کمالوندی
Basij, Mata Air Keimanan dan Perjuangan di Masa Sulit
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam menilai Basij bangkit dari dalam masyarakat dan perwakilan seluruh kelompok yang memiliki semangat tidak pernah lelah, yang siap terjun di berbagai medan untuk menunjukkan potensinya, serta tidak gentar menghadapi segala ancaman.
Basij dibentuk atas instruksi mendiang pendiri Republik Islam Iran, Ayatullah Khomeini pada 26 November 1979, menyusul berbagai ancaman dan serta sensitivitas banyak masalah pasca kemenangan Revolusi Islam.
Dengan pengalaman 44 tahun Revolusi Islam dan pemerintahan Republik Islam Iran, sekarang telah terbukti bahwa Basij adalah sebuah kekayaan abadi dan bernilai tinggi demi stabilitas, kemajuan dan keamanan bangsa Iran. Kekayaan besar ini menambah animo dan semangat Revolusi Islam dan juga gerakan-gerakan revolusioner dan jihad, demi membangun masa depan yang lebih cerah.
Rahbar dalam pertemuan dengan ribuan relawan Basij dari seluruh Iran, menilai kehadiran penuh semangat para pemuda di berbagai sektor khususnya di medan perlawanan terhadap imperialisme global, sebagai salah satu mukjizat Revolusi Islam. Kehadiran tersebut merefleksikan semangat dan animo para era pertama Revolusi dan juga pertahanan suci.
Beliau mengatakan, musuh semakin meningkatkan permusuhannya dari semua sisi sehingga muqawama (resistensi) yang bersumber dari pemikiran revolusioner dan Islami di kawasan dapat diberantas, akan tetapi para pemuda dan pejuang mukmin, setelah berhasil menghancurkan tumor Takfiri Daesh, berhasil membuat musuh bertekuk lutut dan sekaligus membuktikan kepada semua pihak bahwa "kita bisa".
Basij dengan kriteria tersebut, sekarang menjadi salah satu pilar utama menjaga pemerintahan Republik Islam Iran. Dalam kondisi sulit dan krisis, di mana dibutuhkan gerakan massif dari rakyat, Basij telah membuktikan efektivitasnya.
Perspektif dan teladan Basij yang mencatat berbagai pengalaman sukses di Iran, kini menjadi pusat perhatian gerakan revolusioner di berbagai negara dunia. Salah satu di antara pengaruh Basij adalah pembentukan pasukan relawan rakyat di Irak dalam pertempuran melawan kelompok teroris Takfiri Daesh.
Gerakan-gerakan jihad Hizbullah Lebanon, perjuangan Front Jihad Islam Palestina dan berbagai kelompok muqawama di Suriah dan Yaman mengahdapi kelompok-kelompok teroris dan pasukan penjajah, merupakan contoh nyata kedalaman strategi Basij di tingkat dunia Islam. Peran dan pengaruh signifikan Basij menunjukkan bahwa gerakan ini mampu menyebarkan budaya, prinsip dan nilai-nilai islami dan revolusioner kepada masyarakat dunia.
Bangsa Iran dengan semangat Basij selama bertahun-tahun pasca kemenangan Revolusi Islam, bukan hanya terjun ke medan perang pertahanan suci dan menjaga keamanan Iran, melainkan juga berkiprah di sektor pembangunan, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan prestasi besar itu, Basij layak untuk mendapat status bahwa dia bangkit dari dalam masyarakat dan sebagaimana yang telah dikemukakan Rahbar, Basij adalah perwakilan dari setiap kelompok masyarakat yang memiliki semangat kerja tanpa lelah dan siap terjun ke segala medan jika diperlukan.
Bangsa Iran dengan semangat Basiji dan berdasarkan komitmen mereka dengan Imam Khomeini, akan melawan segala bentuk makar dan memperjuangkan cita-cita Republik Islam. Kehadiran dan kesiapan tersebut juga bersumber dari peran Rahbar bahwa jika alunan merdu pemikiran Basij dikumandangkan di sebuah negara, maka kerakusan musuh dan para penjajah akan terjauhkan."
Sekarang masyarakat dunia telah menyadari perubahan besar menyusul gerakan revolusioner Basij. Dengan seluruh upaya musuh untuk mempropagandakan citra buruk Republik Islam dan menebar Iranphobia, akan tetapi Iran kini menjadi pusat kebangkitan Islam di antara bangsa-bangsa regional dan fakta ini telah membuat musuh-musuhnya gusar.
Tidak diragukan lagi, gerakan basiji bangsa-bangsa regional akan maju dan akan abadi dan dengan kebangkitan bangsa-bangsa regional, para anasir kaum imperialis akan satu-per-satu keluar dari medan dan ini menunjukkan kekuatan dan kebesaran umat Islam serta bernilainya perspektif basiji.
Salah satu di antara capaian besar di bidang ini adalah partisipasi kokoh pasukan Modafe-e Haram dengan semangat revolusioner dan basiji dalam pertempuran melawan kelompok teroris Takfiri Daesh hingga kehancuran kelompok durjana tersebut di Suriah dan Irak.
Sebagaimana ditekankan Rahbar, "Di sejumlah negara tetangga, tidak ada kepercayaan pada kemampuan untuk menghancurkan Daesh, namun ketika masuk ke medan (tempur), mereka menyaksikan kemenangan dan menerima pesan Revolusi Islam; yaitu kita bisa."
Imam Khomeini menyebut Basij sebagai sajarah thayibah, pohon yang baik. Bapak Revolusi Islam ini berkata, “Masalah Basij, tidak lain dari masalah yang ada sejak awal Islam, dan bukan sesuatu yang baru, dan memiliki [akar] sejarah dalam Islam. Karena tujuan kita adalah Islam, maka setiap pemuda adalah sebuah kekuatan untuk membela Islam dan seluruh rakyat, dan siapapun dengan profesinya masing-masing, demi mencegah serangan kafir dan musuh,”.
Revolusi Islam Iran lahir dari rahim Islam Muhammadi, dan sejak awal kelahirannya menghadapi berbagai konspirasi masif dan terorganisir yang dilancarkan musuh-musuh Islam. Rakyat Iran selama bertahun-tahun menderita demi memperjuangkan tercapainya kemenangan Revolusi Islam. Secara sukarela mereka menjaga dan mempertahankan Revolusi Islam dengan memasuki arena dan melakukan gerakan yang bernilai. Dalam kondisi demikian, Imam Khomeini dengan kecerdasan dan wawasan luasnya yang jauh ke depan secara resmi menginstruksikan pembentukan Basij.
"Republik Islam Iran –dengan bantuan dan petunjuk Allah Swt dan dengan kebangkitan dan kewaspadaan Imam Khomeini ra serta perjuangan rakyat– telah mampu mewujudkan Islam yang menjadi harapan umat Islam dalam bentuk sebuah sistem politik dan meletakkan pondasi awal," imbuhnya.
Ayatullah Khamenei menilai perlawanan di jalan Allah Swt sebagai langkah yang bisa membawa pada pahala akhirat dan juga membawa pahala dunia, yaitu martabat, kekuatan dan kemajuan.
Ditegaskannya, "Selama 38 tahun, Republik Islam Iran terlibat permusuhan dengan kubu arogansi, Zionisme, dan (rezim-rezim) reaksioner, namun hari ini ratusan atau mungkin ribuan kali lipat lebih maju dan lebih kuat dari sejak awal revolusi, dan ini adalah makna pahala dunia dari perlawanan dan ketahanan."
Memperingati Tahun Ketiga Syahadah Komandan Perang Melawan Terorisme (Bag-1)
Tiga tahun telah berlalu sejak komandan terbesar perang melawan teroris gugur syahid oleh pasukan teroris Amerika Serikat dan kini semua pencari kebebasan di dunia tahu bahwa Letnan Jenderal Qassem Soleimani adalah orang yang paling berpengaruh di medan perlawanan.
Pada Jumat dinihari, tanggal 3 Januari 2020, Jenderal Qasem Soleimani, Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan Abu Mahdi Al-Muhandis, Wakil Ketua Hashd Shaabi gugur syahid dalam serangan teroris AS di dekat Bandara Internasional Baghdad.
Kewibawaan Jenderal Soleimani di kawasan dan dunia sedemikian rupa sehingga berita kesyahidannya sebagai salah satu tokoh Revolusi Islam paling populer dan simbol perjuangan melawan sistem dominasi dan penindasan global menjadi berita utama di media dalam dan luar negeri dan membawa banyak reaksi internasional.
Pada bagian pertama dari program khusus peringatan tiga tahun kesyahidan Jenderal Soleimani, kita akan melihat biografinya dan perannya dalam penguatan dan koalisi kekuatan perlawanan di kawasan, dan pada bagian kedua, kita akan lihat peran Jenderal Soleimani dalam menetralkan konspirasi Amerika, dan keputusan untuk meneror Jenderal Soleimani Kita bahas peran rezim Zionis dan juga ingatannya di benak rakyat Iran.
Menurut pengumuman Markas Besar Rakyat penyelenggara perayaan tiga tahun syahidnya Letnan Jenderal Haji Qassem Soleimani, "Jan Fada" (Jiwa Tebusan) telah dipilih sebagai slogan peringatan tiga tahun syahidnya Jenderal Soleimani.
Sekilas Biografi Syahid Soleimani
Syahid Qassem Soleimani menjadi anggota Korps Garda Revolusi Islam setelah Revolusi Islam Iran. Bersamaan dengan dimulainya perang Iran-Irak, dia melatih beberapa batalyon di Kerman dan mengirim mereka ke garis depan. Dia adalah komandan Sepah Azerbaijan Barat untuk jangka waktu tertentu. Syahid Haj Qassem Soleimani diangkat sebagai komandan pasukan ke-41 Sarallah pada tahun 1360 HS atas perintah Mohsen Rezaei, Komandan IRGC saat itu.
Syahid Qassem Soleimani adalah salah satu komandan operasi Wal-Fajr 8, Karbala 4 dan Karbala 5 dalam perang rezim Baath di Irak terhadap Iran. Operasi Karbala 5 adalah salah satu operasi terpenting Iran selama perang yang dipaksakan, yang melemahkan posisi politik dan militer tentara Baath Irak dan menstabilkan situasi yang mendukung pasukan militer Republik Islam Iran.
Jenderal Soleimani kembali ke Kerman setelah berakhirnya perang Iran-Irak pada tahun 1367 HS dan terlibat dalam perang dengan para pelaku kejahatan yang dipimpin dari perbatasan timur Iran. Syahid Soleimani berperang dengan geng perdagangan narkoba di perbatasan Iran dan Afghanistan hingga diangkat sebagai Komandan Pasukan Quds. Pada tahun 1379 HS, ia diangkat menjadi komandan Pasukan Quds oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam.
Penguatan dan Koalisi Kelompok Perlawanan di Kawasan
Tindakan brilian Syahid Soleimani memiliki daftar panjang tindakan seorang pria yang tidak menyia-nyiakan upaya apa pun untuk agama dan negaranya. Salah satu tindakan brilian itu adalah menciptakan penghalang kekuatan perlawanan yang kuat di berbagai bagian wilayah untuk menghadapi Zionis dan Amerika.
Jenderal Soleimani sebagaiKkomandan Pasukan Quds memiliki aktivitas yang luas di bidang penguatan dan perluasan poros perlawanan. Sekatinya, syahid terhormat ini memainkan peran penting dalam memperkuat kelompok pejuang Palestina dan pasukan Hizbullah Lebanon, dan kemenangan kelompok ini dalam perang 33 hari dan 22 hari di Gaza melawan rezim Zionis adalah kesaksian atas kehadiran dan peran Syahid Soleimani.
Perang Suriah yang terjadi menghancurkan front Perlawanan di negara ini dan juga menghantam pasukan perlawanan Lebanon, tetapi dengan upaya banyak orang beriman yang dipimpin oleh Jenderal Haj Qassem Soleimani, ternyata menjadi sebaliknya, dan Suriah menjadi garis terdepan yang lebih kuat untuk poros Perlawanan dari sebelumnya.
Di antara aktivitas Jenderal Soleimani lainnya adalah kehadirannya di Irak dan memainkan peran yang tak terbantahkan dalam mengakhiri kerja Daesh (ISIS) di negara ini. Selama kehadirannya melawan ISIS di Irak dan Suriah, Jenderal Soleimani memainkan peran sentral dalam membebaskan wilayah seperti Tikrit, Jarf al-Sakhr, Mosul, melindungi Samarra dan Karbala dari ISIS dan mencegah kejatuhan Erbil dalam operasi "Umm Al-Maarik".
Perdana Menteri Irak, Mohammad Al-Sudani mengatakan, Layanan yang dilakukan Syahid Soleimani bersama Hashd al-Shaabi untuk penghancuran ISIS dan keamanan Irak adalah contoh terbaik untuk persaudaraan dan persahabatan masyarakat dari kedua negara dan menunjukkan bahwa Iran dan Irak berjalan ke arah yang sama.
Jenderal Soleimani bangkit melawan ISIS dengan membentuk poros Perlawanan dengan kekuatan seperti Gerakan Al-Nujaba dan Kataib Hizbullah, serta Hashd Al-Shaabi di Irak dan kelompok-kelompok seperti Mobilisasi Rakyat Suriah dan aliansi mereka dengan para pembela tempat suci dari Iran dan Brigade Fatemiyoun dan Zainbyoun.
Pada puncaknya, dengan keberanian luar bisa, padahal menurut banyak komandan militer Daesh, mereka telah mencapai gerbang istana kepresidenan Suriah, dan tidak ada yang mengira ada harapan untuk mengalahkan Daesh, Jenderal Soleimani bersama para pembela tempat suci berdiri melawan para teroris dan mencegah penyebaran lebih lanjut ISIS di wilayah Asia Barat.
Mike Wallace, perwakilan Irlandia dari Parlemen Eropa mengatakan tentang pencapaian Syahid Sardar Soleimani, "Sementara Amerika Serikat dan sekutunya bertanggung jawab atas kebangkitan kelompok teroris ISIS dan mempersenjatai kelompok milisi di kawasan, tidak ada yang bekerja sebagai sekeras Jenderal Soleimani untuk mengalahkan ISIS di Irak. Namun, setelah dia dibunuh oleh Amerika, tidak ada kecaman dari masyarakat internasional."
Bukan tanpa alasan karakter Jenderal Soleimani sebagai pendukung kaum tertindas dan lemah memiliki dimensi eksistensial yang luas dan menyeluruh serta terdefinisi melampaui batas Iran dan dunia Islam. Menurut Pemimpin Besar Revolusi Islam, kepribadian dan aspek eksistensial jenderal syahid ini harus dilihat dari kacamata maktab pembelajaran, dan kemudian nilai dan harga dari kasus ini akan menjadi jelas.
Pejuang Palestina Lancarkan Operasi Perlawanan terhadap Zionis di Nablus
Para pejuang Palestina menargetkan posisi tentara Zionis di Nablus sebagai bagian dari operasi perlawanan terhadap Israel.
Menurut Palestin Alyoum, pasukan perlawanan Palestina Rabu (21/12/2022) melepaskan tembakan ke arah pos pemeriksaan Beit Furik di Nablus, yang terletak di utara Tepi Barat.
Pasukan perlawanan Palestina juga menyerang pemukiman Zionis Barakha yang terletak di sebelah timur Nablus, dan melepaskan tembakan dan pelemparan bahan peledak.
Selain itu, para pejuang Palestina juga menembaki sebuah pos pemeriksaan militer Zionis di Jebel Jerzim yang terletak di Nablus.
Media Zionis mengkonfirmasi operasi pasukan perlawanan Palestina dengan mengumumkan setidaknya tiga operasi dilakukan oleh kelompok pejuang Palestina di Nablus dalam beberapa jam terakhir.
Menanggapi kejahatan yang dilakukan rezim Zionis di berbagai wilayah Tepi Barat, kelompok-kelompok perlawanan Palestina melancarkan operasi anti-Zionis yang meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Lima Teroris Daesh Tewas dalam Operasi AU Irak
Juru bicara Kepala Staf Angkatan Bersenjata Irak, mengabarkan tewasnya lima anasir teroris Daesh, di Tal Afar Provinsi Nineveh.
Mayjen Yahya Rasool, Rabu (21/12/2022) mengatakan, "Atas perintah Kepala Staf Angkatan Bersenjata Irak, dan berdasarkan informasi Badan Anti-terorisme, jet-jet tempur Angkatan Udara negara ini melancarkan serangan ke wilayah Sheikh Ibrahim di Tal Afar."
Ia menambahkan, "Berdasarkan informasi yang diterima, dalam operasi udara ini, lima anasir teroris termasuk beberapa pemimpin kelompok teroris Daesh, tewas."
Jubir Kepala Staf Angkatan Bersenjata Irak menegaskan, "Instansi keamanan dan militer Irak, kembali mengikat janji dengan rakyat negara ini, bahwa operasi menumpas anasir teroris Daesh, di mana pun mereka berada, akan terus berlanjut."
Pada tahun 2017, pemerintah Irak mengumumkan kemenangan atas Daesh, akan tetapi beberapa teroris kelompok ini masih tersebar di sejumlah wilayah Irak dan kerap menciptakan kekacauan.
Iravani: Pengklaim HAM harus Tampung Imigran Afghanistan seperti Iran
Wakil tetap Iran di PBB mengatakan, Iran dan seluruh negara tetangga tidak seharusnya menerima tanggung jawab menampung imigran dari Afghanistan seorang diri.
Amir Saeed Iravani, Rabu (21/12/2022) menuturkan, berdasarkan prinsip tanggung jawab bersama, negara-negara lain terutama yang mengklaim diri sebagai pembela Hak Asasi Manusia, juga mesti menerima imigran-imigran dari Afghanistan terutama perempuan dan anak-anak.
"Laporan terbaru Sekjen PBB terkait Afghanistan menyebutkan 28,3 juta orang Afghanistan tahun 2023 akan membutuhkan bantuan kemanusiaan dan dukungan, angka ini di tahun 2022 hanya 24,4 juta orang, dan awal tahun 2021, 18,4 juta orang. Saat ini pihak berkuasa di Afghanistan tidak mampu melaksanakan komitmennya terutama untuk menciptakan sebuah pemerintahan komprehensif dan pilihan rakyat," ujarnya.
Iravani menambahkan, "Selama lebih dari 40 tahun, sejumlah banyak warga Afghanistan tinggal di Iran, dan meski mendapat sedikit bantuan internasional, dan dijerat sanksi menindas Amerika Serikat, Iran tetap memberikan bantuan yang diperlukan warga Afghanistan."
Menurut Wakil tetap Iran di PBB, berdasarkan perkiraan, saat ini Republik Islam Iran menampung sekitar lima juta imigran dari Afghanistan.
Menhan Pakistan Kritik Kinerja AS dalam Penanganan Terorisme
Menanggapi proposal Washington untuk membantu melawan terorisme di negaranya, Menteri Pertahanan Pakistan mempertanyakan kemampuan AS untuk memerangi kekerasan dan terorisme, terutama di Afghanistan.
Operasi pembersihan kantor polisi anti-terorisme di Beno, wilayah utara Pakistan berakhir Selasa melam yang menewaskan 25 teroris dan empat orang pasukan keamanan negara ini.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS mengusulkan bantuan AS kepada Pakistan untuk menangani aksi penyanderaan yang terjadi di negara ini.
Menanggapi tawaran AS tersebut, Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Mohammad Asif hari Selasa (20/12022) mengatakan, "Situasi di Afghanistan sangat berpengaruh terhadap Pakistan dan kami berada dalam situasi yang kompleks,"
"Apakah orang Amerika memiliki kemampuan untuk melawan terorisme dan kekerasan di Afghanistan ?" ujar Menhan Pakistan.
"Apa kemampuan yang ditampilkan Amerika di Afghanistan, sehingga sekarang mereka mengusulkan bantuan ke Pakistan untuk memerangi terorisme," tegasnya menyoal kinerja militer AS.
Pertemuan Menlu Iran dan Sejawatnya dari Arab, Bukti Pendekatan Bertetangga Iran
Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian di tweetnya mengkonfirmasi pertemuannya dengan Menlu Arab Saudi, Faisal bin Farhan di sela-sela Konferensi Baghdad-2 di Yordania.
Abdollahian di tweet berbahasa Arab ini menulis, "Saya berpartisipasi di Konferensi Baghdad kedua di Yordania sebagai penekanan dukungan terhadap Irak, dan di sela-sela konferensi ini saya menemukan peluang untuk menggelar pertemuan bersahabat dengan sejumlah sejawat kami termasuk menlu Oman, Qatar, Irak, Kuwait dan Arab Saudi. Menlu Saudi menekankan kesiapan negaranya untuk melanjutkan dialog dengan iran."
Pertemuan menlu Iran dengan sejawatnya dari Saudi dilakukan sebagai bukti kebijakan bertetangga pemerintah ke-13 dan penghindaran tensi di hubungan kedua negara. Hossein Amir-Abdollahian sebelumnya saat menjelaskan kebijakan luar negeri pemerintah Iran ke-13 mengatakan, kebijakan luar negeri Iran tetap konsisten dari sisi independensi politik dan tidak barat dan juga tidak timur.
Konferensi Baghdad ke 2 di Yordania
Pemerintahan Presiden Sayid Ebrahim Raisi mengejar jalur diplomasi cerdas, pintu terbuka dan kerja sama efektif dengan seluruh negara. Penekanan menlu Iran terkait pendekatan permanen kebijakan luar neger Iran dijelaskan mengingat transformasi di bidang ini, khususnya di bidang kebijakan luar negeri regional Iran. Pemerintah ke-13 Iran sejak memulai tugasnya pada 3 Agustus 2021, mengejar pendekatan baru di bidang kebijakan luar negeri.
Menyeimbangkan politik luar negeri yang berdasarkan asas bukan timur maupun barat merupakan salah satu gagasan terpenting politik luar negeri pemerintah ini, yang merupakan salah satu kebutuhan terpenting untuk mempertahankan independensi negara dengan tetap memperhatikan dan mempererat hubungan dengan negara-negara tetangga di tempat pertama dan kemudian dengan negara-negara timur dan barat. Pada saat yang sama, pemerintah saat ini telah menunjukkan kepercayaannya pada keseimbangan dalam kebijakan luar negeri dan pengembangan kerja sama dengan tetangga dan negara-negara Islam sebagai prioritas program luar negerinya. Pakar politik Javad Mansouri mengatakan, pemerintah ke-13 memiliki perilaku yang seimbang dan realistis dalam kebijakan luar negeri, dan ini menyebabkan beberapa pemerintah mempertimbangkan kembali perilaku mereka dengan Iran.
Kebijakan bertetangga dan pendekatan berimbang dalam kebijakan luar negeri Iran adalah salah satu poin utama dari pernyataan kebijakan luar negeri Sayid Ebrahim Raisi, Presiden Islam Iran untuk pemerintahan ke-13, yang dapat dianggap sebagai bagian penting dari kebijakan besar interaksi cerdas dengan dunia. Penekanan pada kebijakan bertetangga berdasarkan penafian tensi di hubungan dengan negara tetangga, pengokohan diplomasi ekonomi dan peningkatan interaksi dengan tetangga serta pemanfaatan kapasitas negara tetangga di bawah bayang-bayang penguatan hubungan, termasuk program serius Republik Islam Iran. Pemerintahan ke-13 memprioritaskan kebijakan bertetangga dan presiden Iran sejak awal menetapkan interaksi yang baik dan kerja sama yang luas dengan tetangga sebagai titik sentral diplomasi ekonomi pemerintahan ke-13.
Sebelumnya, Amir-Abdollahian menegaskan bahwa negara-negara Arab merupakan bagian penting dari dunia Islam dan menyatakan bahwa kita mengulurkan tangan kerja sama ke berbagai negara tetangga, termasuk negara-negara Teluk Persia. Kesiapan Iran sebagai negara berpengaruh dalam berbagai dimensi politik, ekonomi, dan komersial untuk menyelesaikan perselisihan dengan beberapa negara tetangga seperti Arab Saudi dan memperluas kerja sama dengan negara tetangga telah ditindaklanjuti selama perjalanan pejabat senior Iran seperti menteri luar negeri di Konferensi Baghdad-2 di Yordania.
Selain itu, Tehran telah berulang kali mengumumkan kesiapannya untuk berpartisipasi dalam penyelesaian krisis regional, termasuk krisis di Yaman. Hal ini menunjukkan itikad baik Tehran dan upayanya untuk mengkonsolidasikan stabilitas dan keamanan di Teluk Persia dan Asia Barat.
Urgensi Dewan Tinggi Revolusi Kebudayaan dalam Perspektif Rahbar
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan anggota Dewan Tinggi Revolusi Kebudayaan Iran hari Selasa (6/12/2022) menyatakan bahwa Dewan Tinggi Revolusi Kebudayaan Iran secara rinci harus memberikan solusi bijak mengenai kelemahan budaya di berbagai bidang, dan menekankan rekonstruksi revolusioner struktur budaya nasional.
Dewan Tinggi Revolusi Kebudayaan Iran dibentuk pada tahun 1363 HS atau (1984) dengan keputusan pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini ra. Perlunya pembentukan dewan ini karena pengaruh budaya barat dalam berbagai pilar kehidupan Iran sebelum revolusi dan pada masa pemerintahan Syah. Imam Khomeini ra di bagian keputusannya tentang perlunya membentuk dewan ini menunjukkan, Keluar dari budaya Barat yang buruk di mana pengaruh dan penggantian budaya Islam, nasional dan revolusi budaya di semua bidang di tingkat negara membutuhkan begitu banyak usaha dan upaya sehingga seseorang harus bekerja keras dan berjuang melawan pengaruh Barat yang mengakar untuk realisasinya.
Budaya membentuk identitas suatu bangsa. Nilai-nilai budaya menunjukkan semangat dan arti sebenarnya dari suatu bangsa. Semua aspek kehidupan manusia, mulai dari masyarakat dan ekonomi hingga politik dan sistem pertahanan suatu negara, dipengaruhi oleh nilai-nilai budayanya. Untuk alasan ini, seseorang seharusnya tidak mengharapkan budaya negara, budaya publik, budaya elit, budaya universitas, dan lain-lain dengan sendirinya akan terbentuk di jalan yang benar. Elemen penting ini membutuhkan perencanaan. Peran utama Dewan Tinggi Revolusi Kebudayaan adalah membimbing budaya. Tujuan pembentukan dewan ini adalah untuk mencoba menerapkan budaya Islam dan nasional di masyarakat, terutama pusat-pusat pendidikan dan universitas.
Ayatullah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengadakan pertemuan dengan para anggotanya dalam rangka peringatan berdirinya dewan ini. Di awal pidatonya, merujuk pada kehadiran orang-orang terkemuka dan elit serta para ahli di dewan ini, Rahbar menyebut pedoman budaya negara sebagai tugas dan peran utama dewan ini, dan menunjuk pada perlunya rekonstruksi revolusioner struktur budaya negara, Ayatullah Khamenei mengatakan, "Dewan Tinggi Revolusi Kebudayaan harus mencermati dan mengetahui secara akurat akan kelemahan dan proposisi budaya yang di berbagai bidang, kemudian memberikan solusi yang bijaksana untuk penyebaran proposisi yang benar dan progresif."
Pemimpin Revolusi melanjutkan dengan menekankan bahwa pembinaan kebudayaan lembaga-lembaga resmi berbeda dengan pembinaan kebudayaan organisasi-organisasi kerakyatan dan mengatakan, “Dewan Tinggi Revolusi Kebudayaan dapat dengan benar membimbing ribuan organisasi rakyat yang aktif dalam berbagai aksi dan karya budaya yang luas, meletakkan dasar bagi pembentukan gerakan publik dalam kategori Ini harus sama pentingnya dengan menyebarkan budaya qanaah dan tidak boros."
Dalam sudut pandang Pemimpin Besar Revolusi Islam, membentuk berbagai gerakan publik semacam itu untuk menciptakan budaya atau mengoreksi budaya yang salah adalah bagian dari rekayasa budaya, yang merupakan salah satu syarat untuk mereformasi struktur budaya.
Pertemuan anggota Dewan Tinggi Revolusi Kebudayaan dengan Rahbar
Pemimpin Besar Revolusi Islam menilai rekonstruksi revolusioner dari struktur budaya negara diperlukan dan dalam definisinya, Rahbar menyatakan, "Makna struktur adalah struktur budaya masyarakat, mentalitas dan budaya yang mengaturnya, dan singkatnya, perangkat lunak yang menjadi dasar masyarakat bertindak dalam kehidupan individu dan kolektif mereka. Alasan bahwa struktur itu harus direkonstruksi secara revolusioner adalah karena Revolusi Islam itu ajaib melalui kepemimpinan Imam ra dan gerakan rakyat, dan dengan semangat agresifnya, ia mengubah fondasi politik, budaya, dan sosial dan proposisi salah yang menguasai pikiran orang-orang."
Di antara proposisi salah yang mengatur masyarakat Iran sebelum kemenangan Revolusi Islam adalah "kita tidak bisa". Kebijakan pemerintah Pahlavi, seperti kebanyakan sistem yang berafiliasi dengan Barat, sejalan dengan kebijakan arogansi global, yang menimbulkan semangat ketidakberdayaan pada rakyat dan masyarakat. Sedemikian rupa sehingga mereka berpikir mereka membutuhkan Barat untuk menjalankan negara. Menurut Ayatullah Khamenei, Revolusi Islam secara bertahap mengubah mentalitas ini dengan gerakan kreatif dan konstruktifnya.
Dalam konteks ini, Rahbar mengatakan, "Revolusi dengan konstruksi dan gerakan kreatif secara bertahap mengubah mentalitas ini (kami tidak bisa), akibatnya pekerjaan besar seperti pembangunan bendungan, pembangkit listrik, jalan raya, peralatan industri minyak dan gas dan banyak infrastruktur yang tersedia dibangun oleh para spesialis domestik muda." Pemimpin Besar Revolusi Islam menganggap budaya "tergila-gila dengan Barat" sebagai pernyataan budaya palsu lainnya yang mengatur masyarakat, dan Revolusi Islam mengubah pernyataan palsu ini dan mengubahnya menjadi budaya "kritikan terhadap Barat".
Mengenai pengaruh budaya Revolusi Islam Iran terhadap kehidupan pribadi masyarakat dan transformasi budaya yang terjadi setelah revolusi, dapat disebutkan berbagai contoh, seperti perubahan budaya "kesombongan dan ketenaran" menjadi budaya "pengorbanan dan pengorbanan diri", atau perubahan "budaya ketertarikan dan kegilaan dengan Barat" menjadi "Kita dapat berbudaya dan terikat pada Iran tercinta" dan...
Ayatullah Khamenei mengatakan tentang pentingnya pemantauan yang serius terhadap perkembangan budaya yang telah tercipta pasca kemenangan Revolusi Islam, “Meskipun banyak perubahan fondasi yang salah, berbagai faktor dari waktu ke waktu melemahkan semangat agresif revolusi, yang harus dipantau dan ditanggapi dengan serius agar pondasi yang salah itu tidak terjadi lagi. Dengan bantuan landasan intelektual revolusi dan pemuda aktif, budaya dan semangat revolusioner itu dapat diperbarui sekali lagi dan menciptakan gerakan budaya yang besar... Dewan harus berpikir, bekerja dan berencana untuk mewujudkan masalah ini."
Ayatullah Khamenei bertemu dengan anggota Dewan Tinggi Revolusi Kebudayaan
Salah satu hal penting dari rekonstruksi revolusioner struktur budaya negara adalah pemantauan terus-menerus terhadap perubahan budaya, yang biasanya tersembunyi, dan penanganannya yang tepat waktu adalah suatu keharusan. Ayatullah Khamenei dalam pertemuan dengan anggota Dewan Tinggi Revolusi Kebudayaan, memperingatkan, "Jika kita menderita kelemahan dan keterbelakangan dalam terus memahami perubahan ini dan mencegah efek negatifnya, masyarakat pasti akan rusak, di mana gejolak budaya atau kontrol atas urusan budaya negara jatuh ke tangan orang lain adalah yang paling penting dari kerusakan ini."
Memperbaiki struktur budaya membutuhkan rekayasa budaya. Menurut Pemimpin Revolusi, salah satu syarat dasar rekayasa ini adalah: “Kewaspadaan yang terus menerus, mengenali secara akurat atas kelemahan budaya di berbagai bidang seperti masyarakat, politik, keluarga, gaya hidup dan bidang lainnya, serta upaya mencapai solusi ilmiah bagi menghilangkan kelemahan dan mempromosikan proposisi budaya yang benar." Menurut Ayatullah Khamenei, rekayasa budaya akan memperjelas tugas berbagai lembaga, antara lain pendidikan, penyiaran, perguruan tinggi, pusat-pusat yang terkait dengan pemuda, dan juga organisasi kerakyatan, yang menurutnya, jika lembaga tersebut melalaikan tugas pentingnya, masyarakat akan sangat menderita.
Pertemuan anggota Dewan Tinggi Revolusi Kebudayaan dengan Rahbar
Bagian lain dari pidato Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Khamenei, dalam pertemuan dengan anggota Dewan Tinggi Revolusi Kebudayaan adalah untuk memperhatikan perlunya kemajuan ilmiah negara. Kemajuan ilmiah merupakan kebutuhan bagi setiap negara. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan bagi Iran yang revolusioner. Jika kita tidak maju secara ilmiah, ancaman musuh peradaban, budaya, dan politik Iran akan menjadi ancaman permanen. Menurut Rahbar, ancaman ini akan berhenti atau bahayanya akan berkurang ketika Iran maju secara ilmiah.
Berkali-kali dalam pidato-pidatonya, Rahbar menyebut sebagian dari hadis mulia dengan pengertian sepert ini, "Ilmu adalah Sultan" atau "Ilmu adalah Kekuasaan". Sultan artinya kekuatan dan ilmu mengandung kekuatan.
Dari sudut pandang ini, penting untuk memperhatikan para elit. Dalam pertemuannya dengan anggota Dewan Tinggi Revolusi Kebudayaan, Pemimpin Besar Revolusi Islam sekali lagi menyebut penting kebangkitan kembali akan kemajuan ilmiah sebagai kebutuhan yang mendesak, dan mengacu pada hasil gemilang dari mempopulerkan wacana melintasi batas-batas pengetahuan dalam dua dekade sebelumnya, Rahbar menyatakan, "Lompatan ilmiah dan lompatan teknologi hari ini, termasuk hasil yang diberkati dari gerakan besar yang harus dilanjutkan ... Universitas, pusat ilmiah dan penelitian serta lembaga terkait harus menempatkan kemajuan dan lompatan di puncak karya mereka sehingga negara kita tidak tertinggal dari kafilah ilmu.
Capaian Republik Islam Iran di Bidang Hak Perempuan
Dalam beberapa pekan terakhir, Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat, telah meluncurkan kampanye politik dan propaganda yang luas di bidang yang disebut perlindungan hak-hak perempuan di Iran dengan dalih kerusuhan baru-baru ini.
Dalam hal ini, Amerika Serikat, dengan menyalahgunakan posisinya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan memberikan banyak tekanan pada organisasi internasional ini, telah menuntut pembatalan keanggotaan Iran di Komisi Hak-Hak Perempuan PBB dan telah memulai upaya dalam hal ini.
Tindakan ini mendapat reaksi tajam dari Iran. Amir Saeid Iravani, Duta Besar dan Wakil Tetap Republik Islam Iran untuk PBB memperingatkan upaya Amerika untuk membatalkan keanggotaan Republik Islam Iran di Komisi Status Perempuan PBB, dan menunjukkan bahwa permintaan ini adalah dibuat berdasarkan klaim dan asumsi palsu terhadap Iran. Menurutnya, tindakan ini bersifat politis dan bertentangan dengan prinsip-prinsip Piagam PBB.
Dalam sepucuk surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, yang salinannya dikirimkan kepada Presiden Dewan Sosial-Ekonomi PBB (ECOSOC) dan Komisi ke-67 tentang Status Perempuan, Iravani memperingatkan jika tindakan AS membatalkan keanggotaan Iran dalam Komisi Status Perempuan berhasil, maka akan menimbulkan praktik berbahaya dalam sistem PBB dan mempertanyakan kesetaraan negara-negara anggota dalam organisasi internasional ini. Iravani mengatakan, Permintaan ilegal AS menunjukkan upaya untuk menyalahgunakan sistem PBB untuk tujuan politiknya sendiri.
Dalam tindakan lain oleh blok Barat, Amerika Serikat bersama 8 negara lainnya mengeluarkan pernyataan intervensionis yang mengklaim bahwa Iran melanggar hak-hak perempuan dan anak perempuan. Menteri luar negeri dari 9 negara, Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, Chile, Islandia, Selandia Baru, Korea, dan Swedia mengeluarkan pernyataan intervensi. Dengan mengeluarkan pernyataan bersama ini, Amerika dan negara-negara tersebut menuduh Iran melanggar hak-hak perempuan dan anak perempuan. Dalam pernyataan intervensi ini, mereka menyebarkan tuduhan terhadap Iran dan meminta komunitas internasional untuk memfasilitasi akses perempuan terhadap informasi di internet dengan partisipasi berbagai dengan perusahaan teknologi.
Otoritas Amerika dan negara-negara Barat telah berkali-kali mendukung kerusuhan di Iran dan para perusuh. Saat ini, upaya luas telah dilakukan dalam kerangka perang psikologis dan perseptual blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat untuk menanamkan kepercayaan yang salah di masyarakat dunia bahwa selama kerusuhan baru-baru ini di Iran, hak asasi manusia, termasuk hak-hak perempuan, telah dilanggar secara luas dan sistematis oleh Republik Islam Iran.
Barat mengklaim mendukung hak-hak perempuan di Iran sementara Amerika Serikat, sebagai pemimpin Barat, telah menerapkan sanksi paling berat terhadap Iran dalam beberapa tahun terakhir dan bangsa Iran, termasuk perempuan Iran, telah dijatuhi sanksi berat bahkan selama epidemi virus Corona, Washington melanjutkan kebijakan anti-manusia ini. Melihat situasi perempuan di negara-negara Barat yang mengklaim membela hak-hak perempuan menunjukkan bahwa mereka menghadapi situasi yang buruk di negara-negara tersebut dan pelanggaran hak asasi mereka diabaikan.
Klaim tak berdasar dari Barat tentang pelanggaran hak-hak perempuan di Iran dibuat sambil melihat tren politik, sosial, budaya dan ekonomi serta statistik yang tersedia tentang status perempuan di Iran setelah Revolusi Islam dan berdirinya Republik Islam Iran dalam empat dekade terakhir menunjukkan sangat bertentangan dengan klaim Amerika dan mitra Eropa di bidang ini. Setelah Revolusi Islam, perempuan memiliki kontribusi yang signifikan di semua bidang kehidupan politik, sosial, budaya dan pendidikan, penegakan hukum, kesehatan dan bahkan di bidang pelayanan publik seperti pemadam kebakaran.
Dalam konteks partisipasi politik perempuan, perlu dikatakan bahwa perempuan sebagai bagian besar dari warga masyarakat dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan politik masyarakat. Setelah Revolusi Islam Iran, dengan peningkatan kesadaran dan perluasan pendidikan tinggi bagi perempuan dan peningkatan kemampuan mereka, kontribusi partisipasi politik dan sosial perempuan telah mengalami transformasi besar-besaran. Sehingga dalam undang-undang Iran, dianggap ada tempat khusus bagi partisipasi politik perempuan dalam masyarakat. Selain partisipasi besar wanita Iran dalam berbagai pemilihan di Iran, mereka memiliki andil yang signifikan di kursi parlemen serta dewan kota dan desa.
Sebagai contoh, lebih dari 5990 perempuan telah terpilih di dewan perwakilan rakyat kota dan desa, di mana lebih dari 570 orang adalah anggota DPRD (kota besar dan kecil) dan sisanya terkait dengan dewan desa, yang menunjukkan peningkatan sekitar 50%. dibandingkan sebelumnya. Selain itu, perempuan Iran memiliki partisipasi yang luas dalam pemilu. Misalnya, dalam pemilihan umum legislatif ke-11, tingkat partisipasi perempuan adalah 48% dan dalam pemilihan umum presiden ke-13 pada tahun 1400 HS, 48%. Tingkat partisipasi perempuan pada pemilihan keenam Dewan Ahli Kepemimpinan pada tahun 1400 HS adalah 47,30% dan pada pemilihan DPRD Kota dan Desa kelima pada tahun 1400 HS sebesar 50,53%.
Di bidang kontribusi perempuan dalam manajemen Iran, statistik juga menunjukkan banyak fakta. Dalam hal ini, persentase manajer wanita mencapai 26% pada akhir Shahrivar 1401 HS. Di bidang kekuasaan dan pengambilan keputusan, 25,2 persen manajer pemerintahan Iran adalah perempuan di semua tingkat manajemen eksekutif, menengah dan dasar, hingga akhir Shahrivar 1401 HS. Di antara 8.488 perempuan yang telah ditambahkan ke bidang manajemen, sebagian kecil berada di posisi tinggi, 15% di posisi menengah dan 84% di posisi dasar. Jumlah manajer perempuan di kegubernuran meningkat menjadi 15,9% pada tahun 2019 dan mencapai 554 pengurus perempuan, hal ini menunjukkan pertumbuhan manajer perempuan di kegubernuran, dan kabupaten sebesar 89,7% dalam tiga tahun terakhir. Juga, total 1.121 wanita bekerja di pekerjaan yudisial. Secara umum, pada tahun 1400 HS, 1.900 manajer wanita dipekerjakan di 31 provinsi di Iran.
Di bidang ekonomi, tingkat partisipasi ekonomi perempuan adalah 14,10% dan persentase penduduk bekerja yang lulus pendidikan tinggi adalah 44,3% sampai tahun 1401 HS. Penduduk wanita yang bekerja sampai tahun 1401 adalah 3,9 juta sama dengan 12,7%. Kasus lapangan kerja perempuan sampai tahun 1401 HS meliputi penciptaan 2.403 lapangan kerja oleh pengusaha perempuan. Juga, 250 perusahaan berbasis pengetahuan telah didirikan oleh perempuan. Lebih dari 32% anggota perusahaan yang aktif dalam ekonomi dan pasar Iran adalah wanita. Selain itu, terdapat lebih dari 4.000 pengusaha wanita di Iran yang mengelola 20% pusat bisnis. Di bidang pekerjaan khusus, 7.200 petugas wanita aktif di komando kepolisian Republik Islam Iran. Selain itu, sekitar 15.000 pekerja bantuan wanita juga sangat aktif di Masyarakat Bulan Sabit Merah Iran. 16 wanita juga bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran. Pada saat yang sama, lebih dari 352 ribu perempuan telah diberikan pelatihan keterampilan.
Perempuan Iran memiliki kontribusi yang signifikan dalam bidang pendidikan dasar dan tinggi. Tingkat melek huruf wanita sebelum Revolusi Islam adalah 35,3%, yang meningkat menjadi 95% pada tahun 1401 HS karena upaya ekstensif. Jumlah mahasiswi juga meningkat secara signifikan pada tahun-tahun setelah Revolusi Islam, dan misalnya pada tahun akademik 1395 HS jumlahnya lebih dari 6,5 juta. Di bidang pendidikan tinggi, jumlah mahasiswi telah berkembang pesat setelah Revolusi Islam. Pada tahun 1400 HS, sekitar 1.600.000 anak perempuan dan perempuan mengenyam pendidikan tinggi. Sementara tingkat penetrasi pendidikan tinggi pada penduduk perempuan pada tahun 1357 HS hanya sebesar 281 orang per seratus ribu orang, pada tahun 1401 HS sebesar 4.747 orang per seratus ribu orang, yaitu sekitar 20 kali lipat.
Selain itu, angka partisipasi kasar anak perempuan dan perempuan (jumlah siswa dibandingkan dengan penduduk berusia 18 hingga 24 tahun) dengan tingkat akses dan partisipasi yang sama di pendidikan tinggi telah mencapai 41,2% dari 2,1% pada tahun 1357 HS. Pangsa wanita di fakultas universitas telah meningkat sebesar 3,33 persen pada tahun 1401 HS, dan 56 persen mahasiswa universitas negeri adalah wanita, dan proporsi pengajar wanita di universitas ilmu kedokteran telah meningkat sebesar 34 persen.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Iran
Di bidang olahraga, jumlah wanita meningkat secara signifikan setelah Revolusi Islam. Dalam konteks ini, statistik menunjukkan bahwa ada 1 juta 400 ribu atlet wanita terorganisir di Iran hingga tahun 1401 HS. Ada lebih dari 121 ribu pelatih dan 82 ribu wasit di berbagai level di negara ini. Ada 1.611 klub olahraga untuk wanita. Juga, dalam acara olahraga di dunia baru-baru ini, sekitar 3.302 medali telah dimenangkan oleh atlet wanita Iran.
Di bidang medis dan kesehatan, perempuan telah memberikan kontribusi yang signifikan setelah Revolusi Islam. Hingga tahun 1401 HS, 40% dokter spesialis wanita dan 30% dokter subspesialis di Iran adalah wanita. Juga, 95% persalinan di Iran dilakukan oleh spesialis wanita. Di bidang peningkatan tingkat kesehatan di Iran, banyak kemajuan yang dicapai, dan angka kematian ibu akibat komplikasi kehamilan dan persalinan telah menurun secara signifikan dan mencapai kurang dari 40 kasus dari setiap 100.000 orang. Juga, untuk setiap 100.000 wanita, ada 60 bidan dan 2,8% adalah dokter wanita dan kandungan.
Statistik yang disajikan menunjukkan sejauh mana gadis dan wanita Iran aktif dan berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan politik, sosial, ekonomi, ilmiah dan pendidikan, kesehatan, olahraga, dan bidang Islam Iran lainnya. Ini juga menunjukkan kepalsuan klaim Barat tentang penindasan perempuan dan kontribusi kecil mereka di arena sosial Iran.
Tentara Zionis Serang Tepi Barat
Tentara rezim Zionis Israel dilaporkan kembali menyerang warga Palestina di kota Jenin, Tepi Barat Sungai Jordan.
Militer Zionis setiap hari dan dengan berbagai alasan menyerang warga tertindas Palestina, melukai, membantai dan menangkap mereka. Sementara itu, warga Palestina membalas aksi brutal tersebut dengan melancarkan operasi anti-Zionis.
Menurut laporan Tasnim News, Jumat (16/12/2022), terjadi bentrokan sengit antara pemuda Palestina dan tentara Zionis di Jabal Sabih, dekat distrik Beita di selatan Nablus di Tepi Barat Sungai Jordan.
Tentara Zionis menembakkan gas air mata dan peluru karet ke arah warga Palestina.
Sementara itu, Bulan Sabit Palestina melaporkan 16 warga Palestina terluka dalam bentrokan dengan tentara Zionis di Beit Dajan, timur Nablus.
Sebelumnya berbagai faksi muqawama Palestina saat merespon kejahatan terbaru Zionis di Tepi Barat dan al-Quds pendudukan menyatakan, muqawama menyeluruh solusi pertahanan tunggal untuk melawan musuh Zionis.
Beberapa waktu lalu sumber-sumber Palestina menyatakan, sejak awal tahun ini hingga kini tercatat lebih dari 1200 warga Paelstina ditangkap Zionis di Tepi Barat.




























