کمالوندی
16 Syaban, Ibnu Syahr Asyub Wafat
Ibnu Syahr Asyub Wafat
Tanggal 16 Sya'ban 588 Hijriah, Ibnu Syahr Asyub, seorang ahli fiqih, tafsir, dan ahli hadis muslim, meninggal dunia. Dia sejak kanak-kanak telah memulai pendidikannya dan pada usia delapan tahun, dia sudah menghapal al-Quranal-Karim. Dia menimba ilmu pada ulama-ulama besar saat itu, seperti Zamakhsyari, Muhammad Ghazali, dan Khatib Kharazmi.
Selain menguasai bidang agama, Ibnu Syahr Asyub juga dikenal sebagai penyair. Dia banyak menciptakan syair-syair yang memuji keutamaan Ahlul Bait rasulullah Saw. Syair-syair tersebut dibukukan dalam kitab "Manaqib Ali Abi Thalib".
Ibnu Syahr Asyub juga menulis buku-buku agama, di antaranya berjudul "Mutasyabihul Quran wa Mukhtalifuhu" dan "Ma'alimul Ulama".
Ibnu Dahan Meninggal Dunia
Tanggal 16 Sya'ban 612 Hijriah, Ibnu Dahan, seorang sastrawan dan penyair buta Arab, meninggal dunia di Bagdad. Selain bidang sastra, Ibnu Dahan juga menguasai ilmu-ilmu yang berkembang di zamannya, seperti fiqih, tafsir, kedokteran, dan perbintangan. Selain itu, Ibnu Dahan menguasai banyak bahasa selain Arab, seperti Persia, Turki, Romawi, India, dan Armenia.
Amir Ahmad Minaiy Lahir
Tanggal 16 Sya'ban 1244 Hijriah, Amir Ahmad Mina'iy, penyair dan penulis India, terlahir ke dunia. Dia mulai mulai menulis syair sejak usia 15 tahun. Syair-syairnya dikenal memiliki gaya yang menyentuh hati, kuat, dan lancar. Selain itu, Amir Ahmad Mina'iy juga menulis karya-karya prosa. Dia banyak menulis qasidah yang memuji-muji keutamaan Rasululah dan Ahlul Baitnya.
Karya-karya Amir Ahmad Mina'iy terdiri dari 22 jilid buku, di antaranya berjudul "Matsnawi Nur Tajalli" yang isinya mengenai kelahiran Rasulullah Saw dan "Syam Abad" yang isinya mengenai wafatnya Rasul.
16 Syaban, Ibnu Syahr Asyub Wafat
Ibnu Syahr Asyub Wafat
Tanggal 16 Sya'ban 588 Hijriah, Ibnu Syahr Asyub, seorang ahli fiqih, tafsir, dan ahli hadis muslim, meninggal dunia. Dia sejak kanak-kanak telah memulai pendidikannya dan pada usia delapan tahun, dia sudah menghapal al-Quranal-Karim. Dia menimba ilmu pada ulama-ulama besar saat itu, seperti Zamakhsyari, Muhammad Ghazali, dan Khatib Kharazmi.
Selain menguasai bidang agama, Ibnu Syahr Asyub juga dikenal sebagai penyair. Dia banyak menciptakan syair-syair yang memuji keutamaan Ahlul Bait rasulullah Saw. Syair-syair tersebut dibukukan dalam kitab "Manaqib Ali Abi Thalib".
Ibnu Syahr Asyub juga menulis buku-buku agama, di antaranya berjudul "Mutasyabihul Quran wa Mukhtalifuhu" dan "Ma'alimul Ulama".
Ibnu Dahan Meninggal Dunia
Tanggal 16 Sya'ban 612 Hijriah, Ibnu Dahan, seorang sastrawan dan penyair buta Arab, meninggal dunia di Bagdad. Selain bidang sastra, Ibnu Dahan juga menguasai ilmu-ilmu yang berkembang di zamannya, seperti fiqih, tafsir, kedokteran, dan perbintangan. Selain itu, Ibnu Dahan menguasai banyak bahasa selain Arab, seperti Persia, Turki, Romawi, India, dan Armenia.
Amir Ahmad Minaiy Lahir
Tanggal 16 Sya'ban 1244 Hijriah, Amir Ahmad Mina'iy, penyair dan penulis India, terlahir ke dunia. Dia mulai mulai menulis syair sejak usia 15 tahun. Syair-syairnya dikenal memiliki gaya yang menyentuh hati, kuat, dan lancar. Selain itu, Amir Ahmad Mina'iy juga menulis karya-karya prosa. Dia banyak menulis qasidah yang memuji-muji keutamaan Rasululah dan Ahlul Baitnya.
Karya-karya Amir Ahmad Mina'iy terdiri dari 22 jilid buku, di antaranya berjudul "Matsnawi Nur Tajalli" yang isinya mengenai kelahiran Rasulullah Saw dan "Syam Abad" yang isinya mengenai wafatnya Rasul.
16 Tir, Sayid Reza Hosseini, Penyair Ahlul Bait Wafat
Sayid Reza Hosseini, Penyair Ahlul Bait Wafat
Ustad Sayid Reza Hosseini yang lebih dikenal dengan sebutan Saadi Zaman, lahir di kota Azerbaijan pada 1289 Hs. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya dari guru-guru waktu itu, beliau kemudian menjadi tokoh ulama muda. Beliau dikenal dengan penguasaannya yang luar biasa atas sastra Persia, Turki dan Arab. Beliau juga punya perhatian yang luar biasa atas ilmu teologi, logika, sejarah, fiqih, tafsir al-Quran, hukum dan irfan.
Sejak awal pendidikannya, potensi kepenyairan Sayid Reza Hosseini telah muncul dan sejak usia 14 tahun beliau telah membaca syair-syairnya. Sekalipun masih muda, para penyair senior Iran telah mengenalnya. Kecintaannya kepada Ahlul Bait membuat kebanyakan syair-syairnya berbicara tentang keutamaan mereka. Pada waktu itu, ketika untuk pertama kalinya beliau mempublikasikan kumpulan puisinya, para ulama dan penyair hebat Iran. Beliau menjadi populer di Azerbaijan.
Sayid Reza Hosseini termasuk penyair berbahasa Turki Azari paling terkenal dan boleh dikata sebagai pembaharu puisi dan sastra kegamaan Azerbaijan. Puisi-puisi telah menciptakan perubahan besar dalam proses penyempurnaan puisi yang memuji keutamaan Ahlul Bait. Dalam menjelaskan ujian yang menimpa ahlul Bait, beliau merujuk kepada sumber-sumber terpercaya, baik di Ahli Sunnah maupun Syiah, tanpa menambah-nambah sesuatu yang tidak ada.
Penyair Sayid Reza Hosseini meninggalkan banyak karya sastra dan puisi seperti Lama'at Huseini, Nojoum Derakshan dan Bahar Bi Khazan. Beliau meninggal pada 16 Tir 1365 Hs di usia 76 tahun dan dikebumikan di komplek makam suci Sayid Abdolazim, di kota Rey, Tehran.
Imam Khamenei: Kemungkinan Ini Milik Baitul Mal!
Semasa menjabat sebagai Presiden Republik Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei suatu hari memberikan sebuah cek senilai 500 ribu rial (500 ribu rupiah) kepada Mir Hossein Mousavi, Perdana Menteri waktu itu.
Setelah menyerahkannya, beliau berkata, "Ini uang Baitul Mal (uang negara). Kemungkinan besar yang terpakai oleh saya kurang dari jumlah yang tertera di cek ini. Tolong diuangkan cek ini dan masukkan dalam kas negara agar saya terlepas dari hutang di kemudian hari."
Ungkapan beliau benar-benar sangat menggugah siapa saja. Bagaimana tidak, kehidupan sehari-harinya saja dipenuhi lewat kupon subsidi.
Larijani: Barat dan Israel Sumber Utama Penindasan
Ketua Parlemen Republik Islam Iran menggambarkan Barat dan rezim Zionis Israel sebagai sumber utama penindasan di era saat ini,dan mengatakan bahwa masa kehancuran bagi Barat dan Israel telah tiba.
"Hari ini, waktunya telah tiba bagi lenyapnya Barat dan rezim Zionis Israel yang merupakan dua bintik hitam di era sekarang, dari muka bumi ini," kata Ali Larijani dalam sebuah pertemuan untuk memperingati kelahiran Imam Mahdi as di Tehran, Kamis (5/7).
Ia menegaskan, "Amerika Serikat dan rezim Zionis adalah sumber utama dari tirani dan kegelapan di masa sekarang. Dunia Islam sudah muak dengan ketidakadilan dan pelanggaran mereka."
Lebih lanjut Larijani menandaskan bahwa persoalan inti dalam dunia Islam saat ini adalah adanya berbagai aliran yang berbeda.
"…dengan mensponsori sekte seperti di negara-negara Muslim di kawasan, Barat dan rezim Zionis sedang berupaya untuk mengarahkan Islam kepada penyimpangan," imbuhnya.
Terkait transformasi terbaru di Timur Tengah, Ketua Parlemen Iran mengatakan, AS terus berusaha mendistorsi susunan negara-negara Islam di kawasan, bahkan negarawan di Amerika memiliki peran yang merusak di kawasan tersebut dan di antara umat Islam.
Di bagian lain pernyataanya, Larijani juga menyinggung intervensi Barat di Suriah dan menegaskan bahwa campur tangan Barat di negara Arab tersebut disebabkan perlawanan Suriah terhadap rezim Zionis. Oleh karena itu, AS berupaya untuk menerapkan gagasan seperti reformasi guna menghantam perlawanan bangsa ini terhadap Israel.
Pengadilan Bahrain Pantau Pemrotes 11 Tahun Selama Setahun
Pe
ngadilan Bahrain memutuskan untuk memantau seorang bocah 11 tahun selama satu tahun setelah diadili dengan tuduhan telah mengganggu keamanan dan berpartisipasi dalam demonstrasi rakyat anti-pemerintah Manama.
Press TV mengutip AFP Kamis (5/7) melaporkan, sebuah pernyataan pemerintah Manama menyebutkan bahwa pengadilan Bahrain memutuskan untuk tidak memenjarakan Ali Hassan, tetapi ia harus dipantau oleh pihak berwenang selama satu tahun.
Hassan ditangkap pada tanggal 14 Mei, namun akhirnya dibebaskan dari tahanan di sebuah pusat pelayanan anak-anak pada 11 Juni. Ia akan bebas, tetapi akan diawasi oleh pihak berwenang selama setahun.
Pejabat rezim Bahrain menuduh anak tersebut memblokir jalan di luar Manama dengan tempat-tempat sampah dan papan kayu, dan mengklaim bahwa Hassan telah mengaku bersalah.
Menurut Amnesti Internasional, Hassan dipindahkan dari satu kantor polisi ke kantor polisi yang lain selama sekitar empat jam dan diinterogasi. Selama itu, ia sendiri, merasa lelah dan lapar. Akhirnya, ia mengakui tuduhan atas dirinya.
Berdasarkan laporan Amnesti Internasional, bocah 11 tahun tersebut menarik pengakuannya dan mengatakan bahwa ia menerima tuduhan tersebut karena polisi berjanji akan membebaskannya.
Amnesty Internasional juga mengecam tindakan rezim Bahrain dan menuntut pihak berwenang di negara itu untuk mencabut semua tuduhan terhadap Hassan.
Sejak Februari 2011, rakyat Bahrain bangkit menentang rezim Al Khalifa yang otoriter. Hampir setiap hari, mereka menggelar demonstrasi anti-pemerintah di seluruh negeri khususnya di Manama, ibukota negara itu.
Pasukan keamanan Bahrain dibantu militer Arab Saudi melakukan penangkapan besar-besaran dan penindasan terhadap pengunjuk rasa damai. Namun kekerasan itu hingga kini tidak mampu menghentikan tekad rakyat Bahrain untuk menuntut hak-hak legalnya.
Rakyat Bahrain menyerukan diakhirinya penindasan terhadap demonstran dan menuntut mundurnya rezim Al Khalifa.
Pemantau PBB Berharap Krisis Suriah Diselesaikan dengan Damai
Kepala misi pemantau PBB di Suriah mengatakan bahwa dirinya masih berharap kerusuhan di negara itu dapat diselesaikan melalui cara damai.
Jenderal Robert Mood dalam sebuah konferensi pers di Damaskus, Kamis (5/7) menandaskan bahwa tim PBB di Suriah akan melanjutkan tugasnya guna menemukan jalan baru untuk dialog politik dan resolusi damai terkait krisis di negara Arab itu. Demikan Reuters melaporkan sebagaimana dikutip Press TV.
Jenderal Norwegia tersebut menyerukan gencatan senjata supaya 300 pemantau PBB dapat melanjutkan pekerjaannya di Suriah.
Mood juga menolak seruan untuk mengurangi pemantau tak bersenjata di tengah meningkatnya kekerasan di Suriah, dan menegaskan bahwa para pemantau tidak perlu senjata untuk melakukan misinya.
Pemantau PBB di Suriah dibentuk pada bulan April untuk mengawasi pelaksanaan enam poin kesepakatan damai yang ditengahi oleh utusan khusus PBB dan Liga Arab Kofi Annan.
Misi tersebut terpaksa terhenti pada bulan lalu karena meningkatnya kekerasan di Suriah dan menunggu keputusan Dewan Keamanan PBB, serta diharapkan dalam beberapa pekan mendatang, akan dapat melanjutkan tugasnya.
Upaya BBC Merusak Citra Farsnews Soal Hubungan Iran-Mesir
Amr Ramadhan, Wakil Menteri Luar Negeri Mesir, Senin (2/7) dalam pidatonya berbicara tentang kunjungan Presiden Mesir, Muhammad Mursi ke Tehran. Berita tersebut langsung dipublikasikan oleh media massa Mesir. Namun, BBC dengan keterlambatan 30 jam, mempublikasikan berita tersebut dan menisbatkannya kepada Fars News yang berbasis di Iran.
Amr Ramadhan Wakil Menteri Luar Negeri Mesir dalam urusan negara-negara Islam, Senin menyatakan bahwa Muhammad Mursi akan berkunjung ke Tehran dalam sebulan mendatang.
Al-Sharq Alawsat mengutip pernyataan Amr Ramadhan dan menulis bahwa Mursi telah merencanakan kunjungan resminya ke Tehran hingga bulan mendatang, guna menyerahkan wewenang kepemimpinan Gerakan Non-Blok (NAM), kepada sejawatnya asal Iran, Mahmoud Ahmadinejad. Mursi sejak terpilih menjadi Presiden Mesir, secara resmi juga menjadi Ketua periodik NAM, yang beranggotakan 120 negara dunia.
Menyusul segala berita dan topik mengenai Iran dan Mesir dengan cepat tersebar ke media massa, koran-koran beroplah besar di Negeri Piramida itu termasuk al-Watan al-Sabe', al-Ahram, dan sejumlah lainnya, pada hari Senin, mempublikasi secara meluas berita rencana kunjungan Mursi ke Tehran.
Kantor IRNA di Beirut, memberitakan laporan tersebut mengutip koran al-Safir terbitan Lebanon. Jelas berita ini sangat penting untuk dipublikasikan oleh media massa dalam negeri Iran. Akan tetapi, Fars News, sengaja memperlambat publikasi berita ini, sampai terlebih dahulu media-media terkemuka regional dan Mesir mengkonfirmasikan keotentikannya.
Fars News menurunkan laporan berjudul "Mursi Akan ke Iran" yang seluruh kandungannya sepenuhnya mengutip dari koran al-Safir, Lebanon.
Namun di lain pihak, BBC dalam beberapa pekan terakhir melancarkan berbagai agitasi anti-Fars News, mempublikasikan berita tersebut dengan menisbatkannya pada kantor berita yang berbasis di Tehran itu tanpa mengutip sumber asli yaitu koran al-Safir, Lebanon. Tidak hanya itu, dengan mengutip keterangan Yaser Ali, juru bicara interim pemerintah Mesir, BBC menyebutkan bahwa berita yang dilansir oleh Fars News tentang rencana kunjungan Mursi ke Mesir tidak benar.
Media massa Barat, tampak sekali sangat gegabah dan tergesa-gesa untuk merusak citra kantor berita Fars News yang kini menjadi salah satu sumber berita andalan anti-mainstream. Gegabah dan tergesa-gesa karena propaganda tersebut dilakukan secara tidak profesional dan mulus, dengan tidak menyebutkan sumber-sumber asli berita seperti yang telah disebutkan oleh Fars News.
Ini juga sejalan dengan upaya-upaya Barat dan sejumlah negara regional yang tidak menginginkan pemulihan hubungan Iran dan Mesir.
Aktivis Bahrain Tuntut Masyarakat Internasional Hentikan Kebrutalan Al Khalifa
Aktivis terkemuka Hak Asasi Manusia Bahrain Nabeel Rajab menuntut masyarakat internasional untuk mengambil tindakan yang diperlukan guna menghentikan penindasan brutal rezim Al Khalifa terhadap demonstran damai.
"Kebungkaman masyarakat Eropa dan Amerika Serikat merupakan sinyal dan lampu hijau bagi rezim Al Khalifa untuk melanjutkan pelanggaran HAM di Bahrain," kata Rajab melalui telepon kepada Press TV, Kamis (5/7).
Ia menambahkan, setiap hari banyak warga yang ditangkap, para tahanan disiksa, rumah-rumah penduduk digerebek dan masjid dihancurkan, namun kekerasan tersebut tidak akan dapat membungkam demonstran Bahrain.
Pernyataan tersebut muncul di tengah protes lanjutan oleh rakyat Bahrain yang menuntut AS dan Inggris untuk mengakhiri dukungan mereka terhadap pemerintah monarki di negara itu.
Bahrain menjadi tuan rumah Armada Kelima AS, dan merupakan salah satu negara Teluk Persia seperti Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang menerima peralatan militer dari Washington.
Pada pertengahan Mei, Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa Washington akan melanjutkan penjualan senjata ke Bahrain.
Keputusan tersebut telah memancing kecaman dari kelompok aktivis HAM Bahrain karena dapat mendorong pelanggaran HAM yang lebih buruk di negara itu.
Sementara itu, laporan menyebutkan bahwa sekelompok perwira polisi Scotland Yard baru-baru ini dikirim ke Bahrain untuk melakukan operasi spionase dan membantu rezim Al Khalifa membungkam protes anti-Manama.
Yordania
Yordania: Bahasa Arab: اَلأُرْدُن, Al-'Urdun ,resminya Kerajaan Hasyimiyah Yordania (Bahasa Arab: اَلمَمْلَكَة اَلأُرْدُنِيَّة اَلهَاشِمِيَّة), Al-Mamlaka al-Urduniyya al-Hashemiyya) adalah sebuah kerajaan di Tepi Barat Sungai Yordan. Negara ini berbatasan dengan Arab Saudi di timur dan tenggara, Irak di timur-laut, Suriah di utara dan Tepi Barat dan Israel di barat, berbagi kekuasaan atas Laut Mati. Satu-satunya pelabuhan Yordania adalah di ujung barat-daya, di Teluk Aqaba, yang sebagiannya juga dikuasai oleh Israel, Mesir, dan Arab Saudi. Lebih dari separuh Yordania diliputi oleh Gurun Arab. Tetapi, bagian barat Yordania berupa hutan dan lahan layak tanam. Yordania adalah bagian dari Bulan Sabit Subur. Ibu kota dan pusat pemerintahannya adalah Amman.
Yordania didirikan pada tahun 1921, dan diakui oleh Liga Bangsa-Bangsa sebagai sebuah negara di bawah mandat Britania pada tahun 1922 yang dikenal sebagai Emirat Transyordania. Pada tahun 1946, Yordan menggabungi Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai negara merdeka yang secara resmi dikenal sebagai Kerajaan Hasyimiyah Yordania.
Sejarah
Pada zaman dahulu, wilayah yang kini bernama Yordania merupakan jantung peradaban kuno yang diuntungkan oleh letak geografisnya di kawasan Bulan Sabit Subur yang meliputi Babilonia dan Kanaan. Kemudian, Yordania menjadi rumah bagi beberapa kerajaan kuno meliputi: Kerajaan Edom, Moab, Ammon, dan kerajaan Nabath yang menonjol: Petra. Tetapi, melintasi berbagai era sejarah yang berbeda-beda, sebagian wilayah negara ini menjadi berada di bawah kendali beberapa kekuatan tetangga, seperti Mesir Kuno pada masa peperangannya dengan Babilonia dan Hittit; dan pada beberapa peride yang berlainan oleh Bani Israil yang diambil pada masa penahanan Babilonia, dan yang kemudian dikalahkan oleh Bani Moab seperti yang tertulis dalam Batu Moab. Lebih jauhnya, dan karena lokasinya yang strategis di pertengahan dunia kuno, Yordania juga di bawah kendali kekaisaran-kekaisaran kuno Yunani, Persia, Romawi, dan yang berikutnya oleh Bizantium. Masih, orang Nabath mendirikan kerajaan merdeka yang meliputi sebagian besar wilayah Yordania modern dan wilayah lain yang berdekatan, selama beberapa abad, sebelum akhirnya ditaklukkan oleh Kekaisaran Romawi. Tetapi, terpisah dari Petra, orang Romawi memelihara kemakmuran sebagian besar kota-kota kuno di Yordania yang menikmati otonomi negara-kota yang singkat di bawah payung aliansi Dekapolis. Dengan mundurnya Kekaisaran Romawi, Yordania menjadi berada di bawah kendali kerajaan Arab Ghassan. Pada abad ke-7, dan karena kedekatannya dengan Damaskus, Yordania menjadi salah satu ranah penting bagi Kekhalifahan Islam-Arab dan oleh karenanya pula mengamankan beberapa abad kestabilan dan kemakmuran, yang mengizinkan bergulirnya identitas Arab Islam terkini. Pada abad ke-11, Yordania menyaksikan sebuah fase ketidakstabilan, sebab ia menjadi salah satu zona inti Perang Salib yang berujung pada kekalahan oleh Dinasti Ayyubiyah. Yordania juga menderita akibat serangan Mongol yang dihalang-halangi oleh Mamluk. Pada tahun 1516, Yordania menjadi bagian dari Kesultanan Utsmaniyah dan tetap dalam keadaan demikian hingga tahun 1918, ketika Angkatan Darat Pemberontak Arab Raya mengambil alih, dan mengamankan Yordania terkini atas bantuan dan dukungan suku-suku Yordania setempat.
Sebagai saksi bagi kekayaan sejarah Yordania, peradaban Nabath meninggalkan banyak situs arkeologi yang besar di Petra, yang dianggap sebagai salah satu Tujuh Keajaiban Dunia Baru juga telah diakui oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai Situs Warisan Dunia. Selain Petra, peradaban-peradaban lain juga meninggalkan jejak arkeologinya di Yordania seperti Hellenistik dan Romawi melalui reruntuhan di kota-kota Dekapolis: Jerash, Umm Qais, Amman, Kapitolias (Beit Ras), Rafana, Pella, dan Irbid dan situs Bizantium Umm ar-Rasas (sebuah Situs Warisan Dunia). Kekhalifahan Islam-Arab juga meninggalkan jejak arsitektur yang unik yang terwujud dalam istana-istana gurun di antaranya Qasr Mshatta, Qasr al Hallabat, dan Qasr Amra yang diakui sebagai Situs Warisan Dunia; selain itu kastil Ajloun dan Al Karak yang memadukan era Perang Salib, Dinasti Ayyubiyah, dan Mamluk. Yang terakhir Kesultanan Utsmaniyah meninggalkan beberapa ciri kota, seperti masjid, kuburan, stasiun kereta api, dan kastil.
Sebagian besar wilayah Yordania modern telah berciri perkotaan. Yordania digolongkan sebagai negara dengan tingkat "pembangunan manusia" yang tinggi menurut Laporan Pembangunan Manusia tahun 2010. Lebih jauh lagi, Yordania juga digolongkan sebagai pasar yang sedang tumbuh dengan sebuah ekonomi pasar yang bebas menurut CIA World Factbook. Yordania juga dipandang sebagai sebuah ekonomi "berpendepatan menengah-atas". Perjanjian perdagangan bebas dengan Amerika Serikat berlaku sejak bulan Desember 2001 menghapus segala pungutan untuk hampir semua komoditas di antara kedua-dua negara. Yordania juga menikmati "status maju/terdepan" dengan Uni Eropa sejak bulan Desember 2010 juga menjadi anggota kawasan perdagangan bebas Eropa-Timur Tengah. Yordania mengikuti lebih banyak perjanjian perdagangan bebas daripada negara lain di kawasan. Yordania memiliki kebijakan "pro-Barat" dengan hubungan yang sangat akrab dengan Amerika Serikat dan Britania Raya, dan menjadi sekutu utama (yang bukan anggota NATO) Amerika Serikat sejak tahun 1996. Yordania adalah salah satu negara pendiri Liga Arab, dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Baru-baru ini, Yordania telah diundang untuk menggabungi Dewan Kerjasama Teluk (GCC). Pemerintah Yordania adalah satu di antara tiga anggota 22 negara Liga Arab yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, dua lainnya adalah Pemerintah Mesir dan Pemerintah Palestina. Yordania adalah anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Dana Arab untuk Pembangunan Sosial dan Ekonomi, Parlemen Arab, Organisasi Pertambangan dan Pembangunan Industri Arab, Dana Moneter Arab Dana Moneter Internasional, Mahkamah Pidana Internasional, Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, Kawasan Perdagangan Bebas Arab Raya, Komisi Sosial dan Ekonomi PBB untuk Asia Barat, Kebijakan Lingkungan Eropa, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Yordania menerima arus pengungsi Palestina selama lebih dari 3 dasawarsa, menjadikannya sebagai salah satu penampung pengungsi terbesar dunia. Negara yang miskin bahan tambang ini mengimpor minyak bumi dari negara-negara tetangga.




























