinggung kondisi Dunia Islam dan kawasan saat ini, langkah musuh-musuh Islam untuk menyulut konflik di tengah kaum muslimin dengan memanfaatkan isu-isu perselisihan madzhab dan ancaman kubu hegemoni untuk menyulut perang, beliau mengatakan, "Kita berharap sikap baru yang ditunjukkan Amerika Serikat dalam masalah Suriah benar-benar serius dan jauh dari tipu muslihat. Semoga AS benar-benar mengakhiri sikap arogan dan keliru yang ditunjukkannya dalam beberapa pekan terakhir."

Beliau mengingatkan bahwa salah satu kelaziman hakiki dalam menjalankan ibadah haji adalah berperilaku ramah dengan saudara seagama dalam melaksanakan kewajiban yang agung ini. "Tidak berbantah-bantahan selama menjalankan ibadah haji yang telah ditekankan oleh Allah Swt dalam al-Qur'an berarti bahwa kaum muslimin jangan berbantah-bantahan dengan saudara sesama muslim, dan ini meliputi perdebatan lisan dan permusuhan di hati," tandas beliau.

Beliau menyayangkan kesalahpahaman sebagian orang yang mengartikan larangan berbantah-bantahan secara keliru. Dengan penafsiran yang salah itu mereka menolak untuk menyertai ritual berlepas tangan (bara'ah) dari kaum musyrikin. Padahal, berbantah-bantahan dengan kaum kafir dan musyrik adalah salah satu ajaran utama dalam agama Islam.

Seraya menyeru kaum muslimin untuk pandai-pandai membaca konspirasi musuh yang berusaha menyulut pertikaian bernuansa madzhab di tengah umat Islam, Ayatollah al-Udzma Khamenei menegaskan, "Musuh-musuh umat Islam menyadari dengan baik bahwa pertikaian madzhab di tengah umat Islam akan menguntungkan Rezim Zionis Israel. Karena itu mereka membentuk kelompok-kelompok ekstrem takfiri di satu sisi, dan di sisi lain mereka membangun media-media massa yang secara lahiriyah menggunakan nama Islam bahkan Syiah. Itu dimaksudkan untuk menyulut pertikaian di tengah umat Islam."

Beliau menambahkan, "Para tokoh dan ulama besar di kalangan Syiah seperti Imam Khomeini (ra) dan yang lain selalu menekankan persatuan umat. Karena itu, Syiah yang hendak dikenalkan oleh media-media yang disiarkan dari London dan AS dengan tujuan memicu perselisihan umat, tidak sejalan dengan ajaran Syiah yang hakiki."

Berbicara tentang ibadah haji, Pemimpin Besar Revolusi Islam menjelaskan bahwa haji adalah kesempatan untuk saling bertukar budaya di antara sesama muslim dan mengenal kondisi saudara-saudara seiman di berbagai penjuru dunia.

"Melihat banyaknya media massa yang memusuhi pemerintahan Islam, maka salah satu tugas jamaah haji Iran adalah mengenalkan ajaran Islam dan madzhab Syiah yang hakiki serta mengenalkan kemajuan-kemajuan yang berhasil dicapai pemerintahan Islam, baik secara lisan maupun tindakan," kata beliau.

Rahbar menambahkan bahwa salah satu hal terpenting dari pelaksanakan ibadah haji yang hakiki adalah menguatkan sisi spiritual. "Keimanan yang kuat, tawakkal kepada Allah dan berbaik sangka dengan janji-janji Ilahi yang diperlukan untuk melewati jalan-jalan sulit dan supaya tidak gentar menghadapi kekuatan lahiriyah kubu-kubu adidaya, semua itu didapatkan lewat haji," jelas beliau.

Menyinggung perang yang disulut musuh-musuh umat Islam di Pakistan, Afghanistan, Irak, Suriah dan Bahrain dengan mengobarkan isu Syiah dan Sunni sehingga menewaskan banyak manusia yang tak berdosa, Ayatollah al-Udzma Khamenei mengatakan, "Kubu hegemoni dan adidaya terutama AS tak pernah segan untuk menghancurkan suatu negara atau menumpahkan darah umat manusia demi kepentingannya yang ilegal."

Terkait konflik Suriah dan ancaman perang dari AS dalam beberapa pekan terakhir, beliau menegaskan, "Demi kepentingan Zionis dan kapitalis, mereka siap melakukan apa saja termasuk mengobarkan perang dan menistakan kepentingan bangsa dan negara-negara lain."

Menanggapi adanya perubahan sikap dari AS dalam masalah Suriah, beliau berharap perubahan sikap ini serius dan bukan tipu muslihat belaka.

"Republik Islam Iran terus memantau dengan seksama dan cermat setiap perkembangan yang terjadi di kawasan," kata Rahbar.

Beliau menambahkan, "Sebagai bangsa yang besar di kawasan vital ini, kita harus bisa mengenalkan kepada semua orang tujuan luhur dan cita-cita insani kita yang berlandaskan Islam dengan menampilkan kekuatan Islam. Kita harus mengajak umat manusia untuk ikut memanfaatkan apa yang dihasilkan ketika kita melangkah berlandaskan Islam."

Di awal pertemuan, Wakil Wali Faqih dan Pimpinan Hujjaj Iran, Hojjatul Islam wal Muslimin Qazi Asgar menjelaskan program pelaksanaan ibadah haji tahun ini.
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Selasa (17/9) pagi dalam pertemuan dengan para perwira tinggi Pasukan Garda Revolusi Islam (Sepah-e Pasdaran-e Enqelab-e Islami) menyatakan bahwa prestasi gemilang yang telah dibukukan Pasdaran selama ini menunjukkan jatidiri dan pengalaman sebuah bangsa yang mengakar dalam. Menjelaskan makna kepengawalan revolusi Islam beliau mengatakan, "Pesan revolusi Islam yang paling inti dan menarik adalah menolak kezaliman dan pantang dizalimi. Dan, seluruh tindakan serta ucapan kubu arogansi harus dianalisa dan ditafsirkan dalam kerangka konfrontasi sistem hegemoni dunia melawan pesan ini."

Seraya menyampaikan ucapan selamat atas peringatan milad Imam Ali bin Musa ar-Ridha (as), Ayatollah al-Udzma Khamenei mengungkapkan bahwa kedudukan maknawiyah para Imam Maksum (as) lebih tinggi dari kemampuan akal untuk mencernanya atau lisan untuk menyifatinya. Namun kehidupan mereka adalah pelajaran nyata dan abadi bagi umat manusia.

Menyinggung 55 tahun usia Imam Ridha dan 20 tahun masa imamah beliau, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, "Dalam masa yang relatif singkat itu dan di bawah tekanan yang hebat dari Harun ar-Rasyid, dengan pandangan yang jauh ke depan Imam Ali bin Musa ar-Ridha (as) memperluas dan memperkokoh pemahaman akan hakikat Islam, pemikiran kepemimpinan dan ajaran Ahlul Bait sedemikian rupa sehingga rezim penguasa yang despotik saat itu tak kuasa menghadapinya. Mereka terpaksa mengambil tindakan di luar rencana awal dengan membunuh sang Imam."

Di bagian lain pembicaraannya beliau mengingatkan prestasi gemilang yang diraih Pasdaran, seraya menandaskan, "Pasdaran masuk ke tengah medan perjuangan dan perlawanan dengan iman dan keyakinan yang mendalam. Seiring dengan keberhasilannya mencetak para komandan dan pakar strategi militer yang paling cerdas dan kuat, di medan non militer pun Pasdaran melahirkan para pemimpin dan manajer yang terbaik untuk diterjunkan ke berbagai instansi negara."

Menurut beliau, salah satu fenomena menarik yang ada pada Pasdaran adalah semboyan 'hidup sebagai insan revolusioner' dan 'selalu berkomitmen'. "Lembaga dengan pondasinya yang kokoh ini tak pernah menyimpang dari jalannya yang benar hanya karena terjadinya hal-hal seperti munculnya perubahan di dunia atau kelaziman untuk melakukan perombakan di dalam," ungkap beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa tidak ada keharusan bagi Pasdaran untuk terlibat dalam masalah politik. Namun demikian, sebagai lembaga yang bertugas mengawal revolusi, Pasdaran perlu memiliki pemahaman yang cermat akan realita yang terjadi dan tak bisa menutup mata dari munculnya aliran-aliran yang menyimpang.

Seraya mengingatkan supaya isu-isu parsial jangan sampai berujung pada konflik antar kubu atau pribadi, beliau menandaskan, "Masalah paling utama adalah konflik melawan kubu hegemoni dengan mengangkat pesan revolusi Islam yang menarik yaitu menolak kezaliman dan pantang dizalimi."

Beliau menambahkan, "Sistem hegemoni telah membagi dunia ke dalam dua kelompok, kelompok penindas dan kelompok tertindas. Akan tetapi revolusi Islam mengusung logika yang menentang penindasan dan menolak ditindas. Logika ini telah membuat pesan revolusi Islam tidak hanya terbatas oleh garis wilayah geografis tapi disambut secara luas oleh berbagai bangsa di dunia."

Lebih lanjut Ayatollah al-Udzma Khamenei menjelaskan tentang kebijakan rezim-rezim otoriter dan yang bersekutu dengan sistem hegemoni dunia, seraya mengatakan, "Kubu hegemoni dan kaki tangannya menjalankan tiga kebijakan utama yaitu 'menyulut perang', 'menciptakan kemiskinan' dan 'menyebarkan kebejatan'. Sementara, Islam menolak ketiga hal itu. Penolakan itu menjadi faktor utama yang memicu permusuhan dengan revolusi Islam."

Untuk itu, beliau mengimbau supaya dalam menganalisa dan menafsirkan konspirasi musuh dalam 34 tahun terakhir, soal faktor pemicu permusuhan itu mesti dicermati dengan baik. "Isu nuklir juga harus dicermati dari kacamata ini," imbuh beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan bahwa kebijakan untuk tidak membuat senjata nuklir berakar dari keyakinan beragama yang dijunjung tinggi oleh Republik Islam Iran bukan untuk memuaskan hati Amerika Serikat (AS).

"Tentunya, segelintir negara ini tidak menginginkan berakhirnya monopoli mereka atas energi nuklir. Meski demikian, isu ini tidak menjadi alasan bagi mereka untuk mempermasalahkannya. Dalam isu nuklir, yang mesti dicermati dari sepak terjang AS, Barat dan kaki tangannya adalah masalah konfrontasi yang mengakar dalam antara kubu hegemoni dan revolusi Islam," kata beliau.

Menjelaskan dalamnya permusuhan kubu arogansi terhadap revolusi Islam, Rahbar mengungkapkan, "Keagungan Imam Khomeini (ra) telah memaksa musuh untuk menghormati beliau. Akan tetapi di mata musuh, tak ada orang yang lebih mereka benci dari Imam Khomeini. Dengan kearifannya yang sempurna, Imam Khomeini bisa membaca apa yang diinginkan oleh musuh, dan beliaupun dengan kokoh berdiri menghadapi mereka."

Beliau menambahkan, "Sekarangpun seperti itu. Siapa saja yang komitmen dengan pesan utama yang diusung revolusi Islam dan menafsirkan semua konspirasi dan perilaku musuh dalam kerangka konfrontasi kubu hegemoni melawan revolusi Islam, maka dia akan menjadi orang yang paling dibenci dan dimusuhi kubu arogan."

Mengenai kebijakan luar negeri, Ayatollah al-Udzma Khamenei menyatakan dukungannya kepada apa yang disebut dengan kebijakan lunak tapi tangguh. Namun kebijakan ini harus diiringi dengan satu syarat yaitu mengenal dengan baik apa tujuan yang ingin dicapai. Menurut beliau, terkadang seorang pegulat menunjukkan teknik yang lunak tapi dia tak pernah lupa apa tujuannya dan siapa lawan yang dihadapinya.

Di bagian lain pembicaraannya, Pemimpin Besar Revolusi Islam menjelaskan kondisi negara saat ini yang sangat mengagumkan dan berbeda dengan kondisi di masa lalu. Kemajuan sains, militer, manajemen, ekonomi dan berbagai bidang lainnya berhasil dicapai di saat Republik Islam Iran berada dalam himpitan embargo dan sanksi serta menjadi bulan-bulanan berbagai konspirasi musuh. Menurut beliau, hal ini adalah bukti pertama yang menunjukkan bahwa masa depan yang cemerlang tengah menanti Iran.

Rahbar disela-sela penjelasannya menyayangkan kondisi yang dialami oleh Dunia Islam terkait perkembangan di kawasan akhir-akhir ini, karena sebagian orang tidak mengenal jalan dengan baik. Tapi menurut beliau, kondisi ini tak akan bertahan lama. Sebab, kebangkitan Islam akan terus bergulir.

Lebih lanjut Ayatollah al-Udzma Khamenei menjelaskan bahwa bukti kedua akan cerahnya masa depan bagi Iran adalah logika dan perhitungan ilmiah yang diusung oleh revolusi Islam. Revolusi Islam yang berjalan berlandaskan logika dan perhitungan ilmiah terus bergerak maju sementara musuh yang diliputi dengan kontradiksi di dalam semakin melemah.

Namun demikian, beliau mengingatkan bahwa cepat atau lambatnya pencapaian masa depan yang cerah bagi Republik Islam Iran itu sangat bergantung pada tindakan dan perilaku pemerintah dan para pejabat negara. "Jika kita bersatu, kompak dan bertekad kuat, maka masa depan itu akan dicapai dengan lebih cepat. Tapi jika kita bermalas-malasan, bersikap egois dan terjebak dalam berbagai masalah lainnya, maka kita akan terlambat untuk mencapai tujuan itu," kata beliau.

Di awal pertemuan Wakil Wali Fakih di Sepah-e Pasdaran Hojjatul Islam wal Muslimin Saidi menjelaskan program-program terpenting yang dijalankan kantor perwakilan Wali Fakih di korps Pasdaran.

Sementara itu, Panglima Tertinggi Pasukan Garda Revolusi Islam Mayor Jenderal Ja'fari dalam kata sambutannya melaporkan berbagai keberhasilan yang dicapai Pasdaran dalam beberapa waktu terakhir.
Selasa, 17 September 2013 17:42

Hadis Akhlak Ushul Kafi: Mencium

Mencium

1. Imam Shadiq as berkata, "Jangan mencium kepala atau tangan seseorang, kecuali Rasulullah Saw atau seperti beliau." (Menurut sebuah pendapat adalah para Imam Maksum as, para sayid dan ulama serta pada saat yang sama tidak ada yang mengharamkan masalah mencium tangan atau kepala orang lain)

2. Imam Musa Kazhim as berkata, "Tidak masalah bagi seseorang yang mencium orang lain dikarenakan hubungan keluarga. Ciuman saudara pada pipinya dan mencium Imam as di antara dua matanya."

3. Imam Shadiq as berkata, "Tidak boleh mencium bibir, kecuali kepada istri atau anak kecil."

 

Sumber: Vajeh-haye Akhlak az Ushul Kafi, Ibrahim Pishvai Malayeri, 1380 Hs, cet 6, Qom, Entesharat Daftar Tablighat-e Eslami.


Selasa, 17 September 2013 17:35

Hadis Akhlak Ushul Kafi: Buhtan

Buhtan

1. Imam Shadiq as berkata, "Barangsiapa memfitnah pria dan wanita mukmin dengan aib yang tidak ada pada mereka, niscaya Allah Swt membangkitkannya dalam kondisi Tinah Khibal, sehingga keluar darinya apa yang dikatakannya."

Ibnu Abi Ya'fur bertanya, "Apa yang dimaksud dengan Tinah Khibal?"

Imam Shadiq as menjawab, "Nanah yang keluar dari kemaluan perempuan pezina."

2. Imam Shadiq as berkata, "Buhtan adalah engkau mengatakan sesuatu yang tidak ada padanya." (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Selasa, 17 September 2013 17:31

Bagaimana Membebaskan Diri Dari Himpitan Kubur

Ada beberapa petunjuk bagi umat Islam untuk membebaskan dirinya dari siksa himpitan kubur di malam pertama setelah seseorang dikuburkan:

 

1. Menjauhi sebagian dosa seperti;

 

- Mengadu domba, tidak mensucikan diri setelah buang air kecil dan menjauhi istri.

 

Terkait masalah ini Imam Ali as berkata, "Siksa kubur terjadi karena seseorang suka mengadu domba, tidak mensucikan diri dari buang air kecil dan seorang lelaki yang menjauhi istrinya." (Ilal as-Syara'i, hal 309)

 

- Menghambur-hamburkan nikmat.

 

Rasulullah Saw bersabda, "Tekanan kubur bagi seorang mukmin itu sebagai kaffarah (penebusan dosa) perbuatannya yang menghambur-hamburkan nikmat." (Ilal as-Syara'i, hal 309)

 

- Berakhlak buruk terhadap keluarga.

 

Berdasarkan riwayat yang ada, siksa berupa tekanan kubur yang dialami oleh Saad bin Maadz, seorang sahabat Rasulullah Saw adalah dikarenakan akhlaknya yang buruk terhadap keluarganya. (Al-Kafi, jilid 3, hal 235)

 

2. Melakukan ruku yang lama dan sempurna saat shalat.

 

3. Senantiasa membaca surat az-Zukhruf.

 

4. Membaca surat an-Nisa setiap hari Jumat.

 

5. Menunaikan shalat tahajud.

 

6. Membaca surat at-Taktsur ketika mau tidur.

 

7. Meletakkan dua kayu yang masih basah di sisi mayit di dalam kubur.

 

8. Puasa selama empat hari di bulan Rajab dan dua belas hari di bulan Syaban. (Artikel "Azab Qabr, Mohammad Reza Kashefi)

Selasa, 17 September 2013 17:23

Daras Akhlak: Kaya dan Miskin

Kaya dan Miskin

Rasulullah Saw bersabda, "Ketika Allah Swt menganugerahi nikmat kepada seorang hamba, Dia senang menyaksikan pengaruh nikmat ini padanya dan Allah benci kemiskinan dan bergaya miskin."

Dalam Islam banyak riwayat yang mencela kemiskinan dan banyak juga yang memujinya. Tapi perlu diketahui bahwa riwayat-riwayat ini tidak saling bertentangan. Karena riwayat yang memuji kemiskinan mengacu pada kebutuhan manusia kepada Allah seperti ayat "Hai manusia, kalian yang membutuhkan Allah sementara Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji."

Sesuai dengan ayat ini, seluruh keberadaan manusia di sepanjang usianya membutuhkan Allah Swt atau ayat ini mengacu pada kemiskinan dengan arti kehidupan yang sederhana. Karena kemiskinan itu sendiri menjadi sumber dari beragam khurafat, keburukan dan kefasadan.

 

Kemiskinan dalam Pandangan Islam

Dalam ucapan Maksumin as disebutkan, "Kemiskinan merupakan wajah hitam di dunia dan akhirat."

Rasulullah Saw bersabda, "Seandainya tidak ada rahmat Allah kepada orang-orang miskin dari umatku, maka kemiskinan mereka lebih dekat pada kekafiran."

Kemiskinan merupakan masalah terbesar setiap bangsa. Karena kemiskinan memunculkan kebergantungan kepada negara lain dan yang lebih buruk lagi bangsa yang miskin terpaksa menerima budaya dan nilai-nilai negara lain. Itulah mengapa Rasulullah Saw bersabda, "Ketika Allah Swt menganugerahi nikmat kepada seorang hamba, Dia senang menyaksikan pengaruh nikmat ini padanya ..." Yakni, jangan menyembunyikan nikmat dengan bergaya seperti orang miskin. Karena miskin dan bergaya miskin sama buruknya. Dalam hadis ini kata Bu's dan Taba'us maknanya miskin dan bergaya miskin. Di hadis lain Rasulullah Saw bersabda, "Orang yang bergaya miskin, maka ia membutuhkan."

Ketika seseorang menampakkan nikmat yang didapatnya, itu sebenarnya bentuk lain dari rasa syukur. Manfaat yang lain dari menampakkan nikmat yang diterima adalah membantu orang lain yang membutuhkan dan berbuat baik.

Nikmat ini jangan ditafsirkan sederhana, tapi bermakna luas mencakup ilmu, pengarus sosial, harta dan lain-lain. Di sini, manusia harus memanfaatkan nikmat yang diterimanya, bukan memamerkannya kepada orang lain, sehingga terperosok pada sikap hidup yang berlebih-lebihan.

Sebagian riwayat menjelaskan kaya dan tidak butuh yang hakiki adalah jiwa yang kaya. Rasulullah Saw bersabda, "Orang kaya itu bukan yang memiliki banyak harta, tapi orang kaya adalah orang yang hatinya tidak membutuhkan."

Dalam hadis ini, ada kata ‘Aradh yang dipakai untuk harta dunia dikarenakan benar-benar sesuatu yang menempel dan tidak langgeng. Hal ini juga sesuai dengan sabda Nabi Saw bahwa kekayaan tidak didapatkan dengan harta, tapi kekayaan yang hakiki itu adalah jiwa yang kaya.

Ini masalah yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena kita menyaksikan orang yang memiliki kekayaan, tapi ia masih saja rakus untuk mengumpulkan harta. Ia berusaha siang dan malam, tapi bukan saja ia tidak dapat memanfaatkan hartanya dalam kehidupannya, tidak juga orang lain dapat memanfaatkannya. Apa saja yang telah diraihnya, tapi tetap merasa tidak cukup. Sebaliknya, ada orang yang tidak memiliki harta duniawi, tapi tidak pernah menunjukkan dirinya miskin.

Dengan demikian, hanya kekayaan jiwa yang membuat manusia itu orang kaya atau miskin. Sebaliknya, yang membuat manusia itu senantiasa merasa miskin ada pada jiwanya. Benar, jiwanya miskin dan oleh karenanya ia senantiasa merasa miskin dan membutuhkan.

Dinukil bahwa Buhlul pergi menemui Khalifah Harun ar-Rasyid. Ia kemudian meletakkan sebuah uang logam berwarna hitam di telapak tangan Harun. Melihat itu, Harun berkata, "Apa ini?" Buhlul menjawab, "Saya telah bernazar bila masalahku terselesaikan, maka aku akan bersedekah kepada seorang miskin. Setelah masalahku selesai dan bagaimanapun aku berpikir, aku tidak mendapatkan orang yang lebih miskin darimu."

Orang-orang seperti ini hanya tampak lahiriahnya yang kaya, tapi batinnya lebih miskin dari orang sedunia. Sebaliknya, ada orang miskin, tapi batinnya kaya.

 

Akar Kemiskinan Spiritual

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang menderita kemiskinan spiritual:

1. Harapan yang terlalu jauh yang membuat dirinya selalu membutuhkan.

2. Bergantung kepada dunia yang menstimulai manusia agar senantiasa lapar. Ini kebalikan dari zuhud, jiwa yang kaya.

3. Melupakan akhirat dan hanya membayangkan segala yang ada ini hanya berhenti di dunia.

4. Menilai uang adalah sesuatu yang paling bernilai. Padahal kebesaran jiwa, kehormatan dan ketenangan jiwa lebih mulia dari uang. Tapi dalam kenyataan banyak yang mengorbankan kehormatannya demi uang. Imam Ali as dalam khutbah Hammam berkata, "Orang bertakwa adalah orang yang menilai Allah itu agung dan memandang kecil selain-Nya."

Mereka yang mengenal Allah, maka selain-Nya akan dianggap tidak bernilai. Setetes air akan bernilai bagi seseorang yang tidak pernah melihat laut atau cahaya pelita dianggap bernilai bagi orang yang tidak pernah melihat cahaya matahari.

Mereka yang mengenal Allah juga memiliki jiwa yang kaya dan orang yang seperti ini tidak akan pernah menjual agama, kehormatan dan dirinya. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Sumber: Makarem Shirazi, Naser, Goftare Masoumeen (1): Dars-e Akhlak Ayatollah Makarem Shirazi, Tadvin: Mohammad Abdollah Zadeh, 1388 Hs, Qom, Entesharate Emam Ali bin Abi Thalib as.

Di saat krisis politik dan friksi antar pemerintah serta kelompok oposisi terus berlanjut, aliansi wartawan negara ini menyeru untuk menggelar aksi mogok massal.

Aliansi wartawan dalam protesnya atas aksi penangkapan dan pelanggaran kebebasan berekspresi menyatakan hari Selasa (17/9) akan digelar aksi mogok massal. Penangkapan Ziyad al-Hani, wartawan Tunisia dengan dakwaan menghina seorang hakim, telah memicu pembangkangan sosial di negara ini.

Iklim sosial di Tunisia saat ini sangat labil dan hal ini dalam kondisi ketika pemerintah negara ini berusaha untuk meredam ketegangan yang ada. Pemerintah Tunisia telah memilih strategi politik untuk keluar dari krisis yang berlaku di negara ini.

Lobi dengan partai politik dan asosiasi perdagangan merupakan isu yang dihadapi oleh pemerintah Tunisia dan Partai Ennahda sebagai struktur utama di pentas politik negara ini. Dalam beberapa pekan terakhir terjadi sejumlah pertemuan antara pemimpin Partai Ennahda dan Beji Caid Essebsi, tokoh kubu oposisi yang popular dan berhasil mengumpulkan banyak pendukung. Meski sampai saat ini pertemuan ini belum menunjukkan hasil, namun petinggi Tunisia masih berpikir untuk mempersiapkan rekonsiliasi nasional dengan mencapai kesepakatan dengan Essebsi.

Namun poin yang tidak dapat dipungkiri di sini adalah pemerintah serta Partai Ennahda tidak memiliki pilihan kecuali menunjukkan sikap lebih lunak kepada kubu oposisi. Asosiasi perdagangan Tunisia, sebagai kubu terkuat mengambil sikap anti pemerintah Perdana Menteri Ali Laarayedh dan meminta kabinet negara ini mengundurkan diri sehingga terbentuk sebuah pemerintahan nonpartai.

Di sisi lain, berbagai partai yang tergabung dalam pemerintahan juga mulai mengambil sikap anti Partai Ennahda dan Ali Laarayedh. Yang paling patut disesalkan adalah sikap Presiden Moncef Marzouki terkadang malah menuding pemerintah gagal dalam mengelola negara. Dalam iklim seperti ini, berbagai aliansi seperti aliansi wartawan juga memanfaatkan kondisi ini dengan memprovokasi opini publik.

Saat ini, ketika ketegangan politik dan sosial di Tunisia kian memanas, maka peluang aktivitas kelompok radikal semakin terbuka lebar. Isu ini sejatinya alasan tepat bagi kelompok oposisi dan mereka dengan mendakwa masalah keamanan mulai mengobarkan agitasi anti pemerintah di Tunisia.

Sejumlah pengamat politik meyakini, jika pemerintah Tunisia dalam waktu singkat membawa negara ini keluar dari krisis, maka terpuruknya negara ini ke dalam gelombang krisis sosial besar bukan hal yang tidak mungkin. Khususnya dari sisi ekonomi dan kehidupan warga Tunisia juga sulit. Kondisi ini juga dapat menjadi tekanan tersendiri kubu oposisi kepada pemerintahan Ali Laarayedh.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar mengatakan, masalah utama negara-negara adikuasa dunia atas Revolusi Islam adalah pesan asasi Revolusi yang mengajarkan untuk menghindari penindasan terhadap sesama dan berdiri melawan penindasan.

Ayatullah Khamenei hari ini, Selasa (17/9) dalam pertemuannya dengan para komandan, pensiunan dan pejabat Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) atau Pasdaran, memetakan dunia menjadi dua bagian, kelompok penindas dan kelompok tertindas. Ia menjelaskan, "Revolusi Islam membawa logika anti-penindasan dan menghindari aksi menindas, dan logika ini menyebabkan pesan Revolusi mampu menembus batas-batas teritorial Iran dan bangsa-bangsa dunia menyambutnya."

Menurut Rahbar, tindakan dan perkataan kekuatan hegemoni dunia, termasuk upaya menciptakan kontroversi yang dilakukan Amerika Serikat terkait isu nuklir Iran, harus dianalisis dan ditafsirkan dalam kerangka masalah utama kekuatan hegemoni dunia atas pesan Revolusi Islam. "Negara-negara tiran dan pengikut kekuatan hegemoni serta jaringan perampok internasional menjalankan tiga kebijakan, menyulut peperangan, menciptakan kemiskinan dan menyuburkan kerusakan dan penentangan Islam atas kebijakan ini adalah sumber masalah bagi mereka," katanya.

Rahbar memaparkan, "Republik Islam Iran, bukan karena Amerika atau selainnya, akan tetapi karena keyakinan Islam, menentang produksi dan penggunaan senjata nuklir. Namun tujuan utama para penentang aktifitas nuklir sipil Iran, sesuatu yang lain."

Catatan kesuksesan Pasukan Garda Revolusi Islam Iran, kata Rahbar, menunjukkan dalamnya identitas, kepribadian dan pengalaman yang berhasil dari sebuah bangsa. "Revolusi Hidup dan Revolusi Bertahan" di antara gambaran indah IRGC", lanjutnya.

Ayatullah Khamenei menuturkan, "Pasdaran tidak pernah keluar dari jalannya yang benar dan utama hanya karena transformasi di kancah internasional atau perubahan di dalam negeri."

Demi menjaga Revolusi, Pasdaran harus memiliki informasi yang cukup terkait transformasi dan manuver-manuver yang berkembang di berbagai arena. Ia menegaskan, "Pasdaran tidak harus terjun di arena politik, namun sebagai penjaga Revolusi mata mereka harus terbuka mengamati berbagai macam gerakan-gerakan menyimpang, tidak menyimpang tapi berafiliasi atau gerakan-gerakan politik lain."

Berkenaan dengan rumitnya dunia diplomasi Rahbar mengatakan, "Arena diplomasi adalah arena senyum dan proposal perundingan, akan tetapi seluruh perilaku ini harus dipahami dalam kerangka masalah utama kubu adidaya dunia."

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengaku setuju dengan langkah tepat dan rasional dalam politik luar dan dalam negeri Iran. Ia menjelaskan, "Latihan kejuaraan dengan berkomitmen kepada sebuah syarat utama dalam satu kondisi, sangat baik dan diperlukan."

Ayatullah Khamenei menandaskan, "Bangsa Iran bergerak maju dengan logika dan perhitungan ilmiah, namun musuh, dengan menciptakan penentang internal, sekalipun tidak keluar dalam bentuk lisan, sedang bergerak mundur dan melemah. Dalam pertempuran ini jelas masa depan adalah milik pihak yang bergerak maju dengan perhitungan dan logika."